Anda di halaman 1dari 8

Artikel Manusia dan Kebudayaan

Manusia dan Kebudayaan


Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tak bisa dipisahkan dalam kehidupan ini. Manusia
sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara
turun menurun. Budaya tercipta dari kegiatan sehari hari dan juga dari kejadian – kejadian yang sudah diatur oleh
Yang Maha Kuasa.
Kebudayaan berasal dari kata budaya yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Definisi
Kebudyaan itu sendiri adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau
gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat
abstrak. Namun kebudayaan juga dapat kita nikmati dengan panca indera kita. Lagu, tari, dan bahasa merupakan
salah satu bentuk kebudayaan yang dapat kita rasakan.
Secara sederhana hubungan antara manusia dengan kebudayaan ketika manusia sebagai perilaku kebudayaan,dan
kebudayaan tersebut merupakan objek yang dilaksanakan sehari-hari oleh manusia
Di dunia sosiologi manusia dengan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal,maksudnya walaupun keduanya berbeda
tetapi merupakan satu kesatuan yang butuh,ketika manusia menciptakan kebudayaan,dan kebudayaan itu tercipta
oleh manusia.
 Contoh-Contoh Hubungan Antara Manusia dengan Kebudayaan
1) Kebudayaan-kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan
Contoh: Adat-istiadat melamar di Lampung dan Minangkabau. Di Minangkabau biasanya pihak permpuan yang
melamar sedangkan di Lampung, pihak laki-laki yang melamar.
2) Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda ( urban dan rural ways of life)
Contoh: Perbedaan anak yang dibesarkan di kota dengan seorang anak yang dibesarkan di desa. Anak kota bersikap
lebih terbuka dan berani untuk menonjolkan diri di antara teman-temannya sedangkan seorang anak desa lebih
mempunyai sikap percaya pada diri sendiri dan sikap menilai ( sense of value )
3) Kebudayaan-kebudayaan khusus kelas sosial
Di masyarakat dapat dijumpai lapisan sosial yang kita kenal, ada lapisan sosial tinggi, rendah dan menengah.
Misalnya cara berpakaian, etiket, pergaulan, bahasa sehari-hari dan cara mengisi waktu senggang. Masing-masing
kelas mempunyai kebudayaan yang tidak sama, menghasilkan kepribadian yang tersendiri pula pada setiap individu.

4) Kebudayaan khusus atas dasar agama


Adanya berbagai masalah di dalam satu agama pun melahirkan kepribadian yang berbeda-beda di kalangan
umatnya.
5) Kebudayaan berdasarkan profesi
Misalnya: kepribadian seorang dokter berbeda dengan kepribadian seorang pengacara dan itu semua berpengaruh
pada suasana kekeluargaan dan cara mereka bergaul. Contoh lain seorang militer mempunyai kepribadian yang
sangat erat hubungan dengan tugas-tugasnya. Keluarganya juga sudah biasa berpindah tempat tinggal.

Sumber :
 http://aryapramudya-gunadarma.blogspot.com/2012/03/hubungan-antara-manusia-dengan.html
 http://radenanindyo.blogspot.com/2012/10/hubungan-manusia-dgn-kebudayaan.html
http://parkjiyoung.wordpress.com/2013/01/07/hubungan-manusia-dan-kebudayaan/
 Keanekaragaman Makhluk Manusia dan Kebudayaan

Jauh sebelum buku The Origin Of Species, orang Eropa memiliki tiga pandangan mengenai
masyarakat dan kebudayaan manusia. Pertama pandangan polygenesis, berpendapat bahwa
dasarnya manusia itu memang diciptaka beraneka macam, dan orang eropa yang paling sempuna
dan tinggi. Yang kedua pandangan monogenesis, berpendapat bahwa manusia berasal dari satu
makhluk induk, keturunan nabi adam. pada abad XVI di eropa (Reinassance), pada masa ini eropa
mengalami zaman pencerahan. Beraneka macam gejala perilaku manusia dalam kehidupan
bermasyarakat dianalisis secara induktif dengan mencari unsure unsure kesamaan yang ada,
kemudian diupayakan dirumuskan sebagai kaidah-kaidah social. Cara berpikir rasional yang
berkembang menjadi aliran positifisme.

