Anda di halaman 1dari 22

PERIHAL GANTI KERUGIAN DALAM RANGKA

PEROLEHAN TANAH UNTUK PEMBANGUNAN:


INKONSISTENSI NORMATIF DAN REALITAS
PENYIMPANGAN i

Suparjo2

Abstrak
This article is being aimed to deliver more clarification concerning
compensation aspect in land acquisition for public interests in Indonesia.
Many land cases and disputes are ensued and persisting ' through many
public interest projects. Government of the Republic Indonesia has issued
such regulation since decade of 1970 until the recent that is intentioned to
just process in land acquisition. The two last Presidential Regulations
(number 36 year 2005 and number 65 year 2006) are issued negotiation
process and consensus between land owner and committee of land
acquisition (P2T) have not reflected justice. Inequality is appeared by
limitation of consent given by land owner is only 120 days and then after that
period P2T be deemed has authority to occupy the land and do such clearing
without needs landowner permit. That authority is based on those regulations
by deposit sums of money at district court as well known as "consignatie ".
Consignatie itself is as payment method solution under Indonesia Civil Code
for any contractual scheme which ought not applicable through unsuccessful
negotiation between landowner and P2T clear different transaction to the
Civil Code.

Kala kunci: hukum pertanahan, perolehan lanah, ganti kerugian, pengaturan

I. Pendahuluan

Pemberian ganti rugi bagi kepentingan umum seringkali menjadi


masalah berlarut-Iarut sehingga menyebabkan tertundanya pembangunan.

I Arikel ini sebagai pengemhangan makalah yang pemah disampaikan dalam


Training Penyelesaian Gantt Kerugian dan Santunan Tanah untuk Pembangunan, Proyek
LMPDP Komponen 5 Departemen Dalam Negeri, Jakarta, Rabu Jum'at 22 - 24 April 2009

2 Pengajar Hukum Agraria Fakultas Hukum VI, Jakarta. Alamat korespondensi:


parjo@ui.ac.id.
Perihal Pengaturan Ganti Kerugian Tanah untuk Pembangunan, Suparjo 69

Besamya kerugian dari pemerintah maupun masyarakat akibat bertahun-


tahun tertundanya Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta yang menghubungkan
Jalan Tol Jagorawi dan Jalan Tol Jakarta-Cikampek. Berapa pula kerugian
yang diderita masyarakat akibat banjir yang melanda sebagian wilayah
Jakarta karena pembangunan Banjir Kanal Timur hingga saat ini belum dapat
direalisasikan akibat pengadaan tanah yang tersendat. Pemberian ganti rugi
yang dirasa tidak adil dan tidak memiliki standar yang baku setidaknya
memberikan kontribusi bagi pennasalahan diatas. Sehingga muncul
anggapan pemikiran bahwa ganti rugi dalam pengadaan tanah adalah
kompensasi yang menyebabkan pemilik tanah menderita kerugian akibat
kompensasi yang diberikan lebih kecil dibanding kerugian ekonomis yang
ditanggung oleh pemilik tanah.
Masalah pemberian ganti kerugian dalam rangka perolehan tanah
untuk kepentingan umum merupakan masalah pokok dalam perolehan tanah.
Hal itu karena dalam rangka perolehan tanah yang secara umum lazim
menggunakan prosedur pelepasan hak. Melalui prosedur ini maka ada
serangkaian tahapan yang harus ditempuh secara benar dan sesuai prosedur.
Tentu saja pemberian ganti kerugian merupakan satu-satunya syarat
terjadinya pelepasan hak atas tanah. Terjadinya pelepasan hak menurut
pengaturan hukum tanah nasional adalah ditentukan pada saat yang secara
bersamaan (serentak) pada saat terjadinya pelepasan hak. Secara fonnal
terjadinya pelepasan hak tersebut dapat dilihat pada perjanjian pelepasan hak
yang ditandatangani oleh pihak pemilik tanah (pemegang hak) dan pihak
yang membebaskan dan akan menguasai tanah tersebut kemudian.
Adanya kejelasan prosedur pelepasan hak dan pemberian ganti
kerugian terse but dalam praktek temyata tidak semudah seperti apa yang
tertulis di dalam peraturan perundang-undangan. Hal itu dapat diliihat dari
munculnya banyak kasus dan malah menjadi sengketa berkepanjangan.
Contoh kasus besar yang pemah terjadi adalah dalam rangka pembebasan
tanah yang dilakukan di seputar Waduk Kedungombo Jawa Tengah serta
kasus-kasus baru pasca berlakunya Peraturan Presiden Nomor 36 tahun 2005
dan Peraturan Presiden Nomor 65 tahun 2006, yang mengatur tentang
Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan
Umum.
Mengapa permasalahan ataupun sengketa-sengketa seperti itu masih
saja terjadi, padahal secara nonnatif sudah ada pedoman di dalam peraturan
perundang-undangan? Untuk sementara dapat dijelaskan faktor utama
penyebabnya adalah tidak lain berkutat pada masalah pember ian ganti
kerugian yang tidak kunjung disepakati. Kesepakatan mengenai pemberian
ganti kerugian yang dilakukan sesuai prosedur temyata masih memiliki
kelemahan di dalam memberikan kepastian hukum secara tuntas. Pengertian
70 )urna/ Hukum da n Pembangunan Edisi Khusus Dies Nata/is 85 Tahun FHUI

tuntas dimaksud adalah terpenuhinya legalitas secara hukum baik secara


materil maupun secara formil.
Kepastian hukum dalam lingkup materil adalah adanya kelemahan
dalam rumusan norma-norma mengenai dasar penghitungan nilai ganti
kerugian, sedangkan secara formil adalah berkenaan dengan prosedur
penyelesaiannya.
Menurut ketentuan Pasal 15 Peraturan Presiden Nomor 65 tahun 2006,
dasar perhitungan besamya ganti rugi didasarkan atas:
1. Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) atau nilai nyata sebenamya
dengan memperhatikan Nilai Jual Obyek Pajak tahun berjalan
berdasarkan penilaian Lembaga/Tim Penilai Harga Tanah yang
ditunjuk oleh panitia;
2. Nilai jual bangunan yang ditaksir oleh perangkat daerah yang
bertanggungjawab di bidang bangunan.
3. Nilai jual tanaman yang ditaksir oleh perangkat daerah yang
bertanggungjawab di bidang pertanian
Kepala BPN telah menerbitkan Peraturan Kepala BPN No. 3 Tahun
2007 yang mengatur tahapan pengadaan tanah yang harus dilakukan oleh tim
Panitia Pengadaan Tanah (P2T) pemerintah kota dan kabupaten. Secara
umum, peraturan yang merupakan revisi dari Peraturan Kepala BPN No. I
Tahun 1994 terse but sudah memuat masalah pertanahan secara rinci dan
deti!. Peraturan Kepala BPN ini merupakan peraturan operasional dari
Peraturan Presiden (Perpres) No. 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah
Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum yang telah
diubah menjadi Perpres No. 65 Tahun 2006. Kesulitan yang sering dihadapi
oleh tim P2T Pemerintah Kota dan Kabupaten adalah adanya perbedaan
harga pasar dan barga yang telah ditetapkan dalam nilai jual objek pajak
(NJOP). Dalam berbagai kasus, sering terjadi harga tanah merupakan hasil
musyawarah antara tim P2T dan pemilik tanah yang meminta harga lebih
tinggi dari NJOP.

