Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kepatuhan merupakan fenomena multidimensi yang ditentukan oleh tujuh


dimensi, faktor terapi, faktor sistem kesehatan, faktor lingkungan, usia,
dukungan keluarga, motivasi pasien dan faktor sosial ekonomi. Diatas semua
faktor itu, diperlukan komitmen yang kuat dan koordinasi yang erat dari seluruh
pihak dalam mengembangkan pendekatan multidisiplin untuk menyelesaikan
permasalahan ketidak patuhan pasien ini. Kepatuhan yang rendah terhadap
obat yang diberikan dokter dapat meningkatkan risiko morbiditas, mortalitas dan
resistensi obat baik pada pasien maupun pada masyarakat luas. Banyak faktor
berhubungan dengan kepatuhan terhadap terapi pengobatan termasuk
karakteristik pasien, hubungan antara petugas pelayanan kesehatan dan pasien,
regimen terapi dan seting pelayanan kesehatan, selain itu umur, jenis kelamin,
motivasi pasien, suku/ras dan status ekonomi keluarga berhubungan dengan
kepatuhan pasien dibeberapa tempat di Indonesia (Purwanto, 2010).
Kekambuhan gangguan jiwa psikotik adalah munculnya kembali gejala-
gejala psikotik yang nyata. Angka kekambuhan secara positif hubungan dengan
beberapa kali masuk rumah sakit, lamanya dan perjalanan penyakit penderita-
penderita yang kambuh biasanya sebelum keluar dari rumah sakit mempunyai
karakteristik hiperaktif, tidak mau minum obat dan memiliki sedikit keterampilan
sosial (Hawari. D. 2013).
Ada beberapa hal yang bisa memicu kekambuhan pada pasien, antara
lain tidak patuh minum obat, tidak kontrol ke dokter secara teratur, menghentikan
sendiri obat tanpa persetujuan dari dokter, gaya hidup yang tidak sehat,
kurangnya dukungan dari keluarga, kurangnya pengetahuan pasien dan
keluarga tentang suatu penyakit serta adanya masalah kehidupan yang berat
yang dapat memicu kambuhnya suatu penyakit tersebut (Akbar, 2008).
Keluarga pada hakikatnya merupakan jalinan relasi anggota-anggotanya,
merupakan ruang hidup (holding and environment/potential space) bagi para
anggotanya. Dalam ruang hidup tersebut para anggota keluarga hidup,
berkembang dan berelasi satu sama lain. Peran keluarga sangat penting
terhadap pasien gangguan jiwa karena pasien gangguan jiwa sangat
memerlukan perhatian dari keluarganya. Keluarga merupakan sistem

1
pendukung utama yang memberikan perawatan langsung pada setiap keadaan
sehat maupun sakit pasien. Umumnya keluarga akan meminta bantuan tenaga
kesehatan jika mereka tidak sanggup lagi merawatnya. Apabila keluarga
memahami kebutuhan anggota keluarganya yang sakit maka keluarga akan
memberikan dukungan untuk melakukan pengobatan. Sebaliknya apabila
keluarga tidak memahami kebutuhan anggota keluarganya yang sakit, maka
akan memperburuk perjalanan gangguan jiwa karena pasien tidak mendapatkan
perhatian dan dukungan yang semestinya diberikan oleh keluarganya (Arif, I.S.
2006).
Menyadari akan pentingnya perawatan, maka kami mahasiswa program
profesi Ners Stikes CHMK akan mengadakan kegiatan penyuluhan tentang
peran keluarga tentang kepatuhan minum obat pasien di poli Rumah Sakit Jiwa
Bangli.