Seorang ahli antropologi Amerika A.L. Kroeber mangatakan bahwa salah satu sifat kebudayaan
adalah superorganik. Suatu perubahan kebudayaan dapat berasal dari para pendukungnya dan
dimungkinkan pula dari luar lingkungan pendukung kebudayaan tersebut.

Dalam sejarah perkembangan kebudayaan manusia ada tigatiga jenis revolusi terpenting, pertama
ketika manusia mulai mengenal system bercocok tanam, kedua mengeal pola permukiman kota,
dan yang ketiga adalah revolusi industry di Inggris. Sejak itulah kebudayaan manusia mulai tumbuh
dengan cepat seolah melepaskan dirinya dari proses evolusi organic. Manusia dan kebudayaan
merupakan kesatuan, sementara itu pendukung kebudayaan adalah manusia itu sendiri. Sekalipun
manusia akan mati tapi kebudayaan akan diwariskan.

 Konsep Kebudayaan

Kebudayaan sebagai suatu system yang melingkupi kehidupan manusia pendukungnya, dan
merupakan suatu factor dasar tingkah laku manusia baik dalam lingkungan fisik maupun lingkungan
social budaya. Karenanya bagaimana mutu suatu lingkungan fisik atau lingkungan social itu pada
dasrnya adalah pencerminan kualitas kehidupan social masyarakat pendukung kebudayaan itu.

 Ekologi dan Homeostatis

Manusia sekarang lebih mengandalkan kebudayaannya daripada secara biologis. Menusia


memerlukan adaptasi biologis. Adaptasi menuntut pengambangan pola perilaku yang nantinya akan
membantu suatu organism untuk memanfaatkan lingkungannya demi kepentingannya. Berburu dan
meramu adalah salah satu bentuk adaptasi manusia yang tertua. Dalam kaitannya dengan
kebudayaan suatu perubhn ekologis juga sekaligus dapat membuat manusia menyesuaikan
berbagai gagasan mereka, missal tntang kosmologi, politik, kesenian, dan sebagainya.

Studi mengenai ekologi adalah juga mengkaji hal hal yang bersifat ekonomik, tentang rumah tangga,
mengenai organisme hewani, termasuk hubungan hewan dan lingkungannya, serta berbagai
hubungan lainnya yang langsung maupun tidak langsung.

Terpelihara keseimbangan system atau homeostatis merupakn kekuatan pengatur perimbagan alam
atau the balace of nature. Masuknya manusia sebagai suatu unsure dalam suatu ekosistem tidak
akan mengubah hakekat azaz tersebut.

 Ekologi Budaya

Julian H steward memakai istilah cultural ecology, yaitu ilmua yang mempelajari bagaimana
manusia sebagai makhluk hidup menyesuaikan dirinya dengan suatu lingkungan geografi tertentu.
Menurutnya ada bagian inti dari system budaya yang sangat responsive terhadap adaptasi
ekologis.proses perkembangan budaya di belahan dunia tidak terlepas dari stu dengan yang lainnya
dan tampak ada yang sejajar terutama pada system mata pencaharian, system kemasyarakatan,
dan system religi. Lebih lanjut dia juga menyatakan bahwa hubngan antara kebudayaan dengan
alam sekitar juga dapat dijelaskan melalui aspekaspek tertentu dalam suatu kebudayaan sekalipun
alam sekitarnya belum tentu akan berpengaruh terhadap kebudayaan suatu suku bangsa.