II. Uraian Mengenai Pengaturan Hukum Perolehan Tanah Untuk


Pembangunan Dan Pemberian Ganti Kerugian

Dalam kronologi pengaturan perolehan tanah untuk kepentingan


pembangunan tentunya dilihat pertama kali pada berbagai pasal UUPA
(undang-Undang nomor 5 tahun 1960) yang mengatur mengenai sebab-sebab
berakhirnya hak atas tanah karena adanya pelepasan hak dan pencabutan hak.
Pada azasnya, sebagaimana dijelaskan dalam Penjelasan Umum angka
2 Undang-Undang Nomor 20 tahun 1961 Tentang Pencabutan Hak-Hak
Perihal Pengaturan Ganti Kerugian Tanah untuk Pembangunan, Suparjo 7'

Tanah Dan Benda-Benda Yang Ada Diatasnya maka jika diperlukan tanah
dan/atau benda lainnya kepunyaan orang lain untuk sesuatu keperluan
haruslah lebih dahulu diusahakan agar tanah itu dapat diperoleh dengan
persetujuan yang empunya, misaJnya alas dasar jual-beli, t\lkar-menukar atau
lain sebagainya Tetapi cara demikian itu tidak selalu dapat membawa hasil
yang diharapkan, karena ada kemungkinan yang empunya meminta harga
yang terlampau tinggi ataupun tidak bersedia sarna sekali untuk melepaskan
tanahnya yang diperlukan itu. Oleh karena kepentingan umum hams
didahulukan dari pada kepentingan orang-seorang, maka j ika tindakan yang
dimaksudkan itu memang benar-benar untuk kepentingan umum, dalarn
keadaan yang memaksa, yaitu jika jalan musyawarah tidak dapat membawa
hasil yang diharapkan, haruslah ada wewenang pada Pemerintah untuk bisa
mengambil dan menguasai tanah yang bersangkutan. Pengambilan itu
dilakukan dengan jalan mengadakan pencabutan hak sebagai yang dimaksud
dalam pasal 18 Undang-undang Pakok Agraria. Jadi pencabutan hak adalah
jalan yang terakhir untuk memperoleh tanah dan/atau benda lainya yang
diperlukan untuk kepentingan umum. Dalam pada itu di dalam menjalankan
pencabutan hak tersebut kepentingan daripada yang empunya, tidak boleh
diabaikan begitu saja. Oleh karena itu maka selain wewenang untuk
melakukan pencabutan hak, di dalam pasal 18 tersebut dimuat pula jaminan-
jaminan bagi yang empunya. Yaitu bahwa pencabutan hak harns disertai
pemberian ganti kerugian yang layak dan harus pula dilakukan menurut cara
yang diatur dalam Undang-undang.
Selanjutnya mengenai pengadaan tanah diatur dalam berbagai
Peraturan Menteri Dalam Negeri yang telah dicabut Dengan berlakunya
Keputusan Presiden Nomar 55 tahun 1993, yaitu:
1. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor I Tahun 1975 tentang
Ketentuan-ketentuan Mengenai Tata Cara Pembebasan Tanah;
2. Peraturan Menteri Dalarn Negeri Nomor 2 Tahun 1976 tentang
Penggunaan Acara Pembebasan Tanah Untuk Kepentingan
Pemerintah Bagi Pembebasan Tanah Oleh Pihak Swasta;
3. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1985 tentang
Tata Cara Pengadaan Tanah Untuk Keperluan Proyek
Pembangunan di Wilayah Kecamatan.
72 Jurnai Hukum dan Pembangunan Edisi Khusus Dies Natalis 85 Tahun FHUI

A. Uraian tentang Masalah Perbedaan Penghitungan Nilai


Obyek yang Akan Dibebaskan (Tanah, Bangunan dan
tanaman): Masalah Rumusan Normatif yang Inkonsisten dan
Absurd

Selanjutnya untuk menjadi pedoman pelaksanaan Keppres 55


tahun 1993 terse but diterbitkan PERA TURAN MENTERI NEGARA
AGRARlN KEPALA BADAN PERTAHANAN NASIONAL
NOMOR : 1 TAHUN 1994. Selanjutnya Keppres 55 tahun 1993,
digantikan dengan Peraturan Presiden Nomor 36 tahun 2005 yang
telah diu bah menjadi Perpres No. 65 Tahun 2006. Perpres No 36
Tahun 2005 dilaksanakan oleh Peraturan Kepala BPN No 3 Tahun
2007. Peraturan Kepala BPN No 3 Tahun 2007 meneabut atau
menyatakan t idak berlaku lagi Permen Agraria/Kepala BPN No 1
Tahun 1994.
Mengenai fokus pembahasan dalam makalah ini, berkenaan
dengan dasar hitungan pemberian ganti kerugian seeara ' Iebib jelas
. dapat dilihat perbandingannya di dalam tabel berikut ini :
PERMEN
JENIS PERA TURAN KEP ALA BPN
AGRARIAIKEPALA BPN
OBYEK NO 3 T AHUN 2007
NO 1 TAHUN 1994

TANAH Panitia (PPT) Penilaian harga tanah


memberikan penjelasan berdasarkan pada Nilai
kepada kedua belah pihak lual Obyek Pajak (NJOP)
sebagai bahan atau nilai nyata/sebenarnya
musyawarah untuk dengan memperhatikan
mufakat, terutama NJOP tahun berjalan, dan
mengenai ganti kerugian dapat berpedoman pada
harus memperhatikan variabeI-variabeI sebagai
hal-hal berikut: berikut:
a. Nilai taRah berdasar a. Iokasi dan letak tanah;
nilai nyata atau b. status tanah;
sebenarnya dengan c. peruntukan tanah;
memperhatikan d. kesesuaian penggunaan
Nilai Jual Obyek tanah dengan rencana
Bumi dan Bangunan tata ruang wilayah atau
(NJOP) tahun terakhir perencanaan ruang
untuk tanah yang wilayah atau kota yang
bersangkutan; telah ada;
b. Faktor-faktor yang e. sarana dan prasarana
mempengaruhi harga yang tersedia; dan
tanah: f. faktor lainnya yang
Periha/ Pengaluran Ganli Kerugian Tanah untuk Pembangunan, Suparjo 73

I) Lokasi tanah mempengaruhi barga


2) jenis hak alas tanah.
tanah;
3) Slatus penguasaan
tanah;
4) Perunlukan lanah;
5) Kesesuaian
penggunaan tanah
dengan rencana
tata ruang
wilayah;
6) Prasarana yang
tersedia;
7) Fasilitas dan
untilitas;
8) Lingkungan
9) Lain-lain yang
mempengaruhi
harga tanah.
c. Nilai taksiran
bangunan, tanaman,
benda-benda lain yang
berkaitan dengan
tanah;
BANGUNAN TIDAKADA Penilaian harga bangunan
TANAMAN PENGATURAN dan/atau tanaman dan/atau
benda-benda lain yang
berkaitan dengan tanah
dilakukan oleh Kepala
DinaslKanlorlBadan di
KabupalenIKota yang
membidangi bangunan
dan/atau tanaman dan/atau
benda-benda lain yang
berkaitan dengan tanab,
dengan berpedoman pada
slandar harga yang telah
ditetapkan peraturan
perundang-undangan.

