Anda di halaman 1dari 68

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. HB DENGAN GANGGUAN


SISTEM PERKEMIHAN AKIBAT SINDROM NEFROTIK
DI RUMAH SAKIT WILAYAH KOTA CIREBON

Diajukan untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah keperawatan anak


Preseptor Akademik: Ns. Dwiyanti Purbasari, M. Kep

Disusun oleh kelompok 3:


Bayu Pratama Negara (417.C.0030)
Hilman Arif Firmansyah (417.C.0018)
Ida Ayu Devi Krshna W (417.C.0033)
Annisa Juliarni (417.C.0008)
Nurtusliawati (417.C.0010)
Nuryadi (417.C.0011)
Maula Rizka Sholihah (417.C.0009)
Affan Musthafa (417.C.0029)
Siti Kholifah (417.C.0012)

PROGRAM PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAHARDIKA
CIREBON
2017
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikumwr.wb.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt. Yang telah melimpahkan
rahmatdanhidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan dengan judul
“Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan Dengan Syndrome
Nefrotik Pada An.H.B di Ruang Kemuning RSD Gunung Jati Kota
Cirebon”. Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Stase
Keperawatan Anak pada Program Profesi Ners Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Mahardika Cirebon.
Selama proses penyusunan laporan ini kami tidak lepas dari bantuan
berbagai pihak yang berupa bimbingan, saran dan petunjuk baik berupa moril,
spiritual maupun materi yang berharga dalam mengatasi hambatan yang
ditemukan. Oleh karena itu, sebagai rasa syukur dengan kerendahan hati, kami
mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :
1. Ns. Dwiyanti Purbasari, M.Kep yang telah memberikan bimbingan daN
dorongan dalam penyusunan laporan ini sekaligus sebagai tutor Mata
Kuliah stasE keperawatan Anak.
2. Orang tua kami yang tercinta serta saudara dan keluarga besar kami yang
telah memberikan motivasi/dorongan dan semangat, baik berupa moril
maupun materi lainnya.
3. Sahabat-sahabat kami di STIKes Mahardika, khususnya Program Profesi
Ners yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.
Semoga Allah swt. Membalas baik budi dari semua pihak yang telah
berpartisipasi membantu kami dalam menyusun laporan ini. Kami menyadari
bahwa laporan ini jauh dari sempurna, untuk itu kami mengharapkan kritik serta
saran yang bersifat membangun untuk perbaikan penyusunan selanjutnya.
Kami berharap, semoga makalah inidapat bermanfaat bagi kita semua.
Amiin…
Wassalamu’alaikumwr.wb.
Cirebon, Desember 2017
Kelompok 3
DAFTAR ISI

Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan 2
D. Manfaat 2
BAB II TINJAUAN TEORI

A. Pengertian 3
B. Etiologi 3
C. Epidemiologi 5
D. Patofisiologi 5
E. Manifestasi Klinis 9
F. Pemeriksaan Penunjang 9
G. Penatalaksanaan 10
H. Komplikasi 12
I. Konsep Keperawatan 15
J. Analisa data Teori 18
K. Diagnosa keperawatan teori 23
L. Rencana Asuhan Keperawatan 24
BAB III TINJAUN KASUS

A. Pengkajian 30
B. Identitas 30
C. Keluhan Utama Saat Pengkajian 31
D. Riwayat Kesehatan Sekarang 31
E. Riwayat Kesehatan Yang Lalu 32
F. Riwayat Imunisasi 32
G. Riwayat Kesehatan Keluarga 32
H. Riwayat Kehamilan Dan Persalinan 33
I. Riwayat Psikososial, Spriritual, dan budaya 33
J. Pola Kesehatan Fungsional 32
K. Pengkajian Fisik 36
L. Pemeriksaan tumbuh kembang 39
M. Pemeriksaan Penunjang 40
N. Informasi Tambahan/Pengobatan 41
O. Diagnosa keperawatan 43
P. Rencana Asuhan keperawatan 44
Q. Implementasi Keperawatan 46
R. Catatan Perkembangan 54

BAB IV ANALISIS JURNAL

A. Judul Jurnal 57
B. Tahun 57
C. Peneliti 57
D. Analisis jurnal 57

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan 63
B. Saran 63
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sindrom nefrotik (SN) ialah keadaan klinis yang ditandai oleh
proteinuria masif,hipoproteinemia, edema, dan dapat disertai dengan
hiperlipidemia. Angka kejadian SN di Amerika dan Inggris berkisar antara
2-7 per 100.000 anak berusia di bawah 18 tahun per tahun, sedangkan di
Indonesia dilaporkan 6 per 100.000 anak per tahun, dengan perbandingan
anak laki-laki dan perempuan 2:1.Sindrom nefrotik merupakan penyebab
kunjungan sebagian besar pasien di Poliklinik Khusus Nefrologi, dan
merupakan penyebab tersering gagal ginjal anak yang dirawat antara tahun
1995-2000.Semua penyakit yang mengubah fungsi glomerulus sehingga
mengakibatkan kebocoran protein (khususnya albumin) ke dalam ruang
Bowman akan menyebabkan terjadinya sindrom ini (Ngastiyah, 2009).
Semua penyakit yang mengubah fungsi glomerulus sehingga
mengakibatkan kebocoran protein (khususnya albumin) ke dalam ruang
Bowman akan menyebabkan terjadinya sindrom ini. Etiologi SN secara
garis besar dapat dibagi 3, yaitu kongenital,glomerulopati primer atau
idiopatik, dan sekunder mengikuti penyakit sistemik seperti pada purpura
Henoch-Schonlein dan lupus eritematosus sitemik. Sindrom nefrotik pada
tahun pertama kehidupan, terlebih pada bayi berusia kurang dari 6 bulan,
merupakan kelainankongenital (umumnya herediter) dan mempunyai
prognosis buruk. Pada tulisan ini hanyaakan dibicarakan SN idiopatik
(Suryadi, 2011).

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan, yaitu
bagaimana asuhan keperawatan sindrom nefrotik dapat diberikan ?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum penyusunan laporan ini adalah untuk mengetahui
hasil analisis kasus mahasiswa profesi Ners terhadap konsep asuhan
keperawatan klien dengan Sindrom Nefrotik Pada Stase Keperawatan
Anak.
2. Tujuan Khusus
a. Mennetukan tinjaun teoritis sindrom nefrotik
b. Menentukan tinjauan kasus sindrom nefrotik
c. Menentukan pembahasan analisis sindrom nefrotik

D. Manfaat
Adapun manfaat yang ingin diperoleh dari penyusunan laporan ini adalah:
1. Bagi Masyarakat atau Klien
Diharapkan penulisan ini akan menjadi tambahan ilmu pengetahuan
yang berhubungan dengan konsep asuhan keperawatan klien dengan
Sindrom Nefrotik.
2. Bagi Penulis
Hasil analisis kasus ini diharapkan dapat memberi informasi tentang
konsep asuhan keperawatan terhadap klien dengan Sindrom Nefrotik.
Penulis dapat menambah pengetahuan serta dapat menerapkan ilmu
pengetahuan dan menjadi acuan untuk penulisan selanjutnya.
3. Bagi STIKes Mahardika
Keperawatan sebagai profesi yang didukung oleh pengetahuan yang
kokoh, perlu terus melakukan berbagai tulisan-tulisan terkait praktik
keperawatan yang akan memperkaya ilmu pengetahuan keperawatan.
Penulisan ini diharapkan dapat memperkaya literatur dalam bidang
keperawatan.
BAB II
TINJAUN TEORI

A. Pengertian
Sindrom nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria,
hipoalbuminemia dan hiperkolesterolemia. Kadang-kadang terdapat
hematuria, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal (Ngastiyah, 2009).
Penyakit ini terjadi tiba-tiba, terutama pada anak-anak. Biasanya
berupa oliguria dengan urin berwarna gelap, atau urin yang kental akibat
proteinuria berat (Mansjoer Arif, dkk. 2008).
Nephrotic Syndrome merupakan kumpulan gejala yang disebabkan
oleh adanya injury glomerular yang terjadi pada anak dengan karakteristik :
proteinuria, hypoproteinuria, hypoalbuminemia, hyperlipidemia dan edema
(Suryadi, 2011).
Berdasarkan bebearpa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
sindrom nefrotik adalah keadaan dimana ginjal terutama bagian
glomerulusnya tidak berfungsi secara normal (peningkatan permeabilitas)
biasanya terjadi pada anak (3-4tahun) yang ditandai dengan : Proteinuria,
hypoprteinuria, edema, hypoalbuminemia, hyperlipidemia, lipiduria.

B. Etiologi
Berdasarkan etiologinya Sindrom Nefrotik dibagi menjadi 3 yaitu;
1. Primer atau Idiopatik
a. Yang berhubungan dengan kelainan primer glomerulus dengan
sebab tidak diketahui.
b. Banyak terjadi pada usia sekolah (74% pada usia 2 – 7 tahun)
c. Pria dan wanita 2 : 1
d. Diawali dengan infeksi virus pada saluran nafas atas.
2. Sekunder
a. Disebabkan oleh kerusakan glomerulus (akut atau kronik) karena
penyakit tertentu.
b. Karena infeksi, keganasan, obat-obtan, penyakit multisistem dan
jaringan ikat, reaksi alergi, bahan kimia, penyakit metabolik,
penyakit kolagen, toksin, transplantasi ginjal, trombosis vena renalis,
stenosis arteri renalis, obesitas masif, glomerulonefritis akut/kronis.
c. Banyak terjadi pada anak dengan penurunan daya tahan tubuh/
gangguan imunitas, respon alergi, glomerulonefritis. Dikaitkan
dengan respon imun (abnormal immunoglobulin).
d. Pada orang dewasa SN skunder terbanyak disebabkan oleh dibetes
mellitus.
3. Kongenital
a. Diturunkan sebagai resesif autosom atau karena reaksi fetomaternal.
b. Herediter Resisten gen.
c. Tidak resisten terhadap terapi malalui Transplantasi Ginjal.
Beberapa penyakit yang dapat secara spesifik menyebabkan
rusaknya glomeruli ginjal dan sering mengakibatkan timbulnya
proteinuria tentunya mempercepat timbulnya Nefrotik sindrome.
1) Amiloidosis
2) Congenital nephrosis
3) Focal segmental glomerular sclerosis (FSGS)
4) Terjadi kerusakan pada jaringan glomeruli, sehingga merusak
membran pelindung protein
5) Glomerulonephritis (GN)
6) IgA nephropathy (Berger's disease)
7) Minimal change disease (Nil's disease)
8) Pre-eclampsia
Terjadinya Sindroma Nefrotik juga tergantung usia kejadiannya:
- Usia kurang dari 1 tahun (Congenital Nephrosis)
- Usia kurang dari 15 tahun (Minimal change disease, FSGS atau
yang lainnya)
- Usia 15 sampai 40 tahun (Minimal change disease, FSGS atau
yang lainnya).
C. Epidemiologi
Insidens dapat mengenai semua umur tetapi sebagian besar (74%)
dijumpai pada usia 2-7 tahun. Rasio laki-laki : perempuan= 2:1, sedangkan
pada masa remaja dan dewasa rasio ini berkisar 1:1. Biasanya 1 dari 4
penderita sindrom nefrotik adalah penderita dengan usia>60 tahun. Namun
secara tepatnya insiden dan prevalensi sindrom nefrotik pada lansi tidak
diketahui karena sering terjadi salah diagnosa.

