Anda di halaman 1dari 5

TEORI ABC (ANTESENDEN-BEHAVIOR-CONSEQUENCE)

A. ANTESENDEN
Antesenden adalah peristiwa lingkungan yang membentuk tahap atau pemicu perilaku
(Holland & Skinner, 1961 ; Sulzer-Azaroff & Mayer, 1977 ; Bandura, 1977 ; Miller,
1980). Antesenden yang secara reliable mengisyaratkan waktu untuk menjalankan
perilaku dapat meningkatkan kecenderungan terjadinya suatu perilaku pada saat dan
tempat yang tepat. Antesenden ada 2 macam, yaitu :
1. Antesenden yang terjadi secara alamiah (naturally occurings antesendents) Yaitu
perilaku yang dipicu oleh peristiwa-peristiwa lingkungan.
2. Antesenden terencana
Pada perilaku kesehatan yang tidak memiliki antesenden alami, komunikator bisa
mengeluarkan berbagai peringatan yang memicu perilaku sasaran.

B. BEHAVIOUR (PERILAKU)
Ciri-ciri suatu perilaku membawa implikasi penting bagi penyusunan strategi komunikasi
(Nelson & Hayes, 1981). Perilaku sasaran, misalnya konsumsi ARV pada penderita
HIV/AIDS merupakan tujuan program komunikasi kesehatan. Ketika mengamati
perilaku sasaran, komunikator mempertimbangkan apakah :
a. Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam frekuensi yang cukup
b. Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam jangka waktu yang mencukupi
c. Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam bentuk yang diharapkan
d. Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam saat yang tepat
e. Perilaku sasaran tidak ada sama sekali
f. Ada perilaku tandingan
g. Perilaku sasaran merupakan perilaku yang kompleks.