 Determinisme Lingkungan dan Posibilisme

Ekologi sebagai ilmu yang mempelajari hubungan fungsional antara organism dengan ligkungan
hidupnya. Perkembangan kajian ekologi dalam antropologi dikatkan dengan hubungan antara
manusia den lingkungan dalam perspektif sejarah perkembangan mereka. Di masa lalu studi
tentang kebudayaan selalu ditekankan akan adanya keterkaitan perilaku manusia dengan
lingkungannya atau environmental determinism. Dalam perkembangannya kemudian terutama si
kalangan ahli antropologi Amerika muncul pemikiran yang berlawanankaum posibilism berpendapat
bahwa pada hakikatnya perilaku dalam sebuah kebudauaan dipilih secara selektif atau jika tidak
secara tak terduga merupakan hasil adaptasi dengan lingkungannya. Kaum posibilism berpendapat
bahwa suatu lingkungan tertentu tidak dapat dipandang sebagai sebab utama yag menyebabkan
perbedaan suatu kebudayaan, melainkan hanya sebagai suatu pembatas atau penyeleksi.

Sumber:

http://blog.unnes.ac.id/sosiologiantropologi/2015/11/21/review-artikel-manusia-dan-kebudayaan/
Artikel Manusia dan Kebudayaan
Budaya secara singkat dapat diartikan sebagai kegiatan yang sering dilakukan oleh manusia pada
waktu dan tempat tertentu menjadi sebuah kebiasaan yang diakui oleh pelaku tersebut, sehingga itu
yang menyebabkan tercipta nya budaya di suatu daerah tertentu, seperti daerah di Pulau Sumatera,
Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, dan Pulau Irian Jaya mereka memiliki budaya
masing – masing sehingga memiliki ciri khas dan ketertarikan tersendiri. Berikut permasalahan yang
terjadi antar manusia dan kebudayaan.

dan pada artikel ini saya akan memberi contoh tentang kebudayaan yang ada di kehidupan di suku
batak

Bahasa dan Kesantunan Sebagai Ketahanan Budaya

GUNUNGSTOLI, (PRLM).- Bahasa daerah (Nias) dan kelestariaannya perlu dijaga sebagai warisan
budaya. Hal ini mengemuka dan menjadi keprihatinan para peserta Diskusi Budaya “Menjaring
Peran Masyarakat Nias Dalam Pelestarian Budaya Nias” yang berlangsung di Museum Pusaka
Nias, Gunungsitoli, Nias Sumatera Utara.

“Di antara sekian banyak budaya Nias, Li Niha, yaitu bahasa Nias merupakan salah satu faktor
penting di kawasan budaya Nias yang begitu luas,” kata Pastor Johannes M. Hammerle, OFMCap,
perintis dan pendiri Museum Pusaka Nias, kepada para peserta diskusi.

Hadir dalam diskusi ini para pemerhati sosial, seniman, budayawan, pemuka agama, wartawan,
serta para pejabat dan birokrat setempat. Di antaranya; Wali Kota Gunungsitoli, Drs.Martinus Lase,
M.Sp, yang juga sebagai Ketua Panitia Pelaksana Sidang Raya Persatuan Gereja Indonesia (SR-
PGI) XVI – 2014, bersama Bupati Nias Drs.Sokhiatulo Laoli, MM, Bupati Nias Utara Edward Zega,
dan Bupati Nias Barat, Adrianus Aroziduhu Gulo.

Bahasa daerah di era globalisasi sekarang ini, lanjut Johannes, sangat memprihatinkan. Walaupun
pemerintah memberi peluang kepada bahasa daerah untuk bertahan sebagai bahasa pertama dan
bahasa pergaulan intrasuku. “Bahasa daerah adalah identitas budaya masyarakat tertentu. Selain
alat komunikasi. Bila ini tak digunakan maka ciri identitas lambat laun akan punah,” tuturnya.

Menurut Johannes, ada indikasi bahwa bahasa Nias sudah diwariskan sejak suku-suku purbakala.
“Makin hari makin kuat pengaruh bahasa global mengancam eksistensi bahasa Nias. Yang paling
penting untuk mempertahankan bahasa daerah Nias supaya para orangtua mengajarkan bahasa
Nias kepada anak-anaknya dan penerbitan buku dalam bahasa Nias,” harap Pastor yang mengaku
sejak tahun 1972, sudah memulai mengoleksi berbagai benda budaya, seni dan sejarah masyarakat
Nias ini.

