Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

GEN YANG TERANGKAI SEKS

Kelompok 3

Disusun oleh:

1. Tsania Zuyyina Fithria 4411415001

2. Wahyu Nilam Cahyati 4411415008

3. Ratna Pasma Arganes 4411415021

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2017
KEGIATAN 8

GEN YANG TERANGKAI SEKS

A. TUJUAN
1. Mengenal sifat genetik manusia yang ditentukan oleh gen yang terangkai pada
kromosom seks
2. Mengetahui perbedaan jumlah penderita buta warna berdasarkan jenis kelamin.
B. LANDASAN TEORI
Gen adalah segmen segmen DNA, bahwa DNA adalah suatu polimer yang
terdiri dari empat jenis monomer yang berbeda yang dinamkan nukleotida. Penurunan
sifat sifat herediter memiliki basisi molekuler yaitu raplikasi persis DNA, dan
menghasilkan salina salinan gen yang dapat diteruskan dari orang tua ke
keturunannya. Pada hewan dan tumbuhan, pengiriman gen dari generasi ke generasi
selanjutnya ini dilakukan oleh sperma dan ovum (telur yang belum dibuahi). Setelah
sperma bersatu (sel telur tunggal) maka gen dari kedua orang tuanya hadir dalam
nucleus dari telur yang telah dibuahi tersebut.DNA dari suatu sel eukarotik dibagi lagi
menjadi kromosom di dalam nucleus tersebut (Campbell, 2000)
Semua jenis keturunan atau kejadian yang diterangkan di muka ditentukan
oleh gen yang terdapat pada autosom. Selain gen-gen dikenal pula gen-gen yang
demikian ini disebut gen-gen terangkai kelamin. Peristiwa dinamakan rangkai
kelamin atau dalam inggrisnya disebut Sex Lingkange. Biasanya gen dominan
memperlihatkan pengaruhnya pada individu laki-laki atau jantan maupun perempuan
atau betina. Baru dalam keadaan homozigot resesif pengaruh dominan itu tidak akan
menampakkan diri dalam fenotif. Apabila kita meletakkan tangan kanan atau kanan
kiri pada suatu alas yang terdapat suatu garis mendatar sedemikian rupa sehingga
ujung jari manis menyentuh garis tersebut, maka kita dapat ketahui apakah jari
telunjuk kita akan lebih panjang atau apakah lebih pendek dari jari manis. Pada
kebanyakan orang jari telunjuk tidak akan mencapai garis tersebut yang
mengidentifikasi bahwa suatu individu-individu mungkin mempunyai kandungan gen
absolute yang sama ketidakaktifan kromosom menciptakan sub populasi dengan
membedakan kandungan gen aktif (Suryo, 2008)
Pewarisan gen-gen yang terdapat pada kromosom seks berbeda dengan
pewarisan gen pada autosom. Pada manusia jenis kelamin laki-laki mempunyai
kromosom seks XY, sedangkan jenis kelamin perempuan mempunyai kromosom seks
XX. Anak laki-laki menerima satu kromosom X dari ibu dan mendapatkan kromosom
Y dari ayah. Seorang anak perempuan akan mendapatkan satu kromosom X dari ayah
dan satu X dari ibu. Seorang anak perempuan akan mendapatkan satu kromosom X
dari ayah dan satu X dari ibu. Pewarisan kromosom diatas disebut pewarisan
bersilang (Crisscross Pattern of Inherintance). Gen-gen yang terdapat pada
kromosom seks baik X maupun Y disebut gen terangkai seks atau gen terpaut
kromosom seks (Widianti dan Habibah, 2016).
Sex linkage atau rangkai kelamin adalah gen yang terletak pada kromosom
kelamin. Karakter yang ditimbulkan oleh gen ini diturunkan bersama karakter
