Anda di halaman 1dari 19

Mitigasi Bencana Banjir

Posted by Safira Allfazira on Wednesday, January 9, 2013

MITIGASI BENCANA BANJIR

Oleh : Annisa Allfazira (03) dan Safira Wardhani (27)

Berbagai bencana alam telah terjadi hampir di seluruh dunia,


Indonesia pun tidak luput dari berbagai bencana alam, salah
satunya banjir. Dari zaman dahulu hingga sekarang, bencana
alam itu selalu ada menghiasi warna-warni kehidupan di alam
ini. Baik berupa bencana alam kecil atau pun besar. Baik yang
hanya menimbulkan kerusakan dalam skala kecil maupun yang
dapat menimbulkan kerusakan dalam skala besar. Bagaimana
cara menanggulanginya ? Agar banjir/bencana tersebut tidak
menimbulkan berbagai dampak negatif, maka diperlukan suatu
upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui
pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan
kemampuan dalam menghadapi ancaman bencana atau yang
sering kita sebut dengan mitigasi bencana.
Mitigasi bencana dalam prakteknya dikelompokan menjadi dua,
yaitu :
1. Mitigasi struktural berhubungan dengan usaha-usaha
pembangunan konstruksi fisik.
2. Mitigasi non struktural antara lain meliputi perencanaan tata
guna lahan disesuaikan dengan kerentanan wilayahnya dan
memberlakukan peraturan (law enforcement) pembangunan.

Dengan mitigasi bencana tersebut , diharapkan dapat


mengurangi resiko atau dampak yang ditimbulkan oleh bencana
kususnya bagi penduduk seperti korban jiwa,kerugian
ekonomi,dan lain lain.
Dalam artikel kali ini, yang akan kita bahas adalah mengenai
Mitigasi Bencana Banjir.

MITIGASI BENCANA BANJIR

Sebelum mengetahui apa saja mitigasi terhadap banjir, kita


harus terlebih dahulu mengetahui definisi dari banjir itu sendiri.
Apa yang dimaksud dengan banjir? Banjir adalah aliran air
sungai yang tingginya melebihi muka air normal sehingga
melimpas dari palung sungai yang menyebabkan ada
genangan di sisi sungai. Aliran air limpasan tersebut yang
semakin meninggi, mengalir dan melimpasi muka tanah yang
biasanya tidak dilewati aliran air. Dalam cakupan pembicaraan
yang luas, kita bisa melihat banjir sebagai suatu bagian dari
siklus hidrologi, yaitu pada bagian air di permukaan bumi yang
bergerak ke laut. Dalam siklus hidrologi kita juga dapat melihat
bahwa volume air yang mengalir di permukaan bumi dominan
ditentukan oleh tingkat curah hujan, dan tingkat peresapan air
ke dalam tanah. Mitigasi terhadap banjir dapat dikelompokkan
menjadi tiga, yaitu tindakan sebelum , sesaat dan sesudah
banjir.

A. Tindakan Sebelum Terjadi Banjir

Ada beberapa hal yang harus kita lakukan sebelum terjadinya


bencana banjir sebagai tahap kesiap-siagaan , diantaranya :
1. Melatih diri dan anggota keluarga hal-hal yang harus
dilakukan apabila terjadi bencana banjir.
2. Mendiskusikan dengan semua anggota keluarga tempat di
mana anggota keluarga akan berkumpul usai bencana terjadi.
3. Mempersiapkan tas siaga bencana yang berisi keperluan
yang dibutuhkan seperti: Makanan kering seperti biskuit, air
minum, kotak kecil berisi obat-obatan penting, lampu senter dan
baterai cadangan, Lilin dan korek api, kain sarung, satu pasang
pakaian dan jas hujan, surat berharga, fotokopi tanda pengenal
yang dimasukkan kantong plastik, serta nomor-nomor telepon
penting.
4. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko
banjir:
5. Buat sumur resapan bila memungkinkan.
6. Tanam lebih banyak pohon besar.
7. Membentuk kelompok masyarakat pengendali banjir.
8. Membangun atau menetapkan lokasi dan jalur evakuasi bila
terjadi banjir.
9. Membangun sistem peringatan dini banjir.
10. Menjaga kebersihan saluran air dan limbah.
11. Memindahkan tempat hunian ke daerah bebas banjir atau
tinggikan bangunan rumah hingga batas ketinggian banjir jika
memungkinkan.
12. Mendukung upaya pembuatan kanal atau saluran dan
bangunan.
13. Pengendali banjir dan lokasi evakuasi.
14. Bekerjasama dengan masyarakat di luar daerah banjir
untuk menjaga daerah resapan air.

