Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

“Penentuan Status Gizi Tidak Langsung (Faktor Ekologi)”


(Disusun guna memenuhi tugas matakuliah Penentuan status Gizi)

Kelas C
Oleh :
Kelompok 3

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS JEMBER
2017
HALAMAN JUDUL
“Penentuan Status Gizi Tidak Langsung (Faktor Ekologi)”
(Disusun guna memenuhi tugas matakuliah Toksikologi Industri)
Kelas C
Oleh :

Asterini Ika F (132110101034)


Sary Soulmy (132110101221)
Sri Purwandari (142110101013)
Eriena Melati Sukma (142110101026)
Trean Firman Pradana (142110101069)
Rizana Bilqis Amalia (142110101088)
Mas Amaliyah (142110101096)
Yuniar Rifqotul Masriah (142110101104)
Shilviana Nafi’atul H (142110101123)
Rio Sugiarto Pratama (142110101140)
Rizaldi Yudhistira (142110101171)
Zilfani Fuadiyah Haq (142110101196)
Mukhlis Dwi Tanto (152110101035)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS JEMBER
2017

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmadnya sehingga penyusunan makalah Penentuan status gizi yang
berjudul “Penentuan Status Gizi Tidak Langsung (Faktor Ekologi)”. Makalah ini
disusun guna melengkapi tugas mata kuliah penentuan Status Gizi. Oleh sebab itu,
pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Ibu Ninna Rohmawati, S.Gz., M.PH.
2. Orang tua kami, atas segala restu dan dukungannya,
3. Semua pihak yang telah mendukung dalam penyelesaian makalah ini.
Akhirnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Penulis sangat mengharap
kritik, saran, dan masukan untuk perbaikan serta penyempurnaan lebih lanjut pada
masa yang akan datang.

Jember, 7 April 2017

Penyusun

iii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL............................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... iii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iv
BAB 1. PENDAHULUAN ..................................................................................... 5
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 5
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 5
1.1 Tujuan ....................................................................................................... 5
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 6
2.1 Pengertian Penentuan Status Gizi............................................................. 6
2.2 Kategori Penentuan Status Gizi Tidak Langsung ..................................... 7
2.2.1 Survei Konsumsi ............................................................................... 7
2.2.2 Statistika Vital ................................................................................. 17
2.2.3 Faktor Ekologi ................................................................................. 19
2.3 Faktor Ekologi Yang Berhubungan Dengan Penyebab Malnutrisi ........ 19
2.3.1 Keadaan Infeksi ............................................................................... 19
2.3.2 Konsumsi Makanan ......................................................................... 20
2.3.3 Pengaruh Budaya ............................................................................ 20
2.3.4 Faktor Sosial Ekonomi .................................................................... 21
2.3.5 Produksi Pangan .............................................................................. 22
2.3.6 Pelayanan Kesehatan Dan Pendidikan ............................................ 22
BAB 3. PENUTUP ............................................................................................... 24
3.1 Kesimpulan ............................................................................................. 24
3.2 Saran ....................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 25

iv
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan dalam periode tahun 2015- 2019 difokuskan pada empat program
prioritas yaitu penurunan angka kematian ibu dan bayi, penurunan prevalensi balita pendek
(stunting), pengendalian penyakit menular dan pengendalian penyakit tidak menular. Situasi
gizi masyarakat tidak hanya berperan dalam program penurunan prevalensi balita pendek,
namun juga terkait erat dengan tiga program lainnya, mengingat status gizi berkaitan dengan
kesehatan fisik maupun kognitif, mempengaruhi tinggi rendahnya risiko terhadap penyakit
infeksi maupun penyakit tidak menular dan berpengaruh sejak awal kehidupan hingga masa
usia lanjut.
Dari berbagai sumber data, perkembangan masalah gizi di Indonesia dapat dikelompokkan
menjadi 3, yaitu: Masalah gizi yang secara public health sudah terkendali; Masalah yang belum
dapat diselesaikan (un-finished); dan Masalah gizi yang sudah meningkat dan mengancam
kesehatan masyarakat (emerging).
Upaya perbaikan gizi masyarakat bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perseorang dan
masyarakat, antara lain melalui perbaikan pada pola konsumsi makanan, perbaikan perilaku
sadar gizi, peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi serta kesehatan sesuai dengan kemajuan
ilmu dan teknologi.gizi yang baik merupakan landasan kesehatan, gizi mempengaruhi
kekebalan tubuh, kerentanan terhadap penyakit, serta pertumbuhan dan perkembangan fisik
dan mental . Gizi yang baik akan menurun kesakitan,kecacatan dan kematian sehingga
meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian penentuan status gizi?
2. Apa saja penentuan status gizi secara tidak langsung?
3. Bagaimana penentuan status gizi dengan pengukuran Faktor Ekologi?
1.1 Tujuan
1. Memahami pengertian penentuan status gizi
2. Memahami apa saja penentuan status gizi secara tidak langsung
3. Memahami penentuan status gizi dengan pengukuran Faktor Ekologi.

