Anda di halaman 1dari 18

DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN……………………………………………………...3

BAB II. PENGERTIAN………………………………………………………….6

BAB III. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB

DALAM MANAJEMEN RISIKO……………………………………7

BAB IV. PROSES MANAJEMEN RISIKO…………………………………..8

BAB V. SISTEM PELAPORAN………………………………………………15

BAB VI. PENDIDIKAN DAN PELATIHAN………………………………..16

BAB VII. INDIKATOR KEBERHASILAN…………………………………..17

BAB VIII. RENCANA KEGIATAN ………………………………………18

BAB IX. MONITORING DAN EVALUASI…………………………………19

BAB X. PENUTUP……………………………………………………………20

LAMPIRAN………………………………………………………………………..21

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan YME, atas segala rahmat yang telah
dikaruniakan kepada penyusun sehingga dapat menyelesaikan Buku
Panduan Manajemen Resiko Rumah Sakit Kartika Husada Kudus.

Buku Panduan Manajemen Resiko ini merupakan pedoman


bagi staf rumah sakit dalam melaksanakan tugasnya untuk
meningkatkan mutu dalam rangka menjamin keselamatan pasien.

Tidak lupa penyusun menyampaikan terima kasih yang


sedalam-dalamnya atas bantuan semua pihak dalam menyelesaikan
Buku Panduan Manajemen Resiko.

Kami sangat menyadari banyak terdapat kekurangan-


kekurangan dalam buku ini. Kekurangan ini secara
berkesinambungan akan terus diperbaiki sesuai dengan tuntunan
dalam pengembangan rumah sakit ini.

Kudus, 23 November 2015

Penyusun

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap bentuk pelayanan medik hampir selalu mengandung risiko.


Risiko yang mungkin terjadi dari tingkat ringan, sedang, berat atau
bahkan bisa menimbulkan kematian. Risiko yang terjadi juga bisa
merupakan risiko klinis maupun non klinis. Dengan manajemen
risiko dihatapka risiko tersebut dapat diperkecil atau dicegah. Risiko
yang dijumpai di rumah sakit dapat dkategorikan:

1. Patient care-related risks


Risiko yang terkait dengan pelayanan pasien
2. Medical staff –related risks
Risiko yang terkait dengan tenaga medis
3. Employee-related risks
Risiko yang terkait denga karyawan
4. Property-related risks
Risiko yang terkait dengan properti
5. Financial-related risks
Risiko terkait dengan keuangan
6. Other- risks
Risiko lain, termasuk Limbah B3, Peraturan regulasi, Risiko
Reputasi

Risiko didefinisikan sebagai kemungkinan sesuatu hal terjadi


atau potensi dari suatu kejadian yang bisa mempengaruhi hasil akhir
dari suatu proses. Dalam setiap proses pelayanan hampir selalu
dijumpai adanya risiko, untuk itu perlu dibangun suatu pendekatan
proaktif untuk bisa mengidentifikasi risiko yang ada dan upaya
untuk meminialkannya. Pendekatan inilah yang disebut dengan
manajemen risiko.

