Anda di halaman 1dari 38

ADAT ISTIADAT YANG BERTENTANGAN DAN YANG MENDUKUNG

AJARAN KRISTEN

A. CONTOH-CONTOH ADAT ISTIADAT YANG MENENTANG


PENGAJARAN KEKRISTENAN
1. UPACARA ADAT BATAK UNTUK KEMATIAN
Punguan marga serta hula2 cenderung mengadakan acara ini dengan alasan untuk
penghormatan kepada ayah/ibu keluarga yang meninggal (mengacu pada Kitab Keluaran,
apakah penghormatan ini masih valid, ketika orang meninggal, berkat2 Tuhan pun terhenti
untuk orang tsb). Alasan penghormatan, seperti lebih ditujukan ke pihak2 yg melakukan
penghormatan dibandingkan ke orangtua yang meninggal. Wakil keluarga harus ikut rapat
untuk membahas jumlah ulos, jambar, uang balas utk ulos, dll, padahal keluarga yang
ditinggalkan sedang berduka.
Disini sangat jelas upacara adat ini bertentangan dengan iman dan pengajaran kekristenan
karena sudah jelas keluarga yang ditinggalkan sedang berduka namun para punguan hula-hula
lebih mementingkan pembahasan masalah materi seperti pembahasan mengenai jumlah ulos,
jambar, uang balas dll. Belum lagi dalam acara ini ada yang dinamakan dengan kebaktian
penghiburan dari punguan dan hula-hula padahal jelas-jelas arah dan tujuan sebenarnya bukan
kesitu namun lebih memfokuskan pada pembahasan hal materi.

2. MANGONGKAL HOLI
Salah satu dari acara adat yang dilakukan dalam rangka menghormati arwah para leluhur dan masih
dilakukan sampai sekarang adalah tradisi mangongkal holi. Mangongkal holi adalah upacara adat menggali tulang-
tulang orangtua (leluhur) yang sudah meninggal dan memindahkannya ke tempat peristirahatan mereka yang lebih
baik. Tujuan dari mangongkal holi adalah menghormati orang tua kita, dan yang disebut orang tua bukan saja bapa
atau ibu kita, melainkan sampai kepada nenek moyang kita. Kuburan tanah yang sementara dibuka, sesudah lewat
waktu pembusukan yang dianggap perlu, lalu mengangkat tulang-tulang dari dalamnya dan menempatkannya
dalam suatu kuburan semen dengan mengadakan upacara tertentu. Pesta adat ini diiringi oleh gondang dan
pemotongan hewan secara besar-besaran (banyaknya hewan yang dipotong tergantung dari yang mengadakan
acara).
Perayaan itu biasanya tidak langsung di dalam suasana yang khidmat. Yang merupakan pusatnya ialah
tengkorak dan tulang-tulang dari bapa-bapa suku atau bapa-bapa dari nenek moyang yang akan dikumpulkan.
Tulang-tulang itu digali (mangongkal holi) lalu tulang-tulang tersebut dibersihkan. Setelah dibersihkan biasanya
akan ada acara manulangi (menyuapi) holi-holi (tulang-belulang) tersebut seperti layaknya manusia biasa dengan
makanan, sirih dan kadang-kadang diberi rokok, dan kemudian dimasukkan ke dalam suatu peti kecil dan
kemudian nantinya dipindahkan ke dalam kuburan yang baru. Moyang, yakni ompu itu sendiri dimintakan
berkatnya sebagai balas jasa atas tempat yang terhormat yang telah disediakan keturunannya baginya. Menurut
budaya yang asli, permintaan berkat ini di-andung-kan (diratapkan) langsung kepada ompu di depan tengkoraknya
sebelum dia dimasukkan ke kuburannya yang baru. Kemudian peti kecil itu dimakamkan di dalam kuburan semen
atau di dalam tugu. Peserta-peserta dan tamu-tamu berkumpul di rumah suhut (tuan rumah) dan duduk makan
serta mengakhiri perayaan itu dengan pidato-pidato resmi sambil menikmati nasi dan ternak sembelihan – ayam,
babi, atau kerbau.
Untuk konteks masyarakat Batak, penggalian tulang-belulang memiliki motif yang sangat jauh berbeda
dengan kisah yang ada di Kejadian 50:1-14 di mana Yakub dan pada ayat 25 Yusuf berpesan agar mayat mereka
dibawa kembali ke Kanaan. Motif ini sangat jauh berbeda sehingga tidak mungkin nas tersebut dapat digunakan
sebagai dasar alkitabiah untuk melegalisasi penggalian dan pemindahan tulang-belulang. Dalam hal ini jelas
mangongkal holi sangat bertentangan dengan pengajaran kekristenan karena motif dan tujuan penggalian tulang-
belulang menurut suku Batak pada hakekatnya adalah penghargaan, penghormatan, kultus pada roh (tondi) orang
mati, dan di sana ada pengharapan bahwa roh dari orang yang meninggal itu akan meningkat, atau semakin
bermutu, menjadi sahala atau sumangot (keduanya berbeda antara yang satu dengan yang lain menurut orang
Batak) yang mampu memberi berkat (jasmani dan rohani) kepada orang hidup. Sedangkan kita tahu bahwa berkat
yang sesungguhnya berasal dari Tuhan.

3. PAMALI DALAM ADAT ISTIADAT SUKU TORAJA


Inilah salah satu contoh karakter dualisme dalam diri orang Toraja. Pada satu sisi, agama diakui. Namun
pada sisi lain, petunjuk nenek moyang tetap menjadi pegangan. Ironisnya, masyarakat lebih takut melanggap
pamali (pantangan yang diajarkan budaya) ketimbang larangan Alkitab. Mereka lebih taat kepada pemuka adat
daripada pemuka agama. Alasannya, pelanggaran terhadap pamali akan langsung berhadapan dengan nasib
buruk. Tetapi jika melanggar perintah Tuhan, belum tentu dihukum.

4. PENGGUNAAN ULOS YANG SALAH DALAM UPACARA ADAT BATAK


Penggunaan ulos juga dikatakan sebagai praktek okultisme karena dulunya ulos dipercaya sebagai
selembar kain yang indah Debata Mulajadi Nabolon yang membungkus jiwa (roh) manusia, sehingga
mendatangkan kesejahteraan jasmani dan rohaniah. Karena hal itu maka banyak terjadi pembakaran ulos yang
dilakukan oleh golongan atau gereja yang menentang adat.
Hanya Allah yang berhak mengenakan ulos/membungkus roh kita dengan darah Yesus Kristus yang telah
mati di kayu salib sehingga memberikan berkat keselamatan jasmani dan rohani (Gal. 3:27). Ulos harus dipahami
sebagai kekayaan budaya, alat yang dapat menghangatkan tubuh secara fisik. Tidak ada kuasa apapun di
dalamnya. Dibeberapa tempat ulos masih dianggap dapat mendatangkan berkat kuasa gaib, ketika hal itu terjadi,
disitulah letak adat itu yang bertentangan dengan pengajaran kekristenan.

5. BERZIARAH KEKUBURAN DAN MEMINTA BERKAT

Banyak suku yang sampai saat ini masih melakukan ziarah kekuburan dan meminta
berkat disana kepada roh yang meninggal itu. Sebenarnya kalau hanya membersihkan atau
sekedar melihat kuburan itu tidak jadi masalah, namun yang menjadi masalah sesuai dengan
pengajaran kekristenan adalah perihal meminta berkat dari roh yang meninggal. Tentu saja ini
sangat bertolak belakang dengan pengajaran kekristenan. Bisa dilihat dalam kibat Ulangan
18:11; Luk 8:27; 16:19 19-31, dalam nats-nats itu bisa disimpulkan bahwa segala bentuk
penyembahan dan meminta berkat dari arwah atau roh adalah “kekejian” bagi Tuhan.

6. PASU-PASU RAJA
Adat batak yang satu ini merupakan suatu adat istiadat dimana ketika ada perkawinan,
kedua mempelai tidak melakukan pemberkatan di gereja melainkan meminta berkat dan
mempercayakannnya pada tua-tua kampung atau tua-tua setempat. Bahkan mereka lebih
mempercayai dan menyerahkan segala sesuatunya pada penatua adat.
Tentu adat istiadat yang satu ini sangat bertentangan dengan iman kerohanian Kristen
yang sesuangguhnya karena berkat dan kasih karunia hanya datang dari Tuhan saja.

7. MANGANDUNGI ORANG MENINGGAL SECARA BERLEBIHAN


Dalam adat istiadat batak sering sekali jika ada kematian dalam keluarga, maka
keluarga yang ditinggal akan mangandung atau menangis secara berlebihan, bahkan ada yang
menyewa orang lain untuk menangisi yang meninggal.
Dalam pengajaran Kristen, bukannya tidak bisa menangisi orang yang meninggal, tapi
jika cara menangisi yang berlebihan seperti itu maka itu menyalahi pengajaran kekristenan
karena kesannya orang yang ditinggal itu seperti kehilangan pengharapan dari Tuhan, pada hal
Tuhan mengajarkan pada kita bahwa orang yang mati akan kembali dihidupkan oleh Tuhan
dan akan dibangkitkan kembali pada masanya.
B. CONTOH-CONTOH ADAT ISTIADAT YANG MENDUKUNG
PENGAJARAN KEKRISTENAN
MEMASUKI RUMAH BARU

Yang pertama dilakukan memasuki rumah baru yang adalah yang memasuki secara
adat.Walaupun ada yang dilakukan yang baru tidak diharuskan ,karena sejak dahulu ada adat
yang dibuat Simalungun.
PelaksanaanKerja:
*Sebelum kerja dilakukan benali sesuai dengan keperluannya.
*Pada pagi hari berangkatlah pihak laki-laki dengan laki-laki dengan saudara perempuan
kerumah yang baru pihak laki-laki beras ½ kaleng ,tebu ,pisang yang masak .Tulang bapak
membawa beras .Mertua laki-laki membawa beras .Perempuan membawa perangkat sirih dan
perangkat dapur.
*Setelah sampai rombongan didepan pintu ,orangtua dari pihak laki-laki ,pihak tulang ,pihak
mertua laki-laki ,dan saudara dekat ,didepan pintu diberikan pihak laki-laki kepada pihak
tulang yaitu supaya pintu dibuka berdasarkan kunci yang diberikan pihak laki-laki.
*Membuka pintu sering juga dilakukan pihak tulang “kubukalah rumah yang bertuah ini yang
memegang semua pengisi ,yang pintar mengurungkan yang tidak pintar mengeluarkan” setelah
itu pintu terbuka masuklah pihak perempuan yang ditentukan untuk memberkati serta pihak
lai-laki ,saudara pihak laki-laki saudara perempuan masuk kerumah langsung kedapur (pihak
perempuan memberkati dapur sampai kamar/didapur pihak tulang menanam padang togu pada
tempat masakan).
Setelah acara didapur,serta melihat-lihat kaeadaan rumah kembalilah rombongan kepada
tempat semula dan meletakkan apa yang dibawa pada tempat yang lebih tinggi serta tikar
dibentangkan oleh pihak perempuan khusus tempat duduk pihak laki-laki Pihak tulang
mempersilahkan pihak laki-laki duduk setelah itu diberi beras dan teruskan mertua laki-laki
serta pihak laki-laki serta pihak orangtua dari pihak laki-laki.Setelah selesai diberi beras
diaturlah tempat duduknya disamping pihak laki- laki adalah pihak orang tuanya disebelah
kanan pihak tulang, pihak mertua laki-laki dan sebelah kiri adalah pihak perempuan.
AcaraAdat:
A.Diberikan orang tua laki-lakilah: Ayam yang diatur (supaya teratur) kehidupan diberkati
Tuhan serta tobu dan pisang serta kelapa maksudnya supaya terang perasaan ,mudah
pencaharian serta semakin tua semakin manis.Semakin lama semakin diketahuilah kehidupan
dimasa mendatang.
B.Diberikan pihak laki-laki tebu, pisang kelapa kepada orang tua pihak laki-laki (yang
diberikan didalam suatu piring)
C.Diberikanlah lagi kepada pihak saudara perempuan (ayam diatur).
D.Menyampaikan makanan saudara pihak perempaun (ayam diatur)
E.Apabila memotongh si4 kaki yang menjadi bahan utamanya diserahkan ajalah kepada pihak
laki-laki serta dijalankanlah makanan itu kepada yang patut diberi penghormatan.
F.Makan bersama.
G.Selesai makan berjalanlah sirih berbatu setelah selesai makan kepada saudara sebagian orang
tidak berbatu.
H.Seleasai memberi nasehat atau memberi kata pemberkatan yang diketahui pihak tulang
,mertua laki-laki ,pihak saudara serta diikuti dengan memberikan ulos kesenangan hati mereka
kepada pihak laki-laki.
Dalam hal ini adalah mendukung pengajaran kekristenan karena dalam acara
memasuki rumah baru ini tidak ada yang bertentangan dengan firman Tuhan dalam Alkitab
malah sangat mendukung dalam hal mengharapkan berkat yang dari Tuhan agar selalu
diberkati dalam rumah yang baru dan diberkati dalam rumah tangga serta kehidupan yang
dijalani.
2. Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan
hingga meninggal dalam 3 posisi yang disebut DALIHAN NA TOLU (bahasa Toba) atau
TOLU SAHUNDULAN(bahasa Simalungun).Dalihan dapat diterjemahkan sebagai “tungku”
dan “sahundulan” sebagai “posisi duduk”.Keduanya mengandung arti yang sama, 3 POSISI
PENTING dalam kekerabatan orang Batak, yaitu:
- HULA HULA atau TONDONG, yaitu kelompok orang orang yang posisinya “di atas”, yaitu
keluarga marga pihak istri sehingga disebut SOMBA SOMBA MARHULA HULA yang
berarti harus hormat kepada keluarga pihak istri agar memperoleh keselamatan dan
kesejahteraan.
- DONGAN TUBU atau SANINA, yaitu kelompok orang-orang yang posisinya “sejajar”, yaitu:
teman/saudara semarga sehingga disebut MANAT MARDONGAN TUBU, artinya menjaga
persaudaraan agar terhindar dari perseteruan.
- BORU, yaitu kelompok orang orang yang posisinya “di bawah”, yaitu saudara perempuan kita
dan pihak marga suaminya, keluarga perempuan pihak ayah. Sehingga dalam kehidupan sehari-
hari disebut ELEK MARBORU artinya agar selalu saling mengasihi supaya mendapat berkat.
Dalihan Na Tolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi
tersebut: ada saatnya menjadi Hula hula/Tondong, ada saatnya menempati posisi Dongan
Tubu/Sanina dan ada saatnya menjadi BORU. Dengan Dalihan Na Tolu, adat Batak tidak
memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status seseorang. Dalam sebuah
acara adat, seorang Gubernur harus siap bekerja mencuci piring atau memasak untuk melayani
keluarga pihak istri yang kebetulan seorang Camat. Itulah realitas kehidupan orang Batak yang
sesungguhnya. Lebih tepat dikatakan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan SISTEM
DEMOKRASI Orang Batak karena sesungguhnya mengandung nilai nilai yang universal. Jadi
secara keseluruhan adat istiadat orang batak ini sangat mendukung pengajaran kekristenan
karena dituntut untuk dapat menghargai dan saling menghormati tanpa memandang status dan
kedudukan.
3. UPACARA PEMBERIAN MARGA BARU BAGI NON-BATAK MENJADI BATAK
Dalam hal ini biasanya ketika seorang batak yang tentunya beragama Kristen menikah
dengan yang non batak sehingga dari pihak keluarga wanita/pria menginginkan supaya
diberikan marga baru yang sesuai untuk pihak yang non batak, tentu sudah melalui persetujuan
orangtua atau keluarga pihak non batak.
Upacara atau adat istiadat ini sangat mendukung pengajaran kekristenan karena dengan
menarik yang non batak menjadi batak maka akan semakin mempererat jalinan atau hubungan
kekeluargaan, dimana itu lah yang dianjurkan dalam firman Tuhan, karena lazimnya bagi orang
batak, mereka akan lebih menghargai atau lebih dekat hubungannya dengan sesame batak,
maka dari itu dengan diberikannya marga baru bagi yg semula bukan batak maka akan
menimbulkan persamaan yang baru yang dapat menguatkan tali silaturahmi bagi masing-
masing pihak.
4. SULANG-SULANG PAHOMPU
Dalam adat istiadat batak ada kebiasaan yang biasanya dilakukan oleh nenek/kakek
pada masa tuanya ketika mereka sedang sakit-sakitan atau merasa usianya sudah tidak lama
lagi, dimana kebiasaan itu dilakukan pada cucu-cucunya yang dinamakan “sulang-sulang
pahompu”.
Dalam ajaran kekristenan hal ini sangat mendukung, dimana nantinya dalam
pelaksanaan adat ini ada permintaan berkat dari Tuhan. Tentu saja kita sebagai umat Kristen
hanya bisa mengharapkan dan meminta berkat dari Allah saja.
5. PEMBERIAN NAMA PADA BAYI
Dalam upacara pemberian nama yang dilakukan pada bayi ada permintaan berkat dari
Tuhan. Disinilah ajaran kekristenan berlaku, dimana kita sebagai orang Kristen harus
berpengharapan dan hanya boleh meminta berkat dari Tuhan saja. Dalam upacara ini orang-
orang yang berwenang untuk mengendalikan adat meminta berkat dari Tuhan supaya kelak
nantinya bayi tersebut bisa menjadi bertumbuh menjadi anak yang baik dan taat pada orang tua
khususnya takut akan Tuhan. Hal ini sangat mendukung pengajaran kekristenan.
6. PERNIKAHAN KUDUS
Pernikahan kudus adalah salah satu upacara adat yang dilakukan oleh orang batak.
Dalam pernikahan kudus ini hadir seluruh pihak-pihak yang berhubungan dengan mempelai
pria dan wanita. Seluruh keluarga kedua belah pihak turut hadir untuk menyaksikan upacara
pernikahan. Dalam upacara pernikahan dilakukan terlebih dahulu ditempat tinggal mempelai
pria pada umumnya, namun ada juga yang melaksanakannya di tempat tinggal mempelai
wanita meskipun ini jarang. Setelah selesai upacara kudus yang dilakukan di kampung/tempat
tinggal mempelai, maka selanjutnya dilakukan pemberkatan oleh pendeta secara sakral dan
kudus di gereja.
Dalam hal ini, adat istiadat ini sangat mendukung pengajaran kekristenan, karena
pernikahan itu adalah sakral dan kudus dan hanya boleh meminta berkat dari Tuhan. Selain itu
kehadiran pihak-pihak keluarga turut mendukung pengajaran kekristenan karena adalah sangat
baik jika seluruh keluarga datang untuk turut mendoakan mempelai yang menikah.
7. MEMBERI MAKAN ORANGTUA
Salah satu upacara adat yang dilakukan orang batak ialah memberikan makanan khusus
pada orangtuanya. Hal ini dilakukan biasanya ketika orangtua yang bersangkutan sudah sangat
tua atau lanjut usia. Dalam upacara ini anak yang bersangkutan meminta berkat dari Tuhan
agar orangtuanya itu memiliki umur yang panjang dan selalu diberkati Tuhan.
Dalam hal ini tentu sangat mendukung pengajaran kekristenan karena terlihat adanya
penghormatan kepada orangtua yang dilakukan anak. Adat ini menunjukkan suatu bentuk
penghormatan kepada orangtua dimasa tuanya yang dilakukan seorang anak.
ETIKA KRISTEN DALAM MENERAPKAN ADAT BATAK
Oleh: Niken Nababan
(Ditulis sebagai tugas paper mata kuliah Etika Terapan,
Program Pasca Sarjana, STT Nazarene Indonesia - Anggota Persetia)