1.2 Tujuan
a. Tujuan umum
Setelah diberikan penyuluhan tentang kepatuhan pemberian obat selama 30
menit diharapkan keluarga mampu memahami hal- hal yang berkaitan
dengan kepatuhan dalam pemberian obat.
b. Tujuan Khusus
Setelah diberi penyuluhan/pendidikan kesehatan selama 30 menit
diharapkan sasaran dapat:
1. Menyebutkan pegertian kepatuhan minum obat
2. Menyebutkan manfaat obat
3. Menyebutkan akibat dari ketidakpatuhan minum obat
4. Menyebutkan 6 benar pemberian obat
5. Menyebutkan tanda-tanda kekambuhan
6. Menyebutkan tindakan yang dilakukan saat muncul tanda – tanda
kekambuhan
7. Menyebutkan peran keluarga dalam mengawasi minum obat.

BAB II
SATUAN ACARA PENYULUHAN DAN MATERI

2
2.1 SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Topik : Kepatuhan Minum Obat

Sasaran : Klien dan keluarga

Waktu : 10:00-10:30 WITA.

Tanggal : 16 April 2018

Tempat : Poli Jiwa RSJ- Bangli

2.1.1 Pokok Materi Penyuluhan


1. Pegertian kepatuhan minum obat
2. Manfaat obat dan tujuan minum obat
3. Akibat dari ketidakpatuhan minum obat
4. Prinsip 6 benar pemberian obat
5. Tanda-tanda kekambuhan
6. Tindakan yang dilakukan saat muncul tanda – tanda kekambuhan
7. Peran keluarga dalam mengawasi minum obat.

2.1.2 Pelaksanaan Kegiatan


1. Topik: Kepatuhan minum obat
2. Sasaran dan Target:
 Sasaran: Pengunjung poli RSJ Bangli
 Target : Keluarga pasien di poli RSJ
 Metode:
 Ceramah
 Tanya jawab
 Diskusi
 Media dan alat
 Leaflet dan poster
3. Waktu dan Tempat
 Hari/ tanggal : Senin, 16 April 2018
 Waktu : 10.00 WIB s.d 10.30 WIB
 Tempat : Ruang Tunggu Poli Jiwa RSJ Bangli
4. Pengorganisasian
a) Penanggung Jawab : Ns.Balbina A.Wawo, S.Kep.M.Kep.,Sp.KJ
b) Moderator : Desiana Brigida Anapah, S.Kep
c) Pemateri : Yulita Lobo, S.Kep
d) Observer : Vanessa Lede Lusi, S. Kep
e) Notulen : Debby H.A.Otta, S.Kep
f) Fasilitator : Emanuel Watorasak, S.Kep
Amanda Banepah, S.kep
Maria Rada, S.kep
Julen Sina, S. Kep
5. Tugas Pengorganisasian
a) Penanggung Jawab

3
Mengkoordinir persiapan dan pelaksanaan penyuluhan.
b) Moderator:
 Membuka acara
 Memperkenalkan mahasiswa
 Menjelaskan tujuan dan topik
 Menjelaskan kontrak waktu, bahasa, tata tertib penyuluhan
 Menyerahkan jalannya penyuluhan kepada pemateri
 Mengarahkan alur diskusi
 Memimpin jalannya diskusi
 Menutup acara
c) Pemateri
 Mempresentasikan materi untuk penyuluhan
d) Notulen
 Mencatat pertanyaan dan jawaban dari peserta
e) Fasilitator
 Memotivasi pasien untuk berperan aktif dalam jalannya
penyuluhan.
 Membantu dalam menanggapi pertanyaan dari pasien.
 Membuat presensi
f) Observer
 Mengamati proses pelaksanaan kegiatan dari awal sampai
akhir.
 Menyampaikan laporan hasil penyuluhan baik secara verbal
dan non verbal.
6. Setting Tempat: terlampir

2.1.3 Langkah-langkah kegiatan:

NO WAKTU KEGIATAN PENYULUHAN KEGIATAN


1. 5 menit Pembukaan:
 Menjawab Salam
 Memberi salam
 Mendengarkan dan
 Memperkenalkan anggota penyuluhan
memperhatikan
dan pembimbing
 Mendengarkan dan
 Menjelaskan kontrak, waktu, bahasa,
mengemukakakn pendapat
topik dan tujuan penyuluhan
2. 15 Pelaksanaan:
menit  Menggali pengetahuan tentang  Mengemukakan pendapat
kepatuhan minum obat
 Mendengarkan dan
 Menjelaskan pengertian kepatuhan
memperhatikan
minum obat
 Mengemukakan pendapat
 Menggali pengetahuan tentang
manfaat obat  Mendengarkan dan
 Menjelaskan tentang manfaat obat
memperhatikan

