Anda di halaman 1dari 11

 Dimensi kualitas produk manufaktur

Menurut Douglas C. Montgomery, terdapat 8 dimensi kualitas. Berikut adalah identifikasi dimensi
kualitas untuk produk Tamiya:
1. Performance
Menunjukkan karakteristik utama suatu produk.
Ukuran performansi dari sebuah tamiya adalah kecepatan, dengan satuan meter per sekon (m/s)
dan kemampuan tamiya untuk berjalan lurus yang dipengaruhi oleh kondisi roller. Sebab, orang
pada umumnya membeli tamiya dengan tujuan sebagai sarana permainan dan mereka
memainkannya untuk adu balap dengan tamiya lain.

2. Reliability
Merupakan dimensi kualitas yang menunjukkan kemungkinan suatu produk dapat berfungsi
dengan baik dalam suatu periode waktu tertentu. Biasanya diukur dengan menggunakan waktu
rata-rata kegagalan. Produk dikatakan awet, kalau sudah banyak digunakan atau sudah lama sekali
digunakan. Bagi perusahaan, sebenarnya awet juga hal dilematis. Karena produk awet, maka
pelanggan akan lama dalam membeli produk baru lagi dan tentunya dapat mengurangi
kesempatan perusahaan untuk mendapatkan revenue lagi. Akan tetapi, apabila awet adalah hal
penting dan ternyata perusahaan tidak menawarkan hal ini, pelanggan akan pindah kepada merek
pesaing karena tidak puas. Suka atau tidak, memproduksi produk yang benar-benar awet adalah
pilihan yang lebih baik. Walau pelanggan tidak membeli untuk waktu yang lama, perusahaan
masih dapat berharap bahwa pelanggan akan menyebarkan word of mouth yang positif. Dimensi
reliability produk tamiya dapat dilihat dari jangka waktu hingga tamiya mengalami kendala-
kendala, seperti : mengalami kemacetan.

3. Durability
Merupakan ukuran dari umur suatu produk. Diukur dari waktu daya tahan produk tersebut,
dimana produk tersebut lebih baik diganti daripada diperbaiki.
Ukuran durability (Ketahanan) dari sebuah produk tamiya adalah jangka waktu sampai tamiya
benar-benar rusak, tidak dapat berjalan, hingga harus diganti dengan yang baru.

4. Serviceability
Merupakan kecepatan, kemampuan dan kemudahan dalam perbaikan. Dimensi serviceability
produk tamiya ditunjukkan oleh kesiapan dan kemudahan tamiya saat diperbaiki bila terjadi
kerusakan. Produk tamiya tidak memiliki pusat servis khusus, tetapi apabila mengalami kerusakan
komponen-komponennya mudah dijangkau karena tamiya dapat dibongkar pasang.

5. Aesthetic
Merupakan ukuran, desain, rasa, suara, dan bau dari suatu produk. Dimensi aesthetic suatu
tamiya dapat dinilai dari ukuran, bentuk/ desain dan warnanya.

6. Features
Merupakan item-item ekstra yang ditambahkan dalam suatu produk. Untuk produk tamiya, item
ekstra yang ditambahkan misalnya remote control, baterai tamiya yang tahan lama.

7. Perceived Quality
Merupakan penilaian konsumen terhadap kualitas produk yang dihasilkan oleh merek-merek
tertentu. Reputasi merk tamiya di mata konsumen menjadi tolok ukur kualitasnya.

8. Conformance to Standard
Merupakan tingkat dimana suatu produk dan jasa telah sesuai dengan spesifikasinya. Hal ini
berkaitan dengan apakah tamiya tersebut telah lolos melewati beberapa pengujian kualitas.
Dimensi ini dapat juga dilihat dari sertifikasi standar kualitas yang dimiliki oleh produk tamiya
tersebut. Salah satu contohnya adalah Standar Nasional Indonesia.
 Delapan Dimensi Kualitas Produk

Kedelapan Dimensi Kualitas tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Performance (Kinerja)

Performance atau Kinerja merupakan Dimensi Kualitas yang berkaitan dengan karakteristik utama
suatu produk. Contohnya sebuah Televisi, Kinerja Utama yang kita kehendaki adalah kualitas
gambar yang dapat kita tonton dan kualitas suara yang dapat didengar dengan jelas dan baik.

