Anda di halaman 1dari 38

ANALISIS RASIO PADA LAPORAN KEUANGAN

PT DELTA DJAKARTA TAHUN 2012-2017

RESUME
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Analisis Laporan Keuangan
yang dibina oleh Bapak Yuli Soesetio, S.E., M.M.

Oleh Kelompok 4

Adelia Romadhanti (160413602021)


Candra Dharmawan W.P. (160413602030)
Chois Nuril Faizza (160413600303)
Devita Ivo Sukma (160413600323)
Sanditriyoga Hasmoro W. (160413602039)
Siska Rizki Fatmala (150413602473)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN MANAJEMEN
Mei 2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Laporan keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan


keuangan yang lengkap biasanya meliputi, neraca, laporan laba rugi komprehensif, laporan
perubahan ekuitas, laporan perubahan posisi keuangan yang dapat disajikan berupa laporan
arus kas atau laporan arus dana, catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang
merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Unsur yang berkaitan secara langsung
dengan pengukuran posisi keuangan adalah aset, kewajiban,dan ekuitas. Sedangkan unsur
yang berkaitan dengan pengukuran kinereja dalam laporan laba
rugi adalah penghasilan dan beban. Laporan posisi keuangan biasanya mencerminkan
berbagai unsur laporan laba rugi dan perubahan dalam berbagai unsur neraca.

Menurut Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan


Indonesia tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut
posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang
bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan. Laporan
keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar
pemakai. Namun, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin
dibutuhkan pemakai dalam mengambil keputusan ekonomi karena secara umum
menggambarkan pengaruh keuangan dan kejadian masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk
menyediakan informasi nonkeuangan. Laporan keuangan juga menunjukan apa yang telah
dilakukan manajemen), atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang
dipercayakan kepadanya.

Analisis Rasio Keuangan atau Financial Ratio adalah merupakan suatu alat analisa
yang digunakan oleh perusahaan untuk menilai kinerja keuangan berdasarkan data
perbandingan masing-masing pos yang terdapat di laporan keuangan seperti Laporan
Neraca, Rugi / Laba, dan Arus Kas dalam periode tertentu. Setiap tutup periode akhir bulan
biasanya accounting menyiapakan dan menyusun Laporan Keuangan yang terdiri dari
Laporan Neraca, Rugi Laba, Arus Kas, Perubahan Modal, dan Laporan tersebut diserahkan
ke pimpinan perusahaan.
B. Tujuan Penulisan

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, berikut ini tujuan dari
penyusunan makalah.
1. Untuk memaparkan profil singkat PT. Delta Djakarta Tbk.
2. Untuk menjelaskan tentang reklasifikasi laporan keuangan keuangan PT. Delta
Djakarta Tbk.
3. Untuk menjelaskan tentang analisis akun dalam laporan keuangan PT. Delta Djakarta
Tbk.
4. Untuk menjelaskan tentang analisis rasio keuangan PT. Delta Djakarta Tbk.
BAB II

PEMBAHASAN

Berdasarkan tujuan penulisan dalam masalah yang telah dirumuskan pada


pendahuluan, pembahasan masalah akan menyajikan tentang: (1) profil PT. Delta Djakarta
Tbk. (2) rumus analisis rasio (3) reklasifikasi laporan keuangan PT. Delta Djakarta Tbk. ,
(4) analisis akun dalam laporan keuangan PT. Delta Djakarta Tbk. dan (5) analisis rasio
keuangan PT. Delta Djakarta Tbk. (6) common size PT. Delta Djakarta Tbk. (7) Sistem DU
Pont PT Delta Djakarta Tbk. Paparan lebih lanjut sebagai berikut:

(1) PROFIL PT. DELTA DJAKARTA TBK.


Delta Djakarta Tbk (DLTA) didirikan tanggal 15 Juni 1970 dan memulai kegiatan usaha
komersialnya pada tahun 1933. Kantor pusat DLTA dan pabriknya berlokasi di Jalan
Inspeksi Tarum Barat, Bekasi Timur – Jawa Barat. Pabrik “Anker Bir” didirikan pada tahun
1932 dengan nama Archipel Brouwerij. Dalam perkembangannya, kepemilikan dari pabrik
ini telah mengalami beberapa kali perubahan hingga berbentuk PT Delta Djakarta pada
tahun 1970. DLTA merupakan salah satu anggota dari San Miguel Group, Filipina. Induk
usaha DLTA adalah San Miguel Malaysia (L) Private Limited, Malaysia. Sedangkan Induk
usaha utama DLTA adalah Top Frontier Investment Holdings, Inc, berkedudukan di
Filipina.
Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Delta Djakarta Tbk, antara lain: San
Miguel Malaysia (L) Pte. Ltd (pengendali) (58,33%) dan Pemda DKI Jakarta (23,34%).
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan DLTA yaitu terutama
untuk memproduksi dan menjual bir pilsener dan bir hitam dengan merek “Anker”,
“Carlsberg”, “San Miguel”, “San Mig Light” dan “Kuda Putih”. DLTA juga memproduksi
dan menjual produk minuman non-alkohol dengan merek “Sodaku”. Pada tahun 1984,
DLTA memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran
Umum Perdana Saham DLTA (IPO) kepada masyarakat sebanyak 347.400 dengan nilai
nominal Rp1.000,- per saham dengan harga penawaran Rp2.950,- per saham. Saham-
saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 27 Februari 1984.
(2) RUMUS ANALISIS RASIO
1. Rasio Profitabilitas
Rasio atau perbandingan untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk
mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait penjualan, asset dan
ekuitas berdasarkan dasar pengukuran tertentu.
*https://www.google.co.id/amp/s/dosenakuntansi.com/rasio-profitabilitas/amp

a. RETURN ON ASSETS (ROA)


Return on Assets merupakan rasio profitabilitas untuk menilai persentase
keuntungan (laba) yang diperoleh perusahaan terkait sumber daya atau total asset
sehingga efisiensi suatu perusahaan dalam mengelola asetnya bisa terlihat dari
persentase rasio ini.
Net Income
ROA =
Total Assets
*Murhadi, W.R. 2015. Analisis Laporan Keuangan Proyeksi dan Valuasi Saham.
Jakarta : Salemba Empat

b. RETURN ON TOTAL ASSETS (ROTA)


Return on Total Asset merupakan rasio profitabilitas untuk menilai persentase
keuntungan (laba) yang diperoleh perusahaan terkait sumber daya atau total asset,
akan tetapi yang dilihat sebagai acuannya bukan net income melainkan EBIT. Sama
halnya ROA, ROTA juga mengukur tingkat efisiensi suatu perusahaan mengelola
asetnya.
EBIT
ROTA =
Total Assets
*www.investopedia.com/terms/return_on_total_assets.asp

c. RETURN ON EQUITY (ROE)


Return on Equity Ratio (ROE) merupakan rasio profitabilitas untuk menilai
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari investasi pemegang saham
perusahaan tersebut. Return on equity menunjukkan seberapa berhasil perusahaan
mengelola modalnya (net worth) sehingga tingkat keuntungan diukur dari investasi
pemilik modal atau pemegang saham perusahaan. ROE yaitu rentabilitas modal
sendiri atau yang disebut rentabilitas usaha.
Net Income
ROE =
Total Equity
*Murhadi, W.R. 2015. Analisis Laporan Keuangan Proyeksi dan Valuasi Saham.
Jakarta : Salemba Empat

d. NET PROFIT MARGIN (NPM)


Net Profit Margin merupakan rasio profitabilitas untuk menilai persentase laba
bersih yang didapat setelah dikurangi pajak terhadap penjualan. Rasio ini mengukur
laba bersih setelah pajak terhadap penjualan. Semakin tinggi Net profit margin
semakin baik operasi suatu perusahaan.
EAT
NPM =
NET SALES
*ilmumanajemenindustr.com/pengertian-net-profit-margin-marjin-laba-bersih-
rumus-npm/

e. GROSS PROFIT MARGIN (GPM)


Marjin Laba Kotor merupakan rasio profitabilitas untuk menilai persentase laba
kotor terhadap pendapatan yang dihasilkan dari penjualan. Gross profit margin
mengukur efisiensi perhitungan harga pokok atau biaya produksi. Semakin besar
gross profit margin semakin baik (efisien) kegiatan operasional perusahaan yang
menunjukkan harga pokok penjualan lebih rendah daripada penjualan (sales) yang
berguna untuk audit operasional.
Gross Profit
GPM =
Net Sales
*Murhadi, W.R. 2015. Analisis Laporan Keuangan Proyeksi dan Valuasi Saham.
Jakarta : Salemba Empat

f. OPERATING MARGIN (OM) / RETURN ON SALES (ROS)


Return on Sales merupakan rasio profitabilitas yang menampilkan tingkat
keuntungan perusahaan setelah pembayaran biaya-biaya variabel produksi seperti
upah pekerja, bahan baku dan lain-lain sebelum dikurangi pajak dan bunga. Rasio
ini menunjukan tingkat keuntungan yang diperoleh dari setiap rupiah penjualan
yang juga disebut Marjin Operasional.
EBIT
OM atau ROS =
Net Sales
*Murhadi, W.R. 2015. Analisis Laporan Keuangan Proyeksi dan Valuasi Saham.
Jakarta : Salemba Empat

g. RETURN ON INVESTMEN (ROI)


ROI (Return on Invesment) mencerminkan kemampuan manajemen dalam
mengatur aktiva-aktivanya seoptimal mungkin sehingga dicapai laba bersih yang
diinginkan. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dengan jumlah aktiva yang
digunakan dalam operasi perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Rasio ini
menunjukkan produktivitas dari seluruh dana perusahaan baik modal pinjaman
maupun modal sendiri. Semakin kecil/rendah rasio ini semakin tidak baik, demikian
juga sebaliknya.
EAT
ROI =
Total Assets
*dosenakuntansi.com/rasio-profitabilitas/

