Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENCELUPAN 1

PENCELUPAN SUTERA DENGAN ZAT WARNA REAKTIF DINGIN


VARIASI WAKTU
DISUSUN OLEH:

Kelompok : 1 (satu)
Nama Anggota : 1. A. Salsabila N.T (15020031)
2.Chreisza Paramita (15020033)
3.Gina Fauziah (15020034)
4.Ilham Muhammad Ilyas (15020036)
Grup : 2 K2
Nama Dosen : Hj. Hanny H. K., S.Teks
Asisten : 1. Ikhwanul Muslim, S.ST
2.Anna S.

POLITEKNIK STTT BANDUNG


2017
I. MAKSUD DAN TUJUAN

1.1 Maksud
Mewarnarnai kain sutera dengan zat warna reaktif dingin secara merata dan
permanen.
1.2 Tujuan

Untuk mengetahui pengaruh waktu pencelupan terhadap ketuaan dan


kerataan warna kain hasil pencelupan sutera dengan zat warna reaktif dingin.

II. TEORI DASAR

2.1 Serat Sutera


Sutera adalah serat yang diperoleh dari sejenis serangga yang disebut
lepidopterra. Serat sutera yang berbentuk filament dihasilkan oleh larva ulat sutera
waktu membentuk kepompong. Spesies utama yang dipelihara untuk menghasilkan
sutera adalah Bombyx Mori. Pemeliharaan ulat sutera pertama ditemukan bangsa
Cina sekitar 2600 SM setelah 3000 tahun baru ditemukan cara pengolahan sutera
yang dicuri dari bangsa Cina oleh bangsa Eropa. Sutera diperkenalkan Alexander
The Great pada bangsa Eropa. Industri sutera yang besar pertama kali didirikan di
Eropa Tenggara yang secara cepat menyebar ke daerah barat karena kekuasaan
Muslim. Spanyol mulai memproduksi sutera pada abad VIII. Sedangkan Italia pada
sekitar abad XII dan menjadi yang terdepan selama 500 tahun. Kemudian di abad
XVI, Perancis menjadi pesaing berat Italia dalam produksi kain sutera. Jepang
merupakan negara pertama penghasil sutera dalam jumlah yang besar dengan
menggunakan metode keilmuan dalam pengolahan ulat sutera pada peternakan
maupun di pabrik. Adapun negara lain yang menghasilkan sutera seperti Cina, Italia,
Spanyol, Perancis, Austria, Iran, Turki, Yunani, Syria, Bulgaria, dan Brasil.

2.1.1 Sifat – sifat serat sutera

Sifat - sifat Fisika


- Panjang serat
Serat sutera merupakan filamen yang panjang, tergantung bentuk dari
kepompong yang dihasilkannya.
- Kekuatan serat
Dalam keadaan kering kekuatannya 4-4,5 gram/denier dengan mulur 20-25%,
dan dalam keadaan basah 3,5-4,0 gram per denier dengan mulur 25-30%.
- Kehalusan serat
Serat sutera merupakan filamen yang kehalusannya 1,75-4,0 denier.
- Moisture Regain
Sutera mentah 11% tetapi setelah dihilangkan serisinnya menjadi 10 %.
- Bentuk penampang
Penampang lintang serat sutera Bombyx Mori berbentuk segitigadengan
sudut-sudut yang membulat, sedangkan penampang lintang dari serat sutera
liar (tusah) berbentuk pasak seperti pada gambar:

Gambar 1 Penampang Melintang dan Membujur Serat Sutera

Sifat - sifat Kimia


Seperti serat protein lainnya sutera bersifat ampoter dan menyerap asam dan
basa dari larutan encer. Dibanding wol, sutera kurang tahan terhadap asam tetapi
lebih tahan terhadap alkali. Sutera kurang tahan terhadap zat-zat oksidator dan sinar
matahari dibanding dengan serat selulosa atau serat buatan, tetapi dibandingkan
dengan serat alam lainnya serat sutera lebih tahan terhadap serangan secara
biologi.
2.2 Pencelupan
Pencelupan pada umumnya terdiri dari melarutkan atau mendispersikan zat
warna dalam air atau medium lain, kemudian memasukkan bahan tekstil ke dalam
larutan tersebut sehingga terjadi penyerapan zat warna ke dalam serat. Penyerapan
zat warna ke dalam serat merupakan suatu reaksi eksotermik dan reaksi
keseimbangan. Beberapa zat pembantu misalnya garam, asam, alkali atau lainnya
ditambahkan ke dalam larutan celup dan kemudian pencelupan diteruskan hingga
diperoleh warna yang dikehendaki.
Vickerstaf menyimpulkan bahwa dalam pencelupan terjadi tiga tahap :
a. Tahap pertama merupakan molekul zat warna dalam larutan yang selalu
bergerak, pada suhu tinggi gerakan molekul lebih cepat kemudian bahan tekstil
dimasukkan ke dalam larutan celup.
Serat tekstil dalam larutan bersifat negatif pada permukaannya sehingga dalam
tahap ini terdapat dua kemungkinan yakni molekul zat warna akan tertarik oleh
serat atau tertolak menjauhi serat. Oleh karena itu perlu penambahan zat-zat
pembantu untuk mendorong zat warna lebih mudah mendekati permukaan serat.
Peristiwa tahap pertama tersebut sering disebut zat warna dalam larutan.
b. Dalam tahap kedua molekul zat warna yang mempunyai tenaga yang cukup
besar dapat mengatasi gaya-gaya tolak dari permukaan serat, sehingga molekul
zat warna tersebut dapat terserap menempel pada permukaan serat. Peristiwa
ini disebut adsorpsi.
c. Tahap ketiga yang merupakan bagian yang terpenting dalam pencelupan adalah
penetrasi atau difusi zat warna dari permukaan serat ke pusat. Tahap ketiga
merupakan proses yang paling lambat sehingga dipergunakan sebagai ukuran
untuk menentukan kecepatan celup.

2.3 Zat Warna Reaktif Dingin

Zat warna reaktif larut dalam air, warnanya cerah dengan ketahanan luntur
warna yang baik, kecuali terhadap kaporit (khlor). Ketahanan luntur warna yang
tinggi diperoleh karena zat warna reaktif dapat berikatan kovalen dengan seat.
Berdasarkan sistem reaktifnya, ada golongan zat warna reaktif yang fiksasi
dalam suasana asam yang cocok untuk mencelup wol dan sutera, antara lain zat
warna reaktif dengan sistem reaktif metilol, bromoasetil dan fosfonat, tetapi zat
warna reaktif jrnis tersebut saat ini susah didapat. Oleh karena itu maka zat warna
reaktif yang saat ini dipakai untuk mencelup serat wol dan sutera adalah zat warna
reaktif yang fiksasi dalam suasana alkali, namun tentu saja harus dipilih zat warna
reaktif yang dapat fiksasi dalam suasana alkali lemah dan suhunya rendah, karena
wol dan sutera kurang tahan suasana alkali kuat. Dalam hal ini pilihan yang tepat
adalah menggunakan zat warna reaktif dingin.
Berikut ini contoh stuktur zat warna reaktif dingin:

Gambar 2Stuktur Molekul Zat Warna Reaktif Dingin C.l. Reaktif Red 1

Beberapa jenis zat warna reaktif yang cocok digunakan untuk pencelupan
sutera atau wol antara lain yang fiksasi dengan mekanisme substitusi yaitu zat
warna reaktif dingin jenis diklorotriazin (DCT) dan difluoro-monokloro-pirimidin
(DFMCP) serta yang fiksai dengan mekanisme adisi yaitu jenis bromoetilakriolil.
Reaksi fiksasi nya adalah sebagai berikut:

Gambar 3 Reaksi Fiksasi Zat Warna Reaktif Dingin pada Wol

Sedikit berbeda dengan fiksasi pada wool, selain dapat membentuk ikatan
kovalen dengan gugus amin pada sutera, zat warna reaktif dingin juga bisa
membentuk ikatan kovalen dengan gugus fenolik dari tirosin pada sutera.

Gambar 4 Reaksi Fiksasi Zat Warna Reaktif Dingin dengan Gugus Fenolik pada Sutera

2.4 Mekanisme Pencelupan Zat Warna Reaktif Dingin

2.4.1 Tahap Awal Proses Pencelupan


Pada awal proses pencelupan, sesuai dengan sifat serat wool dan sutera yang
tidak tahan alkali, suasana larutan celup dibuat dalam suasana asam, dalam kondisi
tersebut zat warna reaktif dingin akan berperilaku seperti zat warna asam, sehingga
dapat mencelup serat wol/sutera karena adanya tempat – tempat positif pada bahan.
Jumlah tempat positif pada bahan sangat tergantung pada dua factor yaitu jumlah
gugus amina dalam serat serat keasaman dari larutan celup. Mekanisme
terbentuknya tempat – tempat bermuatan positif pada bahan adalah sebagai berikut:
Pada larutan dengan suasana asam, terbentuknya muatan positif pada serat,

akibat adanya ion H+ yang terserap gugus amina dari wol dan sutera

Adanya tempat – tempat positif pada wol/sutera memungkinkan terjadinya


ikatan ionic antara anion zat warna reaktif dingin dengan wol atau sutera yang sudah

menyerap ion H+.