Langkah-langkah untuk meminimalkan risiko

1. Meningkatkan peran Rumah sakit dalam mencegah kesalahan


dengan mengembangkan prosedur kerja yang menjamin mutu

3
pelayanan dan keamanan untuk pasien, karyawan dan
pengunjung. Prosedur ini bisa berbentu SPO, Panduan dll.
2. Meningkatkan peran staf rumah sakit dalam mengenali dan
mengidentifikasi risiko yang ada di unit kerjanya supaya tidak
terjadi kesalahan,
3. Meningkatkan komunikasi dan kerjasama yang baik sebagai
suatu tim antara unit kerja dan pihak manajemen sehingga
didapatkan hasill yang maksimal.
Tahapan manajemen risiko
1. Risks awareness
Seluruh staf rumah sakit harus menyadari risiko yang ada di
unit kerjanya, baik risiko klinis maupun non klinis. Cara yang
dapat igunakan dengan pengamatan dan melaporkan adanya
Kejadian Potensi Cedera dan audit klinis.
2. Risk control/Risk prevention
Adalah upaya yang diambil untuk mengendalikan risiko
dengan cara:
 Mencari jalan menghilangkan risiko (engineering
solution)
 Mengurangi risiko (control solution) dari probabilitas
maupun dampaknya.
3. Risk containment
Dalam hal terjadi suatu Insiden akibat dari tindakan, kelalaian
atau kecelakaan yang tidak bisa diprediksi sebelumnya,
langkah terpenting adalah mengurangi besarnnya risiko
dengan pengeloaan yang tepat terhadap pasien(korban) dan
insidennya, dengan memberikan respon yang cepat dan
komunikasi yang efektif.

4. Risk Transfer
Alih risiko ke pihak lain bisa dilakukan jika risiko yang ada
bisa menimbulkan kerugian yang sangat besar. Misalnya
asuransi kebakaran, asuransi tenaga medis dll.

Peran sumber daya manusia dalam manajemen risiko

1. Pembuatan standar/prosedur kerja


2. Patuhi standar/prosedur kerja
3. Kenali bahaya
4. Cari solusinya.

4
B. Tujuan
Secara umum tujuan manajemen risiko adalah
mengidentifikasi dan meminimalkan risiko yang ada dalam proses
pelayanan sehingga didapatkan hasil pelayanan yang menjunjung
tinggi mutu pelayanan dan keselamatan pasien.

Tujuan manajemen risiko di Rumah Sakit Kartika Husada Kudus

1. Terciptanya budaya keselamatan pasien


2. Meningkatnya akuntabilitas
3. Mengidentifikasi risiko yang ada
4. Meminimalkan risiko dengan program pencegahan
5. Menurunkan angka Insiden Keselamatan Pasien
6. Memberi rasa aman dan melindungi pasien, karyawan,
pengunjung dan institusi Rumah Sakit Kartika Husada
Kudus.

BAB II

PENGERTIAN

Beberapa istilah atau kata kunci yang sering digunakan dalam manajemen
risiko yaitu:

1. Risiko adalah potensin terjadinya kerugian yang dapat timbul dari


pross kegiatan saat sekarang atau kejaadian di masa datang.
2. Risiko Klinis adalah semua isu yang dapat berdampak terhadap
pencapaian pelayanan pasien yang bermutu tinggi, aman dan efektif

5
3. Risiko Non Klinis adalah semua isu yang dapat berdampak terhadap
tercapainya tugas pokok dan kewajiban hukum dari rumah sakit
sebagai korporasi.
4. Manajemen risiko adalah pendekatan proakif untuk mngidentifikasi,
menilai dan menyusun prioritas risiko, denga tujua untuk
menghilangkan atau meminimalkan dampaknya.
5. Dampak adalah akibat yang ditimbulkan karena terjadinya risiko dalam
suatu proses pelayanan kesehatan.
6. Assesment risiko adalah proses untuk membantu organisasi menilai
tentang luasnya risiko yang dihadapi, kemampuan mengendalikan
frekuensi dan dampak risiko.
7. Risk register adalah program tahunan yang disusun oleh rumah sakit
berisikan identifikasi risiko, informasi insiden IKP dan investigasi
external internal serta potensial risiko maupun risiko aktual
menggunakan RCA dan FMEA.

BAB III
PERAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM MANAJEMEN RISIKO

1. Seluruh anggota staf memliki tanggung jawab pribadi dalam hal


pelaksanaan manajemen resko, dan seluruh tingkatan manajemen
harus mengerti dan mengimplementasikan strategi dan kebijakan
manajemen risiko.
2. Kepala Rumah Sakit Kartika Husada Kudus
a. Bertangggungjawab dalam hal implementasi dan
pengembangan manajemen risiko klinis dan nonklinis.
b. Menunjuk Panitia Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
sebagai pelaksana Manajemen risiko.
c. Mengevaluasi dan memberikan masukan dalam hal
pelaksanaan manajemen risiko.
3. Komite Mutu dan Keselamatan Pasien
a. Mengkoordinir pelaksanaaan integrated risk manajemen
b. Menghimpun laporan insiden

6
c. Melakukan analisa
d. Menyusun rekomendasi
e. Menyusun risk register.
4. Ketua K3 RS.