2. Rasio Leverage / Rasio Solvabilitas


Rasio keuangan yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban
jangka panjangnya.
*https://ilmumanajemenindustri.com/pengertian-rasio-solvabilitas-rasio-leverage-
jenisnya/
a. DEBT TO TOTAL ASSETS RATIO (DAR)
Debt to Total Assets Ratio digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah
aktiva peusahaan dibiayai dengan total hutang. Semakin tinggi rasio ini berarti
semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan untuk investasi pada
aktiva guna menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐷𝑒𝑏𝑡
𝐷𝐴𝑅 =
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠
*http://www.landasanteori.com/2015/07/pengertian-rasio-solvabilitas-jenis.html

b. DEBT TO TOTAL EQUITY RATIO (DER)


Debt to Equity Ratio atau adalah rasio yang membandingkan jumlah hutang
terhadap ekuitas. Semakin tinggi DER maka diasumsikan perusahaan memiliki
resiko yang semakin tinggi terhadap likuiditas perusahaannya
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐷𝑒𝑏𝑡
𝐷𝐸𝑅 =
𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦
*http://www.landasanteori.com/2015/07/pengertian-rasio-solvabilitas-jenis.html

c. LONG TERM DEBT TO EQUITY RATIO (LTDER)


Long Term Debt to Equity adalah rasio antara hutang jangka panjang dengan
modal sendiri. Ketika rasio relatif tinggi hal ini menunjukkan bahwa bisnis berada
pada risiko kebangkrutan yang lebih besar.
𝐿𝑜𝑛𝑔 𝑇𝑒𝑟𝑚 𝐷𝑒𝑏𝑡
𝐿𝑇𝐷𝐸𝑅 =
𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦
*http://www.landasanteori.com/2015/07/pengertian-rasio-solvabilitas-jenis.html

d. TIMES INTEREST EARNED RATIO (TIER)


Times Interest Earned Ratio adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan
dalam membayar atau menutupi beban bunga di masa depan. Pada perusahaan ini,
time interest earned ratio tidak dicantumkan pada laporan keuangan, hal ini
dikarenakan times interest earned perusahaan terlalu kecil dan tidak
mempengaruhi laporan keuangan perusahaan itu sendiri.
𝐸𝐵𝐼𝑇
𝑇𝐼𝐸𝑅 =
𝐼𝑛𝑡𝑒𝑟𝑒𝑠𝑡 𝐸𝑥𝑝𝑒𝑛𝑠𝑒
*https://dosenakuntansi.com/macam-macam-rasio-leverage

e. LONG TERM DEBT TO NON CURRENT ASSET (LTDNCA)


Long Term Debt to Non Current Asset menunjukkan perbandingan hutang jangka
panjang aktiva selain aktiva lancar.
𝐿𝑜𝑛𝑔 𝑇𝑒𝑟𝑚 𝐷𝑒𝑏𝑡
𝐿𝑇𝐷𝑁𝐶𝐴 =
𝑁𝑜𝑛 𝐶𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡
*http://www.landasanteori.com/2015/07/pengertian-rasio-solvabilitas-jenis.html
f. TANGIBLE ASSETS DEBT COVARAGE (TDAC)
Tangible Assets Debt Covarage (TDAC) digunakan untuk mengetahui rasio antara
aktiva tetap berwujud dengan hutang jangka panjang. Semakin tinggi rasio ini
semakin besar jaminan yang ada dan kreditor jangka panjang semakin aman atau
terjamin dan semakin besar kemampuan perusahaan untuk mencari pinjaman.
𝐹𝑖𝑥𝑒𝑑 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡
𝑇𝐷𝐴𝐶 =
𝐿𝑜𝑛𝑔 𝑇𝑒𝑟𝑚 𝐷𝑒𝑏𝑡
*http://www.landasanteori.com/2015/07/pengertian-rasio-solvabilitas-jenis.html
g. CURRENT LIABILITIES TO NET WORTH (CLNW)
Current Liabilities to Net Worth menunjukkan rasio antara hutang lancar dengan
modal sendiri. Semakin kecil rasio ini semakin baik, sebab modal sendiri yang ada
diperusahaan semakin besar untuk menjamin hutang lancar yang ada pada
perusahaan.
𝐶𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝐿𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑖𝑒𝑠
𝐶𝐿𝑁𝑊 =
𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦
*http://www.landasanteori.com/2015/07/pengertian-rasio-solvabilitas-jenis.html

3. Rasio Likuiditas
Rasio yang menunjukkan kemampuan pengelola perusahaan dalam memenuhi
kewajiban atau hutang jangka pendeknya.
*https://ardra/biz/ekonomi/ekonomi-keuangan-manajemen-keuangan-/analisis-rasio-
keuangan-perusahaan/analisis-rasio-keuangan-likuiditas-liquidity-ratio/

a. CURRENT RATIO (CR)


Current Ratio digunakan untuk menilai kecukupan aktiva lancar perusahaan untuk
melunasi kewajiban jangka pendek atau utang lancarnya yang dipakai dalam
perhitungan akuntansi sesuai jenis jenis laporan keuangan. Tingginya tingkat rasio
harus dikhawatirkan, hal itu terjadi mungkin akibat aktiva tidak digunakan secara
efektif oleh perusahaan. Jika tingkat rasio rendah menunjukkan bahwa aktiva telah
digunakan secara efektif, namun berbahaya bagi keberlangsungan kegiatan
operasional. Saldo kas harus dibuat sesuai dengan tingginya tingkat perputaran
piutang dan persediaan supaya sumber daya tidak dipakai secara sia-sia.
𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟
𝐶𝑅 =
𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟
*http://digilib.unila.ac.id/7171/16/BAB%20II.pdf

b. QUICK RATIO (QR)


Quick Ratio dipakai untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar
kewajiban jangka pendek dengan memakai aktiva lancar, namun tanpa persediaan
karena persediaan butuh waktu lama untuk diubah menjadi uang dibandingkan
aset lainnya. Quick asset meliputi piutang dan surat-surat berharga. Semakin besar
nilai rasio maka kondisi perusahaan semakin baik.
𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟 − 𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎𝑎𝑛
𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟
*http://digilib.unila.ac.id/7171/16/BAB%20II.pdf

c. CASH RATIO
Cash Ratio digunakan untuk mengukur ketersediaan uang kas untuk melunasi
kewajiban (utang) jangka pendek. Uang kas bisa berbentuk rekening giro. Rasio
ini menunjukkan porsi jumlah kas + setara kas dibandingkan dengan total aktiva
lancar. Semakin besar rasionya akan semakin baik sehingga perusahaan bisa
melunasi utang sesuai jatuh tempo atau sebelum jatuh tempo.
𝐾𝑎𝑠 + 𝑆𝑒𝑡𝑎𝑟𝑎 𝐾𝑎𝑠
𝐶𝐴𝑆𝐻 𝑅𝐴𝑇𝐼𝑂 =
𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟
*http://eprints.polsri.ac.id/2628/3/BAB%20II.pdf

d. WORKING CAPITAL TO TOTAL ASSETS (WCTA)


Working Capital to Total Assets menunjukkan menilai likuiditas dengan
menghitung total aktiva dan posisi modal kerja. Semakin besar rasio ini semakin
baik, begitu juga sebaliknya.
𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟 − 𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟
𝑊𝐶𝑇𝐴 =
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠
*https://jarcomsys.wordpress.com/2009/10/28/analisis-rasio-keuangan/

4. Rasio Pasar
Rasio ini digunakan untuk mengukur harga pasar saham perusahaan, relatif terhadap
nilai bukunya. Sudut pandang rasio ini lebih banyak berdasar pada sudut pandang
investor ataupun calon investor, meskipun pihak manajemen, juga berkepentingan
rasio ini.
*http://nissaoke.blogspot.co.id/2014/05/rasio-solvabilitas-profitabilitas-dan.html

a. EARNING PER SHARE (EPS)


EPS biasanya menjadi perhatian pemegang saham pada umumnya atau calon
pemegang saham dan manajemen. EPS menunjukan jumlah uang yang dihasilkan
(return) dari seti lembar saham. Semakin besar nilai EPS semakin besar
keuntungan yang diterima pemegang saham.
𝐸𝐴𝑇
𝐸𝑃𝑆 =
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟
*http://nissaoke.blogspot.co.id/2014/05/rasio-solvabilitas-profitabilitas-dan.html

b. PRICE EARNING RATIO (PER)


PER menunjukan berapa banyak investor bersedia membayar untuk tiap rupiah
dari laba yang dilaporkan.
𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚
𝑃𝐸𝑅 =
𝐸𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 𝑃𝑒𝑟 𝑆ℎ𝑎𝑟𝑒
*http://nissaoke.blogspot.co.id/2014/05/rasio-solvabilitas-profitabilitas-dan.html
c. DIVIDEND YIELD RATIO (DYR)
DYR merupakan sebagian dari total return yang akan diperoleh investor.
Biasanya perusahaan yang mempunyai prospek pertumbuhan yang tinggi akan
mempunyai dividend yield yang rendah, karena dividen sebagian besar akan
diinvestasikan kembali. Kemudian karena perusahaan dengan prospek yang tinggi
akan mempunyai harga pasar saham yang tinggi, yang berarti pembaginya tinggi,
maka dividend yield untuk perusahaan macam ini akan cenderung lebih rendah.
𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛 𝑃𝑒𝑟 𝐿𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟
𝐷𝑌𝑅 =
𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚
*http://nissaoke.blogspot.co.id/2014/05/rasio-solvabilitas-profitabilitas-dan.html

d. DIVIDEND PAYOUT RATIO (DPR)


Rasio ini melihat bagian pendapatan yang dibayarkan sebagai dividen kepada
investor. Bagian lain yang tidak dibagikan akan diinvestasikan kembali ke
perusahaan.
𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛
𝐷𝑃𝑅 =
𝑁𝑒𝑡 𝐼𝑛𝑐𝑜𝑚𝑒
*http://nissaoke.blogspot.co.id/2014/05/rasio-solvabilitas-profitabilitas-dan.html

e. BOOK VALUE PER SHARE (BVPS)