2. Features (Fitur)

Features atau Fitur merupakan karakteristik pendukung atau pelengkap dari Karakteristik Utama
suatu produk. Misalnya pada produk Kendaraan beroda empat (mobil), Fitur-fitur pendukung yang
diharapkan oleh konsumen adalah seperti DVD/CD Player, Sensor atau Kamera Mundur serta
Remote Control Mobil.

3. Reliability (Kehandalan)

Reliability atau Kehandalan adalah Dimensi Kualitas yang berhubungan dengan kemungkinan
sebuah produk dapat bekerja secara memuaskan pada waktu dan kondisi tertentu.

4. Conformance (Kesesuaian)

Conformance adalah kesesuaian kinerja dan kualitas produk dengan standar yang diinginkan. Pada
dasarnya, setiap produk memiliki standar ataupun spesifikasi yang telah ditentukan.

5. Durability (Ketahanan)

Durability ini berkaitan dengan ketahanan suatu produk hingga harus diganti. Durability ini
biasanya diukur dengan umur atau waktu daya tahan suatu produk.

6. Serviceability

Serviceability adalah kemudahan layanan atau perbaikan jika dibutuhkan. Hal ini sering dikaitkan
dengan layanan purna jual yang disediakan oleh produsen seperti ketersediaan suku cadang dan
kemudahan perbaikan jika terjadi kerusakan serta adanya pusat pelayanan perbaikan (Service
Center) yang mudah dicapai oleh konsumen.

7. Aesthetics (Estetika/keindahan)

Aesthetics adalah Dimensi kualitas yang berkaitan dengan tampilan, bunyi, rasa maupun bau suatu
produk. Contohnya bentuk tampilan sebuah Ponsel yang ingin dibeli serta suara merdu musik yang
dihasilkan oleh Ponsel tersebut.

8. Perceived Quality (Kesan Kualitas)

Perceived Quality adalah Kesan Kualitas suatu produk yang dirasakan oleh konsumen. Dimensi
Kualitas ini berkaitan dengan persepsi Konsumen terhadap kualitas sebuah produk ataupun merek.
Seperti Ponsel iPhone, Mobil Toyota, Kamera Canon, Printer Epson dan Jam Tangan Rolex yang
menurut Kebanyakan konsumen merupakan produk yang berkualitas.
 Dimensi Kualitas Produk

Dimensi kualitas produk, apa maksudnya? Beberapa orang berpendapat bahwa yang
dimaksud dimensi kualitas produk adalah aspek ciri karakteristik untuk melihat kualitas sebuah
produk. Produk disini bisa barnag, bisa juga jasa. Dari perspektif itu, ciri karakteristik kualitas dari
sebuah produk, khususnya produk yang berbentuk barang, bukan jasa lho ya, dapat
dikelompokkan menjadi delapan dimensi. Apa saja delapan dimensi kualitas produk barang itu?

1. Dimensi Performance atau biasa disebut kinerja.


Dimensi ini menyangkut karakteristik fungsi produk. Maksudnya sejauh mana produk dapat
berfungsi sebagaimana fungsi utama produk tersebut. Misalnya, jam tangan memiliki fungsi
utama penunjuk waktu. Nnna sejauh mana jam tangan tersebut dapat memberi kita informasi
mengenai waktu secara akurat. Dimensi performance ini merupakan hal terpenting bagi
pelanggan dan hal terpenting bagi pelanggan adalah apakah kualitas produk menggambarkan
keadaan yang sebenarnya atau tidak? Apakah pelayanan diberikan dengan cara yang benar atau
tidak. Itu yang terpenting.

2. Dimensi Features dimensi yang menyangkut karakteristik pelengkap


Istilah lain dari dimensi ini adalah dimensi range and type of feature. Dimensi ini menyangkut
kelengkapan fitur-fitur tambahan. Maksudnya, suatu produk selain punya fungsi utama, biasanya
juga dilengkapi dengan fungsi-fungsi lain yang bersifat komplemen. Misalnya, produk handphone,
selain dapat digunakan untuk berkomunikasi lisan dan tulisan, juga banyak yang dilengkapi
dengan fitur-fitur tambahan seperti dapat digunakan untuk membuat skedul, catatan, memiliki
wungsi jam, penunjuk lokasi, kalkulator, permainan dan lain-lain. Jadi, selain fungsi utama dari
suatu produk dan pelayanan, pelanggan sering kali tertarik pada kemampuan / keistimewaan
yang dimiliki produk dan pelayanan).

