Anda di halaman 1dari 17

1

STRATEGI KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU


GURU BIMBINGAN KONSELING ISLAM DI SMA ISLAM
AZHARIYAH LUBUKLINGGAU

A. Latar Belakang Masalah

Peran Kepala Sekolah bagaikan urat syaraf pusat yang menjadi

pengendali segala kegiatan yang terdapat di dalam sebuah lembaga atau

sekolah, dimana Kepala Sekolah memegang penuh kendali baik dalam segi

perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, dan pengawasan sebagaimana

menjadi tugas pokok seorang manager dalam sebuah instansi, dan juga

sebagaipenghubung antara lembaga dan masyarakat.

Dalam suatu lembaga pendidikan, Kepala Sekolah memiliki peran

yang sangat menentukan maju mundurnya sebuah lembaga pendidikan, karena

Kepala Sekolah mempunyai peran yang sangat besar dalam mengembangkan

sebuah lembaga pendidikan sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang

Sistem Pendidikan Nasional 2003 Bab II pasal 3, yang berbunyi sebagai

berikut:

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan


membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdasakan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.1

Untuk mewujudkan tujuan nasional tersebut, salah satu cara yang bisa

ditempuh untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yaitu melalui


1
Redaksi Penerbit Asa Mandiri, Standar Nasional Pendidikan (SNP), (Jakarta: Asa
Mandiri, 2006), h. 241
2

peningkatan mutu pendidikan karena adanya peningkatan mutu pendidikan

akan dapat mengikuti perkembangan dunia ilmu pengetahuan bahkan dapat

mewarnai dinamika masyarakat.

Dalam usaha meningkatkan mutu guru bimbingan konseling Kepala

Sekolah harus mengetahui segala perubahan dan perkembangan yang terjadi

dalam lembaganya. Adanya tenaga pengajar yang profesional dan yang tidak

profesional dalam usaha meningkatkan mutu guru bimbingan konseling akan

mempengaruhi proses belajar mengajar, karena mereka harus mampu

mewujudkan tujuan pendidikan.

Kepala Sekolah merupakan faktor penggerak, penentu arah kebijakan

sekolah yang akan menentukan bagaimana tujuan sekolah dan pendidikan

pada umumnya. Maka dari itu, Kepala Sekolah dituntut senantiasa

meningkatkan efektifitas kinerja para staf yang ada di sekolah. Melihat

penting dan strategisnya posisi Kepala Sekolah dalam mewujudkan tujuan

sekolah, maka seharusnya Kepala Sekolah mempunyai kemampuan manajerial

yang baik terhadap warga di sekolah, sehingga tujuan sekolah dan pendidikan

dapat dicapai secara optimal. Kepala Sekolah merupakan tokoh sentral di

sekolah, ibarat pilot yang menerbangkan pesawat mulai tinggal landas hingga

membawa penumpangnya selamat mendarat sampai tujuan.

Esensi Kepala Sekolah adalah pemimpin pendidikan di sekolah.

Seorang Kepala Sekolah adalah seorang pemimpin, manajer, pendidik dan

supervisor. Oleh sebab itu, kualitas kepemimpinan Kepala Sekolah harus

signifikan sebagai kunci keberhasilan sekolah.


3

Definisi guru sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari adalah

bahwa guru merupakan seseorang yang harus digugu dan ditiru, dalam hal

orang yang memiliki kharisma atau wibawa hingga perlu untuk ditiru dan

diteladani. Menurut Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan

dosen menjelaskan bahwa guru adalah “pendidik profesional dengan tugas

utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan

mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan

formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.2

Guru bimbingan dan konseling adalah konselor sekolah (guru

konselor) atau tenaga ahli pria atau wanita yang memperoleh khusus

pendidikan dalam bimbingan dan konseling di perguruan tinggi, yang

mencurahkan seluruh waktunya pada layanan bimbingan, serta memberikan

layanan bimbingan kepada siswa dan menjadi konsultan bagi staf sekolah dan

orang tua siswa.3

Proses pendidikan semestinya menyentuh dunia kehidupan peserta

didik secara individual. Proses ini tidak cukup hanya dilakukan oleh guru,

tetapi perlu bantuan profesi pendidik lain yaitu guru bimbingan dan konseling

atau yang disebut konselor. Bimbingan dan konseling (BK) sebagai bagian

intregral dari proses pendidikan merupakan salah satu komponen penting yang

menentukan kualitas pelayanan pendidikan pada siswa.