BVPS digunakan untuk melihat seberapa besar nilai buku per saham perusahaan
yang layak dihargai oleh investor dan pelaku pasar.
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦
𝐵𝑉𝑃𝑆 =
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝐵𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟
*http://www.sahamgain.com/2017/04/cara-menghitung-nilai-buku-per-
saham.html

f. PRICE TO BOOK VALUE RATIO (PBVR)


Rasio ini menunjukan berapa besar nilai perusahaan dari apa yang telah atau
sedang ditanamkan oleh pemilik perusahaan, semakin tinggi rasio ini, semakin
besar tambahan kekayaan (wealth) yang dinikmati oleh pemilik perusahaan.
𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑃𝑒𝑟 𝐿𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚
𝑃𝑟𝑖𝑐𝑒 𝑡𝑜 𝐵𝑜𝑜𝑘 𝑉𝑎𝑙𝑢𝑒
*http://ekonomibersama.blogspot.co.id/2011/04/rasio-nilai-pasar.html
(3) REKLASIFIKASI LAPORAN KEUANGAN PT DELTA DJAKARTA TBK 2012-2017
KASUS PT DELTA DJAKARTA TAHUN 2012 – 2017

PT DELTA DJAKARTA TBK


NERACA

Keterangan 2012 2013 2014 2015 2016 2017


AKTIVA
AL
Kas dan 290.769.171 435,356,011 415,161,151 496,286,321 658,665,614 845,324,146
setara kas
Piutang 197.569.587 120,891,620 214,319,994 181,290,870 180,610,661 158,142,998

Persediaan 106.065.078 171,744,931 193,300,072 181,162,743 183,868,498 178,863,917

Lain-lain 36.929.385 20,118,441 31,394,927 43,266,899 24,988,924 24,245,128

JUMLAH 631.333.221 748,111,003 854,176,144 902,006,833 1,048,133,697 1,206,576,189


AL
AT
Tanah 6.249.640 6,249,640 6,249,640 6,249,640 6,249,640 6,249,640
Prasarana 758.797 707,886 747,502 1,736,107 1,639,583 1,760,194

Gedung 18.549.637 17,730,328 18,308,207 17,106,907 17,952,264 16,944,242

Mesin dan 40.480.162 43,351,291 44,853,094 44,385,932 42,114,881 37,470,649


peralatan
Perlengkapa 3.227.653 2,311,454 1,845,783 1,850,495 1,847,473 2,673,488
n
Kendaraan 1.411.170 1,875,607 3,250,811 2,110,333 2,209,182 1,880,182

Lain-lain 43.296.555 46,703,593 62,515,953 62,875,669 75,222,155 62,858,711

JUMLAH 113.973.614 118,929,799 137,770,990 136,315,083 149,662,953 134,266,576


AT
JUMLAH 745.306.835 867,040,802 991,947,134 1,038,321,916 1,197,796,650 1,340,842,765
AKTIVA

PASIVA
HUTANG
Hutang 26.760.090
Usaha
Hutang 93.159.462 158,990,741 190,952,635 140,419,495 137,842,096 139,684,908
jangka
pendek
Hutang 27.175.770 31,492,068 36,521,246 48,280,940 47,580,546 56,512,464
Jangka
panjang
JUMLAH 147.095.322 190,482,809 227,473,881 188,700,435 185,422,642 196,197,372
HUTANG
EKUITAS 598.211.513 676,557,993 764,473,253 849,621,481 1,012,374,00 1,144,645,393
8
JUMLAH 745,306,835 867,040,802 991,947,134 1,038,321,916 1,197,796,65 1,340,842,765
HUTANG 0
&
EKUITAS

PT DELTA DJAKARTA TBK


LAPORAN LABA RUGI
2012 2013 2014 2015 2016 2017
Laba 282,087,008 6,250,813 357,086,157 226,257,899 294,018,074 331,604,416
Operasi
Laba Kotor 517,387,587 60,526,448 617,506,248 466,353,551 540,881,980 574,271,361

EBIT 287,505,070 358,395,988 379,518,812 250,197,742 327,047,654 369,021,853

EAT 213,421,077 270,498,062 288,073,432 192,045,199 254,509,268 279,772,635

PT DELTA DJAKARTA TBK


LAPORAN ARUS KAS
Arus Kas 248,441,252 348,712,041 164,246,813 246,625,414 259,851,506 342,202,126
Operasi
Arus Kas 16,510,661 13,835,698 38,031,012 10,022,026 37,684 11,675,086
Investasi
Arus Kas 187,830,906 191,869,037 144,831,127 156,878,293 96,034,454 143,868,508
Pendanaan

(4) ANALISIS AKUN DALAM LAPORAN KEUANGAN PT DELTA DJAKARTA TBK


2012-2017
1) Analisis Akun dalam Laporan Keuangan PT. Delta Djakarta
Analisis :

KAS DAN SETARA KAS


NAIK TAJAM
Rp900,000,000
Rp800,000,000
Rp700,000,000
Rp600,000,000
Rp500,000,000
Rp400,000,000
Rp300,000,000
Rp200,000,000
Rp100,000,000
Rp-
2012 2013 2014 2015 2016 2017

Kondisi kas dan setara kas pada perusahaan PT. Delta Djakarta ini mengalami fluktuatif.
Tertinggi pada tahun 2017 artinya pada tahun itu perusahaan mempunyai banyak
cadangan kas. Namun mengalami penurunan pada tahun 2014 dikarenakan perusahaan
melakukan kegiatan akuisisi penuh terhadap suatu perusahaan yang sebagian besar
dananya berasal dari kas. kondisi ini semakin membaik karena pada tahun selanjutnya
menandakan bahwa saat kas mengalami kenaikan artinya terjadi peningkatan penjualan
pada tahun tersebut dan sebaliknya.
2) Piutang

PIUTANG
Rp250000000.0
STAGNAN
Rp200000000.0

Rp150000000.0

Rp100000000.0

Rp50000000.0

Rp-
2012 2013 2014 2015 2016 2017

Analisis :
Kondisi piutang pada perusahaan PT Delta Djakarta ini mengalami keadaan yang
stagnan. Tertinggi pada tahun 2014 artinya pada tahun itu perusahaan mempunyai
banyak piutang. jika piutang perusahaan terlalu tinggi dikhawatirkan banyak piutang
yang tak tertagih yang mengakibatkan kerugian. Namun mengalami penurunan pada
tahun 2013 artinya ada sebagian mitra yang telah membayar piutangnya. Trend pada
piutang cenderung stagnan dari tahun ke tahun. Kondisi pada tahun 2013 terendah
karena segala bentuk pinjaman telah dialokasikan untuk pengembangan perusahaan.
3) Persediaan

PERSEDIAAN
Rp250000000.0 NAIK LANDAI

Rp200000000.0

Rp150000000.0

Rp100000000.0

Rp50000000.0

Rp-
2012 2013 2014 2015 2016 2017
Analisis :
Kondisi persediaan pada perusahaan PT. Delta Djakarta ini mengalami fluktuatif.
Tertinggi pada tahun 2014 artinya pada tahun itu perusahaan mempunyai banyak
persediaan. Jika persediaan perusahaan terlalu tinggi dikhawatirkan banyak persediaan
yang diam yang mengakibatkan kerugian. namun mengalami penurunan yang tinggi
pada tahun 2012 artinya perputaran persediaan perusahaan berjalan dengan baik. Trend
pada persediaan cenderung mengalami naik landai. Hal ini disebabkan karena
perusahaan menetapkan penyisihan untuk nilai realisasi neto persediaan berdasarkan
hasil penelaahan berkala atas kondisi fisik dan nilai realisasi neto persediaan.

4) Total Aktiva

TOTAL AKTIVA
Rp1600000000.0
NAIK TAJAM
Rp1400000000.0
Rp1200000000.0
Rp1000000000.0
Rp800000000.0
Rp600000000.0
Rp400000000.0
Rp200000000.0
Rp-
2012 2013 2014 2015 2016 2017

Analisis :
Pada PT. Delta Djakarta ini total aktiva mengalami peningkatan yang sangat tajam
dimana tertinggi pada tahun 2017 artinya perusahaan harus mampu mengelola aktiva
tetap agar dapat bekerja melakukan kegiatan operasi perusahaan efisien. Namun jika
perusahaan tidak mampu mengelola aktivanya maka akan terjadi penurunan kinerja
yang akan berakibat pada penurunan laba. Kondisi trend pada total aktiva ini dapat
diaktakan naik tajam. Pada tahun 2017 kondisi naik tajam diakibatkan karena adanya
pengelolaan yang maksimal dari asettetap berupa pemeliharaan tanah dan bangunan.
5) Hutang dagang

HUTANG USAHA
Rp50000000.0
Rp45000000.0 STAGNAN
Rp40000000.0
Rp35000000.0
Rp30000000.0
Rp25000000.0
Rp20000000.0
Rp15000000.0
Rp10000000.0
Rp5000000.0
Rp-
2012 2013 2014 2015 2016 2017

Analisis :
Pada akun utang dagang yang dimiliki oleh PT. Delta Djakarta ini mengalami
pergerakan yang stagnan. Pada tahun 2013 dan 2015 mengalami kenaikan Artinya
perusahaan tidak mekwelsmbayar secara tunai. Hal ini sesuai dengan kas yang pada
2013 dan 2015 mengalami kenaikan. Trend pada hutang dagang ini cenderung stagnan.
Karena sifat dari hubungan dan transaksi antara kelompok usaha dengan pihak-pihak
berelasi, utang usaha tidak dijamin,tidak dikenakan bunga dan umumnya mempunyai
syarat pembayaran antara 7 hari sampai dengan 60 hari.

