Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

PID (pelvic inflammatory disease) atau penyakit radang panggul adalah infeksi
dan radang pada saluran genitalia bagian atas (uterus, tuba falopii, ovarium, dan struktur-
struktur sekitar panggul). Infeksi dan inflamasi dapat menyebar ke abdomen (peritonitis)
termasuk struktur perihepatik (perihepatitis/Sindrom Fitz-Hugh–Curtis). Perempuan yang
memiliki risiko tinggi terkena PID adalah perempuan muda usia reproduktif (khususnya
di bawah 25 tahun) yang memiliki partner seksual lebih dari satu, melakukan hubungan
seksual yang tidak aman (tidak menggunakan kontrasepsi), dan tinggal di area dengan
prevalensi infeksi menular seksual (IMS) yang tinggi.

PID biasanya diawali dengan infeksi di vagina dan serviks yang kemudian naik ke
saluran genitalia bagian atas. Chlamydia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae adalah
dua bakteri penyebab penyakit menular seksual yang paling sering berkaitan dengan PID.
Selain kedua bakteri tersebut, bakteri yang juga dapat berperan pada patogenesis PID
adalah flora vaginalis seperti Gardnerella vaginalis, Haemophilus influenzae, dan bakteri
anaerob. Namun, tidak hanya bakteri, beberapa kasus PID juga berkaitan dengan infeksi
virus yakni CMV dan HSV-2. Sebanyak 30-40% kasus PID adalah kasus polimikrobial.
Oleh karena itu, terapi dengan antibiotik spektrum luas dibutuhkan untuk mengobati PID.

Diagnosis PID umumnya ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit dan temuan


klinis. Namun, tanda dan gejala klinis PID sebetulnya sangat beragam. Beberapa pasien
tidak atau sedikit sekali menunjukkan gejala sementara beberapa pasien lainnya
menunjukan gejala akut yang cukup serius. Keluhan tersering yang biasanya dialami oleh
pasien adalah nyeri perut bagian bawah dan keputihan yang abnormal. PID dapat
menyebabkan komplikasi jangka panjang seperti infertilitas, kehamilan ektopik, dan nyeri
pelvis kronik.

1.2.TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah membuat makalah ini kelompok dapat memahami tentang Penyakit
Radang Panggul (PID) dan asuhan keperawatan dengan PID.
2. Tujuan Khusus
1) Mampu menjelaskan definisi PID
2) Mampu memahami etiologi PID
3) Mampu Memahami manifestasi klinis PID
4) Mampu Memahami penyimpangan kdm PID
5) Mampu menjelaskan Komplikasi pada PID
6) Mampu menjelaskan penanganan PID Mampu menjelaskan
pengobatanPID.
7) Mampu membuat asuhan keperawatan PID.
1.3. MANFAAT
Disusunnya makalah ini bermanfaat untuk bahan refensi dan asupan wawasan
bagi pembaca mengenai Penyakit Radang Panggul (pid). Selain itu,penyusun lebih
memahami mengenai proses terjadinya PID sebagai salah satu penyakit keganasan
pada wanita.
BAB II
KONSEP MEDIK
2.1.PENGERTIAN
Radang panggul atau pelvic inflammatory disease (PID) adalah suatu infeksi
yang menjangkiti serviks (leher rahim), uterus (rahim), tuba falopi (saluran indung
telur), dan ovarium (indung telur). Kasus radang panggul sebagian besar ditemukan
pada perempuan berusia 15-24 tahun yang aktif secara seksual. Selain infertilitas,
penyakit radang panggul yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan nyeri
panggul kronis, dan kehamilan ektopik.

