Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

VISKOSITAS DAN RHEOLOGI

Dosen Pembimbing
Hanifa Rahma, M.Si., Apt.

Disusun Oleh
Kelompok II
Kelas I B

Fenty Yuniar P17335116025


Yeti Haryani P17335116027
Tirta Andini Mutiawidanti P17335116029
Sri Mulyani P17335116031
Vovi Yuvika Fathurrohman P17335116033
Allyda Putri Hafsa P17335116035
Fitri Hiqmawati Nuryadin P17335116037
Riesya Nur Febriyani P17335116039
Tri Rizki Handayani P17335116043

JURUSAN FARMASI
POLTEKKES KEMENKES BANDUNG
BANDUNG
2017
A. JUDUL PERCOBAAN
Viskositas dan Rheologi

B. HARI , TANGGAL PRAKTIKUM


Hari : Senin
Tanggal : 10 April 2017

C. TUJUAN PERCOBAAN
a. Penggunaaan viskometer kapiler untuk penentuan viskositas cairan newton
b. Menentukan pengaruh kadar larutan terhadap viskositas larutan

D. DASAR TEORI
1. Reologi
Rheologi, berasal dari bahasa Yunani rheo (mengalir) dan logos (ilmu),
digunakan istilah ini untuk pertama kali oleh Bingham dan Crawford untuk
menggambarkan aliran cairan dan deformasi dari padatan. Viskositas adalah suatu
pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, makin tinggi viskositasnya maka
makin besar tahanannya (Martin dkk, 2008).
Rhelogi meliputi pencampuran dan aliran dari bahan, pemasukan ke dalam
wadah, pemindahan sebelum digunakan , penuangan dari botol, pengeluaran dari tube,
pelewatan dari suatu jarum suntik. Rheologi dari suatu produk tertentu yang berkisar
dalam konsistensi dari bentuk cair ke semisolid sampai ke padatan, dapat mempengaruhi
peneriman bagi pasien, stabilitas fisika, dan availabilitas biologis. Jadi viskositas terbukti
mempengaruhi laju absorbsi obat dari saluran cerna. Sifat reologi sistem farmasetik
dapat mempengaruhi pemilihan peralatan pemrosesan yang digunakan dalam pembuatan
suatu produk. Peralatan yang tidak sesuai akan menyebabkan terbentuknya hasil yang
tidak diinginkan, paling tidak dalam karakteristiknya alirannya (Martin dkk, 2008).
Penerapan rheologi di bidang farmasi yaitu:
1. Cairan
a. Pencampuran
b. Pengurangan ukuran partikel dari sistem-sistem dispersi dengan shear
c. Pelewatan melalui mulut, termasuk penuangan, pengemasan dalam botol,
pelewatan melalui jarum suntik
d. Perpindahan cairan, termasuk pemompaan dan pengaliran melalui pipa.
e. Stabilitas fisik dari sistem-sistem dispersi.
2. Quasisolid
a. Penyebaran dan pelekatan pada kulit
b. Pemindahan dari wadah atau pengeluaran dari tube
c. Kemampuan zat padat untuk bercampur dengan cairan-caira yang saling
bercampur satu dengan yang lainnya.
d. Pnglepasan obat dari basisnya
3. Padatan
a. Alira serbuk dari corong ke dalam lubang pencetak tablet atau ke dalam kapsul
selama proses pembuatan
b. Kemampuan pengemasan dari padatan dalam bentuk serbuk atau granul
4. Pemrosesan
a. Kapasitas produksi dari alat
b. Efisiensi pemrosesan
(Martin dkk, 2008)
a. Newton
Newton adalah orang pertama yang mempelajari sifat-sifat aliran dari cairan
secara kuantitatif. Dia menemukan bahwa semakin besar viskositas suatu cairan, akan
makin besar pula gaya persatuan luas (Shearing stess) yang diperlukan untuk
menghasilkan suatu rate of shear tertentu. Oleh karena itu, rate of shear harus
berbanding langsung dengan shearing stess atau
F' dv
=
A dr

F
=G

Dimana  adalah koefisien viskositas, biasanya dinyatakan hanya sebagai


viskositas saja. Sedangkan F = 𝐹 ′ /A dan G = dv/dr.
Berikut adalah bagian zat cair yang terdiri dari bidang- bidang molekul yang
tersusun paralel yang tersusun menyerupai kartu bridge seperti pada gambar dibawah
ini.