6) Hutang jangka pendek

HUTANG JANGKA PENDEK


Rp180000000.0
Rp160000000.0
Rp140000000.0 STAGNAN
Rp120000000.0
Rp100000000.0
Rp80000000.0
Rp60000000.0
Rp40000000.0
Rp20000000.0
Rp-
2012 2013 2014 2015 2016 2017
Analisis :
Hutang jangka pendek pada perusahaan ini cenderung mengalami kenaikan. tertinggi
pada tahun 2014 dan terendah pada tahun 2012 dan 2015. Artinya banyak kegiatan
operasi perusahaan yang dibiayai oleh utang jangka pendek. perusahaan harus mampu
mengelola utang jangka pendek dengan baik karena ini berhubungan dengan likuiditas
perusahaan. Trend pada utang jangka pendek ini cenderung dalam keadaan stagnan.
Karena perusahaan memiliki pinjaman untuk modal kerja yang seimbang.

7) Hutang jangka panjang

HUTANG JANGKA PANJANG


Rp60000000.0

Rp50000000.0

Rp40000000.0

Rp30000000.0 NAIK TAJAM


Rp20000000.0

Rp10000000.0

Rp-
2012 2013 2014 2015 2016 2017

Analisis :
Hutang jangka panjang ini mengalami kenaikan artinya banyak kegiatan perusahaan
yang dibiayai oleh utang jangka panjang. Perusahaan harus mampu mengelola utang
jangka panjangnya agar perusahaan tidak sampai mengalami kebangkrutan. Namun
hutang yang tinggi dapat memperkecil pajak yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Trend pada hutang jangka panjang ini cenderung mengalami kenaikan yang sangat
tajam. Trend ini dikarenakan perusahaan menawarkan obligasi tanpa hak konversi
dengan tingkat suku bunga tetap.
8) Ekuitas

EKUITAS
Rp1400000000.0

Rp1200000000.0 NAIK TAJAM


Rp1000000000.0

Rp800000000.0

Rp600000000.0

Rp400000000.0

Rp200000000.0

Rp-
2012 2013 2014 2015 2016 2017

Analisis :
Pemodalan dalam PT. Delta Djakrat ini tertinggi pada tahun 2017, dan terendah pada
tahun 2012. Pemodalan dalam perusahaan ini dapat dikatakan baik jika modal tersebut
dikelolah dengan baik. Trend pada akun ekuitas ini cenderung mengalami kenaikan
yang tajam. Hal ini dapat dilihat dari penjualan yang semakin tahun semakin naik.
Pemodalan mengalami kenaikan yang sangat tajam. Karena pada saat itu perusahaan
menglami akuisisi.

9) Laba Operasi

LABA OPERASI
Rp400000000.0

Rp350000000.0
STAGNAN
Rp300000000.0

Rp250000000.0

Rp200000000.0

Rp150000000.0

Rp100000000.0

Rp50000000.0

Rp-
2012 2013 2014 2015 2016 2017
Analisis :
Laba operasi trendnya mengalami kenaikan yang stagnan. Tertinggi pada tahun 2014
dan terendah pada tahun 2015 penurunan ini harus segera diatasi dengan memperkecil
beban biaya. jika laba perusahaan semakin tinggi artinya ada kinerja yang baik yang
dilakukan oleh perusahaan. Pada tahun 2016 meningkat dikarenakan manajemen
memantau hasil operasi dari unit usahanya secara terpisah guna keperluan pengambilan
keputusan mengenai alokasi sumber daya dan penilaian kinerja.

10) EAT

EAT
Rp350000000.0 NAIK LANDAI
Rp300000000.0

Rp250000000.0

Rp200000000.0

Rp150000000.0

Rp100000000.0

Rp50000000.0

Rp-
2012 2013 2014 2015 2016 2017

Analisis :
Laba bersih ini cenderung mengalami kenaikan yang cenderung landai. Tertinggi pada
tahun 2014 dan terendah pada tahun 2015. Laba bersih ini nantinya juga akan
berpengaruh pada ROE. Namun perlu diingat bahwa laba bersih bukanlah segala-
galanya artinya jikapun laba bersih tinggi namun bukan berasal dari kegiatan utama
perusahaan dapat dikatakan kurang berhasil dan sebaliknya. Pada tahun 2017 melonjak
karena pada saat itu perusahaan belum memiliki tagihan pajak yang tinggi dan hutang
jangka panjang yang banyak.

11) Laba Kotor


LABA KOTOR
Rp700000000.0
STAGNAN
Rp600000000.0

Rp500000000.0

Rp400000000.0

Rp300000000.0

Rp200000000.0

Rp100000000.0

Rp-
2012 2013 2014 2015 2016 2017

Analisis :
Laba kotor ini cenderung stagnan, tertinggi terjadi pada tahun 2014 dan terendah pada
tahun 2015. Laba kotor ini bergerak naik turun yang dipengaruhi oleh penjualan dimana
penjualan tersebut masih memiliki biaya lain yang harus diatnggung oleh hasil
penjualan. Trend pada laba kotor ini cenderung stagnan.

Kesimpulan :
Jadi, kesimpulan dari analisis trend pada PT . Delta Djakarta mengalami peningkatan
yang cenderung stagnan dari setiap akunnya. Hal ini dikarekan PT. Delta Djakarta yang
mempunyai anak usaha dibidang yang sama. PT. Delta Djakarta ini bergerak dibidang
minuman bir yang penghasilannya akan cenderung stagnan di setiap tahunnya.

(5) ANALISIS RASIO LAPORAN KEUANGAN PT DELTA DJAKARTA TBK 2012-2017


a. ANALISIS PROFITABILITAS
1) ROA

2012 2013 2014 2015 2016 2017


NET
INCOME Rp 213.421.077 Rp 270.498.062 Rp 288.073.432 Rp 192.045.199 Rp 254.509.268 Rp 279.772.635
TOTAL
ASSET Rp 745.306.835 Rp 867.040.802 Rp 991.947.134 Rp 1.038.321.916 Rp 1.197.796.650 Rp 1.340.842.765
0,286353307 0,311978469 0,290412082 0,184957282 0,212481199 0,20865432
*Murhadi, W.R. 2015. Analisis Laporan Keuangan Proyeksi dan Valuasi Saham. Jakarta : Salemba Empat

Pada PT Delta Djakarta, trend dari rasio ROA memperlihatkan nilai yang
cenderung menurun beberapa tahun terakhir. Meskipun ada peningkatan tetapi
peningkatan tersebut tidak begitu signifikan. Dilihat dari tahun 2014 yang
berada pada nilai 0.29 atau 29% dan turun pada tahun 2015 pada nilai 0.184
atau 18.4% yang kemudian naik pada tahun 2016 dengan nilai 0.212 atau
21.2%. Kemungkinan hal tersebut diakibatkan oleh nilai net income yang tidak
berubah begitu drastis tiap tahunnya dan sebaliknya jumlah asset mengalami
peningkatan yang cukup tajam tiap tahunnya. Akan tetapi rata2 ROA dari tahun
2012-2017 bisa dibilang baik yaitu kurang lebih 24.85% tetapi perlu
dibandingkan dengan perusahaan serupa untuk meihat tingkat baik tidaknya
kinerja dari perusahaan. Penurunan yang terjadi di tahun 2015 diakibatkan
karena munculnya undang-undang yang melarang penjualan minuman
beralkohol di beberapa tempat tertentu.

2) ROTA
2012 2013 2014 2015 2016 2017
Rp Rp Rp Rp
EBIT 287.505.070 358.395.988 379.518.812 250.197.742 Rp 294.018.074 Rp 369.021.853
Rp Rp Rp Rp
TOTAL ASSET 745.306.835 867.040.802 991.947.134 1.038.321.916 Rp 1.197.796.650 Rp 1.340.842.765
0,385753969 0,413355389 0,382599837 0,240963557 0,245465767 0,275216351
*www.investopedia.com/terms/return_on_total_assets.asp

Dalam trend yang ditunjukkan oleh gambar tersebut PT Delta Djakarta cenderung
mengalami penurunan kualitas efisiensi pengelolaan aset mereka, meskipun
menggunakan EBIT nilai tersebut tidak jauh berbeda dengan nilai ROA. Dengan
menurunnya secara drastis pada tahun 2014 ke 2015 dan naik kembali secara tidak
signifikan pada tahun 2016, memperlihatkan kualitas yang cukup tidak baik pada sisi
rasio ROTA.

3) ROE
2012 2013 2014 2015 2016 2017
NET Rp Rp Rp Rp Rp Rp
INCOME 213.421.077 270.498.062 288.073.432 192.045.199 254.509.268 279.772.635
TOTAL Rp Rp Rp Rp Rp Rp
EQUITY 598.211.513 676.557.993 764.473.253 849.621.481 1.012.374.008 1.144.645.393
0,356765245 0,399815041 0,376826044 0,226036186 0,251398461 0,244418609
*Murhadi, W.R. 2015. Analisis Laporan Keuangan Proyeksi dan Valuasi Saham. Jakarta :
Salemba Empat

Dalam trend yang ditunjukkan tersebut sama halnya dengan ROA dan ROTA, ROE
cenderung mengalami penurunan daripada kenaikkan. Hal itu disebabkan dengan Net
income mengalami peningkatan yang tidak drastis bahkan mengalami penurunan tajam
pada tahun 2015 dan sebaliknya investasi dari pemegang saham cenderung naik dari
tahun ke tahun. Hal tersebut yang menyebabkan nilai ROE cenderung menurun.
4) NPM

2012 2013 2014 2015 2016 2017


Rp Rp Rp Rp Rp Rp
EAT 213.421.077 270.498.062 288.073.432 192.045.199 254.509.268 279.772.635
NET Rp Rp Rp Rp Rp Rp
SALES 719.951.793 867.066.542 879.253.383 699.506.819 774.968.268 777.308.328
0,29643801 0,311969208 0,327634147 0,274543712 0,328412502 0,359924916
*ilmumanajemenindustr.com/pengertian-net-profit-margin-marjin-laba-bersih-
rumus-npm/

Dilihat dari trend NPM PT Delta Djakarta tersebut dapat dikatakan rasio NPM dari
perusahaan cukup baik. Pada 2012-2017 hanya mengalami penurunan satu kali dengan
nilai 0.27 pada tahun 2015 diakibatkan penurunan EAT pada tahun tersebut dan
selebihnya perusahaan mengalami kenaikan dan nilai nya selalu diatas 0.3. Hal tersebut
menunjukkan bahwa tingkat penjualan perusahaan sangat baik dan menghasilkan laba
yang baik pula.