2.2.ETIOLOGI
Mikroorganisme patogen penyebab PID tersering adalah C trachomatis dan
N.Gonorrhoeae. Keduanya termasuk bakteri penyebab infeksi menular seksual (IMS).
Namun, ternyata bukan hanya bakteri penyebab IMS yang dapat menyebabkan PID,
melainkan bakteri yang tergolong flora vaginalis juga dapat berperan.
Mikroorganisme, selain C. trachomatis dan N. Gonorrhoeae, yang dapat
menyebabkan PID adalah sebagai berikut:
1) Gardnerella vaginalis
2) Mycoplasma hominis
3) Mycoplasma genitalium
4) Ureaplasma urealyticum
5) Herpes simplex virus 2 (HSV-2)
6) Trchomonas vaginalis
7) Cytomegalovirus (CMV)
8) Haemophilus influenza
9) Streptococcus agalactiae
10) Batang gram negatif (mis.Eschericia coli)
11) Enterococcus
12) Peptococcus
13) Bakteri anaerob [4,6,10,11]
Faktor Risiko
Berikut ini adalah faktor-faktor risiko dari PID:

1) Usia kurang dari 25 tahun


2) Riwayat PID sebelumnya
3) Memiliki partner seksual lebih dari satu
4) Mengidap penyakit menular seksual khususnya yang disebabkan
oleh trachomatis dan N.gonorrhoeae
5) Melakukan hubungan seksual tanpa barrier/kondom
6) Riwayat tindakan bedah ginekologis seperti biopsi endometrium,
kuretase, histeroskopi
7) Pemakaian AKDR (terutama saat adanya penyakit menular seksual dan
pada 1 bulan pertama pemakaian) [2,8,11]
2.3.MENIFESTASI KLINIS
Organ reproduksi yang terinfeksi radang panggul tidak selalu menunjukkan
gejala, sehingga pada sebagian besar kasusnya sulit untuk dikenali. Gejala yang dialami
dapat berupa rasa nyeri pada daerah panggul, nyeri pada perut bagian bawah, nyeri
ketika buang air kecil, atau nyeri saat berhubungan seksual. Selain itu, dapat terjadi
demam, mual, dan muntah-muntah. Keputihan yang berubah warna menjadi kuning
atau hijau juga bisa menjadi pertanda telah terjadi infeksi pada organ
reproduksi.Waspadai juga periode menstruasi yang lebih lama serta pendarahan yang
terjadi di antara menstruasi atau setelah berhubungan seksual. Segera temui dokter
untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

2.4.KOMPLIKASI
Komplikasi radang panggul terjadi ketika penyakit tidak segera ditangani atau
penderita tidak menyelesaikan periode pengobatan yang diwajibkan. Jenis komplikasi
yang bisa timbul adalah nyeri panggul yang berkepanjangan (kronik), munculnya abses,
berulangnya penyakit radang panggul pada penderita, kemandulan (infertilitas), dan
terjadinya kehamilan ektopik.

Radang panggul yang berulang membuat kondisi organ reproduksi tersebut


rentan terhadap bakteri. Inilah kenapa penderita radang panggul harus menyelesaikan
masa pengobatannya hingga tuntas demi mengurangi risiko terjadinya infertilitas serta
nyeri panggul yang berkepanjangan dan sangat mengganggu aktivitas. Infeksi berulang
khususnya pada tuba falopi dapat mengakibatkan terjadinya kehamilan ektopik. Infeksi
ini menyebabkan luka dan menyempitnya tuba falopi hingga sel telur menjadi
tersangkut kemudian berkembang di dalam tuba falopi. Jika kehamilan ektopik terus
berlanjut, dapat terjadi robekan tuba dan perdarahan di dalam yang mengancam nyawa
penderitanya, sehingga tindakan operasi harus segera dilakukan. Komplikasi kehamilan
seperti keguguran, lahir prematur, dan kematian janin juga dapat terjadi jika pengobatan
tidak dilakukan hingga tuntas.

Nyeri panggul yang berkepanjangan berpotensi menimbulkan depresi dan


insomnia pada penderitanya, dan hal ini tentunya akan berpengaruh pada aktivitas
sehari-hari. Aktivitas seksual juga akan terganggu karena nyeri yang tidak kunjung
berhenti.

