Anda di halaman 1dari 4

DINAS KESEHATAN ANGKATAN UDARA

RSAU dr. M. SALAMUN

KEPUTUSAN KEPALA RSAU dr. M. SALAMUN


NOMOR Kep/ / V / 2014

Tentang
KEBIJAKAN KEJADIAN LUAR BIASA

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI

KEPALA RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA dr. M. SALAMUN


Menimbang : a. bahwa dalam upaya Penanggulangan Kejadian Luar Biasa
guna meningkatkan mutu pelayanan kesehatan guna mencegah
dan mengendalikan kejadian infeksi nosokomial di RSAU dr. M.
Salamun, maka diperlukan adanya kebijakan Kepala RSAU dr. M.
Salamun sebagai landasan bagi seluruh penyelenggara dan
pelaksana pelayanan kesehatan di RSAU dr. M. Salamun;
b. bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas perlu
ditetapkan Kebijakan Pedoman Outbreak Pada Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi di RSAU dr. M. Salamun dengan Keputusan
Kepala RSAU dr. M. Salamun.

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 1984


tentang Wabah Penyakit Menular.
2. Peraturan Pemerintah No.40 tahun 1991 tentang
penanggulangan Wadah Penyakit Menular.
3. Peraturan Menteri Kesehatan N0. 560 tahun 2000 tentang
jenis penyakit tertentu yang dapat menimbulkan wabah.
4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
452/Menkes/SK/V/2007 tentang Safe Community.
MEMUTUSKAN
Menetapkan : 1. Keputusan Kepala RSAU dr. M. Salamun tentang Kebijakan
Pedoman Outbreak Pada Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
di RSAU dr. M. Salamun;

2. Kebijakan Pedoman Outbreak Pada Pencegahan dan


Pengendalian Infeksi di RSAU dr. M. Salamun sebagaimana
dimaksud dalam diktum Kesatu sebagaimana tercantum dalam
lampiran keputusan ini;

3. Kebijakan Pedoman Outbreak Pada Pencegahan dan


Pengendalian Infeksi di RSAU dr. M. Salamun sebagaimana
dimaksud dalam diktum kedua harus dijadikan acuan dalam
menyelenggarakan pelayanan kesehatan kepada pasien di
seluruh Ruangan dan unit kerja lain yang terkait di RSAU dr. M.
Salamun.

4. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila


dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapan ini, akan
diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di Bandung
Pada tanggal Mei 2014
Kepala RSAU dr. M. Salamun,

Dr. Didik Kestito, SpBU


Kolonel Kes NRP 512677
DINAS KESEHATAN ANGKATAN UDARA
RSAU dr. M. SALAMUN
Lampiran 1
Keputusan Ka. RSAU dr. M. Salamun
Nomor Kep/ /IV/2014
Tanggal April 2014

KEBIJAKAN PEDOMAN OUTBREAK PADA


PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI

KEBIJAKAN UMUM

1. Kejadian luar biasa (KLB).


Adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan (infeksi rumah sakit) yang
bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.
2. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) dilaksanakan untuk penangani
penderita, mencegah perluasan KLB, mencegah timbulnya penderita atau kematian
baru pada suatu KLB yang sedang terjadi.
3. Penentuan kejadian luar biasa ditegakkan berdasarkan kriteria WHO yaitu
peningkatan kejadian kesakitan 2 (dua) kali atau lebih jumlah suatu infeksi rumah
sakit (IRS) di rumah sakit dalam kurun waktu 1 bulan dibandingkan dengan bulan
sebelumnya.

KEBIJAKAN KHUSUS
1. Ketua Tim PPI adalah seorang Dokter yang sudah mempunyai sertifikat
pelatihan PPI.
2. Surveilance dilakukan oleh perawat yang mempunyai sertifikat pelatihan PPI.
3. Peralatan makan yang digunakan oleh pasien yang diduga menularkan
penyakit yang disebabkan karena Infeksi S. Typhosa ; Hepatitis A, V. Cholera,
Demam typhoid dan Muntaber, perlu mendapatkan perlakuan khusus (lihat SPO
Pencucian Alat Makan Pasien Infeksius).
4. Penggunaan APD digunakan dalam pelaksanaan pelayanan pasien atau
pelaksanaan penanganan limbah dan segera dilepas setelah selesai kegiatan
tersebut.
5. APD untuk penanganan pasien dengan HIV digunakan sejak penerimaan
sampai penanganan jenazah.
6. Setiap kali melayani pasien yang memerlukan pemeriksaan fisik (menyentuh
pasien), dokter atau perawat harus melaksanakan cuci tangan dengan handsrub
berbasis alkohol didekat (depan) pasien, sesuai petunjuk cuci tangan 6 (enam)
langkah.
7. Cuci tangan dengan air dan sabun dilakukan bila keadaan tangan kotor atau
terkena kotoran atau cairan tubuh pasien dan melakukan cuci tangan.
8. Peralatan yang termasuk re-use : Holo fiber.
9. Pengelolaan linen dilakukan oleh Urusan Linen
10. Linen yang telah terkontaminasi dengan darah atau cairan tubuh pasien
terlebih dahulu dilakukan dekontaminasi di ruangan atau Kamar Operasi.
11. Desinfektan yang dipergunakan adalah klorin 0.5 %(untuk linen), dan
benzalkonium klorida (untuk pengepelan lantai).
12. Sampah medis infeksius harus dibakar di incenerator.
13. Kantong darah yang tidak terpakai, dikembalikan ke Unit Pelayanan Darah,
untuk selanjutnya cairan darah dibuang ke saluran IPAL; kantong darah
diperlakukan sebagai sampah medis.
14. Jarum dan benda tajam lainnya ditampung dalam container berupa galon
plastic atau kardus khusus untuk dan harus dibakar di Incenerator.
15. Pasien yang harus masuk ruang isolasi: TB aktif, diare akut, tetanus, difteri
dan herpes zoster.
16. Pasien dengan resiko tinggi penularan infeksi (pasien dengan
immunosupressan, pasien dengan pemberian sitostatika, dll) harus ditempatkan di
ruangan perawatan khusus.
17. Untuk Pelayanan kamar jenasah diberlakukan Universal Precaution yang
benar, penggunaan APD sesuai prosedur dan cuci tangan setelah melaksanakan
kegiatan perawatan jenasah.

Ditetapkan di Bandung
Pada tanggal Mei 2014
Kepala RSAU dr. M. Salamun,

Dr. Didik Kestito, SpBU


Kolonel Kes NRP 512677