F’
A

dv

dr

(Martin dkk, 2008)


Lapisan dasar dianggap terpaku pada ditempatnya. Jika bidang teratas dari
bidang cair bergerak dengan kecepatan konstan, maka setiap lapisan yang dibawahnya
akan bergerak dengan kecepatan yang berbanding lurus dengan jaraknya dari lapisan
dasar yang tetap diam. Perbedaan kecepatan, antara 2 bidang molekul zat cair yang
terpisah oleh suatu jarak tak terukur. Newton merupakan orang pertama yang
mempelajari sifat alir zat cair secara kuantitatif bahwa semakin tinggi viskositas zat
cair, makin besar gaya persatuan luas (tekanan geser) yang dibutuhkan untuk
menghasilkan kecepatan geser tertentu. Jadi kecepatan geser berbanding lurus dengan
tekanan geser (Martin dkk, 2008).
b. Non-Newon
Non Newtonian adalah zat-zat yang tidak mengikuti persamaan aliran Newton,
dispersi heterogen cairan dan padatan seperti larutan koloid, emulsi, suspensi cair,
salep dan produk-produk serupa masuk ke dalam kelas ini. Jika bahan-bahan Non
Newtonian dianalisis dalam suatu viskometer putar dan hasilnya diplot, diperoleh
berbagai kurva konsistensi yang menggambarkan adanya tiga kelas aliran yakni
plastis, psudoplastis, dan dilatant (Martin dkk, 2008).
Aliran plastis memperlihatkan suatu badan yang membentuk aliran plastis,
bahan demikian dikenal sebagai Bingham bodies. Aliran plastis tidak melalui titik
(0,0) tapi memotong sumbu shearing stress pada suatu titik tertentu yang dikenal
dengan yield value. Bingham bodies tidak akan mengalir sampai shearing stress
dicapai sebesar yield value, zat bertindak seperti bahan elastis. Adanya yield value
disebabkan oleh adanya kontak antara partikel-partikel yang berdekatan, yang harus
dipecah sebelum aliran dapat terjadi. Akibatnya, yield value merupakan indikasi dari
kekuatan flokulasi (Martin dkk, 2008).
Aliran Pseudoplastis diperlihatkan oleh polimer-polimer dalam larutan, yang
merupakan kebalikan dari sistem plastis yang tersusun dari partikel-partikel yang
terflokulasi dalam suspensi. Aliran psudoplastis dimulai pada titik (0,0) atau paling
tidak mendekati pada rate of shear rendah. Akibatnya, berlawanan dengan Bingham
bodies, tidak ada yield value (Martin dkk, 2008).
Aliran dilatan yaitu suspensi-suspensi tertentu dengan presentase zat padat
terdispers yang tinggi menunjukkan peningkatan dalam daya hambat untuk mengalir
dengan meningkatnya rate of shear. Zat-zat yang mempunyai sifat-sifat aliran dilatant
adalah suspensi-suspensi yang berkonsentrasi tinggi dari partikel-partikel kecil yang
mengalami deflokulasi (Martin dkk, 2008).

2. Viskositas
Viskositas (kekentalan) berasal dari perkataan Viscous (Soedojo, 1986). Suatu
bahan apabila dipanaskan sebelum menjadi cair terlebih dulu menjadi viscous yaitu
menjadi lunak dan dapat mengalir pelan-pelan. Viskositas dapat dianggap sebagai
gerakan dibagian dalam (internal) suatu fluida. Jika sebuah benda berbentuk bola
dijatuhkan ke dalam fluida kental, misalnya kelereng dijatuhkan ke dalam kolam renang
yang airnya cukup dalam, nampak mula-mula kelereng bergerak dipercepat. Tetapi
beberapa saat setelah menempuh jarak cukup jauh, nampak kelereng bergerak dengan
kecepatan konstan (bergerak lurus beraturan). Ini berarti bahwa di samping gaya berat
dan gaya apung zat cair masih ada gaya lain yang bekerja pada kelereng tersebut. Gaya
ketiga ini adalah gaya gesekan yang disebabkan oleh kekentalan fluida (Budianto, 2008).
Satuan viskositas adalah poise, didefinisikan sebagai gaya geser (shearing force)
yang dibutuhkan untuk menghasilkan kecepatan 1 cm/detik antara dua bidang sejajar
cairan masing-masing memiliki luas 1 cm2 dan dipisahkan oleh jarak 1 cm. Satuan cgs
untuk poise adalah dyne detik cm-2 atau g cm-1 detik-1. Satuan satuan ini dengan mudah
diperoleh melalui analisis dimensi dari koefisien viskositas. Persamaan dapat disusun
kembali menjadi:
F
ŋ=
A
(Sinko, 2011)
Viskositas kinematis adalah viskositas absolut dibagi dengan densitas cairan
tersebut pada temperatur tertentu.Satuan viskositas kinematis adalah stoke (s) dan
centistoke (cs):
ŋ
Viskositas Kinematis =
F
(Sinko, 2011)

Tabel 1. Viskositas Gliserin pada berbagai temperature.