Dalam kasus yang jarang, Reiter Syndrome dapat menjadi komplikasi. Reiter
Syndrome adalah penyakit yang menyebabkan radang sendi dan peradangan pada mata.
Hal ini terjadi karena respons sistem imun tubuh yang berlebihan terhadap radang
panggul.

2.5.PENANGANAN
Pada kasus PID yang berat, rawat inap menjadi pilihan karena memungkinkan
pemberian antibiotik dalam pengawasan, selain itu pasien juga dapat melakukan tirah
baring. Namun, pada kasus PID yang ringan atau sedang, terapi dapat dilakukan secara
rawat jalan. Berikut ini adalah beberapa kriteria rawat inap pada pasien PID:

1) Kedaruratan bedah tidak dapat dikesampingkan


2) Pasien sedang hamil
3) Pasien tidak memberi respon klinis antibiotik oral
4) Pasien tidak mampu mengikuti atau menaati pengobatan rawat jalan
5) Pasien menderita sakit berat, mual, dan muntah atau demam tinggi
6) Pasien imunodefisiensi (mis.pada pasien yang juga menderita HIV dengan CD4
yang rendah atau sedang dalam terapi imunosupresi)
7) Terdapat abses tubo-ovarial (TOA)

Terapi PID utamanya ditujukan untuk mencegah kerusakan tuba yang dapat
menyebabkan infertilitas dan kehamilan ektopik, serta pencegahan infeksi kronik.
Pemilihan antibiotika pada kasus PID tidak hanya ditujukan pada organisme etiologi
utama (N.gonorrhoeae)
2.6.PENGOBATAN
Pengobatan radang panggul atau pelvic inflammatory disease dapat dilakukan
dengan cara pemberian antibiotik pada penderita yang masih berada pada tahapan awal
penyakit. Biasanya penderita akan diberikan antibiotik metronidazole, ofloxacin,
doxycycline, atau ceftriaxone untuk mengobati infeksi bakteri, setidaknya selama 14
hari. Pemberian antibiotik dapat disertai dengan pemberian obat pereda sakit,
seperti ibuprofen dan paracetamol jika penderita merasakan sakit di daerah perut atau
panggul. Bagi penderita yang sedang hamil, disarankan untuk berkonsultasi dengan
dokter sebelum mengonsumsi antibiotik.
Sebagian besar pasien dengan kasus radang panggul berat dapat menerima
antibiotik melalui infus di rumah sakit. Pengobatan dengan antibiotik harus diselesaikan
sampai tuntas sesuai dengan periode konsumsi yang dianjurkan oleh dokter agar infeksi
bakteri benar-benar hilang.
Bagi penderita radang panggul yang memakai alat kontrasepsi IUD, dokter
kemungkinan akan menganjurkan pencabutan alat kontrasepsi tersebut bila gejala tidak
kunjung membaik setelah beberapa hari.
Untuk mencegah penyebaran infeksi pada orang lain selama periode pengobatan
radang panggul, pasangan seksual penderita juga disarankan untuk menjalani
pemeriksaan dan pengobatan, walau tidak nampak gejala yang sama. Dokter juga akan
menganjurkan penderita dan pasangannya untuk tidak berhubungan seksual selama
proses pengobatan berlangsung.
Prosedur operasi dilakukan jika abses telah muncul pada organ yang terinfeksi
dan terdapat jaringan parut yang menyebabkan nyeri. Tindakan operasi dapat dilakukan
dengan membuka perut (laparotomi) atau dengan bedah minimal invasif (laparoskopi),
untuk mengangkat atau mengalirkan abses dan memotong jaringan parut.
BAB III
KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Pemeriksaan subjektif pada pasien Infeksi Radang Panggul

a) Data demografi
1) Nama :-
2) Umur : biasanya terterjadi pada usia di bawah 16 tahun
3) Agama :-
4) Jenis kelamin :-
5) Status :-
6) Pendidikan :-
7) Pekerjaan : PSK
8) Suku bangsa :-
9) Alamat :-
10) Tangga lmasuk :-
11) Tanggal pengkajian :-
12) No. register :-
13) Diagnosa medis : infeksi radang panggul
b) Riwayat kesehatan sekarang
1) Alasan masuk rumah sakit: Metroragia, Menoragia. Menderita
penyakit kelamin, keputihan, menggunakan alat kontrasepsi spiral.
2) Keluhan utama: Demam, mual muntah, perdarahan menstruasi yang
tidak teratur, kram karena menstruasi, nyeri BAK, nyeri saat
hubungan, sakit pada perut bagian bawah, lelah, nyeri punggung
bagian bawah, nafsu makan berkurang.