Selain bahasanya yang khas dan unik, Nias juga memiliki kekayaan dan keragaman budaya lainnya.
Desa-desa tradisional di Pulau Nias, misalnya masih menyimpan sejumlah peninggalan budaya
dan para penutur sejarah. “Keragaman budaya Nias adalah kekayaan yang harus dioptimalkan
agar terasa manfaatnya. Hal ini perlu diwujudkan menjadi kekuatan riil sehingga mampu menjawab
berbagai tantangan kekinian yang ditunjukkan dengan melemahnya ketahanan budaya yang
berimplikasi pada menurunnya kebanggaan kita sebagai bangsa,” ujar Johannes.
Wali Kota Gunungsitoli, Drs. Martinus Lase, M.Sp, dalam sambutannya menyampaikan
keprihatinannya, terhadap hilangnya budaya santun di sebagian anak-anak muda dewasa ini.
“Karena perkembangan budaya global, masyarakat makin kehilangan budayanya yang santun,
menghargai orangtua, guru, dan lain sebagainya. Bahkan timbul berbagai masalah sosial
diantaranya; kesenjangan sosial ekonomi, kerusakan lingkungan hidup, kriminalitas, dan
kenakalan remaja,” ungkapnya.

Terkait dengan ketahanan budaya Nias, Martinus berharap, agar masing-masing keluarga Nias,
dapat menanamkan nilai-nilai luhur budayanya. “Penanaman nilai-nilai budaya ini diantaranya
bisa kita lakukan melalui kegiatan atau acara kesenian berbasis tradisi. Karena budaya itu
menunjukkan karaktrer. Mengandung nilai-nilai dan daya kearifan. Sangat khas sesuai dengan
keyakinan dan tuntutan hidup dalam upaya mencapai kesejehtaraan bersama,”
ujar Martinus.(Munady/A-147)***

Sumber:

http://rachmasyahputrisiregar.blogspot.co.id/2014/11/artikel-manusia-dan-kebudayaan_23.html
Artikel Manusia dan kebudayaan
Manusia dan Kebudayaan
Dalam kehidupan ini manusia tidak dapat lepas dari kebudayaanya. Kebudayaan merupakan hasil cipta
manusia sejak zaman dahulu. Kebudayaan itu berbeda-beda di setiap daerahnya karena faktor
lingkungan dan hasil pemikiran setiap orang yang kemudian dilestarikan secara turun menurun sebagai
suatu kebiasaan masyarakat di dareah tertentu. Kehidupan manusia selau ditandai oleh norma sebagai
aturan sosial untuk mematok perilaku manusia yang berkaitan dengan kebaikan bertingkah lak, tingkah
laku rata-rata atau tingkah laku yang diabstaksikan. Oleh karena itu dalam setiap kebudayaan dikenal
norma-norma yang ideal dan norma-norma yang kurang ideal atau norma rata-rata. Norma ideal sangat
penting untuk menjelaskan dan memahami tingkah laku tertentu manusia, dan ide tentang norma-norma
tersebut sangat mempengaruhi sebagian besar perilaku sosial termasuk perlaku komunikasi manusia.
Nilai adalah konsep-konsep abstrak yang dimiliki oleh setiap individu tentang apa yang dianggap baik
atau buruk, benar atau salah, patut atau tidak patut
Unsur penting kebudayaan berikutnya adalah kepercayaan / keyakinan yang merupakan konsep manusia
tentang segala sesuatu di sekelilingnya. Jadi kepercayaan / keyakinan itu menyangkut gagasan manusa
tentang individu, orang lain, serta semua aspek yang berkaitan dengan biologi, fisik, sosial, dan dunia
supernatural. Unsure penting kebudayaan adalah bahasa, yakni system kodifikasi kode dan symbol baik
verbal maupun non verbal, demi keperluan komunikasi manusia.
Definisi kebudayaan di atas seolah bergerak dari suatu kontinum nilai kepercayaan kepada perasaan dan
perilaku tertentu. Perilaku tertentu. Perilaku tersebut merupakan model perilaku yang diakui dan diterima
oleh pendukung kebudayaan sehingga perilaku itu mewakili norma-norma budaya.
Kebudayaan berasal dari kata budaya yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Definisi Kebudyaan itu sendiri adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan
meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan
sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Namun kebudayaan juga dapat kita nikmati dengan panca
indera kita. Lagu, tari, dan bahasa merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang dapat kita rasakan.
Dalam sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya bahwa walaupun
keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan, clan
setclah kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan mengatur