I. PENDAHULUAN

Kata ‘etika’ berasal dari beberapa kata Yunani yang hampir sama bunyinya,
yaitu ethosdan éthos atau ta ethika dan ta éthika. Kata ethos artinya kebiasaan,
adat. Kata éthos dan éthikos lebih berarti kesusilaan, perasaan batin, atau
kecenderungan hati dengan mana seseorang melaksanakan sesuatu perbuatan.

Dalam bahasa Latin istilah-istilah ethos, éthos dan éthikos itu disebutkan dengan
kata mos dan moralitas. Oleh sebab itu kata ‘etika’ sering pula diterangkan
dengan kata ‘moral’. Etika tidak hanya menyinggung perbuatan lahir saja, tetapi
menyinggung juga kaidah dan motif-motif perbuatan seseorang yang lebih dalam.

Dalam bahasa Indonesia, istilah ‘etika’ dinyatakan dengan kata ‘kesusilaan’. Kata
‘sila’ terdapat dalam bahasa Sansekerta dan kesusasteraan Pali dalam
kebudayaan Buddha, mempunyai banyak arti. Pertama, sila berarti: norma
(kaidah), peraturan hidup, perintah. Kedua, kata itu menyatakan pula keadaan
batin terhadap peraturan hidup, hingga dapat berarti juga: sikap, keadaban,
siasat batin, perilaku, sopan-santun dan sebagainya. Kata su berarti: baik, bagus.
Kata ini pertama, menunjukkan norma dan menerangkan bahwa norma itu baik.
Kedua, menunjukkan sikap terhadap norma itu dan menyatakan bahwa perilaku
harus sesuai dengan norma.

Etika termasuk golongan ilmu pengetahuan normatif yang mempunyai tujuan


untuk menerangkan hakikat kebaikan dan kejahatan. Hukum-hukum di dalamnya
adalah hukum-hukum normatif yang meminta kita membuat suatu pilihan
keputusan jawaban “ya” atau “tidak”. Dunia manusia senantiasa dikuasai oleh
gagasan-gagasan mengenai yang benar dan yang salah, yang baik dan yang
jahat. Percakapan kita sehari-hari kebanyakan berisi penilaian mengenai apa saja
yang kita lihat maupun kita dengar. Cara orang bertindak dipengaruhi oleh
keyakinannya mengenai apa yang baik dan yang jahat. Manusia sebagai makhluk
individual, hidup di dalam sebuah komunitas yang mempengaruhi pola pikir dan
perilakunya. Kita senantiasa diperhadapkan dalam berbagai situasi yang membuat
kita harus memilih bagaimana kita harus bersikap dan berhubungan dengan
sesama. Karl Popper, Conjectures and Refutations, menulis: “Tradisi diperlukan
untuk membentuk hubungan antara lembaga-lembaga, maksud-maksud, dan
penilaian-penilaian manusia individual ….. tak ada sesuatupun yang lebih
berbahaya daripada penghancuran kerangka tradisional ini”.

II. KEBUDAYAAN DAN MAKNANYA BAGI MANUSIA

A. Pandangan Umum tentang Kebudayaan

Kata “kebudayaan” sangat sulit didefinisikan. The Willowbank Report dalam paper
Lausanne Occasional tahun 1978, memberikan definisi sebagai berikut:
“Kebudayaan adalah suatu sistem terpadu dari kepercayaan-kepercayaan
(mengenai Allah, atau kenyataan, atau makna hakiki), dari nilai-nilai (mengenai
apa yang benar, baik, indah, dan normatif), dari adat-istiadat (bagaimana
berperilaku, berhubungan dengan orang lain, berbicara, berpakaian, bekerja,
bermain, berdagang, bertani, makan, dan sebagainya, dan dari lembaga-lembaga
yang mengungkapkan kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai, dan adat-istiadat ini
(pemerintahan, hukum, pengadilan, kuil dan gereja, keluarga, sekolah, rumah
sakit, pabrik, toko, serikat, klub, dan sebagainya), yang mengikat suatu
masyarakat bersama-sama dan memberikan kepadanya suatu rasa memiliki jati
diri, martabat, keamanan, dan kesinambungan”.

Clifford Geertz mendefinisikan kebudayaan sebagai suatu sistem simbol dari


makna-makna, yaitu kebudayaan adalah sesuatu yang dengannya kita memahami
dan memberi makna pada hidup kita. Geertz mengatakan bahwa kebudayaan
mengacu pada suatu pola makna-makna yang diwujudkan dalam simbol-simbol
yang diturunkan atau diwariskan secara historis, di mana dengannya manusia
menyampaikan, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan serta sikap
mereka mengenai kehidupan.

Pengalaman hidup manusia membuat kenyataan bahwa nilai-nilai kita sendiri


dibentuk dan ditentukan oleh kebudayaan. Tidak ada sesuatupun yang kita
pikirkan, katakan atau lakukan, bebas dari pengaruh ras, kelas, usia, dan jenis
kelamin. Iman tidak membuat kita bebas dari kebudayaan karena kebudayaan
adalah lingkungan yang di dalamnya apa yang kita percayai terbentuk. Tidak ada
tempat yang bukan merupakan tempat budaya. Bukan hanya tindakan-tindakan
pribadi kita, tetapi juga lembaga-lembaga sosial kita, kebijakan-kebijakan
ekonomi kita dan praktek-praktek politik kita, memcerminkan dan mempengarhi
kepercayaan-kepercayaan dari kebudayaan kita.

B. Kebudayaan dalam Perspektif Alkitab

Segera setelah manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26),
Allah memberi perintah kepada manusia untuk menguasai dan mengatur dunia.
Dalam Kej. 1:28 tertulis, –Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada
mereka: “Beranak-cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan
takhlukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara
dan atas segala binatang yang merayap di bumi”–. Kitab Kejadian mencatat
dimulainya segala sesuatu yang ada di bumi, termasuk dimulainya kebudayaan
yang diciptakan manusia sebagai penerima mandat budaya dari Allah. Dengan
demikian, kebudayaan merupakan hasil karya manusia yang sejalan dengan
perintah Allah. Budaya memberikan pengaturan supaya manusia bisa tinggal di
suatu lingkungan bersama dengan sesama. Kita adalah makhluk sosial yang saling
berhubungan dan membutuhkan orang lain.
Ketika kita mengamati hasil karya manusia, yang merupakan wujud dari
kebudayaan, kita tidak hanya menemukan sisi positif serta keagungannya, tetapi
juga sisi negatif serta cacat celanya. Hal ini merupakan akibat wajar dari kondisi
manusia yang telah jatuh ke dalam dosa (Kej. 3). Sebagai contoh, dalam budaya
Batak terdapat tradisi membangun tugu untuk mengumpulkan tulang-belulang
para leluhur, yang diungkapkan dengan pepatah: “Ditaruh tulang-tulang bapa kita
ke dalam makam yang lebih tinggi. Semogalah meningkat
kemakmuran/kesuburan, meningkat kesejahteraan. Itu dilaksanakan kepada kita
oleh nenek moyang kita, Dewata yang berbahagia, Disokong oleh roh para raja
(yang sudah meninggal) yang hadir di sini”. Pepatah ini memperlihatkan dengan
singkat corak dan makna pemujaan nenek moyang atau roh orang mati. Melalui
pemindahan, diberikanlah kuasa kepada orang mati tersebut menjadi bapa leluhur
yang dapat membagi-bagikan berkatnya kepada keturunannya. Hal ini jelas
bertentangan dengan iman Kristen.

Iman alkitabiah senantiasa membuat pernyataan-pernyataan universal dan


mutlak. Kita percaya bahwa Allah telah menjadi manusia di dalam suatu zaman
dan tempat tertentu demi kepentingan seluruh dunia. Dialah Yesus, seorang
manusia sempurna suku bangsa Yahudi dari Nazareth; diakui sebagai penyataan
Allah, yang menjadi suatu contoh keteladanan hidup untuk setiap orang di dunia.

Alkitab penuh dengan ajaran moral yang ditulis dengan maksud dan tujuan untuk
“mendidik orang dalam kebenaran” (1 Tim. 3:16-17). Yesus sendiri
memerintahkan para pengikut-Nya untuk menjadi sempurna –bukan sempurna
menurut suatu ukuran budaya yang relatif sesuai situasi manusia pada saat-saat
tertentu–, melainkan sempurna seperti Allah (Mat. 5:48). Hal ini meneguhkan
otoritas Alkitab sebagai firman Allah yang menjadi sumber kekuatan kebudayaan
dalam membentuk dan menentukan segala pengetahuan dan sikap kita. Terang
firman Allah membuka semua budaya, menjadikannya transparan, bisa melihat
yang tersembunyi, yang benar dan yang salah.

III. ADAT SEBAGAI BAGIAN DARI BUDAYA

A. Pandangan Umum tentang Adat

Kata “adat” berasal dari kata kerja âda (bahasa Arab), yang artinya berbalik
kembali, datang kembali. Sinonim lain dalam kebudayaan Indonesia ialah, “biasa”
yang berasal dari kata Sansekerta abhaysa, yang mempunyai beberapa arti
sebagai berikut:

a. sebagai sediakala, sebagai yang sudah-sudah, yang tidak menyalahi yang


dahulu, tidak aneh, tidak menarik perhatian;
b. sudah lazim, sudah tersebar luas;
c. berulang-ulang, telah dialami orang.

Dari terminologi ini maka pengertian adat adalah tata kelakuan, perbuatan,
tindakan yang biasa dilakukan di suatu daerah, yang diwariskan turun-temurun
dari generasi ke generasi. Tujuan dibuat adat adalah untuk mengatur dan menata
kehidupan manusia, untuk dapat aman, nyaman dan damai. Adat adalah salah
satu sarana untuk menyejahterakan manusia agar dapat hidup dalam kerukunan
dan kedamaian.

B. Adat dalam Perspektif Alkitab

1. Adat dalam Perjanjian Lama

Kata yang berhubungan dengan adat dalam Perjanjian Lama adalah kata Ibrani
choq, chuqqah dan mishpat, yang mempunyai arti: undang-undang, hukum, tata-
tertib, kebiasaan, adat-istiadat, keputusan atau ketetapan. Dalam beberapa nas,
antara lain Keluaran 15:25; Yosua 24:25; Ezra 7:10; Yehezkiel 20:18; 1 Samuel
30:25, yang berhubungan dengan kata choq adalah ketetapan dan peraturan, baik
yang dibuat oleh manusia maupun dibuat oleh Tuhan, yang berguna untuk
melindungi dan menjaga kehidupan manusia agar tertib, aman, tentram dan
sejahtera.

Kita dapati juga adat atau kebiasaan yang dilarang dan tidak diijinkan Tuhan untuk
dilakukan oleh umat-Nya. Dalam 2 Raja 17:8; Tuhan melarang umat Israel meniru
dan mempraktekkan adat-istiadat bangsa-bangsa lain, yaitu perlakuan untuk
menyembah berhala dan pola hidup yang bertentangan dengan kehendak Allah.
Dalam Imamat 18:3,30; Tuhan melarang umat-Nya untuk melakukan kebiasaan
masyarakat Mesir. Dalam Yeremia 10:2; umat Tuhan dilarang untuk mengikuti
kebiasaan bangsa-bangsa sekitar, yaitu penyembahan berhala, mempercayai
kuasa dari benda-benda tertentu melebihi kuasa Tuhan, penyembahan patung
dan segala bentuk kesia-siaan lainnya.

Dalam penjelasan di atas maka Perjanjian Lama menegaskan kepada kita:

a. Allah memberikan hukum, undang-undang, adat, kebiasaan dan berbagai


ketetapan bagi umat-Nya. Allah mengijinkan bahkan memberkati manusia untuk
melaksanakan adat yang tidak bertentangan dengan ketetapan Allah, untuk
memelihara keharmonisan hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama.
b. Allah melarang umat-Nya untuk mengikuti adat dari luar Israel, seperti
penyembahan berhala, karena itu bertentangan dengan kehendak Allah, serta
dapat merusak kebiasaan baik yang sudah dimiliki oleh umat Allah.