3. Dimensi Keandalan. Orang sono bilang Reliability


Dimensi ini menyangkut kemungkinan tingkat kegagalan pemakaian. Artinya, apakah produk
sering tidak dapat dioperasikan sesuai fungsi utama karena adanya masalah-masalah teknis
ataukah lancar-lancar saja? Misalnya, produk smartphone BB, saat dihidupkan ternyata
memerlukan waktu yang lama untuk setup dan sering prosesnya terhenti atau orang
menyebutnya heng dan harus direset ulang. Atau motor baru sering macet saat digunakan.
Masalah-masalah tersebut menyangkut dimensi reliabiliti.

4. Dimensi Conformance atau kesesuaian.


Dimensi ini melihat kualitas produk dari sisi apakah bentuk, ukuran, warna, berat dan lain-lain
sesuai dengan yang diinginkan dan apakah pengoperasiannya sesuai dengan standard tertentu
ataukah tidak. Intinya, sejauh mana karakteristik disain dan operasi memenuhi standard

5. Dimensi daya tahan atau Durability


Dimensi ini berkaitan dengan seberapa lama produk dapat terus digunakan selama jangka waktu
tertentu. Tentunya dengan pola penggunaan dan perawatan yang masuk akal alias rasional.
Misalnya, sepeda motor digunakan di jalan perkotaan, dengan perawatan tertentu akan dapat
bertahan hingga misalnya 4 tahun.

6. Dimensi Serviceability
Ada yang menyebut dimensi ini dengan istilah yang lebih lengkap yakni dimensi maintainability
dan servicability. Dimensi ini melihat kualitas barang dari kemudahan untuk pengoperasian
produk dan kemudahan perbaikan maupun ketersediaan komponen pengganti. Jadi dimensi ini
terkait dengan sejauh mana kemudahan produk untuk dapat dilakukan perawatan sendiri oleh
penggunanya. Bila suatu barang, dalam hal perawatan membutuhkan perawatan khusus dan
membutuhkan pihak ketiga, maka dapat dikatakan serviceability dari barang tersebut relatif
rendah. Makin rendah lagi bila selain membutuhkan pihak ketiga untuk merawatnya, pihak ketiga
yang bisa merawat barang tersebut sulit dicari. Cerita yang lain terkait serviceability suatu barang,
misalnya adalah apakah bila terjadi kerukan pada suatu komponen barang tersebut, maka
komponen atau sparepart dari barang tersebut dapat dengan mudah diperoleh ataukah untuk
mendapatkan sparepart tersebut harus dengan pengorbanan tertentu misalnya harus dilakukan
dengan prosedur tertentu yang sedikit rumit, butuh waktu relatif lama untuk menunggu
ketersediaannya, atau harus mencarinya di kota tertentu.

7. Dimensi Estetika
Istilah lain untuk menyebut dimensi ini adalah dimensi sensory characteristic. Dimensi ini melihat
kualitas suatu barang dari penampilan, corak, rasa, daya tarik, bau, selera, dan beberapa faktor
lainnya mungkin menjadi aspek penting dalam kualitas. Dimensi ini menyangkut keindahan,
keserasian atau kesesuaian yang membuat enak dipandang, atau dirasakan sehingga memberikan
suatu daya tarik tersendiri kepada konsumen.

8. Dimensi Perceived, citra dan reputasi produk


Sering disebut juga dimensi ethical profile dan image. Dimensi ini berbicara tentang kualitas dari
sisi persepsi konsumen. Persepsi konsumen tersebut dapat terkait nama besar atau reputasi
perusahaan, atau merek. Dari dimensi ini, kualitas adalah bagian terbesar dari kesan pelanggan
terhadap produk dan pelayanan

 Dimensi kualitas Jasa

1. Dimensi bukti langsung, istilah kerennya Tangible .


Dimensi ini meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai dan sarana komunikasi. Misalnya
sebuah bus pariwisata, maka fasilitas fisiknya seperti kondisi badan bis, lebar bis, kebersihan,
tempat duduk, cat dan lain-lain. Sedangkan perlengkapan misalnya keberadaan ac, tv, audio
bantal duduk, korden jendela. Yang menyangkut pegawai, ya misalnya penampilan fisik pegawai
baik dilihat dari seragamnya, atau kerapian dan keserasian pakaiannya, kegagahan atau
kecantikannya dll. Sarana komunikasi misalnya, kru bis menyediakan sarana komunikasi misalnya
kotak saran atau yang lainnya. Dimensi ini juga dikaitkan dengan bahwa dalam memberikan jasa
harus dapat diukur atau ada standardnya.

