Anda di halaman 1dari 8

PENGANTAR HUKUM BISNIS

NAMA KELOMPOK

I WAYAN SUKARDIKA (1607532148)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Udayana
Program Non Reguler
2018
PENGERTIAN DAN PENGATURAN HAK CIPTA

Dalam era globalisasi hak kekayaan intelektual (HAKI) menjadi isu yang menarik untuk
dikaji karena perannya yang semakin menentukan terhadap laju percepatan pembangunan
nasional suatu negara didunia. Dalam kaitan ini era Globalisasi dapat dianalisis dari dua
karakteristik dominan. Pertama, era globalisasi ditandai dengan semakin terbukanya secara
luas hubungan antar bangsa dan antar negara yang didukung dengan transparasi dalam
informasi. Dalam kondisi transparasi informasi yang sedemikian itu, maka kejadian atau
penemuan disuatu belahan dunia akan dengan mudah diketahui dan segera tersebar kebelahan
dunia lainnya. Hal ini membawa imflikasi, bahwa pada saatnya segala bentuk penjiplakan,
pembajakan, dan sejenisnya tidak lagi mendapatkan tempat dan tergusur dari fenomena
kehidupan berbagai bangsa.

Kedua, era globalisasi membuka peluang semua bangsa dan negara didunia untuk dapat
mengetahui potensi, kemampuan, dan kebutuhan masing-masing. Kendatipun tendensi yang
mungkin terjadi didalam hubungan antar negara didasarkan pada upaya pemenuhan
kepentingan secara timbal balik, namun justru negara yang memiliki kemampuan lebih akan
mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Bertolak pada dua hal tersebut, upaya perlindungan terhadap HAKI apapun bentuknya sudah
saatnya menjadi prioritas dalam kepedulian semua pihak agar tercipta kondisi yang
mendukung bagi tumbuh kembangnya kegiatan inovatif dan kreatif yang menjadi syarat batas
dalam menumbuhkan kemampuan penerapan, pengembangan, dan penguasaan teknologi
dalam segala bidang.

Indonesia sendiri adalah Negara yang memiliki keanekaragaman etika/suku bangsa dan
budaya serta kekayaan dibidang seni dan sastra dengan pengembangan-pengembangannya
yang memerlukan perlindungan hak cipta terhadap kekayaan intelektual yang lahir dari
keanekaragaman tersebut.

Istilah hak cipta diusulkan pertama oleh Prof. St. Moh. Syah, S.H. pada kongres kebudayaan
dibandung tahun 1952 (yang kemudian diterima oleh kongres tersebut) sebagai pengganti
istilah hak pengarang yang dianggap kurang luas cakupan pengertiannya. Istilah hak
pengarang itu sendiri merupakan terjemahan dari istilah bahasa Belanda Auteurs Rechts.

Di Indonesia masalah hak cipta diatur dalam undang-undang hak cipta yang berlaku saat ini,
yaitu undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2002. Dalam undang-undang
tersebut, pengertian hak cipta adalah “hak ekslusif bagi pencipta atau penerima hak untuk
mengumumkan atau memperbanyak ciptaanya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak
mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundangan-undangan yang berlaku
(pasal 1 butir 1).

Sebagai perbandingan dalam pengertian hak cipta, terdapat pengertian lain yaitu pengertian
hak cipta menurut Auteurwet dan Universal Copyright Conventation. Menurut Auterwet
1912 pasal 1-nya menyebutkan, “hak cipta adalah hak tunggal dari pada pencipta, atau hak
dari yang mendapat hak tersebut, atas hasil ciptaanya dalam lapangan kesustraan ,
pengetauan, dan kesenian, untuk mengumumkan dan memperbanyak dengan mengingat
pembatasan-pembatasan yang ditentukan oleh undang-undang. Sedangkan menurut Universal
Copyright Conventatio dalam pasal V menyatakan bahwa, “Hak cipta meliputi hak tunggal si
pencipta untuk membuat, menerbitkan, dan memberi kuasa untuk membuat terjemahan dari
karya yang dilindungi perjanjian ini .

Dari berbagai pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa hak cipta adalah suatu hak
penuh yang dimiliki oleh pencipta untuk melakukan atau tidak melakukan dalam
mempublikasikan ciptaanya. Sehingga secara otomatis si pencipta memperoleh perlindungan
hukum perundang-umdangan hak cipta, sekalipun tanpa melakukan pendaftaran terlebih
dahulu. Otomatisati inilah sekaligus yang membedakan antara hak panten dan hak merek.

Hak cipta bukanlah suatu hak saja. Namun hak cipta juga berkenaan dengan kewajiban
sebagaimana dapat dibaca dalam pasal 1 undang-undang tersebut yang menyatakan bahwa
hak cipta dibatasi oleh undang-undang.

Pada umumnya, suatu ciptaan haruslah memenuhi standar minimum agar berhak
mendapatkan hak cipta, dan hak cipta biasanya tidak berlaku lagi setelah periode waktu
tertentu (Masa berlaku ini dimungkinkan untuk diperpanjang pada yuridis tertentu).

Setiap negara menerapkan persyaratan yang berbeda untuk mernentukan bagaimana dan
bilamana suatu karya berhak mendapatkan hak cipta; di Inggris misalnya, suatu ciptaan harus
mengandung factor “keahlian, keaslian, dan usaha”. Pada sistem yang juga berlaku
berdasarkan konvensi bern, suatu hak cipta atas ciptaan yang diperoleh tanpa perlu melaui
pendaftaran resmi terlebih dahulu; bila gagasan ciptaan sudah terwujud dalam bentuk
tertentu, misalnya pada medium tertentu (seperti lukisan, partitur lagu, foto, pita video, atau
surat), pemegang hak cipta sudah berhak atas hak cipta tersebut. Namun demikian, walaupun
suatu ciptaan tidak perlu didaftarkan dulu untuk melaksanakan hak cipta, pendaftaran ciptaan
(sesuai yang dimungkinkan oleh hukum yang berlaku pada yuridikis bersangkutan) memiliki
keuntungan, sebagai bukti hak cipta yang sah.

Pemegang hak cipta bisa jadi adala orang yang memperkerjakan pencipta dan bukan pencipta
itu sendiri bila ciptaan tersebut dibuatdalam kaitannya dengan hubungan dinas. Prinsip ini
umum berlaku: misalnya dalam hukum inggris (copyright design and patent act 1988) dan
Indonesia (UU 19/2002 pasal 8). Dalam undang-undang yang berlaku di Indonesia, terdapat
perbedaan penerapan prinsip tersebut antara lembaga pemerintah dalm lembaga swasta.

Ciptaan atau karya cipta yang merupakan produk piker manusia mempunyai nilai , dam
dianggap sebagai kekayaan tidak berwujud. Karena suatu ciptaan (hak cipta) bukan sebagai
benda berwujud yang artinya bersifat intangible property apabila dibandingkan dengan
real/tangible property, ciptaan juga merupakan kekayaan atau property yang perlu
mendapatkan perlindungan disamping itu, hak cipta melekat kepada pencipta/ pemiliknya
berupa hak untuk dinikmati, atau dialihkan kepada pihak lain.

Ciptaan yang dilindungi undang-undang nomor 19 tahun2002 adalah ciptaan dalam bidang
ilmu pengetahuan, seni, dan sastra yang mencakup:

Hak cipta merupakan hak keberadaan dalam artian dianggap sebagai benda bergerak
sehingga baik seluruhnya maupun sebagian dapat beralih atau dialihkan dengan:

1) Pewarisan 


2) Hibah 


3) Wasiat 


4) Perjanjian tertulis 


5) Sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan 


Untuk itu hak cipta yang dimiliki oleh pencipta, namun apabila penciptanya meninggal dunia,
yang menjadi milik ahli warisnya atau penerima wasiat, dan hak cipta tersebut tidak dapat
disita, kecuali hak itu di peroleh secara melawan hukum. Yang dianggap sebagai pencipta
adalah:

1) Orang yang namanya terdaftar dalam daftar umum ciptaan pada direktorat jendral

atau


2) Orang yang namanya disebut dalam ciptaan atau diumumkan sebagai pencipta

pada suatu ciptaan.

Jika suatu ciptaan terdiri atas beberapa bagian yang di ciptakan oleh dua orang atau lebih,
yang dinggap sebagai pencipta adalah orang yang memimpin serta mengawasi penyelesaian
seluruh ciptaan itu, atau dalam hal tidak ada orang tersebut, yang dianggap sebagai
pencipta adalah orang yang menghimpunnya dengan tidak mengurangi hak cipta masing-
masing atas bagian ciptaan itu.

Apabila suatu ciptaan yang dirancang seseorang diwujudkan dan dikerjakan oleh orang lain
dibawah pimpinan dan pengawasan orang yang merancang, penciptanya adalah orang yang
meranang itu. Namun apabila suatu ciptaan didukung dalam hubungan dinas dengan pihak
lain dalam lingkungan pekerjaannya, yang menjadi pemegang hak ciptanya adalah pihak
yang untuk dan dalam dinasnya ciptaan itu dikerjakan, kecuali ada perjanjian lain antara
kedua pihak dengan tidak mengurangi hak pencipta apabila penggunaan ciptaan itu diperluas
sampai keluar hubungan dinas.

Adapun penegakan hukum atas hak cipta biasanya dilakukan oleh pemegang hak cipta dalam
hukum perdata, namun apabila sisi hukum pidana. Sanksi pidana secara umum dikenakan
kepada aktivitas pemalsuan yang serius, namun kini semakin lazim pada perkara-perkara lain.

Sanski pidana atas pelanggaran hak cipta di Idonesia secara umum diancam hukuman penjara
palig singkat satu bulan dan paling lama tujuh tahun yang dapat disertai maupun tidak
disertai denda sejumlah paling sedikit satu juta rupiah dan paling banyak lima milyar rupiah,
sementara ciptaan atau barang yang merupakan hasil tindak pidana hak cipta serta alat-alat
yang digunakan untuk melakukan tidak pidaa tersebut dirampas oleh negara dan
dimusnahkan (UU 19/2002 bab XIII).

SUBYEK HAK CIPTA

Subyek Hak Cipta adalah Pencipta dan Pemegang Hak Cipta. Pencipta adalah seseorang atau
beberapa orang secara bersama-sama yang atas inspirasinya lahir suatu ciptaan berdasarkan
kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan atau keahlian yang dituangkan dalam
bentuk yang khas dan bersifat pribadi. Sementara Pemegang Hak Cipta adalah Pencipta sebagai
Pemilik Hak Cipta atau orang lain yang menerima lebih lanjut hak dari orang tersebut diatas.

Yang dianggap sebagai Pencipta adalah orang yang namanya terdaftar dalam Daftar Umum
Ciptaan dan pengumuman resmi tentang pendaftaran pada Departemen Kehakiman; dan orang
yang namanya disebut dalam ciptaan atau diumumkan sebagai pencipta (Pasal 5).

Jika suatu ciptaan terdiri dari beberapa bagian tersendiri yang diciptakan dua orang atau lebih,
maka yang dianggap sebagai Pencipta ialah orang yang memimpin serta mengawasi
penyelesaian seluruh ciptaan itu atau jika tidak ada orang itu, orang yang menghimpunnya
(Pasal 6).
Negara memegang Hak Cipta atas karya peningkatan pra sejarah, sejarah dan benda budaya
nasional lainnya. Negara juga memegang Hak Cipta terhadap luar negeri atas ciptaan berikut :
hasil kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama, seperti cerita, hkayat, dongeng, legenda,
babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi dan karya seni lainnya dipelihara
dan dilindungi oleh Negara (Pasal 10).

Bila suatu ciptaan tidak diketahui penciptanya dan ciptaan itu belum diterbitkan, maka Negara
memegang Hak Cipta atas ciptaan tersebut untuk kepentingan penciptanya (Pasal 10 ayat 1).

OBYEK HAK CIPTA


Obyek Hak Cipta adalah Ciptaan yaitu hasil setiap karya Pencipta dalam bentuk yang khas
dan menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni dan sastra. Ciptaan
yang dilindungi adalah Ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra yang
meliputi karya :
a) Buku, program komputer, pamflet, susunan perwajahan karya tulis yang diterbitkan dan
semua hasil karya tulis lainnya.
b) Ceramah, kuliah, pidato dan ciptaan lainnya yang diwujudkan dalam cara duicapkan.
c) Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan.
d) Ciptaan lagu atau musik dengan atau tanpa teks, termasuk karawitan dan rekaman suara.
e) Drama, tari (koreografi), pewayangan, pantomim.
f) Karya pertunjukan.
g) Karya siaran.
h) Seni rupa dalam segala bentuk seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni
patung, kolase, seni terapan yang berupa seni kerajinan tangan.
i) Arsitektur.
j) Peta.
k) Seni batik.
l) Fotografi.
m) Sinematografi.
n) Terjemahan, tafsir, saduran, dan karya lainnya dari hasil pengalih wujudan.
PENDAFTARAN HAK CIPTA

Pendaftaran adalah perbuatan hukum yang diatur dalam undang-undang HKI suatu negara
dan konvensi-konvensi internasional tentang HKI. Dalam hubungannya dengan HKI,
pendaftaran adalah kegiatan pemeriksaan dan pencatatan setiap HKI seseorang oleh pejabat
pendaftaran, dalam buku daftar

yang disediakan untuk itu, berdasarkan permohonan pemilik atau pemegang hak, menurut
syarat-syarat dan tata cara yang diatur undang-undang, dengan tujuan untuk memperoleh
kapastian status kepemilikan dan perlindungan hukum. Sebagai bukti pendaftaran, diterbitkan
Sertifikat HKI (Abdulkadir Muhammad, 2007: 163).

HKI yang dilindungi hanyalah yang sudah dilakukan pendaftaran dan dibuktikan dengan
sertifikat pendaftaran, kecuali apabila undang-undang mengatur lain, seperti hak cipta boleh
tidak didaftarkan menurut UUHC (Abdulkadir Muhammad, 2007: 155). Pendaftaran hak
cipta bukanlah merupakan persyaratan untuk memperoleh perlindungan hak cipta. Artinya,
seorang pencipta yang tidak mendaftarkan hak cipta juga mendapatkan perlindungan, asalkan
ia benar-benar sebagai pencipta suatu ciptaan tertentu. Pendaftaran bukanlah jaminan mutlak
bahwa pendaftar sebagai pencipta yang dilindungi hukum. Dengan kata lain UUHC
melindungi pencipta, terlepas apakah ia mendaftarkan ciptaannya atau tidak (Adrian Sutedi,
2009: 118).

Meskipun Hak Cipta tidak memerlukan pendaftaran dan bersifat otomatis, namun demikian
dianjurkan kepada pencipta maupun pemegang hak cipta untuk mendaftarkan ciptaannya. Itu
sangat penting, dikarenakan surat pendaftaran ciptaan tersebut dapat dijadikan alat bukti awal
di pengadilan apabila timbul sengketa di kemudian hari terhadap ciptaan tersebut (Adrian
Sutedi, 2009: 119).

Menurut Mariam Darus (H. OK Saidin, 2006: 92), pendaftaran itu tidak hanya semata-mata
mengandung arti untuk memberikan alat bukti yang kuat, akan tetapi juga menciptakan hak
kebendaan. Hak kebendaan atas suatu benda untuk umum

terjadi pada saat pendaftaran itu dilakukan. Selama pendaftaran belum terjadi, hak hanya
mempunyai arti terhadap para pihak pribadi dan umum dianggap belum mengetahui
perubahan status hukum atas hak yang dimaksud. Pengakuan dari masyarakat baru terjadi
pada saat hak tersebut didaftarkan.

Sedangkan yang tidak dapat didaftarkan sebagai ciptaan adalah:

1. Ciptaan di luar bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra.


2. Ciptaan yang tidak orisinil.
3. Ciptaan yang tidak dapat diwujudkan dalam suatu bentuk yang nyata.
4. Ciptaan yang sudah merupakan milik umum.
5. Ketentuan yang diatur dalam Pasal 12 UUHC 2002.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pendaftaran itu bukan syarat
untuk sahnya suatu hak cipta, melainkan hanya untuk memudahkan suatu pembuktian bila
terjadi sengketa. Itu artinya orang yang mendaftarkan hak cipta untuk pertama kalinya tidak
berarti sebagai pemilik hak yang sah karena bilamana ada orang lain yang dapat
membuktikan bahwa itu adalah haknya, maka kekuatan hukum dari suatu pendaftaran ciptaan
tersebut dapat dihapuskan.