Gambar 5 Ikatan Ionik Antara Zat Warna Reaktif Dingin dengan Sutera Atau Wool

Keterangan: gugus fungsi yang berikatan dengan serat berupa ikatan ionic adalah
gugus pelarut dari zat warna reaktif, D = kromogen zat warna reaktif.

2.4.2 Tahap Fiksasi Zat Warna


Pada 20 menit terakhir proses pencelupan kedalam larutan celup ditambahkan
alkali lemah seperti NH4OH atau NaHCO2 sehingga akan mengubah suasan larutan
celup dari suasana asam ke suasana alkalis, sehingga warna reaktif dingin yang
sudah masuk kedalam serat akan fiksasi dan iktan ionic dengan serat berubah
menjadi ikatan kovalen.

2.4.3 Tahap Pencucian dengan Sabun


Guna memperbaiki ketahanan luntur warna nya zat warna yang hanya
menempel di permukaan serat harus dihilangkan, untuk itu perlu dilakukan
pencucian ringan dengan sabun netral, mengingat wol dan sutera kurang tahan
alkali.
III. METODA PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat
a. Piala porselen
b. Gelas piala 500 ml
c. Gelas piala 100 ml
d. Gelas ukur 100 ml
e. Pipet volume 10 ml
f. Pipet volume 1 ml
g. Pengaduk kaca
h. Timbangan digital
i. Kompor
j. Alat tulis dan kalkulator

3.1.2 Bahan
a. Kain sutera
b. Zat warna reaktif dingin
c. NH4OH
d. (NH4)2SO4
e. NaCl
f. Pembasah
g. Sabun netral

3.2 Diagram Alir

Persiapan larutan Proses pencelupan Pencucian dengan


celup sabun
3.3 Skema Proses
3.4 Resep
3.4.1 Resep pencelupan

a. Zat warna : 1 % owf


b. NH4OH :4

c. (NH4)2SO4 :1 ⁄

d. NaCl : 30 ⁄

e. Pembasah :1 ⁄

f. Suhu : 30⁰C
g. Waktu : 40 – 50 – 60 – 70 menit
h. Volt : 1 : 20
3.4.2 Resep pencucian

a. Sabun netral :1 ⁄

b. Suhu : 60⁰C
c. Waktu : 10 menit
d. Vlot : 1 : 30
3.5 Perhitungan Resep

3.5.1 Variasi 1 (waktu celup 40 menit)

a. Berat bahan = 3,14 gram


b. Kebutuhan air = 3,14 x 20 = 62,8 ml
c. Zat warna = 1
3,14 = 0,0314
100
= 3,14

100
1

d. NH4OH = 4

62,8 = 0,2512
1000

e. (NH4)2SO4 = 1
62,8 = 0,0628
1000

f. NaCl = 30
62,8 = 1,884
1000

g. Pembasah = 1
62,8 = 0,0628
1000
3.5.2 Variasi 2 (waktu celup 50 menit)
a. Berat bahan = 3,16 gram
b. Kebutuhan air = 3,16 x 20 = 63,2 ml
c. Zat warna = 1
3,16 = 0,0316
100
= 3,16