Temperatur (ºC) -42 -20 0 6 15 20 25 30
Temperatur (K) 231 253 273 279 288 293 298 303
1/T (K-1) 0,00432 0,00395 0,00366 0,00358 0,00347 0,00341 0,00336 0,00330
ŋ (cp) 6,71 x 106 1,34 x 105 12110 6260 2330 1490 954 629
ln ŋ 15,719 11,806 9,420 8,742 7,754 7,307 6,861 6,444

(Sinko, 2011)

E. ALAT DAN BAHAN


Alat Bahan
1. Viskometer kapiler 1. Aquadest
( ostwald ) 2. Gliserin 5%, 10%,
2. Pipet ukur 10 ml 15%, 20% dan 25%
3. Piknometer
4. Pipet tetes
5. Ball pipet

F. PROSEDUR KERJA
1. Dibuat 40 ml larutan gliserin dengan konsentrasi 5%, 10%, 15%, 20% dan 25% dalam
aquadest.
2. Larutan diaduk sampai homogen. Masing-masing gelas kimia diberi label.
3. 10 ml cairan tersebut dimasukkan ke dalam viskometer kapiler.
4. Cairan dihisap menggunakan ball pipet sampai garis batas atas pada pipa kapiler.
5. Cairan dibiarkan mengalir dari garis batas atas sampai garis batas bawah dan waktu
yang dibutuhkan oleh cairan untuk mengalir dari garis batas atas ke garis batas bawah
dicatat.
6. Dilakukan pengukuran triplo.
7. Bobot jenis cairan ditentukan menggunakan piknometer.
8. Viskositas relatif gliserin dihitung pada berbagai konsentrasi terhadap aquadest
dengan menggunakan persamaan berikut jika diketahui viskositas aquadest adalah
n1 ρ1t
1
0,89 cps (2°C) : =
n2 ρ2 t 2

9. Dibuat kurva hubungan antara viskositas gliserin terhadap kadar gliserin yang
digunakan.

 Pembuatan suspensi paracetamol dengan menggunakan CMC-Na 2%


1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Aquadest dipanaskan diatas penangas air.
3. Mortir dipanaskan, lalu dimasukkan aquadest panas kedalam mortir kemudian CMC-
Na ditaburkan kedalam mortir, gerus sampai terbentuk mucilago CMC-Na.
4. Parasetamol dimasukka kedalam mortir sedikit demi sedikit, gerus sampai homogen.
5. Viskositas larutan suspensi ditentukan dengan menggunakan viskometer tester.

G. DATA HASIL DAN PEMBAHASAN


a. Penimbangan gliserin
- Konsentrasi 5%
5g
x 40 ml = 2 g
100 ml

- Konsentrasi 10 %
10 g
x 40 ml = 4 g
100 ml

- Konsentrasi 15 %
15 g
x 40 ml = 6 g
100 ml

- Konsntrasi 20%
20 g
x 40 ml = 8 g
100 ml

- Konsentrasi 25%
20 g
x 40 ml = 10 g
100 ml
b. Perhitungan bobot jenis
1. Bobot jenis gliserin 5%
ρ 5% = 29,709 g – 19,138 g
ρ 5% = 10,571 g
2. Bobot jenis gliserin 10%
ρ 10% = 29,759 g – 19,138 g
ρ 10% = 10,621 g
3. Bobot jenis gliserin 15%
ρ 15% = 29,804 g – 19,138 g
ρ 15% = 10,666 g
4. Bobot jenis gliserin 20%
ρ 20% = 29,962 g – 19,138 g
ρ 20% = 10,824 g
5. Bobot jenis gliserin 25%
ρ 25% = 30,160 g – 19,138 g
ρ 25% = 11,022 g
6. Bobot jenis Aquades
ρ aquadest = 20,138 g – 19,138 g
ρ aquadest = 1 g