B. Tindakan Saat Terjadi Banjir

Saat terjadinya banjir, ada beberapa hal yang perlu kita


waspadai/perhatikan , yaitu :
1. Jangan panik.
2. Pada saat terjadi bencana banjir, warga yang berada di
daerah rawan bencana banjir diminta memantau
perkembangan cuaca, bila hujan terus terjadi tidak henti-
hentinya, diimbau waspada dan berhati- hati untuk
mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
3. Pada saat dan setelah bencana terjadi, berbagai aktivitas
kesehatan harus dilakukan untuk mengatasi masalah
kesehatan para korban serta mencegah memburuknya derajat
kesehatan masyarakat yang terkena bencana. Pada tahapan
tanggap darurat, energi yang cukup besar biasanya dicurahkan
untuk evakuasi korban.
4. Ketika melihat air datang, Jauhi secepat mungkin daerah
banjir. segera selamatkan diri dengan berlari secepat mungkin
menuju tempat yang tinggi.
5. Apabila kamu terjebak dalam rumah atau bangunan, raih
benda yang bisa mengapung sebisanya.
6. Dengarkan jika ada informasi darurat tentang banjir.
7. Hati-hati dengan listrik. Matikan peralatan listrik/sumber
listrik.
8. Selamatkan barang-barang berharga dan dokumen penting
sehingga tidak rusak atau hilang terbawa banjir.
9. Pantau kondisi ketinggian air setiap saat sehingga bisa
menjadi dasar untuk tindakan selanjutnya.
10. Ikut mendirikan tenda pengungsian, pembuatan dapur
umum.
11. Terlibat dalam pendistribusian bantuan.
12. Mengusulkan untuk mendirikan pos kesehatan.
13. Menggunakan air bersih dengan efisien.

C. Tindakan Sesudah Terjadi Banjir

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan sesudah terjadi


bencana banjir ,antara lain:
1. Pemberian bantuan misalnya tempat perlindungan darurat
bagi mereka yang kehilangan tempat tinggalnya.
2. Membersihkan tempat tinggal dan lingkungan rumah.
3. Terlibat dalam kaporitisasi sumur gali.
4. Terlibat dalam perbaikan jamban dan saluran pembuangan
air limbah (SPAL).
5. Pemberian bantuan yang meliputi kesehatan lingkungan,
dan pemberantasan penyakit, pelayanan kesehatan serta
distribusi logistik kesehatan dan bahan makanan.
6. Menjaga agar sistem pembuangan limbah dan air kotor agar
tetap bekerjapada saat terjadi banjir.
7. Menjauhi kabel atau instalasi listrik lainnya.
8. Menghindari memasuki wilayah yang rusak kecuali
dinyatakan aman misal bangunan yang rusak atau pohon yang
miring.
9. Memeriksa dan menolong diri sendiri kemudian menolong
orang di dekat kamu yang memerlukan bantuan.
10. Mencari anggota keluarga.
11. Jika keadaan sudah aman, masuk rumah dengan hati-hati,
jangan menyalakan listrik kecuali telah dinyatakan aman.
12. Membersihkan lumpur
13. Periksa persediaan makanan dan air minum. Jangan minum
air dari sumur terbuka karena sudah terkontaminasi. Makanan
yang telah terkena air banjir harus dibuang karena tidak baik
untuk kesehatan.