D. Patofisiologi
Kelainan patogenetik yang mendasari sindrom nefrotik adalah
proteinuria, akibat dari kenaikan permiabilitas dinding kapiler glomerulus.
Mekanisme dari kenaikan permiabilitas ini belum diketahui tetapi mungkin
terkait, setidaknya sebagian dengan hilangnya muatan negatif glikoprotein
dalam dinding kapiler. Proteinuria umumnya diterima sebagai kelainan
utama pada sindrom nefrotik, sedangkan gejala klinis lainnya dianggap
sebagai manifestasi sekunder. Proteinuria dinyatakan “berat” untuk
membedakan dengan proteinuria yang lebih ringan pada pasien yang bukan
sindrom nefrotik. Ekskresi protein sama atau lebih besar dari 40 mg/jam/m2
luas permukaan badan, dianggap proteinuria berat. Pada status sindrom
nefrotik, protein yang hilang biasanya melebihi 2 gram per 24 jam dan
terutama terdiri dari albumin. Hipoproteinemianya pada dasarnya adalah
hipoalbuminemia. Umumnya edema muncul bila kadar albumin serum turun
dibawah 2,5 gr/dl (25 gr/L) (Prodjosudjadi, 2006 dalam Kharisma, 2017).
Mekanisme pembentukan edema pada sindrom nefrotik tidak
dimengerti sepenuhnya. Terjadinya edema oleh timbulnya
hipoalbuminemia, akibat kehilangan protein urin. Hipoalbuminemia
menyebabkan penurunan tekanan onkotik plasma, yang memungkinkan
transudasi cairan dari ruang intravaskuler ke ruang interstisial. Penurunan
volume intravaskuler menurunkan tekanan perfusi ginjal, mengaktifklan
sistim renin angiotensin aldosteron, yang merangsang absorsi natrium di
tubulus distal. Penurunan volume intravaskuler juga merangsang pelepasan
hormon antidiuretik, yang mempertinggi reabsorbsi air dalam duktus
kolektivus. Karena tekanan onkotik plasma berkurang, natrium dan air yang
telah direabsorbsi masuk ke ruang interstisial, memperberat edema. Adanya
faktor-faktor lain yang juga memainkan peran pada pembentukan edema
dapat ditunjukkan melalui observasi bahwa beberapa penderita sindroma
nefrotik mempunyai volume intravaskuler yang normal atau meningkat, dan
kadar renin serta aldosteron plasma normal atau menurun. Penjelasan secara
hipotesis meliputi defek intra renal dalam eksresi natrium dan air atau
adanya agen dalam sirkulasi yang menaikkan permiabilitas dinding kapiler
di seluruh tubuh serta di dalam ginjal. Pada sindrom nefrotik hampir semua
kadar lemak (koleterol dan trigliserida) dan lipoprotein serum meningkat.
Sekurang-kurangnya ada dua faktor yang memberikan sebagian penjelasan
yaitu:
a. Hipoproteinemia merangsang sintesis protein menyeluruh di dalam hati,
termasuk lipoprotein.
b. Katabolisme lemak menurun, karena penurunan kadar lipoprotein lipase
plasma, sistim enzim
(Sumber: Prodjosudjadi, 2006 dalam Kharisma, 2017)
Pathway

Sindrom Nefrotik Bawaan,


Sindrom Nefrotik Sekunder,
Sindrom Nefrotik Idiopatik

Dinding kapiler glomerulus


kehilangan muatan negatif
glikoprotein

Permeabilitas glomerolus ↑

Kenaikan filtrasi plasma protein

Kenaikan reabsorbsi plasma protein Albuminuria/proteinuria

Katabolisme Beban kerja Hipoalbuminemia


albumin ginjal ↑

Tubuh ke- Kerusakan sel ↓ Tekanan onkotik Kenaikan sintesis protein


kurangan protein tubulus plasma intravaskuler dalam sel hepar

Malnutrisi Gagal ginjal Transudasi Cairan Hipokolestrolemia


melalui dinding
pembuluh darah
Kwashiokor keruang interstitial ↑ Lipiduria

Ketidakseimbangan nutrisi:
Volume intravaskuler ↓ Kelebihan volume
< kebutuhan tubuh
Intersisial

Kerusakan ginjal Perfusi ginjal ↓


Risiko kekurangan
volume cairan

Pelepasan ADH Pengaktifan system renin-


angiotensi-aldosteron

Reabsorbsi dalam
ductus kolektivus
Reabsorbsi natrium
ditubulus ginjal

Edema
Edema

Permiabilitas Pinggang Perut Tungkai bawah Paru

Acites Efusi pleura

Risiko infeksi Ekspansi paru tidak


maksimal

Peritonitis
Suplai O2 ↓
Nyeri akut

Intolerasnsi aktivitas Hipoksia

Risiko kerusakan
integritas kulit
E. Manifestasi Klinis
Berdasarkan Ngastiyah (2009) beberapa manifestasi klinis yang muncul
pada sindrom nefrotik:
1. Proteinuria
2. Edema
Biasanya edema dapat bervariasi dari bentuk ringan sampai berrat
(anasarka). Edema biasanya lunak dan cekung bila ditekan (pitting), dan
umumnya ditemukan disekitar mata (Periorbital) dan berlanjut ke
abdomen daerah genitalia dan ekstremitas bawah.
3. Penurunan jumlah urine, urien gelap, dan berbusa.
4. Hematuria
5. Anoreksia
6. Diare
7. Pucat
8. Gagal tumbuh dan pelisutan otot (jangka panjang).

F. Pemeriksa Penunjang
1. Laboratorium
a. Produksi urin berkurang, berat jenis urine meninggi, adanya
proteinuria terutama albumin, diperkirakan sekitar > 50 mg/kg/hari.
b. Hematuria yang dapat timbul intermiten. Urin mengandung torak
hialin, epitel sel tubulus, torak granuler dan titik-titik lemak.
c. Kimia darah menunjukkan hipoalbuminemia. Kadar globulin
normal atau meninggi.
d. Hiperkolestrolemia & kadar fibrinogen meninggi.
e. Pada pemeriksaan darah rutin kadang dijumpai anemia normositik
normokromik tetapi jumlah sel darah merah umumnya normal.
Pemeriksaan laboratorium.
f. Kadar protein total menurun dibawah normal (<3 mg/dl.
Konsentrasi kolesterol plasma total, LDL dan VLDL akan
meningkat dengan HDL normal.
g. Konsentrasi ureum & kreatinin plasma biasanya normal tetapi dpt
mengalami sedikit peningkatan krn adanya hipovolemia.
h. Kadar elektrolit plasma dpt normal meski kadang dijumpai
hiponatremia. Pada 10% kasus terdapat defisiensi factor IX.
i. Laju endap darah meninggi. Kadar kalsium darah sering rendah pada
keadaan lanjut, terdapat glukosuria tanpa hiperglikemia (Ngastiyah,
2009).
2. Biopsi ginjal
Merupakan uji diagnostik yang tidak dilakukan secara rutin (Ngastiyah,
2009).

