Anda di halaman 1dari 9

Journal Reading

Cataract Surgery in Uveitis: A Multicentre Database Study.


British Journal of Ophthalmology
Chu, C. J., Dick, A. D., Johnston, R. L., Yang, Y. C., Denniston, A. K., & UK Pseudophakic
Macular Edema Study Group

Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Dalam Menjalani Kepaniteraan Klinik Senior
pada Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Mata RSUDZA/FK Unsyiah
Banda Aceh

Oleh:

THARIQ MUBARAK NIM. 1507101030236


MUHAMMAD FATHUN NIM. 1507101030072

Pembimbing:

dr. Saiful Basri, Sp.M

BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
RSUD Dr. ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH
2018
ABSTRAK

Latar Belakang
Katarak merupakan salah satu penyebab utama kebutaan pada pasien dengan
uveitis. Sejauh ini belum banyak penelitian yang menjelaskan gambaran hasil
operasi katarak pada pasien dengan uveitis, termasuk keuntungan dan kerugian
pada tindakan operasi tersebut. Penelitian ini akan menggambarkan hasil operasi
katarak pada pasien uveitis yang disajikan dalam bentuk penelitian cohort.

Metode
Penelitian ini menggunakan data yang diperoleh melalui rekam medik elektronik
pada delapan rumah sakit yang melakukan operasi katarak yang tersebar di United
Kingdom (UK) dalam rentang bulan januari tahun 2010 sampai dengan bulan
desember tahun 2014. Terdapat 1173 kasus yang terdiagnosa sebagai katarak
dengan uveitis yang dibandingkan dengan 95573 kasus katarak tanpa uveitis pasca
tindakan operasi.

Hasil
Terdapat 1,2% kasus katarak dengan uveitis yang menjalani operasi. Kasus
katarak dengan uveitis memiliki visus yang buruk sebelum operasi, dimana usia
pasien lebih muda memiliki sumbu axis yang pendek dan memiliki tingkat
insidensi yang tinggi terhadap kejadian glaukoma. Pada sebagian besar pasien
katarak dengan uveitis juga diketahui beberapa hal diantaranya, memiliki pupil
yang kecil, memerlukan tambahan prosedur saat operasi, memiliki angka
komplikasi intraopertatif yang tinggi dan memiliki visus yang lebih buruk selama
enam bulan pasca operasi bila dibandingkan dengan pasien katarak tanpa uveitis.