n ρ1t
c. Viskositas relatif gliserin ( n1 = 1
)
2 ρ2 t2

1. Konsentasi 5%
p1 t1
ɳ1 = x ɳ2
p2 t2
10,571 g x 8,06
ɳ1 = x 0,89 = 9,9776
1 g x 7,60

2. Konsentrasi 10%
𝑝1 𝑡1
ɳ1 = x ɳ2
𝑝2 𝑡2
10,621 g x 8,19
ɳ1 = x 0,89 = 10,1865
1 g x 7,60

3. Konsentrasi 15%
𝑝1 𝑡1
ɳ1 = x ɳ2
𝑝2 𝑡2
10,666 g x 8,55
ɳ1 = 1 g x 7,60
x 0,89 = 10,6793
4. Konsentrasi 20%
𝑝1 𝑡1
ɳ1 = x ɳ2
𝑝2 𝑡2
10,824 g x 9,65
ɳ1 = x 0,89 = 12,2318
1 g x 7,60

5. Konsentrasi 25%
𝑝1 𝑡1
ɳ1 = x ɳ2
𝑝2 𝑡2
11,022 g x 10,18
ɳ1 = x 0,89 = 13,1397
1 g x 7,60

Tabel 1.1. Hasil Pengamatan

waktu (s) Bobot Bobot


Rata-rata
Larutan Piknometer + Piknometer ɳ air (cps) ɳ reltif
t1 t2 t3 waktu (s)
larutan (g) kosong (g)
Gliserin 5% 7,89 8,15 8,16 8,06 s 29,709 g 19,138 g 0,89 cps 9,9776
Gliserin 10% 7,45 8,41 8,72 8,19 s 29,759 g 19,138 g 0,89 cps 10,1865
Gliserin 15% 8,51 8,40 8,74 8,55 s 29,804 g 19,138 g 0,89 cps 10,6793
Gliserin 20% 9,57 9,49 9,91 9,65 s 29,962 g 19,138 g 0,89 cps 12,2318
Gliserin 25% 10,21 10,15 10,20 10,18 s 30,160 g 19,138 g 0,89 cps 13,1397
Aquadest 7,66 7,56 7,60 7,60 s 20,138 g 19,138 g 0,89 cps -
Grafik 1.1.
Kurva Hubungan Konsentrasi Gliserin Dengan Viskositas Relatif Gliserin

Kurva Hubungan Antara Konsentrasi Gliserin


Terhadap Viskositas Gliserin
30%

25%
Konsentrasi Gliserin

20%

15%

10%

5%

0%
ɳ 5% ɳ 10% ɳ 15% ɳ 20% ɳ 25%
(9,9776) (10,1865) (10,6793) (12,2318) (13,1397)
Viskositas Relatif