5) GPM

2012 2013 2014 2015 2016 2017


GROSS Rp Rp Rp Rp Rp Rp
PROFIT 517.387.587 605.264.448 617.506.248 466.353.551 540.881.980 574.271.361
Rp Rp Rp Rp Rp Rp
NET SALES 719.951.793 867.066.542 879.253.383 699.506.819 774.968.268 777.308.328
0,718641987 0,698059974 0,702307503 0,666689071 0,697940809 0,738794813
*Murhadi, W.R. 2015. Analisis Laporan Keuangan Proyeksi dan Valuasi Saham. Jakarta : Salemba
Empat

Dilihat dari trend GPM PT Delta Djakarta tersebut dapat dikatakan rasio GPM dari
perusahaan cukup baik. Pada 2012-2017 mengalami penurunan yang lumayan hanya
satu kali dengan nilai 0.66 pada tahun 2015 diakibatkan penurunan GPM pada tahun
tersebut dan selebihnya perusahaan mengalami kenaikan dan nilai nya selalu diatas
0.66. Hal tersebut menunjukkan bahwa kegiatan operasi perusahaan yang semakin baik.

6) OM/ROS

2012 2013 2014 2015 2016 2017


Rp Rp Rp Rp Rp Rp
EBIT 287.505.070 358.395.988 379.518.812 250.197.742 294.018.074 369.021.853
NET Rp Rp Rp Rp Rp Rp
SALES 719.951.793 867.066.542 879.253.383 699.506.819 774.968.268 777.308.328
0,399339335 0,413343118 0,431637591 0,357677345 0,379393694 0,474743213
*Murhadi, W.R. 2015. Analisis Laporan Keuangan Proyeksi dan Valuasi Saham. Jakarta :
Salemba Empat

Dari trend tersebut dapat dilihat bahwa rasio tersebut cukup baik dengan cenderung
meningkatnya nilai rasio pada tahun 2012-2017. Meskipun begitu, pada tahun 2015
mengalami penurunan yang cukup tajam yang mempengaruhi rata-rata rasio pada tahun
2012-2017. Akan tetapi dengan melihat trend yang cenderung naik dari tahun ke tahun
tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa penjualan perusahaan masih memperoleh
laba yang baik dilihat dari sisi nilai laba EBIT.

7) ROI

2012 2013 2014 2015 2016 2017


Rp Rp Rp Rp Rp Rp
EAT 213.421.077 270.498.062 288.073.432 192.045.199 254.509.268 279.772.635
TOTAL Rp Rp Rp Rp Rp Rp
ASSET 745.306.835 867.040.802 991.947.134 1.038.321.916 1.197.796.650 1.340.842.765
0,286353307 0,311978469 0,290412082 0,184957282 0,212481199 0,20865432
*dosenakuntansi.com/rasio-profitabilitas/

Dari trend tersebut dapat dilihat bahwa rasio cenderung menurun seperti sebelumya.
Hal ini terjadi karena sama dengan halnya ROA, dimana nilai EAT hanya mengalami
kenaikan yang tidak begitu signifikan akan tetapi nilai dari total aktiva meningkat
dengan sangat tinggi tiap tahunnya. Dengan begini perusahaan bisa dibilang masih bisa
memanfaatkan aktivanya dengan optimal.

b. Analisis Rasio Leverage


1) Trend DAR

2012 2013 2014 2015 2016 2017


Rp Rp Rp Rp Rp Rp
TOTAL DEBT 147,095,322 190,482,809 227,473,881 188,700,435 185,422,642 196,197,372
Rp Rp Rp Rp Rp Rp
TOTAL ASSET 745,306,835 867,040,802 991,947,134 1,038,321,916 1,197,796,650 1,340,842,765
0.1973621 0.219693016 0.229320569 0.181735965 0.154803106 0.146323922
*http://www.landasanteori.com/2015/07/pengertian-rasio-solvabilitas-
jenis.html
Debt to Total Assets Ratio digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah
aktiva peusahaan dibiayai dengan total hutang. Semakin tinggi rasio ini berarti
semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan untuk investasi pada
aktiva guna menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.
Pada grafik di atas menunjukkan trend Debt to Equity Ratio yang cenderung
menurun. Pada tahun 2012 dimana trend DAR sebesar 0,19% yang kemudian
mengalami kenaikan pada tahun 2013 menjadi 0,21% dan di tahun 2014 sebesar
0,22%. Namun hal tersebut tidak bertahan lama, terbukti pada tahun 2014-2017
yang terus-menerus mengalami penurunan hingga menjadi 0,014%. Hal ini
berarti bahwa jumlah pinjaman modal yang digunakan untuk investasi perusahaan
semakin kecil.

2) Trend DER

2012 2013 2014 2015 2016 2017


TOTAL Rp Rp Rp Rp Rp Rp
DEBT 147.095.322 190.482.809 227.473.881 188.700.435 185.422.642 196.197.372
Rp Rp Rp Rp Rp Rp
EQUITY 598.211.513 676.557.993 764.473.253 849.621.481 1.012.374.008 1.144.645.393
0,245891827 0,281546905 0,297556363 0,222099416 0,183156265 0,171404501
*http://www.landasanteori.com/2015/07/pengertian-rasio-
solvabilitas-jenis.html

Debt to Equity Ratio atau adalah rasio yang membandingkan jumlah hutang
terhadap ekuitas. Semakin tinggi DER maka diasumsikan perusahaan memiliki
resiko yang semakin tinggi terhadap likuiditas perusahaannya
Pada grafik di atas, terlihat bahwa trend DAR perusahaan cenderung turun. Dapat
dilihat bahwa kenaikan yang terjadi pada tahun 2012-2014 tidak begitu besar,
namun pada tahun 2014 dimana DAR sebesar 0,29% kemudian terus-menerus
turun hingga tahun 2017 sebesar 0,17%. Penurunan yang terjadi bisa dibilang
cukup besar, hal ini berarti bahwa resiko perusahaan terhadap likuiditas semakin
kecil.

3) Trend LTDER

2012 2013 2014 2015 2016 2017


LONG TERM Rp Rp Rp Rp Rp Rp
DEBT 27.175.770 31.492.068 36.521.246 48.280.940 47.580.546 56.512.464
Rp Rp Rp Rp Rp Rp
EQUITY 598.211.513 676.557.993 764.473.253 849.621.481 1.012.374.008 1.144.645.393
0,045428363 0,046547478 0,047773085 0,056826412 0,04699898 0,049371154
*http://www.landasanteori.com/2015/07/pengertian-rasio-
solvabilitas-jenis.html

Long Term Debt to Equity adalah rasio antara hutang jangka panjang dengan
modal sendiri. Ketika rasio relatif tinggi hal ini menunjukkan bahwa bisnis berada
pada risiko kebangkrutan yang lebih besar.
Pada grafik di atas menunjukkan bahwa rasio LTDE perusahaan mengalami
kenaikan pada tahun 2015 sebesar 0,05%, tetapi dapat diturunkan kembali pada
tahun 2016 menjadi 0,04%.

4) Trend Times Interest Earned Ratio

2012 2013 2014 2015 2016 2017


Rp Rp Rp Rp Rp Rp
EBIT 287.505.070 358.395.988 379.518.812 250.197.742 327.047.654 369.021.853
INTEREST
EXPENSE
#DIV/0! #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!

Trend Times Interest Earned Ratio adalah rasio yang mengukur kemampuan
perusahaan dalam membayar atau menutupi beban bunga di masa depan. Pada
perusahaan ini, time interest earned ratio tidak dicantumkan pada laporan
keuangan, hal ini dikarenakan times interest earned perusahaan terlalu kecil dan
tidak mempengaruhi laporan keuangan perusahaan itu sendiri.

5) Trend Long Term Debt to Non Current Asset (LTDNCA)

2012 2013 2014 2015 2016 2017


LONG TERM Rp Rp Rp Rp Rp Rp
DEBT 27.175.770 31.492.068 36.521.246 48.280.940 47.580.546 56.512.464
NON
CURRENT Rp Rp Rp Rp Rp Rp
ASSET 113.973.614 118.929.799 137.770.990 136.315.083 149.662.953 134.266.576
0,238439136 0,264795436 0,265086619 0,354186338 0,317917995 0,420897484
*http://www.landasanteori.com/2015/07/pengertian-rasio-
solvabilitas-jenis.html

Long Term Debt to Non Current Asset menunjukkan perbandingan hutang jangka
panjang aktiva selain aktiva lancar.
pada grafik di atas terlihat bahwa rasio LTDNCA perusahaan cenderung
mengalami kenaikan. Kenaikan yang cukup besar terjadi pada tahun 2016 sebesar
0,31% menjadi 0,42% pada tahun 2017. Hal ini berarti bahwa perusahaan secara
progresif menjadi lebih bergantung terhadap hutang untuk menumbuhkan
bisnisnya.