100
1

d. NH4OH = 4

63,2 = 0,2528
1000

e. (NH4)2SO4 = 1
63,2 = 0,0632
1000

f. NaCl = 30
63,2 = 1,896
1000

g. Pembasah = 1
63,2 = 0,0632
1000

3.5.3 Variasi 3 (waktu celup 60 menit)

a. Berat bahan = 3,10 gram


b. Kebutuhan air = 3,10 x 20 = 62 ml
c. Zat warna = 1
3,10 = 0,0310
100
= 3,10

100
1

d. NH4OH = 4

62 = 0,248
1000

e. (NH4)2SO4 = 1
62 = 0,062
1000

f. NaCl = 30
62 = 1,86
1000

g. Pembasah = 1
62 = 0,062
1000

3.5.4 Variasi 4 (waktu celup 70 menit)

a. Berat bahan = 3,22 gram


b. Kebutuhan air = 3,22 x 20 = 64,4 ml
c. Zat warna = 1
3,22 = 0,0322
100
= 3,22

100
1

d. NH4OH = 4

64,4 = 0,2576
1000

e. (NH4)2SO4 = 1
64,4 = 0,0644
1000

f. NaCl = 30
64,4 = 1,932
1000

g. Pembasah = 1
64,4 = 0,0644
1000
3.6 Fungsi Zat
a. NH4OH
Sebagai alkali lemah untuk member suasana agak alkali larutan pencelupan
pada akhir proses pencelupan.
b. (NH4)2SO4
Sebagai donor asam untuk mendapatkan suasana agak asam pada awal
proses celup.
c. NaCl
Pada pH > 3 berfungsi untuk mendorong penyerapan zat warna.
d. Pembasah
Berfungsi untuk meratakan dan mepercepat proses pembasahan kain.
e. Sabun netral
Untuk proses pencucian setelah proses pembangkitan warna guna
menghilangkan zat warna bejana yang menempel dipermukaan serat.
IV. DATA PENGAMATAN

Variasi 1 Variasi 2 Variasi 3 Variasi 4


Waktu celup 40 Waktu celup 50 Waktu celup 60 Waktu celup 70
menit menit menit menit
V. PEMBAHASAN

Pencelupan merupakan proses pewarnaan pada bahan tekstil secara merata


dan permanen. Pencelupan pada umumnya terdiri dari melarutkan atau
mendispersikan zat warna dalam air atau medium lain, kemudian memasukkan
bahan tekstil ke dalam larutan tersebut sehingga terjadi penyerapan zat warna ke
dalam serat. Penyerapan zat warna ke dalam serat merupakan suatu reaksi
eksotermik dan reaksi keseimbangan. Beberapa zat pembantu misalnya garam,
asam, alkali atau lainnya ditambahkan ke dalam larutan celup dan kemudian
pencelupan diteruskan hingga diperoleh warna yang dikehendaki.
Telah dilakukan proses pencelupan sutera dengan zat warna reaktif dingin
dengan variasi waktu pencelupan metode perendaman, yang bertujuan untuk
mengetahui pengaruh waktu pencelupan terhadap kerataan dan ketuaan warna hasil
celup sutera dengan zat warna reaktif dingin. Proses pencelupan dengan serat
sutera menggunakan beberapa zat pembantu antara lain ; (NH 4)2SO4 yang berfungsi
sebagai donor asam untuk mendapatkan suasana agak asam pada awal proses
celup, kemudian digunakan pembasah untuk membantu proses pembasahan kain
secara merata, NaCl juga digunakan untuk membantu penyerapan zat warna ke
dalam kain, dan NH4OH yang berfungsi sebagai alkali lemah untuk member suasana
agak alkali larutan pencelupan pada akhir proses pencelupan sehingga membentuk
ikatan kovalen antara serat dengan zat warna.
Berdasarkan data percobaan, kain variasi 4 dengan waktu pencelupan selama
70 menit memiliki kerataan dan ketuaan warna yang paling baik. Hal ini disebabkan
oleh lamanya bahan dicelup, sehingga pada larutan celup yang bersifat asam ikatan
ionik yang terjadi antara serat dengan zat warna reaktif dingin akan maksimal pada
waktu yang lama. Pada akhir proses, ikatan kovalen akan terbentuk dengan
ditambahkannya amonia ke dalam larutan celup sehingga tahan luntur warna hasil
celup akan meningkat menjadi lebih baik.
VI. KESIMPULAN

Berdasarkan data percobaan, kain variasi 4 dengan waktu pencelupan selama


70 menit memiliki ketuaan dan kerataan warna yang paling baik.
VII. DAFTAR PUSTAKA

Dede Karyana, d. (2005). Bahan Ajar Praktikum Pencelupan 1. Bandung: Sekolah


Tinggi Teknologi Tekstil Bandung.
Sunarto. (2008). Teknologi Pencelupan dan Pencapan JILID 2 untuk SMK. Jakarta:
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.
Widayat, S. (1973). Serat-Serat Tekstil. Bandung: Institut Teknologi Tekstil.