d. Penimbangan suspensi paracetamol dengan CMC-Na


2g
 CMC-Na = 100 ml x 120 ml

= 2,4 g
Aquadest = 2,4 g x 20 ml
= 48 ml
120 mg
 Paracetamol = x 120 ml
5 ml

= 2,88 g
Aquadest = 120 ml – 48 ml
= 72 ml

Pengukuran menggunakka alat viskotester pada spindel 1 menunjukkan nilai


viskositas sebesar 9 dpas yang setara dengan 900 cps.
H. PEMBAHASAN
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan viskositas cairan newton dengan
menggunakan viskometer kapiler dan menentukan pengaruh kadar larutan terhadap
viskositas larutan. Semakin besar viskositas suatu cairan maka kecepatan aliran cairan
tersebut akan semakin kecil dan jika kadar suatu larutan semakin besar maka viskositas
zat tersebut semakin tinggi.
Pada praktikum kali ini, dilakukan dua kali praktikum, pertama percobaan untuk
menetukan pengaruh bobot jenis larutan terhadap viskositasnya dan kedua percobaan
untuk menentukan viskositas suatu sediaan suspensi dengan menggunkan alat. Untuk
praktikum yang pertama dibuat larutan gliserin dengan konsentrasi 5%, 10%, 15%, 20%
dan 25% dalam 40 ml aquadest. Hal ini dilakukan untuk menghitung viskositas relatif
gliserin pada berbagai konsentrasi terhadap aquadest. Lalu campuran cairan tersebut
diaduk agar larutan yang diperoleh homogen. Sebelum memasukkan cairan ke dalam
viskometer kapiler, viskometer kapiler dikalibrasi terlebih dahulu menggunakan aquadest
agar cairan yang akan diamati tidak terkontaminasi oleh zat-zat asing yang tidak
diinginkan. Kemudian cairan akan mengalir dari garis batas atas ke garis batas bawah
pada pipa kapiler. Hal ini bertujuan untuk mengamati kecepatan aliran pada larutan
gliserin dalam berbagai konsentrasi tersebut. Semakin besar viskositas cairan tersebut
maka aliran cairan yang mengalir dari garis batas atas ke garis batas bawah semakin lama.
Piknometer yang digunakan pada praktikum, bertujuan untuk menghitung bobot
jenis cairan yang diamati. Sebelum cairan dimasukan kedalam piknometer, piknometer
ditimbang terlebih dahulu dalam keadaan kosong, lalu masukkan cairan ke dalam
piknometer kemudian ditimbang. Hal ini dilakukan agar bobot jenis cairan yang akan
diamati lebih akurat. Pada saat penimbangan piknometer, praktikan tidak boleh
memegang piknometer langsung dengan tangan tanpa pelindung hal ini dikhawatirkan
akan menambah bobot pada piknometer sehingga bobot yang diperoleh tidak akurat.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh nilai bobot jenis dari larutan
gliserin dengan konsentrasi 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25% berturut-turut mengalami
kenaikan sebanding dengan kenaikan viskositas dari larutan gliserin dengan konsentrasi
5%, 10%, 15%, 20%, 25%. Dengan demikian kenaikan bobot jenis yang terdapat dalam
lima larutan gliserin dengan konsentrasi berbeda berbanding lurus dengan viskositasnya.
Semakin besar atau tinggi bobot jenis suatu larutan sampel maka akan semakin besar atau
tinggi pula viskositas larutan tersebut.
Adapun untuk praktikum kedua, dibuat sediaan suspensi yang mengandung
paracetamol dan CMC-Na, dimana paracetamol menjadi zat aktifnya dan CMC-Na
menjadi suspensing agent, setelah suspensi siap lalu dimasukan ke dalam alat yang
bernama viskotester, alat ini bertujuan untuk mengukur nilai viskositas suatu cairan dan
memiliki prinsip rotasi dengan mengkombinasikan setting spindle dan kecepatan putar
spindle. Alat ini memiliki tiga macam spindle yaitu spindle nomer 1, spindle nomer 2 dan
spindle nomer 3. Pada praktikum kali ini digunakan spindle nomer 1. Setelah suspensi
dimasukan kedalam cup atau mangkuk, lalu spindle nomer 1 dipasang dan alat
dinyalakan. Dari hasil pengamatan diperoleh nilai viskositas dari suspensi tersebut adalah
9000 cps.

I. KESIMPULAN
1. Semakin besar konsentari gliserin dalam larutan, maka akan semakin besar pula
viskositasnya, karena konsentrasi zat perbanding lurus dengan viskositas.
2. Dari hasil pengamatan diperoleh nilai viskositas dari suspensi CMC-Na adalah 9000
cps.
DAFTAR PUSTAKA
Budianto, Anwar. 2008. Metode Penentuan Koefisien Kekentalan Zat Cair Dengan
Menggunakan Regresi Linear Hukum Stokes. Yogyakarta: SDM Teknologi Nuklir.
Martin.A, Swarbick.J, Cammarata.A.2008. Farmasi Fisik: Dasar-Dasar Farmasi Fisik
Dalam Ilmu Farmasetika Jilid 2. Edisi Ketiga. Jakarta: UI PRESS.
Sinko, Patrick J. 2011. Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika Martin. Edisi 5. Jakarta: EGC.
LAMPIRAN

Hasil penimbangan gliserin untuk konsentrasi Hasil penimbangan gliserin untuk konsentrasi
10% 15%

Hasil penimbangan gliserin untuk konsentrasi Hasil penimbangan gliserin untuk konsentrasi
20% 25%
Hasil penimbangan berat piknometer kosong Hasil penimbangan berat piknometer larutan 5%

Hasil penimbangan berat piknometer larutan Hasil penimbangan berat piknometer larutan 25%
20%

Hasil penimbangan CMC-Na Hasil penimbangan paracetamol


Proses pembuatan suspensi CMC-Na Proses pengukuran viskometer menggunakan
viskotester

Hasil dari pengukuran viskositas suspensi


CMC-Na menggunakan viskotester