Dalam siklus hidrologi kita juga dapat melihat bahwa volume air
yang mengalir di permukaan bumi dominan ditentukan oleh
tingkat curah hujan, dan tingkat peresapan air ke dalam tanah.
Untuk lebih jelas, berikut adalah video animasi mengenai
penanggulangan bencana banjir :
Mitigasi Bencana Banjir : Pengertian, Jenis dan Upaya Penanggulangannya

Sebelum kita ke topik pembahasan utama, alangkah baiknya kalau kita mengetahui apa itu mitigasi
bencana. Mitigasi bencana adalah upaya yang dilakukan untuk mengurasi atau mencegah resiko dari
bencana tersebut, baik itu melalui pembangunan fisik maupun peningkatan dan penyadaran kepada
masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana yang sudah tertera di Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun
2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana.

Jadi, mitigasi bencana banjir adalah upaya yang dilakukan untuk mencegah atau mengurangi resiko dari
bencana banjir. ( baca : Upaya Penanggulangan Banjir )

Jenis-jenis Mitigasi Bencana Banjir

Mitigasi dalam bencana banjir terbagi menjadi 2 macam, yaitu mitigasi secara struktural dan mitigasi
secara non-struktural. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing mitigasi.

1. Mitigasi Struktural

Mitigasi Struktural adalah upaya yang dilakukan demi meminimalisir bencana seperti dengan melakukan
pembangunan danal khusus untuk mencegah banjir dan dengan membuat rekayasa teknis bangunan
tahan bencana, serta infrastruktur bangunan tahan air. Dimana infrastruktur bangunan yang tahan air
nantinya diharapkan agar tidak memberikan dampak yang begitu parah apabila bencana tersebut
terjadi. ( baca : Cara Mencegah Banjir )

Beberapa contoh yang dapat dilakukan dengan metode mitigasi struktural adalah :

Membangun tembok pertahanan dan tanggul – Sangat dianjurkan untuk membangun tembok
pertahanan dan tanggul di sepanjang aliran sungai yang memang rawan apabila terjadi banjir, seperti
kawasan yang dekat dengan penduduk. Hal ini sangat membantu untuk mengurangi resiko dari bencana
banjir yang kerap terjadi pada tingkat debit banjir yang tidak bisa diprediksi. Misalnya adalah banjir
bandang.

Mengatur kecepatan aliran dan debit air – Diusahakan untuk memperhatikan kecepatan aliran dan debit
air di daerah hulu. Yang dimaksud disini adalah dengan mengatur aliran masuk dan keluar air di bagian
hulu serta membangun bendungan / waduk guna membendung banjir. ( baca : Manfaat Waduk )
Membersihkan sungai dan pembuatan sudetan – Pembersihan sungai sangatlah penting, dimana hal ini
untuk mengurangi sedimentasi yang telah terjadi di sungai, cara ini dapat diterapkan di sungai yang
memiliki saluran terbuka, tertutup ataupun di terowongan. ( baca : Manfaat Sungai )

2. Mitigasi Non-Struktural

Mitigasi non-struktural adalah upaya yang dilakukan selain mitigasi struktural seperti dengan
perencanaan wilayah dan & asuransi. Dalam mitigasi non-struktural ini sangat mengharapkan dari
perkembangan teknologi yang semakin maju. Harapannya adalah teknologi yang dapat memprediksi,
mengantisipasi & mengurangi resiko terjadinya suatu bencana.

Beberapa contoh yang dapat dilakukan dengan metode mitigasi non-struktural adalah :

Pembentukan LSM – Membentuk LSM yang bergerak dalam bidang kepedulian terhadap bencana alam
dan juga mengadakan kampanye peduli bencana alam kepada masyarakat, agar masyarakat lebih sadar
untuk selalu siap apabila bencana alam terjadi.