hidup manusia agar sesuai dcngannya. Tampak baliwa keduanya akhimya merupakan satu keSatuan.
Contoh sederhana yang dapat kita lihat adalah hubungan antara manusia dengan peraturan-peraturan
kemasyarakatan.

Sumber:

http://zan440.blogspot.co.id/2011/04/artikel-manusia-dan-kebudayaan.html
Artikel Manusia dan Kebudayaan
Manusia dan Kebudayaan

Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok (PPIT) akan menggelar konser kolosal 10 ribu


angklung di Beijing, akhir Mei 2013. Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok
(PPIT), Bondan Gunawan di Beijing, Kamis, mengatakan konser kolosal 10 ribu angklung ini merupakan
salah satu bentuk diplomasi budaya untuk mempererat hubungan antarmasyarakat Indonesia dan
China. "Diplomasi itu aspeknya banyak, ada antarpemerintah, antarpelaku bisnis, dan antarmasyarakat.
Diplomasi antarmasyarakat terdiri atas bidang budaya, olahraga dan ilmu pengetahuan. Konser kolosal
angklung ini merupakan bentuk diplomasi budaya," katanya menjelaskan.

Bondan mengatakan gagasan untuk menggelar konser kolosal 10 ribu angklung telah dimulai
sejak satu hingga dua tahun lalu. "Konser akan digelar di lapangan terbuka, dan dimainkan oleh 10 ribu
orang yang sebagian besar adalah pelajar, mahasiswa serta warga masyarakat China," ungkap Bondan.
Namun, ada pula yang berasal dari masyarakat keturunan Tionghoa dari Kalimantan, Surabaya sekitar
500 orang yang akan bergabung dalam konser kolosal 10 ribu angklung tersebut, lanjutnya. Konser
kolosal 10 ribu angklung juga akan dicatatkan pada Guiness Book of Records. "Sebelumnya telah ada
konser kolosal 5.000 angklung yang digelar perwakilan Indonesia di Amerika Serikat pada 2011," kata
Bondan.

Direktur Saung Angklung Udjo Taufik Hidayat mengatakan konser kolosal 10 ribu angklung ini
merupakan bentuk pelestarian alat musik bambu khas Indonesia yang telah tercatat sebagai salah satu
warisan budaya dunia "The Intangible Heritages" UNESCO. "Syarat untuk dapat bertahan tercatat
sebagai warisan budaya UNESCO adalah warisan budaya dimaksud harus terpelihara, terlindungi,
terpromosikan dan tergenerasikan. Jika upaya itu tidak dapat kita lakukan terus menerus, angklung bisa
dicabut statusnya sebagai warisan budaya dunia. Maka itu, kita terus berupaya agar angklung tetap
terpelihara, terlindungi, terpromosikan dan tergenerasikan ," katanya.

Dalam konser kolosal angklung di Beijing Mei mendatang selain mengerahkan 10 ribu angklung,
Saung Angklung Udjo juga mengirimkan 40 orang untuk ikut terlibat.

"Selama konser kolosal angklung itu, akan dilantunkan enam hingga tujuh lagu baik lagu Indonesia
maupun China, yang akrab di telinga masyarakat masing-masing kedua negara, seperti `Ayo Mama` dari
Indonesia atau `Yue Liang Dai Biao Wo De Xin` lagu dari China," katanya. Taufik menambahkan, "Kami
juga akan membawakan lagu yang agak sulit seperti lagu dari Queen. Kami ingin menunjukkan bahwa
alat musik angklung mampu memainkan aransemen musik yang agak rumit,".
SUMBER :

http://nuraaini684.blogspot.co.id/2014/12/artikel-manusia-dan-kebudayaan.html