Anda di halaman 1dari 8

Manajemen Perpajakan

Rangkuman Sesi XI
Tax Planning dan Pengendalian atas Pajak Pertambahan Nilai

Disusun oleh :

Ade Meissyta Nurhijjah S (17/414037/EE/07202)


Mutiara Dalila Bakkah (17/414059/EE/07224)
Veronika Narendra Novelita (17/414076/EE/07241)

Program Pendidikan Profesi Akuntansi


Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Gajah Mada Yogyakarta
2018
Tax Planning dan Pengendalian atas Pajak Pertambahan Nilai

A. Kapan Seharusnya Mendaftar Sebagai PKP?


Pengusaha Kena Pajak (PKP) adalah Pengusaha yang melakukan penyerahan
Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenai pajak berdasarkan
Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (UU PPN) 1983 dan perubahannya, Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 73/PMK.03/2012 tidak termasuk Pengusaha Kecil yang
batasannya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 197/PMK.03/2013
tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.03/2010, tentang
batasan Pengusaha Kecil Pajak Pertambahan Nilai yang merubah batasan Rp 600 juta untuk
wajib dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak menjadi Rp 4,8 milyar, kecuali Pengusaha
Kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
Pengusaha yang dikenai PPN, wajib melaporkan usahanya pada KPP yang wilayah
kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha dan tempat kegiatan
usaha dilakukan untuk dikukuhkan menjadi PKP. Pengusaha orang pribadi atau badan yang
mempunyai tempat kegiatan usaha berbeda dengan tempat tinggal, wajib melaporkan
usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat
tinggal atau tempat kedudukan, juga wajib mendaftarkan diri ke KPP di tempat kegiatan
usaha dilakukan.
Pengusaha kecil yang memlilih untuk dikukuhkan sebagai PKP wajib mengajukan
pernyataan tertulis untuk dikukuhkan sebagai PKP. Pengusaha kecil yang tidak memilih
untuk dikukuhkan sebagai PKP tetapi sampai dengan suatu masa pajak dalam suatu tahun
buku seluruh nilai peredaran bruto telah melampaui batasan yang ditentukan sebagai
pengusaha kecil, wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP paling lambat
akhir masa pajak berikutnya.