2. Dimensi kehandalan atau disebut reliability


Dimensi ini adalah dimensi yang melihat kualitas jasa dari sisi kemampuan dalam memberikan
pelayanan. Sejauh mana pemberi jasa mampu memberikan jasa sesuai dengan apa yang
diharapkan oleh konsumen, atau setidaknya sesuai dengan apa yang telah dijanjikan. Artinya
bahwa pemberi jasa memiliki kemampuan dan keterampilan dalam memberikan jasa kepada
penerimanya. Oleh karena itu dimensi ini juga disebut dimensi competence.

3. Dimensi daya tanggap yang sering juga disebut responsiveness


Dimensi ini membicarakan kualitas jasa berdasarkan apakah ada keinginan para staf untuk
membantu kesulitan pelanggan pada saat pelanggan mengalami masalah dalam mengkonsumsi
jasa yang diberikan atau mereka bersikap acuh tak acuh dengan apa yang menjadi kesulitan atau
kebingungan atau keluhan konsumen saat mengkonsumsi jasa yang diberikan. Disebut responsif
bila para staf menunjukkan kesigapan dalam menanggapi apa yang menjadi kesulitan konsumen.

4. Dimensi Jaminan atau Assurance


Dimensi assurance ini menyangkut kesopanan dari para staf dalam memperlakukan konsumen.
Yang lain adalah bahwa pemberi jasa dapat memberikan kepastian kepada konsumen bahwa
risiko telah diminimalisir sedemikian sehingga mereka terbebas dari bahaya yang mungkin timbul
sehubungan dengan jasa yang dikonsumsi. Staf pemberi jasa merupakan orang-orang yang
memang dapat dipercaya dan karenanya konsumen yakin. Dimensi ini kadang-kadang dirinci
menjadi dimensi courtesy, dimensi kemanan (security) dan dimensi kepercayaan (credibility)
5. Dimensi empati
Dimensi empati sering dijabarkan menjadi dimensi access dan dimensi communication. Dimensi
empati melihat kualitas jasa dari aspek kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang
baik yang menunjukkan sikap respek dan perhatian yang tulus thdp kebutuhan pelanggan.
Maksudnya adalah bahwa konsumen dapat dengan mudah menghubungi dan berkonsultasi
dengan para staf pemberi jasa terkait jasa yang diberikan. Staf pemberi jasa memiliki kemampuan
berkomunikasi yang baik dalam menjalin hubungan dengan konsumen dan memiliki perhatian
yang tulus, bukan dibuat-buat terhadap kebutuhan konsumen.
6. Dimensi pemahaman terhadap pelanggan
Dimensi ini melihat kualitas jasa dari aspek pemahaman pemberi jasa terhadap kebutuhan dan
harapan pemakai jasa. Artinya bahwa bagaimana pemberi jasa memberikan jasa kepada
penerimanya akan dipengaruhi oleh bagaimana pemahaman pemberi jasa terhadap
konsumennya. Semakin si pemberi jasa kurang memahami pelanggan, maka semakin besar pula
kemungkinan pelanggan akan kecewa karena kebutuhan dan keinginannyanya tak terpenuhi. Bisa
jadi apa yang dilakukan oleh pemberi jasa secara obyektif baik, tetapi apa yang baik bagi si
pemberi jasa belum tentu baik pula bagi si penerima. Karena apa yang baik bagi pelanggan diukur
berdasarkan kesesuainnya terhadap kebutuhan dan keinginan mereka. Dengan demikian, langkah
awal untuk dapat memberikan sesuatu yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan diinginkan
oleh pelanggan adalah dengan cara memahami pelanggan sehingga dapat mengetahui dan
mengenali apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhan dan keinginan mereka. (Hendra
Poerwanto G)

