Anda di halaman 1dari 8

Bahan Desensitivitas dan Cara Penggunaannya

Bahan desensitivitas merupakan sejumlah agen atau bahan yang telah diusulkan untuk
mengendalikan hipersensitivitas akar.

a) Mekanisme aksi dari bahan desensitivitas, antara lain:

1. Mengendapkan atau mendenaturasi bahan organik pada akhir proses odontoblastik.

2. menempatkan garam anorganik pada ujung tubulus dentinalis.

3. Merangsang pembentukan dentin sekunder di dalam pulpa.

4. Menekan peradangan pulpa.

b) Syarat bahan desensilisasi adalah

1. tidak boleh mengiritasi pulpa

2. relatif tidak menimbulkan rasa sakit

3. mudah diaplikasikan

4. harus nembedkan efek terapeutik yang cukup lama

5. Bereaksi cepat

6. mempunyai waktu terapeutik yang konsisten

7. tidak menimbulkan perubahan wama gigi

Bahan desensitivitas dapat diaplikasikan oleh pasien di rumah atau oleh dokter gigi
atau hygienist di dental office.

A. Fluoride gel dan larutan

1. Aplikasi oleh pasien.

Fluoride rinse yang tidak diresepkan dan pasta gigi juga tersedia dan berguna untuk
desensitisasi. Fluoride rinse dalam bentuk larutan dan gel yang diresepkan harus
diaplikasikan oleh pasien di rumah juga biasa digunakan untuk desensitisasi, yang
mengandung acidulated phosphate fluoride, stannous fluoride, atau aqueous sodium
fluoride dalam konsentrasi lebih tinggi daripada produk yang dijual tanpa resep
dokter.

Cara Penggunaan :

larutan fluoride rinse dioleskan pada mulut selama 1 menit, setelah itu
larutannya diludahkan. Gel dapat diaplikasikan pada tray khusus atau dengan sikat
gigi atau perangkat lainnya. Pasien harus disarankan untuk tidak makan, minum, atau
membilas mulut selama setengah jam setelah aplikasi bahan ini.
2. Aplikasi oleh profesional.

Beberapa bahan desensitivitas harus diaplikasikan oleh profesional seperti dokter gigi
atau dental hygienist karena aplikasi yang sulit atau bahan dalam konsentrasi yang
lebih tinggi. Hal ini penting untuk membatasi area aplikasi dan jumlah yang
digunakan untuk mencegah kemungkinan reaksi toksik atau iritasi pada jaringan di
sekitarnya. Yang paling umum dan banyak digunakan saat ini adalah yang
mengandung fluoride. kelebihan dari fluoride adalah memiliki aktivitas anti karies.
Hal ini sangat penting bagi pasien yang rentan terhadap kerusakan akar.

Larutan yang mengandung 2% sampai 4% natrium fluoride, 0,9% saturated


silicofluoride, atau 8% stannous fluoride, potassium, atau ferrous oxalate; dan pasta
yang mengandung 331/3% sodium fluoride; telah terbukti menjadi bahan
desensitivitas yang efektif.

Cara Penggunaan :

a. Menentukan gigi yang memerlukan desensitivitas

b. Memeriksa gigi untuk memastikan bahwa semua deposit, stain, dan plak telah
dikeluarkan dari permukaan akar

c. Mengisolasikan gigi dengan cotton rolls dan dikeringkan dengan kapas, kasa,
atau udara hangat dan menggunakan saliva ejector untuk menjaga rongga mulut
tetap kering.

d. Mengingatkan pasien bahwa mereka mungkin sensitif saat bahan diaplikasikan,


mulailah dengan satu gigi. Jika sangat sensitif, dilakukan anestesi pada gigi
dengan anestesi lokal sebelum dilakukan tindakan. (Catatan: 331/3% pasta
sodium fluoride merupakan konsentrasi yang tinggi dan sangat sakit apabila
diaplikasikan pada gigi yang tidak dianestesi. Sehingga, pastikan untuk
melakukan anestesi gigi sebelum digunakan).

e. Aplikasikan larutan dengan cotton pellet. Apabila menggunakan pasta, masukkan


sedikit ke akar dengan menggunakan perio aid, porte polisher, ball burnisher,
atau rubber cup.

f. Setelah 3 sampai 5 menit, bersihkan excess dengan cotton pellet. Anjurkan pasien
untuk tidak makan, minum, atau membilas rongga mulut selama 30 menit setelah
aplikasi

g. Ulangi aplikasi pada kunjungan berikutnya. Desensitivitas harus dilakukan dua


atau tiga aplikasi (Pattison & Pattison, 1992).

