Anda di halaman 1dari 9

TEORI AKUNTANSI

Magister Akuntansi
Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pengampu Dr. Noer Sasongko, M.Si, Akt
Rollis Ayu Ditasari (W100170028) dan Ahmad Nur Aziz (W100170027)

BAB 6
THE MEASUREMENT PERSPECTIVE ON DECISION USEFULNESS
(Alasan atas Adanya Perhatian Tambahan Terhadap Pengukuran )

A. Konsep Perspektif Pengukuran


Perspektif pengukuran (measurement perspective) terhadap pelaporan
keuangan adalah suatu pendekatan yang menuntut akuntan untuk melaksanakan
tanggungjawab memasukkan nilai wajar terhadap laporan keuangan pokok, dengan
reliabilitas yang masih rasional, yang berarti meningkatnya tanggungjawab akuntan
untuk membantu investor dalam memprediksi kinerja masa depan perusahaan.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan relevansi laporan keuangan, tetapi
jangan meninggalkan reliabilitasnya dalam rangka membantu investor mengambil
keputusan.
Measurement perspective dapat meningkatkan earnings quality dengan
semakin relevannya informasi akuntansi. Apabila informasi akuntansi semakin
relevan, maka reaksi investor terhadap informasi tersebut akan semakin besar.
Namun demikian, measurement perspective juga dibatasi oleh reliabilitas.
Metode fair value yang dapat dimasukkan dalam laporan keuangan pokok adalah
metode yang tidak mengakibatkan menurunnya reliabilitas laporan keuangan tersebut.
Measurement perspective berusaha untuk meningkatkan relevansi informasi
akuntansi. Akuntan mengambil tanggungjawab untuk membantu investor dengan cara
menggunakan pengukuran fair value terhadap laporan keuangan pokok. Akan tetapi,
sesuai dengan SFAC 2 menyatakan bahwa ada dua kualitas informasi pokok, yaitu
relevansi dan reliabilitas, yang harus dijaga keseimbangannya.
Apabila hanya memperhatikan relevansi, maka reliabilitas akan berkurang dan
menyebabkan laporan keuangan tidak bisa diaudit. Akuntan publik yang merupakan
ujung tombak profesi akuntansi tidak lagi bisa berjalan karena laporan keuangan tidak
bisa diaudit. Karena itu, batasan measurement perspective adalah berusaha untuk

1
menggunakan pengukuran yang berorientasi pada fair value terhadap laporan
keuangan pokok asalkan kualitas reliabilitas laporan keuangan pokok tersebut tidak
berkurang.
Measurement perspective bukan untuk mengganti historical cost. Apabila
suatu measurement tidak reliabel, maka tetap menggunakan historical cost.
Namun demikian, tidak mudah menggunakan fair value tanpa mengurangi
reliabilitas. Batasannya adalah, kita menggunakan fair value untuk meningkatkan
relevansi selama reliabilitas tidak terganggu.
Mengapa Unsur reliabilitas menjadi dasar untuk pelaksanaan audit oleh
akuntan publik. Akuntan publik adalah gambaran pokok akuntansi dan menjadi ujung
tombak akuntansi. Akuntan publik jangan ditempatkan pada posisi yang berisiko
karena dituntut.
B. Alasan Perspektif Pengukuran
Mengapa measurement perspective mengusulkan untuk memasukkan
informasi yang bernilai lebih relevan (more value-relevant information) dalam
laporan keuangan pokok, padahal teori pasar modal efisien berimplikasi bahwa
catatan kaki dan pengungkapan lain sudah cukup.
Berdasarkan information perspective, historical cost digunakan sebagai basis
akuntansi dan mengandalkan pengungkapan penuh untuk meningkatkan manfaat
informasi akuntansi bagi investor. Bentuk pengungkapan tidak penting, yang penting
adalah bahwa diasumsikan banyak rational investor dan informed investor yang
bereaksi cepat terhadap informasi akuntansi. Riset empiris tentang efisiensi pasar
modal telah mengkonfirmasi bahwa setidaknya informasi laba bermanfaat bagi pasar.