G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada SN Secara Umum
1. Penatalaksanaan umum
Anak dengan manifestasi klinis SN pertama kali, sebaiknya dirawat di
rumah sakit dengan tujuan untuk mempercepat pemeriksaan dan
evaluasi pengaturan diit, penanggulangan edema, memulai pengobatan
steroid, dan edukasi orangtua. Sebelum pengobatan steroid dimulai,
dilakukan pemeriksaan pemeriksaan :
a. Pengukuran berat badan dan tinggi badan
b. Pengukuran tekanan darah
c. Pemeriksaan fisis untuk mencari tanda atau gejala penyakit
sistemik, seperti lupus eritematosus sistemik, purpura Henoch
Schonlein.
d. Mencari fokus infeksi di gigi-geligi, telinga, ataupun kecacingan.
Setiap infeksi perlu dieradikasi lebih dahulu sebelum terapi steroid
dimulai.
e. Melakukan uji Mantoux. Bila hasilnya positif diberikan profilaksis
INH selama 6 bulan bersama steroid, dan bila ditemukan
tuberkulosis diberikan obat antituberkulosis (OAT).
Perawatan di rumah sakit pada SN relaps hanya dilakukan bila
terdapat edema anasarka yang berat atau disertai komplikasi
muntah, infeksi berat, gagal ginjal, atau syok. Tirah baring tidak
perlu dipaksakan dan aktivitas fisik disesuaikan dengan
kemampuan pasien. Bila edema tidak berat, anak boleh sekolah.
a. Diitetik
Pemberian diit tinggi protein dianggap merupakan
kontraindikasi karena akan menambah beban glomerulus untuk
mengeluarkan sisa metabolisme protein (hiperfiltrasi) dan
menyebabkan sklerosis glomerulus. Bila diberi diit rendah
protein akan terjadi malnutrisi energy protein (MEP) dan
menyebabkan hambatan pertumbuhan anak. Jadi cukup
diberikan diit protein normal sesuai dengan RDA
(recommended daily allowances) yaitu 1,5-2 g/kgbb/hari. Diit
rendah garam (1-2 g/hari) hanya diperlukan selama anak
menderita edema.
b. Diuretik
Restriksi cairan dianjurkan selama ada edema berat. Biasanya
diberikan loop diuretik seperti furosemid 1-3 mg/kgbb/hari,
bila perlu dikombinasikan dengan spironolakton (antagonis
aldosteron, diuretik hemat kalium) 2-4 mg/kgbb/hari. Sebelum
pemberian diuretik, perlu disingkirkan kemungkinan
hipovolemia. Pada pemakaian diuretik lebih dari 1-2 minggu
perlu dilakukan pemantauan elektrolit kalium dan natrium
darah. Bila pemberian diuretik tidak berhasil (edema
refrakter), biasanya terjadi karena hipovolemia atau
hipoalbuminemia berat (≤ 1 g/ dL), dapat diberikan infus
albumin 20-25% dengan dosis 1 g/kgbb selama 2-4 jam untuk
menarik cairan dari jaringan interstisial dan diakhiri dengan
pemberian furosemid intravena 1-2 mg/kgbb. Bila pasien tidak
mampu dari segi biaya, dapat diberikan plasma 20
ml/kgbb/hari secara pelan-pelan 10 tetes/menit untuk
mencegah terjadinya komplikasi dekompensasi jantung. Bila
diperlukan, suspensi albumin dapat diberikan selang-sehari
untuk memberi kesempatan pergeseran cairan dan mencegah
overload cairan. Bila asites sedemikian berat sehingga
mengganggu pernapasan dapat dilakukan pungsi asites
berulang.
c. Imunisasi
Pasien SN yang sedang mendapat pengobatan kortikosteroid
>2 mg/ kgbb/ hari atau total >20 mg/hari, selama lebih dari 14
hari, merupakan pasien imunokompromais.11 Pasien SN
dalam keadaan ini dan dalam 6 minggu setelah obat dihentikan
hanya boleh diberikan vaksin virus mati, seperti IPV
(inactivated polio vaccine). Setelah penghentian prednison
selama 6 minggu dapat diberikan vaksin virus hidup, seperti
polio oral, campak, MMR, varisela. Semua anak dengan SN
sangat dianjurkan untuk mendapat imunisasi terhadap infeksi
pneumokokus dan varisela.
(Trihono, 2012).

H. Komplikasi
Komplikasi mayor dari sindrom nefrotik adalah infeksi. Anak dengan
sindrom nefrotik yang relaps mempunyai kerentanan yang lebih tinggi untuk
menderita infeksi bakterial karena hilangnya imunoglobulin dan faktor B
properdin melalui urin, kecacatan sel yang dimediasi imunitas, terapi
imuosupresif, malnutrisi, dan edema atau ascites. Spontaneus bacterial
peritonitis adalah infeksi yang biasa terjadi, walaupun sepsis, pneumonia,
selulitis, dan infeksi traktus urinarius mungkin terjadi. Meskipun
Streptococcus pneumonia merupakan organisme tersering penyebab
peritonitis, bakteri gram negatif seperti Escherichia coli, mungkin juga
ditemukan sebagai penyebab. Komplikasi lain;
2. Infeksi
Adanya teori mengenai peran imunologi pada sindrom nefrotik yang
menyebutkan bahwa terjadi penurunan sistem imun pada pasien
dengan sindrom nefrotik sehingga menyebabkan pasien SN
mempunyai kerentanan terhadap infeksi. Apabila telah terbukti adanya
komplikasi berupa infeksi perlu diberikan antibiotik. Pada pasien SN
Infeksi yang sering terjadi adalah selulitis dan peritonitis primer.
Penyebab tersering peritonitis primer adalah kuman gram negatif dan
Streptococcus pneumoniae. Untuk pengobatannya diberikan
pengobatan penisilin parenteral dikombinasi dengan sefalosporin
generasi ketiga (sefotaksim atau seftriakson) selama 10-14 hari.
Pneumonia dan infeksi saluran napas atas karena virus juga
merupakan manifestasi yang sering terjadi pada anak dengan sindrom
nefrotik.
3. Trombosis
Terdapat suatu penelitian prospektif dengan hasil 15% pasien SN
relaps terdapat defek ventilasi-perfusi pada pemeriksaan skintigrafi
yang berarti terdapat trombosis pembuluh vaskular paru yang
asimtomatik. Pemeriksaan fisik dan radiologis perlu dilakukan untuk
menegakkan diagnosis trombosis. Apabila telah ada diagnosis
trombosis, perlu diberikan heparin secara subkutan, dilanjutkan
dengan warfarin selama 6 bulan atau lebih. Saat ini tidak dianjurkan
pencegahan tromboemboli dengan pemberian aspirin dosis rendah.
4. Hiperlipidemia
Kadar LDL, VLDL, trigliserida, dan lipoprotein meningkat pada
sindrom nefrotik relaps atau resisten steroid, tetapi kadar HDL
menurun atau normal. Kadar kolesterol yang meningkat tersebut
mempunya sifat aterogenik dan trombogenik. Hal ini dapat
meningkatkan morbiditas kardiovaskular dan progresivitas
glomerulosklerosis. Untuk itu perlu dilakukan diet rendah lemak jenuh
dan mempertahankan berat badan normal. Pemberian obat penurun
lipid seperti HmgCoA reductase inhibitor (contohnya statin) dapat
dipertimbangkan. Peningkatan kadar LDL, VLDL, trigliserida, dan
lipoprotein pada sindrom nefrotik sensitif steroid bersifat sementara
sehingga penatalaksanaannya cukup dengan mengurangi diet lemak.
5. Hipokalsemia
Hipokalsemia pada sindrom nefrotik dapat terjadi karena: Penggunaan
steroid jangka panjang yang menimbulkan osteoporosis dan
osteopenia kebocoran metabolit vitamin D Untuk menjaga
keseimbangan jumlah kalsium maka pada pasien SN dengan terapi
steroid jangka lama (lebih dari 3 bulan) sebaiknya diberikan
suplementasi kalsium 250-500 mg/hari dan vitamin D (125- 250 IU).
Apabila telah ada tetani perlu diberikan kalsium glukonas 10%
sebanyak 0,5 ml/kgBB intravena.
6. Hipovolemia
Hipovolemia dapat terjadi akibat pemberian diuretik yang berlebihan
atau pasien dengan keadaan SN relaps. Gejala-gejalanya antara lain
hipotensi, takikardia, ekstremitas dingin, dan sering juga disertai sakit
perut. Penanganannya pasien diberi infus NaCl fisiologis dengan cepat
sebanyak 15-20 mL/kgBB dalam 20-30 menit, dan disusul dengan
albumin 1 g/kgBB atau plasma 20 mL/kgBB (tetesan lambat 10 tetes
per menit). Pada kasus hipovolemia yang telah teratasi tetapi pasien
tetap oliguria, perlu diberikan furosemid 1-2 mg/kgBB intravena.
7. Hipertensi
Hipertensi dapat ditemukan pada awitan penyakit atau dalam
perjalanan penyakit SN akibat dari toksisitas steroid. Untuk
pengobatanya diawali dengan ACE (angiotensin converting enzyme)
inhibitor, ARB (angiotensin receptor blocker), calcium chanel
blockers, atau antagonis β adrenergik, hingga tekanan darah di bawah
persentil 90.
8. Efek samping steroid
Terdapat banyak efek samping yang timbul pada pemberian steroid
jangka lama, antara lain peningkatan nafsu makan, gangguan
pertumbuhan, perubahan perilaku, peningkatan resiko infeksi, retensi
air dan garam, hipertensi, dan demineralisasi tulang. Pemantauan
terhadap gejala-gejala cushingoid, pengukuran tekanan darah,
pengukuran berat badan dan tinggi badan setiap 6 bulan sekali, dan
evaluasi timbulnya katarak setiap tahun sekali pada klien sindrom
nefrotik.

I. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas
Umumnya 90 % dijumpai pada kasus anak. Enam (6) kasus
pertahun setiap 100.000 anak terjadi pada usia kurang dari 14
tahun. Rasio laki-laki dan perempuan yaitu 2 : 1. Pada daerah
endemik malaria banyak mengalami komplikasi sindrom nefrotik.
b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama
Badan bengkak, muka sembab dan napsu makan menurun,
diare, mual muntah, kaki terasa berat dan dingin.
2) Riwayat penyakit dahulu.
Edema masa neonatus, malaria, riwayat (Glomerulonefritis
Akut dan Glomerulonefritis Kronik, terpapar bahan kimia,
riwayat glomerulonefritis.
3) Riwayat penyakit sekarang
Badan bengkak (edema), muka sembab, muntah, napsu makan
menurun, konstipasi, diare, urine menurun.
4) Riwayat Kesehatan Keluarga
Karena kelainan gen autosom resesif. Kelainan ini tidak dapat
ditangani dengan terapi biasa dan bayi biasanya mati pada
tahun pertama atau dua tahun setelah kelahiran, dalam
keluarga apakah ada yang pernah mengalami penyakit sindrom
nefrotik sekunder, bawaan, maupun idiopatik dan penyakit
diabetes melitus.
c. Riwayat kesehatan lingkungan.
Endemik malaria sering terjadi kasus sindrom nefrotik, lingkungan
tempat tinggal.
d. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan
1) Berat badan = umur (tahun) X 2 + 8
2) Tinggi badan = 2 kali tinggi badan lahir
3) Perkembangan psikoseksual:
Anak berada pada fase oedipal atau falik dengan ciri meraba-
raba dan merasakan kenikmatan dari beberapa daerah
erogennya, senang bermain dengan anak berjenis kelamin
beda, oedipus kompleks untuk anak laki-laki lebih dekat
dengan ibu, elektra kompleks untuk anak perempuan lebih
dekat dengan ayah.
4) Perkembangan psikososial:
Anak berada pada fase pre school (inisiative vs rasa bersalah)
yaitu memiliki inisiatif untuk belajar mencari pengalaman
baru. Jika usahanya diomeli atau dicela anak akan merasa
bersalah dan menjadi anak peragu.
5) Perkembangan kognitif:masuk tahap pre operasional yaitu
mulai mempresentasekan dunia dengan bahasa, bermain dan
meniru, menggunakan alat-alat sederhana.
6) Perkembangan fisik dan mental : melompat, menari,
menggambar orang dengan kepala, lengan dan badan,
segiempat, segitiga, menghitung jari-jarinya, menyebut hari
dalam seminggu, protes bila dilarang, mengenal empat warna,
membedakan besar dan kecil, meniru aktivitas orang dewasa.
7) Respon hospitalisasi : sedih, perasaan berduka, gangguan tidur,
kecemasan, keterbatasan dalam bermain, rewel, gelisah,
regresi, perasaan berpisah dari orang tua, teman.
e. Riwayat Nutrisi
Diet kaya protein dan hewani, usia pre school nutrisi seperti
makanan yang dihidangkan dalam keluarga. Status gizinya adalah
dihitung dengan rumus (BB terukur dibagi BB standar) X 100 %,
dengan interpretasi : < 60 % (gizi buruk), < 30 % (gizi sedang) dan
> 80 % (gizi baik).