Profesi guru bimbingan dan konseling perlu tumbuh dan berkembang

agar dapat memberikan layanan konseling dengan baik. Setiap guru


2
Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 1 ayat (1).
3
W.S. Wingkel, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, (Jakarta: PT.
Gramedia Mediasarana, 1997), h. 184.
4

bimbingan dan konseling perlu menyadari bahwa pertumbuhan dan

pengembangan profesi merupakan suatu keharusan untuk kinerja dan layanan

yang berkualitas.

Tugas dan tanggung jawab konselor dalam memberikan pelayanan

konseling ada empat, yaitu melakukan perencanakan program bimbingan dan

konseling, pelaksanaan program bimbingan dan konseling, evaluasi kegiatan

bimbingan dan konseling, serta mekanisme kerja administrasi bimbingan dan

konseling.

Salah satu faktor yang mempengaruhi profesionalisme guru yakni

supervisi. Dalam bidang supervisi, Kepala Sekolah mempunyai tugas dan

bertanggung jawab memajukan pengajaran melalui peningkatan profesi guru

secara terus menerus.

Kepala Sekolah sebagai pemimpin harus mempunyai strategi untuk

memimpin staf sekolah, yakni guru dan pegawai, membina kerja sama yang

harmonis antar anggota staf sehingga dapat membangkitkan semangat serta

motivasi kerja para staf yang dipimpin serta menciptakan suasana yang

kondusif. Kepala Sekolah sebagai administrator atau manager pendidikan

yang bertanggung jawab mengelola penyelenggaraan pendidikan di

sekolahnya. Kepala Sekolah sebagai supervisor pendidikan mempunyai tugas

untuk meningkatkan mutu belajar mengajar, memotivasi, membimbing serta

membantu guru-guru agar meningkatkan kompetensi profesional melalui

supervisi.
5

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis ingin mengkaji bagaimana

strategi atau keputusan dan perencanaan Kepala Sekolah SMA Islam

Azhariyah dalam meningkatkan mutu guru bimbingan dan konseling di SMA

Islam Azhariyah Lubuklinggau, maka penulis perluh mengadakan penelitian

yang berjudul “Strategi Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Guru

Bimbingan Konseling Islam di SMA Islam Azhariyah Lubuklinggau”.

B. Rumusan dan Batasan Masalah

1. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Bagaimana kualitas mutu guru Bimbingan Konseling di SMA

Islam Azhariyah Lubuklinggau?

b. Bagaimana strategi yang dilakukan Kepala Sekolah dalam

meningkatkan mutu Guru BK di SMA Islam Azhariyah Lubuklinggau?

c. Apa saja faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi Kepala

Sekolah dalam meningkatkan mutu BK di SMA Islam Azhariyah

Lubuklinggau?

2. Batasan Masalah

Dalam penelitian ini peneliti perlu membatasi permasalahan agar tidak

terjadi penyimpangan atau kesalahan pengertian dalam pemahaman, maka

dalam skripsi ini penulis akan membahas masalah sebagai berikut: strategi

yang dilakukan Kepala Sekolah dalam meningkatkan mutu Guru BK di

SMA Islam Azhariyah Lubuklinggau.


6

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan penelitian

ini adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimana kualitas mutu guru Bimbingan dan

Konseling di SMA Islam Azhariyah Lubuklinggau.

2. Untuk mengetahui bagaimana strategi yang dilakukan Kepala

Sekolah dalam meningkatkan mutu guru BK di SMA Islam Azhariyah

Lubuklinggau.

3. Untuk mengetahui apa saja faktor pendukung dan penghambat

yang dihadapi Kepala Sekolah dalam meningkatkan mutu guru BK di

SMA Islam Azhariyah Lubuklinggau.

D. Kegunaan Penelitian

Penelitian yang penulis lakukan diharapkan berguna bagi:

1. Guru bimbingan dan konseling agar melaksanakan fungsi bimbingan

dan konseling di sekolah sehingga masalah-masalah yang timbul dari

siswa dapat diatasi.

2. Bagi Sekolah, khususnya Kepala Sekolah sebagai subjek penelitian

bisa memberikan masukan yang konstruktif baik dalam rangka

pengembangan lembaga tersebut ke depan serta untuk mengatasi berbagai

hambatan dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling, sehingga

kualitas lembaga manjadi lebih baik.