Akan tetapi, ada berbagai pertanyaan berkaitan dengan information


pespective, seperti :
a. laba hanya direaksi oleh pasar sebesar 2% – 5%
b. pasar modal mungkin tidak seefisien yang diduga, dan
c. tuntutan tanggungjawab hukum oleh masyarakat terhadap akuntan meningkat.
Ketiga alasan tersebut mendasari adanya kemungkinan bahwa measurement
perspective dapat meningkatkan relevansi informasi akuntansi tanpa mengabaikan
reliabilitas informasi akuntansi tersebut.
Dari sisi riset empiris, informasi laba hanya mampu menjelaskan sangat kecil
tentang harga sekuritas. Lev (1989) menemukan bahwa respon pasar terhadap berita

2
baik atau berita buruk tentang earnings sangat kecil. Variabilitas keuntungan
abnormal dalam narrow window hanya 2% sampai 5% yang dijelaskan oleh informasi
earnings, sisanya diakibatkan oleh faktor lain selain perubahan earnings.
Menurut Lev, rendahnya respon pasar terhadap earnings disebabkan oleh
earnings quality yang rendah. Collins, Kothari, Shanken, dan Sloan (1994)
menyatakan bahwa rendahnya reaksi pasar terhadap informasi laba disebabkan oleh
keterlambatan historical cost; yaitu historical cost menunggu terlalu lama untuk
mengakui suatu kejadian yang relevan. Hal ini menuntut perlunya perbaikan earnings
quality dengan pengenalan perspektif pengukuran terhadap laporan keuangan.
Dari sisi teori pasar modal efisien, pasar modal mungkin tidak efisien seperti
dalam teori efisiensi pasar modal. Investor memerlukan bantuan bagaimana implikasi
informasi akuntansi terhadap prediksi keuntungan masa depan.
Hal ini diperkuat oleh Ohlson’s clean surplus theory yang menekankan bahwa
peran utama laporan keuangan adalah dalam penentuan nilai perusahaan, bukan
perspektif informasi di mana laporan keuangan sebagai salah satu sumber informasi.
Teori ini menuntut ke arah perspektif pengukuran.
Dari sisi praktis, dengan meningkatnya tuntutan terhadap tanggungjawab
hukum, auditor dituntut untuk menggunakan nilai wajar dalam laporan keuangan.
Tuntutan ini muncul karena kenyataan gagalnya perusahaan-perusahaan besar,
khususnya lembaga keuangan.
Sebagai contoh, Resolution Trust serta Federal Deposit Insurance menuntut
Deloitte and Touche karena memberikan clean opion terhadap perusahaan pinjaman
dan tabungan yang insolvent. Kasus terbaru adalah kasus Enron dan World.com.
Salah satu cara bagi akuntan untuk memproteksi diri dari tuntutan hukum adalah
dengan mengadopsi perspektif pengukuran, menggunakan nilai wajar, dalam laporan
keuangan.

C. Ohlson”S Clean Surplus Theory


Ohlson’s clean surplus theory menunjukkan bahwa nilai pasar dari perusahaan
dapat diekspresikan dalam variabel laporan laba-rugi dan neraca. Teori ini
menunjukkan bahwa nilai perusahaan yang bergantung pada variabel akuntansi yang
fundamental konsisten dengan perspektif pengukuran. Model Feltham dan Ohlson

3
(1995) dapat digunakan untuk mengestimasi nilai dari saham perusahaan. Kemudian
dibandingkan dengan nilai pasar aktual, untuk mengindikasikan kemungkinan
terjadinya penilaian yang terlalu tinggi atau rendah dari pasar. Clean surplus theory
menekankan pada kegunaan dari informasi laporan keuangan saat ini untuk
memprediksi earnings di masa depan