B. Pengendalian atas Faktur Pajak Keluaran Maupun Faktur Pajak Masukan agar
Memenuhi Syarat Formal dan Material
Faktur pajak adalah bukti pemungutan pajak. Agar faktur pajak dapat berfungsi
sebagai bagian dari mekanisme pengkreditan Pajak Masukan dengan Pajak Keluaran,
faktur pajak harus memenuhi dua persyaratan yaitu persyaratan formal dan persyaratan
material sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 Pasal 13 ayat
(9) UU PPN yang berbunyi: ”Faktur Pajak harus memenuhi persyaratan formal dan
material”.
1. Persyaratan Formal
Berdasarkan penjelasan Pasal 13 ayat (9), faktur pajak dikatakan telah
memenuhi persyaratan formal apabila diisi lengkap, jelas, dan benar sesuai dengan
persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat Pasal 13 ayat (5) yaitu faktur pajak
harus mencantumkan keterangan tentang penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau
penyerahan Jasa Kena Pajak yang paling sedikit memuat:
a. Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak yang menyerahkan Barang Kena
Pajak atau Jasa Kena Pajak;
b. Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena Pajak atau
penerima Jasa Kena Pajak;
c. Jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau Penggantian, dan potongan harga;
d. Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut;
e. Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut;
f. Kode, nomor seri, dan tanggal pembuatan Faktur Pajak; dan
g. Nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak.
Persyaratan formal dari faktur pajak diatas wajib dipenuhi oleh Pengusaha
Kena Pajak yang menjual BKP/JKP karena apabila tidak dipenuhi, Faktur Pajak yang
diterbitkan dianggap cacat sehingga tidak dapat dijadikan Pajak Masukan oleh
Pengusaha Kena Pajak yang menjadi lawan transaksinya (oleh PKP pembeli).
2. Persyaratan Material
Persyaratan material dari faktur pajak telah terpenuhi apabila keterangan yang
tercantum dalam faktur pajak jelas dan sesuai dengan kejadian transaksi yang
sebenarnya dari BKP atau JKP yang diperjualbelikan.
Faktur pajak atau dokumen tertentu yang kedudukannya dipersamakan dengan
faktur pajak memenuhi persyaratan material apabila berisi keterangan yang sebenarnya
atau sesungguhnya mengenai:
a. Penyerahan BKP dan/atau JKP
b. Ekspor BKP Berwujud
c. Ekspor BKP Tidak Berwujud
d. Ekspor JKP
e. Impor BKP
f. Pemanfaatan JKP dan pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean
di dalam Daerah Pabean
Berdasarkan Pasal 9 ayat (8) UU PPN pengkreditan Pajak Masukan
sebagaimana tidak dapat diberlakukan bagi pengeluaran untuk:
a. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak sebelum Pengusaha
dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak;
b. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang tidak mempunyai
hubungan langsung dengan kegiatan usaha;
c. Perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor berupa sedan dan station wagon,
kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan;
d. Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena
Pajak dari luar Daerah Pabean sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha
Kena Pajak;
e. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Faktur Pajaknya tidak
memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) atau ayat (9)
atau tidak mencantumkan nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli
Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak;
f. Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena
Pajak dari luar Daerah Pabean yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6);
g. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya
ditagih dengan penerbitan ketetapan pajak;
h. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya tidak
dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai, yang
ditemukan pada waktu dilakukan pemeriksaan; dan
i. Perolehan Barang Kena Pajak selain barang modal atau Jasa Kena Pajak sebelum
Pengusaha Kena Pajak berproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2a).
Jangka Waktu pengkreditan Pajak Masukan berdasarkan Pasal 9 ayat (9)
adalah ”Pajak Masukan yang dapat dikreditkan, tetapi belum dikreditkan dengan Pajak
Keluaran pada Masa Pajak yang sama, dapat dikreditkan pada Masa Pajak berikutnya
paling lama 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya Masa Pajak yang bersangkutan
sepanjang belum dibebankan sebagai biaya dan belum dilakukan pemeriksaan.”

C. Tax Planning Pemilihan Tempat Pajak Terutang


Dengan diberlakukannya kebijakan atas transaksi penyerahan barang kena pajak
dari kantor pusat ke cabang atau sebaliknya sebagai penyerahan yang terutang PPN, akan
menimbulkan cost of compliance bagi PKP yang bersangkutan. Cost of compliance dapat
berupa beban administrasi bagi PKP dimana PKP tersebut harus mengurus pendaftaran
sebagai PKP bagi cabang-cabangnya, mengurus pelaporan pajaknya setiap bulannya,
membuat faktur pajak dan menghadapi pemeriksaan pajak dan lain sebaginya. Bila PKP
lalai dalam menjalankan kewajiban perpajakan, misalnya tidak membuat atau terlambat
dalam membuat faktur pajak atas transaksi penyerahan barang kena pajak dari kantor
pusat ke cabang akan berdampak pada sanksi perpajakan. Sanksi perpajakan tersebut
seharusnya memang tidak semestinya ada, manakala penyerahan barang kena pajak dari
kantor pusat ke cabang atau sebaliknya tidak dijadikan sebagai objek PPN. Namun, oleh
karena kelalaian atau ketidaktahuan PKP, menyebabkan sesuatu yang tadinya beban
pajaknya kecil atau mungkin tidak ada, malah ada atau bahkan menjadi lebih besar.
Di sisi lain tentu saja kebijakan tersebut tidak sejalan dengan salah satu prinsip
pemungutan pajak yaitu ease of administration. Betapa tidak, PKP harus membuat faktur
pajak.Betapa tidak, PKP harus membuat faktur pajak atas transaksi penyerahan barang
kena pajak di lingkungan internal PKP sendiri.Setelah faktur pajak dibuat, PKP
disibukkan lagi dengan pelaporan pajaknya. Administrasi yang sulit akan cenderung
mendorong PKP menghindari kewajiban perpajakannya. Prinsip kemudahan administrasi
juga merupakan hasil reformasi perpajakan nasional. Disamping tidak sejalan dengan
prinsip ease of administration, kebijakan pengenaan PPn antar cabangpun kurang selaras
dengan karakter PPN, yaitu netral dalam kegiatan ekonomi.Netral dalam arti bahwa
pengenaan PPN terhadap suatu barang atau jasa semata-mata untuk kepentingan aktivitas
ekonomi, bukan atas pertimbangan politik misalnya.Belum lagi bila dikaitkan dengan
prinsip akuntansi yang berlaku adalah tidak dibenarkan apabila dalam satu entitas
melakukan kegiatan transaksi.
Kebijakan penyerahan barang kena pajak dari kantor pusat ke cabang atau
sebaliknya, tentu tidak lepas dari kebijakan pemusatan PPN. Untuk mengimbangi
kebijakan tersebut di atas, diatur dalam pasal 1A ayat 2c UU PPN yaitu bagi PKP yang
telah mendapat ijin pemusatan PPN terutang, maka penyerahan barang kena pajak dari
kantor pusat ke cabang atau sebaliknya bukan merupakan objek pajak.