4
 Mengemukakan pendapat
 Menggali pengetahuan tentang akibat
 Mendengarkan dan
dari ketidakpatuhan minum obat
 Menjelaskan akibat dari memperhatikan
 Mengemukakan pendapat
ketidakpatuhan minum obat
 Menggali pengetahuan tentang 6
 Mendengarkan dan
benar pemberian obat
memperhatikan
 Menjelaskan tentang 6 benar
 Mengemukakan pendapat
pemberian obat
 Menggali kemampuan tentang tanda-  Mendengarkan dan
tanda kekambuhan memperhatikan
 Menjelaskan tanda- tanda
kekambuhan
 menjelaskan peran keluarga dalam
pengawasan minum obat
3 10 Sesi Tanya Jawab
menit  Mempersilahkan audience untuk  Mengajukan pertanyaan
bertanya/menanggapi pertanyaan
 Mendengarkan dan
 Menjawab pertanyaan
memperhatikan
4 5 menit Penutup
 Melakukan evaluasi  Menjawab pertanyaan
 Bersama audience menyimpulkan  Bersama moderator
materi penyuluhan menyimpulkan materi
penyuluhan
 Menutup penyuluhan dan memberikan
 Menjawab salam
salam.

2.1.4 Kriteria Evaluasi


1. Evaluasi Struktur:
a. Diharapkan jumlah peserta yang hadir sesuai dengan perencanaan (±10
peserta)
b. Diharapkan waktu dan tempat sesuai perencanaan
c. Diharapkan tugas dan peran mahasiswa sesuai perencanaan
d. Diharapkan media dan alat penyuluhan sesuai rencana
2. Evaluasi Proses
a. Diharapkan moderator dapat membuka dan menutup acara dengan baik
b. Diharapkan presenter dapat menguasai materi dengan baik
c. Diharapkan fasilitator berperan aktif dalam berjalan nya penyuluhan
d. Diharapkan peserta berperan aktif selama kegiatan
e. Diharapkan peserta mengikuti penyuluhan dari awal sampai akhir
f. Diharapkan peserta tidak ada yang meninggalkan tempat penyuluhan

5
3. Evaluasi Hasil
Diharapkan 80% Peserta mampu :
a. Menjelaskan dan Menyebutkan manfaat obat
b. Menyebutkan akibat dari ketidakpatuhan minum obat
c. Menyebutkan 6 benar pemberian obat
d. Menyebutkan tanda- tanda kekambuhan
2.2 MATERI
2.2.1 Pengertian kepatuhan Minum Obat
Perilaku pasien yang menaati semua ketentuan dan peraturan dalam
penggunaan obat sesuai dengan petunjuk medis yang telah diberikan
oleh tenaga kesehatan. Hal ini merupakan syarat utama tercapainya
keberhasilan dalam pengobatan yang dilakukan (Purwanto, 2010).
Orang dengan gangguan jiwa sering tidak teratur minum obat dikarenakan
1. Tidak menyadari kalau sakit
2. Merasa berobat dalam jangka waktu yang lama
3. Adanya efek samping dari pengobatan
4. Tidak nyaman terhadap jumlah dan dosis obat
5. Lupa minum obat
6. Tidak mendapat dukungan dari keluarga
2.2.2 Manfaat dan Tujuan Pemberian Obat
1. Membantu klien menjadi lebih tenang sehingga dapat beristirahat
2. Membantu klien dalam mengendalikan emosi
3. Membantu mengendalikan perilaku klien
4. Membantu klien dalam berinteraksi dengan orang lain
5. Membantu proses pikir (konsentrasi)
2.2.3 Akibat dari Ketidakpatuhan Minum Obat
1. Bertambah parahnya penyakit yang diderita
2. Penyakit menjadi kronis dan susah disembuhkan
3. Berkurangnya efektivitas obat yang dikonsumsi
4. Penyakit yang diderita sering kambuh kembali sehingga
harusrawat inap ulang
5. Terjadi overdosis (untuk penggunaan yang berlebihan)
2.2.4 Prinsip 6 benar Pemberian Obat
Yang dimaksud dengan 6 benar itu yaitu: Benar pasien,benar
Obat,Benar dosis,benar cara, benar waktu dan benar kedaluwarsa obat.
1. Benar Pasien
Sebelum obat diberikan, identitas pasien harus diperiksa
(papan identitas di tempat tidur, gelang identitas) atau ditanyakan
langsung kepada pasien atau keluarganya. Jika pasien tidak
sanggup berespon secara verbal, respon non verbal dapat dipakai,
misalnya pasien mengangguk. Jika pasien tidak sanggup
mengidentifikasi diri akibat gangguan mental atau kesadaran, harus dicari
cara identifikasi yang lainseperti menanyakan langsung kepada
keluarganya. Bayi harus selalu diidentifikasi dari gelang identitasnya.

