Anda di halaman 1dari 5

Jurnal

Lahan Suboptimal
ISSN: 2252-6188 (Print), ISSN: 2302-3015 (Online, www.jlsuboptimal.unsri.ac.id)
Vol. 4, No.1: 66-70, April 2015

Produksi Tanaman Jagung (Zea mays L.) pada Berbagai Jarak Tanam
di Tanah Ultisol
Production of Maize (Zea mays L.) in Different Plant Spacing in the Land Ultisol
Ardi Asroh*)1, Nurlaili2, dan Fahrulrozi2
1
Program Studi Agroteknologi Universitas Baturaja
2
Progam Pascasarjana Universitas Sriwijaya
*)
Penulis untuk korespondensi: ardi.asroh@yahoo.co.id

ABSTRACT
Maize is cultivated not only as producer but also as a seed of green fodder. Increased
corn needs according to population growth and the increasing need for animal feed, in
which 52.4% of the feed is from cron. This study aimed to determine the effect of planting
distance on the production of hybrid corn plants bisi-2. This study used a randomized
block design experiment (RAK) are arranged in groups and comprise 1 to 3 treatment
factors, namely: J1 (50 x 20 cm), J2 (50 x 40 cm), A3 (50 x 60 cm) and 5 replications.
Planting the drill is done by using the spacing of the rows in each treatment, the seed is
inserted into the planting hole as much as 2 seeds per hole. The results of the study giving
a spacing significantly affected maize crop production parameter dry weight of plants, cob
wet weight, dry weight and pith. Giving a spacing of 50 cm x 40 cm can not increase the
production of corn. Giving a spacing of 50 cm x 60 cm gives the best effect on the
production of corn.
Keywords: Consumption, corn, food, production

ABSTRAK
Jagung dibudidayakan tidak hanya sebagai produsen benih tetapi juga sebagai pakan
ternak hijau. Meningkatnya jagung kebutuhan sesuai dengan pertumbuhan penduduk dan
peningkatan kebutuhan pakan ternak, 52,4% dari pakan adalah dari cron. penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam terhadap produksi tanaman jagung
hibrida bisi-2. Penelitian ini menggunakan metode percobaan dengan rancangan acak
kelompok (RAK) yang disusun secara berkelompok dan terdiri 1 faktor dengan 3
perlakuan yaitu: J1 ( 50 x 20 cm), J2 (50 x 40 cm), J3 (50 x 60 cm) dan 5 ulangan.
Penanaman dengan tugal dilakukan dengan menggunakan jarak tanam dalam baris pada
setiap perlakuan, benih dimasukkan kedalam lubang tanam sebanyak 2 benih per lubang
tanam. Hasil penelitian pemberian jarak tanam berpengaruh nyata terhadap produksi
tanaman jagung terlihatpada paremeter berat kering tanaman, berat basah tongkol
berkelobot, dan berat kering empulur. Pemberian jarak tanam 50 cm x 40 cm tidak dapat
meningkatkan produksi tanaman jagung. Pemberian jarak tanam 50 cm x 60 cm
memberikan pengaruh terbaik terhadap produksi tanaman jagung.
Kata kunci: Jagung, konsumsi, makanan, produksi

PENDAHULUAN (Andriko dan Sirappa 2012). Tanaman


jagung dapat menghasilkan genotif baru
Jagung Zea mays L. merupakan salah
yang dapat beradaptasi terhadap berbagai
satu tanaman serial yang tumbuh hampir
karakteristik lingkungan (Setiawan dan
di seluruh dunia dan tergolong dalam
Hanum 2014). Kebutuhan jagung yang
spesies dan variabilitas genetik yang besar
semakin meningkat, jika tidak diimbangi
Jurnal Lahan Suboptimal, 4(1) April 2015 67