D. Strategi Menghadapi Temuan Pemeriksa Tentang Konfirmasi PPN Yang


Dinyatakan ”Tidak Ada”
Pada butir 1.4.1.3.dalam penjelasan Lampiran I KEP-754/PJ./2001 ditegaskan
bahwa apabila jawaban klarifikasi dari KPP tempat PKP dikukuhkan menyatakan:
1. “Ada dan Sesuai” dengan penjelasan bahwa faktur pajak tersebut belum direkam KPP
domisili PKP penjual atau faktur pajak tersebut terlambat dilaporkan oleh PKP
penjual, maka faktur pajak tersebut dapat diperhitungkan sebagai Pajak Masukan yang
dapat dikreditkan;
2. “Tidak Ada” dengan penjelasan bahwa faktur pajak tersebut belum dilaporkan oleh
PKP penjual dan KPP domisili PKP penjual telah menerbitkan SKP-KB atau SKP-
KBT atas faktur pajak yang belum dilaporkan tersebut, maka faktur pajak tersebut
dapat diperhitungkan sebagai Pajak Masukan yang dapat dikreditkan;
3. “Tidak Ada” dengan penjelasan bahwa faktur pajak tersebut tidak sah karena
pengusaha yang menerbitkan belum dikukuhkan sebagai PKP, atau PKP penjual tidak
pernah melakukan penyerahan BKP/JKP kepada PKP pembeli yang bersangkutan,
maka faktur pajak tersebut tidak dapat diperhitungkan sebagai Pajak Masukan yang
dapat dikreditkan; dan
4. Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal dikirimkan jawaban
klarifikasi belum/tidak diterima dan apabila berdasarkan hasil pengujian arus barang
dan atau arus uang dapat dibuktikan bahwa faktur pajak tersebut sah adanya, maka
faktur pajak yang dimintakan klarifikasi tersebut dapat diperhitungkan sebagai Pajak
Masukan yang dapat dikreditkan.
Strategi untuk menghadapi temuan dari pemeriksa pajak (fiscus) apabila kredit
pajak tidak dapat dikonfirmasi, maka PKP harus melakukan rekonsiliasi secara rutin dan
memenuhi persyaratan baik formal maupun material guna memastikan bahwa faktur
pajak masukan yang diterima adalah valid dan dapat dikonfirmasi.