Dari penjelasan dalam tabel di alas maka dapat lerlihat adanya


perbedaan dalam faktor hitungan ganti kerugian obyek tanah. Berdasarkan
Permen Agraria/Kepala BPN No I Tahun 1994 terkandung norma
keharusan "ought to" memperhatikan tiga unsur: (\) nilai tanah dengan
memperhatikan Nilai lual Obyek Bumi dan Bangunan (NJOP) tahun
74 )urnal Hukum dan Pembangunan Edisi Khusus Dies Natalis 85 Tahun FHUI

terakhir; (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi harga tanah; dan (3) Nilai
taksiran bangunan, tanaman, benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah.
Sementara di dalam Peraturan Kepala BPN No 3 Tahun 2007, penilaian
harga tanah berdasarkan pada Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) atau nilai
nyatalsebenarnya dengan memperhatikan NJOP tahun berjalan, dan dapat
berpedoman pada variabel-variabel tersebut dalam Pasal 283 Dari kata-kata
'dapat berpedoman' terse but maka secara hokum tidak mengandung norma
ought to (keharusan) sebagaimana ditetapkan dalam Permen Agraria/Kepala
BPNNo 1 Tahun 1994.
Jika dibaca secara cermat, maka secara hukum ketentuan Pasal 28
Peraturan Kepala BPN No 3 Tahun 2007 tidak mengikat bagi panitia
penaksir menggunakan unsur-unsur yang disebut dalam ketentuan tersebut,
karena tidak ada terkandung norma keharusan sebagaimana yg diatur dalam
pasal 16 Permen Agraria/Kepala BPN No 1 Tahun 1994.
Penjelasan di atas adalah masalah inkonsistensi dalam tataran normatif
yang seringkali menjadi bahan perdebatan yang kerap kali menjadi hambatan
dalam rangka mencapai mufakat dalam musyawarah yang dilakukan.
Sementara untuk lebih jelasnya akibat dalam praktek banyak terjadi
penyimpangan dapat dilihat dalam uraian dalam bab berikutnya.

B. Penerapan KONSINY ASI: Kekacauan Penerapan yang


Cenderung Sewenang-wenang

1. Konsinyasi dalam Pengadaan Tanah adalah


Kesewenang-wenangan dan Sebagai Perbuatan Melawan
Hukum

Setelah berlakunya Peraturan Presiden Nomor 36 tahun


2005, dimulai babak baru dalam rangka perolehan tanah bagi
pembangunan untuk kepentingan umum dengan adanya penerapan
lembaga konsinyasi. Pasal 10 Peraturan Presiden Nomor 36 tahun
2005, menetapkan penerapan konsinyasi sebagai berikut:

3 Garis tebal oleh penulis sendiri dimaksudkan untuk memberikan penekanan terhadap
istilah yang dipergunakan dalam nonna hukum yang berlaku.
Perihal Pengaturan Ganti Kerugian Tanah untuk Pembangunan. Suparjo 75

(1) Dalam hal kegiatan pembangunan untuk kepentingan umum


yang tidak dapat dialihkan atau dipindahkan, secara tektIis
tata ruang ke tempat atau lokasi lain, maka musyawarah
dilakukan dalam jangka waktu paling lama 90 haJ-i kalender
terhitung sejak tanggal undangan pertama.
(2) Apabila setelah diadakan musyawarah. sebagaimana
dimaksud pada ayat (I) tidak tercapai kesepakatan, panitia
pengadaan tanah menetapkan bentuk dan besamya ganti rugi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dan menitipkan ganti
rugi uang kepada pengadilan negeri yang wilayah hukurnnya
meliputi lokasi tanah yang bersangkutan.
(3) Apabila terjadi sengketa kepemilikan setelah penetapan ganti
rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), maka panitia
menitipkan uang ganti rugi kepada pengadilan negeri yang,
wilayah hukumnya meliputi lokasi tanah yang bersangkutan.

Kemudian Peraturan Presiden Nomor 36 tahun 2005 angka 8.


Ketentuan Pasal 10 ayat (I) dan ayat (2) diubah, sehingga Pasal
10 berbunyi sebagai berikut:
PasalJO:
(J) Dalam hal kegialan pembangunan untuk kepenlingan
umum yang tidak dapat dialihkan atau dipindahkan
secara teknis tala mang kelempal atau lakasi lain. maka
musyawarah dilakukan dalam jangka waktu paling
lama 120 (seratus duapu1uh) hari kalender terhitung
sejak tanggal undangan pertama.
(2) Apabila selelah diadakan musyawarah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) tidak tercapai kesepakatan,
panitia pengadaan tanah menetapkan besarnya ganti
rugi sebagaimana dimaksud dalam Pasal J3 huruf a
dan menitipkan ganti rugi uang kepada pengadilan
negeri yang wilayah hukumnya melipuli lakasi tanah
yang bersangkutan.
(3) Apabila terjadi sengketa kepemilikan setelah penelapan
ganli rugi sebagaimana dimaksud pada ayal (2). maka
panilia menilipkan uang ganti rugi kepada pengadi/an
negeri.

Penerapan konsinyasi tersebut selanjutuya di uraikan


kembali di dalam ketentuan Pasal 48 Peraturan Kepala BPN No 3
Tahun 2007, sebagai berikut:
76 Jurna/ Hukum dan Pembangunan Edisi Khusus Dies Nata/is 85 Tahun FHUI