dengan upaya peningkatan produksi yang Mei sampai Agustus 2007. Bahan benih
optimal akan mengakibatkan negara jagung varietas hibrida, pupuk Urea, TSP,
Indonesia sebagai salah satu pengimpor KCl, Fungisida dan Insektisida. Alat yang
jagung (Mulyono 2014). digunakan meliputi meteran, cangkul,
Untuk memenuhi kebutuhan jagung spayer, pisau, tali, ember, dan alat-alat tulis.
nasional diperlukan luasan area yang Penelitian ini menggunakan metode
menghasilkan jagung akibat alih fungsi percobaan dengan rancangan acak
lahan (Sudana 2005). Di lain pihak kelompok (RAK) yang disusun secara
peningkatan jumlah penduduk, maka berkelompok dan terdiri 1 faktor dengan
kebutuhan lahan semakin meningkat 3 perlakuan yaitu: J1 ( 50 x 20 cm), J2 (50
mengakibatkan perubahan fungsi lahan x 40 cm), J3 (50 x 60 cm) dan 5 ulangan.
(Made 2010). Usaha untuk meningkatkan Penanaman dengan tugal dilakukan dengan
produksi tanaman jagung pada lahan kering menggunakan jarak tanam dalam baris pada
marjinal khususnya pada tanah ultisol dapat setiap perlakuan, benih dimasukkan
dilakukan dengan penerapan teknologi kedalam lubang tanam sebanyak 2 benih
seperti penggunaan benih unggul efesien per lubang tanam. Pupuk susulan I
hara, pemberian pupuk yang berimbang dan dilakukan pada umur 21 hari setelah tanam
pemberian jarak tanam yang optimal untuk dengan dosis 100 kg/ha Urea dan susulan II
peningkatan produksi tanaman jagung pada umur 42 hari setelah tanam dengan
(Mulyani 2006). Pola tanam budidaya dosis 100 kg/ha. Panen jagung dilakukan
tanaman jagung masih tradisional dan setelah tanaman berumur 100 hari setelah
belum banyak menggunakan inovasi tanam. Parameter yang diamati adalah
bercocok tanam yang lebih maju sehingga pengukuran tinggi tanaman (cm), berat
peningkatan produksi tanaman jagung kering tanaman (g), berat basah tongkol
masih jauh dari kebutuhan secara optimal berkelobot (g), berat kering biji (g), berat
(Antara 2010). Bercocok tanam jagung kering empulur (g), berat 100 biji (g),
adalah usaha turut campur tangan manusia indeks hasil panen (%).
di dalam pengelolaan tanaman jagung
sehingga kelak dapat diperoleh hasil yang
HASIL
diharapkan (Pangabean 2014).
Penanaman dengan jarak tanam Hasil analisis sidik ragam dari
bertujuan agar populasi tanaman perlakuan pengaruh jarak tanam terhadap
mendapatkan bagian yang sama terhadap produksi tanaman jagung (Zea mays L) di
unsur hara yang diperlukan dan sinar sajikan pada Tabel 1, menunjukkan bahwa
matahari, dan memudahkan dalam pemberian jarak tanam pada paremeter
pemeliharaan (Probowati 2014). Jarak berat kering tanaman, berat kering tongkol
tanam yang baik digunakan pada tanaman berpengaruh nyata tetapi pada berat basah
jagung yaitu 50 cm x 40 cm dengan buah berkelobot berpengasuh sangat nyata
1 tanaman. Sarwanto (2005) menyatakan terhadap produksi tanaman jagung. Pada
jarak tanam yang idial untuk tanaman jarak tanam yang menunjukkan tinggi
jagung yang berumur sedang yaitu 50 cm x tanaman tertinggi yaitu pada arak tanam
60 cm. Penelitian ini bertujuan menentukan 50 cm x 60 cm yaitu mencapai 181,3 cm
pengaruh berbagai jarak tanam terhadap dan yang terendah jarak tanam 50 cm x
produksi tanaman jagung. 20 cm yaitu 173,1 cm. Pada berat kering
tanaman jarak tanam 50 cm x 60 cm
menunjukkan pengaruh terbaik yaitu
BAHAN DAN METODE
113,58 g, berat basah buah berkelobot
Penelitian ini dilaksanakan di kebun tertinggi pada perlakuan 50 cm x 60 cm
percobaan Fakultas Pertanian Universitas yaitu 155,55 g; sedangkan pada berat kering
Baturaja. Waktu pelaksanaan pada bulan biji perlakuan jarak tanam 50 cm x 60 cm
68 Asroh et al.: Produksi tanaman jagung (Zea mays L.)