2. Adat dalam Perjanjian Baru

Kata “adat” dalam Perjanjian Baru adalah terjemahan dari kata paradosis yang
mempunyai arti “adat-istiadat” (Mat. 15:2,6; Markus 7:3,5,8,9,13; Gal. 1:14),
dan kata ethos yang mempunyai arti “kebiasaan” (Yoh. 19:40; Kis. 6:14).
Sebegitu jauh, pemakaian itu adalah seragam dan jelas. Di kitab-kitab lainnya,
“adat” itu merupakan terjemahan dari sejumlah istilah-istilah Yunani. Misalnya,
entaphizein untuk adat penguburan (Mat. 26:12); eithismenos untuk kebiasaan
pengudusan anak lelaki di Bait Suci (Luk. 2:27); synätheia untuk kebiasaan
pergaulan (1 Kor. 11:16); anastrophe dalam 1 Pet. 1:18

Perjanjian Baru menunjukkan bahwa masyarakat Yahudi mempunyai adat-istiadat


atau kebiasaan yang diwarisi dari nenek moyang mereka. Dasar timbulnya adat
ini adalah hukum Taurat dan kebiasaan-kebiasaan yang mereka serap dari suku
bangsa di sekitar mereka. Adat atau kebiasaan ini adalah ketentuan manusia yang
dipahami secara legalitas serta dipandang kudus di kalangan orang-orang Farisi
pada zaman Yesus. Orang Farisi menuntut penaatannya secara mutlak seperti
orang memenuhi perintah Allah. Dari Injil kita mengetahui bagaimana sikap Yesus
terhadap adat Yahudi ini.
Yesus mengikuti hukum yang diatur oleh Musa, di mana setiap anak sulung
berumur 8 hari harus dibawa ke Bait Allah untuk diserahkan kepada Allah (Luk.
2:22-23). Pada saat memulai pelayanannya Yesus mengikuti dan menghargai
adat Yahudi tentang perjamuan kawin di Kana (Yoh. 2:1-11).

Dalam Matius 12:1-8; orang Farisi dan ahli Taurat mengecam murid-murid Yesus
yang dianggap melanggar adat Yahudi, di mana murid-murid memetik dan
memakan bulir-bulir gandum pada hari Sabat, dan seolah-olah Yesus tidak
mempedulikan pelanggaran tersebut. Yesus dengan tegas menampik tuduhan itu
dengan mengambil contoh apa yang dilakukan Daud (1 Sam. 21:1-6). Ini
menunjukkan bahwa Yesus menghargai adat tetapi Dia tidak menghendaki
pengagungan adat di atas penyelamatan kehidupan manusia.

Fakta-fakta dalam Perjanjian Baru memberikan kesimpulan:

a. Dalam seluruh pelayanan-Nya, Yesus tidak pernah mengabaikan adat.


b. Yesus menghargai adat tetapi Dia menolak adat yang menghalangi,
menggagalkan atau membatalkan kebenaran firman Allah. Adat tidak boleh
melampaui anugrah dan keselamatan yang diberikan Yesus bagi manusia.
c. Adat yang boleh dipelihara dan dikembangkan adalah adat yang dapat
membantu orang untuk menghayati dan memperteguh imannya kepada Tuhan,
serta menyejahterakan hidup manusia.

III. ADAT SEBAGAI HUKUM DAN TATA TERTIB


DALAM SUKU BATAK

Lahirnya adat Batak disebabkan oleh beberapa hal berikut:

a. Adat diciptakan agar ada hukum yang berlaku untuk mengatur dan menata
semua kehidupan. Pada dasarnya manusia memiliki sifat bebas, maka jika tidak
ada ketentuan yang mengatur dan menata kehidupan mereka, akan menimbulkan
kekacauan.
b. Adat lahir karena adanya keinginan dan kesepakatan bersama. Suatu aturan
tertentu menjadi adat jika telah diterima dan disepakati bersama untuk dilakukan.
c. Adat tercipta karena adanya janji (padan) dan ikrar (uasiat) dari sekelompok
orang, sekelompok marga, sekelompok kampung atau wilayah.
Di dalam adat Batak terdapat aturan-aturan atau perintah-perintah yang disebut
patik. Patik berfungsi sebagai batasan tatanan kehidupan untuk mencapai nilai-
nilai kebenaran. Patik ditandai dengan kata unang, tongka, sotung, dang jadi.
Untuk menghindari penyimpangan tatanan kehidupan yang dimaksud dibuatlah
uhum atau hukum. Uhum ditandai oleh kata aut, suru, baliksa, hinorhon, laos,
tolon, bura, dan sebagainya. Peringatan untuk tidak melanggar patik itu
ditegaskan dengan kata sotung. Dan mengharamkan segala aturan untuk
dilanggar dinyatakan dengan kata subang.

Tata nilai kehidupan suku Batak di dalam proses pengembangannya merupakan


pengolahan dan perkembangan dalam satu sistem komunikasi, meliputi:

a. Sikap mental (Hadirion),


b. Nilai kehidupan (Ruhut-ruhut ni parngoluon).

Sikap mental meliputi:


a. Cara berpikir (Paniangon),
b. Cara bekerja (Parulan),
c. Logika (Ruhut, raska, risa),
d. Etika (Paradaton),
e. Estetika (Panimbangon).

Suku Batak mempunyai sistem kekerabatan yang dikenal dan hidup hingga kini
yakni partuturon. Setiap orang dari suku Batak mempunyai nama Marga/Family
yang menunjukkan garis keturunannya terhadap Si Raja Batak dan anggota
masyarakat Batak lainnya. Budaya Batak juga mengatur hubungan seseorang
dengan orang lain, bagaimana cara memanggil dan menghormatinya. Dasar
utama hubungan seseorang dengan lainnya disebut Dalihan Na Tolu atau Tungku
Yang Tiga, yaitu pola kekerabatan dengan teman semarga, kakak beradik seibu,
dan keluarga dari pihak istri. Orang Batak memelihara dan mengingat silsilahnya
terhadap leluhur marganya dan hubungannya dengan saudara-saudara
marganya. Untuk memudahkan mencari hubungan dengan saudara semarganya,
maka orang Batak menomori generasinya terhadap leluhur pertama marganya.
Misalnya, marga Nababan nomor 19 adalah generasi ke 19 dari Nababan yang
pertama; anak ketiga dari marga Sihombing; saudara-saudaranya adalah marga
Silaban, Lumbantoruan dan Hutasoit. Sihombing bersaudara dengan Simamora;
keturunan dari Toga Sumba. Toga Sumba keturunan dari Tuan Sorimangaraja
yang merupakan keturunan dari Raja Isumbaon, anak kedua dari Si Raja Batak.

Pada umumnya orang Batak sangat kuat menjaga kekerabatan ini dan memegang
adat budayanya meskipun sudah merantau jauh dari kampungnya. Sebagai
contoh, sampai sekarang orang Batak masih memegang aturan tidak boleh
menikah dengan saudara semarga atau bahkan satu rumpun marga. Misalnya,
dari keturunan Parsadaan Nai Ambaton (PARNA) yang terdiri dari 54 marga, tidak
boleh menikah satu dengan lainnya. Demikian pula penyelenggaraan upacara-
upacara adat, tetap dilakukan di perantauan meskipun sudah mulai sedikit
disederhanakan untuk memperkecil biaya dan waktu. Kuatnya memegang adat ini
adalah wujud dari kebanggaan orang Batak pada budayanya yang tentu saja
sangat mempengaruhi perilaku kehidupannya sehari-hari. Di samping itu juga
karena adanya sanksi jika mereka melanggar adat-adat tertentu. Misalnya, orang
Batak akan dikucilkan jika menikah dengan orang semarga. Ini merupakan sanksi
hukum adat yang berlaku dalam budaya Batak. Contoh lain, jika tidak
melaksanakan adat membuat tugu bagi orang meninggal, maka itu akan dianggap
sebagai hutang yang akan terus ditagih. Predikat sebagai orang tak beradat akan
terus disandangnya. Ini merupakan sanksi moral bagi orang Batak.

V. NILAI-NILAI RELIGI DALAM BUDAYA BATAK

Suku Batak sejak dahulu sudah percaya kepada Tuhan yang pertama ada dan
berkuasa. Dia adalah sosok yang menjadi tempat manusia meminta pertolongan
di dalam menghadapi bencana atau malapetaka besar, dan sosok yang
mempunyai kekuatan melampaui roh-roh alam, melampaui kematian dan
melampaui kehidupan. Sosok ini disebut Ompu Tuan Mula Djadi na Bolon, atau
pendeknya, Debata. Ada tiga sebutan yang lain: sebagai penguasa yang ada di
atas bumi, disebut dengan Tuan Bubi na Bolon; sebagai penguasa yang ada di
bumi, disebut dengan nama Ompu Silaon na Bolon; sebagai penguasa yang ada
di bawah bumi, laut dan halilintar, disebut dengan nama Tuan Pane na Bolon.

Agama lama Batak ini hanya mengenal satu Yang Maha Kuasa, walau kadang di
sisi lain ada juga yang animisme dan dinamisme, seperti adanya kegiatan
membuat persembahan kepada penghuni-penghuni suatu tempat. Diperkirakan
agama Hindu lama cukup mempengaruhi perkembangan budaya Batak, seperti
dapat dilihat dari kosa kata yang diserap dari bahasa Hindi dalam banyak kosa
kata bahasa Batak, serta terdapatnya candi-candi Hindu di Padang Bolak. Di
zaman sekarang, mayoritas orang Batak menganut dua agama besar, yaitu
Kristen dan Islam di mana perbandingan jumlah penganutnya hampir sama besar.
Perkembangan pesat dua agama ini dimulai sekitar 200-300 tahun yang lalu.
Kedua agama baru ini dapat dengan mudah diterima sebab masih dapat
menunjang aspirasi yang ada di adat Batak.

VI. ETIKA KRISTEN DALAM MENANGGAPI ADAT BATAK

Kita percaya bahwa Alkitab adalah pedoman utama dan berwibawa bagi iman dan
kehidupan. Adat istiadat kebudayaan tidak memiliki kewibawaan yang mengatasi
Alkitab. Di dalam Alkitab sendiri penuh dengan cerita tentang berbagai budaya
suatu suku bangsa. Segala sesuatu yang tertulis di dalam Alkitab ditempatkan di
dalam pengalaman budaya penulis atau penyuntingnya.

Namun Alkitab bukan suatu buku etika. Alkitab tidak berisi banyak risalah
sistematik mengenai etika. Etika dibicarakan dengan jelas di dalam konteks suatu
cerita. Hukum-hukum Perjanjian Lama diceritakan dalam konteks kisah-kisah
mengenai keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Khotbah di bukit adalah suatu
bagian terpadu dari kisah tentang Yesus. Kita belajar etika dari suatu cerita
dengan cara membiarkan cara cerita itu memandang dunia menjadi struktur
simbolik makna-makna kita sendiri.

Di dalam kisah Alkitab kita dapat melihat suatu pandangan moral mengenai
kehidupan yang diungkapkan dalam banyak cerita, puisi, sejarah, berita kenabian,
khotbah-khotbah, doa-doa, kebaikan dan kejahatan disingkapkan dan
disimbolkan dalam konteks budaya tertentu. Cerita Alkitab, bila dipahami dalam
konteksnya, mengajarkan kita bagaimana menjadi baik pada saat kita melihat
hidup kita sendiri sebagai bagian dari cerita yang sama. Cerita Alkitab menuntun
kita untuk mengalami kenyataan dengan cara yang sejalan dengan karya Allah
dalam dunia.

Kita telah mengetahui bahwa adat Batak merupakan hasil karya manusia yang
memiliki dua sisi, yaitu sisi yang baik dan yang buruk. Hal itu sesuai dengan
doktrin penciptaan manusia sebagaimana tertulis dalam Kitab Kejadian. Di satu
sisi, kondisi atau keberadaan manusia tersebut adalah sangat mulia, di mana dia
diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26-27). Tapi di sisi lain,
manusia telah jatuh ke dalam dosa (Kej. 3:6-8) sehingga menciptakan adat yang
buruk, yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, bahkan sebagian di antaranya
mengandung unsur kuasa gelap atau iblis.

Di dalam Perjanjian Baru telah jelas digambarkan bagaimana sikap Yesus


terhadap adat Yahudi. Yesus melampaui adat kebudayaan dan telah
memperbaruinya ke arah kebenaran firman Tuhan. Cara pandang dari sudut
manusia yang telah mengagungkan adat melebihi kebesaran Allah, dipatahkan-
Nya dengan mengajarkan bahwa firman Allah berkuasa di atas segala kehendak
manusia, termasuk adat yang diciptakannya. Di samping firman Allah yang
disampaikan langsung kepada para nabi dan hakim di zaman Perjanjian Lama,
Yesus sendiri telah menjadi contoh, bagaimana sikap kita seharusnya dalam
menghadapi adat. Jelaslah bahwa sikap yang benar terhadap adat Batak bukanlah
menolak adat tersebut atau menerima semuanya, tetapi kita harus bersikap
selektif. Dengan sikap selektif tersebut, kita akan menerima semua praktek dalam
adat Batak yang sesuai dengan friman Allah dan menolak berbagai praktek yang
bertentangan dengan firman Allah. Selain itu, kita juga perlu membangun sikap
aktif dan kreatif untuk terus-menerus memperbarui adat Batak tersebut demi
kemuliaan Allah dan demi kesejahteraan kita bersama.
“Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang
tua, karena jika demikian, kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin
besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong
kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu
terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang
dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-
duanya” (Mat. 9:16-17).

Ayat di atas menunjukkan pembaruan yang dibawa oleh Tuhan Yesus. Adat
bukanlah suatu hal yang tak berubah. Kita perlu memikirkan suatu prinsip agar
tidak merelatifkan atau meniadakan perbedaan yang ada antara adat dan firman
Tuhan, melainkan memelihara ketegangan di antara keduanya secara positif,
kreatif dan konstruktif, demi untuk mempertinggi kualitas rohani maupun kualitas
kultural orang Batak Kristen. Di sisi lain kita terus-menerus bertanya dan menilai
sejauh mana adat-istiadat itu kita hayati dan ungkapkan secara mendalam dan
mendasar, bukan sekedar kulit dalam wujud upacara dan formalitas, serta sejauh
mana adat itu menopang kita untuk memajukan iman kita dan meningkatkan
kualitas kehidupan kita.

Melakukan hal itu sungguh tidak mudah. Untuk dapat bersikap selektif dan terus-
menerus memperbarui adat, dibutuhkan kualitas kerohanian dan kemampuan
tertentu.

Ada empat kriteria penting sebagai berikut:

a. Kita harus memiliki hubungan yang benar dengan Yesus Kristus.

Ini merupakan syarat yang pertama. Kepada jemaat di Roma (Rom. 8:5-8), rasul
Paulus menegaskan bahwa keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera,
sedangkan keinginan daging adalah perseteruan dengan Allah. Mereka yang hidup
dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Itu sebabnya kita perlu
serius meresponi seruan firman Tuhan agar kita bertumbuh menjadi dewasa,
sebagaimana tertulis di Efesus 4:13; “…sampai kita semua mencapai kesatuan
iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan
tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus”.

b. Kita harus memahami adat Batak dengan benar.

Pemahaman adat dengan benar merupakan syarat kedua untuk dapat bersikap
selektif terhadap adat. Ada kelompok yang jelas dan tegas menyatakan
penolakannya terhadap adat Batak. Kita perlu mengamati apakah mereka telah
memahami adat Batak dengan benar, sehingga memiliki alasan yang kuat untuk
menolak adat tersebut.

c. Kita harus memahami Alkitab dengan benar.

Agar dapat menyeleksi adat Batak mana yang sesuai dengan Alkitab dan mana
yang tidak, maka berita dan pesan Alkitab harus dipahami dengan baik dan benar.

d. Kita harus dapat menyelaraskan pemahaman adat dan firman Tuhan dengan
benar.
Kita tidak perlu mempertentangkan antara adat dan firman Tuhan, yang
sebenarnya tidak bertentangan. Dan sebaliknya, kita juga jangan menyamakan
antara adat dan firman Tuhan, yang sebenarnya tidak sama.

Jika kita memiliki keempat kriteria ini, maka kita akan dapat bersikap dengan
benar terhadap adat, karena kita memiliki hikmat Roh selain dari pengetahuan
kita tentang adat. Beberapa adat Batak yang bertentangan dengan firman Tuhan
haruslah kita tolak dengan tegas tanpa harus menimbulkan permusuhan dengan
keluarga. Justru di sinilah peran kita untuk memperbarui penerapan adat yang
salah.