Melakukan Pelatihan dan Penyuluhan – Melatih, mendidik dan memberikan pelatihan kepada
masyarakat akan bahaya banjir yang disertai dengan pelatihan lapangan. ( baca : Cara Menghindari
Banjir )

Membentuk Kelompok Kerja atau POKJA – Dimana dalam kelompok tersebut didalamnya beranggotakan
instansi terkait untuk melakukan dan menetapkan pembagian peran dan kerja untuk penanggulangan
benjana bajir.

Mengevaluasi Tempat Rawan Banjir – Melakukan pengamatan dan penelusuran di tempat yang rawan
banjir, sehingga apabila ada tanggul yang sudah tidak kuat segera diperbaiki.

Memperbaiki Sarana dan Prasarana – Mengajukan proposal untuk pembangunan perbaikan sarana dan
prasarana yang memang sudah tidak layak.

Menganalisa Data-data yang Berkaitan dengan Banjir – Mengevaluasi dan memonitor data curah hujan,
debit air dan informasi yang berkaitan dengan banjir seperti daerah yang rawan banjir dan
mengidentifikasi daerah yang rawan banjir tersebut. Apakah memang ada tanggul yang rusak atau
memang daerah tersebut sangat berbahaya apabila ditempati. ( baca : Alat Pengukur Curah Hujan )

Membuat Mapping – Membuat peta sederhana untuk daerah yang rawan banjir disertai dengan rute
pengungsian, lokasi POSKO dan lokasi pos pengamat banjir.

Menguji Peralatan dan Langkah Selanjutnya – Menguji sarana sistem peringatan dini terhadap banjir
serta memikirkan langkah selanjutnya apabila sarana tersebut belum tersedia.

Menyiapkan Persediaan Sandang, Papan dan Pangan – Mempersiapkan persediaan tanggap darurat
seperti menyediakan bahan pangan, air minum dan alat yang akan digunakan ketika bencana banjir
terjadi. ( baca : Proses Terjadinya Banjir dengan Menggunakan Prinsip Geografi )
Membuat Prosedur Operasi Standar Bencana Banjir – Merencanakan Prosedur Operasi Standar untuk
tahap tanggap darurat yang nantinya melibatkan semua anggota yang bertujuan untuk mengidentifitasi
daerah rawan banjir, identifikasi rute evakuasi, mepersiapkan peralatan evakuasi dan juga tempat
pengungsian sementara.

Mengadakan Simulasi Evakuasi – Melakukan percobaan pelatihan evakuasi apabila bencana banjir
terjadi dan menguji kesiapan tempat pengungisan sementara beserta perlengkapan dalam pengungsian.

Mengadakan Rapat – Mengadakan rapat koordinasi di berbagai tingkat dan utamanya adalah instansi
pemerintah tentang pencegahan bencana banjir.

Tindakan Ketika Banjir dan Setelah Banjir

Selain mitigasi bencana banjir, kita juga perlu mengetahui langkah apa saja yang dapat dilakukan ketika
saat terjadi banjir dan apabila banjir tersebut sudah terjadi.

Tindakan Ketika Saat Terjadi Banjir

Jangan panik dan berusaha untuk bisa menyelamatkan diri.

Pada saat terjadi bencana banjir, warga sekitar dihimbau untuk memantau perkembangan cuaca di
tempat kejadian. Apabila hujan secara terus menerus tidak berhenti dan bertambah lebat, maka warga
sekitar sebaiknya segera pergi ke tempat yang lebih aman yang telah diberitahukan oleh LSM.

Masyarakat yang terkena bencana banjir dihimbau agar tetap menjaga kesehatan mereka agar tidak
menambah korban akibat bencana banjir. Karena ketika bencana banjir datang, nantinya akan dilakukan
evakuasi yang sangat membutuhkan banyak tenaga warga.