D. Teori Prospek
Expected utility theory (EUT) sudah mendominasi analisis pengambilan
keputusan dalam kondisi ketidakpastian (berrisiko). Bahkan teori ini sudah diterima
sebagai pedoman normatif dalam pemilihan yang rasional.
Kahneman dan Tversky (1979) menyajikan bukti empiris terjadinya
pelanggaran aksioma EUT. Berdasarkan aksioma EUT, dalam kondisi ketidakpastian,
orang akan memilih pilihan yang menghasilkan expected utility terbesar. Mereka
menamainya teori prospek (prospect theory).
Teori prospek adalah teori yang menjelaskan bagaimana seseorang mengambil
keputusan dalam kondisi tidak pasti. Substansi teori prospek adalah proses pembuatan
keputusan individual yang berlawanan dengan pembentukan harga yang biasa terjadi
di ilmu ekonomi.
Aksioma-aksioma dalam teori prospek (PT) meliputi:
1. Reference point.
2. Utility function.
3. Loss aversion.
4. Teori Prospek
5. Reference point:

 PT. Orang menentukan laba atau rugi berdasarkan reference point, bukan nilai
absolut laba atau rugi tersebut. Utilitas adalah fungsi dari laba atau rugi relatif
terhadap benchmark (reference point).
 EUT. Orang menentukan laba atau rugi berdasarkan nilai absolut kekayaan.
Utilitas adalah fungsi dari nilai kekayaan absolut (tidak ada reference point).

 Teori Prospek
1. Utility function:

4
 PT. Dalam domain laba, orang risk averse; dalam domain rugi, orang risk
seeking. Fungsi utilitas adalah cekung pada domain laba dan cembung pada
domain rugi.
 EUT. Orang diasumsikan selalu bersikap risk averse. Fungsi utilitas adalah
cembung baik pada domain laba maupun pada domain rugi.

2. Loss aversion
 PT. Loss aversion adalah tendensi orang lebih mengutamakan menghindari rugi
daripada memperoleh laba. Rugi memiliki kekuatan (power) psikologis sebanyak
dua kali lipat daripada laba. Overweight terhadap rugi dan underweight terhadap
laba. Berubah 1% dari 2% ke 3% lebih bernilai besar daripada berubah 1% dari
30% ke 31% (diminishing sensitivity).
 EUT. Laba atau rugi tidak dapat didefinisikan karena teori ini tidak memiliki
reference point untuk mengukur laba atau rugi tersebut.

E. Beta
Beta adalah pengukur volatilitas return suatu sekuritas terhadap return pasar.
Beta menggambarkan besarnya perubahan harga suatu saham tertentu dibandingkan
dengan perubahan harga pasar.
Beta pasar diestimasi dengan menggunakan return historis sekuritas dan pasar,
misalnya 200 hari untuk return harian. Beta pasar dapat diestimasi dengan CAPM.
Beta merupakan konsep yang penting dalam akuntansi keuangan karena beta
merupakan pengukur risiko sistematis suatu sekuritas terhadap risiko pasar
Risiko sistematis adalah risiko yang tidak dapat didiversifikasi melalui
portofolio. Risiko ini menggambarkan faktor ekonomi secara keseluruhan yang
mempengaruhi semua sekuritas yang ada. Apabila fluktuasi return suatu sekuritas
mengikuti fluktuasi return pasar, maka beta sekuritas tersebut bernilai 1. Beta bernilai
1 berarti bahwa risiko sistematis suatu saham sama dengan risiko pasar.
Fama dan French, meneliti pasar modal USA untuk periode 1963-1990,
menemukan bahwa beta memiliki sedikit kemampuan untuk menjelaskan keuntungan
sekuritas. Mereka menemukan bahwa book-to-market ratio dan ukuran perusahaan
(firm size) lebih signifikan menjelaskan keuntungan sekuritas.