Sebagai contoh, bagaimana sikap kita terhadap adat Batak dalam hal pendirian
tugu untuk orang yang sudah meninggal, yang berhubungan dengan pemujaan
nenek moyang. Jika hal itu dilakukan untuk mengenang kebaikan mereka yang
sudah meninggal, maka kita dapat menerimanya sebagai pelajaran bagi kita
terhadap hal-hal baik yang sudah dilakukan oleh para pendahulu kita. Namun jika
sudah terdapat praktek penyembahan atau pemujaan terhadap nenek moyang,
misalnya memohon berkat dari roh para orang mati tersebut, maka kita harus
dengan tegas menolaknya. Kita tidak perlu takut akan resiko mendapatkan sanksi
hukum adat maupun sanksi moral karena Yesus Kristus melampaui segala adat
yang ada di bumi. Roh Kudus akan memberikan hikmat kepada kita untuk
menolak dengan cara yang bijaksana, sehingga penolakan itu tidak perlu
menimbulkan ketegangan dalam hubungan keluarga.

VII. KESIMPULAN

Orang Batak hidup di dalam sebuah lingkungan yang sarat dengan adat. Dalam
menerapkan adat tersebut, kita harus selalu waspada agar tidak terjebak ke
dalam praktek adat yang menghambat pertumbuhan iman kita, atau bahkan
menyesatkan. Kita menerima dan menghargai adat sebagai karya nenek moyang
kita yang sangat berharga. Bagaimanapun juga kita harus menyadari bahwa Allah
juga bekerja di zaman para nenek moyang kita. Karya yang baik itu tidak lepas
dari penyertaan Allah terhadap umat ciptaan-Nya, namun kita harus selektif
dalam menerapkan adat tersebut. Kita menerima adat yang sejalan dengan firman
Tuhan, dan menolak adat yang bertentangan dengan firman Tuhan. Kedewasaan
rohani menjadi kunci bagi kita untuk dapat bersikap dengan benar, seturut dengan
keteladanan Yesus.

Adat Batak nampaknya tidak mungkin berlalu, melainkan akan terus hidup di
dalam setiap orang Batak. Namun adat selalu berubah seiring dengan perubahan
zaman. Di sinilah kesempatan kita untuk melakukan pembaruan adat ke arah
yang benar sejalan dengan firman Tuhan. Kita tidak dapat membuang adat namun
kita dapat menyelaraskan adat dengan kebenaran firman Tuhan. Adat Batak,
sebagai tata-tertib kehidupan dapat kita praktekkan tanpa harus jatuh ke dalam
praktek-praktek adat yang menimbulkan dosa. Pengajaran firman Tuhan tidak
menghasilkan adat Kristen yang meniadakan adat suku bangsa Batak, melainkan
adat orang-orang yang menghayati persekutuan mereka di dalam kasih karunia
Allah. Persekutuan yang kuat dengan Yesus Kristus akan memampukan kita
bersikap dengan benar terhadap adat.
DAFTAR PUSTAKA

1. ________, Alkitab Terjemahan Bahasa Indonesia, LAI, 2005.


2. Adeney, Bernard T., Etika Sosial Lintas Budaya, Penerbit Kanisius, Yogyakarta,
cet. 5, 2004.
3. Administrator, Budaya Batak, Artikel Google Blog, ________.
4. Marbun M. A., Kamus Budaya Batak Toba, Balai Pustaka, Jakarta, cet. 1, 1987.
5. Sagala, Mangapul, Pdt., Ir., D.Th., Injil dan Adat Batak, Yayasan Bina Dunia
(YBD), Jakarta, cet. 2, 2008.
6. Sarumpaet J. P., M.A., Kamus Batak Indonesia, Penerbit Erlangga, Jakarta, cet.
1, 1994.
7. Schreiner, Lothar, Adat dan Injil - Perjumpaan Adat dengan Iman Kristen di
Tanah Batak, BPK Gunung Mulia, Jakarta, cet. 6, 2002.
8. Siregar, Eliezer O.S.T., Pdt., S.Th., Adat Batak Ditinjau dari Segi Alktitab –
Makalah Seminar Adat Perkawinan Batak Ditinjau dari Teologi Kristen, Adat Toba,
Adat Samosir, Adat Silindung, Adat Humbang, Gereja HKBP Resort Yogyakarta, 6
Oktober 2007.
9. Tobing, O. L., Ph., The Structure of The Toba-Batak Belief in The High God,
South and South-East Celebes Institute of Culture, Jakarta, cet. 3, 1994.
10. Teichman, Jenny, Etika Sosial, Penerbit Kanisius, cet. 10, 1998.
11. Vergouwen, J.C., Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba, Pustaka Azet,
Jakarta, cet. 1, 1986.
12. Verkuyl, J., Dr., Etika Kristen Bagian Umum, BPK Gunung Mulia, Jakarta, cet.
19, 2004.
13. West, Larry, MA., C. PhD., Globalisasi dan Misi, Diktat Kuliah Program S2,
Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia, Yogyakarta, Februari 2009.
14. __________, Toba Indo – Kamus Elektronik, ___________
UNSUR BUDAYA BATAK
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar
Dosen pengampu : Wiji Febriyani, S.IP.

Di susun oleh :
SEMESTER IVC
1. Cangkini 882010112015
2. Desi Rantika 882010112021
3. Lely Supriati 882010413089
4. Siti Atun Farhatun 882010112087
5. Yayat Triyati 882010112111
6. Wanta 882010112105

UNIVERSITAS WIRALODRA INDRAMAYU


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
Jl. Ir. H. Juanda Km 3 (0234) 275946,
Indramayu 45213
2014
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Unsur Budaya Batak” ini dengan lancar.Penulisan makalah ini bertujuan untuk
memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pengampu matakuliah Ilmu Sosial
Budaya DasarWiji Febriyani, S.IP.
Penulis harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua,
dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai Unsur Budaya Batak yang ditinjau dari
aspek Adat atau kesenian, realigi, bahasa, ilmu pengetahuan, teknologi, sistem kemasyarakatan
dan mata pencarian, khususnya bagi penulis. Memang makalah ini masih jauh dari sempurna,
maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang
lebih baik.

Indramayu, 23 Maret 2014

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………………...... i
DAFTAR ISI ............………………………………………………………............. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang………………………………………………….………..... 1
1.2 Rumusan Masalah……….……………………………………………....... 2
1.3 Tujuan Makalah…….……………………………………………………... 2
BAB II PEMBAHASAAN
2.1 Sejarah Suku Batak ................................................................................... 3
2.2 Realigi ......................................................................................................... 3
2.3 Sistem bahasa ............................................................................................... 7
2.4 Adat istiadat dan kesenian ........................................................................... 9
2.5Sistem IPTEK ............................................................................................... 27
2.6 Organisasi Masyarakat ................................................................................. 28
2.7 Sistem mata pencaharian .............................................................................. 30
2.8 Ilmu pengetahuan ......................................................................................... 32

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan…………………………………………………………........... 28
3.2. Saran............................................................................................................. 28

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Adat adalah bagian dari pada Kebudayaan, berbicara kebudayaan dari suatu bangsa atau
suku bangsa maka adat kebiasaan suku bangsa tersebut yang akan menjadi perhatian, atau
dengan kata lain bahwa adat lah yang menonjol didalam mempelajari atau mengetahui
kebudayaan satu suku bangsa, meskipun aspek lain tidak kalah penting nya seperti
kepercayaan, keseniaan, kesusasteraan dan lain-lain.
Dalam matakuliah ISBD kami di tunjuk untuk menjelaskan tentang suku batak, dari adat
istiadat, agama, bahasa, ilmu pengetahuan, teknologi, sistem kemasyarakatan dan mata
pencarian.
Batak adalah nama sebuah suku bangsa di Indonesia. Suku ini kebanyakan bermukim di
Sumatra Utara.Sebagian orang Batak beragama Kristen dan sebagian lagi beragama Islam.
Tetapi dan ada pula yang menganut agama Malim (pengikutnya biasa disebut dengan
Parmalim ) dan juga penganut kepercayaan animisme (disebut Pelebegu atau Parbegu).
Sejarah Kerajaan Batak didirikan oleh seorang Raja dalam negeri Toba sila-silahi
(silalahi) lua’ Baligi (Luat Balige), kampung Parsoluhan, suku Pohan.Raja yang bersangkutan
adalah Raja Kesaktian yang bernama Alang Pardoksi (Pardosi).Masa kejayaan kerajaan
Batak dipimpin oleh raja yang bernama.Sultan Maharaja Bongsu pada tahun 1054 Hijriyah
berhasil memakmurkan negerinya dengan berbagai kebijakan politiknya.
Suku bangsa Batak dari Pulau Sumatra Utara. Daerah asal kediaman orang Batak dikenal
dengan Daratan Tinggi Karo, Kangkat Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu, Simalungun, Toba,
Mandailing dan Tapanuli Tengah. Daerah ini dilalui oleh rangkaian Bukit Barisan di daerah
Sumatra Utara dan terdapat sebuah danau besar dengan nama Danau Toba yang menjadi
orang Batak. Dilihat dari wilayah administrative, mereka mendiami wilayah beberapa
Kabupaten atau bagaian dari wilayah Sumatra Utara. Yaitu Kabupaten Karo, Simalungun,
Dairi, Tapanuli Utara, dan Asahan.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan diatas, kami akan membahas
unsur-unsur kebudayaan suku Batak diantaranya :
1. Bagaimana sejarah Batak?
2. Apa yang terdapat pada unsur budaya Batak?
1.3.Tujuan
Dari rumusan masalah diatas kami mempunyai tujuan:
1. Untuk mengetahui sejarah suku batak.
2. Untuk mengetahui unsur yang terdapat pada kebudayaan Batak.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Suku Batak

Batak merupakan satu istilah yang digunakan untuk kumpulan suku yang terdapat
di daratan tertinggi di Sumatera Utara, Suku Batak berasal dari keturunan Raja Batak. Suku
batak termasuk suku bangsa melayu tua yang berasal dari indocina atau hindia belakang,
nenek moyang orang batak berasal dari utara berpindah ke Filipina dan berpindah lagi ke
Sulewesi Selatan, berlayar hingga akhirnya menetap di pelabuhan barus, kemudian bergeser
ke pedalaman dan menetap dikaki gunung pusuk buhit, di tepi pulau samosir, tempat asal usul
peradaban suku batak.

Keturunan suku batak berasal dari hindia muka (india), pindah ke burma, kemudian ke
tanah genting Kera di Utara Malaysia. Berlayar sampai ke tanjung balai batubara dan di
pangkalan brandan atau kuala simpang di aceh dari sana naik ke pedalaman danau toba.Suku
batak termasuk dalam rumpun proto-melayu yang berasal dari Asia selatan yakni dari
burmayang berlayar sampai malaysia, menyeberang dan menghuni daerah sekitar danau toba.

2.2 Unsur-unsur kebudayaan


A. Realigi
a. Kepercayaan Asli Suku Batak
Kepercayaan yang dianut suku batak sebelum mengenal agama protestan dan islam adalah
kepercayaan bahwa alam semesta beserta isinya diciptakan oleh Debata Mula Jadi Na Bolon
dan bertempat tinggal diatas langit, bahkan pada masyarakat daerah pedesaan belum
meninggalkan kepercayaan tercebut. mereka mempunyai system kepercayaan dan religi
tentang Mulajadi Nabolon yang memiliki kekuasaan diatas langit dan pancaran kekuasaan-
Nya terwujud dalam Debata Natolu.
 Menyangkut jiwa dan roh, suku Batak Toba mengenal tiga konsep, yaitu :
1) Debata Mula Jadi Na Bolon : bertempat tinggal diatas langit dan merupakan maha pencipta;
2) Siloan Na Bolon : berkedudukan sebagai penguasa dunia makhluk halus. Dalam
hubungannya dengan roh dan jiwa.
Orang Batak mengenal tiga konsep yaitu :
a) Tondi (adalah jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan, oleh karena itu tondi
memberi nyawa kepada manusia. Tondi di dapat sejak seseorang di dalam kandungan. Bila
tondi meninggalkan badan seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal, maka
diadakan upacara mangalap (menjemput) tondi dari sombaon yang menawannya.)
b) Jiwa
c) Roh
3) Sahala : jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang, semua orang memiliki tondi,tetapi
tidak semua orang memiliki sahala. Sahala sama dengan sumanta, tuah atau kesaktian yang
dimiliki para raja atau hula-hula.
4) Begu : tondinya orang yang sudah mati, yang tingkah lakunya sama dengan tingkah laku
manusia, hanya muncul pada waktu malam. Orang batak juga percaya akan kekuatan sihir
dari jimat yang disebut tongkal.

b. Parmalim
Istilah Parmalim merujuk kepada penganut agama Malim. Agama Malim yang dalam
bahasa Batak disebut Ugamo Malim adalah bentuk moderen agama asli suku Batak. Agama
asli Batak tidak memiliki nama sendiri, tetapi pada penghujung abad kesembilan belas
muncul sebuah gerakan anti kolonial. Pemimpin utama mereka adalah Guru Somalaing
Pardede. Agama Malim pada hakikatnya merupakan agama asli Batak, namun terdapat
pengaruh agama Kristen, terutama Katolik, dan juga pengaruh agama Islam.
Agama ini tidak mengenal Surga atau sejenisnya, sepeti agama umumnya, selain Debata
Mula jadi Na Bolon (Tuhan YME) dan Arwah-arwah leluhur, belum ada ajaran yang pasti
reward atau punisnhment atas perbuatan baik atau jahat, selain mendapat berkat atau dikutuk
menjadi miskin dan tidak punya turunan. Tujuan upacara agama ini memohon berkat
Sumangot dari Debata Mula jadi Na bolon (Tuhan YME), dari Arwah-arwah leluhur, juga
dari Tokoh-tokoh adat atau kerabat-kerabat adat yang dihormati, seperti Kaum Hula-hula
(dari sesamanya). Agama ini lebih condong ke paham Animisme. Agama ini bersifat tertutup,
masih hanya untuk suku Batak, karena upacara ritualnya memakai bahasa Batak, dan setiap
orang harus punya marga, tidak beda dengan agama-agama suku-suku animisme dibelahan
bumi lainnya, sifatnya tidak universal.
Tuhan dalam kepercayaan Malim adalah "Debata Mula Jadi Na Bolon" (Tuhan YME)
sebagai pencipta manusia, langit, bumi dan segala isi alam semesta yang disembah oleh
"Umat Ugamo Malim" ("Parmalim"). Agama Malim terutama dianut oleh suku Batak Toba di
provinsi Sumatera Utara. Sejak dahulu kala terdapat beberapa kelompok Parmalim namun
kelompok terbesar adalah kelompok Malim yang berpusat di Huta Tinggi, Kecamatan Lagu
Boti, Kab. Toba Samosir. Hari Raya utama Parmalim disebut Si Pahasada (yaitu '[bulan]
Pertama') serta Si Pahalima (yaitu '[bulan] Kelima) yang secara meriah dirayakan di
kompleks Parmalim di Huta Tinggi.

c. Masuknya Agama Islam Di Tanah Batak


Pada abad 19 agama Islam masuk daerah penyebarannya meliputi batak selatan.
Masyarakat Batak tidak pernah mengenal Islam sebelum disebarkan oleh para pedagang
Minangkabau. Bersamaan dengan usaha dagangnya, banyak pedagang Minangkabau yang
melakukan menikah dengan perempuan Batak. Hal ini secara perlahan telah meningkatkan
pemeluk Islam di tengah-tengah masyarakat Batak. Pada masa perang Paderi di awal abad ke-
19, pasukan Minangkabau menyerang tanah Batak dan melakukan pengislaman besar-besaran
atas masyarakat Mandailing dan Angkola. Namun penyerangan Paderi atas tanah Toba, tidak
dapat mengislamkan masyarakat tersebut, yang pada akhirnya mereka menganut agama
Kristen Protestan. Kerajaan Aceh di utara, juga banyak berperan dalam mengislamkan
masyarakat Karo dan Pakpak. Sementara Simalungun banyak terkena pengaruh Islam dari
masyarakat Melayu di pesisir Sumatera Timur.

d. Misionaris Kristen
Agama Kristen masuk sekitar tahun 1863 dan penyebarannya meliputi batak utara. Pada
tahun 1824, dua misionaris baptis asal Inggris, Richard Burton dan Nathaniel Ward berjalan
kaki dari Sibolga menuju pedalaman Batak. Setelah tiga hari berjalan, mereka sampai di
dataran tinggi Silindung dan menetap selama dua minggu di pedalaman. Dari penjelajahan
ini, mereka melakukan observasi dan pengamatan langsung atas kehidupan masyarakat
Batak. Pada tahun 1834 kegiatan ini diikuti oleh Henry Lyman dan Samuel Manson dari
dewan komisaris Amerika untuk misi luar negeri.
Pada tahun 1850, dewan Injil Belanda menugaskan Herman Neubronner Van Der Tuuk
untuk menerbitkan buku tata bahasa dan kamus bahasa Batak-Belanda. Hal ini bertujuan
untuk memudahkan misi-misi kelompok Kristen Belanda dan Jerman berbicara dengan
masyarakat Toba dan Simalungun yang menjadi sasaran pengkristenan mereka.
Misionaris pertama asal Jerman tiba di lembah sekitar Danau Toba pada tahun 1861
dan sebuah misi pengkristenan dijalankan pada tahun 1881 oleh Dr. Ludwig Ingwer
Nommensen. Kitab Perjanjian Baru untuk pertama kalinya diterjemahkan ke bahasa Batak
Toba oleh Nommensen pada tahun 1869 dan penerjemahan Kitab Perjanjian Lama
diselesaikan oleh P.H. Johannsen pada tahun 1891. Teks terjemahan tersebut dicetak dalam
huruf latin di Medan pada tahun1893. Menurut H.O. Voorma, terjemahan ini tidak mudah
dibaca, agak kaku dan terdengar aneh dalam bahasa Batak.
Masyarakat Toba dan Karo menyerap agama Kristen dengan cepat dan pada awal
abad ke-20 telah menjadikan Kristen sebagai identitas budaya. Pada masa ini merupakan
periode kebangkitan kolonialisme Hindia-Belanda, dimana banyak orang Batak sudah tidak
melakukan perlawanan lagi dengan pemerintahan colonial. Perlawanan secara gerilya yang
dilakukan oleh orang-orang Batak Toba berakhir pada tahun 1907, setelah pemimpin
kharismatik mereka, Sisingamangaraja XII wafat.

e. Gereja HKBP
Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) telah berdiri di Balige pada bulan
September 1917. Pada akhir tahun 1920-an, sebuah sekolah perawat memberikan pelatihan
keperawatan kepada bidan-bidan disana. Kemudian pada tahun 1941. Gereja Batak Karo
Protestan (GBKP) didirikan.