Kesimpulan
Pada penelitian ini, katarak dengan uveitis yang menjalani tindakan operasi
sangat tergantung dengan jenis operasi, komorbid dan keadaan visus sebelum
operasi. Pada hasil penelitian ini didapatkan bahwa terdapat peningkatan visus
pada pasien katarak dengan uveitis yang menjalani tindakan operatif, namun
peningkatan visus tersebut tidak lebih baik jika dibandingkan dengan visus pasien
katarak tanpa uveitis yang menjalani tindakan operatif.
Pendahuluan
Katarak adalah salah satu penyebab terbanyak kebutaan pada pasien dengan
uveitis, yaitu mencapai 40% kasus. Tindakan operatif pada kasus katarak dengan
uveitis dianggap suatu manajemen yang efektif, namun tindakan tersebut
berkaitan dengan berbagai komplikasi yang mungkin terjadi. Selain itu, terdapat
beberapa data penelitian terhadap pasien katarak dengan uveitis yang menjalani
tindakan operatif yang menunjukan bahwa hasil operasi bergantung pada beberapa
faktor, diantaranya teknik operatif, ringan atau beratnya inflamasi yang terjadi dan
komplikasi yang meungkin timbul.
Penggunaan sistem electronic medical record (EMR) merupakan suatu cara
yang dapat dipakai untuk mendapatkan data yang terstandardisasi dalam skala
besar secara relevan. Dalam penelitian ini, EMR digunakan untuk mendapatkan
laporan database pasien katarak dengan uveitis yang menjakani tindakan operasi
di beberapa rumah sakit yang tersebar di United Kingdom (UK). Layanan
Kesehatan Nasional UK merupakan tempat yang dianggap ideal dalam penelitian
ini karena melayani lebih dari 90% populasi untuk operasi katarak dan telah
mengadopsi sistem EMR secara luas yang mewajibkan pengumpulan dataset
standar terinci yang dikembangkan oleh The Royal College of Ophthalmologists.
Kemampuan untuk mengumpulkan data dari berbagai layanan kesehatan
memungkinkan perkiraan tingkat komplikasi yang relatif tepat bahkan untuk
kondisi yang tidak umum seperti uveitis. Hal ini secara tidak langsug mendukung
dalam hal pengujian hipotesis, dimana penyakit-penyakit kompleks seperti uveitis
dapat menyebabkan banyak komplikasi yang mungkin timbul pada saat operasi
sehingga mempengaruhi hasil ketajaman visus dan idealnya menjadi faktor dalam
perkiraan risiko operasi.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan
ketajaman visus, risiko komplikasi intra-operatif dan pasca-operasi pada pasien
katarak dengan uveitis yang menjalani operasi katarak dan pasien katarak tanpa
uveitis yang juga menjalani tindakan operatif.
Metode
Penelitian ini dilakukan selama empat tahun, yaitu dalam rentang bulan
januari tahun 2010 sampai dengan bulan desember tahun 2014. Sampel penelitian
ini didapat dengan cara mengambil data pada delapan departemen/bagian
ophthalmologi di berbagai rumah sakit di Inggris yang menggunakan sistem EMR
dan menyediakan data klinis yang sesuai dengan standar nasional dataset yang
disetujui oleh The Royal College of Ophthalmologists. Penelitian ini sebelumnya
telah memenuhi etika penelitian yang telah disetujui dengan komite etik penelitian
di masing-masing Rumah Sakit tersebut.
Setelah indikasi/keputusan untuk tindakan operatif ditentukan oleh dokter
mata, semua data berupa penilaian pra-operasi, termasuk biometri
didokumetasikan/dicatat oleh perawat dengan standar yang telah ditetapkan.
Setelah itu, perawatan pasca-operasi rutin termasuk kunjungan/visite selama 4-6
minggu setelah operasi yang dilakukan oleh dokter spesialis mata dan juga
perawat spesialis mata. Mata yang diidentifikasi sebagai mata yang berisiko
tinggi, seperti uveitis, akan di-follow up lebih awal oleh dokter mata.
Selanjutnya pada penelitian ini akan disajikan beberapa data yang
berhubungan dengan penelitian ini, diantaranya data demografi, karakteristik
sampel penelitian. Data karakteristik yang dimaksud adalah data katakteristik data
preoperatif, intraoperatif dan pascaoperatif.
Data pada demografi dan karakteristik pra-operasi meliputi: usia, jenis
kelamin, lateralitas, ketajaman visus, tekanan intra-okular, status diabetes dan
derajat ETDRS jika relevan, penggunaan steroid intravitreal preoperatif,
penggunaan OAINS topikal preoperatif dan adanya glaukoma , trabeculektomi
dan komorbid lain yang sudah ada sebelumnya serta penggunaan analog
prostaglandin.
Data karakteristik intra-operatif diantaranya adalah ukuran pupil,
penggunaan manipulasi pupil, komplikasi intraoperatif, ruptur kapsuler dengan
atau tanpa kehilangan vitreous dan prosedur gabungan seperti vitrectomi pars
plana. Data karakteristi pasca operasi diantaranya, ketajaman visual, tekanan
intra-okular, penggunaan kortikosteroid intravitreal atau OAINS topikal, dan
edema makula cystoid.
Selanjutnya akan diklasifikasikan pasien katarak dengan atau tanpa uveitis.
Diagnosis uveitis ditegakan dengan menggunakan anamnesis, pemeriksaan fisik
dan juga dengan menggunakan pemeriksaan penunjang. Ketajaman visus pre-
operasi dan tekanan intraokular (TIO) terlebih dahulu dievaluasi. Jika data
tersebut tidak tercatat nilainya dalam 3 bulan sebelum operasi mata diekslusikan
dari penelitian ini. Ketajaman visus pascaoperasi dan TIO juga dinilai setiap
periode tertentu. Untuk mencegah adanya variabel comfounding berupa efek
penurunan visus oleh karena edema makula pada diabetes, mata pasien dengan
diabetes diekslusikan dari analisis penelitian ini.
Selanjutnya dilakukan uji perbandingan terhadap karakteristik pra, intra dan
pascaoperasi antara pasien katarak dengan uveitis yang menjalani tindakan
operatif (kelompok uveitik) dan yang tidak memiliki uveitis (kelompok referensi)
yang juga menjalani tindakan operatif. Perbandingan antara kelompok diuji untuk
secara statistik dengan menggunakan analisis Uji-T dengan metode Holm-Šídák
untuk beberapa perbandingan atau tes chi-square untuk independensi. Selanjutnya
dilakukan uji regresi linear.

