Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

FUNGSI AGAMA DALAM KEHIDUPAN

Disusun oleh :
Akhmad Suryo Nugroho
Azhar Faturohman Abidin
Rifqi Aulia Akbar
Handhika Dhatu Hutomo
Rizky Zulfikar Fauzi

KELAS C
FAKULTAS BIOLOGI UNSOED
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Membicarakan peran pada dasarnya membicarakan fungsi atau kegunaan. Dalam kajian ilmu-
ilmu sosial terdapat teori struktural fungsional yang konsep dasarnya diperkenalkan oleh para
filosofi.

Agama mengambil peranan penting dalam keberadaan suatu masyarakat atau komunitas.
Karena suatu agama atau kepercayaan akan tetap langgeng jika terus diamalkan oleh masyarakat
secara kontinyu. Masyarakat adalah golongan besar atau kecil terdiri dari beberapa manusia, yang
dengan atau karena sendirinya bertalian secara golongan dan pengaruh mempengaruhi satu sama
lain. Dalam hal ini, melihat kepada kondisi masyarakat maka agama dapat dibedakan dalam dua
tipe, yaitu : agama yang hidup dalam masyarakat sakral dan agama yang hidup dalam masyarakat
sekuler.

Sumbangan atau fungsi agama dalam masyarakat adalah sumbangan untuk mempertahankan
nilai-nilai dalam masyarakat. Sebagai usaha-usaha aktif yang berjalan terus menerus, maka dengan
adanya agama maka stabilitas suatu masyarakat akan tetap terjaga. Sehingga agama atau
kepercayaan mengambil peranan yang penting dan menempati fungsi-fungsi yang ada dalam suatu
masyarakat. Dalam hal ini fungsi-fungsi agama dalam masyarakat ialah : Fungsi edukatif,
penyelamat, perdamaian, kreatifitas, penumbuh rasa solidaritas, tranformatif, sublimatif, kontrol.

I.2 MAKSUD DAN TUJUAN PENULISAN

· Untuk mengetahui bagaimanakah fungsi agama dalam kehidupan manusia sehari-hari dan
peranan agama dalam kehidupan untuk memberikan bahwa dalam agama sangat besar toleransi
dan hukum yang kekal untuk mengatur umat beragama agar tidak terjerumus kedalam jalan yang
salah atau perbuatan yang sangat tidak di sukai Allah SWT.
BAB II
PERMASALAHAN

Islam dari masa ke masa tidak pernah berubah sejak masa nabi Muhammad. Islam yang
dibawanya dari Allah, Islam sebagai pandangan hidup diangkat sebagai objek studi. Islam di masa
ke masa tidak pernah tidak berkembang, Islam terus dikaji sejak masa nabi dan sampai sekarang
Islam terus dikaji secara ilmiah dan tidak cukup dengan amalkan saja peran Islam dalam kehidupan
sangat penting dalam masyarakat.

Yang lebih tepat menjadikan Islam sebagai objek kajian ilmiah atau cukup dijadikan pedoman
hidup yang tampak perubahan dan kekurangan. Permasalahan semacam ini sebenarnya merupakan
permasalahan klasik yang menjadi perdebatan pada abad pertengahan antara al Ghazali dan Ibn
Rusyd, yang mempertanyakan bagaimana hukumnya mempelajari Islam, peran Islam dalam
kehidupan masyarakat sangat besar, karena Islam adalah suatu jalan yang paling benar, dan agama
yang diakui Allah dan dijadikan pedoman bagi umat Islam, peran Islam dari dulu sampai sekarang
terus berkembang dengan adanya kajian-kajian terdapat dalam Islam itu sendiri, dengan adanya
pemikiran-pemikiran para filosof yang mengkaji Islam dan mengembangkan dari masa ke masa
sampai sekarang Islam berperan penting di dalam negara kita dan kita ketahui Islam itu
berkembang di negara kita karena kita adalah negara yang banyak Islam di banding negara lain
dan Islam sangat berperan penting untuk masyarakat yang didalamnya menganut agama Islam.

Islam juga memberikan adab tertentu dalam sebuah kajian yang mendasari kehidupan yang
ada di muka bumi baik kehidupan dahulu maupun yang sekarang ataupun yang akan terjadi
setelahnya, oleh karna itu agama di butuhkan sebagai pedoman dalam diri manusia.

Agama dapat disimpulkan juga sebagai perisai dalam hidup manusia hal ini sama juga dengan
perang, Rosulluloh bersabda”Samakan halnya agama dalam sebuah prisai yang selalu
membentengi dirimu dari hal-hal yang akan menjerumuskan mu, dan jadikan agama sebagai
paduan ilmu wawasan dan pedoman di dalam hidup mu”(HR.Albuchori).
BAB III
PEMBAHASAN
Peranan Agama dalam Kehidupan Manusia
Agama mengambil peranan penting dalam keberadaan suatu masyarakat atau komunitas.
Karena suatu agama atau kepercayaan akan tetap langgeng jika terus diamalkan oleh masyarakat
secara kontinyu. Masyarakat adalah golongan besar atau kecil terdiri dari beberapa manusia, yang
dengan atau karena sendirinya bertalian secara golongan dan pengaruh mempengaruhi satu sama
lain. Dalam hal ini, melihat kepada kondisi masyarakat maka agama dapat dibedakan dalam dua
tipe, yaitu : agama yang hidup dalam masyarakat sakral dan agama yang hidup dalam masyarakat
sekuler.Sumbangan atau fungsi agama dalam masyarakat adalah sumbangan untuk
mempertahankan nilai-nilai dalam masyarakat. Sebagai usaha-usaha aktif yang berjalan terus
menerus, maka dengan adanya agama maka stabilitas suatu masyarakat akan tetap terjaga.
Sehingga agama atau kepercayaan mengambil peranan yang penting dan menempati fungsi-fungsi
yang ada dalam suatu masyarakat
Ada beberapa alasan tentang mengapa agama itu sangat penting dalam kehidupan manusia, antara
lain adalah :

 Karena agama merupakan sumber moral


 Karena agama merupakan petunjuk kebenaran
 Karena agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika.
 Karena agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia baik di kala suka, maupun di
kala duka.