B. Sistem bahasa
Dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari, orang batak menggunakan beberapa
logat, ialah : logat karo (yang dipakai oleh orang Karo), logat pakpak (yang dipakai oleh
Pakpak), logat simalungun (yang dipakai oleh Simalungun), logat toba ( Yang dipakai oleh
orang Toba, Angkola dan Mandailing).

a. Aksara Suku Batak


Orang Batak adalah salah satu suku dari sedikit suku di Indonesia yang memiliki aksara
sendiri yaitu aksara Batak. Walaupun masing-masing sub suku Batak juga memiliki jenis
huruf yang berbeda-beda akan tetapi kemiripan masing-masing huruf tersebut masih dapat
dimengerti oleh masing-masing sub suku lainnya. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat
Batak juga mememiliki kemiripan antara satu sub suku dengan sub suku lainnya. Sehingga
tidak mengherankan apabila satu orang Batak dapat menguasai beberapa jenis bahasa Batak
sekaligus. Dari struktur penyusunan dan pengucapan bahasa, terdapat 2(dua) kelompok
utama: bahasa Toba serta logat Angkola dan Mandailing yang serumpun (kelompok bahasa
selatan); bahasa Karo, bersama logat Dairi dan Pakpak yang serumpun(kelompok bahasa
utara). Sedangkan bahasa yang dipakai di Simalungun merupakan perpaduan kedua
kelompok bahasa tersebut di atas. Dari keenam sub suku yang ada bahasa Batak Toba adalah
bahasa yang paling banyak digunakan. Dalam beberapa hasil penelitian disebutkan bahwa
bahasa maupun tulisan aksara Batak banyak mendapat pengaruh dari India yaitu bahasa
Sanskerta. Pengaruh tersebut diyakini masuk melalui kebudayaan Hindu Jawa atau Hindu
Sumatera. Sebagai contoh dalam bahasa Batak Toba, purba diartikan sebagai arah mata angin
utara demikian halnya dalam bahasa sansekerta India. Entah dimana letak kebenarannya,
apakah orang Batak adalah penerus dari orang India yang bermigarasi ke Tano Toba atau
sebaliknya, saat ini belum ada kesimpulan yang pasti untuk itu.
Aksara Batak Toba terbagi atas dua bagian besar yaitu suku kata dasar yang dibentuk
oleh penggalan suku-suku kata yang diakhiri dengan huruf vokal a, misalnya ha, ka, ba, pa,
dll. Kelompok huruf seperti ini dikenal sebagai ina ni surat atau indung surat. Kelompok
huruf lainya disebut sebagai anak ni surat yaitu imbuhan yang membentuk penggalan suku
kata gabungan yang tidak terdapat pada suku kata dasar seperti e, i, u, o, eng, ing, ang, ung,
ong,dll. Dalam penulisan aksara Batak Toba terdapat aturan-aturan yang menggabungkan
antara ina ni surat dan anak ni surat sehingga membentuk sebuah kata dan kalimat yang
memiliki arti. Secara umum pembagian ini juga ada dalam aksara sub suku Batak lainnya.
Dalam bidang satra, dapat ditemukan beberapa jenis hasil karya sastra yang berkembang
dalam masyarakat Batak Toba, diantaranya adalah mitos, sajak, mantera-mantera, doa dukun
(tonggo-tonggo),pantun nasihat/umpasa-umpasa, senandung/ andung-andung serta teka-
taki/huling-hulingan atau hutinsa serta beragam turi-turian/ cerita rakyat. Dari sekian banyak
mitos dan turi-turian/ cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, kisah yang paling
banyak dikenal adalah kisah penciptaan manusia pertama yang diyakini berasal dari turunan
Debata Mulajadi Na Bolon. Dikisahkan Debata Mulajadi Na Bolon adalah dewa tertinggi
dalam mitologi Batak. Bersama dengan dewa-dewi lainnya ia menciptakan tiga tingkat dunia
yaitu Banua Ginjang, Banua Tonga, dan Banua Toru. Istrinya yang bernama Manuk Patiaraja
melahirkan tiga butir telur yang kemudian menetas menjadi 3 orang anak Debata Mulajadi
Na Bolon yaitu Batara Guru, Soripada, dan Mangala Bulan. Batara Guru berkedudukan di
Banua Ginjang. Soripada berkedudukan di Banua Tonga dan Mangala Bulan berkedudukan
di Banua Toru. Ketiganya dikenal sebagai kesatuan dengan nama Debata Sitolu Sada (Tiga
Dewa Dalam Satu) atau Debata Na Tolu (Tiga Dewata). Dikisahkan pula Debata Mulajadi Na
Bolon kemudian mengirimkan putrinya Tapionda ke bumi tepatnya ke kaki Gunung Pusuk
Buhit. Tapionda kemudian menjadi ibu raja yang pertama di tanah Batak yaitu si Raja Batak.
Ini adalah salah satu mitos yang dipercayai oleh orang Batak dari sekian banyak mitos yang
diturunkan oleh nenek moyang orang Batak kepada para penerusnya.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kata atau istilah debata berasal dari bahasa
Sansekerta (India) yang mengalami penyesuaian dialek Batak. Karena dalam dialek Batak
tidak mengenal huruf c, y, dan w sehingga dewata berubah menjadi debata atau nama Carles
dipanggil Sarles, hancit (sakit) dipanggil menjadi hansit.
Dari pengamatan penulis, setiap kata atau istilah Sansekerta yang memiliki huruf w,
kalau masuk ke dalam Bahasa Batak akan diganti menjadi huruf b, atau huruf yang lain.
Istilah-istilah Sansekerta yang diserap dalam bahasa Batak:
· Purwa ; Prba ; Timur
· Wajawia ; Manabia ; Barat Laut
· Wamsa ; Bangso ; Bangsa
· Pratiwi ; Portibi ; Pertiwi
· Swara ; Soara ; Suara
· Swarga ; Surgo ; Surga
· Tiwra ; Simbora ; Perak
b. Salam Khas Batak
Tiap puak Batak memiliki salam khasnya masing masing. Meskipun suku Batak
terkenal dengan salam Horasnya, namun masih ada dua salam lagi yang kurang populer di
masyarakat yakni Mejuah juah dan Njuah juah. Horas sendiri masih memiliki penyebutan
masing- masing berdasarkan puak yang menggunakannya. Berikut ini beberapa contoh salam
khas Batak:
1. Pakpak “Njuah-juah Mo Banta Karina!”
2. Karo “Mejuah-juah Kita Krina!”
3. Toba “Horas Jala Gabe Ma Di Hita Saluhutna!”
4. Simalungun “Horas banta Haganupan, Salam Habonaran Do Bona!”
5. Mandailing dan Angkola “Horas Tondi Madingin Pir Ma Tondi Matogu, Sayur
Matua Bulung!”

C. Adat istiadat dan kesenian


a. Adat
Adat adalah bagian dari pada Kebudayaan, berbicara kebudayaan dari suatu bangsa atau
suku bangsa maka adat kebiasaan suku bangsa tersebut yang akan menjadi perhatian, atau
dengan katalain bahwa adat lah yang menonjol didalam mempelajari atau mengetahui
kebudayaan satu suku bangsa, meskipun aspek lain tidak kalah penting nya seperti
kepercayaan, keseniaan,kesusasteraan dan lain-lain .
Dahulu kala keseluruhan aspek kehidupan orang Batak diatur oleh dan didalam
adat.Gunanyaialah untuk menciptakan keterarturan didalam masyarakat.Kegiatan sehari-hari
didalamhubungan sesama orang Batak selalu diukur dan diatur berdasarkan adat.
Namun keterbukaan akan suku bangsa lain dan membawa budayanya misalnya melalui
asimilasidan akulturasi (proses percampuran dua budaya atau lebih) , dan agama yang
melarang untuk terlibat dalam adat mempengaruhi sikap pada adat dan tradisi membuat
cenderung semakingoyang. Artinya muncul sikap tidak lagi membutuhkan adat istiadat
warisan nenek moyang,meskipun masih banyak yang mematuhi dan melaksana-kan adat
bahkan dibeberapa suku Batak masih membutuhkannya didalam pengaturan masyarakat, dan
kenyataan dapat diharapkansebagai suatu alat pemeliharaan moral.

Orang Batak mengenal 3 (tiga) tingkatan adat yaitu:


1. Adat Inti,adalah seluruh kehidupan yang terjadi (in illo tempore) pada permulaan
penciptaandunia oleh Dewata Mulajadi Na Bolon. Sifat adat ini konservatif (tidak berubah).
2. Adat Na taradat,adat yang secara nyata dimiliki oleh kelompok desa, negeri,
persekutuanagama, maupun masyarakat. Ciri adat ini adalah praktis dan flexibel, setia pada
adat inti atau tradisi nenek moyang. Adat ini juga selalu akomodatif dan lugas menerima unsur
dari luar,setelah disesuaikan dengan tuntunan adat yang asalnya dari Dewata.
3. Adat Na niadathon, yaitu segala adat yang sama sekalibaru dan menolak adat inti dan adat
nataradat, adat na diadatkan ini merupakan adat yang menolak kepercayaan hubungan adat
denganTuhan, bahkan merupakan konsep agama baru (Kristen, Islam dll)yang dipandang
sebagai adat,yang justru bertentangan dengan agama asli Batak atau tradisi nenek moyang.
(Sinaga 1983).

Berdasarkan ketiga tingkatan adat tersebut diatas.Adat yang sekarang dilakoni orang
Batak adalah Adat tingkat kedua.Namun dibeberapa bagaian kelompok Batak sudah mendekati
tingkat ketiga.Meskipun ini terjadi sadar atau tidak sadar dilakukan.
Oleh karena itu Adat kebiasaan atau “Adat Batak”, sesuatu yang sangat penting didalam
kehidupan bermasyarakat bagi suku Batak maka perlu dikhayati maka petuah petuah
dibawahini:
Adat do ugari, Sinihathon ni mulajadi. Siradotan manipat ari, salaon di si
ulubalang arai.Ia adat ido ugari, Ale guru saingganon. Radotan manipat ari,
Salaon di ahason.´
Artinya:
Adat ialah aturan, ditetapkan oleh Tuhan yang dituruti sepanjang hari tampak
dalamkehidupan.
Maksudnya: bahwa Adat itu adalah hukum tidak tertulis yang di siratkan oleh Tuhan yang
MahaKuasa kepada nenek moyang terdahulu sehingga merupakan suatu ikatan bagi
yangmenganutnya.
Jikalau adat itu sudah merupakan hukum maka sesuai dengan prinsip-prinsip hukum
akan berlaku kepadanya, seperti pelanggaran terhadap adat tersebut maka akan dikenakan
sanksi adatkepada sipelanggar sesuai dengan aturan main, seperti hukum acaranya.
Namun karena ada tBatak itu tidak tertulis karena dia merupakan adat kebiasaan yang turun-
temurun. Dan keputusannya tidak tertulis atau ter arsip namun jika eksekusi telah terlaksana
akan bergulir kesegala penjuru dan diwariskan turun temurun hasil keputusan adat sehingga
terkadangmerupakan pengikat yang kuat atas keputusan adat tersebut.yang terasa terasa sampai
kini .
Jadi adat adalah aturan hukum yang mengatur kehidupan manusia sehingga bisa
menciptakanketerarturan, ketentraman dan keharmonisan, dan adat ditrapkan didalam
kehidupan sehari-harioleh orang Batak, terutama didalam sistem kekarabatan dengan pedoman
prinsip Dalihan Natolu,disamping aturan adat yang lain.
Adat salah satu dari budaya, dan penguraian tentang adat sangat komplek, karena didalam
semuaaspek kehidupan bermasyarakat orang Batak selalu terikat didalam tata cara yang telah
diatur sejak nenek moyang orang Batak, oleh karena itu ukuran terhormat suatu keluarga selalu
diukur dari kemampuan keluarga tersebut mengimplementasi-kannya (adat) didalam
bermasyarakat.
Namun suatu hal yang tidak dapat dimungkiri bahwa perilaku pelaksanaan adat (budaya)
Batak sudah banyak disusupi dengan unsur-unsur dari luar termasuk pengaruh dari Agama
yang banyak merobah pola berpikir suku bangsa Batak.Meskipun demikian pada saat-saat
situasi sulit umumnya masyarakat tradisional akan kembali pada nilai-nilai budaya Tradisional,
hal ini nampak jelas pada suku Batak, bagai manapun ketat aturan yang dikeluarkan gereja
dalam pelaksanaan adat, sadar atau tidak sadar pelaksanaan adat tradisional dilakukan juga,
seperti margondang dengan Gondang sabangunan (bukan dengan alat musik modern).

b. Sistem Kesenian
Seni Tari khas Suku Batak yaitu: Tari Tor-Tor (bersifat magis), Tari Serampang dua belas
(bersifat hiburan). Alat musik khas Suku Batak yaitu: Musik gondang.
Orang Batak dikenal dengan sebagai masyarakat pecinta seni dan musik. Hampir semua
sub suku memiliki jenis kesenian yang unik dan berbeda dari sub suku lainnya. Kesenian orang
Batak Toba sendiri cukup beragam mulai dari tarian, alat musik dan jenis-jenis nyanian. Tarian
yang menjadi ciri khas orang Batak Toba adalah tari Tor-tor dengan berbagai jenis nama tari
untuk berbagai jenis kegiatan yang berbeda-beda. Tor-tor atau tari-menari merupakan salah
satu kebudayaan Batak yang tertua.Dahulu kala seni tari-menari duhubungkan dengan
kepercayaan animisme yang dapat mendatangkan kuasa-kuasa magis.Acara tari-menari
diadakan untuk memohon kemenangan, kesehatan, dan kehidupan sejahtera kepada dewa-
dewa.Acara tari-menari juga diadakan bilamana ada orang yang lahir, akil balig dan diterima
sebagai anggota suku, pada saat menikah, dan pada waktu sudah mati.Namun sekarang tarian
tersebut tidak lagi bersifat animisme, tetapi lebih dimaksudkan untuk mempererat hubungan
kekerabatan dalam Dalihan Na Tolu.
 Tari Tor-Tor Khas Suku Batak
Tor-tor adalah tarian seremonial yang disajikan dengan musik gondang. Walaupun
secara fisik tortor merupakan tarian, namun makna yang lebih dari gerakan-gerakannya
menunjukkan tor-tor adalah sebuah media komunikasi, dimana melalui gerakan yang disajikan
terjadi interaksi antara partisipan upacara.Tor-tor dan musik gondang ibarat koin yang tidak
bisa dipisahkan.