(1) Panitia Pengadaan Tanah Kabupalen/Kola


memerinlahkan kepada inslansi pemerinlah yang
memerlukan lanah unluk menilipkan ganli rugi uang ke
pengadilan negeri yang wilayah hukumnya melipuli
lelak tanah bagi pelaksanaan pembangunan dalam hal:
a. yang berhak atas ganti rugi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 43 ayat (1) tidak diketahui
keberadaannya;
b. tanah, bangunan, tanaman dan/atau benda-benda
lain yang berkaitan dengan tanah, sedang
menjadi obyek perkara di pengadilan dan belum
memperoleh putusan pengadilan yang
mempunyai kekuatan hukum tetap;
c. masih dipersengkelakan kepemilikannya dan
belum ada kesepakatan penyelesaian dari para
pihak; dan
d. lanah, bangunan, tanaman dan/atau benda-benda
lain yang berkaitan dengan tanah, sedang
diletakkan sita oleh pihak yang berwenang.
(2) Untuk dapat menitipkan ganti rugi sebagaimana
dimaksud pada ayat (/) dan Pasal 37 ayat (4), instansi
pemerintah yang memerlukan tanah mengajukan
permohonan penetapan kepada Ketua Pengadilan
Negeri yang wilayah hukumnya meliputi letak tanah
bagi pelaksanaan pembangunan.
(3) Permohonan penetapan penitipan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), dengan melampirkan :
a. nama yang berhak atas ganti rugi yang ganti
ruginya dititipkan;
b. undangan penerimaan pembayaran ganti rugi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2);
dan
c. surat-surat :
1) Berila Acara Penyerahan Ganti Rugi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat
(2) atau ayat (3);
2) Berita Acara Hasil Pelaksanaan
Musyawarah Lokasi Pembangunan Untuk
Kepentingan Umum dan Penelapan Bentuk
Perihal Pengaturan Ganti Kerugian Tanah untuk Pembangunan, Suparjo 77

danlatau Besarnya Ganti Rug; sebagaimana


dimaksud dalam Pasa138.
3) Keputusan BupatiIWalikata atau Gubemur
atau Menteri Dalam Negeri sebagaimana
dimaksud dalam Pasal41 ayat (2), ayat (3),
ayat (4) dan ayat (7);
4) Keterangan dan alasan hukum penitipan
ganti rug;; dan
5) Surat-surat lain yang berhubungan dengan
penitipan ganti rugi.

Terbadap penerapan konsinyasi ini mendapatkan kritik dari


dua guru besar temama di republic ini, yaitu Boedi Harsono dan
Maria Soemardjono. Keduanya berpendapat adanya kekeliruan
penerapan konsinyasi (penitipan di pengadilan) terhadap uang
ganli rugi yang belum disepakali, berdasarkan ketentuan-
ketentuan di atas.
Boedi Harsono, menyatakan bawha sehubungan dengan
adanya kebutuhan perolehan tanah dalam keadaan biasa, tidak
dibenarkan adanya paksaan dalam bentuk apapun dan oleh pihak
manapun kepada pemegang haknya untuk menyerahkan tanah
kepunyaannya dan alau menerima imbalan yang tidak (belum)
disetujuinya, termasuk juga penerapan lembaga penawaran
pembayaran yang diikuti dengan konsinyasi pada pengadilan
negeri seperti yang diatur di dalam Pasal 1404 KUH-Perdata4
Maria Soemardjono, menyatakan masalah penitipan uang
ganti kerugian kepada Pengadilan Negeri (PN) bila lokasi
pembangunan tidak dapat dipindahkan, namun musyawarah tidak
mencapai hasil setelah berIangsung 120 hari kalender
(sebelumnya 90 hari) dalam Pasal 10. PerIu ditegaskan, penerapan
lembaga penawaran pembayaran yang diikuti dengan penitipan
pada PN yang diatur dalam Pasal 1404 KUH Perdata keliru
diterapkan dalam perpres ini.'
Penjelasan terhadap kritik tersebut dapat dijelaskan dengan
penjelasan mengenai asal muasal alau eksistensi keberadaan

4 Boedi Harsono. "Hukum Agraria Indonesia:Sejarah pembentukkan UUPA, isi dan


Pelaksanaannya, jilid 1 Hukum Tanah Nasional", (Jakarta: Djambatan, 2003), hal. 346.

S Lihat dalam situs: <http://www.unisosdem.orgiekopol_detail.php?aid=6447&


coid~3&caid~21>.
78 Jurnaf Hukum dan Pembangunan Edisi Khusus Dies Natalis 85 Tahun FHUf

konsinyasi tersebut. Pengaturan konsinyasi dalam Pasal 1404


sampai Pasal 1412 KUHPerdata. Konsinyasi yang dimaksud
dalam KUH Perdata adalah penitipan yang dilakukan di kantor
panitera pengadilan negeri dalam hal tata eara pembayaran yang
dilakukan oleh debitur, dikarenakan kreditur tidak mau menerima
pembayaran debitur. Penolakan kreditur menerima pembayaran
oleh debitur terse but, ada kalanya bermotif meneari keuntungan
yang lebih besar. sesuai Pasal 1404 KUH Perdata. Adapun isi dari
pasal 1404 tersebut adalah: Jika si berpiutang menolak
pembayaran, maka si berhutang dapat melakukan penawaran
pembayaran tunai apa yang diutangkannya, dan, jika si berpiutang
menolaknya, menitipkan uang atau barangnya kepada pengadilan.
Penawaran yang sedemikian, diikuti dengan pemttpan,
membebaskan si berhutang, dan berlaku baginya sebagai
pembayaran, asal penawaran itu telah dilakukan dengan eara
menurut undang - undang; sedangkan apa yang dititipkan seeara
itu tetap atas tanggungan si berpiutang.
Dari uraian mengenai konsinyasi tersebut yang di dalam
KUH-Perdata termasuk dalam bukum ketiga tentang perikatan.
Adapun salah satu bentuk perikatan adalah timbul atau terbit dari
perjanjian yang merupakan wujud kesepakatan para pihak.
Konsinyasi merupakan salah satu bentuk hapusnya perikatan.
Dengan demikian setiap konsinyasi harus didahului adanya
perikatan. Padahal penerapan konsinyasi berdasarkan Prepres
Nomor 65 tahun 2006 tersebut tidak ada perikatan antara pihak
yang akan melepaskan dengan pihak yang akan dilepaskan haknya
dan konsinyasi hanya dapat dikatakan sah apabila ada penetapan
dari PN. Konsinyasi ala Perpres 36/2005 merupakan konsinyasi
model baru yang tidak melindungi zaaken recht pemegang hak
atas tanah yang sah karena mengandung unsur pemaksaan dan
seeara hukum termasuk tindakan yang sewenang-wenang sebagai
perbuatan melanggar hukum (onrechtmatigheids oversdaad) ,
pejabat pemerintah yang duduk di dalam Panitia Pengadaan
Tanah.

2. Konsinyasi Tidak DikenallKelirn dalam Pengelolaan


APBN
Selain tidak dapat dibenarkan seeara hokum berdasarkan
penjelasan di atas, bahkan penerapan konsinyasi dalam pengadaan
tanah yang menggunakan dana APBN temyata tidak dikenal
Perihal Pengaturan Ganti Kerugian Tanah untuk Pembangunan, Suparjo 79

sehingga tidak dibenarkan penerapannya. Pemahaman ini seperti


yang ditulis oleh Ujang Bahar di dalam Jumal Hukum dan
Pembangunan · Fakultas Hukum UI. Dalam tulisannya Ujang
Bahar menegaskan bahwa cara pembayaran atau pengeluaran
belanja Negara oleh KPPN dilakukan dengan dua cara, yaitu:
I. Melalui Uang Persediaan (UP) sebagai uang muka kerja
yang dibayarkan kepada bendahara pengeluaran (BP) pada
instansi/lembaga yang menguasai anggaran;
2. Melalui pembayaran langsung (LS), kepada pihak ketiga
yang berhak atas tagihan kepada Negara.