E. Rekonsiliasi DPP PPN dengan peredaran usaha dalam SPT PPh Badan
Rekonsiliasi atau ekualisasi PPN adalah proses pencocokan antara data di SPM
PPN dengan SPT Tahunan Perusahaan. Idealnya rekonsiliasi atas PPN dilakukan setiap
bulan, tetapi rekonsiliasi di akhir tahun juga menjadi sesuatu yang penting karena terkait
dengan pengakuan pendapatan di SPT Badan 1771. Kondisi yang menimbulkan
perbedaan antara pengakuan pendapatan perusahaan menurut SPT Tahunan PPh Badan
dengan nilai penyerahan menurut SPM PPN antara lain:
1. Karakteristik transaksi
2. Peraturan yang berlaku memang mengakibatkan timbulnya perbedaan.
Perbedaan-perbedaan nilai peredaran usaha menurut SPT Tahunan PPh Badan
dan SPT Masa PPN yang mungkin timbul disebabkan oleh:
1. Terdapat Objek PPN yang tidak tercatat dalam akun penjualan
Tidak semua transaksi penyerahan barang atau jasa yang dilakukan oleh PKP
dapat dicatat dalam akun penjualan seperti penjualan aktiva tetap bekas (Pasal 16D),
pemakaian sendiri, pemberian cuma-cuma, dan lain-lain.
2. Terdapat perbedaan kurs yang dipakai dalam mencatat penjualan di laporan keuangan
dengan pembuatan faktur pajak.
Kurs valuta asing yang digunakan untuk mengakui penjualan disesuaikan
dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia (PSAK). Berdasarkan
PSAK Nomor 10 diatur bahwa setiap transaksi dalam mata uang asing dibukukan
dengan menggunakan kurs pada saat terjadinya transaksi. Namun, dalam praktek di
lapangan kurs yang dipakai tidak selalu menggunakan kurs transaksi. Kadangkala
Wajib Pajak menggunakan kurs rata-rata dalam seminggu atau sebulan, menggunakan
kurs tengah Bank Indonesia, dan lain-lain. Sedangkan dalam membuat faktur pajak,
penyerahan BKP atau JKP yang menggunakan mata uang asing, harus menggunakan
kurs Menteri Keuangan yang berlaku pada saat pembuatan Faktur Pajak.
3. Pemberian cash discount
Pada umumnya PKP penjual sering memberikan diskon tambahan apabila
pembeli dapat membayar lebih cepat dari tanggal jatuh tempo atau syarat pembayaran
yang telah disepakati sebelumnya. Diskon tambahan ini disebut dengan cash discount.
Cash discount tidak mengurangi Dasar Pengenaan Pajak yang tercantum dalam faktur
pajak, sehingga dapat dipastikan ketika pembeli memanfaatkan cash discount tersebut
maka omset yang tercantum di SPT Masa PPN akan lebih besar daripada omset yang
dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh Badan.
4. Adanya kesalahan tulis atau hitung
Perbedaan omset menurut PPh dan PPN juga dapat timbul atas kesalahan tulis
atau kesalahan hitungdalam pembuatan faktur pajak atau pengisian SPT Masa PPN.
Ada baiknya pekerjaan rekonsiliasi atau ekualisasi PPN ini dilakukan secara rutin tiap
bulannya, karena apabila timbul perbedaan akan jauh lebih mudah ditelusuri. Apabila
ternyata perbedaan timbul karena salah hitung, maka dapat langsung diambil tindakan
antisipasi untuk memperbaiki kesalahan tersebut.
Untuk melakukan rekonsiliasi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) caranya sangat
mudah dan sederhana, yaitu dengan mengambil angka penjualan kemudian dikalikan
10%. Apabila sudah didapat nilai penjualan dan PPN keluarannya serta nilai pembelian
dan PPN masukannya, maka tinggal cross check dengan yang sudah dilaporkan dalam
Surat Pemberitahuan Masa (SPM) PPN setiap bulannya. Apabila masih ada yang
tertinggal belum dilaporkan, kalau itu ada pada sisi PPN keluaran maka harus segera
dilakukan pembetulan SPM dan dibayar kekurangan pajaknya. Meskipun hal ini tetap
menjadi exposure (potensi kena denda). Namun apabila ditemukan faktur pajak masukan
yang belum dilaporkan sebagai PPN masukan, maka pilihannya adalah melakukan
pembetulan SPM atau membiarkannya dengan tidak mengkreditkan dalam SPM dan
pembukuan accounting akan mencatat sebagai beban tambahan.

Sumber:
UU Nomor 42 Tahun 2009
http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&page=show&id=13964
http://www.jdih.kemenkeu.go.id/#/home
https://dahusna.wordpress.com/2010/05/10/syarat-formal-dan-material-faktur-pajak-ppn/
https://www.e-akuntansi.com/2015/11/pengendalian-atas-faktur-pajak-keluaran.html
https://www.e-akuntansi.com/2015/11/rekonsiliasi-dpp-ppn-dengan-peredaran.html
https://taxq.wordpress.com/2018/01/15/rekonsilasi-peredaran-usaha-menurut-laporan-
keuangan-spt-pph-badan-vs-spt-masa-ppn/