Anda di halaman 1dari 14

BAB V

RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN


PERIKANAN BUDIDAYA

Sejalan dengan prinsip-prinsip dan tujuan pengembangan kawasan perikanan budidaya di atas, maka
pembangunan kawasan tersebut memerlukan penentuan lokasi atau kawasan yang tepat. Oleh karena
itu, diperlukan suatu perencanaan yang matang yang melibatkan partisipasi masyarakat di kawasan
tersebut atau setidak-tidaknya mengakomodasi seluruh aspirasi masyarakat. Sedangkan hasil

36
rumusannya tidak bersifat kaku, berupa
dokumen yang senantiasa dapat
diperjuangkan untuk diubah, jika
memang dikehendaki atau tidak sejalan
lagi dengan kepentingan masyarakat.
Meskipun demikian, dalam hal yang
masyarakat belum memiliki kemampuan,
pemerintah harus mengambil prakarsa
untuk memfasilitasinya tanpa memberi
kesan mendikte. Dalam hal-hal yang
bersifat teknis, biasanya partisipasi
pemerintah lebih dapat diharapkan dan
diandalkan daripada partisipasi
masyarakat.

Demikian pula dalam hal perencanaan


lokasi suatu kawasan, secara teknis
partisipasi pemerintah dalam memberikan pertimbangan-pertimbangan ekonomis lebih banyak
diperlukan daripada pertimbangan-pertimbangan dari masyarakat tetapi dalam pelaksanaannya,
partisipasi masyarakat akan lebih banyak dilibatkan.

Rencana Pengembangan Kawasan Perikanan terdiri dari:

A. Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang

Rencana Struktur Pemanfaatan Ruang menggambarkan susunan unsur-unsur pembentuk rona


lingkungan alam, sosial, dan buatan yang digambarkan secara hirarkis dan berhubungan satu dengan
yang lainnya membentuk struktur ruang kawasan. Isi Rencana Struktur Pemanfaatan Ruang
diantaranya meliputi hirarki pusat pelayanan kawasan seperti sistem pusat-pusat produksi perikanan,
pusat-pusat pemukiman, hirarki sarana dan prasarana, sistem jaringan transportasi seperti sistem
jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal dan kelas terminal.

Rencana Pola Pemanfaatan Ruang menggambarkan letak, ukuran, fungsi dari kegiatan-kegiatan
kawasan budidaya maupun kawasan lindung.

37
Isi Rencana Pola Pemanfaatan Ruang adalah delineasi (batas-batas) kawasan kegiatan sosial, ekonomi,
budaya dan kawasan lainnya di dalam kawasan budidaya dan delineasi kawasan lindung seperti di
bawah ini:
1. Kawasan Lindung
a. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya:
1. Kawasan hutan lindung
2. Kawasan bergambut
3. Kawasan konservasi dan resapan air
b. Kawasan perlindungan setempat:
1. Sempadan pantai
2. Sempadan sungai
3. Kawasan sekitar danau/waduk
4. Kawasan sekitar mata air kawasan terbuka hijau termasuk didalammya hutan kota
c. Kawasan suaka alam:
1. Cagar alam
2. Suaka margasatwa
d. Kawasan pelestarian alam:
1. Taman nasional
2. Kawasan cagar budaya
e. Kawasan rawan bencana alam:
1. Kawasan rawan letusan gunung api
2. Kawasan rawan gempa bumi
3. Kawasan rawan tanah longsor
4. Kawasan rawan gelombang pasang dan banjir
f. Kawasan lindung lainnya:
1. Taman buru
2. Cagar biosfer
3. Kawasan perlindungan plasma nutfah
4. Kawasan pengungsian satwa
5. Kawasan pantai berhutan bakau

38
2. Kawasan Budidaya
a. Kawasan hutan produksi:
b. Kawasan perikanan
c. Kawasan pariwisata
d. Kawasan permukiman

B. Rencana Pengelolaan Kawasan

Rencana Pengelolaan Kawasan adalah


bentuk-bentuk upaya pengelolaan untuk
mewujudkan rencana struktur dan pola
pemanfaatan ruang. Bentuk-bentuk upaya
pengelolaan kawasan meliputi:
1. Pengaturan kelembagaan, meliputi
pembagian kewenangan
pengelolaan kawasan lindung dan budidaya kepada Pemerintah Kabupaten/Kota,
Kecamatan, dan Desa, swasta, lembaga kemasyarakatan, dan masyarakat secara langsung;
2. Program pemanfaatan, meliputi garis besar program-program pemanfaatan pada kawasan
budidaya untuk jangka panjang, menengah, dan pendek;
3. Pengawasan, meliputi tata cara dan prosedur pengawasan terhadap kesesuaian rencana
untuk pemanfaatan ruang kawasan budidaya yang dilakukan secara bersama-sama oleh
Pemerintah Kabupaten/Kota, Kecamatan, dan Desa dengan masyarakat;
4. Penertiban, meliputi tata cara dan prosedur penertiban terhadap pelanggaran-pelanggaran
pemanfaatan ruang kawasan budidaya yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten/Kota.