C. CONSEQUENCE (KONSEKUEN)
Konsekuensi adalah peristiwa lingkungan yang mengikuti sebuah perilaku, yang juga
menguatkan, melemahkan atau menghentikan suatu perilaku (Holland & Skinner, 1961 ;
Miller, 1980). Secara umum, orang cenderung mengulangi perilaku-perilaku yang
membawa hasil-hasil positif (konsekuensi positif) dan menghindari perilaku-perilaku
yang memberikan hasil-hasil negative. Istilah reinforcement mngacu pada peristiwa-
peristiwa yang menguatkan perilaku.
Reinforcement positif adalah peristiwa menyenangkan dan diinginkan, peristiwa ramah
yang mengikuti sebuah perilaku.
Tipe reinforcement ini menguatkan perilaku atau meningkatkan kemungkinan perilaku
tersebut akan terjadi lagi (Baer, Wolf & Risley, 1969, Miller, 1980).
Reinforcement negative adalah peristiwa atau persepsi dari suatu peristiwa yang tidak
menyenangkan dan tidak diinginkan, tetapi juga memperkuat perilaku, karena seseorang
cenderung mengulangi sebuah perilaku yang dapat menghentikan peristiwa yang tidak
menyenangkan.
Orang akan mencoba menjalankan berbagai perilaku untuk mengakhiri peristiwa
negative. Perilaku yang pada akhirnya bisa menghentikan suatu peristiwa kemungkinan
besar bisa dicoba lagi di masa mendatang (Rimm & Masters, 1979 ; Karoly & Harris,
1986)
Hukuman (pusnishment) adalah suatu konsekuensi negative yang menekan atau
melemahkan perilaku.
Peristiwa-peristiwa ini berlaku sebagai hukuman karena perilaku yang mereka anut kecil
kemungkinannya terjadi lagi (Sandler, 1986).
Komunikator kesehatan terutama menggunakan reinforcement positif dalam menyusun
peristiwa-peristiwa untuk program mendukung perilaku. Meskipun demikian, karena
banyak orang bertindak menghindari hukuman (misalnya petugas kesehatan mengisi
laporan-laporan untuk menghindari teguran dari atasan) atau mengakhiri reinforcement
negative (seseorang yang menggunakan kondom supaya terhindar dari IMS), maka
komunikator perlu memahami semua bentuk konsekuens ketika menilai praktik-praktik
kesehatan yang sekarang terdapat dalam masyarakat.
Berikut ini adalah ciri-ciri konsekuens lain yang penting untuk komunikasi kesehatan
(Rimm & Masters, 1979 ; Miller, 1980) :
1. Suatu konsekuens yang segera mengikuti suatu perilaku adalah jauh lebih kuat
mempengaruhi perilaku daripada konsekuens timbul setelah satu masa penundaan.
Contoh :
Sensasi menyenangkan yang timbul segera setelah mengkonsumsi narkoba
memantapkan berlangsungnya kebiasaan yang tidak sehat ini meskipun dalam jangka
panjang menimbulkan konsekuens kesehatan negative.
2. Makin menonjol, relevan, penting atau bermakna suatu konsekuens bagi individu,
maka makin berdayaguna konsekuens itu terhadap individu. Contoh :
Di Nigeria, ahli gizi meyakini bahwa konsekuens yang paling penting dalam
memperkenalkan makanan penyapihan yang kaya gizi pada ibu-ibu pedesaan adalah
anak-anak mereka menjadi tumbuh sehat dan untuk alas an ini maka para ahli gizi
berupaya meyakinkan ibu-ibu supaya memberikan makanan tersebut, ibu-ibu yang
pada akhirnya mencoba memberikan makanan penyapihan baru tersebut menjadi
amat terpikat sebab anak-anak menjadi tidak rewel dan manja selama bulan-bulan
penyapihan itu. Konsekuens itu bersifat lebih relevan bagi kehidupan ibu sehari-hari
daripada hanya sekedar memperoleh keuntungan berkaitan dengan gizi anak.
3. Sebuah konsekuens yang lebih konkrit lebih berdaya guna dibandingkan dengan
konsekuens yang abstrak. Contoh :
Konsekuens konkrit akibat mengunjungi klinik dan menunggu di ruangan yang
penuh sesak untuk mendapatkan imunisasi sering lebih berdayaguna dibandingkan
keuntungan yang abstrak dari upaya pencegahan penyakit anak-anak.
4. Sekali sebuah perilaku berhasil dipelajari, maka konsekuens yang menyenangkan
tidak perlu mengikuti setiap kejadian untuk memelihara perilaku dari perilaku untuk
mempertahankannya tersebut tidak perlu selalu ada. Contoh :
Selama pelatihan, petugas kesehatan perlu mendapat umpan balik dari instruktur.
Sekali mereka berhasil belajar menjalankan ketrampilan dengan baik, maka observasi
dan umpan balik supervisor yang diberikan secara periodic akan memelihara kinerja
petugas kesehatan tersebut.
D. RANTAI ABC
Hubungan antara peristiwa-peristiwa lingkungan dengan perilaku sering disebut sebagai
rantai ABC (Antecendent-Behavior-Consequence) . Hubungan ini mempunyai beberapa
implikasi dalam komunikasi kesehatan.
1. Antesenden atau Konsekuen
Kejadian serupa kadang-kadang dapat berfungsi sebagai antesenden dan di saat lain
sebagai konsekuens, tergantung bagaimana hal kejadian tersebut mempengaruhi
perilaku: Sebagai contoh :
Siaran radio dapat berfungsi sebagai antesenden dengan mengingatkan ibu-ibu
supaya membawa anak-anak mereka agar diimunisasi, namun siaran tersebut juga
dapat dipakai sebagai konsekuens dengan memuji komuntas dalam perolehan angka
cakupan yang tinggi. Pada kenyataannya, konsekuens untuk suatu perilaku tersebut
dapat merupakan bagian dari antesenden bila perilaku tersebut diulang kembali.
Beberapa kampanye kesehatan telah menggunakan piagan sebagai penghargaan
dalam cara hidup yang mengikuti aturan medis. Contoh : tindakan mengikuti aturan
lengkap. Piagam di sini tidak hanya berfungsi sebagai pemantap (C 1 ) bagi tindakan
mengunjungi klinik untuk yang pertama kali (B 1 ), tetapi juga sebagai isyarat (A 2 )
agar kembali mengunjungi klinik (B 2 ) untuk mendapatkan imunisasi yang kedua
atau ketiga. Isyarat ini terutama efektif bila piagam yang diberikan tersebut menarik
dan dipajang di rumah atau di tempat lain yang dapat dilihat. Urut-urutan kedua
tahap ini dapat dilukiskan dalam gambar berikut :

A 1 →B 2 →C 1

A2 →B2 →C2

2. Kekuatan Konsekuen
Teori ABC menjelaskan konsekuens mengarahkan lebih banyak pengaruh terhadap
kelangsungan pelaksanaan perilaku daripada pengaruh yang diberikan oleh
antesenden (Miller, 1980). Seorang komunikator yang ingin menghasilkan sebuah
perilaku tahap akhir akan mengarhkan diri pada apa yang mengikuti perilaku yang
diharapkan serta menciptakan sekumpulan konsekuens menyenangkan bagi
pelaksanaan perilaku tersebut. Upaya ini disebut sebagai strategi konsekuens
(Consequences Strategies). Strategi yang mengarah pada munculnya kesadaran,
peningkatan pengetahuan, penggunaan alat-alat bantu audiovisual serta pelatihan
disebut sebagai strategi antesenden (Antesendent Strategies). Apabila intervensi
semacam ini saja yang digunakan, tanpa memperkenalkan konsekuens yang
mengikuti sebuah perilaku, maka kecil kemungkinan mereka melakukan tindakan
pengadopsian praktek-praktek.

