Anda di halaman 1dari 21

KODE: 131

www.amaldoft.wordpress.com

KODE: 131 www.amaldoft.wordpress.com DISUSUN OLEH — AMALDO FIRJARAHADI TANE — PEMBAHASAN SBMPTN KIMIA 2017 Page 1
KODE: 131 www.amaldoft.wordpress.com DISUSUN OLEH — AMALDO FIRJARAHADI TANE — PEMBAHASAN SBMPTN KIMIA 2017 Page 1
KODE: 131 www.amaldoft.wordpress.com DISUSUN OLEH — AMALDO FIRJARAHADI TANE — PEMBAHASAN SBMPTN KIMIA 2017 Page 1
KODE: 131 www.amaldoft.wordpress.com DISUSUN OLEH — AMALDO FIRJARAHADI TANE — PEMBAHASAN SBMPTN KIMIA 2017 Page 1

DISUSUN OLEH

AMALDO FIRJARAHADI TANE

KODE: 131 www.amaldoft.wordpress.com DISUSUN OLEH — AMALDO FIRJARAHADI TANE — PEMBAHASAN SBMPTN KIMIA 2017 Page 1
KODE: 131 www.amaldoft.wordpress.com DISUSUN OLEH — AMALDO FIRJARAHADI TANE — PEMBAHASAN SBMPTN KIMIA 2017 Page 1

KODE: 131

1.

KODE: 131 1. www.amaldoft.wordpress.com  MATERI: STRUKTUR ATOM DAN SISTEM PERIODIK UNSUR  Di soal diketahui

www.amaldoft.wordpress.com

MATERI: STRUKTUR ATOM DAN SISTEM PERIODIK UNSUR

Di soal diketahui bahwa unsur R memiliki nomor atom 33. Ingat, bahwa jumlah neutron suatu unsur dan ionnya bernilai sama, yang membedakannya hanyalah nomor atom (Z) atau jumlah proton atau jumlah elektron.

Ion R 3- punya 36 elektron dalam bentuk anion (ion negatif) karena suatu unsur dalam bentuk ion negatif menangkap elektron sebanyak faktor valensi ion yang

ditangkapnya.

Ada 3 elektron yang ditangkap dari unsur R. Jadi, konfigurasi elektron ion R 3- kelebihan 3 elektron pada subkulit terakhirnya (terluar):

2.

33 R = 1s 2 2s 2 2p 6 3s 2 3p 6 4s 2 3d 10 4p 3

33 R 3- = 1s 2 2s 2 2p 6 3s 2 3p 6 4s 2 3d 10 4p 6

JAWABAN: D

2 3 p 6 4 s 2 3 d 1 0 4 p 6  JAWABAN:

MATERI: KIMIA ORGANIK

Dalam senyawa organik untuk membentuk suatu orbital hibrida dibentuk oleh dua buah ikatan kimia, yaitu ikatan sigma (σ) dan ikatan pi (π). Materi ini biasanya ada di bagian stereokimia kimia organik.

Ikatan sigma adalah ikatan kimia yang paling sering terdapat pada atom senyawa organik berikatan tunggal. Biasanya berbentuk tetrahedral (AX 4 ) dengan sudut 109,5°. Ikatan ini terbentuk akibat tumpang tindih orbital-orbital di sekelilingnya sehingga jika ditinjau akan tergambar secara horizontal seperti pada gambar di samping.

jika ditinjau akan tergambar secara horizontal seperti pada gambar di samping. PEMBAHASAN SBMPTN KIMIA 2017 Page
jika ditinjau akan tergambar secara horizontal seperti pada gambar di samping. PEMBAHASAN SBMPTN KIMIA 2017 Page
jika ditinjau akan tergambar secara horizontal seperti pada gambar di samping. PEMBAHASAN SBMPTN KIMIA 2017 Page

KODE: 131

www.amaldoft.wordpress.com

Berbeda dengan ikatan pi, yaitu ikatan kimia kovalen yang dua cuping orbital atom yang berlektron tunggal bertumpang tindih

dengan dua cuping orbital atom lainnya yang juga berelektron tunggal. Hanya terdapat satu bidang simpul dari orbital yang melewati dua inti atom. Pada gambar di samping, ikatan pi memiliki bidang tegak lurus dengan atom yang terikat sehingga tergambarkan secara vertikal.

atom yang terikat sehingga tergambarkan secara vertikal.  Struktur benzena pada gambar di samping tersusun atas

Struktur benzena pada gambar di samping tersusun atas 6 buah atom H (1s 1 ) dan 6 buah atom C (1s 2 2s 2 2p 2 ). Ingat, benzena memiliki struktur Kekule dan mampu

mengalami resonansi sehingga ikatan rangkap pada

benzena selalu berpindah-pindah, artinya setiap atom

C pada benzena pasti pernah berikatan rangkap dan

berikatan tunggal tidak dalam satu waktu. Pada salah satu atom C benzena terikat oleh 3 buah atom, yaitu

antaratom C berikatan tunggal, atom H berikatan tunggal, dan antaratom C berikatan rangkap.

atom H berikatan tunggal, dan antaratom C berikatan rangkap.  Di samping ini tergambar bagaimana hibridisasi

Di samping ini tergambar bagaimana hibridisasi atom

C pada molekul benzena, di mana nomor atom C

adalah 6. Saat pada keadaan sebelum hibridisasi (pembastaran), atom C berada pada keadaan dasar dengan konfigurasi elektron biasa. Ketika berikatan dengan atom H lainnya hingga terbentuk senyawa C 6 H 6, maka akan terjadi promosi sebuah elektron dari 2s 2 ke tingkat yang lebih tinggi yaitu subkulit p z yang awalnya kosong. Karena satu atom C dalam benzena berikatan dengan 3 atom lainnya, maka warna merah menandakan berikatan antaratom C ikatan tunggal, warna biru dengan atom H ikatan tunggal, dan warna hijau antaratom C ikatan rangkap, serta warna cokelat menandakan terbentuknya ikatan rangkap setelah pembastaran.

Dikarenakan pada pembastaran di atas terikat pada sebuah subkulit s dan dua buah subkulit p (yaitu p x dan p y ), maka tipe hibridisasinya adalah sp 2 .

p x dan p y ), maka tipe hibridisasinya adalah sp 2 .  JAWABAN: B

JAWABAN: B

p x dan p y ), maka tipe hibridisasinya adalah sp 2 .  JAWABAN: B
p x dan p y ), maka tipe hibridisasinya adalah sp 2 .  JAWABAN: B

KODE: 131

3.

KODE: 131 3.  MATERI: STOIKIOMETRI  Di soal diketahui dan ditanya data:  [HCl] =

MATERI: STOIKIOMETRI

Di soal diketahui dan ditanya data:

[HCl] = 0,1 M

Massa M 2 S 3 = 1,04 gram

Massa H 2 S = 510 mg = 0,51 gram

A r M = … ?

www.amaldoft.wordpress.com

Untuk mendapatkan nilai massa atom relatif M bisa didapatkan dari konsep mol, yaitu membagi massa M 2 S 3 yang terbentuk dengan mol M 2 S 3 yang terbentuk, lalu nanti dicari lagi dengan konsep massa molekul relatif (M r ).

Nilai M r senyawa M 2 S 3 bisa kita dapatkan dengan reaksi stoikiometri setara di

bawah ini, lalu membandingkan koefisiennya:

M 2 S 3 (s) + 6HCl (aq) 2MCl 3 (s) + 3H 2 S (g)

Mol H 2 S = 0,51 gram/34 = 0,015 mol

Mol M 2 S 3 (ditanya) = koefisien M 2 S 3 (ditanya) x mol H 2 S (diketahui) koefisien H 2 S (diketahui)

= 1 x 0,015 mol

3

= 0,005 mol M 2 S 3

Dalam 1,04 gram senyawa M 2 S 3 dengan jumlah mol 0,005 mol bisa dipastikan

dengan konsep mol bahwa massa molekul relatif (M r ) senyawa tersebut adalah 208 sehingga nilai A r M adalah:

M r M 2 S 3 = 2 (A r M) + 3 (A r S) 208 = 2 (A r M) + 96 A r M = 56

Dalam tabel periodik, unsur M yang dimaksud adalah unsur Fe.

JAWABAN: D

56  Dalam tabel periodik, unsur M yang dimaksud adalah unsur Fe.  JAWABAN: D PEMBAHASAN
56  Dalam tabel periodik, unsur M yang dimaksud adalah unsur Fe.  JAWABAN: D PEMBAHASAN

KODE: 131

4.

KODE: 131 4. www.amaldoft.wordpress.com  MATERI: STOIKIOMETRI  Di soal diketahui dan ditanya data:  Volume

www.amaldoft.wordpress.com

MATERI: STOIKIOMETRI

Di soal diketahui dan ditanya data:

Volume

Na 2 CO 3 = 50 mL

[Na 2 CO 3 ] = 0,5 M

Volume

Ba(NO 3 ) 2 = 75 mL

[Ba(NO 3 ) 2 ] = 0,2 M

[Na 2 CO 3 ] akhir = … M ?

Untuk mendapatkan konsentrasi garam natrium karbonat setelah reaksi, kita dapat

ada

senyawa bagian reaktan yang bertindak sebagai pereaksi pembatas. Perhatikan skema reaksi berikut!

menggunakan konsep

MBS

(Mula-mula,

Bereaksi,

Sisa).

Nantinya

pasti

n Na 2 CO 3 = 50 mL x 0,5 M = 25 mmol

n Ba(NO 3 ) 2 = 75 mL x 0,2 M = 15 mmol

Na 2 CO 3 (aq)

+

Ba(NO 3 ) 2 (aq)

BaCO 3 (s)

+

2NaNO 3 (aq)

M

25 mmol

15 mmol

B

-15 mmol

-15 mmol

- +15 mmol

- 30 mmol

S

10 mmol

-

15 mmol

30 mmol

sebanyak 10 mmol natrium karbonat (Na 2 CO 3 ) pada label ―S‖, sehingga

Tersisa

banyaknya konsentrasi natrium karbonat setelah reaksi adalah konsentrasi dalam

volume total reaktan yang digunakan:

[Na 2 CO 3 ] akhir = n Na 2 CO 3 akhir volume reaktan

JAWABAN: D

=

(50 + 75) mL = 0,08 M

10 mmol

.

CO 3 akhir volume reaktan  JAWABAN: D = (50 + 75) mL = 0,08 M
CO 3 akhir volume reaktan  JAWABAN: D = (50 + 75) mL = 0,08 M

KODE: 131

5.

KODE: 131 5.  MATERI: STOIKIOMETRI  Di soal diketahui dan ditanya data: www.amaldoft.wordpress.com  Jenis

MATERI: STOIKIOMETRI

Di soal diketahui dan ditanya data:

www.amaldoft.wordpress.com

Jenis tabung = isokhorik (volume tetap) dan isotermis (suhu tetap)

m H 2 = 6 gram

P o = 12 atm

P 1 = 40 atm

Massa gas total = … gram?

Gas yang dimaksud di soal mungkin adalah jenis gas ideal. Berdasarkan persamaannya di bawah ini, nilai V adalah konstan sehingga bisa dihilangkan, begitu juga dengan nilai R karena sebuah tetapan, dan nilai T juga konstan karena suhu pada soal tidak berubah sehingga disebut juga kondisi isotermis. PV = nRT

P = n Tekanan = jumlah mol

Perbandingan tekanannya bukanlah tekanan awal dan akhir (tekanan total), tetapi perbandingan tekanan sebelum di tambah gas Ne dan saat tekanan setelah ditambah gas Ne atau dengan kata lain tekanan masing-masing gas.

Tekanan total = tekanan awal + tekanan akhir

40 atm = 12 atm + tekanan akhir Tekanan akhir = tekanan gas Ne = 28 atm

Cukup perbandingan antara tekanan banding mol, yang nantinya didapatkan massa

gas Ne yang ditambahkan, sebagai berikut.

P o gas H 2 = P t gas Ne

n H 2 n Ne

12

atm = 6 gram/2

n Ne = 7 mol

28

atm

n Ne

Dalam 7 mol gas Ne (A r = 20) terdapat massanya 140 gram

Jadi, massa gas totalnya adalah 140 gram (Ne) + 6 gram (H 2 ) atau 146 gram

JAWABAN: D

gas totalnya adalah 140 gram (Ne) + 6 gram (H 2 ) atau 146 gram 
gas totalnya adalah 140 gram (Ne) + 6 gram (H 2 ) atau 146 gram 

KODE: 131

6.

KODE: 131 6. www.amaldoft.wordpress.com  MATERI: TERMOKIMIA  Di soal diketahui dan ditanya data:  m

www.amaldoft.wordpress.com

MATERI: TERMOKIMIA

Di soal diketahui dan ditanya data:

m Mg = 1,2 gram

Volume H 2 O = 400 mL

ΔH c (1 mol Mg) = -600 kJ

ΔT = 10°C

kalorimeter = 1400 J/K = 1400 J/°C (aturan konversi satuan)

H 2 O = … J/g.°C ?

C

c

Di soal tertera bahwa kalorimeter tersebut kapasitas kalornya tidak diabaikan, artinya kalorimeter tersebut berjenis kalorimeter bom dengan kondisi isokhorik. Jenis kalorimeter ini nilai kalor kalorimeter (q kal ) tidak dianggap nol karena menyerap panas. Besarnya harga entalpi bisa ΔH h dianggap sama dengan negatif penjumlahan kalor larutan (q lar ) + kalor kalorimeter:

ΔH f = - (q lar + q kal )

ΔH f = - q lar = - (m lar . c lar . ΔT

+

C kal . ΔT)

Nilai entalpi pembakaran Mg bernilai -600 kJ untul 1 mol Mg, namun kita memerlukan ΔH c Mg untuk 1,2 gram!

n

Mg = 1,2 gram/24 = 0,05 mol

ΔH c Mg (1) = n Mg (1)

ΔH c Mg (2) -600 kJ =

n Mg (2)

1 mol

.

x 0,05 mol

x = -30 kJ

= -30000 J

Cari nilai kalor jenis H 2 O!

Massa larutan pada persamaan kimia di atas adalah massa air yang bisa didapatkan dari massa jenis (ρ) air:

kimia di atas adalah massa air yang bisa didapatkan dari massa jenis ( ρ ) air:
kimia di atas adalah massa air yang bisa didapatkan dari massa jenis ( ρ ) air:

KODE: 131

www.amaldoft.wordpress.com

ρ = massa air volume air 1 g/mL = massa air/400 mL m lar = 400 gram

ΔH h = - q lar = - (m lar . c lar . ΔT

+

C kal . ΔT)

-30000 J = - (400 gram . c lar . 10°C + 1400 J/K . 10°C) 30000 J = (4000 . c lar + 14000 J) c lar = 4,0 J/g.°C

7.

JAWABAN: B

+ 14000 J) c l a r = 4,0 J/g.°C 7.  JAWABAN: B  MATERI:

MATERI: LAJU & ORDE REAKSI DAN PELURUHAN RADIOAKTIF

Soal ini bisa dikerjakan 2 buah cara. Pertama, dengan konsep laju dan orde reaksi satu; dengan bantuan kalkulator. Kedua, dengan konsep peluruhan radioaktif; tanpa kalkulator. Ingat, bahwa peluruhan radioaktif tergolong laju reaksi orde satu karena hanya bergantung pada jumlah nuklida radioaktif yang bereaksi.

Ada hal yang menipu di soal, yaitu pemakaian kata ―meluruh‖. Ingat, dalam kimia fisika bab radioaktif, meluruh berbeda dengan tersisa. Meluruh berarti banyaknya zat total yang hilang dari zat awal atau dengan kata lain selisih antara zat awal dengan zat akhir. Sementara tersisa adalah massa akhir yang didapatkan suatu zat setelah mengalami peluruhan.

Meluruh = zat awal zat akhir

Sisa = zat akhir

Jadi, apabila 23,30 gram massa unsur Th meluruh sebanyak 17,47 gram, artinya ada

sejumlah 5,83 gram unsur Th yang tersisa setelah peluruhan berhenti.

Massa Th meluruh = massa Th awal (A 0 atau N 0 ) massa Th akhir (A t atau N t )

17,47 gram = 23,30 - N t N t = A t = 5,83 gram

(A t atau N t ) 17,47 gram = 23,30 - N t N t =
(A t atau N t ) 17,47 gram = 23,30 - N t N t =

KODE: 131

CARA 1 (Konsep laju dan orde reaksi):

www.amaldoft.wordpress.com

1) Dalam laju reaksi orde satu dikenal persamaan kimia yang didapatkan dari pengintegralan matematis hingga akhirnya didapatkan rumus di bawah ini. Nah, penjabaran lengkap dari mana rumus ini berasal bisa kalian cari di internet, ya. In [A] t = In [A] 0 kt … (persamaan a) t 1/2 = In 2 … (persamaan b)

k

2) Dari persamaan (b) di atas kita sudah dapat mencari nilai waktu paruh (t 1/2 )

unsur Th, dengan mencari terlebih dahulu nilai k (tetapan laju reaksi) pada persamaan (a) sebagai berikut. (In dibaca logaritma natural)

3)

In [A] t = In [A] 0 kt kt = In [A] 0 In [A] t

kt = In [A 0 /A t ] k.(44 menit) = In [23,3/5,83]

44k = In [3,99] 44k = 1,384

Nilai In 3,99 sekitar 1,384

k = 0,03145 Cari nilai waktu paruh unsur Th!

t 1/2 = In 2

Nilai In 2 sekitar 0,693

k

t 1/2 =

0,693

.

0,03145

= 22 menit (pembulatan)

CARA 2 (Konsep peluruhan radioaktif):

1)

Persamaan kimia peluruhan radioaktif adalah sebagai berikut.

2)

(N t /N 0 ) = (1/2) t/t1/2 dengan, N t = massa zat akhir N 0 = massa zat awal t = waktu awal reaksi t 1/2 = waktu paruh Cari nilai waktu paruh unsur Th! (N t /N 0 ) = (1/2) t/t1/2 (5,83/23,3) = (1/2) 44 menit/t/12

(1/4) = (1/2) 44 menit/t1/2

t 1/2 = 22 menit

JAWABAN: C

4 ) = ( 1 / 2 ) 44 menit/t1/2 t 1 / 2 = 22
4 ) = ( 1 / 2 ) 44 menit/t1/2 t 1 / 2 = 22

KODE: 131

8.

KODE: 131 8. www.amaldoft.wordpress.com  MATERI: KESETIMBANGAN KIMIA  Dalam suhu 400 K terjadi reaksi seperti

www.amaldoft.wordpress.com

MATERI: KESETIMBANGAN KIMIA

Dalam suhu 400 K terjadi reaksi seperti pada soal dengan komposisi tekanan parsial masing-masing Br 2 dan Cl 2 adalah 1 atm sementara BrCl adalah 3 atm.

Untuk mencari ke arah mana sistem kesetimbangan bergeser, kita dapat mencari data tetapan kesetimbangan kedua (Q p ). Nanti data Q p ini dibandingkan dengan data K p reaksi kesetimbangan awal, yaitu:

1)

Jika Q p < K p reaksi bergeser ke arah kanan

2)

Jika Q p = K p reaksi tidak bergeser

3)

Jika Q p > K p reaksi bergeser ke arah kiri

Cari dahulu nilai K p awal reaksi!

K p =

(P BrCl ) 2

.

(Pr Br2 ) (P Cl2 )

=

(3) 2

.

(1) (1)

= 9

Nah, mari kita periksa seluruh obsein!

a) Tidak bergeser jika tekanan parsial tiap-tiap gas bertambah 1 atm.

n BrCl (penambahan) = 3 atm + 1 atm = 4 atm

n Cl 2 (penambahan) = 1 atm + 1 atm = 2 atm

n Br 2 (penambahan) = 1 atm + 1 atm = 2 atm

(P BrCl ) 2

Q p =

.

(Pr Br2 ) (P Cl2 )

(4) 2

=

(2) (2) = 4

.

Q p < K p , jadi reaksi bergeser ke kanan. (SALAH)

(2) (2) = 4 .  Q p < K p , jadi reaksi bergeser ke
(2) (2) = 4 .  Q p < K p , jadi reaksi bergeser ke

KODE: 131

www.amaldoft.wordpress.com

b) Bergeser ke kiri jika tekanan parsial tiap-tiap gas bertambah 1 atm.

n BrCl (penambahan) = 3 atm + 1 atm = 4 atm

n Cl 2 (penambahan) = 1 atm + 1 atm = 2 atm

n Br 2 (penambahan) = 1 atm + 1 atm = 2 atm

(P BrCl ) 2

Q p =

.

(Pr Br2 ) (P Cl2 )

= (4) 2

.

(2) (2)

= 4

Q p < K p , jadi reaksi bergeser ke kanan. (SALAH)

c) Bergeser ke kanan jika tekanan parsial tiap-tiap gas bertambah 2 atm.

n BrCl (penambahan) = 3 atm + 2 atm = 5 atm

n Cl 2 (penambahan) = 1 atm + 2 atm = 3 atm

n Br 2 (penambahan) = 1 atm + 2 atm = 3 atm

(P BrCl ) 2

Q p =

.

(Pr Br2 ) (P Cl2 )

= (5) 2

.

(3) (3)

= 2,78

Q p < K p , jadi reaksi bergeser ke kanan. (BENAR)

d) Bergeser ke kiri jika tekanan parsial tiap-tiap gas bertambah 2 atm.

n BrCl (penambahan) = 3 atm + 2 atm = 5 atm

n Cl 2 (penambahan) = 1 atm + 2 atm = 3 atm

n Br 2 (penambahan) = 1 atm + 2 atm = 3 atm

(P BrCl ) 2

Q p =

.

(Pr Br2 ) (P Cl2 )

=

(5) 2

(3) (3)

= 2,78.

Q p < K p , jadi reaksi bergeser ke kanan. (SALAH)

e) Tidak bergeser jika tekanan parsial tiap-tiap gas bertambah 2 atm.

n BrCl (penambahan) = 3 atm + 2 atm = 5 atm

n Cl 2 (penambahan) = 1 atm + 2 atm = 3 atm

n Br 2 (penambahan) = 1 atm + 2 atm = 3 atm

(P BrCl ) 2

Q p =

.

(Pr Br2 ) (P Cl2 )

=

(5) 2

(3) (3)

= 2,78.

Q p < K p , jadi reaksi bergeser ke kanan. (BENAR)

JAWABAN: C

Q p < K p , jadi reaksi bergeser ke kanan. ( BENAR )  JAWABAN:
Q p < K p , jadi reaksi bergeser ke kanan. ( BENAR )  JAWABAN:

KODE: 131

9.

KODE: 131 9.  MATERI: SIFAT KOLIGATIF LARUTAN  Besar massa molekul relatif ( M r

MATERI: SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

Besar massa molekul

relatif

(M r )

senyawa

persamaan kimia tekanan osmosis:

dengan, M = molaritas

Π = MRTi

R

= tetapan gas (L.atm/mol.K)

T

= suhu (K)

i = faktor Van’t Hoof

www.amaldoft.wordpress.com

XY 3

dapat

dicari

menggunakan

Cari nilai faktor Van’t Hoof! Ingat, bahwa elektrolik kuat terdisosiasi sempurna

sehingga nilai derajat ionisasi (α) bernilai 1!

XY 3

1X 3+

+

3Y -

(warna merah = n = banyak ion)

i = 1 + (n 1)α

i = 1 + (4 1)1

i = 4

Cari nilai M r XY 3 !

Π = MRTi Π = g . 1000 . R . T . i M r . V (mL) 8,2 atm = 2 gram . 1000 . 0,082 L.atm/mol.K . (27 + 273) K . 4 M r AX 2 . 300 mL

M r XY 3 = 80

JAWABAN: D

. (27 + 273) K . 4 M r AX 2 . 300 mL M r
. (27 + 273) K . 4 M r AX 2 . 300 mL M r

KODE: 131

10.

KODE: 131 10. www.amaldoft.wordpress.com  MATERI: LARUTAN PENYANGGA (BUFFER)  Di soal diketahui dan ditanya data:

www.amaldoft.wordpress.com

MATERI: LARUTAN PENYANGGA (BUFFER)

Di soal diketahui dan ditanya data:

K a HOBr = 1 x 10 -9

pH = 10

[HOBr]/[OBr - ] = … ?

Senyawa asam hipobromit adalah senyawa asam lemah dengan rumus kimia HOBr atau HBrO. Nah, asam lemah ini dalam larutan NaOBr atau NaBrO membentuk suatu sistem larutan penyangga (buffer) karena terdiri dari komponen asam lemah HBrO dan basa konjugasi BrO - yang bersifat basa.

Besarnya perbandingan [HOBr] banding [OBr - ] bisa didapatkan dari reaksi ionisasi asam hipobromit karena konsep dasar dari nilai K a atau tetapan ionisasi asam pada larutan adalah kesetimbangan kimia. HOBr (aq) H + (aq) + OBr - (aq)

pH = 10 maka, [H + ] = 1 x 10 -10

Ingat, dalam kesetimbangan konsentrasi (K c ) yang dimasukkan adalah zat dalam fase larutan dan gas. Pada kondisi reaksi di atas, semua zat dapat dimasukkan ke dalam persamaan tetapan ionisasi asam (K a ) sebagai berikut. K a = [H + ] [OBr - ] [HOBr] 1 x 10 -9 = [1 x 10 -10 ] [OBr - ] [HOBr] [HOBr]/[BrO - ] = 1 x 10 -1

JAWABAN: D

1 0 ] [OBr - ] [HOBr] [HOBr]/[BrO - ] = 1 x 10 - 1
1 0 ] [OBr - ] [HOBr] [HOBr]/[BrO - ] = 1 x 10 - 1

KODE: 131

11.

KODE: 131 11. www.amaldoft.wordpress.com  MATERI: KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN (K s p ) 

www.amaldoft.wordpress.com

MATERI: KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN (K sp )

Nilai data K sp dapat memprediksi seberapa banyak maksimum jumlah zat dapat larut dalam sebuah pelarut, dengan pemisalan setiap konsentrasi zat berwujud larutan (aq) dan gas (g) adalah s.

Cari besar kelarutan PbSO 4 ! PbSO 4 (s) 1Pb 2+ (aq) + 1SO 4 2- (aq)

Kelarutannya dengan konsep kesetimbangan:

K sp = [Pb 2+ ] [SO 4 2- ] 1,6 x 10 -8 = [s] [s]

s = 1,265 x 10 -4

Kelarutannya dengan rumus cepat (banyak ion ditandai warna merah pada

reaksinya):

s

= pangkat 10 dari nilai K sp banyak ionnya

= -8

2

= -4

Cari besar kelarutan PbI 2 ! PbI 2 (s)

1Pb 2+ (aq) + 2I - (aq)

Kelarutannya dengan konsep kesetimbangan:

K sp = [Pb 2+ ] [I - ] 2 7,1 x 10 -9 = [s] [2s] 2

s = 1,922 x 10 -3

Kelarutannya dengan rumus cepat (banyak ion ditandai warna merah pada

reaksinya):

s

= pangkat 10 dari nilai K sp banyak ionnya

= -9

3

=

-3

pada reaksinya): s = pangkat 10 dari nilai K s p banyak ionnya = -9 3
pada reaksinya): s = pangkat 10 dari nilai K s p banyak ionnya = -9 3

KODE: 131

www.amaldoft.wordpress.com

Dari uraian di atas sudah dapat disimpulkan bahwa kelarutan senyawa PbI 2 lebih besar daripada senyawa PbSO 4 , dipandang dari kelarutannya pada konsep kesetimbangan maupun rumus cepat.

Obsein B memiliki jawaban yang salah karena kelarutan PbSO 4 lebih kecil dibanding kelarutan PbI 2 , artinya PbSO 4 sukar larut sementara PbI 2 mudah larut. Jadi, tidak mungkin dong anion SO 4 2- ditambahkan lebih banyak, toh PbSO 4 sudah pasti sukar larut dan kalau ditambahkan lagi malah menjadi lebih sukar larut. Jadi, harus dibutuhkan anion I - lebih banyak agar PbI 2 yang semula mudah larut menjadi sukar larut akibat lewat batas maksimum jumlah zat terlarut PbI 2 yang ditambahkan.

12.

JAWABAN: E

zat terlarut PbI 2 yang ditambahkan. 12.  JAWABAN: E  MATERI: KIMIA ORGANIK  Ingat,

MATERI: KIMIA ORGANIK

Ingat, jika sebuah senyawa organik dioksidasi dengan KMnO 4 , K 2 Cr 2 O 7 , dan CrO 3 maka akan terjadi penambahan atom O pada bagian unsur lebih reaktif yang terikat pada senyawa tersebut. Bisa saja, ada unsur yang memiliki kereaktifan yang hampir sama (misal kereaktifan unsur A dalam wujud logam dan unsur B wujud nonlogam) kedua-duanya sama-sama mengalami oksidasi.

Heksanal adalah senyawa organik bergugus fungsi aldehid (CHO), yang strukturnya tergambar pada gambar di bawah ini:

CHO), yang strukturnya tergambar pada gambar di bawah ini:  Pada struktur heksanal di atas terlihat

Pada struktur heksanal di atas terlihat bahwa atom C yang mengikat atom O dengan ikatan rangkap serta mengikat H dengan ikatan tunggal. Akibat adanya oksidasi oleh KMnO 4 , maka ada serangan ke atom yang lebih elektrofil (suka elektron) yaitu atom H oleh atom O. Akibat penambahan tersebut gugus aldehid tadi berganti menjadi gugus asam karboksilat (COOH). Hal ini dijelaskan pada gambar di bawah ini:

gugus asam karboksilat ( — COOH). Hal ini dijelaskan pada gambar di bawah ini: PEMBAHASAN SBMPTN
gugus asam karboksilat ( — COOH). Hal ini dijelaskan pada gambar di bawah ini: PEMBAHASAN SBMPTN

KODE: 131

www.amaldoft.wordpress.com

KODE: 131 www.amaldoft.wordpress.com  Hasil oksidasi heksanal adalah senyawa asam heksanoat yang bergugus fungsi asam

Hasil oksidasi heksanal adalah senyawa asam heksanoat yang bergugus fungsi asam karboksilat.

13.

JAWABAN: B

yang bergugus fungsi asam karboksilat. 13.  JAWABAN: B  MATERI: REAKSI REDOKS  Untuk mencari

MATERI: REAKSI REDOKS

Untuk mencari apakah sebuah reaksi termasuk reaksi redoks atau bukan, dapat dicari melalui biloks tiap-tiap unsur.

1)

CH 4

+ 2NO 2 N 2 + CO 2 + 2H 2 O

 

Biloks C = -4 (CH 4 ) +4 (CO 2 ) = oksidasi

Biloks N = +4 (NO 2 ) 0 (N 2 ) = reduksi

Termasuk reaksi redoks. (BENAR)

 

2)

2NaOH + 2Al + 2H 2 O

2NaAlO 2 + 3H 2

Bilok Al = 0 (Al) +3 (NaAlO) = oksidasi

Biloks H = +1 (air) 0 (H 2 O) = reduksi

Merupakan reaksi redoks. (BENAR)

3)

HClO 3

+ HCl

Cl 2 + 2ClO 2

+ H 2 O

Biloks Cl = +5 (ClO 3 - ) +4 (ClO 2 ) = reduksi

Biloks Cl = -1 (HCl) Cl 2 (0) = oksidasi

Termasuk reaksi redoks. (BENAR)

 

4)

Na 2 CO 3

+ 2HCl

2NaCl

+ H 2 O

+ CO 2

Biloks C = +4 (Na 2 CO 3 ) +4 (CO 2 ) = bukan reduksi atau oksidasi

Biloks Cl = -1 (HCl) -1 (NaCl) = bukan reduksi atau oksidasi

Bukan merupakan reaksi redoks. (SALAH)

JAWABAN: A

reduksi atau oksidasi  Bukan merupakan reaksi redoks. ( SALAH )  JAWABAN: A PEMBAHASAN SBMPTN
reduksi atau oksidasi  Bukan merupakan reaksi redoks. ( SALAH )  JAWABAN: A PEMBAHASAN SBMPTN

KODE: 131

14.

KODE: 131 14.  MATERI: ELEKTROKIMIA  Di soal diketahui data:  Volume CuSO 4 =

MATERI: ELEKTROKIMIA

Di soal diketahui data:

Volume CuSO 4 = 100 mL

[CuSO 4 ] = 0,1 M

Volume AgNO 3 = 100 mL

[AgNO 3 ] = 0,1 M (ralat soal)

i = 1 A

t = 60 detik

www.amaldoft.wordpress.com

Ingat, pada elektrolisis jumlah kuantitas yang sama adalah aliran arus listrik (i) yang

digunakan sehingga jumlah elektron (e) yang dibawa tiap satuan waktu (t) bernilai sama di katode maupun anode karena dihubungkan secara seri.

mol e =

i x t

.

96500

= 1 A x 60 detik = 0,000622 mol

96500

0,01 mol CuSO 4 serta 0,01 mol AgNO 3 di soal adalah jumlah mol total awal kedua senyawa saat dielektrolisis. Nah, di bawah ini tertera reaksi-reaksi yang terjadi di CuSO 4 dan AgNO 3 :

a) CuSO 4

Reaksi ionisasi: CuSO 4 Cu 2+ + SO 4

Reaksi katode: Cu 2+ + 2e Cu

Reaksi anode: 2H 2 O 4H + + O 2 + 4e

Reaksi elektrolisis: 2Cu 2+ + 2H 2 O 2Cu + 4H + + O 2

2-

b) AgNO 3

Reaksi ionisasi: AgNO 3 Ag + + NO 3

Reaksi katode: Ag + + e Ag

Reaksi anode: 2H 2 O 4H + + O 2 + 4e

Reaksi elektrolisis: 4Ag + + 2H 2 O 4Ag + 4H + + O 2

-

+ 4e  Reaksi elektrolisis: 4Ag + + 2H 2 O  4Ag + 4H +
+ 4e  Reaksi elektrolisis: 4Ag + + 2H 2 O  4Ag + 4H +

KODE: 131

www.amaldoft.wordpress.com

Analisis pernyataannya satu per satu!

1)

Massa Cu yang mengendap lebih besar daripada massa Ag

Massa Cu yang mengendap

0,01 mol CuSO 4 yang dielektrolisis menghasilkan 0,01 mol kation Cu 2+ juga karena perbandingan koefisien keduanya 1 : 1 sesuai reaksi:

CuSO 4

0,01 mol

Cu 2+

+

0,01 mol

SO 4

2-

Nah, dalam reaksi elektrolisis CuSO 4 di katode terbentuk padatan Cu, maka dari reaksi ini bisa didapatkan jumlah padatan Cu yang terbentuk menggunakan konsep MBS (Mula-mula, Bereaksi, Sisa).

 

Cu 2+

+

2e

Cu

M

0,01

0,000622

B

-0,000311

-0,000622

+0,000311

S

0,009689

-

0,000311

Terbentuk 0,000311 mol padatan Cu (A r = 63,5) dengan massa 0,01975 gram

Massa Ag yang mengendap

0,01 mol AgNO 3 yang dielektrolisis menghasilkan 0,01 mol kation Ag + juga karena perbandingan koefisien keduanya 1 : 1 sebagai berikut.

AgNO 3

Ag +

+

NO 3

0,01 mol

0,01 mol

2-

Nah, dalam reaksi elektrolisis AgNO 3 di katode terbentuk padatan Ag, maka dari reaksi ini bisa didapatkan jumlah padatan Ag yang terbentuk menggunakan konsep MBS (Mula-mula, Bereaksi, Sisa).

 

Ag +

+

e

Ag

M

0,01

0,000622

B

-0,000622

-0,000622

+0,000622

S

0,009378

-

0,000622

2)

Terbentuk 0,000622 mol padatan Ag (A r = 108) dengan massa 0,067176 gram

Jelas pernyataan ini SALAH karena massa Ag yang mengendap lebih banyak daripada massa Cu yang mengendap.

Jumlah atom Cu yang mengendap sama dengan jumlah atom Ag

Jumlah atom Cu

Dari reaksi pernyataan (1) di atas terbentuk 0,000311 mol padatan Cu, sehingga banyaknya jumlah atom Cu adalah:

N = n x L N = n x 6,02 x 10 23

Cu, sehingga banyaknya jumlah atom Cu adalah: N = n x L N = n x
Cu, sehingga banyaknya jumlah atom Cu adalah: N = n x L N = n x

KODE: 131

N = 0,000311 x 6,02 x 10 23

N = 18,72 x 10 19 atom

Jumlah atom Ag

www.amaldoft.wordpress.com

Dari reaksi pernyataan (1) di atas terbentuk 0,000622 mol padatan Ag, sehingga banyaknya jumlah atom Ag adalah:

N = n x L N = n x 6,02 x 10 23 N = 0,000622 mol x 6,02 x 10 23

N = 37,44 x 10 19 atom

Jelas bahwa pernyataan ini SALAH.

3)

Volume gas O 2 yang dihasilkan pada bejana A lebih besar dibandingkan volume

gas O 2 pada bejana B

Volume gas O 2 berjana A (CuSO 4 ), misalkan pada keadaan STP

Volume gas O 2 bisa didapatkan dari reaksi di anode, lalu membandingkan mol elekron (e) dengan mol O 2 sehingga didapatkan jumlah mol oksigen sebesar 0,0001555 mol karena perbandingan koefisien O 2 banding elektron adalah 1 : 4.

 

2H 2 O

4H +

+

O 2

+

4e

 

0,000155

0,000622

 

Terbentuk 0,000155 mol oksigen jika pada keadaan STP (22,4), maka volumenya adalah 0,0034832 L

Volume gas O 2 bejana B (AgNO 3 ), misalkan pada keadaan STP

Sebenarnya reaksi di anode bejana B sama dengan reaksi di anode bejana A (lihat reaksi-reaksinya kembali!). Jadi, volume gas oksigen di bejana B juga bernilai 0,0034832 liter.

Jelas pernyataan ini SALAH.

 

4)

pH larutan dalam bejana A sama dengan pH larutan dalam bejana B

pH bejana A (CuSO 4 )

Nilai pH dapat ditentukan oleh konsentrasi [H + ] dan [OH - ]. Nah, di

bejana A ion H + maupun OH - hanya ditemukan pada reaksi di anode, yaitu kation H + atau ion proton. Jadi, besarnya mol ion proton tersebut banding mol elektron adalah 0,000622 mol karena perbandingan koefisien keduanya adalah 4 : 4 atau 1 : 1.

2H 2 O

4H +

0,000622

+

O 2

+

4e

0,000622

Nilai pH dapat ditentukan sebagai berikut. pH = log [H + ] pH = log [0,000622 mol/(0,1 L + 0,1 L)]

berikut. pH = – log [H + ] pH = – log [0,000622 mol/(0,1 L +
berikut. pH = – log [H + ] pH = – log [0,000622 mol/(0,1 L +

KODE: 131

pH = log [3,11 x 10 -3 ] pH = 3 log 3,11 pH = 2,51

www.amaldoft.wordpress.com

Terbukti bahwa pH tersebut berada pada suasana asam (pH < 7)

pH bejana B (AgNO 3 )

Nah, ion H + pada reaksi elektrolisis AgNO 3 juga ditemukan pada reaksi di anode. Reaksi di anode elektrolisis AgNO 3 ini sama dengan reaksi di anode elektrolisis CuSO 4 sehingga nilai pH kedua senyawa setelah elektrolisis bernilai sama, yaitu 2,51.

Jelas pernyataan ini BENAR.

15.

JAWABAN: D

2,51.  Jelas pernyataan ini BENAR . 15.  JAWABAN: D  MATERI: KIMIA ORGANIK 

MATERI: KIMIA ORGANIK

Isomer adalah molekul-molekul dengan rumus kimia yang sama (dan sering dengan

jenis ikatan yang sama), namun memiliki susunan atom yang berbeda (dapat diibaratkan sebagai sebuah anagram). Isomer secara umum ada dua macam, yaitu isomer struktur dan ruang. Di soal hanya ditanyakan tentang isomer struktur, yang terbagi lagi menjadi:

Isomer kerangka

Rumus molekul sama

Gugus fungsi ada yang sama dan beda

Rantai induk (panjang rantai) yang berbeda

Isomer posisi

Panjang rantai induk sama

Posisi gugus fungsi (contohnya, gugus fungsi alkohol, eter, dsb) berbeda

Rumus molekul sama

Isomer gugus fungsi

Rumus molekul sama

Panjang rantai induk berbeda

Gugus fungsi berbeda

Amida adalah suatu senyawa organik yang mengandung gugus karbonil (C=O) yang mengikat sebuah gugus nitrogen (N). Bentuk lain dari amida adalah ion organik dari nitrogen, yaitu NH 2 - . Struktur di soal lebih lengkap sebagai berikut.

nitrogen, yaitu NH 2 - . Struktur di soal lebih lengkap sebagai berikut. PEMBAHASAN SBMPTN KIMIA
nitrogen, yaitu NH 2 - . Struktur di soal lebih lengkap sebagai berikut. PEMBAHASAN SBMPTN KIMIA

KODE: 131

www.amaldoft.wordpress.com

KODE: 131 www.amaldoft.wordpress.com  Dari struktur di atas dapat kita simpulkan bahwa dimetilformamida memiliki rumus

Dari struktur di atas dapat kita simpulkan bahwa dimetilformamida memiliki rumus molekul C 3 H 7 NO. Nah, mari analisis jawaban! 1) CH 3 CONHCH 3 adalah senyawa amida karena mengandung gugus karbonil (CO atau C=O) dan mengikat sebuah atom nitrogen (N). Rumus molekulnya adalah C 3 H 7 NO sehingga berisomer dengan dimetilformamida hanya saja kerangkanya berbeda. Jadi, termasuk isomer kerangka. (BENAR) 2) CH 3 CONCH 2 adalah senyawa amida karena mengandung gugus karbonil yang mengikat sebuah atom N, tetapi rumus molekulnya adalah C 3 H 5 NO dan strukturnya berbeda dari dimetilformamida sehingga tidak berisomer. (SALAH) 3) CH 3 CH 2 CONH 2 adalah senyawa amida primer karena terletak pada nomor 1 dan memilki rumus kimia C 3 H 7 NO dan berkerangka berbeda dengan dimetilformamida sehingga berisomer kerangka. (BENAR) 4) CH 3 COCH(NH 2 ) 2 bukanlah senyawa amida, melainkan senyawa amina karena atom karbonil tidak mengikat atom N. Ingat, amina bergugus fungsi (NH 2 ). Jelas-jelas senyawa ini tidak berisomer apapun dengan dimetilformamida yang bergugus fungsi amida. (SALAH)

JAWABAN: B

dimetilformamida yang bergugus fungsi amida. ( SALAH )  JAWABAN: B #SBMPTN2017 PEMBAHASAN SBMPTN KIMIA 2017

#SBMPTN2017

dimetilformamida yang bergugus fungsi amida. ( SALAH )  JAWABAN: B #SBMPTN2017 PEMBAHASAN SBMPTN KIMIA 2017
dimetilformamida yang bergugus fungsi amida. ( SALAH )  JAWABAN: B #SBMPTN2017 PEMBAHASAN SBMPTN KIMIA 2017