 Inovasi kualitas produk dan jasa perusahaan manufaktur

1. menurut Jura dalam Schonberger dan Knod (1997)


Kualitas adalah fitness for use atau kesesuaian penggunaan. Beberapa alat yang
dapat digunakan untuk pemecahan masalah adalah statistical process control
(spc). Ia berorientasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Juran juga
memperkenalkan Quality trilogy yang terdiri dari;
A Quality Planning
merupakan proses untuk merencanakan kualitas sesuai dengan tujuan. Dalam
proses ini pelanggan diidentifikasikan dan produk yang sesuai dengan kebutuhan
pelanggan dikembangkan.
B. Quality control
Merupakan proses mencapai tujaun selama operasi. Kualitas kontrol melalui
beberapa tahap, yaitu;
-menentukan apa yang seharusnya dikontrol
-menentukan unit-unit pengukuran
-menetapkan standar kinerja
-mengukur kinerja
-evaluasi dengan membandingkan antara kinerja sebenarnya dengan standar
kinerja

Instrumen Manajemen Kualitas

Beberapa instrumen manajemen kualitas yang sering disebut sebagai the basic
quality improvement tools mencakup beberapa hal (zulian yamit, 2001), yaitu:
Brainstorming
Merupakan sekelompok orang yang beranggotakan 3-8 orang dengan latar
belakang ilmu pengetahuan dan keahlian untuk mengemukakan ide dalam rangka
membahas isu.
Multi-voting
Merupakan sekelompok orang yang beranggotakan 3-8 orang dengan latar
belakang ilmu pengetahuan dan keahlian untuk menangani permasalahan hasil
brainstorming, dengan melakukan voting diantara anggota dalam mengambil
gagasan.
Nominal group technique (NGT)
Adalah sebagaimana multi-voting. Jika daftar permasalahan kurang dari enam,
gunakan NGT dan jika permasalahan 6 atau lebih gunakan multi-voting.
Flow chart
Merupakan sebuah gambar sederhana dari sebuah proses. Terdiri dari simbol-
simbol yang dapat digunakan.
Cause and effect diagram
Untuk mengidentifikasi sikan dan mengorganisasikan penyebab-penyebab yang
mungkin timbul dari suatu efek spesifik dan kemudian memisahkan akar
penyebabnya. Macam diagram fishbone yaitu;
-standar fishbone ; mengidentifikasi penyebab-penyebab yang mungkin dari suatu
masalah yang tidak diinginkan dan bersifat spesifik.
-diagram fishbone terbaik ; mengidentifikasi tindakan yang harus dilakukan untuk
menghasilkan efek atau hasil yang diinginkan.
Pareto chart
Merupakan metode untuk menentukan masalah mana yang harus dikerjakan
terlebih dahulu, mendasarkan pada data kuantitatif dengan mengidentifikasikan
beberapa isu vital dengan menerapkan aturan perbandingan 80:20. Artinya
peningkatan dapat dicapai dengan memecahkan 20% masalah terpenting yang
dihadapi.
Histogram
Merupakan diagram yang menunjukkan variasi suatu proses, misalnya temperatur,
berat, waktu, jumlah produk dalam kontainer dan sebagainya.
Scatter diagram
Merupakan alat untuk menjelaskan apakah terdapat hubungan antara dua variabel
dan apakah hubungannya positif atau negatif, dengan menggambarkan penyebaran
data pada diagram.
Control chart
Merupakan perangkat yang digunakan untuk pengendalian proses statistik.
House of quality
Merupakan teknik untuk mendefinisikan hubungan antara keinginan konsumen
kedalam atribut-atribut barang atau jasa.

Total Quality Management (TQM)

Total quality management (TQM) merupakan program manajemen kualitas total,


yang telah banyak diaplikasikan oleh perusahaan yang peduli terhadap pentingay
kualitas sebagai alat untuk mencapai keunggulan kompetitif. Kotler (2010)
mendefinisikan TQM sebagai pendekatan organisasi untuk secara terus menerus
memperbaiki kualitas secara keseluruhan dalam proses organisasi, produk dan
jasa.