5
Daripada melihat beta, lebih baik melihat book-to-market ratio dan ukuran
perusahaan sebagai ukuran risiko. Risiko akan meningkat dengan meningkatkanya
book-to-marke ratio dan menurun dengan semakin besarnya ukuran perusahaan.Hasil
penelitian Fama dan French ini menjadikan beta “mati.”
Schiller (1981) yang menyatakan bahwa variabilitas harga sekuritas sama
dengan variabilitas dividen.Determinan yang menentukan nilai perusahaan adalah
dividen masa depan. Selain itu, asumsi bahwa beta konstan (stationary) juga kurang
tepat. Apabila beta konstan, satu-satunya yang tidak pasti adalah RMt yang bersifat
random.
Beta pasar modal berkembang perlu disesuaikan karena adanya perdagangan
tidak sinkron. Perdagangan tidak sinkron terjadi karena transaksi di pasar jarang
terjadi. Beberapa sekuritas tidak mengalami perdagangan beberapa lama.Jika beta
tidak bias, maka beta pasar (atau rata-rata tertimbang semua beta) adalah 1. Apabila
rata-rata tertimbang beta tidak 1, maka selisihnya menggambarkan bias dalam beta.
Koreksi terhadap beta yang bias dapat dilakukan dengan tidak metode, yaitu metode
yang diajukan oleh Scholes dan Williams (1977), Dimson (1979), dan Fowler dan
Rorke (1983).
Selain beta pasar, ada juga beta lain yang dikenal, yaitu: beta akuntansi dan
beta fundamental.
Beta akuntansi dihitung sama dengan beta pasar dengan mengganti data return
menjadi data laba (earnings).
Beta fundamentel dihitung dengan berbagai variabel fundamental seperti:
dividend payout, pertumbuhan aktiva, leverage, likuiditas, asset size, dan earnings
variability.
F. Anomali Pasar Modal Efisien
Apabila harga tidak bereaksi cepat terhadap informasi baru tetapi
membutuhkan waktu lebih lama, maka keuntungan abnormal dapat terjadi.
Efisiensi pasar modal dinyatakan sebagai pasar modal efisien dengan anomali.
Hal ini terjadi karena pasar tidak sepenuhnya efisien karena dengan informasi yang
diumumkan masih ada abnormal return.

6
G. Auditors Legal Liability
Kemungkinan sumber utama dari penekanan kegunaan perpektif pengukuran
berasal dari reaksi atas kegagalan spektakuler perusahaan-perusahaan besar, terutama
institusi keuangan. Dengan dasar historical cost, perusahaan yang ada saat ini,
dengan anggapan bahwa laporan laba rugi dan neraca memperlihatkan bahwa mereka
dapat bertahan lama, dapat bangkrut besok. Auditor sering kesulitan dalam
mempertahankan diri mereka dari tuntutan hukum yang biasanya mengikuti
kegagalan bisnis. Salah satu jalan akuntan dan auditor dapat melindungi dirinya dari
tekanan ini yaitu dengan mengadopsi perspektif pengukuran yang lebih mengenalkan
nilai wajar dalam akun-akun.
Akuntan menghadapi risiko tuntutan hukum yang lebih besar apabila aktiva
tetap dinyatakan terlalu tinggi dibandingkan apabila aktiva tetap dinyatakan terlalu
rendah. Hal ini sesuai dengan prinsip konservatisme. Pengungkapan terhadap risiko
(value at risk) juga berorientasi pada measurement perspective. Dalam hal ini,
perusahaan (bukan investor) menyiapkan penilaian tentang risiko karena perusahaan
lebih mengerti risiko yang mereka hadapi daripada investor. Pengungkapan risiko ini
memiliki potensi yang besar dalam decision usefulness.
Akuntan dapat memproteksi diri dengan penggunaan measurement perspective
dengan mengadopsi fair value seperti mark-to-market. Akuntan dapat secara eksplisit
menjawab tuntutan hukum masyarakat dengan mengatakan bahwa laporan keuangan
telah mengantisipasi perubahan nilai instrumen keuangan apakah akan mengarah ke
kelangsungan hidup atau ke kebangkrutan. Dalam hal ini estimasi dan judgment
banyak digunakan. Karena itu, akuntan dapat mengadopsi fair value hanya apabila
dengan pengukuran tersebut reliabilitas informasi keuangan tidak berkurang.
Apakah ancaman tuntutan hukum, apabila nilai neraca mengandung kesalahan,
mempengaruhi kredibilitas pelaporan keuangan? Ya. Apabila nilai neraca salah,
misalnya dinyatakan terlalu tinggi atau terlalu rendah, maka kredibilitas laporan
keuangan berkurang. Apakah dinyatakan terlalu tinggi atau terlalu rendah tergantung
pada metode pengukuran yang digunakan. Karena itu, untuk mengurangi tuntutan
hukum dan meningkatkan kredibilitas laporan keuangan, akuntan mengambil
sebagian tanggungjawab investor dengan menggunakan fair value terhadap laporan
keuangan pokok. Berkaitan dengan aktiva, ancaman terhadap tututan hukum lebih
besar terhadap akuntan apabila necara dinyatakan terlalu tinggi dibandingkan
dinyatakan terlalu rendah. Sebaliknya berlalu bagi pasiva.