juga menunjukkan berat kering biji tertinggi dengan cukup untuk melakukan
yaitu 130,79 g; dan semua paremetr yang pertumbuhan dan produksi tanaman jagung
diamati perlakuan jarak tanam 50 cm x (Purnomo 2005). Hal ini sependapat
60 cm merupakan perlakuan yang terbaik dengan Surbakti et al. (2013) yang
dari semua perlakuan yang diaplikasikan menyatakan dalam kondisi lingkungan yang
pada penelitian ini. baik untuk melakukan fotosintesis dapat
menghasilkan (60-80)% hasil asimilatnya
ditranslokasikan kebagian tanaman yang
PEMBAHASAN
lainnya termasuk pada organ produksi.
Dari hasil penelitian ini pemberian Begitu juga Mansyur et al. (2005)
jarak tanam 50 cm x 60 cm merupakan menyatakan bahwa untuk mendapatkan
jarak tanam terbaik. Diduga pada jarak pertumbuhan yang baik dan produksi yang
tanam tersebut persaingan untuk optimum perlu diimbangi dengan
mendapatkan unsur hara yang dibutuhkan pemeliharaan tanaman dan juga
oleh tanaman dalam jumlah yang lebih ketersediaan unsur hara yang sesuai dengan
banyak dapat terbagi dengan merantar kebutuhan tanaman. Pertumbuhan dan
sehingga kompetisi unsur hara antar produksi akan meningkat apabila didukung
tanaman tidak terjadi (Maruapey 2011). oleh faktor lingkungan misalnya cahaya dan
Selain dari unsur hara yang dibutuhkan air (Bunyamin dan Aqil 2009), tetapi pada
tanaman, faktor penangkapan cahaya juga saat penelitian ini kebutuhan air tidak dapat
berperan penting dalam mempengaruhi tercukupi karena pada saat penelitian ini
pertumbuhan dan produksi tanaman dilaksanakan bertepatan dengan mulainya
(Prasetyo dan Suriadikarta 2006). Diduga musim kering yang mana pada saat fase
dengan jarak tanam 50 cm x 60 cm radiasi pertumbuhan tanaman sudah mengalami
matahari yang dibutuhkan tanaman jagung kekurangan air jadi pertumbuhan dan
dapat tercukupi dengan baik dan tidak produksi tanaman tidak mendapatkan hasil
terjadi saling menaungi antar daun-daun dengan maksimal, hal ini sependapat
tanaman yang lainnya dengan penyinaran dengan Bustaman (2006) menyatakan hasil
yang cuku maka proses fotosintesis akan produksi jagung dipengaruhi oleh kondisi
berjalan dengan baik sehingga asimilat lingkungan yang dialami tanaman selama
yang akan di butuhkan dapat terpenuhi pertumbuhan dan pengisian biji.

Tabel 1. Hasil analisis sidik ragam terhadap paremeter yang diamati pada waktu pemangkasan daun dan jarak
tanam terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung.
Paremeter yang diamati F-tab (5%) F-hit KK (%)
Tinggi tanaman 3,63 0,29tn 1,41
Berat kering tanaman 3,63 5,39* 2,28
Berat basah tongkol berkelobot 3,63 6,52** 1,50
Berat kering biji 3,63 1,23tn 3,27
Berat kering empulur 3,63 5,82* 0,22
Berat 100 biji 3,63 0,53tn 1,78
Indek hasil panen 3,63 0,07tn 3,74

Selain dari penyinaran, unsur hara sesama tanaman (Franky et al. 2010). Hal
juga berperan penting dalam pertumbuhan ini sependapat dengan Catharina (2009)
dan produksi tanaman jagung (Sirappa dan yang menyatakan pada jarak tanam tertentu
Razak 2010). Dengan jarak tanam 50 cm x akan mengakibatkan persaingan yang
60 cm persaingan untuk mendapatkan unsur sangat ketat yang mengakibatkan adanya
hara dapat terhindari kita ketahui penurunan produksi yang diakibatkan oleh
persaingan untuk mendapatkan unsure hara persaingan dalam memperebutkan unsur
bukan saja terjadi antar tanaman dengan hara. Kerapatan menggambarkan jumlah
gulma tetapi dapat juga terjadi pada antar atau banyaknya jenis suatu individu dalam
Jurnal Lahan Suboptimal, 4(1) April 2015 69