C. Rencana Sistem Prasarana Kawasan


1. Rencana Sistem Prasarana Jalan
Rencana Sistem Prasarana Jalan dirumuskan dalam rangka pengembangan sistem
prasarana jalan untuk meningkatkan pelayanan jaringan jalan kawasan. Isi Rencana
Sistem Prasarana jalan adalah:
! Penentuan fungsi jalan, yang meliputi penentuan jaringan jalan akses dan jalan produksi
di kawasan sentra produksi perikanan.
! Rencana pembangunan jalan dan jembatan, yang meliputi pembangunan
jalan/jembatan baru untuk menghubungkan kawasan sentra produksi dan kawasan
pemasaran atau pengolahan.

39
2. Rencana Sistem Prasarana Pengairan
Rencana Sistem Prasarana Pengairan ini dirumuskan dalam rangka pengembangan sistem
prasarana pengairan untuk penyediaan air baku bagi pengembangan perikanan serta
kebutuhan domestik dan industri. Isi Rencana Sistem Prasarana Pengairan adalah sistem
jaringan pengairan, fungsi dan pelayanan prasarana pengairan.
3. Rencana Sistem Prasarana Telekomunikasi
Rencana Sistem Prasarana Telekomunikasi dirumuskan untuk meningkatkan kemudahan
pelayanan telekomunikasi bagi dunia usaha dan masyarakat.
4. Rencana Sistem Prasarana Energi
Rencana Sistem Prasarana Energi dirumuskan untuk meningkatkan pelayanan terhadap
kebutuhan energi dan kelistrikan bagi kegiatan permukiman, produksi, jasa, dan kegiatan
sosial ekonomi lainnya.
5. Rencana Sistem Prasarana Pengelolaan Lingkungan
Rencana Sistem Prasarana Pengelolaan Lingkungan dirumuskan untuk meningkatkan
pelayanan terhadap kebutuhan sanitasi lingkungan bagi kegiatan permukiman, produksi,
jasa, dan kegiatan sosial ekonomi lainnya melalui pengembangan sistem prasarana
pengelolaan lingkungan yang terdiri dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS), Tempat
Pembuangan Akhir (TPA), serta sistem pengelolaan limbah cair.

D. Rencana Penatagunaan Tanah, Air Dan Sumber Daya Alam Lainnya


Rencana Penatagunaan Tanah, Air, Udara, Hutan, dan Sumber Daya Alam Lainnya berisi
pengaturan penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah, air dan sumber daya alam
lainnya.
1. Rencana Penatagunaan Tanah
Rencana Penatagunaan Tanah adalah upaya-upaya penguasaan, penggunaan, dan
pemanfaatan tanah agar sesuai dengan Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang
yang meliputi pengaturan antara hak dan kewajiban masing-masing pemegang hak atas
tanah.
2. Rencana Penatagunaan Air
Rencana Penatagunaan Air meliputi pengaturan penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan
air dan sumber air yang berwujud lokasi, kuantitas, kualitas, dimensi waktu, jenis dan
variasi pemanfaatan air untuk menjamin kebutuhan akan air dan menserasikan
penggunaan air untuk kegiatan-kegiatan ekonomi, sosial, pengendalian banjir dan usaha-
usaha pelestarian air. Isi Rencana Penatagunaan Air antara lain adalah:

40
! Pengaturan kebutuhan air untuk masing-masing kegiatan kawasan;
! Penetapan prioritas kebutuhan air berdasarkan rencana tata ruang kawasan;
! Pengaturan tata cara dan prosedur pengelolaan sumber-sumber air;
! Pengaturan tata cara dan prosedur pengolahan air serta teknologi yang diterapkan;

3. Rencana Penatagunaan Sumber Daya Alam Lainnya


Rencana Penatagunaan Sumber daya Alam Lainnya meliputi pengaturan penguasaan,
pemanfaatan dan penggunaan sumber daya alam lainnya dalam rangka mewujudkan
Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang Kabupaten/Kota.