2. Pemeriksaan Fisik
Yang ditemukan pada klien dengan sindrom nefrotik:
a. Keadaan umum
Lemah
b. Kesadaran
Disorentasi, gelisah, apatis, letargi, somnolen sampai koma
c. Tanda Vital
TD: mengalami penurunan
RR: 15 – 32 X/menit
N: 70 – 110 X/menit
S: 38,00C
d. Kepala
Edema muka terutama daerah orbita, mulut bau khas ureum
e. Dada
Pernafasan cepat dan dalam, nyeri dada, efusi pleura
f. Perut
Adanya edema anasarka (asites), distensi abdomen
g. Ekstrimitas
Edema pada alat gerak atas dan bawah
h. Kulit
Sianosis, akral dingin, turgor kulit menurun, asites, edema
periorbital.

J. Analisa Data Teori


No Data-data Etiologi Masalah
keperawatan
1 Ds: - Sindrom nefrotik bawaan, Ketidakseimbangan
sekunder, idiopatik
Do: nutrisi kurang dari
a. Mual muntah kebutuhan tubuh
Dinding kapiler glomerulus
b. Nafsu makan
kehilangan muatan negatif
menurun glikoprotein
c. Penurunan BB
Permeabilitas glomerulis
meningkat

Kenaikan filtrasi plasma


protein

Kenaikan reabsorbsi plasma


protein

Katabolisme albumin

Tubuh kekurangan protein

Malnutrisi

Kwashiokor
2 Ds: Sindrom nefrotik bawaan, Nyeri akut
sekunder, idiopatik
Klien mengatakan,
“nyeri dada dengan Dinding kapiler glomerulus
kehilangan muatan negatif
skala 5”
glikoprotein
Do:
Permeabilitas glomerulis
a. Tampak
meningkat
ekpresi wajah
Kenaikan filtrasi plasma
klien menahan
protein
sakit
b. Edema orbital Albuminemia atau
proteinuria
c. Edema
anasarka Hipoalbuminemia
d. Asites
Penurunan tekanan onkotik
plasma intravaskuler

Transudasi cairan melalui


dinding pembuluh darah
keruang intersitial
meningkat

Volume intravaskuler

Perfusi ginjal

Pelepasan ADH

Reabsorbsi dalam duktus


kolektifus

Edema

Perut

Asites

Penenkanan diafragma

Stimulasi neurotransmiter
nyeri

Rangasangan BHSP

Aktivasi serabut saraf delta


A dan C

Diteruskan dikorteks serebri

Dipersepsikan nyeri

3 Ds: - Sindrom nefrotik bawaan, Risiko kekurangan


sekunder, idiopatik
Do: volume Cairan
a. Proteinuria Dinding kapiler glomerulus
kehilangan muatan negatif
b. Albuminemia
glikoprotein
c. Hipoalbumin
Permeabilitas glomerulis
meningkat

Kenaikan filtrasi plasma


protein

Albuminemia atau
proteinuria

Hipoalbuminemia

Penurunan tekanan onkotik


plasma intravaskuler

Transudasi cairan melalui


dinding pembuluh darah
keruang intersitial
meningkat

Kelebihan volume intersitial

Kekurangan volume cairan


4 Ds: - Sindrom nefrotik bawaan, Kelebihan volume
sekunder, idiopatik
Do: cairan
a. Retensi air Dinding kapiler glomerulus
kehilangan muatan negatif
b. Retensi urin
glikoprotein
c. Retensi
Permeabilitas glomerulis
natrium
meningkat
d. Retensi
Kenaikan filtrasi plasma
proteinuria
protein

Albuminemia atau
proteinuria

Hipoalbuminemia

Penurunan tekanan onkotik


plasma intravaskuler

Transudasi cairan melalui


dinding pembuluh darah
keruang intersitial
meningkat

Kelebihan volume intersitial


5 Ds: - Sindrom nefrotik bawaan, Intoleransi aktivitas
sekunder, idiopatik
Do:
a. Edema Dinding kapiler glomerulus
kehilangan muatan negatif
ekstermitas
glikoprotein
b. Tampak
Permeabilitas glomerulis
kelemahan
meningkat

Kenaikan filtrasi plasma


protein

Albuminemia atau
proteinuria

Hipoalbuminemia

Penurunan tekanan onkotik


plasma intravaskuler

Transudasi cairan melalui


dinding pembuluh darah
keruang intersitial
meningkat

Volume intravaskuler

Perfusi ginjal

Pengaktifan system renin-


angiotensin-aldosteron

Reabsorbsi natrium
ditubulus ginjal

Edema
Tungkai bawah

6 Ds: - Sindrom nefrotik bawaan, Risiko gangguan


sekunder, idiopatik
Do: integritas kulit
a. Sianosis Dinding kapiler glomerulus
kehilangan muatan negatif
b. Akral teraba
glikoprotein
dingin
Permeabilitas glomerulis
c. Turgor kulit
meningkat
menurun
Kenaikan filtrasi plasma
d. Asites
protein
e. Edema
Albuminemia atau
periorbital
proteinuria

Hipoalbuminemia

Penurunan tekanan onkotik


plasma intravaskuler

Transudasi cairan melalui


dinding pembuluh darah
keruang intersitial
meningkat

Volume intravaskuler

Perfusi ginjal

Pengaktifan system renin-


angiotensin-aldosteron

Reabsorbsi natrium
ditubulus ginjal

Edema

Tungkai bawah

Intoleransi Aktivitas
K. Diagnosa Keperawatan Teori
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan faktor biologis
2. Nyeri akut berhubungan dengan asites
3. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
volume cairan secara aktif
4. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme
pengaturan
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan proses penyakit, tirah baring
6. Risiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan intoleransi
aktivitas
L. Rencana Asuhan Keperawatan