Melakukan identifikasi risiko K3 RS

5. Bagian Diklat dan kepegawaian


a. Melakukan identifikasi risiko terkait Sumber daya manusia
b. Orientasi manajemen risiko untuk pegawai baru
c. Merencanakan pelatihan manajemen risiko

6. Seluruh unit kerja


a. Dapat mengidentifikasi risiko dalam lingkup kerjanya.
b. Meningkatkan kewapadaan risiko di lingkungan kerjanya.
c. Melaporkan apabila mengidentifikasi risiko baru.

BAB IV

PROSES MANAJEMEN RISIKO

Manajemen risiko menurut The Joint Comission On creditation Of


Healthcare Organizations adalah aktifitas klinik dan administratif yang
dilakukan oleh rumah sakit untuk melakukan identifikasi, evaluasi dan
pengurangan risiko terjadinya cedera atau kerugian pada pasien, pengunjung
dan institusi rumah sakit.

Proses manajemen risiko digambarkan pada bagan di bawah ini:

MEMBANGUN KONTEKS :
- Faktor yang mendukung dan yang menghambat
- Tentukan tujuan dan sasaran
- Struktur organisasi manajemen risiko

IDENTIFIKASI RISIKO :
- Apa yang bisa terjadi
- Bagaimana kejadiannya
- Mengapa hal itu bisa terjadi
- Kapan hal itu bisa terjadi
- Di mana hal itu bisa terjadi
- Siapa yang bisa tertimpa kejadian tersebut

KOMUNIKASI MONITOR
ANALISA RISIKO :
DAN - Dampak dan probabilitas AUDIT
KONSULTASI - Siapa yang terlibat REVIEW
- Tingkat risiko
- Kendali yang sudah ada dan yang diperlukan

EVALUASI RISIKO :
- Bandingkan tingkat risiko dengan kriteriaR 7
MEMBANGUN KONTEKS :
RISIKO- Analisa untung rugi I
- Faktor yang mendukung
- Risiko diterimadan yang
atau menghambat
tidak S
- Tentukan tujuan dan sasaran
Tdk I
- Struktur organisasi manajemen risiko
diterima K
D
it
e
ri
m
a

Pelaksanaan manajemen risiko


1. Asesmen risiko merupakan proses untuk membantu organisasi
menilai tentang luasnya risiko yang dihadapi, kemampuan
mengontrol frekuensi dan sampak dari risiko. Asesmen harus
dilakuan oleh seluruh staf dan semua pihak yang terlibat, termasuk
pasien dan masyarakat bila memungkinkan.
a. Area asesment
Area asesmen risiko mencakup :
 Unit Bedah,
 Farmasi,
 Radiologi
 Laboratorium
 Keperawatan
 IGD
 Gizi
 Rehab Medik
 ICU
 Hemodialisa
 Endoscopy
b. Identifikasi risiko
Proses sistematis dan terstruktur untuk menemukan dan
menegenali risiko, kemudian dibuat daftar risiko. Daftar risko
dilengkapi dengan deskripsi risiko termasuk menjelaskan
kejadian danperistiwa yang mungkin terjadi dan dampak yang
ditimbulkan.
Identifikasi dilakukan pada sumber risiko,area risiko,
peristiwa dan penyebabnya dan potensi akibat. Metode
identifikasi risiko dilakukan dengan proaktif melalui self ass
esment, incident reporting sistem dan clinical audit,
pengamatan KPC (Kejadia Potensi Cedera) dan dilakukan
menyeluruh terhdap medis dan non medis. Rumah sakit
meyusun Risk register (Daftar risiko) yaitu sebuah daftar risko
yang teridentifikasi dalam 1 tahun. Seluruh unit kerja
mengidentiikasi risiko yang mungkin terjadi di unit kerja dan
dikompilasikan oleh Komite Mutu dan Keselamatan Pasien.
c. Analisa Risiko
Analisa risiko dilakukan dengan menggunakan Risk
Matrik untuk menentukan prioritas risiko. Prioritas risiko