Dalam kasus pembebasan tanah untuk kepentingan umum


dilakukan oleh KPPN selaku kuasa Bendahara Umum Negara
(BUN) langsung kepada pemegang hak atas tanah sepengetahuan
Panitia Pengadaan Tanah (PPT) dengan cara mengkredit rekening
pemegang hak atas tanah pada bank yang ditunjuk dengan syarat
setelah tanah yang dibebaskan jelas statusnya,tidak sengketa dan
tidak sedang dijaminkan.
Juga adanya kejelasan keabsahan status pemegang hak.
Dalam hal demikian maka Menteri keuangan selaku BUN hanya
akan melakukan pembayaran ganti rugi atas pengadaan tanah
yang telah dilakukan setelah status clearance (dalam bahasa
hukum: legal-resmi-sah). Ujang Bahar kemudian menegaskan
oleh karenanya tidak mungkin terjadi penitipan (konsinyasi) uang
ganti kerugian ke pengadilan negeri, karena memang uang
tersebut tidak berada di tangan Bendahara Pengeluaran (BP) dari
instansi pemerintah yang memerlukan dan melakukan pengadaan
tanah juga tidak di tangan PPT itu sendiri. 6
Jadi dengan demikian secara mendasar dari aspek
pengeluaran dan penggunaan anggaran (APBN) penerapan
konsinyasi jelas bertentangan, atau menyalahi ketentuan dan tidak
selaras dengan prosedur cara pembayaran atau pengeluaran
belanja Negara oleh KPPN.

6 SeJengkapnya Jihat Ujang Babar, Permasalahan Pembayaran ganli rugi


Pengadaan Tanah bgi Pelaksanaan Pemhangunan untuk Kepantingan Umum, JumaI Hukum
dan Pembangunan No.1 Tabun ke-38, Januari 2008, hal. 122-147.
80 Jurnal Hukum dan Pembangunan Edisi Khusus Dies Natalis 85 Tahun FHUI

III. Beberapa Contob Praktek Pemberian Ganti Kerugian Dalam


Rangka Peroleban Tanah (Kesalahan Penafsiran Peraturan)

Pad a bagian sebelumnya telah diuraikan masalah pemberian ganti rugi


dan penerapan konsinyasi yang kurang tepat atau tidak berdasar hukum.
Oalam bag ian ini akan diuraikan beberapa permasalahan yang aktual dalam
rangka pembebasan tanah yang diambil dari kasus-kasus penting yang terjadi
yang sudah ada putusan pengadilan maupun yang masih dalam proses
penyelesaian. Tentu saja ada kaitan dengan masalah dalam tataran normatif
yang telah diuraikan sebelumnya. Adapun masalah-masalah tersebut dapat
dilihat dalam uraian berikut ini.

A. Musyawarab yang Tidak Sukses dalam Tabapan Pengadaan


Tanab'

1. Musyawarab Buntu:Ganti Rugi Tanab TPA Cigedig


Desa Sarimukti

Musyawarah penentuan harga 4 hektar tanah yang terkena


longsoran dari TP A Cigedig Oesa Sarimukti, Kamis (27/9),
menemui jalan buntu. Warya pemilik 25 kaveling keukeuh
mematok Rp.50.000,00/meter, sedangkan PO Kebersihan Kota
Bandung dan Pemkot Cimahi bertahan Rp.20.000,00/meter2
Musyawarah yang difasilitasi Panitia Pengadaan Tanah untuk
Kepentingan Vmum Kab. Bandung itu berjalan dalam tiga sesi.
Pada sesi pertama, warga menginginkan harga Rp.IOO.OOO,OOI
meter2. Harga ini dinilai terlalu tinggi. PO Kebersihan, melalui
Oirektur Vmum, Nana Maulana, menawar jadi Rp.IO.OOO,OO.
Bagaimanapun, kami terikat kepada Peraturan Presiden No.
65/2006. Soal barga, kami berpatokan kepada nilai jual objek
pajak (NJOP) dan barga senyatanya (pasaran), ungkap Nana
Maulana, Oirektur Vmum PO Kebersihan Kota Bandung.
Nana melanjutkan, harga terse but berdasarkan surat
keterangan dari Kepala Oesa Sarimukti, bahwa NJOP lanah paling
di Blok Cipandawuhan senilai Rp.IO.OOO,OO.Sementara, harga
pasaran tanah di sana berada di kisaran Rp 20.000,00 hingga
Rp.25.000,00. Pada sesi kedua, warga mengajukan harga
Rp.50.000,00/mete? Nilai ini pun masih dinilai terlalu tinggi.

7 Sumber berita: <htlp:/lbandungkab.go.id/index.php?option=com_ content&task=


view&id=934&Itemid=22>, diakses tanggal 28 September 2007.
Per;ha/ Pengaturan Gant; Kerug;an Tanah untuk Pembangunan. Suparjo 81

Nana lalu mengutip akta jual-beli tanah di blok tersebut yang


terjadi pada 6 Agustus 2007 lalu.Ada warga yang menjual tanah
seluas 812 mete? sebesar Rp 11,6 juta. Jadi, harga semetemya
Rp.14.300,00.
Musyawarah sempat diskors selama 5 menit untuk
memberikan kesempatan kedua pihak untuk berdiskusi. Rupanya,
warga tetap bertahan di angka Rp.50.000,00. Kalau di bawah itu,
lebih baik kembalikan lahan kami menjadi sawah. Di lain pihak,
PD Kebersihan dan Pemkot Cimahi juga enggan membeli dengan
harga jauh di atas NJOP dan harga pasaran.Kami hanya sampai
pada harga pasaran, sebagaimana keterangan dari kades, yakni
Rp20.000,00/meter2 ,ungkap Nana, diamini Sumardjito, Kepala
Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi. Hingga acara diakhiri,
musyawarah tak menghasilkan kala sepakat

2. Musyawarah Macet: Batas Waktu Warga yang Terkena


Pembebasan, Ambil Uang Konsinyasi di PN Surabaya 8

Selasa, 13 Januari 2009 adalah deadline bagi lima warga


yang terkena pembebasan tanah di akses jalan menuju jembatan
Suramadu untuk mengambil uang konsinyasi di Pengadilan
Negeri (PN) Surabaya. Deadline itu juga untuk berlaku dua warga
yang terkena akses MERR II-A di Jalan Kenjeran. Jika hari ini
mereka tak membongkar rumahnya, pemkot dan Polres Surabaya
Timur akan mengambil alih pembongkaran. Hingga kemarin,
belum satu pun dari lima warga Kedung Cowek yang
membongkar bangunannya. Mereka masih kukuh bertahan
menolak pembebasan lahan. Rumah dua warga di Jalan Kenjeran
yang untuk akses MERR II-A juga masih berdiri. Sundari, salah
seorang warga, kemarin mengaku sudah menggugat lewat jalur
PTUN soal eksekusi itu. Tak hanya itu, dia bersama suami juga
mengadu ke Komisi A DPRD Jatim. Komisi A siap turun
membantu saat eksekusi dilakukan.
Sundari mengatakan, bokan tanpa aIasan dia menolak
eksekusi itu. Sebab, sesuai kesepakatan awal pada 2003, dia
dijanjikan mendapat ganti rugi Rp.4 juta per meter untuk ganti
tanah dan bangunan. Ketika itu Sundari sempat menerima DP
(down payment atau uang muka, Red) Rp.1O juta. Namun, tiba-
tiba dia mendapat surat pemberitahuan agar mengambil uang