satuan luas tertentu. Kerapatan ini jagung untuk mendukung ketahanan


ditentukan berdasarkan jumlah individu pangan di Maluku. Jurnal Litbang
rata-rata dibagi luas area pengamatan. Pertanian 24(2).
Sedangkan kerapatan relatif ditentukan Antara M. 2010. Efesiensi penggunaan
berdasarkan kerapatan suatu jenis dibagi input produksi usahatani jagung
kerapatan seluruh jumlah jenis dilakikan hibrida di Kecamatan Palolo
100%. Berdasarkan data dari Tabel 2 Kabupaten Sigi. Jurnal Agroland
Scleria sumatrensis memiliki nilai 17(3): 213-218.
kerapatan tertinggi. Bustaman T. 2004. Pengaruh posisi daun
jagung pada batang terhadap
Tabel 2. Uji Duncan berat kering tanaman jagung pengisian dan mutu benih. Jurnal
jarak tanam. Stigma 12(2).
Uji Duncan Buyamin Z dan Aqil M. 2009 Pengaruh
Perlakuan Rata-rata
P1:3,48, P2:3,65 sistem pertanaman sisipan terhadap
J1 73,29 a pertumbuhan tanaman jagung.
J2 79,13 b Prosiding Seminar Nasional Serelia.
J3 113,58 c Catharina TS. 2009. Respon tanaman jagung
pada sistem monokultur dengan
Hal ini sesuai dengan Mayadewi tumpangsari kacang-kacangan terhadap
(2007) perlakuan ini tempat terjadinya ketersediaan unsur hara N dan nilai
proses fotosintesis tersedia cukup banyak kesetaraan lahan di lahan kering. Ganec
yaitu daun dan radiasi matahari yang Swara Edisi Khusus 3(3).
diterima oleh daun dengan jarak tanam Franky JP; Johanes EX, Rogi dan
tersebut dapat diterima oleh semua daun Runtunuwu SD. 2010. Model
mulai dari daun yang paling atas sampai pertumbuhan dan produksi jagung
dengan daun yang paling bawah dan juga hibrida pada perlakuan pemberian
akan menghindari terjadinya kompetisi nitrogen serta pemangkasan tasel.
unsur hara antar tanaman. Eugenia 16(3).
Ferdinandus DM. Pangabean, Mawarni L,
Nissa TC. 2014. Respon pertumbuhan
KESIMPULAN dan produksi bengkuang Pachyrhizus
a. Pemberian jarak tanam 50 x 40 tidak dapat erosus L. (Urban) terhadap waktu
meningkatkan hasil produksi tanaman pemangkasan daun dan jarak tanam.
jagung. Jurnal Online Agroteknologi.
b. Tetapi dengan pemberian jarak tanam yang Gardner FP, Pearce RB. 1991. Gulma dan
semakin jarang dapat meningkatkan Hasil Tanaman Jagung R. L. Mitchell.
pertumbuhan dan produksi tanaman jagung. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya
c. Pada jarak tanam 50 cm x 60 cm (J3) Terjemahan oleh H. Susilo. Jakarta:
memberikan pengaruh terbaik terhadap Penerbit Universitas Indonesia.
pertumbuhan dan produksi tanaman jagung Hanafiah KA. 2004. Rancangan Percobaan
yaitu 3.921,66 Kg/ha. Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT.
Grafindo Persada.
Made U. 2010. Respon berbagai populasi
DAFTAR PUSTAKA tanaman jagung manis (Zea mays
Adisarwanto T dan Widiastuti YE. 2005. saccharata Sturt) terhadap pemberian
Meningkatkan Jagung di Lahan pupuk urea. Jurnal Agroland 17(2):
Kering, Sawah dan Pasang Surut. 138-143.
Jakarta. Penebar Swadaya Mansyur, Popiindrani N, dan Susilawati I.
Andriko NS dan Sirappa M.P. 2005. 2005. Peranan leguminosa tanaman
Prospek dan strategi pengembangan penutup pada sistem pertanaman
70 Asroh et al.: Produksi tanaman jagung (Zea mays L.)

jagung untuk penyediaan hujauan Setiawan D dan Hanum H. 2014. Respirasi


pakan. Seminar Nasional Teknologi tanah sebagai indikator kepulihan
Perternakan dan Veteriner. lahan pasca tambang batubara di
Maruapey A. 2011. Pengaruh jarak tanam dan Sumatra Selatan. Prosiding Seminar
jenis pupuk kanang terhadap Nasional Lahan Suboptimal.
pertumbuhan gulma dan hasil jagung Sirappa MP dan Razak N. 2010.
manis. Seminar Nasional Serelia 2011. Peningkatan produktivitas jagung
Mayadewi NNA. 2007. Pengaruh jenis melalui pemberian pupuk n,p,k dan
pupuk kandang dan jarak tanam pupuk kandang pada lahan kering di
terhadap pertumbuhan gulma dan Maluku. Prosiding Pekan Serelia
hasil jagung manis. Jurnal Agritrop Nasional.
26(4):153-159. Surbakti MF, Ginting S, dan Ginting J.
Muyyani A. 2006. Perkembangan potensi 2013. Pertumbuhan dan produksi
lahan kering masam. Jurnal Litbang jagung Zea mays l. parietas pioner-12
Pertanian 24(2). dengan pemangkasan daun dan
Prasetyo BH dan Suriadikarta. 2006. pemberian pupuk NPKMg. Jurnal
Karakteristik, potensi, dan teknologi Online Agroteknologi 1(3).
pengelolaan tanah ultisol untuk Sudana W. 2005. Potensi dan prospek lahan
pengembangan pertanian lahan kering rawa sebagai sumber produksi
di Indonesia. Jurnal Litbang pertanian. Jurnal Analisis Kebijakan
Pertanian 24(2). Pertanian 3(2): 141-151.
Purnomo D. 2005. Tanggapan Varietas Moelyohadi Y, Harun MU, Munandar,
tanaman jagung terhadap irradiasi Hayati R, Gofar N. 2012.
rendah. Jurnal Agrosain 7(1): 86-93. Pemanfaatan berbagai jenis pupuk
Probowati RA, Guritno B, Sumarni T. 2014. hayati pada budidaya tanaman jagung
Pengaruh tanaman penutup tanah dan Zea mays L. efesiensi hara di lahan
jarak tanam pada gulma dan hasil kering marjinal. Jurnal Lahan
tanaman jagung Zea mays L. Jurnal Suboptimal 1(1): 31-39.
Produksi Tanaman 2(8).