kelamin (Yatim, 1983). Sifat sex linkage dalam penampilan yang tampak secara khas
yang bergabung dengan seks dari pemiliknya (Stanfield, 1991).
Suatu gen disebut terpaut seks bila terletak pada kromosom seks atau lebih
terpautnya ditemukan pada kromosom X dan Z. Berbeda dengan kromosom homolog
pada autosom, yang mempunyai tata letak gen yang sama, kromosom X dan Y atau
kromosom Z dan W mempunyai struktur yang berbeda. Sebagian besar alel yang
terletak pada kromosom X tidak mempunyai pasangan gen alel pada kromosom Y
(Jusuf, 1988).
Dalam setiap individu memiliki dua macam kromosom, yaitu autosom dan
gonosom (seks kromosom). Setiap individu ini ada yang berjenis kelamin jantan
dan kelamin betina yang mempunyai autosom yang sama , maka sifat keturunan
yang ditentukan oleh gen pada autosom diwariskan dari orang tua kepada anak-
anaknya tanpa membedakan jenis seks (kelamin). Contohnya sifat keturunan pada
jari yang lebih, warna mata, warna rambut dan bentuk rambut dan albino yang dapat
diwariskan dari orang tua , tetapi keturunan F1 maupun F2 tidak pernah disebut jenis
kelamin (Suryo, 1990).
Pada rangkai kelamin biasanya gen dominan memperlihatkan pengaruhnya
pada individu laki-laki atau jantan maupun perempuan atau betina. Baru dalam
keadaan homozigot resesif pengaruh dominan itu tidak akan menampakkan diri dalam
fenotif. Apabila kita meletakkan tangan kanan atau kanan kiri pada suatu alas yang
terdapat suatu garis mendatar sedemikian rupa sehingga ujung jari manis menyentuh
garis tersebut, maka kita dapat ketahui apakah jari telunjuk kita akan lebih panjang
atau apakah lebih pendek dari jari manis. Pada kebanyakan orang jari telunjuk tidak
akan mencapai garis tersebut yang mengidentifikasi bahwa suatu individu-individu
mungkin mempunyai kandungan gen absolute yang sama ketidakaktifan kromosom
menciptakan sub populasi dengan membedakan kandungan gen aktif (Kimball, 2005).
Jenis Buta warna
1. Buta warna merah hijau, dibedakan atas : buta warna deutan yaitu, apabila yang
rusak/ lemah bagian mata yang peka terhadapa warna hijau. Buta warna protan
apabila yang rusak/lemah bagian mata warna yang peka terhadap warna merah. Buta
warna terhadap warna merah dan hijau, disebabkan oleh gen resesif c. alel dominan C,
menentukan tidak buta warna (normal). Seorang perempuan normal homosigot bila
kawin dengan laki-laki yang butawarna, akan mempunyai keturunan yang semuanya
normal, tetapi yang perempuan membawa gen butawarna. Seorang wanita normal
heterezigot (membawa gen butawarna), bila kawin dengan laki-laki normal akan
mempunyai anak dengan kemungkinan, anak perempuan normal homosigot (normal),
anak perempuan heterosigot (normal, tetapi membawa gen butawarna), anak laki-laki
normal dan anak laki-laki buta warna (Henuhili, 2002).
2. Buta warna total; penderita buta warna total hanya dapat warna hitam dan putih. Buta
warna disebabkan oleh gen resessif c dari kata “colur blind” yang tertaut kromosom
X. Karena seseorang wanita mempunyai 2 kromosom X maka kemungkinannya
seorang wanita dapat normal homozigot (XC XC), normal heterozigot (XC Xc) yang
jarang di jumpai. Seorang pria memiliki kroosom X, sehingga kemungkinan hanya
normal (XC Y) (Yatim, 1994)

C. PERMASALAHAN

1. Berapa persentasi wanita yang buta warna? Laki-laki butawarna? Sesuaikah dengan
teori yang ada? Jelaskan.
2. Buatlah silsilah keluarga anda berkaitan dengan sifat buta warna, lengkapi dengan
kemungkinan genotip masing-masing individu.

D. ALAT DAN BAHAN


1. Buku Ishihara
2. Alat tulis

E. CARA KERJA

Menentukan anggota kelompok yang akan diuji

Meminta anggota kelompok yang ditunjuk untuk


membaca angka yang terdapat pada setiap lembar buku
Ishihara

Setiap hasil pembacaan angka dicatat pada tabel


pengamatan yang telah tersedia. Melakukan hal yang
sama pada anggota kelompok yang lain secara
bergantian

Dengan menggunakan kunci yang terdapat pada buku


Ishihara, ditentukan fenotip dan kemungkinan genotip
dari masing-masing anggota kelompok.

Data kelompok dihimpun menjadi data kelas,


dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Mengambil
kesimpulandari kegiatan.

F. HASIL PENGAMATAN
Data Kelompok

Nama Halaman yang Angka Angka yang Kesimpulan


dibaca sebenarnya terbaca
Ratna 1 12 12
2 8 8
3 5 5
4 29 29
5 74 21
6 7 7 Red green
7 45 45 deficiensi
8 2 2 85,71 %
9 Tidak ada 2
10 16 16
11 1 1
12 35 35
13 96 96
14 2 2

Nama Halaman yang Angka Angka yang Kesimpulan


dibaca sebenarnya terbaca
Nilam 1 12 12
2 8 8
3 5 5
4 29 29 Red green
5 74 71 deficiensi
6 7 7 85,71 %
7 45 45
8 2 2
9 Tidak ada 2
10 16 16
11 1 1
12 35 35
13 96 96
14 2 2

Nama Halaman yang Angka Angka yang Kesimpulan


dibaca sebenarnya terbaca
Tsania 1 12 12
2 8 8
3 5 5
4 29 29
5 74 74 Red green
6 7 7 deficiensi
7 45 45 92,8%
8 2 2
9 Tidak ada 2
10 16 16
11 1 1
12 35 35
13 96 96
14 2 2
Data Kelas
Hasil Talis Frekuensi Persentase
Wanita Normal IIIII IIIII IIIII 33 100 %
IIIII IIIII IIIII
III
Buta warna
Laki-laki Normal III 3 100%
Buta warna

G. ANALISIS DATA
Frekuensi = Jumlah soal benar x 100 %
Total soal uji
Frekuensi Ratna = 12 X 100 % = 85, 71 = 86 %
14
Frekuensi Nilam = 12 X 100 % = 85, 71 = 86 %
14
Frekuensi Tsania = 13 X 100 % = 92, 8 %
14

H. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini membahas mengenai gen yang terangkai seks yaitu
dengan tes buta warna pada seluruh praktikan di rombel 1 Biologi Unnes angkatan
2015. Buta warna sebenarnya merupakan ketidakmampuan seseorang untuk
membedakan warna tertentu, yaitu suatu kondisi ketika sel-sel retina tidak mampu
merespon warna dengan semestinya. Sel-sel kerucut didalam retina mata mengalami
perlemahan atau kerusakan. Orang tersebut biasanya tidak buta semua warna
melainkan warna-warna tertentu saja. Meskipun demikian ada juga orang yang sama
sekali tidak bisa melihat warna jadi hanya tampak sebagai hitam, putih dan abu abu
saja. Pada keadaan normal, sel kerucut (cone) di retina mata mempunyai spektrum
terhadap tiga warna dasar, yaitu merah, hijau dan biru. Pada orang yang mempunyai
sel-sel kerucut yang sensitif untuk tiga jenis warna ini, maka ia dikatakan normal.
Pada orang tertentu, mungkin hanya ada dua atau bahkan satu atau tidak ada sel
kerucut yang sensitif terhadap warna-warna tersebut. Pada kasus ini orang disebut
buta warna. Jadi buta warna biasanya berkaitan dengan warna merah, biru atau hijau.
Gejala umum buta warna yaitu kesulitan membedakan warna merah dan hijau (yang
paling sering terjadi), atau kesulitan membedakan warna biru dan hijau (jarang
ditemukan). Gejala untuk kasus yang lebih serius berupa, objek terlihat dalam bentuk
bayangan abu-abu (kondisi ini sangat jarang ditemukan), dan penglihatan berkurang.
Berdasarkan data hasil pengamatan kelompok, dapat diketahui bahwa baik
Ratna, Nilam maupun Tsania memiliki mata yang normal. Meskipun ketiga
probandus memiliki presentase di bawah 100 %, ketiga probandus tersebut masih
dikatakan normal. Persentase seseorang dikatakan normal yaitu memiliki persentase
minimal 74 % atau menjawab salah lebih dari 3. Ratna memiliki persentase 85,71 %
karena dia salah dalam membaca angka 74 dibaca 21 dan angka yang tidak ada dibaca
angka 2. Nilam memiliki persentase 85,71% karena dia salah dalam membaca angka
74 dibaca 71 dan angka yang tidak ada dibaca angka 2. Sedangkan pada Irma,
memiliki persentase yaitu 92.8 % karena dapat membaca angka yang sebenarnya
tidak ada dibaca angka 2. Dalam kelompok kami, jenis kelamin ketiga probandus
sama, sehingga tidak dapat membedakan persentase buta warna dengan jenis kelamin
yang berbeda ( jenis kelamin laki-laki ). Laki – laki biasanya memiliki kemungkinan
terkena penyakit buta warna lebih besar jika dibandingkan dengan perempuan, karena
buta warna pada umumnya diwariskan sebagai sifat yang terpaut seks. Berdasarkan
data yang diperoleh, pada kelompok kami semuanya normal. Hal ini berarti pada
retina terdapat sel – sel kerucut protan. Yakni sel kerucut warna merah yang dapat
melihat kecerahan warna merah, sel – sel kerucut deuteron yakni sel kerucut yang
peka terhadap warna hijau dan sel –sel kerucut tritan yakni sel kerucut yang peka
terhadap warna biru.
Berdasarkan keterangan dalam buku Ishihara, dapat dianalisis sebagai berikut :
 Ratna : Memiliki kelainan red – green deficiencies, karena salah membaca angka
yang sebenarnya 74 dibaca 21 dan angka yang sebenarnya tidak ada dibaca angka 2.
 Nilam : Memiliki kelainan red – green deficiencies, karena salah membaca angka
yang sebenarnya 74 dibaca 71 dan angka yang sebenarnya tidak ada dibaca angka 2.
 Tsania : Memiliki kelainan red – green deficiencies, karena salah membaca angka
yang sebenarnya tidak ada dibaca angka 2
Pada data hasil pengamatan populasi kelas, semua probandus perempuan di
kelas kami normal. Meskipun tidak semua probandus memiliki presentase 100 %,
presentase demikian berarti bahwa tidak ada kesalahan dalam membaca
angka/gambar pada buku Ishihara. Sedangkan pada laki – laki, 3 orang memiliki
presentase 100%.. Kesalahan baca yang sering terjadi dalam kelas kami yaitu pada
gambar yang sebenarnya tidak ada angkanya namun terbaca angka, hal ini biasanya
karena probandus yang membaca ragu-ragu antara ada atau tidak adanya angka
tersebut., akhirnya banyak yang memilih menyebut angka. Hal ini tidak
mempengaruhi seseorang buta warna atau tidak, karena buta warna atau tidak
tergantung jumlah kesalahan baca pada buku Ishihara.
Kasus buta warna sering ditemukan pada laki – laki. Biasanya buta warna
disebabkan oleh faktor keturunan atau gen. Gen buta warna disebabkan oleh gen
resesif yang terkait kromosom X. Seorang perempuan yang mempunyai dua
kromosom X, sehingga apabila salah satu dari kromosomnya terdapat gen yang
menyebabkan butawarna, kromosom lainnya masih dapat berperan secara normal, dan
orang tersebut tidak menderita butawarna. Seorang laki-laki yang mempunyai
kromosom XY, akan buta warna apabila pada kromosom X nya terdapat gen yang
membawa sifat tersebut. Akan tetapi seorang dengan pembawa sifat berpotensi
menurukan faktor buta warna kepada anaknya kelak.
Selain karena faktor keturunan, buta warna juga dapat disebabkan karena
kelainan yang didapat selama kehidupannya. Misalnya suatu kecelakaan pada mata.
Selain itu buta warna dapat diartikan sebagai suatu kelainan penglihatan yang
disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut pada retina mata untuk menangkap suatu
spektrum warna tertentu sehingga warna objek yang terlihat bukan warna yang
sesungguhnya. Pada keadaan normal, terdapat bagian mata yang disebut retina. Retina
memiliki dua macam sel yaitu sel batang (rod cells) dan sel kerucut (cone cells) yang
peka terhadap cahaya. Sel batang ini lebih peka pada malam hari dan juga warna
hitam dan putih. Sedangkan sel kerucut lebih banyak bekerja pada siang hari yang
peka terhadap berbagai warna. Pada bagian tengah retina, terdapat photoreceptor atau
cone (seperti kantung) yang memungkinkan kita untuk bisa membedakan warna.
Photoreceptor ini terdiri dari tiga pigmen warna; yaitu merah, hijau dan biru.
Gangguan persepsi terhadap warna terjadi apabila satu atau lebih dari pigmen tersebut
tidak ada atau sangat kurang. Mereka dengan persepsi warna normal disebut
Trichromats. Mereka yang mengalami defisiensi salah satu pigmen warna disebut
dengan Anomalous Trichromats. Type ini adalah yang paling sering ditemukan.
Sedangkan mereka yang sama sekali tidak memiliki salah satu dari pigmen warna itu
disebut drichromat.

I. KESIMPULAN
1. Salah satu sifat genetik pada manusia yang ditentukan oleh gen yang terangkai pada
kromosom seks adalah buta warna. Buta warna sebenarnya merupakan
ketidakmampuan seseorang untuk membedakan warna tertentu, yaitu suatu kondisi
ketika sel-sel retina tidak mampu merespon warna dengan semestinya. Buta warna
merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh faktor keturunan atau gen.
Biasanya terjadi pada laki-laki ini dikarenakan gen buta warna disebabkan oleh gen
resesif yang terkait kromosom X. Selain karena faktor keturunan, buta warna juga
dapat disebabkan karena kelainan yang didapat selama kehidupannya. Misalnya suatu
kecelakaan pada mata
2. Kasus buta warna sering ditemukan pada laki – laki. Biasanya buta warna disebabkan
oleh faktor keturunan atau gen. Gen buta warna disebabkan oleh gen resesif yang
terkait kromosom X. Seorang perempuan yang mempunyai dua kromosom X,
sehingga apabila salah satu dari kromosomnya terdapat gen yang menyebabkan
butawarna, kromosom lainnya masih dapat berperan secara normal, dan orang
tersebut tidak menderita butawarna. Seorang laki-laki yang mempunyai kromosom
XY, akan buta warna apabila pada kromosom X nya terdapat gen yang membawa
sifat tersebut. Akan tetapi seorang dengan pembawa sifat berpotensi menurukan
faktor buta warna kepada anaknya kelak.

J. Daftar Pustaka
Campbell, Neil A., J. B. Reece & L. G. Mitchell. 2002. Biologi Edisi Keloma Jilid 1.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Henuhili, Victoria, 2002. Genetika. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta
Kimball, W. John. 2005. Biologi Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta
Jusuf. 1988. Genetika Dasar I. Bogor : IPB Press
Susanto, Agus Hery. 2011. Genetika. Yogyakarta : Graha ilmu
Suryo. 1990. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gadjah Mada University press
Standfield, W. D. 1991. Genetika:Teori dan Soal-Soal. Erlangga: Jakarta
Widianti, Tuti. 2014. Petunjuk Praktikum Genetika. Semarang : FMIPA UNNES
Widianti dkk. 2016.Petunjuk Praktikum Genetika. Semarang : Unnes Press
Yatim, Wildan. 1994. Genetika . Bandung : Tarsito

K. Jawaban Pertanyaan
1. Persentase perempuan /wanita yang buta warna dalam kelas kami adaah 0%. Terbukti
dari hasil pengamatan seluruh mahasiswi memiliki persentase diatas 74% dan
memiliki kesalahan baca tidak lebih dari 3. Hal ini membuktikan bahwa semua
mahasiswi kelas kami normal. Begitu pula pada laki –laki, 3 orang lai laki memiliki
persentase diatas 74% dan memiliki kesalahan baca tidak lebih dari 3. Hal ini tidak
sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa laki-laki lebih banyak ditemukan buta
warna dibandingkan perempuan.

2. Silsilah keluarga :
Ratna Pasma Arganes
Perkawinan antara wanita normal dengan laki-laki normal.
P : ♀ XCXC >< ♂ XCY
G: XC XC . Y
F1: XCXC , XCY
(NORMAL) (NORMAL)
Dari persilangan diatas, dapat diketahui bahwa bila ada seorang wanita normal dengan
laki-laki normal akan menghasilkan keturunan XCXC (wanita normal) dan XCY (laki-
laki normal). Perkawinan tersebut mempunyai perbandingan ratio fenotip 1:1, bahwa
kemungkinan semua anaknya normal 100%, akan tetapi anak wanitanya normal
heterozigotik/carrier 50% dan anak laki-lakinya normal 50%.

AYAH ( Normal ) IBU ( Normal )

Ratna ( Normal ) Diah ( Normal )


Lampiran