6
2. Benar Obat
Obat memiliki nama dagang dan nama generik. Setiap obat dengan
nama dagang yang kita asing (baru kita dengar namanya) harus diperiksa
nama generiknya, bila perlu hubungi apoteker untuk menanyakan nama
generiknya atau kandungan obat. Sebelum memberi obat kepada pasien,
label pada botol atau kemasannya harus diperiksa tiga kali. Pertama saat
membaca permintaan obat dan botolnya diambil dari rak obat,
kedua label botol dibandingkan dengan obat yang diminta, ketiga
saat dikembalikan ke rak obat. Jika labelnya tidak terbaca, isinya tidak boleh
dipakai dan harus dikembalikan ke bagian farmasi.Jika pasien meragukan
obatnya, perawat harus memeriksanya lagi.Saat memberi obat perawat
harus ingat untuk apa obat itu diberikan. Ini membantu mengingat nama
obat dan kerjanya.
3. Benar Dosis
Sebelum memberi obat, perawat harus memeriksa dosisnya.
Jika ragu, perawat harus berkonsultasi dengan dokter yang menulis
resep atau apoteker sebelum dilanjutkan ke pasien. Jika pasien
meragukan dosisnya perawat harus memeriksanya lagi. Ada
beberapa obat baik ampul maupun tablet memiliki dosis yang
berbeda tiap ampul atau tabletnya.

7
4. Benar Cara/Rute
Obat dapat diberikan melalui sejumlah rute yang berbeda.
Faktor yang menentukan pemberian rute terbaik ditentukan oleh keadaan
umum pasien, kecepatan respon yang diinginkan, sifat kimiawi dan fisik
obat,serta tempat kerja yang diinginkan. Obat dapat diberikan
peroral, sublingual, parenteral, topikal, rektal, inhalasi.
a) Oral, adalah rute pemberian yang paling umum dan paling banyak
dipakai yaitu melalui rongga mulut (sublingual atau bukal)
seperti tablet ISDN.
b) Parenteral, yaitu melalui vena (perset / perinfus).
c) Topikal, yaitu pemberian obat melalui kulit atau membran mukosa.
Misalnya salep, losion, krim, spray, tetes mata.
d) Rektal, yaitu pemberian obat melalui anuse. Inhalasi, yaitu pemberian
obat melalui saluran pernafasan. Saluran nafas memiliki epitel
untuk absorpsi yang sangat luas, dengan demikian berguna
untuk pemberian obat secara lokal pada salurannya, misalnya
salbotamol (ventolin), combivent, berotek untuk asma, atau dalam
keadaan darurat misalnya terapi oksigen.
5. Benar Waktu
Ini sangat penting, khususnya bagi obat yang efektivitasnya
tergantung untuk mencapai atau mempertahankan kadar darah
yangmemadai. Jika obat harus diminum sebelum makan, untuk memperoleh
kadar yang diperlukan, harus diberi satu jam sebelum makan. Ingat dalam
pemberian antibiotik yang tidak boleh diberikan bersama susu
karena susu dapat mengikat sebagian besar obat itu sebelum dapat diserap.
Ada obat yang harus diminum setelah makan, untuk menghindari iritasi
yangberlebihan pada lambung misalnya asam mefenamat.
6. Benar Kedaluwarsa obat
Harus diperhatikan expire date/masa kadaluarsa obat yang akan
diberikan. Biasanya pada label botol obat tertera kapan obat tersebut
kadaluarsa. Perhatikan perubahan warna (dari bening menjadi keruh), tablet
menjadi basah/bentuknya rusak.