B. Resin Agent
Bahan desensitivitas yang termasuk dalam kategori resin agent diantaranya memiliki
kandungan glutaraldehyde, air murni, dan hydroxymethacrylate, serta 4-META
methacrylate bonding agent, bahan ini bekerja dengan cara menutup pori-pori
mikroskopis yang terpapar pada lapisan dentin gigi yang dapat menyebabkan sensitivitas.

Cara penggunaan :
1. Dokter gigi akan meninjau riwayat kesehatan pasien, dan bertanya mengenai dental
history seperti melakukan pemutihan gigi dan penggunaan pasta gigi. Hal tersebut
dapat menyebabkan sensitivitas dan dokter gigi dapat merekomendasikan untuk
memodifikasi atau menghentikan penggunaan tersebut untuk menghilangkan
penyebab utama sensitivitas pasien.
2. Dokter gigi akan melakukan tes diagnostik untuk melihat kondisi yang lebih serius,
seperti pulpitis, karies gigi, gingivitis, dan infeksi (abses). Tes umumnya akan
mencakup evaluasi objektif reaksi pasien terhadap rangsangan elektrik yang panas,
dingin, dan ringan. Tes ini dikenal sebagai “tes vital”. Tes ini dilakukan untuk melihat
apakah jaringan saraf dalam keadaan vital atau tidak.
3. Dilakukan pemeriksaan radiografis untuk melihat perubahan pada jaringan keras.
Karies gigi dan perubahan tulang akibat infeksi akan tampak gelap pada X-ray.
4. Apabila dokter gigi telah menentukan bahwa pasien perlu dilakukan perawatan
desensitivitas, hal yang dilakukan selanjutnya yaitu mengaplikasikan anestesi lokal
pada gigi yang mengalami sensitivitas.
5. Gigi diisolasi untuk melindungi jaringan lunak (seperti gusi, bibir, lidah, dan pipi).
Kemudian, mata pasien juga harus dilindungi yaitu dengan cara meminta pasien
menutup mata ketika perawatan dilakukan.
6. Perawatan desensitivitas diaplikasikan pada gigi menggunakan brush kecil dan udara
kering.
7. Kemudian area tersebut akan dibilas seluruhnya dengan air.
8. Peralatan isolasi dilepaskan.
9. Pasien dianjurkan menggunakan pasta gigi desensitivitas (Pattison & Pattison, 1992).

C. Pasta Gigi Sebagai Bahan Desensitivitas

Hipersensitivitas gigi bukanlah penyakit, melainkan gejala adanya akar yang


terbuka karena terjadi resesi gingiva, atau kemungkinan adanya gigi yang patah serta
kavitas. Nyeri yang dirasakan dapat bervariasi, mulai dari sedang hingga berat. Pada
gigi yang sehat, dentin dilindungi oleh gingiva dan juga lapisan email yang keras.
Dentin mengandung tubulus yang terhubung ke saraf gigi dan memicu rasa sakit saat
dentin terpapar. Dentin dapat terpapar karena resesi gingiva yang disebabkan oleh
cara menyikat gigi yang tidak benar atau penyakit gingiva, gigi yang patah, grinding
pada gigi, atau erosi akibat penuaan. Nyeri dari gigi yang sensitif tidak selalu konstan.
Penggunaan sikat gigi dengan bulu yang lembut dan pasta gigi dapat membantu
beberapa orang dengan gigi yang sensitif (Hoffman, 2013).

Bahan aktif yang biasa digunakan pada pasta gigi adalah potassium nitrat
dan/atau stannous fluoride. Potassium nitrat bekerja dengan memutuskan sinyal antara
sel saraf pada gigi. Dengan menghalangi sinyal tersebut, rasa nyeri dapat dicegah.
Sedangkan stannous fluoride bekerja dengan menutup tubulus dentinal. Hal tersebut
mencegah aliran cairan di tubulus, yang menyebabkan nyeri saraf (Hoffman, 2013).