7

3. Guru dan Staf agar memberi contoh disiplin dalam melaksanakan

tugasnya sehingga siswa juga disiplin dalam proses belajar di sekolah.

4. Bagi peneliti sendiri, penelitian ini menjadi bahan pengembangan

keilmuan yang didapatkan selama mengikuti perkuliahan, sehingga dapat

menjadi bekal nantinya di masyarakat.

5. Bagi pihak Kampus Institut Agama Islam Al-Azhar Lubuklinggau,

sebagai bahan bacaan, bahan referensi bagi mahasiswa, menambah

wawasan yang luas dan bermakna khususnya dalam meningkatkan mutu

guru bimbingan konseling.

6. Bagi masyarakat umum, diharapkan dengan penelitian ini dapat

menambah wawasan keilmuan mengenai strategi Kepala Sekolah dalam

meningkatkan mutu guru bimbingan konseling.

E. Tinjauan Pustaka

Sehubungan dengan penulisan skripsi yang berjudul “Strategi Kepala

Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Guru Bimbingan Konseling Islam di

SMA Islam Azhariyah Lubuklinggau”. Penulis akan mencantumkan beberapa

referensi, berupa hasil penelitian yang ada kaitannya dengan judul tersebut.

Beberapa referensi tersebut dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam

penelitian ini, adapun referensi-referensi tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, penelitian yang cukup relevan, diantaranya: sebagaimana

yang diungkapkan oleh Ida Royani dalam skripsinya yang berjudul

“Efektivitas Peran Guru Bimbingan Konseling dalam Meningkatkan Disiplin

Siswa Mengikuti Proses Pembelajaran Pada Mata Pelajaran Pendidikan


8

Agama Islam di SMP Bakti Ibu 11 Lubuklinggau”. Dalam skripsi tersebut

dikemukakan bahwa: Upaya guru bimbingan konseling dalam meningkatkan

efektivitas layanan bimbingan terhadap siswa adalah melaksanakan program

bimbingan sesuai dengan program kerja tahunan, program semester dan

program kerja bulanan, serta melaksanakan semua program bimbingan dan

konseling kepada siswa.4

Skripsi Ida Royani di atas lebih menekankan masalah efektivitas peran

guru bimbingan konseling dalam meningkatkan disiplin siswa mengikuti

proses pembelajaran, sedangkan judul penelitian skripsi yang penulis bahas

berbeda dengan penelitian Ida Royani. Adapun letak perbedaan skripsi yang

penulis bahas dengan skripsi Ida Royani yaitu, pada skripsi penulis bahas

lebih fokus kepada strategi Kepala Sekolah dalam meningkatkan mutu guru

bimbingan konseling islam di SMA Islam Azhariyah Lubuklinggau.

Kedua, skripsi yang ditulis oleh Dwi Lestari yang berjudul “Studi

Deskriptif Strategi Kepemimpinan Kepala Madrasah Aliyah Al-Muhajirin

Tugumulyo Kabupaten Musi Rawas dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan”,

berdasarkan kesimpulan skripsi tersebut disebutkan bahwa: Strategi yang telah

dilakukan oleh Kepala Madrasah Aliyah Al-Muhajirin Tugumulyo Kabupaten

Musi Rawas dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah: “membangun

komunikasi dengan guru, staf dan bekerja sama juga dengan wali siswa dan

masyarakat, menjembatani kebutuhan masyarakat melalui pendidikan

4
Ida Royani, “Efektivitas Peran Guru Bimbingan Konseling dalam Meningkatkan
Disiplin Siswa Mengikuti Proses Pembelajaran Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di
SMP Bakti Ibu 11 Lubuklinggau” (Skripsi S1 Sekolah Tinggi Agama Islam Bumi Silampari
Lubuklinggau, 2012), h. 59
9