8
2.2.5 Tanda-tanda Kekambuhan
 Ada penawaran minum obat (menolak minum obat)
 Sulit tidur dan mondar-mandir
 Malas berbicara dengan orang lain
 Banyak menyendiri dan melamun
 Malas melakukan aktifitas harian
 Malas perawatan diri
 Malas, cemas dan khawatir yang berlebihan
 Cepat marah dan mudah tersinggung
 Keluyuran/pergi tanpa tujuan
 Merusak tanaman dan mengganggu lingkungan
 Merusak alat-alat rumah tangga
 Memukul atau melukai orang lain
 Melukai diri sendiri (mencoba bunuh diri)
 Mengatakan keinginan untuk mati/bunuh diri
 Mengancam orang lain
 Teriak-teriak
 Bicara dan tertawa sendiri
2.2.6 Tindakan yang dilakukan saat muncul tanda-tanda kekambuhan
Dalam pemberian obat oleh tenaga medis, ada jangka waktu
yang di perkirakan hingga obat habis. namun jika dalam prosesnya
ternyata obat belum habis dan tanda-tanda kekambuhan muncul, maka
keluarga wajib mengantarkan kembali pasien untuk kontrol sehingga
dapat dilihat perkembangan dan diproses mana obat tersebut tidak efektif.
2.2.7 Peran keluarga dalam mengawasi minum obat
Keluarga merupakan orang yang paling dekat dengan pasien,
merupakan “perawat utama” bagi pasien. Keluarga berperan dalam
memberikan asuhan /keperawatan yang diperlukan pasien di rumah
termasuk memotivasi pasien dalam keteraturan minum obat. Keberhasilan
perawatan di rumah sakit dapat sia-sia jika tidak diteruskan di rumah yang
dapat mengakibatkan klien dirawat kembali.
Tugas keluarga sebagai PMO (pengawas minum obat) bukanlah untuk
menggantikan pasien mengambil obat dari tempat berobat. Tugas PMO
sangat penting untuk meningkatkan angka kesembuhan pasien, antara
lain adalah: Mengawasi pasien gangguan jiwa agar meminum obat secara
teratur sampai selesai pengobatan. Tanpa PMO, pasien rentan kambuh
kembali, sehingga kekebal obat dan waktu pengobatan bisa diulang dan
lebih panjang. Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat
teratur.

9
DAFTAR PUSTAKA

Akbar.(2008). Hubungan Dukungan Sosial Keluarga terhadap tingkat Kekambuhan


penderita Skizofrenia. Yogyakarta: UI.

Arif, I.S. (2006). Memahami Dinamika Keluarga Pasien. Refika Aditama: Bandung.

Hawari, D. (2013). Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Fakultas Kedokteran:


Universitas Indonesia

Purwanto. (2010).Manajemen Keperawatan Psikososial dan Kader Kesehatan Jiwa.


Jakarta: EGC.