8
membantu prosses pengambilan keputusan. Pengeloaan risiko
diawali dengan menilai konsekuensi yang dapat diakibatkan
oleh sebuah insiden dan kemugkinan terjadinya risiko setelah
diidentifikasi. Risiko dievaluasi dan diberi skor untuk
menentukan prioritas risiko. Setelah di dapatkan skor kemudian
ditetapkan zona risiko tersebut pada tabel grading matrik, dan
ditentukan metode pengurangan risiko tersebut.

Rumus yang digunakan:

Tingkat risiko = Peluang x Dampak

Kriteria peluang

Nilai Kriteria Deskripsi


5 Sangat Besar Hampir pasti akan terjadi (81 -100%)
4 Besar Sangat mungkin (51- 80%)
3 Substansial Mungkin terjadi//bisa terjadi (21- 50%)
2 Menengah Jarang tapi bukan tidak mungkin terjadi
(6-20%)
1 Kecil Hampir tidak mungkin terjadi (0-5%)

Aspek Insificant Minor Moderate Major Catastropic


(Nilai) (1) (2) (3) (4) (5)
Cedera Tidak ada Dapat diatasi Berkurangya Cedera luas Kematian
Kehilangan
pasien cedera dengan P3K fungsi
fungsi utama
motorik/sensorik
Setiap kasus permanen
yang
memperpanjang
perawatan
Opeasional Terhenti > Terhenti > 8 Terhenti > 1 hari Terhenti > 1 Terhenti
1 jam jam minggu permanen

9
Keuangan Kerugian Kerugian Kerugian > Kerugian Kerugian
kecil >0,1 % 0,25% anggaran >0,5% >1%
anggaran anggaran anggaran
Publikasi Rumor Media lokal Media lokal Media Media
Waktu Waktu lama
Nasional Nasional
singkat < 3 hari
> 3 hari
Reputasi Rumor Dampak kecil Dampak Dampak Menjadi
terhadap bermakna serius masalah
moril terhadap moril terhadap berat bagi
karyawan da karyawan moril Institus RS.
dan dan karyawan
kepercayaan kepercayaan dan
masyarakat masyarakat kepercayaan
masyarakat

MATRIKS GRADING RISIKO

Untuk menentukan skor risiko digunakan matriks grading risiko :


a. Tetapkan frekuensi pada kolom kiri
b. Tetapkan dampak pada baris ke arah kanan
c. Tetapkan warna bands-nya berdasarkan pertemuan antara
frekuensi dan dampak
Skor risiko akan menentukan prioritas risiko. Jika pada asesmen risiko
ditemukan dua insiden dengan hasil skor risiko yang nilainya sama, maka untuk
memilih prioritasnya dapat menggunakan warna brands risiko.

Konsekuensi Potensial
Frekuensi/
Insignificant Minor Moderate Major Catastropic
Likelihood
1 2 3 4 5
Sangat sering
terjadi
Sedang Sedang Tinggi Extreme Extreme
(tiap mgg/bln)
5
Sering terjadi Sedang Sedang Tinggi Extreme Extreme

10
(beberapa x/thn)
4
Mungkin terjadi Sedang Tinggi Extreme Extreme
(1-2 thn/x) Rendah
3
Jarang terjadi Rendah Sedang Tinggi Extreme
(2-5 thn/x) Rendah
2
Sangat jarang terjadi Rendah Sedang Tinggi Extreme
(>5 thn/x) Rendah
1

d. Evaluasi risiko
i. Risk ranking
ii. Prioritize the risk (memprioritaskan risiko)
iii. Cost Benefit Analysis (membandingkan biaya
pengurangan risiko dengan biaya yang timbul apabila
terjadi risko).
iv. Menentukan apakah risiko diterima atau tidak.