Apabila air yang datang lagi, secepat mungkin untuk menjauhinya dan segera mungkin untuk
menyelamatkan diri dengan menuju ke tempat yang aman ataupun ke tempat yang lebih tinggi. ( baca :
Banjir Lahar )

Apabila terjebak dalam rumah atau bangunan ketika bencana banjir terjadi, sebisa mungkin mengambil
benda untuk mengapung agar tidak tenggelam.

Berhati-hatilah dengan listrik kabel yang masih dialiri listrik.

Menyelamatkan dokumen dokumen penting.

Ikut serta aktif dalam tenda pengungsian dengan membantu keperluan yang memang membutuhkan
banyak tenaga seperti membantu mendirikan tenda, membantu dapur umum, membantu mencari air
bersih dan hal yang lainnya. ( baca : Manfaat Air Hujan )

Diusahakan untuk bijak dalam menggunakan air bersih.


Membantu mereka yang membutuhkan tempat tinggal dan kesehatan bagi mereka yang memang
terluka akibat bencana banjir tersebut.

Tindakan Setelah Banjir Terjadi

Memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan, seperti bantuan tempat tinggal, makanan
dan pakaian.

Membersihkan tempat tinggal dan lingkungan yang terkena banjir, seperti membersihkan lumpur yang
tergenang di dalam rumah ataupun di lingkungan dekat rumah.

Melakukan kaporitasi sumur gali. ( baca : Manfaat Penampungan Air )

Memperbaiki jamban dan saluran pembuangan air limbah. ( baca : Bahaya Limbah Bauksit Bagi
Lingkungan )

Memberikan bantuan kesehatan lingkungan dengan memberikan obat serta pelayanan kesehatan
secara gratis.

Menjaga sistem pembuangan air dan limbah agar tetap bersih dan tidak kotor ataupun tersumbat. (
baca : Cara Pemanfaatan Sampah )

Menjauhi kabel atau listrik agar tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan.

Menghindari wilayah yang sudah rusak seperti bangunan yang sudah tidak layak pakai.

Tidak mempergunakan air bersih secara semena-mena.

Memeriksa ketersediaan air bersih. ( baca : Ciri-ciri Pencemaran Air – Dampak Polusi Air )

Itulah pembahasan mengenai mitigasi bencana banjir yang harus diperhatikan dan juga diterapkan oleh
masyarakat maupun lembaga pemerintah yang terlibat dalam penanggulangan bencana alam.

FBTwitterWALinePinterestG+LinkedIn

banjir, bencana alam, bumi, makhluk hidup, manusia, mitigasi banjir

sumber : https://ilmugeografi.com/bencana-alam/mitigasi-bencana-banjir
Bali Dilanda Banjir, dari Denpasar, Kuta hingga Nusa Dua Tergenang KONTRIBUTOR BALI,
ROBINSON GAMAR Kompas.com - 23/01/2018, 16:33 WIB Sebagian wilayah di Bali terendam
banjir akibat curah hujan yang tinggi.(KOMPAS.com/Robinson Gamar) DENPASAR, KOMPAS.com
- Hujan deras yang mengguyur beberapa hari belakangan menyebabkan sejumlah wilayah di Bali
dilanda banjir. Kondisi terburuk terjadi di wilayah Bali Selatan, meliputi Kota Denpasar dan Badung.
Berdasarkan pantauan, Selasa (23/1/2018), sejumlah titik terendam genangan air yang tinggi. Di
Kabupaten Badung, terjadi di sekitar Nusa Dua, Jimbaran, Kuta dan sebagian wilayah Kerobokan.
Sejumlah titik di Kota Denpasar juga terendam sehingga mengganggu aktivitas warga. Kepala
BMKG Denpasar Taufiq Gunawan mengatakan, tingginya curah hujan disebabkan terjadinya
tekanan udara rendah (low pressure) di sekitar wilayah selatan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dampaknya angin cenderung bertiup ke arah tersebut. "Dari citra satelit kami lihat ada low pressure
di selatannya NTB sehingga angin bertiup ke arah sana," kata Taufiq, Selasa. (Baca juga : Sejuknya
Wisata Mangrove di Denpasar Tak Kalah dengan Pantainya) Menurut dia, angin bertiup melewati
wilayah selatan Bali. Hal ini menyebabkan curah hujan di selatan Bali lebih tinggi dibandingkan
wilayah lain dan diperparah dengan musim penghujan. "Sekarang musim hujan, jadi memperburuk
kondisi," kata Taufiq. Faktor lain yang menyebabkan terjadinya banjir, lanjut dia, adalah mampetnya
drainase. Karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat waspada dengan segala kemungkinan yang
ditimbulkan cuaca buruk. "Imbauan kepada masyarakat untuk waspada pada bencana banjir dan
juga tanah longsor," kata Taufiq.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bali Dilanda Banjir, dari Denpasar, Kuta hingga
Nusa Dua Tergenang", https://regional.kompas.com/read/2018/01/23/16331921/bali-dilanda-banjir-
dari-denpasar-kuta-hingga-nusa-dua-tergenang.
Penulis : Kontributor Bali, Robinson Gamar