41
E. Rencana Sistem Kegiatan Pembangunan

1. Indikasi Prioritas Pembangunan


Indikasi program prioritas pembangunan pada kawasan yang dianggap perlu diprioritaskan
pengembangan atau penanganannya serta memerlukan dukungan rencana rinci dan
program sebagai upaya mewujudkan Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang.
Prioritas pengembangan di kawasan minapolitan antara lain :
! Pengembangan prasarana Pusat Kawasan (Minapolis);
! Pengembangan prasarana dan sarana di kawasan hinterland (sentra produksi perikanan);

42
2. Indikasi Program Pembangunan
Rencana Pengembangan Kawasan merupakan acuan bagi penyusunan program
pembangunan kawasan. Oleh karena itu, arahan yang ditetapkan dalam rencana tata ruang
perlu dilengkapi dengan indikasi program pembangunan tahunan pada skala besar yang
akan mendorong perkembangan sektor-sektor strategis untuk memberikan dampak positif
terhadap kabupaten secara keseluruhan. Kriteria umum dalam menentukan indikasi
program pembangunan secara keseluruhan adalah: o Mengintegrasikan usaha-usaha
pengembangan dan pembangunan;
! Mempertimbangkan aspirasi masyarakat serta potensi dan masalah yang ada di daerah
agar tercapai segi efisiensi dari usaha-usaha pengembangan wilayah;
! Konsisten dengan arahan tata ruang yang telah ditetapkan.

43
BAB VI
RENCANA PENGEMBANGAN USAHA

Pengembangan usaha merupakan implementasi dari pemanfaatan semua potensi dan sumber daya
yang dimiliki oleh suatu kawasan. Pengembangan usaha perikanan budidaya di kawasan minapolitan
merupakan penjabaran dari strategi pengembangan kawasan. Kegiatan usaha yang berkembang di
kawasan perikanan budidaya adalah
- Perbenihan;
- Pembesaran;
- Pengolahan;
- Pembuatan pakan.

Untuk menyusun pengembangan usaha di kawasan perikanan budidaya (minapolitan) diperlukan


suatu perencanaan yang matang, berdasarkan kedudukan dan strategi pengembangan kawasan.

Panen Benih Udang Panen Benih Ikan

45
Rencana pengembangan usaha ini merupakan penjabaran dari pengembangan kawasan, dimana
kegiatan-kegiatan produksi atau pengolahan produk perikanan yang dilaksanakan di kawasan sentra
di integrasikan dengan pengembangan pusat kawasan (minapolis).

Dalam penyusunan rencana pengembangan usaha, beberapa faktor yang harus diperhatikan yaitu:
- Skala usaha
- Pasar
- Permodalan
- SDM

Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut maka disusun strategi pengembangan usaha di


kawasan perikanan budidaya (minapolitan).

46
BAB VII
PENUTUP

A. Indikator Keberhasilan
Pedoman perencanaan kawasan sentra
perikanan (minapolitan) bisa dinyatakan
berhasil apabila dalam implementasi
lapangan terjadi:
1. Tersusunnya rencana
pengembangan kawasan sentra
perikanan di berbagai daerah yang
sesuai kaidah pedoman ini;
2. Terdapatnya paradigma baru di
jajaran departemen teknis terkait
dan pemerintah daerah, dimana
dalam perencanaan kawasan
sentra perikanan (minapolitan),
akan selalu merujuk pada RTRWN,
RTRW, peraturan dan pedoman terkait.
3. Pedoman perencanaan kawasan sentra perikanan nasional dan daerah (minapolitan) ini
tersosialisasi dengan baik kepada semua pihak yang berkepentingan
4. Tidak terjadi benturan dan kesimpangsiuran di tataran teknis atas model pengelolaan ruang
dan kawasan suatu wilayah.

B. Pembinaan dan Sosialisas


Pembinaan dan sosialisasi ditujukan kepada para masyarakat dan dunia usaha yang menjadi subjek
dan objek dari pedoman perencanaan kawasan sentra perikanan (minapolitan), tolok ukur
keberhasilannya adalah:
1. Meningkatnya tingkat kesejahteraan masyarakat disekitar kawasan sentra perikanan
(minapolitan).
2. Berkembangnya usaha berbasis perikanan, baik dalam skala kecil, menengah dan besar
dikawasan sentra perikanan (minapolitan).

48