Manajemen kualitas merupakan cara sistematik untuk menjamin bahwa aktivitas


yang terjadi sesuai dengan yang direncanakan. Penerapan TQM dilaksanakan
secara bertahap, karena dipengaruhi oleh banyak faktor seperti budaya organisasi
yang mendukung, kerja sama tim, lingkungan dan sebagainya. Beberapa
paradigma baru dalam manajemen kualitas total (bounds dkk, 1994), yaitu;

Strategi Nilai Pelanggan


Merupakan penawaran nilai kepada pelanggan meliputi karakteristik produk,
atribut, model penyerahan, servis dan sebagainya dengan berfokus pada
tercapainya kepuasan pelanggan. Perbaikan dapat dilakukan pada kualitas,
pengukuran, positioning, stakeholder, dan disain produk.

Pelanggan tersebut meliputi pelanggan internal eksternal.Pelanggan internal


merupkan berbagai pihak yang berada dalam organisasi, yang berperan dalam
menentukan kualitas manusia, proses dan lingkungan yang berhubungan dengan
produk atau jasa. Sedangkan pelanggan eksternal merupakan pelanggan yang
menggunakan produk. Perusahaan harus membekan kepuasan pada kebutuhan
kedua golongan ini:
1. Kualitas
Dalam paradigma lama, manajer mendefinisikan kualitas sebagai kesesuaian
dengan spesifikasi. Kualitas dijamin dengan cara menghilangkan produk cacat
sebelum sampai ke tangan pelanggan. Manajer lalu membuat trade off antara
kualitas, biaya, dan penjadwalan dibawah asumsi bahw hubungan diantaranya
tetap.
Pada paradigma baru, manajer menyatakan bahwa kualitas produk hanyalah
komponen dari nilai pelanggan, dan manajer mencari sinergi diantara kualitas,
biaya, dan penjadwalan, bukan sekedar trade off.
2. pengukuran
Dalam paradigma lama, pengukuran difokuskan pada pengukuran secara interal
pada efisiensi, produktivitas, biaya dan profitabilitas. Hal ini merupakan tradisi
management by objective. Manajer tidak perlu mengetahui bagaimana
pengukuran berfokus internal ini berhubungan dengan nilai pelanggan.
Pada paradigma baru, manajer mungkin menggunakan pengukuran berfokus
internal, tetapi mereka menghubungkannya dengan nilai pelanggan dalam sistem
pengukuran. Manajer menginterpretasikan pengukuran dalam kaitannya dengan
nilai pelanggan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
3. positioning
Dalam paradigma lama, manajer membuat strategi positioning berdasarkan model,
peperangan yang berfokus pada persaingan.
Pada paradigma baru, manajer membuat strategi positioning berfokus pada
segmentasi pasa dan kebutuhan konsumen.
4. disain produk
Dalam paradigma lama, proses disain produk diarahkan sevara internal,
berdasarkan asumsi bahwa mereka mengetahui apa yang terbaik buat pelanggan.
Manajer berperan untuk mendorong strategi yang bertujuan untuk menjual apa
yang mereka buat.
Pada paradigma baru, manajer berperan untuk memperbaiki produk dalam pasar
yang ada sekaligus dan secara aktif menciptakan pasar baru dengan produk baru.
5. stakeholder kunci
Dalam paradigma lama, stakeholder kunci eksternal adalah pemegang saham dan
stakeholder internal adalah bos, semua stakeholder lainnya seperti konsumen,
tenaga kerja supllier dan parter bisnis bertugas melayani tukuan dari stakeholder
Pada paradigma baru, stakeholder kunci adalah konsumen, baik internal maupun
eksternal. Memberikan nilai bagi konsumen adalah kunci dalam melayani
stakeholder lain dalam jangka panjang.