E. KETERKAITAN DALAM RANTAI ABC


Program komunikasi yang paling berdayaguna adalah program yang memperkuat
keterkaitan antara antesenden, pelaksanaan perilaku dan konsekuensnya. Di samping
memicu perilaku dalam bentuk pengingat dan improvisasi tambahan, strategi antesenden
dapat juga memperkuat jalinan antara konsekuens dan perilaku sasaran
Strategi ini mampu “memasarkan konsekuens” Sebagai contoh : siaran radio yang
mempromosikan pemahaman tentang pentingnya imunisasi akan mampu mengajari ibu-
ibu untuk merasa bangga bila berhasil melengkapi kartu imunisasi.
Strategi tersebut bias menjanjikan konsekuens yang menyenangkan, sebagai contoh :
dengan mempromosikan sebuah makanan penyapihan baru sebagai salah satu cara
mencapai peningkatan berat badan bayi.
Strategi tersebut mampu mengajarkan kepada yang lain bagaimana memantapkan
perilaku. Sebagai contoh : petugas kesehatan dapat dilatih untuk memuji ibu-ibu bila ibu-
ibu tersebut berhasil mencampur dan memberikan ORS dengan cara yang benar bagi
anak-anak mereka yang baru saja diare.

F. APLIKASI TEORI

A1 B1 C1

Poster kunjungan

Ke klinik

A2 B2 C2

Kembali penghargaan

Berkunjung dr petugas

Dengan adanya pemasangan poster tentang anjuran untuk mengunjungi VCT untuk
melakukan pengetesan dan konseling (A 1 ), maka banyak orang-orang dengan resiko
tinggi berkunjung ke klinik (B 1 ). Orang-orang yang berkunjung diberi penghargaan (C
1) karena bersedia berkunjung ke klinik. Penghargaan tersebut tidak hanya berfungsi
sebagai pemantap bagi tindakan kunjungan ke klinik untuk yang pertama kali, tetapi juga
sebagai isyarat (A 2 ) agar kembali mengunjungi klinik (B 2 ) untuk mendapatkan
perawatan dan pemeriksaan yang selanjutnya. Isyarat ini efektif jika penghargaan
dibentuk secara menarik.
DSM-IV-TR (Diagnostic And Statistical Manual Of Mental Disorders, Ed 4, Text
Revision) Diagnostic Criteria for Major Depressive Episode

A. Adanya 5 ataulebih gejala2 berikut yg telah berlangsung dalam 2 minggu yg sama dan
menunjukan perubahan dari fungsi2 sebelumnya dimana salah satunya adalah mood
depresif atau kehilangan minat atau rasa senang.Cat. jangan memasukan gejala2 yg jelas
ok kondisi medis umum atau waham dan atau halusinasi tidak serasi mood
1. Mood depresi berlangsung sepanjang hari pada hampir setiap hari sebagaimana
dikeluhkan secara subjektif (merasa sedih atau hampa) atau diamati orang lain
(terlihat berlinangan airmata).Cat pada anak dan remaja tampil sebagai mood
irritable.
2. Kehilangan minat atau kesenangan yg nyata pd semua atu hampir semua aktifitas
sepanjang hari hampir setiap hari (sebagaimana yang dirasakan atau diamati org lain
thd ybs).
3. Penurunan berat badan yang bermakna tanpa diet atau peningkatannya ( perubahan
berat badan lebihdari 5% sebulannya) atau adnay peningkatan atau penurunan nafsu
makan.Cat. pada anak terjadi kegagalan mencapai berat badan yang diharapkan.
4. Insomnia atau hipersomnia pada hampir setiap harinya.
5. Agitasi atau retardasi psikomotor pada hampir tiap hari (yg dpt diamati orang lain
bukan hanya perasaan subjektif restlessness atau lamban).
6. Fatigue atau kehilangan tenaga pada hampir setiap harinya.
7. Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah berlebihan atau inappropriate (yg mgk
sebagai waham) pada hampir setiap harinya.(bukan hanya menyesali atau merasa
berbeban dgn keadaanya).
8. Kehilangan kemampuan berpikir atau berkonsentrasi atau membuat keputusan pada
hampir setiap harinya (sebagaimana yang dirasakan atau diamati org lain thd ybs).
9. pikiran berulang ttg kematian ( bukan hanya perasaan takut mati), bunuh diri tanpa
perencanaan atau usaha bunuh diri atau adanya rencana spesifik mengakhiri hidup.
B. Gejala-gejala tdk memenuhi kriteri episode campuran.
C. Gejala-gejala menyebabkab penderitaaan yg bermakna klinis atau hambatan
sosial,pekerjaan atau area penting kehidupan lainnya.
D. Gejala-gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari zat
(medikasi,penyalahgunaan obat) atau kondisi medis umum (mis, hipotiroid).
E. Gejala-gejala tidak termasuk: keadaan dukacita (mis. kematian seseorang yg dicintai),
atau menetap lebihdari 2 bulan, atau dikarakterisir oleh gangguan fungsional yan
nyata,preokupasi ttg pikiran tdk berharga,ide bunuh diri,gejala2 psikotik aatau retardasi
psikomotor.