8 Sumber: <http://www.jawapos.co.idlmetropolislindex.php?act=detail&nid=46 J00>.


82 )urna/ Hukum dan Pembangunan Edisi Khusus Dies Nata/is 85 Tahun FHU/

konsinyasi ke PN. Narnun pengambilan dana kompensasi antara


pembebasan tanah dan bangunan tidak sarna. Untuk konsinyasi
bangunan diambil di PN. Harga rumahnya dinilai Rp.ll6 juta
sedangkan, ganti rugi tanah tidak melalui konsinyasi dan bisa
diarnbil di pemkot. Per meter tanahnya dihargai Rp.2,2 juta
dengan alasan, tanah Sundari sedang bermasalah. Pemkot bilang
tanah Sundari sedang digugat kakaknya. Kakak Sundari
sebenarnya tidak menggugat maka, Sundari bertekad
mempertahankan tanah dan rumahnya hingga titik akhir.
Asisten II Sekkota Barata Fandi Sutadi mengakui bahwa
pihaknya telah mengirim surat pemberitahuan kepada lima warga
di Ialan Kedung Cowek maupun dua warga di Ialan Kenjeran.
Surat pemberitahuan tertanggal 9 Ianuari itu berisi imbauan agar
warga segera mengambil uang konsinyasi ke PN, paling lambat
hari ini. Setelah itu diharapkan warga segera membongkar sendiri
bangunannya. Iika warga menolak pengajuan konsinyasi, pemkot
dan Polresta Surabaya Timur akan mengeksekusi bangunan
warga.Eksekusi dua rumah di jalan Kenjeran sebagai akses MERR
II-A dilakukan. Sedangkan eksekusi lima rumah untuk akses
Surarnadu dilakukan Karnis (IS januari 2009). Sutadi berpendapat
bahwa eksekusi itu sudah sesuai Perpres No 36 Tahun 2005.
Menurut Sutadi aturan konsinyasi memang diperbolehkan
dan jika terjadi penolakan, negara diperbolehkan mengeksekusi
bangunan warga. Pemkot sudah berkoordinasi dengan kepolisian
karena yang dilakukan sudah sesuai prosedur. Iika tidak, baik
pengadilan maupun pihak kepolisian tidak mendukung langkah
pemkot.
Di tempat terpisah, warga pemilik lahan sisa akses Suramadu
terus berusaha melawan rencana konsinyasi itu. Mereka telah
mendatangi gedung DPRD Jatim. Dalam pertemuan itu, mereka
ditemui beberapa anggota Komisi A. Para pemilik lahan ini
mempertanyakan prosedur konsinyasi yang mereka anggap tidak
transparan. Mereka meminta agar anggota dewan untuk
mengetahui masalah ini seperti yang diminta oleh M. Yunus, salah
satu pemilik lahan.
Perihal Pengaturan Ganti Kerugian Tanah untuk Pembangunan, Suparjo 83

3. Proyek Tol Cijago: P2T Diharapkan Lakukan


Pendekatan Kekeluargaan (Kesampingkan
KONSINY ASI)9

Setelah memberikan Surat Keputusan (SK) kepada pengurus


Panitia Pengadaan Tanah (P2T) yang bam, wali kota dan wakil
wali kota Depok, selaku penanggung jawab P2T berharap
pengurus P2T segera melakukan pendekatan yang persuasif
kepada warga yang tanahnya terkena jalur Tol Cinere-Jagorawi
(Cijago). Pengurus P2T baru segera melakukan pendekatan
kepada warga. Pen gurus P2T yang baru tersebut mengacu kepada
Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3/2007
tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Presiden No 36/2005
Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk
Kepentingan Umum. Pengurus P2T yang baru sudah menerima
SK wali kota tertanggal 12 September 2007, dengan Nomor:
821.29/209IKpts/Pem.OtdaIHukl2007, dengan ketua P2T dijabat
oleh Sekda Kota Depok, dan sekretarisnya dijabat oleh Kepala
Seksi Sengketa Konflik dan Perkara BPN Kota Depok.Yuyun
Wirasaputra mengatakan, pendekatan secara kekeluargaan, adalah
langkah bagus untuk mencari solusi kesepakatan harga ganti rugi
tol Cijago.Pengurus P2T yang bam, kata dia, hendaknya dapat
secepat mungkin melakukan dialog-dialog sebelum ada pertemuan
musyawarah antara TPT (Tim Pembebasan Tanah) PU pusat.
Forum dialog-dialog dengan beberapa warga di wilayah
Cimanggis sangat tepat sebelum ada pertemuan dengan TPT.
Dengan begitu, kata dia, warga akan mengerti dan mau
mengikuti musyawarah. Sehingga ada titik temu, kemudian warga
segera menerima ganti rugi tanah, bangunan dan tanaman
miliknya.Sementara itu, Walikota Depok, Nurmahmudi Ismail,
yakin dalam musyawarah ganti rugi tol Cijago di wilayah
Cimanggis akan ada kesepakatan. Nurmahmudi optimis pada
musyawarah ketiga dengan warga ada kesepakatan harga, karena
kondisi saat ini sangat kondusif. Yang menerima uang ganti rugi
rumah dan tanah itukan warga. Karena itu, walikota
menginginkan kepada warga yang lahannya terkena gusur untuk
proyek jalan tol menyepakati harga ganti rugi yang diberikan
TPT. Walikota menegaskan, dengan itu, TPT tidak akan

• Sumber: <http://www.gatra.coml2007-09-24/artike l.php?id~107976>. diakses tanggal.


21 September 2007.
84 Jurnal Hukum dan Pembangunan Edisi Khusus Dies Natalis 85 Tahun FHUI

mengambil langkah konsinyasi Galur hukum Pengadilan Negeri


Depok). TPT tidak menginginkan adanya konsinyansi, lewat
musyawarah lebih diutamakan. Jika melalui konsinyansi atau
menaruh uangnya di Pengadilan Negeri Depok, maka muncul
masalah di mana warga mengambil uang ganti rugi di sana sesuai
dengan prosedur yang telah ditetapkan.