Gambar : Tari Tortor

Seni tari Batak pada zaman dahulu merupakan sarana utama pelaksanaan upacara
ritual keagamaan. Juga menari dilakukan juga dalam acara gembira seperti sehabis panen,
perkawinan, yang waktu itu masih bernapaskan mistik (kesurupan).Acara pesta adat yang
membunyikan gondang sabangunan (dengan perangkat musik yang lengkap), erat
hubungannya dengan pemujaan para Dewa dan roh-roh nenek moyang (leluhur) pada zaman
dahulu.Tetapi itu dapat dilaksanakan dengan mengikuti tata cara dan persyaratan
tertentu.umpamanya sebelum acara dilakukan terbuka terlebih dahulu tuan rumah (hasuhutan)
melakukan acara khusus yang dinamakna Tua ni Gondang, sehingga berkat dari gondang
sabangunan. Dalam pelaksanaan tarian tersebut salah seorang dari hasuhutan (yang
mempunyai hajat )akan meminta permintaan kepada penabuh gondang dengan kata-kata yang
sopan dan santun sebagai berikut:

“Amang pardoal pargonci…….


“Alu-aluhon ma jolo tu omputa Debata Mulajadi Nabolon, na Jumadihon nasa adong, na
jumadihon manisia dohot sude isi ni portibion.”
“Alu-aluhon ma muse tu sumangot ni omputa sijolo-jolo tubu, sumangot ni omputa paisada,
omputa paidua, sahat tu papituhon.”
“Alu-aluhon ma jolo tu sahala ni angka amanta raja na liat nalolo.”
Setiap selesai satu permintaan selalu diselingi dengan pukulan gondang dengan ritme
tertentu dalam beberapa saat. Setelah ketiga permintaan atau seruan tersebut dilaksanakan
dengan baik maka barisan keluarga suhut yang telah siap manortor (menari) mengatur susunan
tempat berdirinya untuk memulai menari. Kembali juru bicara dari hasuhutan memintak jenis
gondang, satu persatu jenis lagu gondang, ( ada 7 jenis lagu Gondang) yang harus dilakukan
Hasuhutan untuk mendapatkan (tua ni gondang). Para melakukan tarian dengan semangat dan
sukacita. Adapun jenis permintaan jenis lagu yang akan dibunyikan adalah seperti :
permohonan kepada Dewa dan pada ro-roh leluhur agar keluarga suhut yang mengadakan acara
diberi keselamatan kesejahteraan, kebahagiaan, dan rezeki yang berlimpah ruah, dan upacara
adat yang akan dilaksanakan menjadi sumber berkat bagi suhut dan seluruh keluarga, serta para
undangan.Sedangkan gondang terakhir yang dimohonkan adalah gondang hasahatan. Didalam
Menari banyak pantangan yang tidak diperbolehkan, seperti tangan sipenari tidak boleh
melewati batas setinggi bahu keatas, bila itu dilakukan berarti sipenari sudah siap menantang
siapapun dalam bidang ilmu perdukunan, atau adu pencak silat, atau adu tenaga batin dan lain
lain. Selain menari orang Batak juga sangat senang menyanyi, baik secara perorangan, maupun
berkelompok. Lagu-lagu yang dinyanyikan bercerita tentang pemujaan terhadap kampung
halaman, keindahan negeri dan panorama yang indah permai. Sedangkan andung atau ratapan
adalah salah satu jenis nyanyian yang secara khusus dinyanyikan pada acara dukacita atau
menggambarkan suasana hati yang sedang berduka dan sedih. Sebagai contoh,alat musik Batak
Toba yang digunakan untuk mengiringi tarian tor-tor dan nyanyian juga beranekaragam. Alat
musik ini ada yang terbuat dari bahan perunggu, kulit, kayu, dan bambu. Alat musik berbahan
perunggu seperti ogung atau gong. Ogung merupakan instrumen 4 jenis gendang yang
berlainan bunyi/nada, yaitu oloan, ihutan, doal, dan panggora. Sedangkan alat musik dari bahan
kulit, kayu dan bambu meliputi tagading, hesek, hasapi (kecapi), saga-saga, garantung, suling
(seruling), sordam dan salohat. Alat musik tagading merupakan seperangkat instrumen yang
terdiri dari 1 gondang sebagai bas, 1 odap-odap dan 5 tagading. Orang Batak Toba juga
membedakan peralatan musik ini dalam dua golongan besar yaitu Gondang Bolon (terdiri dari
gordang(gendang besar), taganing(gendang ukuran sedang) dengan lima lempeng kayu, odap-
odap(gendang kecil) yang kadang-kadang diganti dengan lempengan logam, gong dari
tembaga ditambah empat gong perunggu, dan sarune(seruling)) dan Gondang Hasapi (terdiri
dari 2 buah hasapi, sarune kecil, suling(seruling), garantung(bumbung kecil) dengan lima
lempeng kayu sebagai pengganti taganing).
 Alat Musik Margondang Khas Suku Batak
1. Margondang Pada Masa Purba
Yang dimaksud dengan Masa purba adalah masa dimana sebelum masuknya pengaruh agama
Kristen ketanah batak, dimana pada saat itu masih menganut aliran kepercayaan yang bersifat
polytheisme.Pada masa purba penggunaan gondang dalam konteks hiburan maupun
pertunjukan belum didapati masyarakat . Keseluruhan kegiatan di tujukan untuk upacara adat
maupun upacara religi yang bersifat sakral. Oleh karena itu upacara margondang pada masa
purba dapat dibagi dalam 2 bagian yaitu :
1) Margondang adat, yaitu suatu upacara yang menyertakan gondang, merupakan akualisasi
dari aturan-aturan yang dibiasakan dalam hubungan manusia dan manusia (hubungan
horizontal), misalnya : gondang anak tubu (upacara anak yang baru lahir), gondang manape
goar (upacara pemberian nama/ gelar boru kepada seseorang), gondang pagolihan anak
(mengawinkan anak), gondang mangompoi huta (peresmian perkampungan baru), gondang
saur matua (upacara kematian orang yang sudah beranak cucu) dan sebagainya.
Gambar 3 : Gondang Sembilan , alat yang dipakai saat Margondang
2) Margondang religi, yaitu upacara yang menyertakan gondang, merupakan akualisasi dari suatu
kepercayaan tau keyakinan yang dianut dalam hubungan manusia dengan tuhan-nya atau yang
disembahnya (hubungan vertikal), misalnya : gondang saem (upacara untuk meminta rejeki),
gondang mamele, (upacara pemberian sesajen kepada roh), gordang papurpur sapata (upacara
pembersihan tubuh/ buang sial) dan sebagainya.

Walaupun upacara margondang masa purba dibagi ke dalam dua bagian, namun hubungan
dengan adat dan religi dalam suatu upacara selalu kelihatan dengan jelas. Hal tersebut dapat
dilihat dari tata cara yang dilakukan pada setiap upacara adat yang selalu menyertakan unsur
religi dan juga sebaiknya pada setiap upacara religi yang selalu menyertakan unsur adat. Unsur
religi yang terdapat dalam upacara adat dapat dilihat dari beberapa aspek yang mendukung
upacara tersebut, misalnya : penyertaan gondang, dimana dalam setiap pelaksanaan gondang
selalu diawali dengan membuat tua ni gondang ( memainkan inti dari gondang), yaitu semacam
upacara semacam meminta izin kepada mulajadi nabolon dan juga kepada dewa-dewa yang
dianggap sebagai pemilik gondang tersebut. Sedangkan unsur adat yang terdapat dalam
upacara religi dapat dilihat dari unsur dalihan na tolu yang selalu disertakan dalam pada setiap
upacara. Menurut Manik, bahwa pada mulanya agama dan adat etnik Batak Toba mempunyai
hubungan yang erat, sehingga tiap upacara adat sedikit banyaknya bersifat keagamaan dan tiap
upacara agama sedikit banyaknya diatur oleh adat (1977: 69).

Walaupun hubungan dari kedua adat dan religi selalu kelihatan jelas dalam pelaksanaan suatu
upacara, perbedaaan dari kedua upacara tersebut dapat dilihat dari tujuan utama suatu upacara
dilaksanakan. Apabila suatu upacara dilaksanakan untuk hubungan manusia yang
disembahnya, maka upacara tersebut di klasifikasikan kedalam upacara religi. Apabila suatu
upacara dilakukan untuk hubungan manusia dengan manusia, maka upacara tersebut dapat di
klasifikasikan ke dalam upacara adat.
2. Margondang pada Zaman Sekarang
Gambar 4 : ” Margondang pada zaman sekarang “
Margondang pada masa sekarang merupakan perkembangan dari cara berpikir
masyarakat setelah pengaruh gereja sudah sangat kuat pada masyarakat Batak Toba.Dalam
ajaran Kristiani, gereja hanya mengakui satu Tuhan yang harus disembah yaitu Tuhan Yesus
Kristus, apabila ada anggota gereja masih melakukan penyembahan terhadap roh roh nenek
moyang dan kepercayaan mereka yang lama, maka orang tersebut aka dikeluarkan dari
anggota gereja tersebut. Oleh karena itu,muncul beberapa masalah yang bersifat problematic
tentang penggunaan gondang batak dalam kegiatan adat maupun keagamaan .
Di satu pihak orang Batak ingin mempraktikkan dan menghayati gondang itu menurut visi
dan tradisi yang sudah sangat mendarah daging, dilain sisi ada kelompok yang menolak
gondang untuk dipergunakan dalam upacara adat maupun keagamaan, karena mereka melihat
unsur-unsur animism pada gondang tersebut , ada ketakutan mereka mempelajari sejarah batak
dan menghidupi unsur-unsur kebudayaannya. Ketakutan ini timbul karena adanya predikat
yang kurang baik sepeti kafir, kolot da tuduhan lain yang diberikan penganut kebudayaan
tersebut. Pada bagian yang lain ada juga kelompok agama tradisional pada masyarakat Batak
Toba yang menentang ajaran Kristen.
 Konsep Margondang pada masa sekarang dapat dibagidalam tiga bagian besar, yaitu :
a) Margondang pesta, suatu kegiatan yang menyertakan gondang dan merupakan suatu
ungkapan kegembiraan dalam konteks hibuan atau seni pertunjukkan, misalnya : gondang
pembangunan gereja, gondang naposo, gondang mangompoi jabu (memasuki rumah) dsb.
b) Margondang adat, suatu kegiatan yang menyertakan gondang, merupakan aktualisasi dari
system kekerabatan dalihan na tolu, misalnya : gondang mamampe marga (pemberian
marga), gondang pangolin anak (perkawinan), gondang saur matua (kematian), kepada orang
diluar suku Batak Toba, dsb.
Gambar 5 : Tari Tortor dan Margondang saat pesta pernikahan

c) Margondang Religi, upacara ini pada saat sekarang hanya dilakukan oleh organisasi
agamaniah yang masih berdasar kepada kepercayaan batak purba. Misalnya parmalim,
parbaringin, parhudamdam Siraja Batak. Konsep adat dan religi pada setiap pelaksanaan
upacara oleh kelompok ini masih mempunyai hubungan yang sangat erat karena titik tolak
kepercayaan mereka adalah mulajadi na bolon dan segala kegiatan yang berhubungan dengan
adat serta hukuman dalam kehidupan sehari-hari adalah berdasarkan tata aturan yang
dititahkan oleh Raja Sisingamangaraja XII yang diaggap sebagai wakil mulajadi na bolon.

c. Hasil Kebudayaan Suku Batak


a) Pakaian Adat Suku Batak
Ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan
simbol restu, kasih sayang dan persatuan, sesuai dengan pepatah Batak yang berbunyi: “Ijuk
pangihot ni hodong, Ulos pangihot ni holong", yang artinya jika ijuk adalah pengikat pelepah
pada batangnya maka ulos adalah pengikat kasih sayang antara sesama.
Secara harfiah, ulos berarti selimut yang menghangatkan tubuh dan melindunginya dari
terpaan udara dingin. Menurut kepercayaan leluhur suku Batak ada tiga sumber yang
memberi panas kepada manusia, yaitu matahari, api dan ulos. Dari ketiga sumber kehangatan
tersebut ulos dianggap paling nyaman dan akrab dengan kehidupan sehari-hari.
Dahulu nenek moyang suku Batak adalah manusia-manusia gunung, demikian sebutan
yang disematkan sejarah pada mereka. Hal ini disebabkan kebiasaan mereka tinggal dan
berladang di kawasan pegunungan. Dengan mendiami dataran tinggi berarti mereka harus
siap berperang melawan dinginnya cuaca yang menusuk tulang. Dari sinilah sejarah ulos
bermula.
Pada awalnya nenek moyang mereka mengandalkan sinar matahari dan api sebagai
tameng melawan rasa dingin. Masalah kecil timbul ketika mereka menyadari bahwa matahari
tidak bisa diperintah sesuai dengan keinginan manusia. Pada siang hari awan dan mendung
sering kali bersikap tidak bersahabat. Sedang pada malam hari rasa dingin semakin menjadi-
jadi dan api sebagai pilihan kedua ternyata tidak begitu praktis digunakan waktu tidur karena
resikonya tinggi. Al hajatu ummul ikhtira'at, karena dipaksa oleh kebutuhan yang mendesak
akhirnya nenek moyang mereka berpikir keras mencari alternatif lain yang lebih praktis.
Maka lahirlah ulos sebagai produk budaya asli suku Batak.
Tentunya ulos tidak langsung menjadi sakral di masa-masa awal kemunculannya. Sesuai
dengan hukum alam ulos juga telah melalui proses yang cukup panjang yang memakan waktu
cukup lama, sebelum akhirnya menjadi salah satu simbol adat suku Batak seperti sekarang.
Berbeda dengan ulos yang disakralkan yang kita kenal, dulu ulos malah dijadikan selimut
atau alas tidur oleh nenek moyang suku Batak. Tetapi ulos yang mereka gunakan kualitasnya
jauh lebih tinggi, lebih tebal, lebih lembut dan dengan motif yang sangat artistik.
Setelah mulai dikenal, ulos makin digemari karena praktis. Tidak seperti matahari yang
terkadang menyengat dan terkadang bersembunyi, tidak juga seperti api yang bisa
menimbulkan bencana, ulos bisa dibawa kemana-mana. Lambat laun ulos menjadi kebutuhan
primer, karena bisa juga dijadikan bahan pakaian yang indah dengan motif-motif yang
menarik. Ulos lalu memiliki arti lebih penting ketika ia mulai dipakai oleh tetua-tetua adat
dan para pemimpin kampung dalam pertemuan-pertemuan adat resmi. Ditambah lagi dengan
kebiasaan para leluhur suku Batak yang selalu memilih ulos untuk dijadikan hadiah atau
pemberian kepada orang-orang yang mereka sayangi.
Kini ulos memiliki fungsi simbolik untuk berbagai hal dalam segala aspek kehidupan
orang Batak. ulos menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan adat suku
Batak.
Mangulosi, adalah salah satu hal yang teramat penting dalam adat Batak. Mangulosi
secara harfiah berarti memberikan ulos. Mangulosi bukan sekadar pemberian hadiah biasa,
karena ritual ini mengandung arti yang cukup dalam. Mangulosi melambangkan pemberian
restu, curahan kasih sayang, harapan dan kebaikan-kebaikan lainnya.
Dalam ritual mangulosi ada beberapa aturan yang harus dipatuhi, antara lain bahwa
seseorang hanya boleh mangulosi mereka yang menurut tutur atau silsilah keturunan berada
di bawah, misalnya orang tua boleh mengulosi anaknya, tetapi anak tidak boleh mangulosi
orang tuanya. Disamping itu, jenis ulos yang diberikan harus sesuai dengan ketentuan adat.
Karena setiap ulos memiliki makna tersendiri, kapan digunakan, disampaikan kepada siapa,
dan dalam upacara adat yang bagaimana, sehingga fungsinya tidak bisa saling ditukar.
Dalam perkembangannya, ulos juga diberikan kepada orang "non Batak". Pemberian ini
bisa diartikan sebagai penghormatan dan kasih sayang kepada penerima ulos. Misalnya
pemberian ulos kepada Presiden atau Pejabat negara, selalu diiringi oleh doa dan harapan
semoga dalam menjalankan tugas-tugas ia selalu dalam kehangatan dan penuh kasih sayang
kepada rakyat dan orang-orang yang dipimpinnya.