5
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Penentuan Status Gizi
Status gizi adalah suatu ukuran mengenai kondisi tubuh seseorang yang dapat
dilihat dari makanan yang dikonsumsi dan penggunaan zat-zat gizi di dalam tubuh dan
keadaan tubuh sebagai akibat dari pemakaian, penyerapan, dan penggunaan makanan
(Suhardjo,2002). Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk
anak yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga
didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara
kebutuhan dan masukan nutrient. Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang
didasarkan pada data antropometri serta biokimia dan riwayat diit (Deddy Muchtadi, 2002
dalam Raudatul Jannah, 2011:09)
Status gizi menjadi sangat penting karena salah satu faktor risiko untuk terjadinya
kesakitan dan kematian. Status gizi yang baik bagi seseorang akan berkontribusi terhadap
kesehatannya dan juga terhadap kemampuan dalam proses pemulihan. Status gizi
masyarakat dapat diketahui melalui penilaian konsumsi pangannya berdasarkan data
kuantitatif maupun kualitatif (Supariasa et al, 2001).
Penilaian status gizi pada dasarnya merupakan proses pemeriksaan keadaan gizi
seseorang dengan cara mengumpulkan data penting, baik yang bersifat objektif maupun
subjektif, untuk kemudian dibandingkan dengan baku yang telah tersedia. Data objektif
dapat diperoleh dari data pemeriksaan laboratorium perorangan, serta sumber lain yang
dapat diukur oleh anggota tim penilai. Penilaian status gizi merupakan penjelasan yang
berasal dari data yang diperoleh dengan menggunakan berbagai macam cara untuk
menemukan suatu populasi atau individu yang memiliki risiko status gizi kurang maupun
gizi lebih (Triyanti, 2007).

6
2.2 Kategori Penentuan Status Gizi Tidak Langsung
2.2.1 Survei Konsumsi
a. Definisi
Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak
langsung dengan menilai jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi dan
membandingkan dengan baku kecukupan, agar diketahui kecukupan gizi yang dapat
dipenuhi (Supariasa, dkk, 2002).
Survei konsumsi makanan digunakan dalam menentukan status gizi perorangan
atau kelompok. Survei konsumsi makanan dimaksudkan untuk mengetahui kebiasaan
makan atau gambaran tingkat kecukupan bahan makanan dan zat gizi pada tingkat
kelompok, rumah tangga dan perorangan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
b. Tujuan Khusus
1) Mengetahui tingkat kecukupan konsumsi pangan nasional dan kelompok
masyarakat
2) Menentukan status kesehatan dan gizi keluarga
3) Pedoman kecukupan makanan dan program pengadaan pangan
4) Dasar perencanaan dan program pengembangan gizi
5) Sarana pendidikan gizi masyarakat
6) Perundang2an tentang makanan, kesehatan, dan gizi masyarakat
Metode yang digunakan untuk menggali informasi konsumsi pangan seseorang
atau sekelompok orang yaitu kualitatif (frekuensi makanan, dietary history, metode
telepom, dan daftar makanan) dan data kuantitatif (metode recall 24 jam, perkiraan
makanan, penimbangan makanan, food account, metode inventaris dan pencatatan).
(Susetyowati, 2013)

c. Penilaian Konsumsi Makanan Tingkat Individu


1) Tujuan :
a) Untuk konsultasi
b) Untuk penelitian diit dan penyakit
2) Metode kuantitatif (food recall, food record, penimbangan makanan)
3) Metode kualitatif (metode frekuansi makanan dan dietary

7
d. Penilaian Konsumsi Makanan Tingkat Rumah Tangga
1) Food Account
2) Food List
3) Metode Inventaris
4) House Hold Food Record

e. Macam -Macam Metode


1) Frekuensi Makanan
Metode ini untuk memperoleh data tentang frekuensi konsumsi sejumlah
bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu. Meliputi hari, minggu,
bulan, atau tahun, sehingga diperoleh gambaran pola konsumsi makanan secara
kualitatif. Kuesioner frekuensi makanan memuat tentang daftar bahan makanan dan
frekuensi penggunaan makanan tersebut pada periode tertentu. Selain itu dengan
metode frekuensi makanan dapat memperoleh gambaran pola konsumsi bahan
makanan secara kuantitatif, tapi karena periode pengamatannya lebih lama dan
dapat membedakan individu berdasarkan ranking tingkat konsumsi zat gizi, maka
cara ini paling sering digunakan dalam penelitian epidemiologi gizi. Kuesioner
frekuensi makanana memuat tentang daftar tentang bahan makanan atau makanan
dan frekuensi penggunaan makanan tersebut pada periode tertentu.
Langkah-langkah metode frekuensi makanan:
1. Responden diminta untuk member tanda pada daftar makanan yang tersedia
pada kuesioner mengenai frekuensi penggunaannya dan ukuran porsinya.
2. Lakukan rekapitulasi tentang frekuensi penggunaan jenis-jenis bahan makanan
terutama bahan makanan yang merupakan sumber-sumber zat gizi tertentu
selama periode tertentu pula.

2) Metode Dietary History


Metode ini bersifat kualitatif karena memberikan gambaran pola kunsumsi
berdasarkan pengamatan dalam waktu yang cukup lama (bisa 1 minggu, 1 bulan, 1
tahun). Burke (1947) menyatakan bahwa metode ini terdiri dari tiga komponen,
yaitu:

8
1. Komponen pertama adalah wawancara (termasuk recall 24 jam), yang
mengumpulkan data tentang apa saja yang dimakan responden selama 24 jam
terakhir.
2. Komponen kedua adalah tentang frekuensi penggunaan dari sejumlah bahan
makanan dengan memberikan daftar (check list) yang sudah disiapkan, untuk
mengecek kebenaran dari recall 24 jam tadi.
3. Komponen ketiga adalah pencatatan konsumsi selama 2-3 hari sebagai cek ulang
Kegunaan:
a) Mengetahui pola makan
b) Intake zat gizi dapat dihitung
c) Penelitian defisiensi zat gizi dan hubungan penyakit
Langkah-langkah
1. Petugas menanyakan kepada responden tentang pola kebiasaan makannya.
Variasi makan pada hari-hari khusus seperti hari libur, dalam keadaan sakit dan
sebagainya juga dicatat. Termasuk jenis makanan, frekuensi penggunaan,
ukuran porsi dalam URT serta cara memasaknya (direbus, digoreng,
dipanggang dan sebagainya).
2. Lakukan pengecekan terhadap data yang diperoleh dengan cara mengajukan
pertanyaan untuk kebenaran data tersebut. Hal yang perlu mendapat perhatian
dalam pengumpulan data adalah keadaan musim-musim tertentu dan hari-hari
istimewa seperti hari pasar, awal bulan, hari raya dan sebagainya
Keunggulan dan Kelemahan Dietary History
Keunggulan :
1) Dapat memberikan gambaran konsumsi makanan pada periode yang panjang
2) Dapat mengumpulkan data untuk semua zat gizi
Kelemahan :
1) Terlalu membebani pihak pengumpul data dan responden
2) Membutuhkan pengumpul data yang terlatih
3) Tidak cocok dipakai untuk survei2 besar
4) Validitas tergantung pada daftar makanan

9
3) Metode Telepon
Dewasa ini survei konsumsi dengan metode telepon semakin banyak
digunakan terutama untuk daerah perkotaan dimana sarana komunikasi telepon
sudah cukup tersedia. Untuk negara berkembang metode ini belum banyak
dipergunakan karena membutuhkan biaya yang cukup mahal untuk jasa telponnya.
Langkah-langkah dalam metode telepon antara lain :
1. Petugas melakukan wawancara terhadap responden melalui telepon tentang
persediaan makanan yang dikonsumsi keluarga selama periode survei.
2. Hitung persediaan makanan keluarga berdasarkan hasil wawancara melalui
wawancara melalui telepon tersebut.
3. Tentukan pola konsumsi keluarga.
Kelebihan dan Kekurangan :
Kelebihan:
1. Relatif cepat karena tidak harus mengunjungi responden.
2. Dapat mencakup responden lebih banyak.
Kekurangan:
1. Biaya relatif mahal untuk rekening telepon.
2. Sulit dilakukan untuk daerah yang belum mempunyai jaringan telepon.
3. Dapat menyebabkan terjadinya kesalahan interpretasi dari hasil informasi yang
diberikan responden.
4. Sangat tergantung pada kejujuran dan motivasi serta kemampuan responden
untuk menyampaikan makanan keluarganya

4) Metode ”Food List”


Metode pendaftaran ini dilakukan dengan menanyakan dan mencatat seluruh
bahan makanan yang digunakan keluarga selama periode survei dilakukan
(biasanya 1-7 hari). Pencatatan dilakukan berdasarkan jumlah bahan makanan yang
dibeli, harga dan nilai pembelinya, termasuk makanan yang dimakan anggota
keluarga diluar rumah. Jadi data yang diperoleh merupakan taksiran/perkiraan dari
responden. Metode ini tidak memperhitungkan bahan makanan yang terbuang,
rusak atau diberikan pada binatang piaraan. Jumlah bahan makanan diperkirakan

10
dengan ukuran berat atau URT. Selain itu dapat dipergunakan alat bantu seperti
food model atau contoh lainnya (gambar-gambar, contoh bahan makanan aslinya
dan sebagainya) untuk membantu daya ingat responden. Pengumpulan data
dilakukan dengan cara wawancara yang dibantu dengan formulir yang telah
disiapkan, yaitu kuisioner terstruktur yang memuat daftar bahan makanan utama
yang digunakan keluarga. Karena data yang diperoleh merupakan taksiran atau
perkiraan maka data yang diperoleh kurang teliti.
Langkah-langkah:
1. Catat semua jenis bahan makanan atau makanan yang masuk ke rumah tangga
dalam URT berdasarkan jawaban dari responden selama periode survei.
2. Catat jumlah makanan yang dikonsumsi masing-masing anggota keluarga baik
dirumah maupun diluar rumah.
3. Jumlahkan semua bahan makanan yang diperoleh.
4. Cata umur dan jenis kelamin anggota keluarga yang ikut makan.
5. Hitung rata-rata perkiraan konsumsi bahan makanan per kapita, dibagi dengan
jumlah anggota keluarga.
Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan:
1. Relatif murah, karena hanya membutuhkan waktu yang singkat.
Kekurangan:
1. Hasil yang diperoleh kurang teliti karena berdasarkan estimasi atau perkiraan.
2. Sangat subyektif, tergantung kejujuran responden.
3. Sangat bergantung pada daya ingat responden.

5) Metode Recall 24 jam


Prinsip dari metode recall 24 jam, dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah
bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu.Agar responden
dapat mengungkapkan jenis bahan makanan dan perkiraanjumlah bahan makanan
yang dikonsumsinya selama 24 jam yang lalu, makawawancara sebaiknya
dilakukan oleh petugas yang sudah terlatih dengan menggunakan kuesioner
terstruktur. Dengan recall24 jam data yang diperoleh akan lebih bersifat

11
kualitif.Oleh karena itu, untuk mendapatkan data kuantitif, maka jumlah
konsumsimakanan individu ditanyakan secara teliti dengan menggunakan alat
Ukuran Rumah Tangga (URT) (sendok, gelas, piring dan lain-lain) atau ukuran
lainnya yang dipergunakan sehari-hari. Dari Ukutan Rumah Tangga (URT)jumlah
pangan dikonversikan ke satuan berat (gram) dengan menggunakandaftar Ukutan
Rumah Tangga (URT) yang umum berlaku atau dibuat sendiripada waktu
survei.Apabila pengukuran hanya dilakukan 1 kali (1×24 jam), maka data yang
diperoleh kurang representatif untuk menggambarkan kebiasaan makanindividu.
Oleh karena itu, recall 24 jam sebaiknya dilakukan berulang-ulang dan harinya
tidak berturut-turut.Beberapa penelitian menunjukan bahwa minimal 2 kali recal
l24 jam tanpa berturut-turut, dapat menghasilkan gambaran konsumsi zat gizi lebih
optimal dan memberikan variasi yang lebih besar tentang intake harian individu.
Metode recall mempunyai kelemahan dalam hal ketepatan, karenaketerangan-
keterangan yang diperoleh sangat tergantung pada daya ingatresponden.
Langkah-Langkah
a) Responden diminta mengingat dan mendeskripsikan makanan dan minuman
yang dikonsumsi dlm 24 jam terakhir
b) Responden mengestimasikan ukuran makanan/minuman yang dikonsumsi,
misalnya dengan menggunakan food models, foto, dll
c) Pengambil data mereview kembali data yang disebutkan responden
d) Pengambil data mengonversi URT gram

6) Perkiraan makanan (Estimated Food Records)


Metode ini disebut juga food record atau diary record, yang digunakan untuk
mencatat jumlah yang dikonsumsi. Pada metode ini responden diminta untuk
mencatat semua yang ia makan dan minum setiapkali sebelum makan dalam
Ukuran Rumah Tangga (URT) atau menimbangdalam ukuran berat (gram) dalam
periode tertentu (2-4 hari berturut-turut),termasuk cara persiapan dan pengolahan
makanan tersebut.
Langkah-langkah dalam pelaksanaan food records antara lain :

12
1. Responden mencatat makanan yang dikonsumsi dalam URT atau gram (nama
masakan, cara persiapan dan pemasakan bahan makanan).
2. Petugas memperkirakan/estimasi URT ke dalam ukuran berat (gram) untuk
bahan makanan yang dikonsumsi tadi.
3. Menganalisis bahan makanan ke dalam zat gizi dalam DKBM.
4. Membandingkan dengan AKG. Metode ini dapat memberikan informasi
konsumsi yang mendekati sebenarnya (true intake) tentang jumlah energy dan
zat gizi yang dikonsumsi oleh individu.
Kelebihan dan Kekurangan:
Kelebihan:
1. Metode ini relatif murah dan cepat.
2. Dapat menjagkau sampel dalam jumlah besar.
3. Dapat diketahui konsumsi zat gizi sehari.
4. Hasilnya relative lebih akurat.
Kekurangan:
1. Metode ini terlalu membebani responden, sehingga sering menyebabkan
responden merubah kebiasaan makannya.
2. Tidak cocok untuk responden yang buta huruf.
3. Sangat tergantung pada kejujuran dan kemampuan responden dalam mencatat
dan memperkirakan jumlah konsumsi.

7) Penimbangan makanan (Food Weighing)


Pada metode penimbangan makanan, responden atau petugas menimbang dan
mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi responden selama 1 hari.
Penimbangan makanan ini biasanya berlangsung beberapa hari tergantung dari
tujuan, dana penelitian dan tenaga yang tersedia.Yang harus diperhatikan dalam
metode ini adalah, bila terdapat sisa makanan setelah makan, maka perlu juga
ditimbang sisa tersebut untuk mengetahuijumlah sesungguhnya yang dikonsumsi.
Langkah-langkah
1. Petugas/responden menimbang makanan dan mencatat bahan
makanan/makanan yang dikonsumsi dalam gram.

13
2. Jumlah bahan makanan yang dikonsumsi sehari, kemudian dianalisis dengan
menggunakan DKBM atau DKGJ (Daftar Kompisis Gizi Jajanan).
3. Membandingkan hasilnya dengan kecukupan gizi yang dianjurkan (AKG).
Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan:
1. Data yang diperoleh lebih akurat/teliti
Kekurangan:
1. Memerlukan waktu dan cukup mahal karena perlu peralatan.
2. Bila penimbangan dilakukan dalam periode yang cukup lama, maka responden
dapat merubah kebiasaan makan mereka.
3. Tenaga pengumpul data harus terlatih dan terampil.
4. Memerlukan kerjasama yang baik dengan responden.

8) Metode pencatatan ( Food Account)


Metode pencatatan dilakukan dengan cara keluarga mencatat setiap hari
semua makanan yang dibeli, diterima dari orang lain ataupun dari produksi
sendari. Jumlah makanan dicatat dalam Ukuran Rumah Tangga(URT), termasuk
harga eceran makanan tersebut. Cara ini tidak memperhitungkan makanan
cadangan yang ada di rumah tangga dan jug atidak memperhatikan makanan dan
minuman yang di konsumsi di luar rumahdan rusak, terbuang/tersisa atau
diberikan pada binatang peliharaan.
Langkah-langkah
1. Keluarga mencatat seluruh makanan yang masuk ke rumah yang berasal dari
berbagai sumber tiap hari URT (ukuran rumah tangga) atau satuan ukuran
volume atau berat
2. Jumlahkan masing-masing jenis bahan makanan tersebut dan konversikan ke
dalam ukuran berat setiap hari.
3. Hitung rata-rata perkiraan penggunaan bahan makanan setiap hari
Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan:
1. Cepat dan relatif murah

14
2. Dapat diketahui tingkat ketersediaan bahan makanan keluarga pada periode
tertentu.
3. Dapat menjangkau responden lebih banyak.
Kekurangan:
1. Kurang teliti, sehingga tidak dapat menggambarkan tingkat konsumsi rumah
tangga.
2. Sangat tergantung pada kejujuran responden untuk melaporkan/mencatat
makanan dalam keluarga.
9) Metode inventaris ( Inventory Method)
Metode iventaris disebut juga log book method. Prinsipnya dengan cara
menghitung/mengkur semua persediaan makanan di rumah tangga (beratdan
jenisnya) mulai dari awal sampai akhir survei. Semua makanan yang diterima,
dibeli dari produk sendiri di catat dan dihitung/ditimbang setiap hari selama
periode pengumpulan data (biasanya sekitar satu minggu). Semua makanan yang
terbuang, tersisa dan busuk selama penyimpanan dan diberikan kepada orang
lain atau binatang peliharaan juga dihitung. Pencatatan dapat dilakukan oleh
petugas atau responden yang sudah mampu atau sudah dilatih dan tidak buta
huruf.
Langkah-langkah
1. Cata dan timbang/ukur semua jenis bahan makanan yang ada di rumah pada
hari pertama survei.
2. Catat dan ukur semua jenis bahan makanan yang diperoleh (dibeli, dari kebun,
pemberian orang lain dan makan di luar rumah) keluarga selama hari survei.
3. Catat dan ukur semua bahan makanan yang diberikan kepada orang lain,
rusak, terbuang dan sebagainya selama hari survei.
4. Catat dan ukur semua jenis bahan makanan yang ada di rumah pada hari
terakhir survei.
5. Hitung berat bersih dari tiap-tiap bahan makanan yang digunakan keluarga
selama periode survei.
6. Catat pula jumlah anggota keluarga dan umur masing-masing yang ikut
makan.

15
7. Hitung rata-rata perkiraan kosumsi keluarga atau konsumsi perkapita dengan
membagi konsumsi keluarga dengan jumlah anggota keluarga.
Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan :
1. Hasil yang diperoleh lebih akurat karena memperhitungkan adanya sisa dari
makanan, terbuang dan rusak selama survei dilakukan.
Kekurangan :
1. Petugas harus terlatih dalam menggunakan alat ukur dan formulir
pencatatan.
2. Tidak cocok untuk responden yang buta huruf,bila pencatatan dilakukan oleh
responden.
3. Memerlukan peralatan sehingga biaya relatif lebih mahal.
4. Memerlukan waktu yang relatif lama.

10) Pencatatan makanan rumah tangga (Household Food Recard)


Pengukuran dengan metode ini dilakukan sedikitnya dalam periode satu
minggu oleh responden. Dilaksanakan dengan menimbang atau mengukurdengan
Ukuran Rumah Tangga (URT) dengan makann yang ada dirumah dantermasuk
cara pengolahannya. Metode ini tidak memperhitungkan sisa makanan yang
terbuang dandimakan oleh binatang peliharaan. Metode ini dianjurkan untuk
daerah tertentu, dimana tidak banyak variasi penggunaan bahan makanan dalam
keluarga dan masyarakat sudah bisa membaca dan menulis
Langkah-langkah
1. Responden mencatat dan menimbang atau mengukur semua makanan yang
dibeli dan diterima oleh keluarga selama penelitian (biasanya satu minggu).
2. Mencatat dan menimbang atau mengukur semua makanan yang dimakan
keluarga, termasuk sisa dan makanan yang dimakan oleh tamu.
3. Mencatat makanan yang dimakan anggota keluarga di luar rumah.
4. Hitung ratar-rata konsumsi konsumsi keluarga atau konsumsi perkapita.
Kelebihan dan kekurangan
Kelebihan:

16
1. Hasil yang lebih akurat, bila dilakukan dengan menimbang makanan.
2. Dapat dihitung intake zat gizi keluarga.
Kekurangan:
1. Terlalu membebani responden.
2. Memerlukan biaya yang cukup mahal karena responden harus dikunjungi
lebih sering.
3. Memerlukan waktu yang cukup lama.
4. Tidak cocok untuk responden yang buta huruf.

2.2.2 Statistika Vital


Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data
beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian bayi berdasarkan umur, angka
kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu, statistik pelayanan kesehatan dan
data lainnya yang berhubungan dengan status gizi (Supariasa, dkk, 2002).
1. Angka Kematian Berdasarkan Umur
Angka kematian berdasarkan umur adalah jumlah kematian pada kelompok umur
tertentu terhadap jumlah rata-rata penduduk pada kelompok umur tersebut.
Penggolongan angka kematian bayi berdasarkan umur dibagi menjadi tiga periode
yaitu;
a. Angka kematian umur 2-5 bulan
Kematian bayi umur 2-5 bulan berkaitan dengan cara praktik pemberian
makanan terutama pemberian ASI. Bayi yang tidak mendapatkan ASI tidak akan
mendapatkan makanan sesuai dengan kebutuhan tubuh. Selain itu, bayi yang tidak
mendapat ASI tidak mempunyai antibodi yang cukup. Biasanya, bayi yang tidak
mendapat ASI, akan memenuhi kebutuhan gizi dari susu formula dan makanan
pendamping ASI (MPASI).
Akibat praktik pemberian makan yang salah, bayi akan menderita gizi
kurang seperti, defisiensi vitamin B12, asam folat dan vitamin D. Selain itu, dapat
menimbulkan beberapa penyakit infeksi diantaranya, diare, disentri, batuk rejan,
campak dan penyakit infeksi lainnya. Keadaan ini dapat mengakibatkan kematian
bayi.

17
b. Angka kematian umur 1-4 tahun
Angka kesakitan dan kematian pada kelompok umur 1-4 banyak
dipengaruhi oleh keadaan gizi. Masalah utama disebabkan oleh asupan gizi tidak
cukup dan sanitasi lingkungan yang buruk. Padahal pada usia ini pertumbuhan dan
perkembangan bayi pesat, sementara asupan gizi kurang, sehingga balita banyak
menderita kekurangan energi makro (protein, karbohidrat) dan defisiensi zat lain.
Kelompok usia ini juga sering menderita anemia dan cacingan. Keadaan ini semua
dapat mengakibatkan kematian.
c. Angka kematian umur 13-24 bulan
Angka kejadian KEP pada umur ini sering terjadi, karena pada periode umur ini
merupakan periode penyapihan yaitu, anak mulai melepaskan ketergantungan ASI
dan beraliah pada makanan keluarga (second year transisional). Apabila orang tua
pola asuh anak tidak tepat dapat mengakibatkan defisiensi zat gizi yang berdampak
pada kejadian KEP. Anak yang mengalami defisiensi zat gizi rawan terkena
penyakit infeksi sehingga dapat meningkatkan angka kematian.
2. Angka Kesakitan dan Kematian Akibat Penyakit Tertentu
Angka penyebab penyakit dan kematian pada umur 1-4 tahun merupakan informasi
yang penting unntuk menggambarkan keadaan gizi di masyarakat. Besar jumlah
kematian balita disebabkan oleh penyakit infeksi seperti, diare, disentri,
pnemumonia, batuk rejan, campak dan penyakit infeksi lainnya.
3. Statistik Layanan Kesehatan
a. Puskesmas
Puskesmas adalah lembaga yang berfungsi sebagai pelayanan kesehatan sekaligus
lembaga yang mengidentifikasi masalah gizi di masyarakat dan menyajikannya
dalam bentuk data. Adapun unit kerja yang yang berkaitan dengan gizi seseorang
yaitu usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK) dan pojok gizi (POZI), sekaligus
merangkul posyandu yang berada di luar puskesmas.
b. Rumah Sakit
Statistik layanan kesehatan yang juga penting adalah rumah sakit. Menigkatnya
kunjungan kasus gizi kurang yang dihadapi oleh rumah sakit menggambarkan
rendahnya status gizi masyarakat masyarakat.

18
2.2.3 Faktor Ekologi
Menurut Bengoa (dikutip oleh Jellife, 1860), malnutrisi merupakan masalah
ekologi sebagai akibat dari hasil yang saling mempengaruhi (multiple overlapping) dan
interaksi beberapa faktor fisik, biologi, dan lingkungan budaya. Jadi, jumlah makanan
dan zat-zat gizi yang tersedia bergantung pada keadaan lingkungan seperti iklim, tanah,
irgasi, ketersediaan/suplai, transportasi dan tingkat ekonomi penduduk. Di samping itu,
budaya seperti kebiasaan memasak, perioritas makanan dalam keluarga , distribusi dan
pantangan makanan bagi golongan rawan gizi juga berpengaruh pada keadaan gizi.
Dengan menyadari hal tersebut, perlu dilakukan pengukuran faktor ekologi yang dapat
digunakan untuk mengetahui penyebab malnutrisi di masyarakat dan dijadikan sebagai
dasar untuk melakukan program intervensi (Schrimshaw, 1964 dalam Supariasa, 2016)
Secara rasional, program yang bersifat preventif sebaiknya diarahkan pada semua
faktor yang terlibat dalam kesehatan masyarakat di suatu daerah tertentu. Menurut
Jelliffe (1966) faktor ekologi yang berhubungan dengan penyebab malnutrisi dibagi
dalam enam kelompok, yaitu keadaan infeksi, konsumsi makanan, pngaruh budaya,
sosial eonomi, produksi pangan, serta kesehatan dan pendidikan (Supariasa, 2016).

2.3 Faktor Ekologi Yang Berhubungan Dengan Penyebab Malnutrisi


2.3.1 Keadaan Infeksi
Menurut Soekirman (2000), faktor penyebab kurang gizi atau yang mempengaruhi
status gizi seseorang adalah : 1. Penyebab langsung yaitu makanan anak dan penyakit
infeksi yang mungkin diderita anak. Timbulnya gizi kurang tidak hanya karena makanan
yang kurang, tetapi juga karena penyakit. Anak yang mendapatkan makanan cukup baik,
tetapi sering diserang diare atau demam, akhirnya dapat menderita kurang gizi.
Demikian juga pada anak yang makan tidak cukup baik, maka daya tahan tubuhnya akan
melemah. Dalam keadaan demikian mudah diserang infeksi yang dapat mengurangi
nafsu makan, dan akhirnya dapat menderita kurang gizi. Pada kenyataannya keduanya
baik makanan dan penyakit infeksi secara bersama-sama merupakan penyebab kurang
gizi.
Scrimshow et.al, (1959) menyatakan bahwa ada hubungan yang sangat erat antara
infeksi (bakteri, virus dan parasit) dengan malnutrisi. Mereka menekankan interaksi

19
yang sinergis antara malnutrisi dengan penyakit infeksi, dan juga infeksi akan
mempengaruhi status gizi dan mempercepat malnutrisi. Mekanisme patologisnya dapat
bermacam-macam, baik secara sendiri-sendiri maupun bersamaan, yaitu:
1. Penurunan asupan gizi akibat kurangnya nafsu makan, menurunnya absorbsi dan
kebiasaan mengurangi makan pada saat sakit.
2. Peningkatan kehilangan cairan/zat gizi akibat penaykit diare, mual/muntah dan
pendarahan yang terus menerus.
3. Meningkatnya kebutuhan, baik dari peningkatan kebuthan akibat sakit (human
host) dan parasit yang terdapat dalam tubuh.

2.3.2 Konsumsi Makanan


Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi baik atau
status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan
secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak,
kemampuan kerja, dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin.
Pengukuran konsumsi makanan sangat penting untuk mengetahui kenyataan apa yang
dimakan oleh masyarakat dan hal ini dapat berguna untuk mengatur status gizi dan
menemukan faktor diet yang dapat menyebabkan malnutrisi.
Konsumsi makanan yang rendah disebabkan oleh adanya penyakit, terutama
penyakit infeksi saluran pencernaan. Disamping itu jarak kelahiran anak yang terlalu
dekat, jumlah anak yang terlalu banyak, daya beli, produksi pangan dan pola asuh gizi
juga akan mempengaruhi konsumsi makanan dalam keluarga.

2.3.3 Pengaruh Budaya


Malnutrisi erat kaiannya dengan fakor budaya yang pengaruhi pemberian mkanan
tertentu di suatu daerah. Banyaknya penderita malnutrisi di Indonesia akibat adanya
kepercayaan nilai yang berbeda terhadap pangan. Di masyarakat juga masih diemui
beberapa makanan pantangan/ makanan tabu dan mengganggap makanan tertentu
berbahaya karena alasan tidak logis. Pantangan atau tabu adalah suatu larangan untuk
mengonsumsi suatu jenis makanan tertentu karena terdapat ancaman bahaya atau
hukuman terhadap yang melanggarnya. Dalam ancaman bahaya ini terdapat kesan

20
magis yaitu adanya kekuatan supernatural yang berbau mistik yang akan menghukum
orang-orang yang melanggar pantangan atau tabu tersebut.
Di Bogor masih ada yang percaya bahwa kepada bayi dan balita laki-laki tidak boleh
diberikan pisang ambon karena bisa menyebabkan alat kelamin/skrotumnya bengkak.
Balita perempuan tidak boleh makan pantat/brutu ayam karena nanti ketika mereka
sudah menikah bisa diduakan suami. Sementara di Indramayu, makanan gurih yang
diberikan kepada bayi dianggap membuat pertumbuhannya menjadi terhambat. Untuk
balita perempuan, mereka dilarang untuk makan nanas dan timun. Selain itu balita
perempuan dan laki-laki juga tidak boleh mengonsumsi ketan karena bisa menyebabkan
anak menjadi cadel. (Supariasa, 2016)

2.3.4 Faktor Sosial Ekonomi


Kondisi status sosial ekonomi dapat dipakai sebagai alat ukur untuk menilai tingkat
pemenuhan kebutuhan dasar (Widodo, 1990). Status sosial ekonomi keluarga dapat
dilihat dari pendapatan dan pengeluaran keluarga. Keadaan status ekonomi yang rendah
mempengaruhi pola keluarga, baik untuk konsumsi, makanan maupun bukan makanan.
Status sosial ekonomi keluarga akan mempengaruhi kualitas konsumsi makanan, karena
hal ini berkaitan dengan daya beli keluarga. Keluarga dengan status sosial ekonomi
rendah kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan terbatas, sehingga akan
mempengaruhi konsumsi makanan. Asupan nutrisi yang rendah dan terdapatnya
penyakit infeksi pada anak balita dalam penelitian ini paling dominan disebabkan oleh
rendahnya kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan yang memenuhi
standar gizi dan untuk pemenuhan kebutuhan yang berkaitan dengan kesehatan. Sesuai
dengan pernyataan Effendi (1998), status ekonomi rendah erat kaitannya dengan
kemampuan orang untuk memenuhi kebutuhan gizi, perumahan yang sehat, pakaian dan
kebutuhan lain yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan.
Sebagaimana yang pernah dinyatakan dalam laporan Oda Advisory Committee on
Protein pada tahun 1974, bahwa kemiskinan merupakan dasar penyakit dasar penyakit
KEP, demikian juga UNICEF (1990), menyatakan bahwa rendahnya tingkat sosial
ekonomi merupakan akar permasalahan dari penyakit KEP. (Fatimah, Nurhidayah, &
Rakhmawati, 2008)

21
2.3.5 Produksi Pangan
Salah satu factor ekologi yang berhubungan dengan penyebab malnutrisi adalah
produksi pangan. Produksi pangan adalah kegiatan atau proses menghasilkan,
menyiapkan, mengolah, membuat, mengawetkan, mengemas, mengemas kembali dan
atau mengubah bentuk pangan. Salah satu permasalahannya konsumsi makanan menjadi
rendah. Konsumsi makanan yang rendah juga disebabkan oleh adanya penyakit,
terutama penyakit infeksi saluran pencernaan. Disamping itu jarak kelahiran anak yang
terlalu banyak akan mempengaruhi asupan zat gizi dalam keluarga sehingga jika
konsumsi zat gizi dalam keluarga rendah akan berpengaruh terhadap produksi pangan.
Rendahnya produksi pangan disebabkan karena para petani masih menggunakan
teknologi yang bersifat tradisional. (Supariasa, 2016)
Menurut Supariasa (2016) data yang relevan untuk produksi pangan adalah:
a. Penyediaan makanan keluarga (produksi sendiri, membeli, barter, dll)
b. Sistem pertanian (alat pertanian, irigasi, pembuangan air, pupuk, pengontrolan
serangga, dan penyuluhan pertanian)
c. Tanah (kepemilikan tanah, luas per keluarga, kecocokan tanah, tanah yang
digunakan, jumlah tenaga kerja)
d. Peternakan dan perikanan (jumlah ternak seperti kambing, bebek, dll), alat
penangkap ikan, dll.
e. Keuangan (modal yang tersedia dan fasilitas untuk kredit)

2.3.6 Pelayanan Kesehatan Dan Pendidikan


Beberapa data penting tentang pelayanan kesehatan dan pendidikan adalah:
1. Rumah sakit dan pusat-pusat kesehatan (puskesmas), jumlah rumah sakit, jumlah
tempat tidur, pasien, staf, dan lain-lain.
2. Fasilitas dan pendidikan yang meliputi:
a. Anak sekolah yang meliputi jumlah, pendidikan gizi atau kurikulum, dan lain-lain.
b. Remaja yang meliputi organisasi karang taruna dan organisasi lainnya.
c. Orang dewasa yang meliputi buta huruf.
d. Media massa seperti radio, televisi, dan lain-lain.