c) Riwayatpenyakitdahulu :
1) Abortus Septikus
2) Endometriosis.
3) Pernah menderita penyakit kelamin
4) Abortus
5) Pernah kuret
6) Aktivitas seksual pada masa remaja
7) Berganti-ganti pasangan seksual
8) Pernahmengunakan AKDR.
9) obstetric dan KB
d) RiwayatPenyakit Keluarga

Kaji penyakit-penyakit yang pernah diderita ibu, suami, dan keluarga


baik dari ibu maupun suami seperti: penyakit jantung, hipertensi, DM, TBC,
asma dll.

Kaji apakah ibu pernah kontak dengan penderita HIV/AIDS, TBC,


hepatitis.

e) Riwayat menstruasi:
1) Perdarahan menstruasi yang tidak teratur, Disminore, Fluor albus
2) Kaji menarche, siklus haid, jumlah darah yang keluar, dismenorea,dan
HPHT.
f) Riwayat Ginekologi :
1) Kaji keluhan yang pernah dirasakan berkaitan dengan organ
reproduksi,
2) Berapa lama keluhan ibu rasakan,
3) Ada tidaknya upaya yang dilakukan untuk mengatasi keluhan itu.
4) Seperti menanyakan apakah ibu pernah mengalami keputihan yang
berbau dan gatal,
5) Operasi yang dialami.

Pemeriksaan objektif pada pasien infeksi radang panggul

1. Keadaan umum
1) Tingkat Kesadaran : -
2) Tanda-tanda Vital
a) TD : 120/190 mmHg (normal: 120/80 mmHg)
b) N : 60 x/m (normal: 60-100 x/menit)
c) RR : 20x/ m (normal: 16-24 x/menit)
d) Suhu : 39oC ( normal : 36,5 – 37,5 oC )
3) Suhu tinggi disertai takikardia
4) Nyeri suprasimfasis terasa lebih menonjol dari pada nyeri di kuadran
atas abdomen. Rasa nyeri biasanya bilateral. Bila terasa nyeri hanya
uniteral, diagnosis radang panggul akan sulit ditegakkan.
5) Bila sudah terjadi iritasi peritoneum, maka akan terjadi reburn
tenderness”, nyeri tekan dan kekakuan otot sebelah bawah.
6) Tergantung dari berat dan lamanya peradangan, radang panggul dapat
pula disertai gejala ileus paralitik.
7) Dapat disetai Manoragia, Metroragia.
8) Nyeri tekan dan nyeri goyang genitalia eksterna ( unilateral dan
bilateral)
9) Daerah adneksa teraba kaku
10) Teraba massa dengan fluktuasi
2. Keadaan fisik
1) Kepala :-
2) Mata :-
3) Leher :Periksa apakah ada pembesaran kelenjar pada leher seperti
kelenjar limfe, tiroid atau pelebaran pembuluh vena.
4) Dada
 Paru :-
 Jantung :-
5) Payudara dan ketiak
 Inspeksi: lihat berntuk payudara (simetris/ asimetris)
 warna (kemerahan atau normal)
 putting susu (menonjol, datar, masuk)
 retraksi.
6) Abdomen : Kaji adaya masa atau benjolan dan nyeri tekan pada abdomen,
jaringan parut dan bekas luka operasi
7) Anogenital :
 Kaji pengeluaran pervagina: jumlah, warna,konsistensi dan bau
 Kaji adanya tanda-tanda infeksi pada daerah genital
 Perhatikan ada tidaknya varises dan oedema pada genetalia,
inspikulo, dinding vagina (rugae vagina less), karsinoma. Portio.
 Lakukan pemeriksaan adneksa dengan menekan daerah shympisis
 Apakah terasa nyeri atau tidak .
8) Genetalia
1. Ada cairan flour albus yang berbau, dan berwarna kehijauan
2. Nyeri pada servik, uterus dan kedua adnexa saat pemeriksaan
bimanual.
3. Terdapat masa iflamatori sdaerah pelvis
9) Integumen :-
10) Ekstermitas :-
11) Neurologis
 Status mental danemosi :-
 Pengkajiansarafkranial :-
 Pemeriksaan reflex :-
Pemeriksaan penunjang
1. Periksadarahlengkap :Hb, Ht, dan Untuk mengetahui adanya peningkatan leukosit
:jenisnya, LED.: darah yang merupakan indikator dari infeksi.
Leukosit normal : 5000-15000/mm3, serta dapat
mengetahui kadar Hb,Ht, dan sejenisnya.

2. Urinalisis: Memeriksa kandung kemih dan ginjal

3. USG panggul : Merupakan tindakan non invasif. Guna


mengetahui keadaan didalam panggul meliputi
keadaan rahim, adanya pembesaran dan abses
pada saluran tuba valopi

4. Laparaskopi : Prosedur pemasukan alat dengan lampu dan


kamera melalui insisi (potongan) kecil di perut
untuk melihat secara langsung organ didalam
panggul apabila terdapat kelainan

B. Diagnosa
1) Risiko pendarahan
2) Nyeri akut
3) Risiko infeksi
4) Hipertermia
5) Gangguan rasa nyaman
C. Intervensi
No Diagnosa Tujuan Dan
Intervensi Keperawatan Rasional
. Keperawatan Kriteria Hasil
1. Hipertermia Tujuan : Setelah Observasi 1. Penting dalam
(D.0130) dilakukan tindakan 1. Monitor TTV memberikan
Kategori : keperawatan penanganan
Lingkungan selama...x24 jam Mandiri hipertermia
Subkategori : diharapkan 2. Sesuaikan dan pantau 2. Suhu kamar
keamanan dan hipertermi pada klien faktor lingkungan seperti disesuaikan
proteksi dapat teratasi. suhu kamar dan seprei dengan suhu
Definisi : suhu 1. Termoregulasi yang ditunjukkan normal untuk
tubuh meningkat secara konsisten mengatur suhu
diatas rentang menunjukkan tubuh pasien
normal baik 3. Hilangkan kelebihan 3. Mengurangi
Penyebab : proses 2. Tanda-tanda vital pakaian dan selimut kehangatan dan
penyakit (mis. secara konsisten meningkatkan
Infeksi) menunjukkan pendinginan
Gejala dan tanda baik evaporatif
mayor : . 3. Hidrasi secara 4. Dorong asupan cairan 4. Mencegah
Objektif : suhu konsisten secukupnya kehilangan
tubuh diata nilai menunjukkan cairan karena
normal baik kehilangan
Gejala dan tanda cairan
minor : berkonstribusi
Objektif : Healt Education terhadap demam
takikardi, kulit 5. Mengajarkan pasien dan 5. Memberikan
terasa hangat anggota keluarga tentang edukasi untuk
Kondisi klinis tanda dan gejala mengatasi
terkait : proses hipertermi dan membantu kondisi penyakit
infeksi dalam mengidentifikasi dan dapat
faktpr-faktor terkait membantu
terjadinya demam; mencegah
diskusikan pentingnya komplikasi lebih
asupan cairan yang lanjut dari
meningkat untuk hipertermia
mneghindari dehidrasi.
Kolaborasi
6. Berikan obat antipiretik 6. Mengurangi
sesuai yang ditentukan suhu tubuh dan
menghalangi
sintesis
prostaglandi
yang bekerja di
hipotalamus