6) Trend Tangible Assets Debt Covarage (TDAC)

2012 2013 2014 2015 2016 2017


Rp Rp Rp Rp Rp Rp
FIXED ASSET 95.121.198 93.078.878 113.596.416 105.314.440 96.275.498 89.978.944
LONG TERM Rp Rp Rp Rp Rp Rp
DEBT 27.175.770 31.492.068 36.521.246 48.280.940 47.580.546 56.512.464
3,500220895 2,955629271 3,110420055 2,18128396 2,023421463 1,59219644
*http://www.landasanteori.com/2015/07/pengertian-rasio-
solvabilitas-jenis.html

Tangible Assets Debt Covarage (TDAC) digunakan untuk mengetahui rasio


antara aktiva tetap berwujud dengan hutang jangka panjang. Semakin tinggi rasio
ini semakin besar jaminan yang ada dan kreditor jangka panjang semakin aman
atau terjamin dan semakin besar kemampuan perusahaan untuk mencari
pinjaman.
Pada grafik di atas, terlihat bahwa TDAC perusahaan mengalami penurunan
secara terus-menerus pada tahun 2012 sebesar 3,5% hingga pada tahun 2017
sebesar 1,5%. Ini berarti bahwa kemampuan perusahaan untuk mencari pinjaman
semakin menurun.

7) Trend Current Liabilities to Net Worth (CLNW)

2012 2013 2014 2015 2016 2017


CURRENT Rp Rp Rp Rp Rp Rp
LIABILITIES 119.919.552 158.990.741 190.952.635 140.419.495 137.842.096 139.684.908
Rp Rp Rp Rp Rp Rp
EQUITY 598.211.513 676.557.993 764.473.253 849.621.481 1.012.374.008 1.144.645.393
0,200463464 0,234999427 0,249783278 0,165273005 0,136157285 0,122033347
*http://www.landasanteori.com/2015/07/pengertian-rasio-
solvabilitas-jenis.html

Current Liabilities to Net Worth menunjukkan rasio antara hutang lancar dengan
modal sendiri. Semakin kecil rasio ini semakin baik, sebab modal sendiri yang
ada diperusahaan semakin besar untuk menjamin hutang lancar yang ada pada
perusahaan.
Pada grafik diatas terlihat bahwa CNLW perusahaan cenderung mengalami
penurunan pada tahun 2014 sebesar 0,24% menjadi 0,12% pada tahun 2017. Hal
ini menunjukkan bahwa pada tahun 2014 hingga 2017 modal sendiri perusahaan
semakin besar sehingga dapat menjamin hutang lancar yang ada di perusahaan.

c. ANALISIS RASIO LIKUIDITAS

1) CR
2012 2013 2014 2015 2016 2017
AKTIVA Rp Rp Rp Rp Rp
Rp 631.333.221
LANCAR 748.111.003 858.313.129 902.006.833 1.048.133.697 1.206.576.189
HUTANG Rp Rp Rp Rp Rp
Rp 119.919.552
LANCAR 158.990.741 195.089.619 140.419.495 137.842.096 139.684.908
5,264639589 4,705374654 4,399583809 6,423658147 7,603872311 8,637842171
*http://digilib.unila.ac.id/7171/16/BAB%20II.pdf
Pada grafik di atas menunjukkan trend CR yang cenderung meningkat. Pada
tahun 2017 adalah titik tertinggi diantara tahun-tahun yang lain. Ini harus
dikhawatirkan sebab penggunaan aktiva tidak digunakan secara efektif oleh
perusahaan.

2) QR
2012 2013 2014 2015 2016 2017
AKTIVA LANCAR- Rp Rp Rp Rp
PERSEDIAAN Rp 479.247.208 576.366.072 656.739.087 Rp 720.844.090 864.265.199 1.027.712.272
Rp Rp Rp Rp
HUTANG LANCAR Rp 119.919.552 158.990.741 190.952.635 Rp 140.419.495 137.842.096 139.684.908
3,996405924 3,625154952 3,439277426 5,133504361 6,269965592 7,35736084
*http://digilib.unila.ac.id/7171/16/BAB%20II.pdf
Pada grafik di atas, terlihat bahwa trend QR perusahaan cenderung meningkat
dari tahun 2014-2017. Peningkatan yang lumayan baik ini menandakan bahwa
kondisi perusahaan semakin baik.

2012 2013 2014 2015 2016 2017


KAS + SETARA Rp Rp Rp
KAS Rp 290.769.171 433.776.477 415.161.151 Rp 494.886.246 658.665.614 Rp 845.324.146
HUTANG Rp Rp Rp
Rp 140.419.495 Rp 139.684.908
LANCAR Rp 119.919.552 158.990.741 190.952.635 137.842.096
2,424701945 2,72831282 2,174157749 3,524341446 4,778406837 6,051649803
*http://eprints.polsri.ac.id/2628/3/BAB%20II.pdf
3) CASH RATIO
Pada grafik di atas menunjukkan bahwa Cash ratio perusahaan mengalami
kenaikan pada tahun 2014-2017, hal ini berarti bahwa kondisi perusahaan
mampu untuk melunasi hutang-hutangnya sesuai atau bahkan sebelum jatuh
tempo.

4) WCTA
2012 2013 2014 2015 2016 2017
AKTIVA LANCAR- Rp Rp Rp
HUTANG LANCAR Rp 522.377.136 Rp 589.120.262 Rp 663.223.510 761.587.338 910.291.601 894.004.649
Rp Rp Rp
TOTAL AKTIVA Rp 745.306.835 Rp 867.040.802 Rp 997.443.167 1.038.321.916 1.340.842.765 1.197.796.650
0,700888696 0,679460829 0,664923609 0,733479017 0,678895113 0,746374311
*https://jarcomsys.wordpress.com/2009/10/28/analisis-rasio-
keuangan/
Terlihat pada grafik bahwa WCTA perusahaan mengalami peningkatan dan
penurunan. Tahun 2014 ada pada titik 0,66 dan tahun 2016 ada pada titik 0,67.
Di tahun 2017 rasio tertinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini
menunjukkan bahwa perusahaan semakin baik.

TAHUN
NO AKUN
2012 2013 2014 2015 2016 2017
AKTIVA
A
LANCAR
Kas dan Setara Rp Rp Rp Rp Rp
kas 290.769.171 435.356.011 45.161.151 Rp 496.286.321 658.665.614 845.324.146
Rp Rp Rp Rp Rp
Piutang
197.569.587 120.891.620 214.319.994 Rp 181.290.870 180.610.661 158.142.998
Rp Rp Rp Rp Rp
Persediaan
106.065.078 171.744.931 193.300.072 Rp 181.162.743 183.868.498 178.863.917
Rp Rp Rp Rp Rp
Lain-lain
36.929.385 20.118.441 401.394.927 Rp 43.266.899 24.988.924 24.245.128
TOTAL Rp631.333.221 Rp748.111.003 Rp854.176.144 Rp902.006.833 Rp1.048.133.697 Rp1.206.576.189
AKTIVA
B
TETAP
Rp Rp Rp Rp Rp
Tanah 6.249.640 6.249.640 6.249.640 Rp 6.249.640 6.249.640 6.249.640
Rp Rp Rp Rp Rp
Prasarana 758.797 707.886 747.502 Rp 1.736.107 1.639.583 1.760.194
Rp Rp Rp Rp Rp
Gedung 18.549.637 17.730.328 18.308.207 Rp 17.106.907 17.952.264 16.944.242
Mesin dan Rp Rp Rp Rp Rp
peralatan 40.480.162 43.351.291 44.853.094 Rp 44.385.932 42.114.881 37.470.649
Rp Rp Rp Rp Rp
Perlengkapan 3.227.653 2.311.454 1.845.783 Rp 1.850.495 1.847.476 2.673.488
Rp Rp Rp Rp Rp
Kendaraan 1.411.170 1.875.607 3.250.811 Rp 2.110.333 2.209.182 1.880.182
Rp Rp Rp Rp Rp
Lain-lain 43.296.555 46.703.593 62.515.953 Rp 62.875.669 77.649.927 67.288.181
TOTAL Rp113.973.614 Rp118.929.799 Rp137.770.990 Rp136.315.083 Rp149.662.953 Rp134.266.576

TOTAL
Rp745.306.835 Rp867.040.802 Rp991.947.134 Rp1.038.321.916 Rp1.197.796.650 Rp1.340.842.765
AKTIVA
(6) COMMON SIZE PT DELTA DJAKARTA TBK

C HUTANG 2012 2013 2014 2015 2016 2017


Rp Rp
Hutang Usaha 26.760.090 44.666.958 Rp 32.567.481 Rp 44.310.467 Rp 29.442.223 Rp 34.997.310
Hutang jangka Rp Rp
pendek 93.159.462 114.323.783 Rp 158.385.154 Rp 96.109.028 Rp 108.399.873 Rp 104.687.598
Hutang Jangka Rp Rp
panjang 27.175.770 31.492.068 Rp 36.521.246 Rp 48.280.940 Rp 47.580.546 Rp 56.512.464
Rp Rp
Ekuitas
598.211.513 676.557.993 Rp 764.473.253 Rp 849.621.481 Rp 1.012.374.008 Rp 1.144.645.393
TOTAL Rp745.306.835 Rp867.040.802 Rp991.947.134 Rp1.038.321.916 Rp1.197.796.650 Rp1.340.842.765

TAHUN COMMON SIZE


AKUN
2012 2013 2014 2015 2016 2017
AKTIVA LANCAR
Kas dan Setara kas 39,01% 50,21% 41,85% 47,80% 54,99% 63,04%
Piutang 26,51% 13,94% 21,61% 17,46% 15,08% 11,79%
Persediaan 14,23% 19,81% 19,49% 17,45% 15,35% 13,34%
Lain-lain 4,95% 2,32% 3,16% 4,17% 2,09% 1,81%
TOTAL 84,71% 86,28% 86,11% 86,87% 87,51% 89,99%
AKTIVA TETAP
Tanah 0,84% 0,72% 0,63% 0,60% 0,52% 0,47%
Prasarana 0,10% 0,08% 0,08% 0,17% 0,14% 0,13%
Gedung 2,49% 2,04% 1,85% 1,65% 1,50% 1,26%
Mesin dan peralatan 5,43% 5,00% 4,52% 4,27% 3,52% 2,79%
Perlengkapan 0,43% 0,27% 0,19% 0,18% 0,15% 0,20%
Kendaraan 0,19% 0,22% 0,33% 0,20% 0,18% 0,14%
Lain-lain 5,81% 5,39% 6,30% 6,06% 6,48% 5,02%
TOTAL 15,29% 13,72% 13,89% 13,13% 12,49% 10,01%