Perbaikan Terus Menerus


Perbaikan terus menerus dilakukan dengan terus menerus melakukan perubahan
untuk mengantisipasi tuntutan perubahan lingkungan dan membuat segala
sesuatunya menjadi lebih baik. Perbaikan dapat dilakukan pada kegiatan,
pendekatannya, respon terhadap kesalahan, perspektif pengambilan keputusan,
peran kontrol manajerial, otoritas, fokus, pengawasan dan arti.
1. Kegiatan
Kegiatan untuk melakukan perbaikan adalah dimana saja, setiap hari manajer
melakukan perbaikan secara proaktif setiap kesempatan, bahkan ketika tidak
terdapat permasalahan yang menonjol. Manajer memperbaiki seluruh aspek dalam
sistem organisasi melalui terobosan besar maupun langkah sederhana.
2. Pendekatan
Perbaikan dilakukan melalui metode keilmuan untuk memperlajari perubahan
yang diususlkan dan dampaknya.
3. Respon terhadap kesalahan
Kesalahan tidak diinginkan, namun jika terjadi kesalahan, manajer akan
memandang kesalahan tersebut sebagai pembelajaran, mencari penyebabnya
untuk memperbaiki proses atau sistem.
4. Perspektif pengambilan keputusan
Manajer membuat keputusan untuk mencapai tujuan strategik jangka panjang.
5. Peran kontrol manajerial
Manajer menentang status quodemi perbaikan strategik untuk memenuhi
kebutuhan dimasa yang akan datang. Dalam waktu yang sama mereka secara
konsisten menjalankan sistem yang ada untuk memenuhi kebutuhan sekarang.
6. Otoritas
Manajer masih mempertahankan otoritas, namun mereka memilikinya dengan
mengkomunikasikan visi, memungkinkan orang-orang menjalan sistem dan
memberdayakan mereka untuk merealisasikan visi.
7. Fokus
Manajer memfokuskan perbaikan hasil bisnis melalui perbaikan kapabilitas
sistem, mereka memfokuskan pada cara sebaik hasilnya, karena mereka memiliki
tanggung jawab untuk memperbaiki sistem.
8. Pengawasan
Manajer secara statistik memperlajari variasi untuk memahami sebab-sebab
kinerja buruk dan membuat perubahan dalam sistem untuk memperbaik kinerja.
9. Alat/cara
Pada paradigma baru, manajer memikul tanggung jawab alat perbaikan. Perbaikan
terus menerus dapat dilakukan dengan benchmarking, yaitu suatu proses belajar
yang berlangsung secara sistematis dan terus menerus dengan melakukan kegiatan
mengukur dan membandingkan setiap bagian yang dinyatakan penting oleh
perusahaan, dengan perusahaan lain yang terbaik atau pesaing dianggap paling
ungguk dibidangnya.

Sistem Organisasi
Setiap organisasi memberikan nilai kepada pelanggan. Perbaikan dapat dilakukan
dengan menghilangkan batas-batas fungsional, teknologi, keterlibatan pekerja,
manajemen sumber daya manusia, budaya dan struktur. Dengan membentuk tim-
tim kerja, maka semua pekerja dilibatkan dalam pengambilan keputusan pada
bidang masing-masing. Tanggun jawab akan ditanggung bersama oleh tim-tim
tersebut. apabila terjadi kesalahan maka semua anggota tim yang bertanggung
jawab.

Dengan adanya tuntutan untuk melakukan perubahan, melakukan kinerja yang


lebih baik, maka kebijakan perusahaan lainnya juga harus disesuaikan.
Pendekatan untuk memperbaiki sistem organisasi berupa pendekatan lintas fungsi
teknologi, keterlibatan tenaga kerja, manajemen sumber daya manusia, defenisi
peran, bidaya dan struktur:
1 pendekatan lintas fungsi
Manajer mendefinisikan, memiliki dan mengoptimalkan sistem lintas batas untuk
menciptakan nilai pelanggan. Kerja sama antar lintas batas fungsional
dioptimalkan demi terciptanya nilai pelanggan.
2. teknologi
Manajer menggunakan teknologi untuk mengoptimalkan sistem untuk
menciptakan nilai pelanggan.
3. keterlibatan tenaga kerja
Dalam paradigma lama, program keterlibatan pekerja diimplementasikan tanpa
memfokuskan kontribusinya pada sistem. Keterlibatan pekerja dalam program
perbaikan sekedar berfokus pada penciptaan kualitas kehidupan kerja dan
perubahan operasional yang terbatas.
Pada paradigma baru, keterlibatan pekerja secara strategis berfokus dan bertujuan
untuk berkontribusi pada sistem.
4. manajemen sumber daya manusia
Dalam paradigma lama, manajer menghargai manajemen sumber daya manusia
sebagai tanggung jawab staf. Spesialis sumber daya manusia memproses kertas
kerja dan memperbaiki serta menangani keluhan personil.
Pada paradigma baru, jajaran manajer menghargai sumber daya manusia sebagai
sumber penting dan secara strategis mangatur mereka sebagai sistem input.
5. defenisi peran
Dalam paradigma lama, manajer menggunakan deskripsi tugas dan jabatan untuk
menentukan dan membatasi tanggung jawab personal.
Pada paradigma baru, manajer menyampaikan visi untuk mempin dan
menginspirasi fleksibeilitas. Pekerja berpartisipasi dalam berbagai aktivitas yang
dibutuhkan untuk memberikan nilai pelanggan yang superior.
6. budaya
Manajer menghubungkan misi dan tujuan organisasi dengan tujuan masing-
masing individual, emosi, dan makna sosial. Individual menghubungkan
kebutuhan mereka untuk membanggakan kecakapan kerja demi mencapai tujuan
yang strategik.
7. struktur
Hirarki lebih baik banyak mendatar dengan tindakan manajer yang lebih sedikit
dan menekankan pada tim kerja untuk melayani mulai tujuan paling bawah.