Beberapa jenis ulos yang dikenal dalam adat Batak adalah sebagai berikut:
- Ulos Ragidup
Ragi berarti corak, dan Ragidup berarti lambang kehidupan. Dinamakan demikian karena
warna, lukisan serta coraknya memberi kesan seolah-olah ulos ini benar-benar hidup. Ulos
jenis ini adalah yang tertinggi kelasnya dan sangat sulit pembuatannya. Ulos ini terdiri atas
tiga bagian; dua sisi yang ditenun sekaligus, dan satu bagian tengah yang ditenun tersendiri
dengan sangat rumit. Ulos Rangidup bisa ditemukan di setiap rumah tangga suku batak di
daerah-daerah yang masih kental adat bataknya. Karena dalam upacara adat perkawinan, ulos
ini diberikan oleh orang tua pengantin perempuan kepada ibu pengantin lelaki.
- Ulos Ragihotang
Hotang berarti rotan, ulos jenis ini juga termasuk berkelas tinggi, namun cara pembuatannya
tidak serumit ulos Ragidup. Dalam upacara kematian, ulos ini dipakai untuk mengafani
jenazah atau untuk membungkus tulang belulang dalam upacara penguburan kedua kalinya.
- Ulos Sibolang
Disebut Sibolang sebab diberikan kepada orang yang berjasa dalam mabolang-bolangi
(menghormati) orang tua pengantin perempuan untuk mangulosi ayah pengantin laki-laki
pada upacara pernikahan adat batak. Dalam upacara ini biasanya orang tua pengantin
perempuan memberikan Ulos Bela yang berarti ulos menantu kepada pengantin laki-laki.
Mengulosi menantu lelaki bermakna nasehat agar ia selalu berhati-hati dengan teman-
teman satu marga, dan paham siapa yang harus dihormati; memberi hormat kepada semua
kerabat pihak istri dan bersikap lemah lembut terhadap keluarganya. Selain itu, ulos ini juga
diberikan kepada wanita yang ditinggal mati suaminya sebagai tanda penghormatan atas
jasanya selama menjadi istri almarhum. Pemberian ulos tersebut biasanya dilakukan pada
waktu upacara berkabung, dan dengan demikian juga dijadikan tanda bagi wanita tersebut
bahwa ia telah menjadi seorang janda. Ulos lain yang digunakan dalam upacara adat adalah
Ulos Maratur dengan motif garis-garis yang menggambarkan burung atau banyak bintang
tersusun teratur. Motif ini melambangkan harapan agar setelah anak pertama lahir akan
menyusul kelahiran anak-anak lain sebanyak burung atau bintang yang terlukis dalam ulos
tersebut.
Dari besar kecil biaya pembuatannya, ulos dapat dibedakan menjadi dua bagian:
Pertama, Ulos Na Met-met; ukuran panjang dan lebarnya jauh lebih kecil daripada ulos jenis
kedua. Tidak digunakan dalam upacara adat, hanya untuk dipakai sehari-hari.
Kedua, Ulos Na Balga; adalah ulos kelas atas. Jenis ulos ini pada umumnya digunakan dalam
upacara adat sebagai pakaian resmi atau sebagai ulos yang diserahkan atau diterima.

Biasanya ulos dipakai dengan cara dihadanghon; dikenakan di bahu seperti selendang
kebaya, atau diabithon; dikenakan seperti kain sarung, atau juga dengan cara dililithon;
dililitkan dikepala atau di pinggang.
Kain ini selalu ditampilkan dalam upacara perkawinan, mendirikan rumah, upacara
kematian, penyerahan harta warisan, menyambut tamu yang dihormati dan upacara Tor-tor.
Kain adat sesuai dengan sistem keyakinan yang diwariskan nenek moyang.

b) Rumah Adat Suku Batak


Orang Batak memiliki pemukiman yang khas berupa desa-desa yang tertutup dan
terdiri dari kelompok-kelompok kecil. Biasanya kelompok ini adalah kumpulan marga , clan
atau kelompok yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Tipikal desa tertutup ini disebut
huta (secara khusus bagi orang Batak Toba).
Sebagai contoh desa tempat tinggal orang Batak Toba pada jaman dahulu dikelilingi
oleh tembok batu atau tanah (parik) yang ditanami oleh pohon bambu yang sangat rapat
sehingga hampir mustahil ditembus manusia. Saat ini masih ada beberapa sisa-sisanya yang
bisa ditemukan di beberapa desa. Jalan masuk atau access road ke huta tersebut hanya ada
satu atau maksimal dua gerbang yang disebut bahal, yaitu bahal jolo (gerbang depan) dan
bahal pudi (gerbang belakang). Dekat dengan bahal biasanya terdapat sebuah pohon beringin
(baringin) atau hariara. Merupakan pohon kehidupan yang dipercaya sebagai perantara antara
dunia tengah dan dunia atas. Kedua pohon ini selalu terlibat dalam ritual mistis dan acara-
acara adat orang Batak Toba.
Bagi orang Batak Toba terdapat dua jenis rumah adat yang ada di dalam suatu huta,
yaitu ruma dan sopo yang letaknya biasa saling berhadapan. Diantara kedua deret ruma dan
sopo tersebut terdapat halaman(alaman) yang luas dan digunakan sebagai pusat kegiatan
orangtua maupun anak-anak. Kedua bangunan ini, meskipun secara sekilas kelihatan sama,
sebenarnya sangat berbeda dari segi konstruksi dan fungsi. Dari segi konstruksi, ciri-ciri yang
bisa dilihat adalah bentuk tangga, besar dan jumlah tiang, serta bentuk pintu. Konstruksi
interior bangunan juga berbeda. Dari segi fungsi, ruma adalah tempat tinggal orang Batak,
sedangkan sopo berfungsi sebagai lumbung padi, sebagai tempat pertemuan, tempat bertenun
dan menganyam tikar, dan tempat untuk muda-mudi bertemu. Sopo orang Batak Toba pada
awalnya tidak berdinding, tetapi oleh karena biaya mendirikan ruma sangat mahal dan susah,
dikemudian hari sopo ini dialihkan fungsinya menjadi rumah tinggal dengan menambahkan
dinding, pintu dan jendela.
Demikian juga rumah adat orang Batak yang lainnya memiliki tipikal bentuk rumah
dan fungsi yang hampir sama. Namun masing-masing rumah adat tetap memiliki kekhasan
masing-masing.
Rumah adat suku Batak Toba disebut juga ‘rumah bolon’. Rumah ini berbentuk
panggung dengan bahan utama bangunan berupa kayu. Hal yang paling menarik perhatian
adalah bentuk atapnya yang melengkung dan runcing di tiap ujungnya.
Di balik bentuknya yang sangat unik, ternyata rumah adat suku Batak ini memiliki
makna dan arti tersendiri.Filosofi rumah adat suku batak memang sangat menarik untuk
dipelajari, mulai dari proses pembangunan rumah sampai segala dekorasi, ternyata semuanya
memiliki makna yang cukup dalam.

c) Pembangunan Rumah Bolon


Proses pembangunan rumah adat suku Batak selalu dilaksanakan secara gotong
royong. Bahan yang digunakan adalah bahan yang dengan kualitas baik, umumnya seorang
pande (tukang) akan memilih kayu-kayu dengan cara memukul kayu tersebut dengan suatu
alat untuk mencari bunyi kayu yang nyaring.
Pondasi rumah adalah hal yang terpenting, dibuat dengan formasi berbentuk segi
empat, dipadu tiang dan dinding yang kuat. Makna dari pondasi ini sendiri adalah saling
bekerja sama demi memikul beban yang berat.
Untuk bagian atas rumah, ditopang oleh sebuah tiang yang biasa disebut tiang
“ninggor” dibantu oleh kayu penopang yang lain. Tiang “ninggor” ini lurus dan tinggi, orang
suku Batak memaknainya sebagai simbol kejujuran. Untuk menjunjung tinggi kejujuran,
perlu didukung oleh rasa keadilan (disimbolkan oleh kayu penopang pada “ninggor”).
Di bagian depan atap terdapat “arop-arop” bermakna harapan untuk bisa hidup
layak. Lalu ada “songsong boltok” untuk menahan atap, yang punya arti bila ada pelayanan
tuan rumah yang kurang baik sebaiknya dipendam dalam hati saja.

d) Interior Rumah Adat Suku Batak


Orang suku Batak selalu membersihkan ruangan rumah dengan cara menyapu semua
kotoran dan mengeluarkannya lewat lubang “talaga” yang ada di dekat tungku masak. Hal ini
juga bermakna untuk membuang segala keburukan di dalam rumah, juga melupakan
kelakuan-kelakuan yang tidak baik.
Di dalam rumah terdapat semacam rumah panggung kecil yang mirip balkon pada
rumah biasa. Tempat ini untuk menyimpan padi, bermakna pula sebagai pengharapan untuk
kelancaran rezeki.
Di setiap rumah di bagian pintu masuk, selalu ada tangga. Bagi orang lain, bila ada
tangga rumah rusak, mungkin akan mengeluh. Tapi bagi orang Batak, bila tangga rumah ini
cepat rusak atau aus, itu malah membanggakan. Karena itu artinya sering dipakai orang atau
dikunjungi orang karena tuan rumah tersebut adalah orang yang baik dan ramah.
- Gorga
Gorga adalah pahatan/ukiran kayu yang ada pada rumah adat suku Batak. Hiasan ini sendiri
memiliki nama-nama tersendiri berdasarkan bentuk ukirannya :
 Gorga simataniari (matahari) : menggambarkan matahari yang merupakan sumber kehidupan
manusia.
 Gorga desa naualu : menggambarkan 8 penjuru mata angin yang sangat berkaitan erat dengan
aktivitas ritual suku Batak
 Gorga singa-singa : menggambarkan tuan rumah sebagai orang yang kuat, kokoh, pemberani
dan berwibawa.
Itu beberapa contoh nama gorga, masih cukup banyak nama gorga lainnya yang
memiliki makna tertentu. Gorga sendiri sering dilukis dengan 3 warna :
 Merah : melambangkan kecerdasan dan wawasan yang luas sehingga lahir kebijaksanaan.
 Putih : melambangkan kejujuran yang tulus sehingga lahir kesucian.
 Hitam : melambangkan kewibawaan yang melahirkan kepemimpinan.
Selain terdapat Gorga rumah adat Suku Batak juga ada yang dipasangi tanduk
kerbau di pucuk atapnya. Hal ini melambangkan rumah sebagai “kerbau berdiri tegak”.
Suku Batak menganggap rumah adat mereka sebagai kerbau yang sedang berdiri dan
dinamakan Rumah Balai Batak Toba. Bentuk rumah adat suku Batak berupa rumah
panggung.
Selain sangat menghargai binatang kerbau, warga masyarakat Sumatera Utara sangat
mencintai gotong royong dan kebersamaan. Misalnya, pada saat membangun rumah adat
suku Batak, mereka melakukannya dengan bersama-sama.
Bagian-bagian Rumah Adat Suku Batak
o Rumah adat suku Batak terdiri dari tiga bagian yang disebut tritunggal benua, yaitu
- Atap rumah atau benua atas yang dipercaya sebagai tempat dewa.
- Lantai dan dinding atau benua tengah yang ditempati manusia.
- Kolong rumah atau benua bawah yang dipercaya sebagai sebagai tempat kematian.
Pada zaman dulu, rumah bagian tengah itu tidak mempunyai kamar. Untuk masuk ke
dalam rumah harus menaiki tangga dari kolong rumah. Anak tangganya berjumlah lima
sampai tujuh buah.

o Bagian rumah adat Batak berupa tiang biasanya dekat dengan pintu. Tiang ini memepunyai
bentuk yang bulat panjang, yang dimaksudkan untuk menyangga bagian atas atau lantai dua.
o Balok digunakan untuk menghubungkan semua tiang yang disebut juga dengan rassang. Balok
bentuknya lebih tebal daripada papan Balok ini bisa menyatukan tiang-tiang depan, belakang,
samping kanan dan kiri rumah, dan dipegang oleh solong-solong (pengganti paku).
o Terdapat pintu di kolong rumah untuk jalan masuk kerbau supaya bisa masuk ke dalam
kolong.
o Rumah adat suku Batak mempunyai atap rumah yang terbuat dari ijuk. Ijuk ini terdiri atas 3
lapisan. Tuham-tuham merupakan lapisan pertama, sedangkan lapisan kedua disebut lalubak
dan kemudian dilanjutkan dengan lapisan ketiga.
o Tangga rumah adat suku Batak ada dua macam, yaitu:
- Pertama adalah tangga jantan (balatuk tunggal). Tangan jantan terbuat dari beberapa
potongan pohon. Jenis pohon yang bisa dijadikan tangga tidak sembarang. Pohon ini biasanya
disebut sibagure, merupakan jenis pohon yang mempunyai batang kuat.
- Kedua disebut tangga betina (balatuk boru-boru). Jenis tangga ini merupakan paduan
beberapa potong kayu yang keras dan biasanya terdiri atas anak tangga dengan hitungan yang
ganjil.
e) Ciri Khas Rumah Adat Suku Batak
Ada beberapa ciri khas yang dapat dijumpai pada rumah adat suku Batak. Diantaranya
adalah:
- Bentuk bangunan merupakan perpaduan dari tiga macam hasil seni, yaitu seni pahat, seni
ukir, serta hasil seni kerajinan.
- Bentuk rumah adat dari suku Batak pada umumnya melambangkan “Kerbau berdiri tegak
- Menghias bagian atap dengan tanduk kerbau.
- Bangunan dibuat berdasarkan musyawarah dan saran-saran dari para orang tua.

Macam - MacamBentuk Rumah Adat Suku Batak


- Batak Toba
Rumah Batak Toba memberikan kesan kokoh karena konstruksi tiang-tiangnya terbuat
dari kayu gelondongan. Dulu ketika sering terjadi pertikaian antarsuku, rumah-rumah selalu
dikelompokkan sebagai benteng di atas bukit. Lingkungannya dikelilingi pohon sebagai
pagar yang cukup rapat.

Gambar : rumah adat batak Toba

- Batak Karo
Rumah Batak Karo merupakan tipe rumah pegunugan. Pintu depannya dihadapkan
ke arah hulu dan pintu belakangnya ke arah muara. Bentuk atap rumah kepala marga berbeda
dengan bentuk rumah-rumah lainnya. Umumnya, denah rumah Batak Karo direncanakan
untuk keluarga jamak yang dihuni rata-rata delapan keluarga batih.
Gambar : rumah adat batak Karo(siwaluh jabu)
- Batak Pakpak
Gambar : rumah adat batak Pakpak
- Batak Simalungun
Bentuk atap rumah Batak Simalungun kadang-kadang tidak simetris.Makhota
atapnya menghadap ke empat arah mata angin dan ujung atapnya dihiasi dengan hiasan yang
berbentuk kepala kerbau.
- Batak Angkola
Gambar : rumah adat batak Angkola
- Batak Mandaling
Gambar : rumah adat batak Mandailing (bagas godang)

d) Senjata Tradisional
Tunggal Panaluan adalah senjata tradisional bagi suku bangsa Batak Toba.
Senjata ini sebenarnya adalah wujud tongkat berukir dan pangkalnya berwujud kepala
manusia lengkap dengan rambutnya yang terbuat dari bulu kuda.

e) Upacara
Upacara dalam masyarakat Sumatra Utara, khususnya bagi masyarakat Batak adalah
merupakan upacara religius dan sakral.
Contoh upacara adat Suku Batak:

· Upacara Masa Kehamilan


· Upacara Kelahiran
· Upacara Martutuaek
· Upacara Mangebang
· Upacara Khitanan
· Upacara Kematian
· Upacara Mangokal Holi

D. Sistem IPTEK
Sistem teknologi dalam orang Batak Toba cukup unik dengan adanya rumah batak yang
menjadi arsitektur kebanggaan mereka. Ruma Batak ini dibangun dari bahan-bahan alami
seperti ijuk, kayu, dan batu. Terdapat pengaturan hierarki ruang dalam ruma batak ini
menurut kepentingan ruang dan penamaannya berdasarkan jenis ruangan tersebut.
Selain itu juga terdapat hirarki pembentukan sebuah kampung atau huta yang dimulai
dari kelompok terkecil yaitu klan keluarga, huta, kemudian bius sebagai kelompok yang
terbesar. Orang Batak memiliki kegemaran dan keahlian mengukir sejak lama.
Hal ini dapat dilihat dari beberapa contoh bentuk peninggalan perhiasan yang ditemukan
oleh para ahli. Material yang diukir adalah kayu dan juga logam. Perhiasan tersebut biasanya
digunakan oleh para tetua atau keluarga pemimpin.
Peninggalan perhiasan seperti ini juga dapat menunjukkan tingginya kemampuan
teknologi yang telah berkembang pada masa itu. Selain perhiasan, masyarakat orang Batak
juga menggunakan ukiran dari kayu yang disebut sebagai Gorga. Masing-masing gorga
memiliki nama dan makna tersendiri serta bentuk yang khas. Penggunaan gorga ini mengikuti
aturan-aturan tertentu yang telah ada sejak lama. Aturan tersebut menyangkut ketepatan
pemaknaan dan penggunaan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Hingga sekarang orang
Batak juga masih tetap menekuni kegemaran mengukir seperti ini namun jumlah peminat dan
yang memiliki keahlian untuk mengukir sudah sangat terbatas jumlahnya.