No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional


Keperawatan
1. Ketidakseimban Setelah dilakukan tindakan a. Kaji adanya alergi makanan a. Menghindari pemberian
gan nutrisi keperawatan selama 3x24 jam makanan yang menyebabkan
kurang dari diharapkan ketidakseimbangan alergi
kebutuhan tubuh nutrisi dapat teratasi. Dengan b. Monitor TTV b. Mengetahui frekuensi normal
berhubungan kriteria hasil: tidaknya vital sign klien
dengan faktor 1. Tanda-tanda vital dalam
biologis batas normal c. Yakinkan diet yang dimakan c. Mencegah terjadinya
2. Makan 1 porsi habis mengandung tinggi serat untuk konstipasi pada klien
3. Peningkatan BB mencegah konstipasi
d. Monitor intake nutrisi d. Mengetahui asupan nutrisi
klien
e. Monitor turgor kulit e. Mengetahui elastisitas kulit
klien
f. Informasikan pada klien dan f. Memenuhi kebutuhan nutrisi
keluarga tentang manfaat pada klien
nutrisi
g. Kolaborasi pemberian nutrisi g. Membantu memenuhi nutrisi
pada klien pada klien
2. Nyeri akut Setelah dilakukan tinfakan a. Lakukan pengkajian nyeri a. Mengetahui tingkatan nyeri pada
berhubungan keperawatan selama 3x24 jam secara komprehensif termasuk klien
dengan asites diharapkan pasien tidak lokasi, karakteristik, durasi,
mengalami nyeri. Dengan frekuensi, kualitas dan faktor
kriteria hasil: presipitasi
1. Mampu mengontrol nyeri b. Observasi reaksi nonverbal dari a. Mengetahui ketidaknyamanan
(tahu penyebab nyeri, mampu ketidaknyamanan akibat nyeri pada klien
menggunakan tehnik c. Ajarkan tentang teknik non b. Membantu mengurangi nyeri
nonfarmakologi untuk farmakologi: napas dala, pada klien
mengurangi nyeri, mencari relaksasi, distraksi, kompres
bantuan) hangat atau dingin
2. Melaporkan bahwa nyeri d. Tingkatkan istirahat c. Memberikan rasa nyaman
berkurang dengan e. Berikan informasi tentang nyeri d. Mengurangi nyeri pada klien
menggunakan manajemen seperti penyebab nyeri, berapa e. Mengetahui tentang penyebab
nyeri lama nyeri akan berkurang dan nyeri dan lama nyeri
3. Mampu mengenali nyeri antisipasi ketidaknyamanan dari
(skala, intensitas, frekuensi prosedur
dan tanda nyeri) f. Kolaborasi pemberian analgetik f. Membantu mengurangi nyeri
4. Menyatakan rasa nyaman untuk klien pada klien
setelah nyeri berkurang
5. Tanda vital dalam rentang
normal
6. Tidak mengalami gangguan
tidur
3. Risiko Setelah dilakukan tindakan a. Pertahankan catatan intake dan a. Mempertahankan intake dan
kekurangan keperawatan selama 3x24 jam output yang akurat output pada klien
volume cairan diharapkan risiko kekurangan b. Monitor status hidrasi b. Mengetahui kelembapan
berhubungan volume cairan teratasi. Dengan (kelembaban membran mukosa, membran mukosa, nadi adekuat,
dengan kriteria hasil: nadi adekuat, tekanan darah dan tekanan darah
kehilangan 1. Mempertahankan urine ortostatik) jika diperlukan
volume cairan output sesuai dengan usia c. Dorong keluarga untuk c. Membantu klien memenuhi
secara aktif dan BB, BJ urine normal, membantu pasien makan kebutuhan nutrisinya
2. Tekanan darah, nadi, suhu d. Kolaborasi pemberian cairan IV d. Membantu memnuhi pemenuhan
tubuh dalam batas normal dan pemberian cairan peroral kebutuhan cairan pada klien
3. Tidak ada tanda tanda
dehidrasi, elastisitas turgor
kulit baik, membran
mukosa lembab, tidak ada
rasa haus yang berlebihan
4. Orientasi terhadap waktu
dan tempat baik
4. Kelebihan Setelah dilakukan tindakan a. Pertahankan catatan intake dan a. Membantu mempertahankan
volume cairan keperawatan selama 3x24 jam output yang akurat intake dan output pada klien
berhubungan diharapkan kelebihan volume b. Monitor vital sign b. Mengetahui frekuensi normal
dengan cairan teratasi. Dengan kriteria tidaknya vital sign pada klien
gangguan hasil: c. Monitor tanda dan gejala c. Mengetahui tanda dab gejala
mekanisme 1. Terbebas dari edema, efusi, edema terjadinya edema pada klien
pengaturan anaskara d. Kaji lokasi dan luas edema d. Mengetahui dan dapat
2. Bunyi nafas bersih, tidak mengurangi lokasi dan luas pada
ada dyspneu atau ortopneu edema klien
3. Terbebas dari distensi vena
jugularis.
4. Memelihara tekanan vena
sentral, tekanan kapiler
paru, output jantung dan
vital sign DBN
5. Terbebas dari kelelahan,
kecemasan atau bingung
5. Intoleransi Setelah dilakukan tindakan a. Obsevasi adanya embatasan a. Mengetahui adanya pembatasan
aktivitas keperawatan selama 3x24 jam klien dalam melakukan aktivitas pada klien
berhubungan diharapkan bertoleransi aktivitas
dengan tirah terhadap aktivitas, dengan b. Monitor adanya faktor yang b. Mengetahui faktor penyebab
baring kriteria hasil : menyebabkan kelelahan kelelahan pada klien
1. Berpartisipasi dalam aktivitas c. Monitor pola tidur dan c. Mengetahui pola tidur dan
fisik lamanya tidur istirahat pada klien
2. Mempu melakukan aktivitas d. Monitor respon fisik, emosi, d. Mengetahui respon fisik, emosi,
sehari-hari (ADL) sosial dan spiritual sosial dan spiritual
3. Keseimbangan antara
aktivitas dan istirahat
6. Risiko gangguan Setelah dilakukan tindakan a. Monitor status nutrisi klien a. Mengetahui asupan nutrisi klien
integritas kulit keperawatan selama 3x24 jam b. Monitor aktivitas dan b. Mengetahui aktvitas dan
berhubungan diharapkan gangguan integritas mobilisasi pada klien mobilitas pada klien mencegah
dengan kulit tidak terjadi. Dengan c. Memandikan klien dengan resiko integritas kulit pada klien
intoleransi kriteria hasil: sabun dan air hangat c. Membantu proses penyembuhan
aktivitas 1. Status nutrisi adekuat d. Oleskan lotion atau baby oil kulit pada klien
2. Integritas kulit yang baik bisa pada daerah kulit yang d. Menjaga kebersihan pada klien
dipertahankan tertekan e. Membantu memenuhi
3. Sensasi dan warna kulit e. Jaga kebersihan alat tenun kebutuhan nutrisi pada klien
normal f. Kolaborasi pemberian nutrisi
4. Mempertahankan tinggi protein pada klien
kelembapan kulit
BAB III
TINJAUN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN
GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN DENGAN SYNDROME
NEFROTIK PADA AN.H.B DI RUANG KEMUNING RSD GUNUNG JATI
KOTA CIREBON

A. Pengkajian
No.Medrek : 991xxx
Tanggal pengkajian : 21 Desember 2017 pukul 09.25 WIB
Tanggal masuk : 20 Desember 2017 pukul 12.55 WIB
Golongan Darah :O

B. Identitas
Identitas Klien
Nama : An. H.B
Umur : 26-01-2007 / 10 th
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Laki-laki
Suku Bangsa : Jawa
Alamat : Astanajapura
Diagnosa Medis : Sindrom Nefrotik
Ayah
Nama : Tn. S.B
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan : SMA
Alamat : Astanajapura
Ibu
Nama : Ny. U
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga (IRT)
Pendidikan : SMA
Alamat : Astanajapura

Identitas Penanggung Jawab


Nama : Tn. S.B
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan : SMA
Alamat : Astanajapura

C. Keluhan Utama Saat Pengkajian


Klien mengatakan “ bengkak di skrotum dan wajah (tampak sembab) ”.

D. Riwayat Kesehatan Sekarang


Orang tua klien mengatakan “awalnya tidak tahu kenapa bisa seperti ini,
bengkak terjadi awalnya di sekitar mata lalu wajah kemudian kemaluannya
sejak lima hari lalu sebelum masuk rumah sakit ini, tidak ada masalah saat
kencing, tidak merasa perih, kencing pula banyak, warna kencing berwarna
putih seperti air kelapa semenjak mulainya bengkak pada kemaluannya,
untuk dapat mengatasinya keluarga langsung membawa ke rumah sakit ini”.
E. Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Orang tua klien mengatakan “sebelumnya belum pernah masuk rumah sakit,
belum pernah juga ada riwayat penyakit seperti sekarang, belum pernah juga
ada riwayat pembedahan apapun”.

F. Riwayat Imunisasi
Keluhan
Jenis Tanggal/usia Cara Diberikan
No setelah
imunisasi pemberian pemberian oleh
pemberian
1. - - - - -
2. BCG 1 bulan/- SC Bidan Demam
3. DPT 2 bulan/- SC Bidan Demam
Mirales 14 Agusutus Tidak ada
4. SC Dokter
Rubela 2017/ keluhan

Ibu Klien mengatakan, “pokoknya anak saya sudah diberikan imunisasi


lengkap, cuman saya lupa tanggal diberikannya”

G. Riwayat Kesehatan Keluarga


Orang tua klien mengatakan “di dalam keluarga tidak ada yang memiliki
riwayat penyakit apapun”.
Genogram:
Keterangan : = Laki- laki = Hubungan anak
= Perempuan = Tinggal serumah
= Klien = Meninggal

H. Riwayat Kehamilan dan Persalinan


1. Pre natal
Ibu klien mengatakan, saya rutin melakukan pemeriksaan kehamilan
sewaktu hamil di puskesmas terdekat, tidak ada masalah selama
hamil”
2. Intranatal
Ibu klien mengatakan, “ kehamilan 9 bulan, lahir normal, ditolong
oleh bidan, anak ke 7, berat badan waktu lahir bayi saya beratnya
3100 gr, dan panjangnya saya lupa”
3. Postnatal
Ibu klien mengatakan, “saya memberikan ASI ekslusif”

I. Riwayat Psikososial, Spiritual, dan Budaya


4. Yang mengasuh
Orang tua klien mengatakan “pengasuh adalah orang tua”.
5. Hubungan dengan anggota keluarga
Orang tua klien mengatakan ”Baik”.
6. Hubungan dengan sibling
Orang tua klien mengatakan ”Baik”.
7. Pembawaan anak secara umum
Orang tua klien mengatakan ”dia adalah anak yang aktif”.
5. Respon anak terhadap sakit
Orang tua klien mengatakan ”menangis dan cemas”.
6. Respon anak terhadap petugas kesehatan
Klien mengatakan ”sedikit takut”.
7. Respon anak terhadap perpisahan
Klien mengatakan ”ingin menangis”.
8. Respon keluarga terhadap anak yang sakit
Orang tua klien mengatakan ”sedih dan ingin sembuh anaknya”.
9. Penerapan nilai agama yang dianut
Orang tua klien mengatakan ”mengajarkan agama islam”.
10. Keyakinan terhadap penyakit
Orang tua klien mengatakan ”bahwa segala sesuatu pasti ada ujiannya”.
11. Keyakinan terhadap kesembuhan
Orang tua klien mengatakan ”yakin dapat sembuh”.
12. Penerapan nilai budaya yang dianut
Orang tua klien mengatakan ”Budaya daerah setempat”.
13. Pola sosialisasi anak terdap lingkungan
Orang tua klien mengatakan ”Baik”.
14. Sistem pendukung sosial
Orang tua klien mengatakan ”tetangga dan teman”.
15. Pengetahuan anak dan keluarga tentang kesehatan
Orang tua klien mengatakan” Khawatir terhadap kondisi anaknya”.
16. Konsep diri anak
Orang tua klien mengatakan ”aktif”.
17. Mekanisme koping anak dan keluarga
18. Orang tua klien mengatakan ”sering cerita jika da masalah”.
19. Keluhan lain: -

J. Pola Kesehatan Fungsional


No ADL Sebelum sakit Setelah sakit
1. Nutrisi
A.Makan
- Jenis Menu Tidak tentu Menu dari RS
- Frekuensi 3-4x/hari 3x/hari
- Porsi 1 piring 1 piring
- Pantangan - -
- Keluhan - -
B. Minum
- Jenis Minuman Es, minuman warung Air mineral
±2-3 gelas/hari
- Frekuensi ±600cc Tidak tentu
- Jumlah - -
- Pantangan - Minuman
berwarna
- Keluhan -

2 Eliminasi
A.BAK
- Frekuensi Tidak tentu Sering,
ditampung
dalam botol
ukuran 1500 ml.
- Jumlah ±1000cc ±2100 cc
- Warna Kuning Kuning Pekat
- Bau Khas Khas
- bercampur obat.
- Kesulitan Tidak nyaman
dengan edema
skrotum , tidak
terpasang DC.
B.BAB 1x/hari
-Frekuensi -
- Jumlah Khas -
- Warna - -
- Bau -
- Kesulitan
2 Istirahat Dan Tidur
A.Malam
- Berapa jam 9 jam tidak tentu
- Dari jam s.d jam 20.00-04.00 tidak tentu
- Kesukaran jam - berisik, panas
B.Siang 1 jam tidak tentu
- Berapa jam 14.00-15.00 tidak tentu
- Dari jam s.d - panas
- Kesukaran tidur
4 Personal Hygiene
A.Mandi
- Frekuensi 2x/hari 1x/hari
- Menggunakan Sabun Ya Tidak
- Frekuensi Gosok Gigi 2x/hari -
- Gangguan - Lemas
B.berpakaian 3x/hari 1x/hari
- Frekuensi Ganti Baju
5 Mobilitas dan aktivitas
- Aktifitas yang Berkumpul/ngobrol Tidur/istirahat
dilakukan - -
- Kesulitan