Sumber : https://regional.kompas.com/read/2018/01/23/16331921/bali-dilanda-banjir-dari-denpasar-
kuta-hingga-nusa-dua-tergenang
Banjir di Bali, Wisatawan
Dievakuasi Petugas
Oleh : Dewa Putu Sumerta | Selasa, 23 Januari 2018 | 11:32 WIB

Banjir Rendam Ratusan Rumah Warga di Gowa

(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Badung - Hujan yang mengguyur wilayah di Bali khususnya di


wilayah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar membuat sejumlah
kawasan dilanda banjir dan genangan air setinggi lutut orang dewasa.
Informasi yang dihimpun, hujan yang mengguyur deras sejak Senin (22/1)
sekitar pukul 23.00 wita malam hingga Selasa (23/1) siang menyampaikan banjir
belum surut.

Bahkan, Sejumlah titik seperti di Jalan Campuhan depan Jalan Dewi Sri, Jalan
Nakula, Legian, Jalan Sahari Laksmi, Legian, Jalan Kunti (depan Kantor BPBD
Badung) dikepung banjir. Tampak para petugas baik dari BPBD Badung,
Basarnas Bali, serta aparat desa bergerak cepat mengevakuasi warga.

Pihak kepolisian lalu lintas jajaran Polda Bali juga ikut terlibat membantu
memperlancar saluran air yang tersumbat. Bahkan, Direktur Lalu Lintas Polda
Bali Kombes Pol Made Sudana juga tak segan basah-basahan membantu dan
mengawasi anggotanya memperbaiki saluran air agar banjir segera surut.

Akibat banjir, tampak para wisatawan asing pun akhirnya dievakuasi oleh
petugas dengan menggunakan kendaraan seadanya.

"Kita gerak cepat lakukan evakuasi ini sejumlah wisatawan kita amankan dari
vila mereka di Jalan Kunti II. Pick Up Hansip kita gunakan proses evakuasi para
warga asing ini kita bawa ke Kelurahan Seminyak sementara," kata salah satu
petugas BPBD Badung terkonfirmasi.

Tak hanya di Kabupaten Badung. Banjir juga melanda kota Denpasar. Terpantau
di Jalan Pura Demak, Malboro Barat, Denpasar, dilaporkan ketinggian air cukup
tinggi.

Selain di Pura Demak, banjir juga melanda Jalan Tukad Bilok, Sanur, Denpasar
Selatan dan dikabarkan hingga kini masih tinggi dan belum surut. Bahkan
basement DPRD kota Denpasar juga menurut informasi terendam air.

Hingga berita ini diturunkan menurut Humas Basarnas Denpasar Ayu Laksmi
seizin Kepala Basarnas Gede Ketut Ardhana saat ini timnya sedang melakukan
proses evakuasi di Jalan Nakula.