B. Kasus Korupsi dalam Pembebasan Tanah

Dalam perkembangan terakhir dalam pembebasan tanah


telah pula menimbulkan kasus korupsi yang terjadi. Hal itu sejalan
dengan semakin meningkatnya kinerja KPK dalam upaya
memberantas praktek-praktek korupsi. Untuk memperjelas
masalah ini berikut ini diuraikan beberapa kasus:

1. Mantan Wakil Gubernur NTB, Diajukan ke Persidangau


sebagai Terdakwa Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan
Tanah 10

Pad a tanggal II Maret yang lalu Terdakwa yang saat itu


menjabat sebagai Sekda dan PIt Bupati Sumbawa sekaligus ketua
panitia pengadaan tanah menerbitkan surat keputusan Bupati
Sumbawa No. 1397.a. Th.2001 tertanggal 6 Nopember 2001
tentang penetapan lokasi pengadaan tanah cadangan untuk
keperluan pemerintah Kabupaten Sumbawa, dan menetapkan
lokasinya di Kelurahan Seketeng (sekarang Uma Sima) seluas
20.000 meter persegi (2 Ha), sesuai dengan tanah yang ditawarkan
saksi Lala Intan Gemala (yang juga sudah menjadi terdakwa
dalam kasus yang sama).
Selanjutnya tanpa diadakan penelitian dan inventarisir atas
tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda lain yang ada
kaitannya dengan tanah yang hak atasnya akan dilepaskan dan
status hukumnya serta tanpa mengadakan musyawarah dengan
para pemegang hak atas tanah (saksi M Faried Wadjedi) dan
instansi pemerintah yang memerlukan tanah, terdakwa selaku
ketua panitia menerbitkan surat keputusan panitia pengadaan
tanah Kabupaten Sumbawa No. 580.1/38/PPT/2001 tertanggal 7
Nopember 200 I. Surat ini tentang penetapan besarnya uang ganti

10 JPU Ni/ai Perbuatan Bonyo Merugiko.n Negara, Gaung NTB, II Maret, 2009.
Peri hal Pengaturan Ganti Kerugian Tanah untuk Pembangunan, Suparjo 85

kerugian tanah seluas 2 Ha seharga Rp,525 juta. Jaksa


menjelaskan bahwa dalam surat pertimbangan surat keputusan itu
pada poin b, penetapan harga tersebut seolah-olah telah dilakukan
musyawarah dengan pemilik tanah, melakukan pengukuran dan
menginventarisir status tanah, pemilik/penguasaan tanab sew
tanaman tumbuh atau benda-benda lain yang ada di atasnya.
Padahal kenyataannya hal itu tidak pemah dilakukan.
surat keputusan yang ditandatangani terdakwa tersebut
kemudian dijadikan dasar oleh Pimpro M Eodang Ariyanto
melakukan pembayaran tanah dengan menstransfer dana Rp 525
juta ke rekening atas nama Lala Intan Gemala meski bukan
sebagai pemilik tanah. Karenanya perbuatan terdakwa bersama
Endang dan Lala lntan, telah mengakibatkan kerugian Neg;ua
sebesar Rp 395 juta kelebihan dari harga sebenamya Rp no juta
dari anggaran Rp 525 juta.Terdakwa diancam pidana dalam pasal
2 ayat (I) jo pasal 17 jo pasal J0 UU No. 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 5S ayat (1) ke-l
KUHP.

2. Indikasi Korupsi Pengadaan Lahan PLTU 2 Bante..


Menguat"

Indikasi korupsi itu menguat karena I 1 orang pemilik awal


lahan PLTV 2 Banten mengaku j ika tanah mereka yang rata-rata
. Iuasnya 1.000 m2 hanya dihargai Rp 15 ribulmeter persegi.
Padahal, PLN sebagai pengguna lahan melalui panitia pengadaan
tanah telah menetapkan standar harga beli tanah senilai Rp 51
ribulmeter persegi. Hal ini, teJjadi karena panitia pengadaan laban
membeli tanah bukan pada pemilik awal tanah, tetapi pada para
spekulan alias calo tanah yang sudah berkeliaran begitu lokasi di
Desa Sukamaju ditetapkan sebagai lokasi PLTU 2 Banten.
Apalagi dalam BAP, warga mengaku, speknlan yang
mayoritasnya berasal dari oknum pemerintahan telah
membohongi mereka dengan mengatakan lahan tersebut
dibebaskan karena hendak dibuat tambak udang. tambak ikan lete,
dan peternakan katak. Selain itu, penyelewengan dalarn kasllS
pengalihan lahan PLTU 2 Banten teJjadi karena proses juaI beli

II Sumber berita: Republika, 23 Oktober 2007 daJam situs:


<http://www.radarbanten.comlmod. php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=39319>~
diakses tanggal 20-Maret-2009.
86 Jurnal Hukum dan Pembangunan Edisi Khusus Dies Natalis 85 Tahun FHUI

lahannya hanya didasari Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan


(SPPT), bukan AJB atau sertifikat. Akibatnya, banyak pemilik sah
lahan yang semestinya mendapatkan ganti rugi layak malah tidak
dapat apa-apa. Atas pembuatan BAP lanjutan itu, tercatat 50
warga pemilik awal lahan PLTU 2 Banten telah dimintai
keterangan . Setelah membuat BAP, tim Intelijen Kejati Banten
akan meminta bantuan kepada tim teknis dari Badan Pertananan
Nasional (BPN) Pandeglang untuk meneliti riwayat tanah.

3. Kasus Korupsi Pengadaan Tanah Seluas 6 (enam)


Hektare Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten)
Disidangkan 12

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) mulai
menggelar persidangan kasus pengadaan tanah seluas enam
hektare pada Proyek Peningkatan Kelembagaan dan Sarana (PKS)
Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten). Dua terdakwa
diajukan dalam kasus pengadaan pada 2004 ini. Mereka adalah
pimpinan proyek, Sugiyo Prasojo; dan Kepala Biro Umum
Bapeten, Abdul Salam. Kerugian negara diperkirakan mencapai
Rp.9,415 miliar. Kedua terdakwa dijerat dengan dakwaan
berlapis. Salah satu dakwaan adalah suap kepada anggota Komisi
VII DPR saat itu.
Perbuatan kedua terdakwa merugikan negara cq Bapeten
Rp.9,415 miliar. Dalam dakwaannya Sarjono mengatakan Sugiyo
telah diperkaya Rp.386,091 juta dan Abdul Salam diperkaya
Rp.3,738 miliar. Selebihnya, dengan nominal antara Rp.15 juta
hingga Rp.I ,643 miliar, dibagikan pada 16 orang lain dari
Bapeten, dan saksi lain termasuk dari Badan Pertanahan Nasional
(BPN).
Kerugian negara Rp.9,415 miliar ini bermula dari proyek
pengadaan tanah untuk lokasi pembangunan gedung pusdiklat
Bapeten. Pengadaan lahan itu mendapatkan alokasi dana dari
Anggaran Biaya Tambahan (ABT) 2004 Bapeten sejumlah Rp 19
miliar. Menurut PU, Sugiyo telah mengabaikan keputusan
Presiden Nomor 5511993 tentang tata cara pengadaan tanah bagi
pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum. Sarjono
menambahkan, Sugiyo sebagai Pimpro PKS Bapeten dan Abdul