K. Pengkajian Fisik
1. Penampilan Umum
a. Wajah : Tampak ada bengkak disekitar mata dan
wajah (Tampak sembab)
b. Postur : Baik
c. Hygiene : Bersih
d. Perilaku : Baik
e. Kondisi Umum : Tampak lemah
f. Tingkat Kesadaran : Composmentis
g. GCS : E:4 V:5 M:6 = 15
2. Pengukuran pertumbuhan
Berat Badan (BB) : 29 Kg
Tinggi Badan (TB) : 124 cm
Lingkar Kepala (LK) :-
Lingkar Dada (LD) :-
Lingkar Abdomen (LA) : 20 cm
Lingkar Lengan Atas (LLA): -
Tricef Skin Fold (TSF) :-
Status gizi : IMT= 18,95 : Interpretasi ideal
3. Pengukuran Fisiologis
Suhu : 36, 6 °C
Nadi : 87 x/menit
Respirasi Rate : 24 x/menit
4. Pengkajian nyeri
Tidak didapatkan skala nyeri beraarti
5. Pengkajian resiko jatuh
Skala Humpty Dumpty: Score = 11 (risiko rendah)
6. Kulit
Kulit berwarna sawo matang, tidak ada lesi, turgore baik, CRT baik
<2 detik, ada pembengkakan di sekitar mata dan wajah, tidak ada
nyeri tekan.
7. Struktur aksesories
Rambut berwarna hitam kecoklatan, terdapat bulu halus disekitar
ekstremitas atas dan bawah, kuku tampak bersih, CRT baik <2 detik.
8. Nodus limfe
Tampak normal tidak ada pembengkakan, < 1 cm
9. Kepala
Kepala tampak simetris, tidak ada benjolan di kepala, ada
pembengkakan di sekitar mata dan wajah. Tidak ada nyeri tekan
10. Leher
Leher simetris, refleks menelan baik, tidak ada pembengkakan, tidak
ada nyeri tekan
11. Mata
Terdapat pembengkakan disekitar mata, letak kedua mata simetris,
tidak ada kelainan dibola mata, konjungtiva ananemis, sclera anikterik
12. Telinga
Telinga tampak simetris, lengkap, tidak ada kelainan, tidak ada
pengeluaran, tampak sedikit kotor.
13. Hidung
Hidung tampak simetris, kedua lubang hidung simetris, mancung,
tidak ada pengeluaran apapun dari hidung, tidak ada pernafasan
cuping hidung, tidak ada nyeri tekan pada hidung
14. Pipi dan dagu
Sekitar pipi tampak ada pembengkakan, kedua pipi simetris dan dagu
pula simetris tidak ada nyeri tekan
15. Mulut dan tenggorokan
Mulut berwarna merah kecoklatan, keadaan normal tidak ada kelainan
tampak utuh, tidak ada nyeri tekan, keadaan tenggorokan baik tidak
ada kelainan.
16. Dada
Dada tampak datar, kedua payudara dan aerola simetris, tidak ada lesi,
tidak ada pengeluaran apapun, tidak ada nyeri tekan saat dipalpasi,
tidak ada retraksi dada
17. Paru-paru
Bunyi nafas vesikuler tidak ada sesak maupun masalah, inspirasi dan
ekspirasi normal
18. Jantung
Bunyi jantung normal, regular, tidak ada bunyi jantung tambahan
19. Abdomen
Abdomen tampak datar, tidak ada distensi, tidak ada pembengkakakn,
bising usus 7 kali/menit, tidak ada nyeri tekan saat di palpasi pada
kuadran 1,2,3,4.
20. Genitalia
Tampak skrotum membengkak ± seukuran 2 kepalan telapak tangan
orang dewasa dengan bentuk oval, tampak mengkilat, tampak jelas
pembuluh darah perifer dan tidak terdapat rugae. Palpasi testis tidak
dilakukan.
20. Anus
Lubang anus ada, tidak ada hemoroid.
21. Punggung dan ekstremitas
a. Punggung
Punggung bidang, tidak ada lesi tidak ada kelainan apapun.
a. Ekstremitas
Atas
Kedua tangan simetris, tidak ada deformitas, tidak ada lesi
ataupun oedem, keadaan baik, terpasang infus D5 ½ Ns
Bawah
Kedua kaki simetris tidak ada oedem ataupun deformitas,
tidak ada nyeri tekan.
Nilai kekuatan otot: 5 4
5 5

L. Pemeriksaan Tumbuh Kembang


1. Kemandirian dalam bergaul (Personal Social)
Tahap pencapaian anak, sudah mampu berinteraksi sosial lebih luas
dengan teman dilingkungannya.
2. Motorik halus dan kasar adaptif
Anak mencapai perkembangannya berdasarkan usia 6-12 tahun
3. Kognitif dan Bahasa (J.Pieget)
Mampu menyelesaikan masalah konkrit, memahami hubungan seperti
ukuran, mengerti kanan dan kiri, sadar akan sudut pandang orang
4. Perkembangan psikoseksual (Sigmund Freud)
Masuk dalam fase laten (6-12 tahun), sesuai dengan perkembangan
psikoseksual sesuai usianya.
5. Perkembangan psikososial (Erickson) usia 6-12 tahun
Tugas pokok= Industri versus, inferioritas. An. HB mampu
menciptakan, mengembangkan, dan memanipulasi sesuatu.
6. Perkembangan Interpersonal (Jean Pieget)
Berinteraksi secara kooperatifl, mampu mengerjakan soal matematika
penjumlahan dan pengurangan.

M. Pemeriksaan Penunjang
No Hari, Jenis Hasil Nilai Normal Interpretasi
Tanggal Pemeriksaan (</>/N)
1. Rabu, 20- HEMATOLOGI
12-2017 Darah Rutin
Hemoglobin 9.6 10.8-15.6 <
Leokosit 9950 4500-13500 N
Trombosit 341 150-400 N
Eritrosit 3.54 4.1-5.3 <
Hematokrit 28.6 37-54 <
MCV 80.7 77-91 N
MCH 27.2 27-34 N
MCHC 33.7 32-36 N
RDW CV 12.3 11-16 N
KIMIA KLINIK N
UREUM 12.3 15-45 N
KREATININ 0.20 <1 N
ALBUMIN 2.94 3.5-4.4 <
SEKRESI DAN
EKSKRESI
URINE RUTIN
Makroskopis
Warna kuning kuning N
Kekeruhan keruh jernih
Mikroskopis
Eritrosit >50 0-1
Lekosit 5-6 <5
Epitel Negative Negative N
Silinder Negative Negative N
Kristal Negative Negative N

N. Informasi Tambahan/Pengobatan
7. Terapi yang diberikan
Tanggal Jenis Dosis Waktu Cara
pemberian
20-12- Cefotaxime 3x1 / 800mg / 8 jam IV
2017
20-12- Dexametasone 2x1 amp / 12 jam IV
2017
21-12- Lasix 2x20mg / 12 jam IV
2017
21-12- Terapi cairan 600cc/ hari IV
2017 D5 ½ Ns
O. Analisa Data Kasus

No Data-data Penyebab Masalah Masalah


(Subjektif-Objektif) Keperawatan
1. Ds: - Sindrom primer (idiopatik) Kelebihan
Do: volume cairan
Dinding kapiler glomerulus
- Klien tampak kehilangan muatan negatif
glikoprotein
lemah
- Terdapat edema Permeabilitas glomerulis
meningkat
di sekitar mata
dan wajah Kenaikan filtrasi plasma
protein
(Tampak
sembab) Albuminemia atau proteinuria
- Edema skrotum,
Hipoalbuminemia
tampak mengkilat
Penurunan tekanan onkotik
dan pembuluh
plasma intravaskuler
darah perifer
Transudasi cairan melalui
tampak jelas,
dinding pembuluh darah
tidak ada rugae keruang intersitial meningkat
- Hasil lab:
Edema
Albumin: <
normal= 2.94
Hematokrit <
normal= 28.6
Hemoglobin <
normal = 9.6

2. Ds : Sindrom nefrotik primer Ansietas


(idiopatik)
- Orang tua klien
mengatakan Dinding kapiler glomerulus
kehilangan muatan negatif
”Khawatir
glikoprotein
terhadap
Permeabilitas glomerulis
kondisi anak
meningkat
saya”.
Kenaikan filtrasi plasma
Do :
protein
- Orang tua klien
Albuminemia atau proteinuria
tampak cemas
- Wajah tampak Hipoalbuminemia
tegang
Penurunan tekanan onkotik
plasma intravaskuler

Transudasi cairan melalui


dinding pembuluh darah
keruang intersitial meningkat

Kelebihan volume intersitial

Edema orbital dan skrotum

Kondisi penyakit anak

Respon koping orang tua


maladaptif

Ansietas

P. Diagnosa Keperawatan
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme
regulasi
2. Ansietas berhubungan dengan ancaman pada status terkini