keagamaan, transparansi dalam pengelolaan keuangan dan pembagian tugas

guru”.5

Ketiga, skripsi yang ditulis oleh Suyati yang berjudul: “Peran

Supervisi Bimbingan dan Konseling dalam Meningkatkan Profesionalisme

Guru Bimbingan dan Konseling di SMP Muhammadiyah 2 Mlati Sleman”,

berdasarkan kesimpulan skripsi tersebut disebutkan bahwa: Tugas Kepala

Sekolah sebagai supervisor telah dilaksanakan oleh Kepala Sekolah SMP

Muhammadiyah 2 Mlati Sleman. Supervisi BK yang dilakukan Kepala

Sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru BK di SMP

Muhammadiyah 2 Mlati sleman menggunakan beberapa teknik diantaranya

adalah “percakapan pribadi, diskusi kelompok terbimbing yang berupa

breafing, pendelegasian guru dalam program edukatif (Musyawarah Guru BK

dan Seminar), penghargaan terhadap guru, dan penyediaan sumber belajar

yang memadai”.6

Berdasarkan hasil penelitian di atas, penulis dapat memberikan

gambaran bahwa penelitian Ida Royani, Dwi Lestari, dan Suyati memiliki

kesamaan dan perbedan dengan penelitian ini, namun lokasi dan objek

penelitian yang dibahas memiliki perbedaan, sehingga memungkinkan adanya

perbedaan hasil penelitian yang akan ditemukan. Dengan demikian penelitian

ini layak untuk diangkat dan dibahas lebih lanjut.

5
Dwi Lestari, “Studi Deskriptif Strategi Kepemimpinan Kepala Madrasah Aliyah Al-
Muhajirin Tugumulyo Kabupaten Musi Rawas dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan” (Skripsi
S1 Sekolah Tinggi Agama Islam Bumi Silampari Lubuklinggau, 2012), h. 81
6
Suyati, “Peran Supervisi Bimbingan dan Konseling dalam Meningkatkan
Profesionalisme Guru Bimbingan dan Konseling di SMP Muhammadiyah 2 Mlati Sleman”
(Skripsi S1 Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta, 2015), h. 97
10

Dan dari segi kebaruan penelitian yang penulis lakukan dengan judul

”Strategi Kepala Sekolah dalam meningkatkan mutu guru bimbingan

konseling islam di SMA Islam Azhariyah Lubuklinggau”, layak untuk

diangkat dan dibahas lebih lanjut.

F. Kerangka Teoritik

Strategi “adalah ilmu siasat perang: muslihat untuk mencapai

sesuatu”.7 Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan strategi adalah segala

upaya atau rencana yang cermat yang akan dan sedang dilakukan oleh kepala

sekolah dalam meningkatkan mutu guru Bimbingan Konseling.

Kepala sekolah sebagai supervisior bertugas memberikan

pengawasan, bantuan, bimbingan kepada setiap guru. Dalam melakukan

fungsinya sebagai educator (pendidik), kepala sekolah harus memiliki strategi

yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di

sekolahnya. “Menciptakan iklim sekolah yang kondusif, memberikan nasehat

kepada warga sekolah, memberikan dorongan kepada seluruh tenaga

kependidikan, serta melaksanakan model pembelajaran yang menyenangkan”.8

Ada beberapa strategi yang dapat dilaksanakan oleh kepala sekolah

dalam meningkatkan mutu guru Bimbingan Konseling, diantaranya adalah:

menumbuhkan kreativitas guru, penataran dan lokakarya, supervisi, dan

pengembangan kemampuan guru, yaitu dengan memberian kesempatan

kepada guru/ tenaga pendidik untuk mengikuti berbagai pendidikan dan

7
Pius A Partanto dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola,
1994) h. 727.
8
E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2003), h. 99
11

pelatihan secara teratur, revilitasi musyawarah guru mata pelajaran (MGMP)

musyawarah guru pembimbing (MGP) dan kelompok kerja guru (KKG),

diskusi seminar lokakarya dan penyediaan sumber belajar.

Bimbingan konseling merupakan layanan profesional yang

pelaksanaan dan hasilnya harus dapat dipertanggungjawabkan. “Penerapan

program bimbingan dan konseling di sekolah sangat penting sebagai upaya

mempasilitasi peserta didik agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau

mencapai tugas-tugas perkembangannya”.9 Dengan kata lain peran bimbingan

dan konseling secara tidak langsung menunjang tujuan pendidikan, dengan

menangani masalah dan memberikan layanan secara khusus pada siswa, agar

siswa dapat mengembangkan dirinya secara penuh.