Pada proses menganalisa risiko yang perlu dipertimbangkan


adalah dampak dari risko tersebut bila benar terjadi:

1) Risiko yang dapaknya besar harus segera ditindaklanjuti


dan mendapat perhatian dari pimpinan.
2) Risiko yang dampaaknya menengah-ringan akan dikelola
oleh Komite Mutu dan Keselamatan Pasien bersama Kepala
unit kerja/Instalasi untuk membuat rencana tindak lanjut dan
pengawasan.

Tindakan sesuai tingkat dan Bands Resiko

Level/Brands Tindakan
Ekstrim (sangat
Risiko ekstrim, dilakukan RCA paling lama 45 hari
tinggi)
Risiko tinggi, dilakukan RCA paling lama 45 hari,
High (tinggi) kaji dengan detil dan perlu tindakan segera serta
membutuhkan perhatian top manajemen
Moderato (sedang) Risiko sedang, dilakukan investigasi sederhana
paling lama 2 minggu. Manajer/pimpinan klinis
sebaiknya menilai dampak terhadap biaya dan

11
kelola risiko
Risiko rendah, dilakukan investigasi sederhana
Low (rendah) paling lama 1 minggu diselesaikan dengan
prosedur rutin

2. Penanganan Risko/Kelola kasus risiko untuk meminimalkan


kerugian (Risk Control)

Perlakuan risiko adalah upaya untuk menyeleksi pilihan yang dapat


mengurangi atau eniadakan dampak sert kemungkinan terjasi
risiko. Perlakuan yang dapat dipilih adalah:

a. Pengendalian
Upaya untuk mengubah risko yang merupakan langkah-langkah
antiipatif yang direncanakan dan dilakukan secara rutin untuk
mengurangi risiko.
b. Penanganan
Langkah yang dambil untuk mengurangi risko jika tindakan
pegendalian belum memadai. Dapat juga bermakna langkah-
langkah yang telah direncanakan dan akan dilakukan apabila
risiko ben-benar terjadi.

Opsi Perlakuan Risiko

Klasifikasi Tingkat Jenis pengendalian


risko
Menghindari 1 Menghentikan kegiatan
2 Tidak melakukan kegiatan
Mengurangi risiko 1 Mambuat kebijakan/SPO (pembuatan
dan pembaruan prosedur, standar
dan check list)
2 Mengganti atau membeli alat
Mengembangkan sistem Informasi
3
pelatihan penyegaran personel,
seminar, pembahasan kasus.
Melaksanakan prosedur (pengadaan,
peraikaan dan pemeliharaan
4
bangunan da instrumen yang sesuai
dengan persyaratan, pengadaan
bahan habis pakai seuai dengan

12
prosedur dan persyarata.
Mengurangi risiko 1 Asuransi
2 Alih dayakan pekerjaan
Menerima resiko

BAB V
SISTEM PELAPORAN

1. Setiap unit pelayanan melakukan identifikasi risiko setahun sekali


kemudia dikompilasikan oleh Sub Komite Manajemen Resiko.
2. Data risiko dikelola lebih lanjut oleh Komite Mutu dan Keselematan
Pasien
3. Data risiko terkait infeksi diserahkan ke Komite PPI
4. Data risiko non klinis diserahkan kepada Tim K3 RS.
5. Tim Managemen risiko menenukan Prioritas risiko yang ada di rumah
sakit, dan melakukan analisis FMEA. Menyusun desain baru dan
memberikan rekomendasi kepada Kepala.
6. Pelaksanakan design dipantau dengan pengumpulan indikator resiko
oleh PIC data dari masing-masing umit pelayanan.
7. Data dievaluasi setiap tiga bulan sekali.
8. Data tahunan direkapitulasi dan dianalisa untuk dilaporkan kepada
Kepala.