TOTAL AKTIVA 100% 100% 100% 100% 100% 100%

HUTANG
Hutang Usaha 4% 5% 3% 4% 2% 3%
Hutang jangka pendek 12% 13% 16% 9% 9% 8%
Hutang Jangka panjang 4% 4% 4% 5% 4% 4%
Ekuitas 80% 78% 77% 82% 85% 85%
TOTAL 100% 100% 100% 100% 100% 100%

(7) SISTEM DUPONT

Analisis DU Pont
PT Delta Djakarta Tbk
Tahun 2012

Penjualan
= Rp 719.951.793

Dikurangi
Laba setelah Pajak
= Rp 213.421.077 Total Biaya yang dikeluarkan
= Rp. 506.530.716
% Laba Dibagi
Bersih
= 29,64%
Penjualan
= Rp 719.951.793
ROI (Return on
Investment) Dikali
= 28,63%
Penjualan
= Rp 719.951.793
Total Aset
Total Aset Lancar
Turnover Dibagi
Rp 631.333.221
= 96,59803%

Total Aset
Ditambah
ROE = Rp 745.306.835
Dikali 35,67%
Total Aktiva Tetap
= Rp. 113.973.614

Equity
= Rp 598.211.513

Total Aset
Ditambah Long Term Debt
= Rp 745.306.835
= Rp 27.175.770
Total Liabilitas
Equity Multipier = Rp. 147.095.322
Ditambah
= 124,6% Dibagi
Current Liabilities
= Rp 119.919.552
Analisis DU pont
PT Delta Djakarta Tbk
Tahun 2013
Penjualan
= Rp 867.066.542

Dikurangi
Laba setelah Pajak
= Rp 270.498.062 Total Biaya yang dikeluarkan
= Rp. 596.568.480
% Laba Dibagi
Bersih
= 31,19%
Penjualan
= Rp 867.066.542
ROI (Return on
Investment) Dikali
= 31,19%
Penjualan
= Rp 867.066.542
Total Aset
Total Aset Lancar
Turnover Dibagi
Rp 748.111.003
= 100,00297%

Total Aset
Ditambah
ROE = Rp 867.040.802
Dikali 39,98%
Total Aktiva Tetap
= Rp. 118.929.799

Equity
= Rp 676.557.993

Total Aset
Ditambah Long Term Debt
= Rp 867.040.802
= Rp 31.492.068
Total Liabilitas
Equity Multipier = Rp. 190.482.809
Ditambah
= 128,15% Dibagi
Current Liabilities
= Rp 158.990.741
Equity
= Rp676.557.993
Analisis DU Pont
PT. Delta Djakarta Tbk
Tahun 2014
Penjualan
= Rp 879.253.383

Dikurangi
Laba setelah Pajak
= Rp 288.073.432 Total Biaya yang dikeluarkan
= Rp. 591.179.951
% Laba Dibagi
Bersih
= 32,76%
Penjualan
= Rp 879.253.383
ROI (Return on
Investment) Dikali
= 29,04%
Penjualan
= Rp 879.253.383
Total Aset
Total Aset Lancar
Turnover Dibagi
Rp 854.176.144
= 88,64%

Total Aset
Ditambah
ROE = Rp 991.947.134
Dikali 37,68%
Total Aktiva Tetap
= Rp. 137.770.990

Equity
= Rp 764.473.253

Total Aset
Ditambah Long Term Debt
= Rp 991.947.134
= Rp 36.521.246
Total Liabilitas
Equity Multipier = Rp. 227.473.881
Ditambah
= 129,75563% Dibagi
Current Liabilities
= Rp 190.952.635
Equity
= Rp764.473.253
Analisis DU Pont
PT Delta Djakarta Tbk
2015 Penjualan
= Rp 699.506.819

Dikurangi
Laba setelah Pajak
= Rp 192.045.199 Total Biaya yang dikeluarkan
= Rp. 507.461.620
% Laba Dibagi
Bersih
= 27,45%
Penjualan
= Rp 699.506.819
ROI (Return on
Investment) Dikali
= 18,49%
Penjualan
= Rp 699.506.819
Total Aset
Total Aset Lancar
Turnover Dibagi
Rp 902.006.833
= 67,36897%

Total Aset
Ditambah
ROE = Rp 1.038.321.916
Dikali 22,6%
Total Aktiva Tetap
= Rp. 136.315.083

Equity
= Rp 849.621.481

Total Aset
Ditambah Long Term Debt
= Rp 1.038.321.916
= Rp 48.280.940
Total Liabilitas
Equity Multipier = Rp. 188.700.435
Ditambah
= 122,209% Dibagi
Current Liabilities
= Rp 140.419.495
Equity
= Rp849.621.481
Analisis DU Pont
PT Delta Djakarta Tbk
Tahun 2016

Penjualan
= Rp 774,968,268

Dikurangi
Laba setelah Pajak
= Rp254,509,268
Total Biaya yang dikeluarkan
= Rp 520,459,000
% Laba Dibagi
Bersih
= 32.84%
Penjualan
= Rp 774,968,268
ROI (Return on
Investment) Dikali
= 21,24%
Penjualan
= Rp 774,968,268
Total Aset
Turnover Total Aset Lancar
Dibagi
= 64.70% = Rp 1,048,133,697

Total Aset
Ditambah
ROE (Return = Rp 1,197,796,650
Dikali on Equity)
= 25,13% Total Aktiva Tetap
= Rp 149,662,953

Equity
= Rp 1,012,374,008

Total Aset
=Rp1,197,796,650 Ditambah Long Term Debt
= Rp 47,580,546

Equity Multipier Total Liabilitas Ditambah


= 118,31% Dibagi = Rp185,422,642
Current Liabilities
= Rp 137,842,096
Equity
=Rp 1,012,374,008
Analisis DU Pont
PT. Delta Djakarta Tbk
Tahun 2017

Penjualan
= Rp 777,308,328

Laba setelah Pajak Dikurangi


=Rp279,772,635
Total Biaya yang dikeluarkan
= Rp 497,535,693
% Laba Dibagi
Bersih
= 35.99%

Penjualan
ROI (Return on = Rp 777,308,328
Investment) Dikali
= 20,86%
Penjualan
= Rp 777,308,328
Total Aset
Turnover Total Aset Lancar
Dibagi
=57.97% Rp 1,206,576,189

Total Aset
Ditambah
ROE = Rp1,340,842,765
Dikali 24,44%
Total Aktiva Tetap
= Rp 134,266,576