Six Sigma
Merupakan program untuk menghemat waktu, meningkatkan kualitas,
menurunkan biaya dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Istilah six sigma ini
dipopulerkan oleh motorola, howneywell dan general electric mengacu pada
program TQM dengan kemampuan proses yang sangat tinggi mencapai akurasi
99, 9997%. Six sigma ini menghasilkan zero defect artinya tingkat produk yang
cacat setiap kali memproduksi sangat kecil. Hal ini jelas akan menghemat biaya
sekaligus memberikan kepuasan kepada pelanggan.

Benchmarking
Benchmarking atau patok duga adalah memilij standar kerja yang
mempresentasikan kinerja terbaik dari suatu proses aktivitas. Ukuran kinerja
khusus yang digunakan dalam benchmarking meliputi prosentase cacat, biaya per
unit atau perpesanan, waktu per unit, waktu respon layanan, imbal hasil investasi,
dan tingkat kepuasan pelanggan.

Dalam benchmarking, akan ditemukan organisasi yang serupa dan menjadi


pemimpin pada bidang tertentu yang dipelajari, kemudian membandingkan
dengan bidang serupa yang dimiliki perusahaan lain untuk membangun kelas
standar. Dengan begitu, bisa mengamati, meniru, dan memodifikasi keinerja bidan
tertentu dari organisasi lainnya.

Langkah melakukan benchmarking adalah;


-menetapkan apa yang akan dibenchmark
-membentuk tim benchmark
-mengidenifikasi mitra-mitra benchmark
-mengumpulkan dan menganalisis informasi benchmark
-mengambil tindakan untuk menyamai atau melebihi benchmark
Ada 2 macam benchmark,yaitu:

1. Benchmarking internalSaat organisasi cukup besar dan memiliki banyak


devisi, maka devisi satu dapat melakukan benchmarking pada devisi lainnya.
2. Benchmarking eksternalBenchmarking yang dilakukan pada organisasi
lainnya.
Just In Time

JIT didasari oleh filosofi perbaikan berkesinambungan dan penyelesaian masalah.


Konsem ini menimalkan persediaan, dengan mengadakan atau memproduksi
produk saat dibutuhkan. JIT berkaitan dengan kualitas pada beberapa hal berikut;
1. Memangkas biaya kualitas.
Hal ini terjadi karena rework, scrap, investasi persediaan dan biaya akibat barang
yang rusak berkaitan langsung dengan persediaan yang ada, sehingga menurunkan
biaya persediaan. JIT segera mencari sebab terjadinya kualitas yang buruk dan
segera memperbaikinya sehingga mengurangi pengerjaan ulang produk.
2. meningkat kualitas.
Hal tersebut dikarenakan mempersingkat lead time atau waktu tunggu. JIT
menghindari kemacetan dalam proses karena kesalahan dalam proses seperti
kerusakan mesin sehingga waktu proses menjadi lebih cepat, waktu tunggu
menjadi lebih kecil. JIT menjaga dari kesalahan dengan menciptakan sistem
peringatan akan adanya permasalahan kualitas baik dalam perusahaan maupun
dengan pemasok.
3. kualitas yang baik berarti persediaan yang lebih sedikit
Tujuan memiliki persediaan adalah melindungi kinerja produksi yang buruk yang
disebabkan oleh kualitas yang tidak baik. Apabila kualitas konsusten maka
kebutuhan persediaan menjadi berkurang, sehingga menghemat biaya.