12 Sumber berita: <http://www.kpk.go.idimodulesinewslarticie.php?storyid=2409>.


diakses tanggal 23 Oktober 2007.
Per;hal Pengaturan Gant; Kerug;an Tanah untuk Pembangunan, Suparjo 87

Salam menunjuk Direktur PT Hoemar, Midi Wiyono, untuk


mencari tanah seluas enam hektare guna lokasi pembangunan
gedung Pusdiklat tersebut. Kedua terdakwa, lanjut JPU, Sarjono,
terus mendesak Midi W iyono untuk segera mendapatkan tanah
bagi proyek PKS Bapeten, padahal pada saat itu anggaran belum
tersedia.
Karena desakan tersebut, Midi Wiyono dan seorang
perantara Jejen laenudin menemui saksi Indriawan Lubis pemilik
tanah di Cisarua yang menawarkan tanah seharga Rp.250 ribu per
meter persegi. Tetapi, Midi Wiyono diperintahkan kedua terdakwa
untuk segera menyiapkan surat keterangan harga pasaran tanah.
Surat keterangan itu mencantumkan harga tanah adalah Rp.400
ribu per meter persegi. Padahal, kata PU, kedua terdakwa
mengetahui harga pasaran tanah sekitar lokasi itu adalah Rp. I 70
ribu per meter persegi. Pada Oktober 2004 kedua terdakwa
bertemu dengan Midi Wiyono, notaris, dan kuasa penjual dari
pemilik tanah Fenny Sulifadarti, dan bendaharawan proyek PKS,
Muhiddin.
Uang yang dibayarkan kepada tiga pemilik lahan beserta
biaya administrasinya hanyalah Rp.IO,563 miliar. Selebihnya,
dinikmati kedua terdakwa dan 16 orang lain. Di antara 16 nama
itu, Fenny mendapatkan Rp.l ,643 miliar, dan Midi memperoleh
Rp. 710 juta. Kepala Bapeten saat itu, Azhar Djaloeis,disebutkan
juga menerima Rp.500 juta.

IV. Penutup

Dari penjelasan yang telah diuraikan diatas maka sebagai penutup


dapat disimpulkan beberapa hal penting dalam permasalahan pemberian
ganti kerugian dalam rangka pengadaan tanah untuk kepentingan umum :
I. Masih terjadi ketidakpastian hukum mengenai pengaturan
pemberian ganti kerugian dalam rangka pengadaan tanah untuk
kepentingan umum terkait dengan tahapan perolehan tanah.
Peraturan yang ada masih memiliki celah lebar bagi kesewenang-
wenangan dan bersifat melawan hukum.
2. Timbulnya kesewenang-wenangan dalam rangka pemberian ganti
kerugian pengadaan tanah untuk kepentingan umum, telah
menimbulkan praktek-praktek korupsi yang terjadi di banyak
tempat, yang sebaiknya menjadi perhatian semua pihak yang
terlibat dan memiliki tugas dan peranan dalam pengadaan tanah.
88 )urna/ Hukum dan Pembangunan Edisi Khusus Dies Natalis 85 Tahun FHU/

Dalam bagian penutup ini kiranya dapat diberikan beberapa usulan


rekomendasi sebagai solusi untuk menghindari timbulnya permasalahan
dalam rangka pengadaan tanah untuk kepentingan umum:
I. Dalam rangka menegakkan hukum dan memberikan kepastian
hukum maka praktek penerapan konsinyasi sebaiknya dihentikan,
sebagaimana dicontohkan oleh walikota depok dalam kasus
pembebasan tanah untuk ruas jalan tol CIJAGO. Hal itu dianggap
tidak tepat jika pendekatan yang lebih adil, kekeluargaan masih
dapat di lakukan.
2. Dalam rangka menengahi ataupun menyelesaikan permasalahan
kemacetan dalam musyawarah penetapan ganti kerugian,
sebaiknya dilibatkan pengadilan. Hal itu mengingat pada dasarnya
telah terjadi sengketa yang terlihat dari tidak tercapainya mufakat
atau kesepakatan dalam musyawarab.Pengadilan lab satu-satunya
aternatif logis dalam sistem hukum Indonesia secara ideal dalam
menyelesaikan sengketa dan tidak terjebak pada aturan yang tidak
memiliki legitimasi secara hukum. Praktek semacam ini banyak
diterapkan di Negara-negara lain seperti Jepang, Taiwan, Amerika
Serikat. Pertimhangan lainnya adalab untuk mencegah tindakan
sewenang-wenang yang menimbulkan praktek korupsi dalam
rangka pengadaan tanah.
Dari berbagai contoh yang diuraikan dalam makalah ini kiranya patut
menjadi renungan demi terciptanya kemakmuran sebesar-besarnya rakyat
Indonesia melalui keluhuran budi para penyelenggara Negara seperti yang
pernab dimuat di dalam penjelasan UUD RI tahun 1945. Hal itu didasarkan
adanya kesadaran adanya kelemahan peraturan yang dibuat manusia,
sehingga Soepomo waktu itu mengusulkan redaksi Penj elasan UUD yang
lebih mementingkan keluhuran budi penyelenggara Negara ketimbang isi
UUD yang tidak sempurna.
Perihal Penga!uran Gan!i Kerugian Tanah untuk Pembangunan, Suparjo 89

Sumber Referensi

Bahar, Ujang. "Permasalahan Pembayaran ganti rugi Pengadaan Tanah bgi


Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepantingan Umum ", Jurnal
Hukum dan Pembangunan, No.1 Tahun ke-38, Januari 2008: 122-147.
Harsono, Boedi. Hukum Agraria Indonesia:Sejarah pembentukkan UUPA, is i
dan Pelaksanaannya, jilid 1 Hukum Tanah Nasional, Jakarta:
Djambatan, 2003
Hutagalung, Arie Sukanti. "Konsepsi yang mendasari Penyempurnaan
Hukum Tanah Nasional ", Pidato Pengukuhan Guru Besar, Univers itas
Indonesia, Depok, Agustus 2003
<http://bandungkab .go. id/index.php?option=com_ content&task=view & id=9
34&Itemid=22>, diakses tanggal28 September 2007.
<http://www.gatra.com/2007-09-24/artikel.php?id=1 07976>, diakses tanggal
2 I September 2007.
<http://www.jawapos.co.idlmetropolis/index. php?act=detail&nid=461 00>,
diakses tanggal
<http://www.kpk.go.idlmodules/news/articie.php?storyid=2409> diakses
tanggal 23 Oktober 2007.
<http://www.unisosdem.orglekopol_detail.php?aid=644 7&coid=3&caid=21 >
Republika, 23 Oktober 2007 dalam situs: <http://www.radarbanten.com/
mod.php?mod=publisher&op=viewarticie&artid=39319>, diakses
tanggaI20-Maret-2009.
"JPU Nilai Perbuatan Bonyo Merugikan Negara", Gaung NTB II Maret,
2009.

Beri Nilai