Q. Rencana Asuhan Keperawatan


No Diagnosa Perencanaan Implementasi
Keperawatan
Tujuan Intervensi Rasional

1. Kelebihan Setelah dilakukan tindakan 1. Manajemen Cairan - Mengetahui - Menimbang berat


volume cairan keperawatan 2 x 24 jam, - Timbang berat status nutrisi badan setiap hari
berhubungan diharapkan kelebihan volume badan setiap hari klien dalam - Mempertahankan
dengan cairan dapat dikurangi. Dengan - Pertahankan menentukan catatan intake dan
gangguan Kriteri hasil: catatan intake dan rencana output
mekanisme output tindakan - Memantau hasil
regulasi Indikator Saat Target - Pantau hasil selanjutnya laboratorium (cek
dengan ini laboratorium (cek - Mengetahui lab lengkap)
batasan Keseimbangan 3 4 lab lengkap) keseimbanga terhadap
karateristik intake dan terhadap kelebihan n intake kelebihan volume
klien tampak output cairan volume cairan output cairan cairan
lemah, edema dalam 24 jam - Hitung intake dan - Menghitung
periorbital Edema 2 4 output intake dan output
dan skrotum, Kelemahan 3 4 2. Edukasi Keluarga - Mengajarkan
perubahan - Ajarkan orangtua - Menambah orangtua klien
berat jenis klien tentang pengetahuan tentang penyebab
urin penyebab dan cara keluarga dan dan cara
mengatasi edema, klien mengatasi edema,
pembatasan diet, pembatasan diet,
penggunaan dosis, penggunaan dosis,
dan efek samping dan efek samping
obat cefotaxime, obat cefotaxime,
dexametasone dan dexametasone dan
lasix. lasix.
3. Colaboratif Activty - Membantu - Memberikan
- Terapi pemberian mengeluarka Terapi pemberian
medikasi lasix 2x n cairan di medikasi lasix 2x
20 mg dalam tubuh 20 mg
melalui - Mengubah posisi
saluran setiap 4 jam sekali
kemih

4. Aktivitas lain - Mengubah


- Ubah posisi setiap posisi dapat
4 jam sekali memberikan
kenyamanan
pada klien,
selain itu
dapat
mencegah
terjadinya
kontraktur.
2. Ansietas Setelah dilakukan tindakan 1. Berikan informasi - Menambah 1. Memberikan
berhubungan keperawatan selama 1 x 24 jam mengenai penyakit pengetahuan informasi
dengan diharapkan ansietas orang tua dan prognosis klien dan mengenai
ancaman klien berkurang. Dengan 2. Berikan jawaban wawasan penyakit dan
status terkini kriteria hasil: langsung dan jujur keluarga dan prognosis klien
dengan terhadap pertanyaan klien 2. Memberikan
batasan Indikator Saat Target orang tua klien jawaban langsung
karakteristik ini 3. Dorong orang tua klien - Untuk dan jujur terhadap
klien tampak Intensitas 3 5 untuk mengurangi pertanyaan orang
cemas, wajah ansietas mengekspresikan kecemasan tua klien
orang tua Menggunakan 2 5 perasaanya. yang 3. Mendorong orang
tampak cemas teknik 4. Jawab pertanyaan keluarga tua klien untuk
dan tegang relaksasi mengenai arahan lanjut klien alami mengekspresikan
untuk dan bantu dalam proses perasaanya.
meredakan pemenuhan kebutuhan 4. Menjawab
ansietas klien. pertanyaan
mengenai arahan
lanjut dan bantu
dalam proses
pemenuhan
kebutuhan klien.

R. Implementasi Keperawatan

No Tgl/waktu Diagnosa Keperawatan Implementasi Respon


1. 21-12-2017 Kelebihan volume cairan - Mempertahankan catatan intake S: Klien mengatakan, “lemas”
dan output
13.00 WIB berhubungan dengan O:
gangguan mekanisme - Klien tampak lemah
pengaturan. - S: 36, 6°C, N: 87 x/menit,
R: 24 x/menit
- Tampak pembengkakan di
area orbital dan skrotum.

14.00 WIB - Memantau hasil laboratorium (cek S: -


lab lengkap) terhadap kelebihan
O:
volume cairan
- Klien tampak terbaring
lemah
- Nilai Albumin < nilai
normal = 2.94
15.00 WIB - Mengajarkan orangtua klien S: Orang tua klien mengatakan,
tentang penyebab dan cara
“beberapa belum paham mengenai
mengatasi edema, pembatasan
diet, penggunaan dosis, dan efek pengobatan yang diberikan
samping obat cefotaxime,
kepada anak saya, dan kenapa bisa
dexametasone dan lasix.
bengkak”
O:
- Orang tua klien tampak
bingung

18.00 WIB - Berkolaborasi memberikan Terapi S: Klien mengatakan, “tidak


medikasi lasix 2x 20 mg melalui
sakit”
IV dengan tehnik aseptik
O:
- Klien tampak lemah
- Tampak pembengkakan di
daerah orbital dan skrotum.
21.00 WIB - Mengubah posisi setiap 4 jam S: -
sekali
O: Klien tampak tertidur pulas
22-12-2017 - Mempertahankan catatan intake - S: Klien mengatakan, “tidak nafsu
dan output
08.00 WIB makan”
O:
- Klien tampak lemah
- S: 36, 2°C, N: 84 x/menit,
R: 22 x/menit
- Tampak pembengkakan di
area orbital dan skrotum
mulai berkurang.

09.00 WIB - Berkolaborasi memberikan Terapi S: Klien mengatakan, “tidak


medikasi lasix 2x 20 mg melalui
sakit”
IV dengan tehnik aseptik
O:
- Klien tampak lemah
- Tampak pembengkakan di
daerah orbital dan skrotum
mulai berkurang.
13.00 WIB - Mengubah posisi setiap 4 jam S: -
sekali
O:
- Klien tampak lemah
- Tampak pembengkakan di
daerah orbital dan skrotum
mulai berkurang.
Tanggal 23-12-2017 - Mempertahankan catatan intake S: Orang tua klien mengatakan, “
dan output
14.00 WIB bengkak di wajah sudah
berkurang dan bengkak di
skrotum mulai mengecil”.
O:
- Klien tampak lemah
- S: 36, 4°C, N: 84 x/menit,
R: 22 x/menit
- Tampak pembengkakan di
area orbital dan skrotum
mulai berkurang.

15.00 WIB - Mengajarkan orangtua klien S: Orang tua klien mengatakan,


tentang penyebab dan cara
“sudah memahami tentang
mengatasi edema, pembatasan
diet, penggunaan dosis, dan efek penggunaan obat lasix dan efek
samping obat lasix.
sampingnya”
O:
- Orang tua klien tampak
antusias dalam menanggapi
pertanyaan dan penjelasaan
perawat dan dokter
- Orang tua klien kooperatif

18.00 WIB - Berkolaborasi memberikan Terapi S: -


medikasi lasix 2x 20 mg melalui
O:
IV dengan tehnik aseptik
- Klien tampak lemah
- Tampak pembengkakan di
daerah orbital mulai tidak
adak dan skrotum mulai
mengecil.
21.00 WIB - Mengubah posisi setiap 4 jam S: Klien mengatakan, “nyaman”
sekali
O:
- Klien tampak masih lemas
- Klien mampu untuk
mengungkapkan
perasaannya
- Klien kooperatif
2. 22-12-2017 Ansietas berhubungan - Memberikan informasi mengenai S: Orang tua klien mengatakan,
dengan kondisi penyakit penyakit dan prognosis klien.
08.00 WIB “saya khawatir dengan kondisi
anak dengan batasan
karakteristik klien anak saya”
tampak cemas, wajah
O:
orang tua tampak cemas
dan tegang - Ekspresi wajah tampak
tegang
14.00 WIB - Memberikan jawaban langsung S: Orang tua klien mengatakan,
dan jujur terhadap pertanyaan
“saya khawatir dengan kondisi
orang tua klien
anak saya”
O:
- Ekspresi wajah tampak
tegang
- Klien tampak mengikuti
dan memperhatikan setiap
penjelasan perawat

21.00 WIB - Mendorong orang tua klien untuk S: Orang tua klien mengatakan,
mengekspresikan perasaanya.
“saya khawatir dengan kondisi
anak saya”
O:
- Ekspresi wajah tampak
tegang
- Klien tampak mengikuti
dan memperhatikan setiap
penjelasan perawat
- Klien mampu
mengungkapkan
persaannya terhadap
perawat

08.00 WIB - Menjawab pertanyaan mengenai S: Orang tua klien mengatakan,


arahan lanjut dan bantu dalam
“saya khawatir dengan kondisi
proses pemenuhan kebutuhan
klien anak saya”
O:
- Ekspresi wajah tampak
tegang sudah berkurang
- Klien tampak mengikuti
dan memperhatikan setiap
penjelasan perawat
- Klien mampu
mengungkapkan
persaannya terhadap
perawat
S. Catatan Perkembangan

No Tanggal Diagnosa Evaluasi Paraf


Keperawatan Dan
Nama Jelas
1. 23 Kelebihan S: Orang tua klien mengatakan, “ bengkak di wajah sudah
Desember volume cairan berkurang dan bengkak di skrotum mulai mengecil”.
2017 berhubungan O:
dengan - Klien tampak lemah
gangguan - S: 36, 4°C, N: 84 x/menit, R: 22 x/menit
mekanisme - Tampak pembengkakan di area orbital dan skrotum mulai
pengaturan berkurang.
A: Masalah teratasi sesuai target
P: Lanjutkan intervensi
- Pertahankan intake dan output
- Pantau intak dan output
- Observasi area edema
- Kolaboratif terapi medikasi lasi 2 x 20 mg
- Ubah posisi klien setiap 4 jam sekali
- Cek lab post medikasi lasix
- Beri edukasi keluarga klien
- Kolaboratif asupan nutrisi klien
I: - Memertahankan intake dan output
- Memonitoring intak dan output
- Mengbservasi area edema
- Berkolaboratif terapi medikasi lasi 2 x 20 mg
- Mengubah posisi klien setiap 4 jam sekali
- Mengecek lab post medikasi lasix
- Memberikan edukasi keluarga klien
- Berkolaboratif asupan nutrisi klien
E: Tanggal 24-02-2017
- S: Orang tua klien mengatakan, “ bengkak di wajah sudah
berkurang dan bengkak di skrotum mulai mengecil”.
- O:
KU: Composmentis, klien tampak baik. S: 36, 4°C, N: 86
x/menit, R: 20 x/menit. Tampak pembengkakan di area
orbital tidak ada dan skrotum mulai mengecil.
R:
Tidak ada perubahan atau modikasi intervensi

2. 22 Ansietas S: Orang tua klien mengatakan, “setelah saya tahu penjelasaannya,


Desember berhubungan khawatir saya berkurang”
O:
2017 dengan kondisi
- Ekspresi wajah tampak tegang sudah berkurang
penyakit anak - Klien tampak mengikuti dan memperhatikan setiap
penjelasan perawat
- Klien mampu mengungkapkan persaannya terhadap perawat
A: Masalah teratasi sesuai target
P: Hentikan intervensi
I: -
E:-
R: -
BAB IV
ANALISIS JURNAL

Terapi Komplementer dan Modalitas Berdasarkan Update Evidence Based


Practice
Intervensi yang diterapkan:
Penyesuaian asupan cairan oral
Update Evidence Based Practice yang digunakan:
A. Judul Jurnal
“Adjustment Oral Fluids Intake on Decreasing Edema Among
Children with Nephrotic Syndrome”

B. Tahun
2013

C. Peneliti
1. Basma R. Abdel Sadek
2. Hewida A. Hussein

D. Analisis Jurnal
1.

Berdasarkan Standar Dasar E-Journal Peraturan Direktur Jenderal


Pendidikan Tinggi Kemdikbud No. 1 Tahun 2014, terkait
persyaratan terbitan jurnal berkala ilmiah; jurnal tersebut telah
memenuhi syarat yaitu memiliki ISSN dengan nomor ISSN 1817-
3055. ISSN adalah International Standard Serial Number-
ISSN (Nomor Seri Standar Internasional) sebuah nomor unik
yang digunakan untuk identifikasi publikasi berkala media cetak
ataupun elektronik.
2.