"Tim kita sedang evakuasi di Nakula," jelasnya singkat dikonfirmasi seraya


mengaku pihaknya akan melaporkan perkembangannya kembali. [rok]

Sumber : https://nasional.inilah.com/read/detail/2432293/banjir-di-bali-
wisatawan-dievakuasi-petugas
Ketinggian Banjir Bali Capai 1,4 Meter, Tim SAR Evakuasi Warga

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ketinggian Banjir Bali Capai 1,4 Meter, Tim
SAR Evakuasi Warga", https://regional.kompas.com/read/2018/01/23/17321941/ketinggian-banjir-
bali-capai-14-meter-tim-sar-evakuasi-warga.
Penulis : Kontributor Bali, Robinson Gamar

Ketinggian Banjir Bali Capai 1,4 Meter, Tim SAR Evakuasi Warga KONTRIBUTOR BALI,
ROBINSON GAMAR Kompas.com - 23/01/2018, 17:32 WIB Sebagian wilayah di Bali terendam
banjir akibat curah hujan yang tinggi.(KOMPAS.com/Robinson Gamar) DENPASAR, KOMPAS.com
- Hujan deras yang mengguyur sebagian besar wilayah Bali beberapa hari terakhir ini,
mengakibatkan banjir di beberapa titik, Selasa (23/1/2018). Banjir menyebabkan sejumlah warga
terjebak di rumah dan membutuhkan bantuan petugas SAR untuk evakuasi. Bahkan permintaan
evakuasi sudah diterima SAR Denpasar sejak Senin (22/1/2018) malam. Permintaan evakuasi
pertama datang dari warga di Jalan Kerobokan, Perumahan Tegal Indah Permai, Jalan Tangkuban
Perahu, Padang Kartika gang Maruti, Perum Graha, Padang Indah, dan Jenggala Banjar Segara
Kuta. Mendapat permintaan warga, tim rescue langsung turun ke lapangan untuk melakukan
evakuasi, dilengkapi dua perahu karet. (Baca juga : Bali Dilanda Banjir, dari Denpasar, Kuta hingga
Nusa Dua Tergenang ) "Laporan permintaan evakuasi terus berlanjut hingga Selasa pagi. Di
beberapa lokasi memang ketinggian air mencapai 1,4 meter terutama di titik yang dekat dengan
daeras aliran sungai," kata Kepala SAR Denpasar, Ketut Gede Ardana. Hingga Selasa sore,
petugas mengevakuasi 94 orang. Namun evakuasi dihentikan, karena air berangsur surut dan
kondisi lalu lintas di sekitar mulai terlihat normal. "Setelah terpantau, kondisi mulai kondusif. Tim
SAR gabungan menghentikan evakuasi," tutupnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ketinggian Banjir Bali Capai 1,4 Meter, Tim
SAR Evakuasi Warga", https://regional.kompas.com/read/2018/01/23/17321941/ketinggian-banjir-
bali-capai-14-meter-tim-sar-evakuasi-warga.
Penulis : Kontributor Bali, Robinson Gamar

https://regional.kompas.com/read/2018/01/23/17321941/ketinggian-banjir-bali-capai-14-meter-tim-
sar-evakuasi-warga
Buleleng Diguyur Hujan, Singaraja Banjir,
Dua Tewas Disambar Petir
KAMIS, 22 MAR 2018 22:59 | EDITOR : I PUTU SUYATRA

BANJIR: Salah satu ruas jalan di Singaraja yang terendam banjir. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)
Berita Terkait
 Istri dan Dua Anaknya Meninggal, Hidup dari Bikin Miniatur Rumah
 Anak Gadis Hilang, Ditanyakan ke Balian, Disuruh Nunggu Lima Hari

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Hujan deras disertai petir menyambar terjadi di


beberapa wilayah di Kabupaten Buleleng, Kamis (22/3) sore. Hujan yang terjadi
sejak pukul 16.00 Wita selain mengakibatkan banjir di sejumlah titik di Kota
Singaraja, dua orang dilaporkan tewas akibat tersambar petir.
Dua orang tersebut adalah Jero Mangku Putu Laba, warga Desa Banjar Asem,
Kecamatan Seririt. Mangku Putu Laba tewas disambar petir saat sedang bekerja
menghalau burung di sawah.