13
BAB VI

PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

1. Manajer Resiko mengkoordinaskan pendidikan dan pelatihan bagi


manager ruangan dan staf terkait.
2. Mensosialisasikan kepada seluruh staf tentang implementasi
manajemen risiko dalam pelayanan di rumah sakit.

BAB VII

INDIKATOR KEBERHASILAN

14
Untuk menilai bahwa penurunan risiko bisa dijalankan, ditetapkan beberapa
indikator yaitu :

A. Indikator Klinis
1. Angka kejadian salah pemberian obat
2. Angka kejadian infeksi daerah operasi
3. Angka kejadian Phlebitis pada pasien rawat Inap
4. Angka kejadian resep tidak terbaca
5. Angka kejadian kesalahan hasil laboratorium
6. Angka kejadian salah prosedur operasi
7. Angka kejadian pasien jatuh
8. Angka kepatuhan pemberian antibiotik prophilaksis pada operasi
bersih terkontaminasi
9. Angka respon time di IGD
10. 10. Waktu tunggu hasil pemeriksaan penunjang
B. Indikator Non Klinis
1. Insiden petugas tertusuk jarum
2. Insiden pasien terkena sengatan listrik
3. Insiden karyawan atau pengunjung jatuh.
4. Tuntutan hukum oleh pasien berkaitan dengan prosedur pelayanan
5. Penundaan pelayanan terkait kerusakan alat.
6. Ketepatan waktu pengajuan klaim pelayanan kesehatan
7. Ketepatan waktu penanganan aduan masyarakat

BAB VIII

RENCANA KEGIATAN

TUJUAN KEGIATAN HASIL PELAKSANA WAKTU


STRATEGIS (OUTCOME)
Risk Penyusuna Kebijakan Manajemen Des 2015
manajemen rencana dan Panduan RS

15
sbg bagian kebijakan Manajemen Risiko
integral dari strategis RS
RS tentang Pembentukan Tim
Manajemen Manajemen Risiko
risiko RS
Membangun Sosialisasi Staf faham Tim PMKP Januari
kesadaran manajemen tentang (Manajemen 2016
dan resiko manajemen risiko risiko)
kepedulian kepada dan
staf tentang seluruh staf implementasinya
manajemen Laporan KPC
resiko
Pembelajara Identifikasi Risk register Tim PMKP Januari
n dan risiko di Analisa FMEA (manajemen 2016
pengalaman setiap unit untuk prioritas risiko)
risiko tahun pelayanan risiko
lalu

BAB X.

MONITORING DAN EVALUASI

Monitoring dilakukan setiap bulan dengan:

1. Mengumpulkan indikator risiko pada prioritas risiko yang ditetapkan


rumah sakit.
2. Mengumpulkan laporan KPC

16
Evaluasi dilakukan dengan cara:

1. Audit untuk menelusuri risiko yang terjdi berkaitan dengan pelayanan


menyangkut dokter maupun perawat.
2. Review dilakukan pada kasus sentinel dengan mengembangkan
analisis Cause Root Analysis.

Laporan evaluasi pencapaian indikator risiko disusun setiap tri wulan dan
tahunan, dilaporkan kepada Kepala Rumah Sakit Kartika Husada Kudus.

BAB X

PENUTUP

Panduan Manajemen Risiko Rumah Sakit Kartika Husada Kudus


digunakan sebagai acuan upaya meminimalkan risiko yang ada di Rumah
Sakit Kartika Husada Kudus baik risiko klinis maupun non klinis,
berkaitan dengan proses pelayanan, karyawan maupun sarana dan

17
prasarana yang tersedia. Apabila dipandang perlu dapat dilakukan revisi
Komite Mutu dan Keselamatan Pasien dengan persetujuan Kepala.

18