Berdasarkan Standar Dasar E-Journal Peraturan Direktur Jenderal


Pendidikan Tinggi Kemdikbud No. 1 Tahun 2014, terkait
persyaratan terbitan jurnal berkala ilmiah; jurnal tersebut telah
mencantumkan persyaratan etika publikasi (publication ethics
statement) berupa Volume, Issue, dan tahun terbit sebagai jurnal
terbitan berkala ilmiah.

3.

Berdasarkan Standar Dasar E-Journal Peraturan Direktur Jenderal


Pendidikan Tinggi Kemdikbud No. 1 Tahun 2014, jurnal telah
mencantumkan kelembagaan penerbit beserta alamatnnya,
sehingga memudahkan korespondensi dalam menilai kelayakan
jurnal ilmiah.
4.

Berdasarkan Standar Dasar E-Journal Peraturan Direktur Jenderal


Pendidikan Tinggi Kemdikbud No. 1 Tahun 2014, jurnal tersebut
telah terdaftar DOI melalui cross reff (cross reff adalah bagian dari
terregristasinya jurnal secara legal dan ilmiah dalam lembaga (The
International DOI Foundation). Digital Object Identifier (DOI)
adalah alamat unik yang bersifat permanen. Berbeda dengan ISSN
yang memberikan identitas unik bagi tiap jurnal.

5.
Terkait judul jurnal berdasarkan Standar Dasar E-Journal
Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdikbud No. 1
Tahun 2014 dalam indikator gaya penulisan dalam unsur
keefektifan judul, judul tersebut lugas dan informatif artinya judul
menggunakan makna yang sesungguhnya dan bersifat memberikan
informasi sehingga mampu memberikan kesan baca yang baik.

6.

Terkait abstrak jurnal berdasarkan Standar Dasar E-Journal


Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdikbud No. 1
Tahun 2014 dalam indikator gaya penulisan unsur abstrak, abstrak
jelas dan ringkas, sehingga dari melihat abstraknya saja, maksud
dari jurnal tersebut sudah dapat diketahui.

7.

Terkait kata kunci jurnal berdasarkan Standar Dasar E-Journal


Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdikbud No. 1
Tahun 2014 dalam indikator gaya penulisan unsur kata kunci, kata
kunci jurnal tersebut konsisten dan mencerminkan konsep penting
dalam isi jurnal.
8.

Terkait cara penyusunan daftar pustaka jurnal, berdasarkan Standar


Dasar E-Journal Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi
Kemdikbud No. 1 Tahun 2014 dalam indikator gaya penulisan
unsur cara penyusunan daftar pustaka. Cara penyusunan daftar
pustaka jurnal tersebut adalah konsisten dan menggunakan aplikasi
pengutipan standar dengan format Harvad-APA (American
Psychological Association) untuk daftar pustaka, terutama
penulisan ilmiah atau penelitian.

Kaitannya dengan Problem dan Prosedur Intervensi:


Sindrom nefrotik (NS) adalah sekelompok tanda-tanda dan gejala
seperti rendah darah protein, proteinuria dan umum edema.
Sindrom nefrotik adalah gangguan terutama pada pediatrik dan 15
kali lebih umum pada anak-anak daripada orang dewasa. NS
mempengaruhi 16 100.000 anak-anak di seluruh dunia/tahun,
membuat kondisi ini salah satu penyakit ginjal anak yang umum
dan rasio laki-laki untuk perempuan adalah sekitar 2:1 selama
masa kanak-kanak. Sindrom nefrotik ini dikaitkan dengan tingkat
kambuh yang tinggi. Jenis yang paling umum dari sindrom nefrotik
pada anak-anak ini disebut Sindrom nefrotik idiopatik (in) yang
mewakili 90% kasus dibawah 10 tahun dan 10% diatas usia 10
tahun.
Penelitian ini dilakukan di ruang kedokteran di New Educational
Specialized Pediatric Hospital, (NESPHCU), Cairo University and
El-Moneera Educational Pediatric Hospital. Dua Rumah sakit ini
menyediakan pengobatan gratis dan merawat semua penyakit dan
anak-anak di seluruh daerah Mesir. Sampel pada penelitian ini
berjumlah 50 anak-anak dengan NS yang dimasukkan dalam
kriteria inklusi sebagai berikut :
a. Umur antara 6-12 tahun
b. Sepenuhnya sadar dan tidak ada kerusakan kognitif.
c. Pertama kalinya untuk dapat didiagnosis dengan NS.
d. Telah ada diagnosa medis lain daripada NS.
e. Semua anak di bawah protokol yang sama terapi NS
(misalnya presinsone, Lasix).
Anak-anak usia sekolah (50) dibagi merata dan secara acak
menjadi 2 kelompok (25 anak usia sekolah di kelompok
studi) dan 25 anak-anak usia sekolah di kelompok kontrol.
Pada tahap pelaksanaan dibagi menjadi 2 sesi, dilakukan
dalam satu jam di hari yang sama serta mengumpulkan data
sosial demografi yang dilakukan setelah istirahat sekitar 10-
15 menit.
Sesi pertama (setengah jam): tujuan dari sesi ini adalah
untuk membuat kontrak kerja yang akan dimulai. Selama sesi
ini penilaian pra-program dilakukan untuk menilai
pengetahuan anak tentang NS dan perawatan.
Sesi kedua: (Setengah jam): tujuan dari sesi ini adalah untuk
memberitahukan kepada anak-anak usia sekolah tentang
definisi, penyebab, gejala dan pengelolaan NS. Setelah
menyelesaikan kesehatan mengajar sesi penelitian penyelidik
meminta setiap anak dalam kelompok penelitian untuk
merekam jumlah urin output akurat selama 24 jam dan
diminta untuk mengambil atau minum jumlah cairan oral
yang sama di hari berikutnya, hal ini dilakukan untuk 5
berturut-turut hari.
Tahap ketiga (tahap tindak lanjut): para peneliti
menginvestigasi setiap anak setiap hari selama 5 hari untuk
memantau dan mencatat setiap asupan cairan, urin output dan
berat badan.
Tahap keempat (tahap evaluasi): Sebelum diperbolehkan
pulang dari rumah sakit, peneliti mengevaluasi pengetahuan
tentang NS pada setiap anak
Langkah prosedur yang sama telah dilakukan untuk anak-
anak dalam kelompok-kelompok studi dan kontrol
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan studi kasus sindrom nefrotik tersebut masuk dalam
klasifikasi sindrom nefrotik primer (idopatik) yang berhubungan dengan
kelainan primer glomerulus dengan sebab tidak diketahui. Pada kasus An.
HB mengalami edema oribtal dan skrotum ditandai dengan hasil
laboratorium hipoalbuminemia dan belum diketahuinya nilai protein dari
hasil laboratorium sebagai data penunjang. Pemberian asuhan keperawatan
yang telah dilakukan selama 3 x 24 jam pada An. HB telah memenuhi hasil
dari tujuan target pencapaian perawat sesuai dengan rencana asuhan
keperawatan yang dibuat mencakup dua diagnosa keperawatan yang muncul
sebagai diagnosa keperawatan prioritas dan aktual. Dalam penerapan
intervensi dikembangkan dengan evidence based practice yaitu penerapan
penyesuain asupan cairan oral sebagai salah satu menurunkan edema pada
anak dengan sindrom nefrotik.

B. Saran
1. Bagi Pelayanan Keperawatan
Diharapkan dapat dibuat suatu program tatalaksana keperawatan yang
sistemastis untuk klien dengan sindrom nefrotik berupa edukasi
terhadap orang tua klien dan program terapi komplementer dan
modalitas.
2. Bagi Mahasiswa Keperawatan
Diharapkan dapat membuat kajian ilmiah terhadap terapi yang dapat
diterapkan pada klien dengan sindrom nefrotik dengan berdasarkan
penelitian ilmiah sehingga dapat mengembangkan keilmuan
keperawatan khusunya keperawatan anak yaitu terapi terbaru untuk
sindrom nefrotik.
DAFTAR PUSTAKA

Basma R. Abdel Sadek, Hewida A. Hussein, (2013). “Adjustment Oral


Fluids Intake on Decreasing Edema Among Children with Nephrotic
Syndrome”. World Journal of Medical Sciences 8 (4): 408-417, 2013
ISSN 1817-3055. DOI: 10.5829/idosi.wjms.2013.8.4.75105. Diakses
tanggal 24 Desember 2017.

Behrman, R.E. MD (2009). Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Volume 3 Edisi


15. Jakarta: EGC.

Betz, Cecily Lynn. (2009). Buku Saku Keperawatan Pediatri. Edisi 5.


Jakarta: EGC.

Hidayat, A. Aziz Alimul. (2008). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak.


Jakarta: Salemba Medika.

Kharisma, (2017). Tinjauan Umum Penyakit Sindrom Nefrotik. Fakultas


Kedokteran: Universitas Islam Bandung.

Ngastiyah. (2009). Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam. Edisi I. Jakarta:


EGC.

Trihono (2012). Konsensus Tatalaksana Sindrom Nefrotik Pada Anak.


Ikatan Dokter Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai