Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Di era globalisasi ini banyak sekali kasus pelanggaran-pelanggaran terutama banyak


terjadi di Indonesia, salah satunya yaitu kasus pelanggaran etika profesi akuntansi. Tidak
ada hanya masyarakat menengah yang mengalaami pelanggaran tersebut, yang lebih
banyak pelanggaran yaitu terjadi di kalangan atas, seperti kasus pelanggaran korupsi,
kesalahan dalam melakukan pembuatan laporan keuangan,bahkan melalukan pemalsuan
tanda tangan terhadap nasabah bank, kasus ini terlibat karena kurangnya ketelitian dalam
pembuatan laporan keuangan dan kurangnya sistem dalam perusahaan yang
bersangkutan.

Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) di Indonesia bukan lagi merupakan


sebuah fenomena, melainkan sudah merupakan fakta yang terkenal dimana mana. Kini
setelah rezim otoriter orde baru tumbang tampak jelas bahwa praktik KKN selama ini
terbukti telah menjadi tradisi dan budaya yang keberadaannya meluas, berura akar, dan
menggurtia dalam masyarakat serta sistem birokrasi Indonesia, mulai dari pusat hingga
lapisan kekuasaan yang paling bawah.

KKN adalah produk dan relasi sosial-politik dan ekonomi yan paling pincang dan
tidak manusiawi. Relasi yang dikembangkan adalah relasi yang diskriminatif, alienatif,
tidak terbuka, dan melecehkan kemanusiaan. Kekuasaan dainggap sebagai sebuah
privillege bagi kelompok (kecil) tertentu, serta bersifat tertutup dan menempatkan semua
bagian yang lain sebagai objek-objek yang tak punya akses untuk berpartisipasi. Setiap
bentuk kekuasaan (baik politik maupun ekonomi) yang tertutup akan menciptakan
hukum-hukumnya sendiri demi melayani kepentingan penguasaan yang eksklusif.
Kekuasaan yang tertutup semacam ini merupakan lahan subur yang bisa menghasilkan
panen KKN yang benar-benar melimpah.

Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia dimaksudkan sebagai panduan dan aturan
bagi seluruh anggota, baik yang berpraktik sebagai akuntan publik, bekerja di lingkungan

1
dunia usaha, pada instansi pemerintah, maupun di lingkungan dunia pendidikan dalam
pemenuhan tanggung-jawab profesionalnya. Tujuan profesi akuntansi adalah memenuhi
tanggung-jawabnya dengan standar profesionalisme tertinggi, mencapai tingkat kinerja
tertinggi, dengan orientasi kepada kepentingan publik. Kredibilitas.

Prinsip Etika memberikan kerangka dasar bagi Aturan Etika, yang mengatur
pelaksanaan pemberian jasa profesional oleh anggota. Prinsip Etika disahkan oleh
Kongres dan berlaku bagi seluruh anggota, sedangkan Aturan Etika disahkan oleh Rapat
Anggota Himpunan dan hanya mengikat anggota Himpunan yang bersangkutan.
Interpretasi Aturan Etika merupakan interpretasi yang dikeluarkan oleh Badan yang
dibentuk oleh Himpunan setelah memperhatikan tanggapan dari anggota, dan pihak-pihak
berkepentingan lainnya, sebagai panduan dalam penerapan Aturan Etika, tanpa
dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan penerapannya.

1.1 RUMUSAN MASALAH

Beberapa pokok masalah atau permasalahan yang akan dibahas oleh penulis dalam
makalah ini yaitu:
1. Bagaimana Kode Etik Profesi Akuntan di AS?
2. Bagaimana Kode Etik Profesi Akuntan di Luar AS?
3. Apa Pengertian Sarbanes-Oxley Act (SOX)?
4. Bagaimana Kode Etik Profesi Akuntan-IFAC?
5. Bagaimana Profesi Akuntan Indonesia dan IFAC?

1.3 TUJUAN PENULISAN

Beberapa tujuan penulisan yang akan disusun oleh penulis dalam makalah ini yaitu:

1. Untuk Mengetahui Kode Etik Profesi Akuntan di AS


2. Untuk Mengetahui Kode Etik Profesi Akuntan di Luar AS
3. Untuk Mengetahui Sarbanes-Oxley Act (SOX)
4. Untuk Mengetahui Kode Etik Profesi Akuntan-IFAC
5. Untuk Mengetahui Profesi Akuntan Indonesia dan IFAC

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 KODE ETIK PROFESI AKUNTAN DI AS

Bagaimana dikatakan oleh duska (2005), sedikitnya ada 6 manfaat dari kode etik protesi,
yaitu :
1. Dapat memberikan motivasi melalui penggunaan tekanan dari rekan sejawat
(peer-pressure) dengan memelihara seperangkat harapan prilaku yang diakui
umum yang harus dipertimbangkan dalam proses keputusan.
2. Dapat memberikan pedoman yang lebih stabil tentang benar atau salah dari pada
mengandalkan kepribadian manusiawi atau keputusan yang selalu bersifat ad
haot.
3. Dapat memberikan tuntunan, terutama dalam menghadapi situasi yang abu-abu
(ambiguous situation).
4. Kode etik tidak saja dapat menuntun prilaku karyawan (employees) namun dapat
juga mengawasi kekuasaan otokrasi atasan (employers).
5. Kode etik dapat merinci tanggung jawab social perusahaan itu sendiri.
6. Kode etik sebenarnya untuk kepentingan bisnis itu sendiri, kalau bisnis tidak mau
mengawasi prilaku dirinya sendiri, maka pihak lain yang akan bertindak
mengawasinya.

Ada dua organisasi profesi akuntan yang berpengaruh di AS yang telah


memberikan kontribusi bagi penyusunan kode etik profesi akuntan, yaitu American
institute of certified public accountants (AICPA) dan institute of management
accountants (IMA) kode etik AICPA lebih ditunjukan untuk para akuntan yang
berpraktik pada kantor akuntan public, sedangkan kode etik IMA lebih ditunjukan bagi
para akuntan yang berprofesi sebagai akuntan menejemen disuatu organisasi perusahaan.
pada bab ini secara khusus akan dibahas kode etik AICPA, sedangkan kode etik IMA
telah dibahas pada ban 6. Kode etik AICPA terdiri atas dua bagian, bagian pertama berisi
prinsip-prinsip etika (principies) dan pada bagian kedua berisi aturan etika (rules). Pada
table 8.1 diberikan ringkasan prinsip-prinsip dan aturan etika yang berlaku bagi anggota

3
organisasi AICPA. Ringkasan ini dikutip dari buku business and professional ethic for
director executive, and accountants karangan leonard j , books 2007, (240-241).

Tabel 8.1
Ringkasan Prinsip-prinsip dan Aturan Etika AICPA (Lanjutan)

202 Kesesuaian dengan  Keharusan jika jasa meliputi auditing, review, kompilasi,
Standar konsultasi manajemen, perpajakan, atau jasa profesional

203 Prinsip Akuntansi  Tidak ada penyimpangan dari prinsip-prinsip Akuntansi


Berterima Umum. Bila penyajiannya menimbulkan salah
pengertian, maka harus dinyatakan mengapa diperlukan
penyimpangan dan apa pengaruhnya-diotoritasi oleh
pernyataan FASB, GASB, FASAB.

301 Informasi Klien  Tidak boleh diungkap tanpa persetujuan, kecuali untuk
Rahasia perkara pengadilan atau CPA proceeding.

 Tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi.

302 Fee Kontijen  Tidak diperbolehkan untuk audit, review, kompilasi,


pemeriksaan informasi keuangan prospektif, perhitungan
pajak. Dan klaim restitusi pajak- beberapa pengecualian
diberikan daftarnya.

501 Tindaka  Tidak diperbolehkan: diskriminasi, kekerasan,


Mendiskreditkan pengimpangan dari standar pemerintah, ketidakpedulian.

502 Advertensi dan  Tidak boleh memalsukan, menyesatkan, menipu,


Solistasi memaksa, upaya berlebihan, atau dengan kekerasan.

503 Komisi dan Fee  Tidak diperbolehkan untuk audit,review, kompilasi,


Rujukan pemeriksaan informasi keuangan prospektif, kecuali
memerlukan pengungkapan.

505 Bentuk dan  Diizinkan kepemilikan minoritas non-CPA, asal

4
Nama Organisasi tanggung jawab akhir tetap pada anggota CPA, secara
finansial dan lainnya untuk pekerjaan atestasi yang
dilaksanakan untuk melindungi kepentingan publik,
teteapi tidak boleh diluar CPA, dan harus mengikuti kode
etik CPA.

2.2 KODE ETIK PROFESI AKUNTAN DI LUAR AS

Ada banyak contoh kode etik profesi akuntan yang berlaku di banyak negara. Beberapa
kode etik yang berlaku di beberapa negara, seperti AS, Inggris, Jerman, Kanada, dan
Australia tidak banyak berbeda. Berikut ini diberikan ringkasan kode etik yang berlaku di
negara Kanada yang juga dikutip dari buku yang ditulis oleh Brooks (2007). Ringkasan
kode etik dapat dilihat pada tabel 8.2.

Tabel 8.2
Ringkasan Kode Etik Profesi Akuntan Kanada

Pendahuluan Meliputi filosofi yang melandasi aturan yang mengikat


tanggung jawab seorang Chartered Accountant.
Karakter seorang profesional Delapan unsur, termasuk subordinasi kepentingan
pribadi atas kepentingan publik.
Prinsip-prinsip yang  Berasal dari kepercayaan publik atas kewajaran
mengatur perilaku anggota laporan keuangan dan nasihat yang kompeten atas
dan mahasiswa berbagai masalah bisnis.
 Memlihara reputasi, baik profesi maupun
kemampuannya untuk melayani kepentingan publik.
 Menjalankan integritas, kehati-hatian, kompetensi
profesional yang cukup, dan mematuhi berbagai
peraturan.
 Tidak ada pengaruh, kepentingan, atau hubungan
yang dapat mencederai penilaian profesional atau

5
objektivitas, atau kesan demikian dari pengamat
yang berakal sehat.
 Kewajiban untuk merahasiakan dan tidak
memanfaatkan informasi yang berkaitan dengan
urusan klien.
 Pengembangan praktik berdasarkan keunggulan
profesional, bukan atas dasar promosi pribadi.
 Menunjukkan rasa hormat dan pertimbangan dalam
berhubungan dengan rekan sejawat.
 Memperhatikan kewajiban fidusia dan kewajiban
profesional yang diperlukan.
Prinsip-prinsip yang  Menciptakan, memelihara, serta mempertahankan
mengatur tanggung jawab kebijakan dan prosedur yang sesuai dengan
firma peraturan yang berlaku.
 Kegagalan dalam mematuhi peraturan akan memicu
sanksi untuk firma secara keseluruhan atau untuk
partner yang mengetahui dan yang bertanggung
jawab.
Karakter pribadi dan kode  Mengikuti Prinsip-prinsip dan Aturan Etika, perilaku
etik terhormat melampaui larangan-larangan tertulis.
Penerapan Aturan Etika  Untuk semua anggota yang berpraktik sebagai
akuntan publik, dan/atau dimana publik dan/atau
asosiasi mengandalkan individu berdasarkan
keanggotaannya di ICAO.
 Kepada bukan anggota yang diawasi oleh atau
bersekutu dengan anggota.
 Di dalam yurisdiksi di luar Ontario, anggota harus
menghormati peraturan lokal, tetapi tidak
menjelekkan ICAO.
Interpretasi Aturan Etika  Aturan etika harus diinterprestasikan sejalan dengan

6
persoalan yang dikemukakan pada Pendahuluan.
Aturan Etika Interprestasi/Isu yang diliput:
Umum:
101 Kepatuhan terhadap  Bersifat “mandatory”, berlaku juga untuk
hukum dan peraturan mahasiswa.
102 Tuduhan kriminal atau  Bisa berakibat dituntut karena melanggar kode
serangan sejenis perilaku profesional.
102.2. Melaporkan penghentian  Pemberitahuan secara tegas setiap ada penghentian
sementara (suspensi) karena sementara.
pertimbangan disiplin
103 Tidak dikaitkan dengan  Pada surat, laporan, pernyataan, atau representasi
salah saji atau dikaitkan dengan kandidat sebagai mahasiswa
atau anggota.
104 Harus secara tertulis dalam
melakukan koresponden dengan
institut
Standar-standar yang
Mempengaruhi Kepentingan
Publik:
201 Memelihara reputasi  Selamanya, baik anggota maupun mahasiswa
baik profesi dan kemampuan  Pelanggaran di luar yurisdiksi Kanada dapat
melayani publik menyeret ICAO.
 Dukungan terhadap persyaratan Jasa.
202 Integritas dan kehati-hatian

203 Memelihara kompetensi


profesional
203.2 Kerjasama dalam  Harus bekerja sama dengan petugas yang ditunjuk
penyelidikan dan investigasi Institut dalam melaksanakan penyelidikan atau
investigasi perilaku profesional.
204 Independensi dan  Mereka yang memberikan opini atas laporan
objektivitas keuangan atau dalam penugasan tentang ancaman

7
ketidakmampuan (insolvency) harus bebas dari
pengaruh, kepentingan, atau hubungan yang dapat
mencederai penilaian profesional atau objektivitas,
atau ada kesan seperti itu.
 Harus ada pengungkapan tertulis atas segala sesuatu
yang dianggap dari sudut pengamat berakal sehat
mencederai independendi dan objektivitas.
205 Pernyataan palsu atau  Tidak dikaitkan meskipun bila pendapat disclaimer
menyesatkan diberikan.
 Meliputi surat-menyurat, laporan, representasi,
pernyataan, laporan keuangan, baik lisan maupun
tertulis.
 Meliputi penghilangan, salah saji material, dan
ketidakpatuhan.
206 Kepatuhan dengan  Dengan prinsip akuntansi berterima umum dan
Standar Profesional standar auditing berterima umum yang ditetapkan
oleh buku pedoman CICA.
207 Tidak ada imbalan yang  Dari klien atau atasan.
tidak diotorisasi
208 Memelihara kerahasiaan  Tidak ada pengungkapan kecuali seizin dan
informasi tentang urusan sepengetahuan klien, atau kalau diwajibkan oleh
klien otoritas penegak hukum, pengadilan, atau Komite
Kode Etik Profesional.
 Tidak boleh menyalahgunakan untuk keuntungan
pribadi, keuntungan pihak ketiga, atau merugikan
klien,
 Tanggung jawab untuk agen subkontraktor.
210 Konflik Kepentingan  Bertanggung jawab untuk mencegah sebelum
menerima pengikatan tugas.
 Tidak boleh ada tugas yang mengandung konflik

8
kepentingan (pribadi versus klien, atau klien versus
klien) oleh anggota, mahasiswa, atau firma, kecuali
semua pihak yang terpengaruh diberitahu dan
mengizinkan.
211 Kewajiban melaporkan  Tentang atuan etika.
pelanggaran anggota  Tentang setiap informasi yang menimbulkan
mahasiswa, pelamar, atau keraguan menyangkut kompetensi, reputasi, atau
firma integritas.
 Kecuali ada pengecualian, atau akan melanggar
kewajiban statuta, atau privelege pencari klien, dan
sebagainya.
212 Menangani dana trust  Sesuai dengan peraturan trust.
dan kekayaan lain  Pemisahan dan pencatatan.
213 Tidak boleh ada kegiatan  Asosiasi orang-orang, nama, atau jasa-jasa.
yang melanggar hukum
214 Penawaran fee  Hanya bila diminta oleh klien dan setelah
memperoleh informasi yang memadai tentang
penugasan.
215 Fee kontinjen  Tidak diizinkan, kecuali untuk perikatan
insolvencyatau dalam kondisi yang sangat spesifik.
216 Tidak ada fee rujukan  Tidak diperbolehkan, kecuali dalam penjualan atau
atau kompensasi pembelian suatu praktik akuntansi.
217 Pembatasan advertensi  Advertensi tidak boleh bohong atau menyesatkan,
mengandung selera rendah, bertentangan dengan
keagungan profesional, mencerminkan kesan tidak
baik tentang kompetensi atau integritas dan
memasukkan pernyataan yang tidak substantif.
 Tidak boleh memburu klien.
 Dukungan dimungkinkan dalam kondisi yang ketat,
dan setelah melalui investigasi yang cukup.

9
218 Penahanan dokumen dan  Untuk periode waktu yang masuk akal.
kertas kerja
Hubungan dengan anggota atau
firma sejawat dan perikatan
dengan non anggota dalam
akuntansi publik
302 Penerimaan penugasan  Tidak dibolehkan tanpa menanyakan auditor
bila ada auditor penanggung sebelumnya jika ada hal-hal yang harus
jawab sebelumnya dipertimbangkan.
 Diperlukan respons dari auditor sebelumnya,
penipuan harus dilaporkan bila ada kecurigaan.
303 Kerjasama dengan  Diperlukan jika ada permintaan tertulis.
pengganti
304 Penugasan bersama  Melaksanakan kerjasama dan beberapa kewajiban.
 Harus menasihati akuntan lain tentang kegiatannya.
305 Komunikasi penugasan  Harus berkomunikasi dengan auditor sebelumnya,
khusus dengan auditor kecuali klien telah membuat permintaan tertulis
sebelumnya sebelum perikatan dimulai
306 Tanggung jawab dalam  Tidak boleh ada tindakan yang mencemarkan posisi
penugasan khusus akuntan lainnya.
 Tidak boleh ada jasa melebihi perjanjuan rujukan
awal, kecuali ada kesepakatan dengan anggota yang
merujuk.
Organisasi dan perilaku
seorang praktisi profesional
401 Nama kantor  Selera yan baik, disetujui oleh institusi, tidak
menyesatkan, atau memuji diri.
404 Tanggung jawab yang  Akuntan publik harus menggunakan “Chartered
membawa corak mode Accountant(s)” atau “Publik Accountant(s)”.
tertentu, operasi kantor  Kantor harus di bawah tanggung jawab seorang yang

10
berlisensi akuntan publik yang umumnya hadir.
 Kantor tidak boleh beroperasi paruh waktu, kecuali
diizinkan oleh peraturan.
 Tidak bisa menggunakan “Chartered Accountants”
jika seorang non-CA mempunyai suatu kepentingan
kekayaan.
405 Asosiasi dengan firma-  Hanya jika paling sedikit satu partner adalah seorang
firma “Chartered Accountants”
406 Tanggung jawab untuk  Akuntan publik bertanggung jawab atas kegagalan
non-anggota non-anggota dalam memenuhi Kode Etik.
407 Bisnis dan praktik terkait  Kode Etik diterapkan.
408 Asosiasi dengan non-  Hanya jika memelihara reputasi profesi yang baik
anggota dalam praktik umum dan mematuhi kode etik.
409 Kantor perwakilan  Tidak dijalankan jika seorang anggota hanya
diwakili oleh seorang bukan anggota/firma, atau
sebaliknya.
410 Praktik akuntan publik  Dilarang, kecuali dalam kondisi khusus-merujuk
berbentuk Perseroan pada kode etik terkini.
Aturan yang berlaku bagi firma

502 Pendirian, pemeliharaan  Harus memiliki yang dipandang perlu menurut


Aturan Kode Etik
502 dan penegakan  Dan segala sesuatu yang diperlukan untuk mematuhi
kebijakan dan prosedur kompetensi dan kode perilaku anggota firma.
503 Asosiasi dengan Firma  Hanya jika paling sedikit satu partner dari firma lain
adalah Chartered Accountant.

Sumber: Brooks, Business and Professional Ehics for Directors, Executives, and
Accountants, hlm. 241-244.2007

11
2.3 SARBANES-OXLEY ACT

Badai skandal keuangan yang mempertontonkan pelanggaran etika secara nyata yang
dilakukan oleh para eksekutif puncak perusahaan-perusahaan publik multinasional yang
berkantor pusat di AS yang juga melibatkan profesi akuntan publik ternama, sempat
menggoncang bursa saham dan perekonomian AS. Akibat berbagai skandal ini,
pemerintah dan lembaha legislatif AS segera mengeluarkan undang-undang yang sangat
terkenal dengan nama Sarbanes-Oxley Act (SOX).

Sukrisno Agoes, dalam bukunya Auditing (Pemeriksaan Akuntan) oleh Akuntan Publik,
(2004), telah meringkas pokok-pokok yang diatur dalam SOX sebagaimana terlihat
dalam Tabel 8.3.

12
13
14
2.4 KODE ETIK PROFESI AKUNTAN : IFAC

IFAC (International Federation of Accountans) adalah organisasi global untuk profesi


akuntansi yang didirikan tahun 1977. Sebagaimana dicantumkan dalam konstitusinya
adalah “mengembangkan dan menyempurnakan profesi akuntansi secara global dengan
standar-standar yang harmonis sehingga dapat memberikan pelayanan dengan kualitas
tinggi secara konsisten untuk kepentingan public”. (IFAC. Code of Ethics for Profesional
Accountans, Juni 2005).

Sebagaimana dikatan oleh Brooks (2007), Kode Etik yang ditetapkan oleh IFAC
memberikan perlakuan terkini tetang ketentuan yang berkaitan dengan independensi dan
konflik kepentingan. Oleh karena itu misi IFAC adalah melakukan harmonisasi standar di
antara Negara-negara anggota IFAC di masa mendatang, maka sangat pantas bila kode
etik IFAC ini mendapat perhatian yang sungguh-sungguh.

Struktur Kode Etik IFAC

15
Kerangka Dasar Kode Etik IFAC

1. MELINDUNGI KEPENTINGAN PUBLIK


2. JASA PROFESIONAL KEPADA KLIEN

PENILAIAN

INTEGRITAS OBJEKTIVITAS SKEPTISME


PROFESIONAL

INDEPENDENSI PIKIRAN DAN PENAMPILAN

Proses Menjamin Independensi Pikiran


Dan Independensi Penampilan

Identifikasi dan evaluasi keadaan dan Eliminasi ancaman atau kurangi


hubungan yang menciptakan ancaman sampai ke tingkat dapat diterima
terhadap independensi: dengan:
kepentingan pribadi Menerapkan pengaman
Review Diri Profesi
Advokasi Legislasi
Keakraban Regulasi
Intimidasi Di dalam Klien
Di dalam Firma

Berikut penjelasan singkat tentang berbagai konsep yang membentuk struktur etika
IFAC:
1. Prinsip-prinsip Fundamental Etika
a) Intergritas (Integrity). Seorang akuntan profesional harus bertindak tegas dan jujur
dalam semua hubungan bisnis dan profesional dan profesional.

16
b) Objectivitas (Objectivity). Seorang akuntan profesional seharusnya tidak boleh
membiarkan terjadinya bias, konflik kepentingan, atau dibawah pengaruh orang
lain sehingga mengesampingkan pertimbangan bisnis dan profesional.
c) Kompetensi profesional dan kehati-hatian. Seorang akuntan profesional
mempunyai kewajiban untuk memelihara pengetahuan dan keterampilan
profesional secara berkelanjutan pada tingkat yang diperlukan untuk menjamin
seorangg klien atau atasan menerima jasa profesional yang kompeten yang
didasarkan atas perkembangan praktik, legalisasi, dan teknik terkini. Seorang
akuntan profesional harus bekerja secara tekun serta mengikuti standar-standar
profesional dan teknik yang berlaku dalam memberikan jasa profesional.
d) Kerahasiaan (Confidentiality). Seorang akuntan profesional harus menghormati
kerahasiaan informasi yang diperoleh sebagai hasil dari hubungan profesional dan
bisnis serta tidak boleh mengungkapkan informasi apapun kepada pihk ketiga
tanpa izin yang benar dan spesifik, kecuali terdapat kewajiban hukum atau
terdapat hak proesional untuk mengungkapkannya. Informasi rahasia yang
diperoleh dari hasil hubungan bisnis dan profesional tidak boleh digunakan untuk
keuntungan pribadi akuntan profesional atau pihak ketiga.
e) Prilaku profesional (Profesional Behavior). Seorang akuntan profesional harus
patuh pada hukum dan perundang-undangan yang relevan dan harus mengindari
tindakan yang dapat mendeskreditkan profesi.

2. Independensi
a) Independensi Pikiran, adalah suatu keadaan pikiran yang memungkinkan
mengungkapkan suatu kesimpulan tanpa terkena pengaruh yang dapat
mengompromikan penilaian profesional, memungkinkan seorang individu
bertindak berdasarkan integritas, serta menerapkan objektivitas dan skeptisme
profesional.
b) Independensi Penampilan, adalah penghindaran fakta dan kondisi yang
sedemikian signifikan sehingga pihak ketiga yang paham dan berpikir rasional –
dengan memiliki pengetahuan akan semua informasi yang relevan, termasuk
pencegahan yang diterapkan – akan tetap dapat menarik kesimpulan bahwa

17
skeptisme profesional, objektivitas dan integritas anggota firma, atau tim
penjamin (assurance team) telah dikompromikan.

3. Ancaman terhadap Independensi


a. Kepentingan diri (Self-Interest)
Contoh dari ancaman kepentingan diri:
 Kepentingan keuanga, pinjaman, dan garansi.
 Perjanjian kompensasi insentif
 Penggunaan harta perusahaan yang tidak tepat
 Tekanan Komersial pihak luar perusahaan (IFAC, 300.8)
b. Review diri (Self-Review)
 Temuan kesalahan material yang saat dilakukan evaluasi ulang.
 Pelaporan operasi sistem keuangan setelah terlibat dalam perancangan dan
implementasi sistem tersebut.
 Terlibat dalam pemberian jasa pencatatan akuntansi sebelum perikatan
penjaminan.
 Menjadi anggota tim penjaminan setelah baru saja menjadi karyawan/pejabat
di perusahaan klien yang memiliki pengaruh langsung berkaitan dengan
perikatan penjaminan tersebut.
 Memberikan jasa kepada klien yang berpengaruh langsung pada materi
perikatan penjaminan tersebut. (IFAC, 200.5)
c. Advokasi (Advocacy
 Mempromosikan saham perusahaan public dari klien, di mana perusahaan
tersebut merupaka klien audit.
 Bertindak sebagai pengacara untuk klien penjamin dalam suatu litigasi atau
perkara perselisihan dengan pihak ketiga (IFAC, 200.6)
d. Kekerabatan (Familiarity)
 Anggota tim mempunyai hubungan keluarga dekat dengn seorang direktur
atau pejabat perusahaan klien.

18
 Anggota tim mempuyai hubungan keluarga dekat dengan seorang karyawan
klien yang memiliki jabatan yang berpengaruh langsung dan signifikan
terhadap pokok dari penugasan.
 Mantan rekan (partner) dari kantor akuntan menjadi direktur atau pejabat klien
atau karyawan pada posisi berpengaruh atas pokok suatu penugasan.
 Menerima hadiah atau perlakuan istimewa dari klien, kecuali nilai tidak
signifikan.
 Hubungan yang terjalin lama dengan karyawan senior perusahaan klien
(IFAC, 200.7)
e. Intimidasi (Intimidation)
 Diancam dipecat atau diganti dalam hubungannya dengan penugasan pada
klien .
 Diancam dengan tuntutan hukum.
 Ditekan secara tidak wajar untuk mengurangi ruang lingkup pekerjaan dengan
maksud untuk mengurangi fee (IFAC, 200.8).

4. Pengamanan terhadap Independensi


a) Pengamanan melalui profesi, legislasi, atau regulasi.
 Persyaratan pendidikan, pelatihan, dan pengalaman kerja.
 Persyaratan pengembangan profesi berkelanjutan.
 Peraturan tata kelola koporasi.
 Standar-standar profesional.
 Prosedur pemantauan dan pendisiplinan profesi atau peraturan.
 Review eksternal oleh pihak ketiga yang berwewenang atas laporan,
pemberitahuan, komunikasi, dan informasi yang dihasilkan oleh akuntan
profesional (IFAC, 100.12)
b) Pengamanan Lingkungan Kerja
 Penerpan Struktur pengawasan koporasi
 Pedoman kode etik prilaku organisasi

19
 Pedoman prekrutan yang menekankan pentingnya merekrut tenaga dengan
kompetensi tinggi.
 Pengendalian internal yang kuat
 Proses pendisiplinan yang memadai
 Kepemimpinan yang berbasis etika
 Kebijakan prosedur pelaksanaan dan pemantauan kinerja karyawan.
 Komunikasi tepat waktu tentang berbagai kebijakan dan prosedur termasuk
perubahannya ke seluruh karyawan disertai pelatihan dan pendidikan yang
memadai tentang kebijakan dan prosedur yang ada (IFAC,300.16).

2.5 PROFESI AKUNTAN INDONESIA DAN IFAC

Saat ini profesi akuntan di Indonesia, baik akuntan publik maupun akuntan manajemen,
mengikuti standar kompetensi yang berlaku di AS. Namun dengan kecenderungan
terjadinya penyatuan sistem perekonomian dunia, mau tidak mau seluruh profesi akuntan
di dunia juga harus mendukung ke arah penyatuan sistem ekonomi global tersebut. Saat
ini, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, kecenderungan timbulnya kesatuan sistem
ekonomi global ini belum diikuti oleh keseragaman atau keharmonisan penerapan
standar-standar teknis akuntansi, auditing, dan kode etik profesi akuntansi di seluruh
dunia.

Menyadari hal tersebut, para pengurus dan anggota IAI telah berkali-kali
mengadakan diskusi dan pembicaraan sekitar kesiapan IAI untuk mengadopsi standar-
standar dan kode etik internasional dengan memanfaatkan berbagai forum, seperti
kongres, seminar, lokakarya, pelatihan, dan sejenisnya. Kabar terakhir, pengurus IA
bertekad untuk sesegera mungkin agar profesi akuntan Indonesia mengadopsi standar
teknis dan perilaku yang dikeluarkan oleh International Federation of Accountants
(IFAC).

20
Profesi-profesi Akuntansi di Indonesia terbagi menjadi empat, yaitu :

1. Akuntan Publik
Akuntan Publik adalah akuntan yang telah memperoleh izin dari menteri
keuangan untuk memberikan / menjual jasanya kepada masyarakat umum, terutama
dalam bidang pemeriksaan laporan keuangan kepada kliennya di Indonesia atas dasar
pembayaran tertentu. Mereka ini bekerja bebas dan umumnya mendirikan suatu
kantor akuntan dalam waktu paling lama 6 bulan sejak izin Akuntan Publik
diterbitkan.

2. Akuntan Pemerintah
Akuntan pemerintah adalah akuntan yang bekerja pada lembaga-lembaga pemerintah,
misalnya di kantor Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Badan
Pengawas Keuangan (BPK) dan Instansi Pajak.

3. Akuntan Pendidik, dan


Akuntan pendidik adalah akuntan yang bertugas dalam pendidikan akuntansi,
melakukan penelitian dan pengembangan akuntansi, mengajar, menyusun kurikulum
pendidikan akuntansi di perguruan tinggi.

4. Akuntan Manajemen Perusahaan.


Akuntan manajemen disebut juga sebagai akuntan intern adalah akuntan yang bekerja
dalam suatu perusahaan atau organisasi dan berpartisipasi dalam mengambil
keputusan mengenai investasi jangka panjang. Tugas mereka adalah menyusun sistem
akuntansi, menyusun laporan keuangan kepada pihak-pihak eksternal, menyusun
laporan keuangan kepada pemimpin perusahaan, menyusun anggaran, penanganan
masalah perpajakan dan pemeriksaan intern.

21
Prinsip etika akuntan atau kode etik akuntan itu meliputi delapan butir pernyataan
(IAI, 1998, dalam Ludigdo, 2007). Kedelapan butir pernyataan tersebut merupakan hal-
hal yang seharusnya dimiliki oleh seorang akuntan, yaitu :

 Tanggung jawab profesi


bahwa akuntan di dalam melaksanakan tanggungjawabnya sebagai profesional harus
senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan
yang dilakukannya.

 Kepentingan publik
akuntan sebagai anggota IAI berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam
kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepentingan publik, dan
menunjukkan komitmen atas profesionalisme.

 Integritas
akuntan sebagai seorang profesional, dalam memelihara dan meningkatkan
kepercayaan publik, harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya tersebut dengan
menjaga integritasnya setinggi mungkin.

 Obyektifitas
dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya, setiap akuntan sebagai anggota IAI
harus menjaga obyektifitasnya dan bebas dari benturan kepentingan.

 Kompetensi dan kehati-hatian profesional


akuntan dituntut harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan penuh kehati-hatian,
kompetensi, dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan
pengetahuan dan keterampilan profesionalnya pada tingkat yang diperlukan untuk
memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa
profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi, dan teknik
yang paling mutakhir.

 Kerahasiaan
akuntan harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan
jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut

22
tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk
mengungkapkannya.

 Perilaku profesional
akuntan sebagai seorang profesional dituntut untuk berperilaku konsisten selaras
dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan
profesinya.

 Standar teknis
akuntan dalam menjalankan tugas profesionalnya harus mengacu dan mematuhi
standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan
dengan berhati-hati, akuntan mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan
dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan
obyektifitas.

23
KASUS

Auditor BPK Terjerat Kasus Korupsi

KPK melalui operasi tangkap tangan (OTT) pada Jumat (26/5) mengamankan tujuh orang
yang diduga terlibat suap. Praktik suap itu terkait dengan pemeriksaan Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) terhadap Laporan Keuangan Kementerian Desa Pembangunan Daerah
Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Tahun Anggaran 2016.

Setelah pemeriksaan, KPK menetapkan empat tersangka, yaitu Irjen Kemendes


Sugito, pejabat eselon III Kemendes Jarot Budi Prabowo, pejabat eselon I BPK Rachmadi
Saptogiri, dan auditor BPK Ali Sadli. KPK menemukan adanya dugaan suap dalam
pemberian opini wajar tanpa pengecualian (WTP) oleh BPK terhadap Kemendes PDTT.
Sejumlah barang bukti berupa uang suap berhasil diamankan dari para tersangka.

Penetapan empat tersangka itu tidak saja menjadi musibah bagi BPK dan
Kemendes, namun juga bagi pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Peristiwa memalukan
ini terjadi kurang dari seminggu setelah laporan keuangan pemerintah pusat di era Jokowi
mendapatkan opini WTP kali pertama dari BPK setelah 12 tahun laporan keuangan
sebelumnya selalu mendapatkan predikat WTP.

Dari semua tujuan suap yang terungkap, kasus untuk mendapat opini BPK berupa
WTP adalah yang menarik untuk dicermati. Bukan rahasia lagi, banyak pihak dari
kementerian/lembaga dan pemprov/pemkab/pemkot berlomba-lomba dan dengan segala
cara untuk mendapatkan opini WTP. Apalagi, pemerintah Jokowi pernah menargetkan
pada 2015 opini WTP di lingkungan pemerintah mencapai 60 persen dan pada 2017
mencapai 100 persen.