7
H. Assymetry of investor losses
Contoh:
Bill Cautious, seorang investor rasional, memiliki investasi pada saham x Ltd.,
dengan nilai pasar saat ini sebesar $ 10.000. dia berencana untuk menggunakan rasa
takjub ini untuk hidup selama dua tahun ke depan. Setelah itu, dia akan lulus dan akan
memiliki pekerjaan dengan bayaran tinggi. Oleh karena itu, dia tidak peduli sekarang
tentang perencanaan lebih dari dua tahun. Tujuannya adalah memaksimalkan utilitas
totalnya selama periode ini. Untuk kesederhanaan, kami berasumsi bahwa X Ltd.
tidak membayar dividen selama dua tahun ini. RUU adalah penghindaran risiko,
dengan utilitas di setiap tahun sama dengan akar kuadrat dari jumlah yang ia habiskan
di tahun itu.
Hal ini mudah untuk melihat bahwa utilitas total Bill akan dimaksimalkan jika
ia menghabiskan jumlah yang sama setiap tahunnya. Dengan demikian, dia menjual $
5.000 dari sahamnya sekarang dan berencana untuk menjual sisa $ 5.000 pada awal
tahun kedua.
Namun, misalkan, pada awal tahun pertama, aset x Ltd tertentu telah jatuh nilainya.
kerugiannya belum direalisasi, dan auditor x Ltd. gagal mengetahuinya. Akibatnya,
kerugian tetap ada sebagai informasi dari dalam, dan nilai pasar dari saham Bill yang
tidak terjual tetap sebesar $ 5.000. Kerugian tersebut terwujud pada tahun ke 1, dan
sisa saham Bill bernilai $ 3.000 pada akhir tahun.

8
I. Kesimpulan pada pendekatan pengukuran terhadap kegunaan keputusan

Pendekatan informasi terhadap pelaporan keuangan adalah konten untuk


menerima basis biaya historis akuntansi dan mengandalkan pengungkapan penuh
untuk meningkatkan kualitas dan kegunaan laba kepada investor. Bentuk
pengungkapan tidak menjadi masalah, karena diasumsikan bahwa ada cukup banyak
investor yang rasional dan rasional untuk secara cepat dan benar menggabungkan
bentuk yang masuk akal ke harga pasar yang efisien, sehingga harga melindungi
investor yang mungkin tidak ingin melakukan analisis mendalam mereka sendiri.