10
11
BAB III
LAPORAN HASIL PENYULUHAN

3.1 Tujuan
Pasien mengikuti penyuluhan selama 30 menit, pasien dapat mengetahui
tentang kepatuhan minum obat
3.2 Kegiatan yang dilakukan
NO WAKTU TAHAP KEGIATAN PENYULUHAN KEGIATAN PESERTA
1. 5 menit Pembukaan a. Memberi salam (selamat siang) a. Mendengarkan
b. Memperkenalkan diri (Mahasiswa b. Mendengarkan
Program Profesi Ners dari STIKes
CHMK)
c. Menjelaskan tujuan dari penyuluhan: c. Mendengarkan
Tujuan kami melakukan penyuluhan
tentang kepatuhan minum obat agar
keluarga dan klien tau bagaimana
mencegah dan mengikuti intruksi dan
anjuran yang diberikan petugas
kesehatan
d. Melakukan kontrak waktu. d. Mendengarkan dan
Memberitahukan kepada pasien bahwa menjawab bahwa
penyuluhan ini berlangsung selama 30 bersedia untuk
Menit mengikuti
penyuluhan selama
30 menit
e. Apersepsi
2 20 menit Isi Menjelaskan Pengertian kepatuhan Minum a. Mendengarkan dan
Obat memperhatikan
1. Perilaku pasien yang menaati semua
ketentuan dan peraturan dalam
penggunaan obat sesuai dengan
petunjuk medis yang telah diberikan
oleh tenaga kesehatan. Hal ini
merupakan syarat utama tercapainya
keberhasilan dalam pengobatan yang
dilakukan
2. Manfaat dan Tujuan Pemberian Obat
 Membantu klien menjadi lebih tenang
sehingga dapat beristirahat b. Mendengar dan
 Membantu klien dalam memperhatikan
mengendalikan emosi
 Membantu mengendalikan perilaku
klien
 membantu klien dalam berinteraksi
dengan orang lain
 Membantu proses pikir (konsentrasi)
3. Akibat Ketidakpatuhan Minum Obat
 Bertambah parahnya penyakit yang

12
diderita
 Penyakit menjadi kronis dan susah
disembuhkan
 Berkurangnya efektivitas obat yang
dikonsumsi
 Penyakit yang diderita sering
kambuh kembali sehingga
harusrawat inap ulang
 Terjadi overdosis (untuk penggunaan
yang berlebihan)
4. Prinsip 6 benar Pemberian Obat
Yang dimaksud dengan 6 benar itu
yaitu: Benar pasien,benar Obat,Benar
dosis,benar cara, benar waktu dan
benar kedaluwarsa obat.
 Benar pasien
 Benar obat
 Benar dosis
 Benar cara/rute
 Benar waktu
 Benar kedaluwarsa obat
5. Tanda-tanda Kekambuhan
 Ada penawaran minum obat c. Mendengarkan dan
(menolak minum obat) memperhatikan
 Sulit tidur dan mondar-mandir
 Malas berbicara dengan orang lain
 Banyak menyendiri dan melamun
 Malas melakukan aktifitas harian
 Malas perawatan diri
 Malas, cemas dan khawatir yang
berlebihan
 Cepat marah dan mudah
tersinggung
 Keluyuran/pergi tanpa tujuan
 Merusak tanaman dan mengganggu
lingkungan
 Merusak alat-alat rumah tangga
 Memukul atau melukai orang lain
 Melukai diri sendiri (mencoba bunuh
diri)
 Mengatakan keinginan untuk
mati/bunuh diri
 Mengancam orang lain
 Teriak-teriak
 Bicara dan tertawa sendiri
6. Tindakan yang dilakukan saat muncul
tanda-tanda kekambuhan:
Dalam pemberian obat oleh tenaga
medis, ada jangka waktu yang di
perkirakan hingga obat habis.
namun jika dalam prosesnya ternyata
obat belum habis dan tanda-tanda
kekambuhan muncul, maka keluarga
wajib mengantarkan kembali pasien

13
untuk kontrol sehingga dapat dilihat
perkembangan dan diproses mana obat
tersebut tidak efektif.