24
ANALISIS KASUS

Sebanyak 4 kasus suap terkait mendapatkan opini BPK atas laporan hasil pemeriksaan
keuangan, 1 kasus suap untuk mengubah hasil temuan BPK, dan 1 kasus suap agar
mengesampingkan temuan BPK yang mencurigakan. Predikat WTP masih dinilai sebagai
gengsi atau kebanggaan dari pejabat tertentu dan memberikan persepsi positif bahwa
pemerintahan maupun keuangannya telah dikelola secara akuntabel dan terbebas dari
korupsi. Praktik suap terhadap auditor BPK bukanlah kali pertama terjadi. Sudah rahasia
umum meskipun sulit dibuktikan, banyak terperiksa yang memperlakukan auditor BPK
selayaknya pejabat. Tujuannya, agar proses audit tidak dipersoalkan. Selain mendapatkan
uang suap atau uang lelah, tidak jarang auditor diinapkan di hotel mewah hingga
disediakan berbagai kebutuhan sesuai permintaan
Kasus penyuapan auditor BPK tersebut telah melanggar integritas, independensi,
dan profesionalitas, yang sesungguhnya sejak 2011 BPK memiliki Peraturan BPK No 2
Tahun 2011 tentang Kode Etik BPK yang berlaku bagi anggota BPK, pemeriksa, dan
pelaksana BPK lainnya. Kode etik BPK tersebut sebaiknya perlu diterapkan secara keras.
Agar memberikan efek jera terhadap auditor yang menerima uang suap dari lembaga
terperiksa, dia harus langsung dipecat dan diproses secara hukum.
Prinsip etika dan aturan etika yang dilanggar dalam kasus ini, dengan acuan AICPA.
1) Tanggung Jawab 4) Objectivitas dan Independensi
2) Kepentingan Umum 5) Due Care
3) Integritas 6) Sifat dan Cakupan Layanan

Prinsip etika dan aturan etika yang dilanggar dalam kasus ini, dengan acuan IFAC.
1) Integritas 3) Objektivitas
2) Kompetensi profesional 4) Perilaku Profesional
dan Kesungguhan

Prinsip etika yang dilanggar dalam kasus ini, dengan acuan IAI.
1) Kepentingan publik
2) Integritas
3) Obyektifitas

Beberapa section yang dilanggar dengan acuan Sarbanes oxley 2002


 SOX mengatur tentang pengaruh yang tidak tepat atas pelaksanaan audit. Adalah
melanggar hukum bagi setiap pejabat atau direktur dari emiten melakukan tindakan
apapun untuk secara curang mempengaruhi, memaksakan, memanipulasi, atau
menyesatkan siapapun auditornya yang ditunjuk dalam pelaksanaan suatu
audit dengan tujuan untuk membuat laporan keuangan secara material menyesatkan.

25
BAB III

KESIMPULAN

3.1 KESIMPULAN

Predikat WTP masih dinilai sebagai gengsi atau kebanggaan dari pejabat tertentu dan
memberikan persepsi positif bahwa pemerintahan maupun keuangannya telah dikelola
secara akuntabel dan terbebas dari korupsi. Padahal, pemberian WTP tidak menjamin
nihil korupsi, namun sebatas melihat apakah laporan keuangan yang disajikan wajar dan
telah sesuai dengan standar akuntansi pemerintah.
Jikapun kasus suap auditor BPK terungkap, jumlahnya masih relatif sedikit. Dari
pantauan Indonesia Corruption Watch (ICW) sejak 2005–2017, sedikitnya terdapat 6
kasus suap yang melibatkan 23 auditor BPK. Sebanyak 4 kasus suap terkait mendapatkan
opini BPK atas laporan hasil pemeriksaan keuangan, 1 kasus suap untuk mengubah hasil
temuan BPK, dan 1 kasus suap agar mengesampingkan temuan BPK yang mencurigakan.
Nilai suap terkecil dalam kasus tersebut adalah Rp 80 juta dan nilai suap terbesar
mencapai Rp 1,6 miliar. Dari 23 nama yang diduga terlibat suap, 5 orang telah divonis
bersalah oleh pengadilan tipikor, 14 hanya dapat sanksi internal BPK, dan 4 di antaranya
masih dalam proses pemeriksaan KPK.

3.2 SARAN

BPK perlu untuk melakukan perbaikan atau pembenahan diri, diantaranya:


 Penguatan integritas dari auditor dan pengawasan di internal BPK. Fungsi
pengendalian dan pengawasan internal sebaiknya lebih dimaksimalkan untuk
mencegah kongkalikong antara pemeriksa dan lembaga yang diperiksa.
 Melakukan evaluasi atau peninjauan kembali terhadap hasil audit BPK yang berupa
WTP. Proses ini penting dilakukan untuk mengecek kembali apakah WTP yang
diberikan kepada kementerian/lembaga atau pemerintah –pusat atau daerah– sudah
sewajarnya atau tidak wajar karena ada indikasi suap atau penyimpangan lainnya.
Jika proses pemberian opini WTP terbukti tidak wajar, sebaiknya dilakukan koreksi
dan memberikan opini yang sesuai dengan laporan keuangan sesungguhnya.

26
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Sukrisno dan I Cenik Ardana. 2014. Etika Bisnis dan Profesi. Jakarta: Salemba
Empat.

27