Equity
= Rp 1,144,645,393

Total Aset
Ditambah Long Term Debt
=
Rp1,340,842,765 = Rp 56,512,464

Equity Multipier Ditambah


= 117,14% Dibagi
Current Liabilities
= Rp 139,684,908
Equity
= Rp 1,144,645,393
(8) KESIMPULAN
Pada PT Delta Djakarta, memperlihatkan proporsi dari aktiva lancar dari tahun ke tahun
pada posisi yang naik dengan stabil, meskipun pada tahun 2014 bisa dilihat bahwa aktiva
lancer mengalami penurunan sedikit. Dengan proporsi sebagai berikut, 2012 sebesar
84,71%, 2013 sebesar 86,28%, 2014 sebesar 86,11%, 2015 sebesar 86,87%, 2016 sebesar
87,51% dan 2017 sebesar 89,99% sedangkan aktiva tetap yang dimiliki oleh PT Delta
Djakarta bisa dilihat dengan proporsi aktiva lancar yang sebesar itu maka rata-rata dari
aktiva tetap yang dimiliki kurang lebih 15% bahkan kebanyakan dibawah 15 %. Dengan
begini dapat dilihat bahwa aktiva lancar lebih dominan dan perusahaan dapat memenuhi
hutang jangka pendeknya tanpa ada hambatan. Hal ini sangat bagus karena tingkat
likuiditas dari perusahaan sangat bagus dan dapat menjadi pertimbangan dari investor ke
depannya. Kemudian pada tingkat proporsi hutang dari perusahaan memperlihatkan bahwa
ekuitas menjadi salah satu kekuatan dominan dari perusahaan. Rata-rata ekuitas per
tahunnya sangatlah besar mencapai kurang lebih 80 persen dan hutang-hutang yang
dimiliki oleh perusahaan sangatlah kecil kurang lebih hanya 20 persen. Hal ini
menunjukkan bahwa perusahaan mampu membiayai segala proses produksi tanpa
berhutang terlalu banyak.
Kemudian pada tingkat laba yang ada pada perusahaan terjadi pergerakkan yang
fluktuaktif relatif stagnan, dikarenakan pada tahun 2015 pendapatan perusahaan mengalami
penurunan yang cukup drastis dikarenakan adanya regulasi tentang penjualan minuman
keras di Indonesia yang menjadikan penjualan dari produk PT Delta Djakarta menurun
drastis dan mempengaruhi pendapatan dari perusahaan.
Trend dari rasio ROA memperlihatkan nilai yang cenderung menurun beberapa tahun
terakhir. Meskipun ada peningkatan tetapi peningkatan tersebut tidak begitu signifikan.
Dilihat dari tahun 2014 yang berada pada nilai 0.29 atau 29% dan turun pada tahun 2015
pada nilai 0.184 atau 18.4% yang kemudian naik pada tahun 2016 dengan nilai 0.212 atau
21.2%. Kemungkinan hal tersebut diakibatkan oleh nilai net income yang tidak berubah
begitu drastis tiap tahunnya dan sebaliknya jumlah asset mengalami peningkatan yang
cukup tajam tiap tahunnya. Akan tetapi rata2 ROA dari tahun 2012-2017 bisa dibilang baik
yaitu kurang lebih 24.85% tetapi perlu dibandingkan dengan perusahaan serupa untuk
meihat tingkat baik tidaknya kinerja dari perusahaan. Penurunan yang terjadi di tahun 2015
diakibatkan karena munculnya undang-undang yang melarang penjualan minuman
beralkohol di beberapa tempat tertentu.
Dalam trend ROTA PT Delta Djakarta cenderung mengalami penurunan kualitas
efisiensi pengelolaan aset mereka, meskipun menggunakan nilai EBIT, rasio tersebut tidak
jauh berbeda dengan nilai ROA. Karena adanya penurunan EBIT pada tahun 2015 yang
mengakibatkan terjadinya fluktuasi penurunan yang cukup tajam dan naik kembali secara
tidak signifikan pada tahun 2016, memperlihatkan kualitas yang cukup tidak baik pada sisi
rasio ROTA. Hal ini seperti yang dijelaskan sebelumnya. hal ini terjadi karena regulasi
pemerintah indonesia yang mengakibatkan penjualan menurun drastic.
Dalam trend yang ditunjukkan tersebut sama halnya dengan ROA dan ROTA, ROE
cenderung mengalami penurunan daripada kenaikkan. Hal itu disebabkan dengan Net
income mengalami peningkatan yang tidak drastis bahkan mengalami penurunan tajam
pada tahun 2015 dan sebaliknya investasi dari pemegang saham cenderung naik dari tahun
ke tahun. Hal ini sama dengan 2 rasio sebelumya dikarenkan adanya penurunan penjualan
yang berdampak sangat signifikan terhadap segala bentuk pendapatan pada tahun 2015.
Dilihat dari trend NPM PT Delta Djakarta tersebut dapat dikatakan rasi dari perusahaan
cukup baik. Pada 2012-2017 hanya mengalami penurunan satu kali dengan nilai 0.27 pada
tahun 2015 diakibatkan penurunan EAT pada tahun tersebut dan selebihnya perusahaan
mengalami kenaikan dan nilai nya selalu diatas 0.30. Hal tersebut menunjukkan bahwa
tingkat penjualan perusahaan cukup baik meskipun pada tahun 2015 ada masalah regulasi
yang mempengaruhi laba perusahaan. Dan juga jika dilihat dari sisi NPM maka terlihat
cukup stabil karena perbandingan yang digunakan adalah EAT dan NET SALES yang
notabene hal tersebut saling berhubungan satu sama lain yang menjadikan rasio dari
perusahaan stabil.
Dilihat dari trend GPM PT Delta Djakarta tersebut dapat dikatakan rasio GPM dari
perusahaan cukup baik. Pada 2012-2017 mengalami penurunan yang lumayan hanya satu
kali dengan nilai 0.66 pada tahun 2015 diakibatkan regulasi yang terjadi di Indonesia dan
selebihnya perusahaan mengalami kenaikan dan nilai nya selalu diatas 0.66. Hal tersebut
menunjukkan bahwa kegiatan operasi perusahaan yang semakin baik.
Dari trend OM dapat dilihat bahwa rasio tersebut cukup baik dengan cenderung
meningkatnya nilai rasio pada tahun 2012-2017. Meskipun begitu, pada tahun 2015
mengalami penurunan yang cukup tajam yang mempengaruhi rata-rata rasio pada tahun
2012-2017. Akan tetapi dengan melihat trend yang cenderung naik dari tahun ke tahun
tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa penjualan perusahaan masih memperoleh laba
yang baik dilihat dari sisi nilai laba EBIT. Dan seperti yang sebelumya bahwa nilai ini
dipengaruhi oleh kebijakan tentang minuman keras pada tahun 2015
Dari trend ROI tersebut dapat dilihat bahwa rasio cenderung menurun seperti
sebelumya. Hal ini terjadi karena ROI sama dengan ROA, dimana nilai EAT hanya
mengalami kenaikan yang tidak begitu signifikan, akan tetapi nilai dari total aktiva
meningkat dengan stagnan atau stabil tiap tahunnya. Dengan begini perusahaan bisa
dibilang masih bisa memanfaatkan aktivanya dengan optimal.
Debt to Total Assets Ratio digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah aktiva
peusahaan dibiayai dengan total hutang. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin besar
jumlah modal pinjaman yang digunakan untuk investasi pada aktiva guna menghasilkan
keuntungan bagi perusahaan. Pada grafik di atas menunjukkan trend Debt to Assets Ratio
yang cenderung menurun. Pada tahun 2012 dimana trend DAR sebesar 0,19% yang
kemudian mengalami kenaikan pada tahun 2013 menjadi 0,21% dan di tahun 2014 sebesar
0,22%. Namun hal tersebut tidak bertahan lama, terbukti pada tahun 2014-2017 yang terus-
menerus mengalami penurunan hingga menjadi 0,014%. Hal ini berarti bahwa jumlah
pinjaman modal yang digunakan untuk investasi perusahaan semakin kecil.
Debt to Equity Ratio atau adalah rasio yang membandingkan jumlah hutang terhadap
ekuitas. Semakin tinggi DER maka diasumsikan perusahaan memiliki resiko yang semakin
tinggi terhadap likuiditas perusahaannya. Pada grafik di atas, terlihat bahwa trend DAR
perusahaan cenderung turun. Dapat dilihat bahwa kenaikan yang terjadi pada tahun 2012-
2014 tidak begitu besar, namun pada tahun 2014 dimana DAR sebesar 0,29% kemudian
terus-menerus turun hingga tahun 2017 sebesar 0,17%. Penurunan yang terjadi bisa
dibilang cukup besar, hal ini berarti bahwa resiko perusahaan terhadap likuiditas semakin
kecil.
Long Term Debt to Equity adalah rasio antara hutang jangka panjang dengan modal
sendiri. Ketika rasio relatif tinggi hal ini menunjukkan bahwa bisnis berada pada risiko
kebangkrutan yang lebih besar. Pada grafik di atas menunjukkan bahwa rasio LTDE
perusahaan mengalami kenaikan pada tahun 2015 sebesar 0,05%, tetapi dapat diturunkan
kembali pada tahun 2016 menjadi 0,04%.
Pada Trend Times Interest Earned Ratio adalah rasio yang mengukur kemampuan
perusahaan dalam membayar atau menutupi beban bunga di masa depan. Pada perusahaan
ini, time interest earned ratio tidak dicantumkan pada laporan keuangan, hal ini dikarenakan
hutang perusahaan terlalu kecil atau bahkan tidak punya hutang sama sekali dan hal ini
tidak mempengaruhi perusahaan itu sendiri.
Long Term Debt to Non Current Asset menunjukkan perbandingan hutang jangka
panjang aktiva selain aktiva lancar.pada grafik di atas terlihat bahwa rasio LTDNCA
perusahaan cenderung mengalami kenaikan. Kenaikan yang cukup besar terjadi pada tahun
2016 sebesar 0,31% menjadi 0,42% pada tahun 2017. Hal ini berarti bahwa perusahaan
secara progresif menjadi lebih bergantung terhadap hutang untuk menumbuhkan bisnisnya.
Tangible Assets Debt Covarage (TDAC) digunakan untuk mengetahui rasio antara
aktiva tetap berwujud dengan hutang jangka panjang. Semakin tinggi rasio ini semakin
besar jaminan yang ada dan kreditor jangka panjang semakin aman atau terjamin dan
semakin besar kemampuan perusahaan untuk mencari pinjaman. Pada grafik di atas, terlihat
bahwa TDAC perusahaan mengalami penurunan secara terus-menerus pada tahun 2012
sebesar 3,5% hingga pada tahun 2017 sebesar 1,5%. Ini berarti bahwa kemampuan
perusahaan untuk mencari pinjaman semakin menurun.
Current Liabilities to Net Worth menunjukkan rasio antara hutang lancar dengan modal
sendiri. Semakin kecil rasio ini semakin baik, sebab modal sendiri yang ada diperusahaan
semakin besar untuk menjamin hutang lancar yang ada pada perusahaan. Pada grafik diatas
terlihat bahwa CNLW perusahaan cenderung mengalami penurunan pada tahun 2014
sebesar 0,24% menjadi 0,12% pada tahun 2017. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun
2014 hingga 2017 modal sendiri perusahaan semakin besar sehingga dapat menjamin
hutang lancar yang ada di perusahaan.
Pada grafik di atas menunjukkan trend CR yang cenderung meningkat. Pada tahun 2017
adalah titik tertinggi diantara tahun-tahun yang lain. Hal ini memang baik karena
perusahaan dapat mengatasi hutang-hutangya dengan mudah akan tetapi dengan nilai rasio
yang sangat besar juga tidak baik apalagi semua nilai tiap tahunnya mencapai 5,00 atau
500%. Ini mengindikasikan bahwa banyak aktiva lancar yang menganggur dan hal ini
merupakan hal yang buruk juga. Perusahaan harus mulai berhat
Pada trend QR perusahaan cenderung meningkat dari tahun 2014-2017. Dan kita bisa
melihat bahwa dengan dikuranginya aktiva lancar dengan persediaan memperlihatkan
bagaimana aktiva lancar yang sesungguhnya digunakan oleh perusahaan untuk melunasi
hutang-hutang jangka pendeknya. Dengan melihat hal tersebut dapat disimpulkan bahwa
keadaan perusahaan cukup baik
Pada grafik di atas menunjukkan bahwa Cash ratio perusahaan mengalami kenaikan
pada tahun 2014-2017, hal ini berarti bahwa kondisi perusahaan mampu untuk melunasi
hutang-hutangnya sesuai atau bahkan sebelum jatuh tempo.
Terlihat pada grafik bahwa WCTA perusahaan mengalami peningkatan dan penurunan.
Tahun 2014 ada pada titik 0,66 dan tahun 2016 ada pada titik 0,67. Di tahun 2017 rasio
tertinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan
semakin baik.