22
Pengukuran faktor ekologi bersifat kompleks karena ini tergantung pada tipe dan jumlah
staf, waktu yang tersedia, dan tujuan survei. Hal yang penting adalah data yang dikumpulkan
ini dapat menggambarkan situasi sekarang dan berguna untuk pengembangan program. Akan
tetapi, pengukuran faktor ekologi ini tidak dapat untuk memperoleh gambaran prevalensi
malnutrisi secara langsung.
Tabel 1. Jenis data yang sering digunakan dalam mengidentifikasi faktor ekologi secara cepat.
(Sumber: Jellife DB, 1989. Community Nutritional Assessment. Oxford University Press
hlm.150).
Jenis Data Keterangan
1. Ukuran keluarga Jumlah, hubungan, umur, seks, jarak
kelahiran
2. Pekerjaan Utama dan tambahan
3. Pendidikan Remaja yang tidak buta atau buta huruf,
keberadaan buku, jumlah anak-anak di
sekolah
4. Rumah Tipe dan konstruksi (atap, dinding, lantai),
jumlah kamar
5. Ekonomi Alat rumah tangga, pakaian, radio atau tv,
alat transportasi (motor, sepeda)
6. Dapur Kompor, bahan bakar, alat masak
7. Pola pemberian makan Menu, pantangan, menyusui, prestise
makanan
8. Penyimpanan makanan Ukuran, isi, pengontrolan serangga
9. Air minum Tipe dan jarak
10. Kakus Tipe dan keadaan
11. Tanah Luasnya, penggunaan untuk pertanian
(tanaman pangan dan nonpangan)
12. Sistem pertanian Irigasi dan pupuk
13. Peternakan dan perikanan - Jumlah dan jenis ternak, serta kolam
ikan
- Pasar
14. Peralatan makanan Ketersediaan dan harga makanan

23
BAB 3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Penilaian status gizi merupakan proses pemeriksaan keadaan gizi seseorang dengan cara
mengumpulkan data penting, baik yang bersifat objektif maupun subjektif, untuk kemudian
dibandingkan dengan baku yang telah tersedia. Data yang dihasilkan berupa data objektif
yang dapat diperoleh dari data pemeriksaan laboratorium perorangan, serta sumber lain
yang dapat diukur oleh anggota tim penilai/tim ahli.
Penentuan status gizi terdapat dua metode, yakni secara langsung dan tidak
langsung. Penentuan status gizi secara tidak langsung terdiri dari :
a. Survey konsumsi merupakan salah satu metode penentuan status gizi yang ditujukan
pada perorangan ataupun kelompok.
b. Statistika vital yang penerapannya dengan cara menganalisis data statistik kesehatan
seperti angka kematian bayi berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat
penyebab tertentu, statistik pelayanan kesehatan, dan data lainnya yang berhubungan
dengan status gizi.
c. Faktor ekologi merupakan metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan
cara menganalisis faktor lingkungan seperti faktor fisik, biologi, dan lingkungan
budaya untuk mengetahui penyebab malnutrisi dan sebagai acuan untuk pelaksanaan
program intervensi.
Penentuan status gizi dengan cara mengidentifikasi faktor ekologi bersifat
kompleks karena ini tergantung pada tipe dan jumlah staf, waktu yang tersedia, dan tujuan
survei. Adapun data-data yang sering digunakan dalam mengidentifikasi faktor ekologi
diantaranya, ukuran keluarga, pekerjaan, pendidikan, rumah (tipe dan konstruksi), status
ekonomi, kondisi dapur, pola pemberian makan, penyimpanan makanan, air minum, kakus,
tanah, sistem pertanian, peternakan dan perikanan, serta peralatan makan.
3.2 Saran
Saran yang bisa diberikan untuk penelitian-penelitian gizi yang berhubungan dengan
metode penentuan status gizi secara tidak langsung khususnya dengan metode faktor
ekologi adalah lebih memperhatikan dan mempertimbangkan pada waktu penelitian,
sumber daya peneliti, serta tujuan yang akan dihasilkan. Adapun data-data yang diperlukan
harus disesuaikan dengan tujuan penelitian, agar hasil penelitian dan pengukuran
mendapatkan hasil yang relevan.

24
DAFTAR PUSTAKA

Fatimah, s., Nurhidayah, i., & Rakhmawati, w. (2008). Faktor – Faktor yang Berkontribusi
Terhadap Status Gizi Pada Balita di Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya.
Kementian Kesehatan Republik Indonesia . (2015). Situasi dan Analisis Gizi. Pusat Data dan
Informasi.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia . (2016). Situasi Gizi. Pusat Data dan Informasi .
Lutfiana, N. (2013). FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN
GIZI BURUK PADA LINGKUNGAN TAHAN PANGAN DAN GIZI. SKRIPSI.
Supariasa. ( 2016). Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC.
Susetyowati. (2013). Penilaian Status Gizi, Modul Pembelajaran. Yogyakarta: Fakultas
Kedokterran/Prodi Gizi Kesehatan UGM.

25