Kepala Sekolah adalah “tenaga fungsional guru yang diberi tugas

untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar

mengajar atau tempat dimana terjadi interaksi antara guru yang memberi

pelajaran dan murid yang menerima pelajaran”.10

Kepala Sekolah mampu menciptakan lingkungan sekolah agar

menjadi tempat yang nyaman bagi warga sekolah, mampu melibatkan semua

komponen sekolah secara maksimal dalam aktivitas pendidikan di sekolah,

memberi dukungan dan bantuan kepada guru atau tenaga kependidikan lain

9
Mamat Supriatna, Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi: Orientasi Dasar
Pengembangan Profesi Konselor, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010), h. 61
10
Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah (Tinjauan Teoritik dan
Permasalahanya), (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), h. 83
12

yang menghadapi masalah, memberi perhatian kepada setiap guru dengan

baik serta mengevaluasi proses dan perkembangan mereka.

Definisi mutu secara umum adalah kualitas, atau sesuatu yang

dikatakan bermutu apabila sesuai dengan kebutuhan, dan memiliki

kemampuan. Definisi mutu menurut Deming ialah kesesuaian dengan

kebutuhan pasar. Mutu menurut West Burnham ialah ukuran relatif suatu

produk atas jasa sesuai dengan standar mutu. Perusahaan raksasa IBM

mendefinisikan mutu ialah kepuasan pelanggan, Ford Motor mendefinisikan

mutu ialah memuaskan pelanggan sepuas-puasnya.11

Kepala Sekolah menentukan arah suatu lembaga. Kepala Sekolah

merupakan pengatur dari program yang ada disekolah. Karena nantinya

diharapkan Kepala Sekolah akan membawa spirit kerja guru dan membangun

kultur sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan, termasuk meningkatkan

kualitas mutu guru bimbingan dan konseling.

Keberhasilan Kepala Sekolah dalam mengelola administrasi,

mengelola sarana prasarana sekolah, membina guru, atau membina kegiatan

sekolah lainnya banyak ditentukan oleh strategi Kepala Sekolah. Apabila

Kepala Sekolah mampu menggerakkan, membimbing, dan mengarahkan

anggota secara tepat, segala kegiatan yang ada dalam organisasi sekolah akan

bisa terlaksana secara efektif.

Menurut Syafaruddin yang dikutip dalam buku Ilmu dan Aplikasi

Pendidikan, ”peran kepemimpinan penting sekali dalam mengejar mutu yang

11
Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktek, dan Riset Pendidikan, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2006), h. 407
13

diinginkan pada setiap sekolah. Sekolah hanya akan maju bila dipimpin oleh

Kepala Sekolah yang visioner, memiliki keterampilan manajerial, serta

integritas kepribadian dalam melaksanakan perbaikan mutu ...”.12

Strategi Kepala Sekolah adalah cara dan seni yang dipakai Kepala

Sekolah dalam merumuskan rencana yang cermat dan menetapkan kebijakan

sekolah khususnya dalam mengelola sekolah, membina dan meningkatkan

profesional guru dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Dalam hal ini

strategi Kepala Sekolah dalam meningkatkan kualitas mutu guru bimbingan

konseling adalah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

Bagan Kerangka berfikir

Kepala Sekolah

Strategi Kepala Faktor


Sekolah dalam pendukung dan
meningkatkan penghambat
mutu guru BK

Kualitas mutu guru BK

H. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

12
Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan bagian II
Ilmu Pendidikan Praktis, (Jakarta: PT. Imperial Bhakti Utama, 2007), h. 239
14

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan

pendekatan metode kualitatif. Dalam hal ini penulis menekankan pada

penelitian lapangan atau field research yang bersifat “deskriptif analitik

yang menggunakan pendekatan kualitatif yaitu uraian naratif suatu proses

tingkah laku subjek yang sesuai dengan masalah yang diteliti”.13

Jadi penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif, yaitu

penelitian yang berusaha menggambarkan, dan menguraikan mengenai

strategi Kepala Sekolah dalam meningkatkan mutu guru bimbingan

konseling islam di SMA Islam Azhariyah Lubuklinggau.

2. Subjek Penelitian

Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah Kepala Sekolah SMA

Islam Azhariyah, Guru Bimbingan dan Konseling, Guru Wali Kelas, untuk

lebih jelasnya subjek penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

a. Kepala Sekolah, yaitu Bapak Zulkarnain, S.Pd.

b. 1 orang guru Bimbingan dan Konseling, yaitu Ibu Siti Patonah, S.Ag.

c. Guru Wali Kelas, yaitu Ibu Nurmala Sari, S.Pd wali kelas XI.

3. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini penulis

menggunakan beberapa metode sebagai berikut:

a. Observasi

13
Amirudin Hadi dan Haryono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Pustaka
Setia, 1998), h. 17
15

Metode ini penulis gunakan untuk mendapatkan data yang berkaitan

dengan: pelaksanaan program bimbingan dan konseling di SMA Islam

Azhariyah Lubuklinggau, situasi dan kondisi sekolah, struktur

organisasi, visi dan misi sekolah, dan metode yang digunakan guru BK

dalam mengatasi masalah di SMA Islam Azhariyah Lubuklinggau.

b. Wawancara

Metode ini penulis gunakan untuk mengetahui kualitas mutu guru

Bimbingan Konseling di SMA Islam Azhariyah Lubuklinggau. Untuk

mengetahui strategi yang dilakukan Kepala Sekolah dalam

meningkatkan mutu Guru BK di SMA Islam Azhariyah Lubuklinggau,

dan untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat yang

dihadapi Kepala Sekolah dalam meningkatkan mutu BK di SMA Islam

Azhariyah Lubuklinggau.

c. Dokumentasi

Metode ini digunakan untuk memperoleh data melalui data-data yang

tertulis baik yang berupa dokumen/arsip maupun data tertulisnya yang

berupa buku kasus siswa, papan struktur, keadaan siswa dan guru/staf

sekolah dan sebagainya yang menunjang penyelesaian skripsi ini.

4. Teknik Analisa Data

Teknik analisa data dalam penelitian ini mengacu pada model analisa

data yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman sebagaimana yang

dikutip oleh Iskandar. Ia mengemukakan proses analisa data dapat

dilakukan dengan melalui langka-langkah seperti ”Reduksi data, Display


16

data (penyajian data), mengambil kesimpulan dan dilanjutkan dengan

verifikasi”.14 Untuk lebih jelasnya teknik analisa data dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut:

a. Reduksi Data

Data yang diperoleh dilapangan disusun dalam bentuk uraian yang

lengkap, kemudian direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok

dan difokuskan pada hal yang penting yang berkaitan dengan masalah

kedalam suatu konsep, atau tema tertentu.

b. Penyajian Data

Penyajian data adalah menyajikan sekumpulan informasi yang

tersusun, yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan

dan pengambilan tindakan.

c. Mengambil kesimpulan atau verifikasi

Data yang sudah dipolakan dan disusun secara induksi data tersebut

disimpulkan sehingga makna data dapat ditemukan. Namun

kesimpulan masih bersifat sementara dan umum. Supaya diperoleh

kesimpulan secara mendalam, maka perlu dicari data lain yang baru

dan sesuai. Prosesnya tidak sekali jadi melainkan berinteraksi secara

bolak balik sehingga ketiga langkah analisis data menjadi gambaran

keberhasilan secara berurutan sebagai rangkaian kegiatan analisis.

I. Sistematika Pembahasan

14
Iskandar, Metodelogi Penelitian Pendidikan dan Sosial Kuantitatif dan Kualitatif,
(Jakarta: Gaung Persada Press, 2008), h. 222
17

Adapun sistematika penulisan agar memudahkan pemahaman dalam

pembahasan skripsi ini, maka dibagi kedalam beberapa bab, yaitu:

Bab I : Pendahuluan, bab ini membahas tentang latar belakang masalah,

rumusan dan batasan masalah, tujuan penelitian, kegunaan

penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teori, dan sistematika

pembahasan.

Bab II : Landasan teori, bab ini membahas tentang Pengertian Strategi,

Pengertian Kepala Sekolah, Peran dan tugas Kepala Sekolah,

Strategi Kepala Sekolah dalam meningkatkan mutu guru

bimbingan konseling, Pengertian guru BK, Guru Bimbingan dan

Konseling Profesional, dan Kepala Sekolah sebagai supervisor guru

BK.

Bab III: Metode penelitian, bab ini berisikan jenis penelitian, subjek

penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisa data.

Bab IV: Hasil penelitian, bab ini penulis akan memaparkan strategi Kepala

Sekolah dalam meningkatkan mutu guru bimbingan konseling

Islam di SMA Islam Azhariyah. Tingkat kedisiplinan siswa

mengikuti proses Bimbingan Konseling di SMA Islam Azhariyah

Lubuklinggau.

Bab V : Kelima adalah Penutup, berisi simpulan dan saran sebagai penutup.