Korban Jero Mangku Laba awalnya dilarikan ke Rumah Sakit Santi Graha Seririt
untuk segera mendapatkan perawatan medis, lantaran menderita luka bakar.
Namun sayang, nyawa korban yang juga sebagai jro mangku Pura Segara Yeh
Anakan ini, justru tak tertolong akibat luka parah yang dideritanya.

Korban kedua adalah Made Wista, 51, Warga Banjar Dinas Celuk Buluh Desa
Kalibukbuk. Korban sempat dilarikan ke RS Kertha Usadha, namun tak tertolong
akibat luka bakar yang dideritanya. Kini korban Made Wista sudah berada di
rumah duka untuk disemayamkan.

Dikonfirmasi terkait tewasnya sang Jro Mangku, Kasubag Humas Polres Buleleng
membenarkan kejadian tersebut. Kata dia, jenazah korban pertama kali ditemukan
oleh anaknya sendiri bernama Gede Mas Pariawan. Kala itu, Gede Mas merasa
khawatir lantaran sang ayah tak kunjung pulang saat hujan deras mengguyur
wilayah Dusun Yeh Anakan pada Kamis (22/3) sore.

"Korban pergi ke sawah untuk menghusir burung. Saat hujan deras mengguyur,
korban tak kunjung pulang. Sehingga anaknya khawtir dan mencoba mencari
korban ke sawah. Saat tiba di sawah, anaknya sudah melihat korban dalam sudah
terkapar, dengan kondisi kulit korban yanh terkelupas seperti habis terbakar,"
jelasnya sembari mengatakan jika jenazah korban saat ini telah disemayamkan di
rumah duka
Tak hanya menewaskan dua orang, hujan deras juga mengakibatkan sejumlah
ruas jalan di Kota Pendidikan terendam air. Bahkan tingginya bervariasi, mulai dari
mata kaki hingga lutut orang dewasa. Tak sedikit pula kendaraan roda dua dan
roda empat terlihat mogok akibat menerobos banjir.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng


menyebutkan, wilayah yang terendam banjir antara lain Jalan Srikandi
Sambangan, Jalan Laksamana Baktiseraga, Kampung Baru atau lebih tepatnya di
Banjar Widyasari, di Jalan A. Yani, di Jalan Patimura, di Jalan Pulau Obi, di Jalan
Srikandi, di Jalan Surapati, di Jalan Raya Sangsit, di wilayah Desa Panji, di
Kelurahan Banyuning, di Kelurahan Kaliuntu, hingga Kelurahan Kampung Anyar.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, Made Subur menyebutkan,


beberapa pohon juga dilaporkan tumbang pasca hujan deras. “Tim sudah terjun
memantau banjir, kita sedang melakukan penanganan banjir, utamanya di jalan
raya. Got banyak yang tersumbat sampah, sehingga air naik ke jalan” papar Made
Subur saat dikonfirmasi melalui saluran telepon Kamis (22/3) malam.

(bx/dik/yes/JPR)
https://www.jawapos.com/baliexpress/read/2018/03/22/59252/buleleng-diguyur-hujan-singaraja-
banjir-dua-tewas-disambar-petir
Makalah Mitigasi Bencana Banjir

Devara E Fausta

AUTHORS

Devara E Fausta + 1

VIEWS

10,437

INFO

more

DOWNLOAD

Mitigasi Kawasan Rawan Banjir Rob di Kawasan


Pantai Utara Surabaya
Medhiansyah Putra Prawira, Adjie Pamungkas
Submission Date: 2014-08-12 18:15:29
Accepted Date: 2014-09-14 11:49:49

http://ejurnal.its.ac.id/index.php/teknik/article/view/7252