Cara penggunaan:
Pemakai harus mengaplikasikan setidaknya 1 ichi strip pasta gigi pada sikat
gigi berbulu halus dan menyikatnya pada gigi paling tidak 1 menit dua kali dalam
sehari. Onset dari efek dengan produk ini tidak segera dan mungkin memakan waktu
beberapa hari hingga 5 minggu. Pasta gigi harus digunakan sampai rasa nyeri mereda
atau selama dokter gigi merekomendasikan penggunaannya (Hoffman, 2013).
D. Garam Anorganik (Inorganic Salt)
Contoh garam anorganik meliputi klorida, fluorida, iodida dan nitrat kalsium,
strontium, natrium, besi (Fe III) dan kalium, baik sendiri atau dalam kombinasi.
Stronsium dan kalium klorida serta nitrat lebih disukai karena kation mereka dikenal
sebagai agen neuroaktif (Hack dkk., 1997). Beberapa garam anorganik bekerja dengan
menghasilkan endapan yang akan menutupi tubulus dentinal (Hoffman, 2013).
Cara penggunaan:
Larutan garam anorganik diaplikasikan pada gigi paling sedikit 5 detik dalam
10 sampai 60 detik. Larutannya dapat diaplikasikan dengan sarana aplikasi yang
sesuai, seperti kapas atau aplikator sejenis. Sebagai alternatif, larutan garam anorganik
dapat diaplikasikan dalam bentuk gel atau pasta (Hack dkk., 1997).

E. Semen Ionimer Kaca

Semen Ionomer Kaca (SIK) merupakan salah satu bahan restorasi yang
banyak digunakan dokter gigi karena mempunyai keunggulan berupa, ikatan secara
khemis dengan gigi, melepas fluor sehingga dapat mencegah karies lebih lanjut,
estetis, biokompatibel, daya larut rendah, translusen, dan bersifat anti bakteri. Semen
ionomer kaca melepaskan fluor dalam jangka cukup lama sehingga dapat
menghilangkan sensitivitas dan mencegah terjadinya karies sekunder. Kemampuan
bahan material dalam melepaskan ion fluor terhadap compressive strength dari bahan
restorasi SIK, mengakibatkan korelasi negatif antara pelepasan ion fluoride dengan
compressive strength. Bahan material yang memiliki tingkat pelepasan ion fluoride
yang lebih tinggi, secara umum mempunyai kekuatan yang lebih rendah dari material
yang memiliki tingkat pelepasan ion fluoride yang rendah. SIK sering disebut dengan
ASPA (Alumine Silicate and polyacrylic acid). Reaksi yang terbentuk dari SIK adalah
reaksi antara alumina silikat kaca dalam bentuk powder dengan asam poliakrilik
sebagai liquid. Penggunaan semen ionomer kaca biasanya diaplikasikan oleh dokter
gigi, semen ionomer kaca biasanya digunakan sebagai bahan restoratif.
F. Penggunaan Pasta Gigi sodium lauryl sulphate

Setiap pasta gigi mengandung bahan-bahan yang penting seperti bahan abrasif,
bahan penggosok, humectant, flouride, pemutih gigi, air, bahan pemberi rasa, bahan
pemikat, dan bahan sodium lauryl sulphate. Salah satu unsur yang tidak boleh
digunakan secara berlebihan dalam pasta gigi adalah deterjen. Deterjen yang biasa
digunakan dalam pasta gigi adalah sodium lauryl sulphate (SLS). Penggunaan SLS
yang berlebihan dapat menyebabkan iritasi pada rongga mulut, ulserasi yang parah,
penurunan kelarutan saliva serta perubahan sensitivitas rasa. Batas penggunaan SLS
yang dibenarkan dalam pasta gigi adalah 1-2%, karena pemakain yang melebihi dari
batas tersebut dapat menyebabkan terjadi efek-efek diatas tersebut sedangkan
pemakain pasta gigi di pasaran adalah sebayak 1,5-5%. Kandungan SLS yang dapat
ditoleransi dalam mulut adalah 0,0001%, sedangkan pada pasta gigi yang beredar di
pasaran saat ini mengandung 1,5-5%. Jumlah SLS yang berlebihan ini bisa merusak
rongga mulut dan mengganggu indra pengecapan. Apabila SLS dipakai dalam rongga
mulut, struktur rantai protein saliva berubah sehingga kelarutan saliva berkurang.
Taste buds yang terdapat pada lidah akan turut terpapar karena taste buds
mengandung protein-protein transmembran yang mengenali ion-ion yang memberi
reaksi terhadap sensasi rasa. Protein-protein transmembran akan turut terganggu
akibat perubahan struktur protein oleh SLS sehingga tidak dapat mencapai reseptor
pada mikrovili di lidah menyebabkan terjadinya perubahan sensitivitas rasa. (Roslan,
Sunariani dan Irmawati, 2009)

G. Penggunaan Pasta yang mengandung Natrium Sitrat, Stontium Klorida, Kalium


Oksalat
a) Natrium Sitrat
Natrium dapat menghasilkan presipitasi protein atau presipitasi musin dari
ludah sehingga dapat mengecilkan ukuran lumen tubula dentin.
b) Stontium Klorida
Efek desensitisasi oleh pasta yang mengandung stintium klorida disebabkan oleh
sifat abrasif dari stontium. Stontium Klorida 10% merupakan bahan yang banyak
digunakan terutama dalam bentuk pasta gigi dengan angka keberhasilan sekitar
30-80% (Harper dan Midda, 1992). Hal ini oleh karena ion stontium mudah
diadsorpsi dan dapat berikatan erat dengan dentin. Ikatan stontium dan dentin
membentuk endapan kalsium apatit kompleks yang menyumbat tubula atau
menyumbat matriks organik permukaan akar dan mengursngi permeabilitas
dentin.
c) Kalium Oksalat
Kalium oksalat dapat mengurangi hipersensitive dentin dengan segera
(Collaert dan Fisher, 1991). Kalium oksalat dapat mengurangi aliran cairan yang
melintasi tubula sebesar 98%. Kalium oksalat 2% dapat mengurangi
permeabilitas dentin sebesar 95,71%.

Cara Penggunaan
a) Isolasi dan keringkan permukaan gigi
b) Oleskan pasta ke permukaan gigi dengan burnisher selama 1-2 menit
c) Bilas permukaan gigi dengan air hangat

H. Aplikasi Fluor dengan Iontoforesis


Merupakan suatu metode penetasi bahan yang dapat terionisasi ke dalam
permukaan jaringan. Iontoforesis dengan bahan desensitisasi fluor dilakukan dengan
alat bermuatan listrik yang menggunakan aplikasi baterai atau listrik. Aplikasi aliran
elektrik pada gigi dan penggunaan elektrode berbentuk sikat untuk membantu
penetrasi fluor ke dalam tubuli dentin. Cara ini dapat menurunkan rasa sakit
(Nugrohowati, 2006).

Cara Penggunaan
proses desensitisasi dengan proses iontoforesis dengan bahan fluor akan menunjukkan
peningkatan konsentrasi ion fluor pada tubuli dentin, dalam kondisi ini maka terjadi
presipitasi kalsium-fluorida yang bertindak untuk memblokir stimuli yang
menimbulkan rasa sakit secara hidrodinamik. Proses elektro-osmosis menyebabkan
air dan bahan desensitisasi dapat masuk ke dalam tubuli dalam bentuk ion sehingga
proses desensitisasi lebih cepat.
Sumber:

Pattison, Anna Matsuishi & Pattison, Gordon L. 1992. Periodontal Instrumentation, second
edition. USA: Prentice-Hall Internasional Inc.

Nagaraja UP, Kishore G. 2005. Glass Ionomer Cement: The different Generations. Trends
Biomater. Artif Organs. Vol 18(2). P:158 – 165.

Roslan, N. A., Sunariani, J., & Irmawati, A. (2009). Penurunan Sensitivitas Rasa Manis
Akibat Pemakaian Pasta Gigi Yang Mengandung sodium lauryl sulphate 5%. Jurnal
PDGI Vol 58, No 02, 10-13.

Hoffman, R. P., 2013, Ask The Pharmacist Drug & Health Information For The Consumer,
Thinkstock, America.
Hack, G. D., Thompson, P., Fraunhofer, A. V., 1997, Methode and Kit for Treating Tooth
Hypersensitivity, University of Maryland, Baltimore.
Nugrohowati. 2006. Iontoforesisi Untuk Penanganan Noninvasif Dentin Hipersensitif. Bagian
Konservasi Gigi Univ Prof. Dr. Moestopo (B)
Midda.M, Renton-Harper.P. Lasers in dentistry. Br.Dent.J 1919;170:343-346.