7. Peran keluarga dalam mengawasi


minum obat
Tugas keluarga sebagai PMO
(pengawas minum obat) bukanlah
untuk menggantikan pasien mengambil
obat dari tempat berobat. Tugas PMO
sangat penting untuk meningkatkan
angka kesembuhan pasien, antara lain
adalah: Mengawasi pasien gangguan
jiwa agar meminum obat secara teratur
sampai selesai pengobatan. Tanpa
PMO, pasien rentan kambuh
kembali, sehingga kekebal obat dan
waktu pengobatan bisa diulang dan
lebih panjang. Memberi dorongan
kepada pasien agar mau berobat
teratur. d. Memperhatikan
8. Memberikan kesempatan kepada dan Bertanya
pasien dan keluarga untuk bertanya
tentang materi yang diberikan.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
oleh pasien adalah:
a. Apakah dari obat yang diberikan
punya efek samping?
b. Bagaimana cara agar cepat sembuh? e. Memperhatikan
9. Memberikan jawaban/ penjelasan dari dan mendengar
pertanyaan yang diajukan jawaban
Menjawab pertanyaan :
a. Tidak punya efek samping karna obat
yang diberikan sesuai dengan
instruksi dokter, dan juga dosis yang
diberikan sesuai dengan standar,
asalkan jangan sampai putus obat
karna kalau sampai putus obat maka
dengan sendirinya dosis obat akan
di naikan dan akan berdampak pada
organ tubuh dalam salah satunya
adalah ginjal sebagai alat penyaring
dan keseimbagan tubuh
b. Dengan cara minum obat secara
teratur dan juga di pantau keluarga
dalam meningkatkan kesehatan klien
dalam mengawasi minum obat.
3. 5 menit Penutup  Penyuluh memberikan kesempatan f. Memperhatikan
kepada pasien dan keluarga untuk dan mendengar
menyampaikan apa yang sudah mereka
pahami.
 Menyatakan kegiatan telah selesai.
 Mengucapkan terima kasih
 Mengucapkan selamat siang.

14
3.3 Kriteria Evaluasi
a) Evaluasi struktur
1. Penyuluhan telah dilakukan pada pasien dan keluarga pasien di poli
jiwa RSJ Provinsi Bali
2. Jumlah peserta yang hadir sesuai dengan perencanaan
3. Waktu dan tempat sesuai perencanaan
4. Tugas dan peran mahasiswa sesuai perencanaan yaitu:
Moderator : Desiana Brigida Anapah, S.Kep
Pemateri : Yulita Lobo, S.Kep
Observer : Vanessa Lede Lusi, S. Kep
Notulen : Debby H. A. Otta, S.Kep
Fasilitator : Emanuel Watorasak, S.Kep
Amanda Banepah, S.Kep
Maria Rada, S. Kep
Julen E. Sina, S.kep

5. Media dan alat penyuluhan sesuai rencana ( lembar balik )


b) Evaluasi proses
1. Moderator dapat membuka dan menutup acara dengan baik
2. Presenter dapat menguasai materi dengan baik
3. Fasilitator berperan aktif dalam berjalannya penyuluhan
4. Peserta berperan aktif selama kegiatan
5. Peserta mengikuti penyuluhan dari awal sampai akhir
6. Peserta tidak ada yang meninggalkan tempat penyuluhan
c) Evaluasi hasil
Setelah kegiatan dilaksanakan, 80% Peserta mampu :
1. Menjelaskan dan Menyebutkan manfaat obat
2. Menyebutkan akibat dari ketidak patuhan minum obat
3. Menyebutkan 6 benar pemberian obat
4. Menyebutkan tanda- tanda kekambuhan

15
Lampiran Dokumentasi

16
17
DAFTAR PUSTAKA
Akbar.(2008). Hubungan Dukungan Sosial Keluarga terhadap tingkat
Kekambuhan penderita Skizofrenia. Yogyakarta: UI.
Arif, I.S. (2006). Memahami Dinamika Keluarga Pasien. Refika Aditama:
Bandung.
Hawari, D. (2013). Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Fakultas
Kedokteran: Universitas Indonesia
Purwanto. (2010).Manajemen Keperawatan Psikososial dan Kader Kesehatan
Jiwa. Jakarta: EGC.

18