Hasil
Data yang dikumpulkan dengan total 111.641 mata terdiri dari pasien
katarak yang menjalani operasi katarak antara Januari 2010 dan Desember 2014 di
8 rumah sakit yang tersebar di UK. Dari total data tersebut, diambil 1.173 kasus
diklasifikasikan ke dalam kelompok katarak dengan uveitis dan 95.573 mata
diklasifikasikan ke dalam kelompok referensi/ katarak tanpa non-uveitis.
Tabel 1 dan 2 menunjukkan karakteristik demografis, karakteristik mata
pra-operasi dan pasien. Kelompok uveitis memiliki usia yang lebih muda,
ketajaman penglihatan yang lebih buruk dan prevalensi lebih tinggi terhadap
insidensi glaukoma, riwayat trabeculektomi sebelumnya, riwayat penggunaan
analog prostaglandin topikal, pemberian kortikosteroid intravitreal, memiliki satu
atau lebih komorbid yang ada, panjang aksial yang lebih pendek dan miopia
derajat sedang.
Kelompok referensi/katarak non-uveitis dikaitkan dengan prevalensi
diabetes tipe 2 yang lebih besar dan degenerasi makula terkait usia. Tidak ada
perbedaan yang signifikan secara statistik antara kedua kelompok dalam hal
gender, lateralitas, penggunaan OAINS topikal pra-operasi, amblyopia, kelainan
kornea, katarak, riwayat ablasio retina, oklusi vena retina, penyakit saraf optik,
pseudoexfoliation, maculopathy dan retinopati
Tabel 3 dan 4 menunjukkan perbedaan dalam karakteristik intraoperatif dan
pascaoperasi antara kedua kelompok. Kelompok katarak dengan uveitis dikaitkan
dengan ukuran pupil yang lebih kecil, setelah operasi yang dilakukan oleh ahli
bedah konsultan, membutuhkan manipulasi tindakan bedah atau operasi gabungan
seperti vitrektomi pars plana secara elektif.
Kelompok katarak dengan uveitis memiliki ketajaman visus yang lebih
buruk di ketiga titik waktu pasca operasi 4 minggu, 4-12 minggu, 12-24 minggu,
dan TIO pasca operasi yang lebih tinggi pasca operasi. Hasil visus tersebut
digambarkan dalam tabel 4.

Pembahasan

Penelitian ini merupakan penelitian terbesar yang meneliti dan membahas


operasi katarak pada pasien dengan uveitis. Pada penelitian ini memberikan
laporan dan bukti yang jelas tentang beban penyakit, risiko tambahan komplikasi
dan hasil visus yang lebih buruk pada pasien katarak dengan keadaan uveitis.
Berdasarkan 96.746 kasus yang dianalisis dari delapan rumah sakit yang berbeda,
pasien katarak dengan uveitis diperoleh sekitar 1,2% dari semua kasus. Kelompok
ini memiliki usia yang lebih muda dan juga membutuhkan teknik pembedahan
tambahan serta perawatan yang secara signifikan berbeda dengan pasien katarak
tanpa uveitis yang menjalani tindakan operatif.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa operasi untuk katarak pada mata
dengan uveitis dikaitkan dengan peningkatan rata-rata ketajaman visus, namun
terdapat angka yang secara signifikan menunjukan terhadap kejadian komplikasi
intra-operatif dan pasca operasi. Jika dibandingkan kedua kelompok (katarak
dengan uveitis dan katarak tanpa uveitis) didapatkan visus akhir pada kelompok
katarak dengan uveitis lebih buruk daripada kelompok katarak tanpa uveitis.