E. Organisasi Masyarakat
a. Falsafah Dan Sistem Kemasyarakatan
Ada falsafah dalam perumpamaan dalam bahasa Batak Toba yang berbunyi : jonok
dongan partubu jonokan do dongan parhundul, merupakan suatu filosofi agar kita senantiasa
menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena merekalah teman terdekat. Namun dalam
pelaksanaan adat, yang pertama dicari adalah yang satu marga, walaupun pada dasarnya
tetangga tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan adat.
Masyarakat Batak memiliki falsafah, azas sekaligus struktur dan system dalam
kemasyarakatannya yakni yang dalam bahasa Batak Toba disebut Dalihan na Tolu. Berikut
penyebutan Dalihan na Tolu dalam enam puak Batak.
- Dalihan Na Tolu (Toba) : somba marhula-hula, manat mardongan tubu dan elek marboru.
- Dalian Na Tolu (Mandailing dan Angkola) : hormat Marmora, manat markahanggi dan elek
maranak boru.
- Tolu Sahundulan (Simalungun) : martondong ningon hormat sombah, marsanina ningon
pakkei manat dan marboru ningon elek pakkei.
- Rakut Sitelu (Karo) : nembah man kalimbubu, mehamat man sembuyak dan nami-nami man
anak beru.
- Daliken Sitelu (Pakpak) : sembah merkula-kula, manat merdengan tubuh dan elek marberru.
- Hula-hula atau mora : adalah pihak keluarga dari istri. Hula-hula ini menempati posisi yang
paling dihormati dalam pergaulan dan adat-istiadat Batak (semua sub suku Batak) sehingga
kepada semua orang Batak dipesankan harus hormat kepada Hula-hula (Somba Marhula-
hula).
- Dongan tubu atau hahanggi : disebut juga Dongan Sabutuha adalah saudara laki-laki satu
marga. Arti harfiahnya lahir dari satu perut yang sama. Mereka ini seperti batang pohon yang
saling berdekatan, saling menopang, walaupun karena terlalu dekatnya kadang-kadang saling
bergesekan. Namun, pertikaian tidak membuat hubungan satu marga bisa terpisah.
Diumpamakan seperti air yang dibelah dengan pisau, kendati dibelah tetap bersatu. Namun
kemudian kepada semua orang Batak (berbudaya Batak) dipesankan harus bijaksana kepada
saudara semarga. Diistilahkan Manat Mardongan Tubu.
- Boru atau anak boru : adalah pihak keluarga yang mengambil istri dari suatu marga
(keluarga lain). Boru ini menempati posisi paling rendah sebagai parhobas atau pelayan, baik
dalam pergaulan sehari-hari maupun (terutama) dalam setiap upacara adat. Namun walaupun
berfungsi sebagai pelayan bukan berarti bisa diperlakukan dengan semena-mena. Melainkan
pihak boru harus diambil hatinya, dibujuk, diistilahkan Elek Marboru.
Namun bukan berarti ada kasta dalam sistem kekerabatan Batak. Sistem kekerabatan
Dalihan Na Tolu adalah bersifat kontekstual. Sesuai konteksnya, semua masyarakat Batak
pasti pernah menjadi hula-hula, juga sebagai dongan tubu juga sebagai boru. Jadi setiap orang
harus menempatkan posisinya secara kontekstual.
Sehingga dalam tata kekerabatan, semua orang Batak harus berprilaku raja. Raja dalam
tata kekerabatan Batak bukan berarti orang yang berkuasa, tetapi orang yang berprilaku baik
sesuai dengan tata krama dalam sistem kekerabatan Batak. Maka dalam setiap pembicaraan
adat selalu disebut raja ni hula-hula, raja ni dongan tubu dohot raja ni boru.
b. Sistem politik
Secara umum, kepemimpinan pada masyarakat Batak terbagi dalam tiga bidang, yaitu
kepemimpinan adat, pemerintah, dan agama. Kepemimpinan dalam bidang adat meliputi
persoalan perkawinan, perceraian, kematian, warisan, penyelesaian perselisihan, kelahiran
anak, dan sebagainya. Kepemimpinan di bidang adat tidak berada dalam tangan seorang
tokoh, tetapi merupakan suatu musyawarah dari sangkep sitelu.
Kepemimpinan di bidang pemerintahan dipegang oleh salah satu dari turunan tertua
merga taneh. Kepala huta disebut penghulu, kepala urungdisebut raja urung dan sibayak
untuk bagian kerajaan. Kedudukan tersebut merupakan jabatan turun-temurun dan yang
berhak adalah anak laki-laki tertua (situa) atau si bungsu (sinuda). Anak-anak yang lain
(sitengah) tidak mempunyai hak menjadi pemimpin. Selain menjalankan pemerintaha,
mereka juga menjalankan tugas peradilan, yaitu penghulu mengetuai sidang di balehuta dan
raja urung. Pengadilan teretinggi adalah bale raja berompat yang merupakan sidang kelima
sibayak yang ada di Karo.
Masyarakat Karo tidak mengenal pimpinan keagamaan asli karena konsepsi tentang
kekuatan gaib dan kepercayaan lain tidak seragam. Namun, pada suku bangsa Batak yang
menganut agama islam, tokoh dalam agam islam (para mualim) sangat besar peranan dan
pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat. Jabatan ini tidak turun-temurun, seperti dukun
guru sibaso yang menjadi dukun karena pengalaman tertentu. Demikian pula pemilihan
pendeta dan ulama, mereka dipilih karena pengetahuan agama, pengabdian, dan
keteladanannya.

F. Sistem mata pencaharian


Sebagian besar masyarakat Batak Toba saat ini bermatapencaharian sebagai petani,
peladang, nelayan, pegawai, wiraswasta dan pejabat pemerintahan. Dalam berwiraswasta
bidang usaha yang banyak dikelola oleh masyarakat adalah usaha kerajinan tangan seperti
usaha penenunan ulos, ukiran kayu, dan ukiran logam. Saat ini sudah cukup banyak juga
yang memulai merambah ke bidang usaha jasa. Masyarakat tradisional Batak Toba bercocok
tanam padi di sawah dan juga mengolah ladang secara berpindah-pindah. Pengelolaan
tanaman padi di sawah banyak terdapat di daerah selatan Danau Toba.
Hal ini disebabkan oleh daerah tersebut adalah dataran yang landai dan terbuka sehingga
memungkinkan untuk bercocok tanam padi di sawah. Sedangkan ladang banyak terdapat di
daerah utara (Karo, Simalungun, Pakpak, dan Dairi). Kawasan ini berhutan lebat dan tertutup
serta berupa dataran tinggi yang sejik sehingga mengakibatkan lahan ini lebih memungkinkan
untuk pengolahan ladang. Jika anda mendengar daerah Karo sebagai peghasil sayuran dan
buah yang potensial, ini adalah salah satu dampak positif yang dihasilkan oleh keberadaan
bentuk lahan tersebut.
Sebelum teknologi pengolahan pangan mencapai daerah tano Batak, hasil pengolahan
tanaman padi di sawah hanya dapat menghasilkan panen satu kali dalam satu tahun. Hal ini
disebabkan oleh pengolahan tanah yang tidak begitu baik, irigasi yang terbatas dan juga tanpa
penanganan tanaman yang terampil. Demikian halnya dengan hasil pengolahan tanaman di
ladang, hanya dapat menghasilkan panen satu hingga dua kali saja lalu kemudaian lahan tidak
dapat digunakan lagi. Kemudian ladang tersebut akan ditinggalkan dan berpindah ke ladang
yang baru. Dahulu kala,pembukaan ladang yang baru dimulai dengan pemilihan lahan
melalui ritual bersama seorang datu (dukun) yang disebut parma-mang. Lahan yang biasanya
dijadikan ladang adalah lahan yang tidak ditempati atau kawasan hutan alami yang belum
dijamah oleh manusia. Kemudian lahan tersebut dibersihkan dengan cara dibakar. Upacara
selanjutnya adalah memberikan sesaji kepada penunggu lahan agar tidak mengganggu
pengolah ladang dan juga sekaligus sebagai upacara pemilihan hari baik untuk mulai
menanam. Selama musim pembukaan lahan ini, masyarakat kampung dilarang untuk keluar-
masuk kampung. Hal ini dilakukan untuk menghindari mala petaka dan bahaya yang
mungkin terjadi karena penunggu lahan yang merasa terusik. Sekarang keberadaan datu ini
sudah tidak menjadi dominan lagi, akan tetapi kebiasaan membuka lahan baru ini masih tetap
ada. Tanaman yang sering ditanam di ladang ini adalah tebu, tanaman obat, ubi, sayu-
sayuran dan mentimun.
Demikian juga pohon aren yang sengaja ditanam di tengah ladang untuk menghasilkan
tuak, sejenis minuman beralkohol, yang menjadi kesukaan masyarakat Batak. Ada pula
beberapa komoditi unggulan yang menjadi kelebihan suatu daerah. Seperti hasil panen utama
dari daerah Simalungun dan Mandailing adalah jagung dan ubi kayu, serta beragam sayuran.
Dari daerah Pakpak yang menjadi komoditi unggulannya adalah kemenyan dan kapur barus.
Bayangkan betapa kayanya tano Batak ini.
Saat ini masyarakat Batak sudah banyak yang mengolah padi hibrida di sawah mereka,
tentunya orang Batak tidak mau ketinggalan dari yang lainnya. Satu kemajuan ini bagi orang
Batak. Beralih kepada masa pengaruh perkembangan ekonomi terhadap pertanian di tanah
Batak. Pengaruh perkembangan perekonomian tersebut mulai terlihat ketika penjajah
memasuki daerah Tano Toba. Produksi tanaman padi dan hasil ladang meningkat pesat. Hal
ini disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan pangan untuk para pekerja kuli yang datang
memasuki daerah Tano Toba. Pekerja kuli ini didatangkan dari semenanjung Malasya
(mayoritas china) dan juga daerah Jawa, karena masyarakat lokal tidak bersedia menjadi
pekerja untuk penjajah. Pada tahun-tahun pertama masa pendudukan penjajahan, pejabat
kolonial telah membangun sistem transportasi yang menggunakan tenaga para pekerja kuli
tersebut.
Untuk mendukung peningkatan produktivitas tanaman padi di sawah, pejabat kolonial
menyediakan lahan yang akan diolah untuk menanam padi dan juga memperbaiki saluran
irigasi. Beberapa tahun kemudian dilaksanakan percobaan penanaman tanaman yang berasal
dari Eropa seperti kentang dan kol di daerah dataran tinggi Karo. Masyarakat menyambut
baik usaha ini. Hasil produk pertanian yang ada dapat diekspor hingga ke luar negeri(Penang
dan Singapura). Sejumlah besar petani kecil di daerah bercocok tanam padi di sawah dan
ladang. Tapanuli kemudian juga turut mencoba mengelola jenis tanaman yang sama. Selain
tanaman sayuran, diadakan juga percobaan penanaman tanaman perkebunan yang menjadi
cikal bakal pengembangan kawasan perkebunan di Tano Toba. Pada umumnya masyarakat
Batak telah mengenal dan mempergunakan alat-alat sederhana yang dipergunakan untuk
bercocok tanam dalam kehidupannya. Seperti cangkul, bajak (tenggala dalam bahasa Karo),
tongkat tunggal (engkol dalam bahasa Karo), sabit (sabi-sabi) atau ani-ani.
Lahan didapat dari pembagian yang didasarkan marga. Setiap keluarga mendapat tanah
tadi , tetapi tidak boleh menjualnya. Selain tanah ulayat adapaun tanah yang dimiliki
perseorangan. Peternakan juga salah satu mata pencaharian suku Batak antara lain peternakan
kerbau, sapi, babi, kambing, ayam, dan bebek. Penangkapan ikan dilakukan sebagian
penduduk disekitar danau Toba. Sektor kerajinan yang berkembang. Misalnya tenun,
anyaman rotan, ukiran kayu, tembikar, yang ada kaitannya dengan pariwisata.

G. Ilmu pengetahuan
Orang Batak juga mengenal sistem gotong-royong kuno dalam hal bercocok tanam. Dalam
bahasa Karo aktivitas itu disebut Raron, sedangkan dalam bahasa Toba hal itu disebut
Marsiurupan. Sekelompok orang tetangga atau kerabat dekat bersama-sama mengerjakan
tanah dan masing-masing anggota secara bergiliran. Raron itu merupakan satu pranata yang
keanggotaannya sangat sukarela dan lamanya berdiri tergantung kepada persetujuan
pesertanya.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Daerah Sumatra Utara memiliki kekayaan budaya yang beraneka ragam dalam bentuk
adat istiadat, seni tradisional, dan bahasa daerah. Masyarakatnya terdiri atas beberapa suku,
seperti Melayu, Nias, Batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Tapanuli Tengah, Tapanuli
Selatan (meliputi Sipirok, Angkola, Padang Bolak, dan Mandailing); serta penduduk
pendatang seperti Minang, Jawa dan Aceh yang membawa budaya serta adat-istiadatnya
sendiri-sendiri. Daerah ini memiliki potensi yang cukup baik dalam sektor pariwisata, baik
wisata alam, budaya, maupun sejarah
Semua etnis memiliki nilai budaya masing-masing, mulai dari adat istiadat, tari daerah,
jenis makanan, budaya dan pakaian adat juga memiliki bahasa daerah masing-masing.
Keragaman budaya ini sangat mendukung dalam pasar pariwisata di Sumater Utara.
Walaupun begitu banyak etnis budaya di Sumatera Utara tidak membuat perbedaan antar
etnis dalam bermasyarakat karena tiap etnis dapat berbaur satu sama lain dengan memupuk
kebersamaan yang baik. kalau di lihat dari berbagai daerah bahwa hanya Sumatera Utara
yang memiliki penduduk dengan berbagai etnis yang berbeda dan ini tentunya sangat
memiliki nilai positif terhadap daerah sumatera utara.

3.2. SARAN
Kebudayaan yang dimiliki suku Batak ini menjadi salah satu kekayaan yang dimiliki
oleh bangsa Indonesia yang perlu tetap dijaga kelestariannya.Dengan membuat makalah suku
Batak ini diharapkan dapat lebih mengetahui lebih jauh mengenai kebudayaan suku Batak
tersebut dan dapat menambah wawasan serta pengetahuan yang pada kelanjutannya dapat
bermanfaat dalam dunia kependidikan.

DAFTAR PUSTAKA
Tarigan, RajaMalem . 2005. Budaya Batak Dalam Perubahan Multidimensi, Bandung :
ITB Press. (Sebuah Makalah).
Ningrat, Kountjara. 2004. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta :Djambatan.
Salomo, Mangaradja. 1938. Memilih dan Mengangkat Radja di Tanah Batak menurut
Adat Asli.. Sibolga: Rapatfonds Tapanuli.