Manusia sejak dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan lemah dan tidak berdaya, serta tidak
mengetahui apa-apa sebagaimana firman Allah dalam Q. S. al-Nahl (16) : 78

Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Dia menjadikan
untukmu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi sedikit di antara mereka yang mensyukurinya.

Dalam keadaan yang demikian itu, manusia senantiasa dipengaruhi oleh berbagai macam godaan
dan rayuan, baik dari dalam, maupun dari luar dirinya. Godaan dan rayuan daridalam diri manusia
dibagi menjadi dua bagian, yaitu
 Godaan dan rayuan yang berysaha menarik manusia ke dalam lingkungan kebaikan, yang
menurut istilah Al-Gazali dalam bukunya ihya ulumuddin disebut dengan malak Al-
hidayah yaitu kekuatan-kekuatan yang berusaha menarik manusia kepada hidayah atau
kebaikan.

 Godaan dan rayuan yang berusaha memperdayakan manusia kepada kejahatan,yang


menurut istilah Al-Gazali dinamakan malak al-ghiwayah, yakni kekuatan-kekuatan yang
berusaha menarik manusia kepada kejahatan

Disinilah letak peranan agama dalam kehidupan manusia, yaitu membimbing manusia
kejalan yang baik dan menghindarkan manusia dari kejahatan atau kemungkaran.

Fungsi Agama Pada Kehidupan Manusia

Dari segi pragmatisme, seseorang itu menganut sesuatu agama adalah disebabkan oleh
fungsinya. Bagi kebanyakan orang, agama itu berfungsi untuk menjaga kebahagiaan hidup.
Tetapi dari segi sains sosial, fungsi agama mempunyai dimensi yang lain seperti apa yang
dihuraikan di bawah:

- Memberi pandangan dunia kepada satu-satu budaya manusia.


Agama dikatankan memberi pandangan dunia kepada manusia kerana ia sentiasanya memberi
penerangan mengenai dunia(sebagai satu keseluruhan), dan juga kedudukan manusia di dalam
dunia. Penerangan bagi pekara ini sebenarnya sukar dicapai melalui inderia manusia, melainkan
sedikit penerangan daripada falsafah. Contohnya, agama Islam menerangkan kepada umatnya
bahawa dunia adalah ciptaan Allah SWTdan setiap manusia harus menaati Allah SWT

-Menjawab pelbagai soalan yang tidak mampu dijawab oleh manusia.


Sesetangah soalan yang sentiasa ditanya oleh manusia merupakan soalan yang tidak terjawab
oleh akal manusia sendiri. Contohnya soalan kehidupan selepas mati, matlamat menarik dan
untuk menjawabnya adalah perlu. Maka, agama itulah berfungsi untuk menjawab soalan-soalan
ini.

- Memberi rasa kekitaan kepada sesuatu kelompok manusia.


Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan kelompok manusia. Ini adalah kerana sistem
agama menimbulkan keseragaman bukan sahaja kepercayaan yang sama, malah tingkah laku,
pandangan dunia dan nilai yang sama.

– Memainkan fungsi kawanan sosial.

Kebanyakan agama di dunia adalah menyaran kepada kebaikan. Dalam ajaran agama sendiri
sebenarnya telah menggariskan kod etika yang wajib dilakukan oleh penganutnya. Maka ini
dikatakan agama memainkan fungsi kawanan social

Fungsi Integratif Agama

Peranan sosial agama sebagai faktor integratif bagi masyarakat berarti peran agama dalam
menciptakan suatu ikatan bersama, baik diantara anggota-anggota beberapa masyarakat maupun
dalam kewajiban-kewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka. Hal ini dikarenakan
nilai-nilai yang mendasari sistem-sistem kewajiban sosial didukung bersama oleh kelompok-
kelompok keagamaan sehingga agama menjamin adanya konsensus dalam masyarakat.

Fungsi Disintegratif Agama.

Meskipun agama memiliki peranan sebagai kekuatan yang mempersatukan, mengikat, dan
memelihara eksistensi suatu masyarakat, pada saat yang sama agama juga dapat memainkan
peranan sebagai kekuatan yang mencerai-beraikan, memecah-belah bahkan menghancurkan
eksistensi suatu masyarakat. Hal ini merupakan konsekuensi dari begitu kuatnya agama dalam
mengikat kelompok pemeluknya sendiri sehingga seringkali mengabaikan bahkan menyalahkan
eksistensi pemeluk agama lain

Beberapa tujuan agama terhadap kehidupan manusia yaitu :

 Menegakan kepercayaan manusia hanya kepada Allah,Tuhan Yang Maha Esa (tahuit).
 Mengatur kehidupan manusia di dunia,agar kehidupan teratur dengan baik, sehingga dapat
mencapai kesejahterahan hidup, lahir dan batin, dunia dan akhirat.
 Menjunjung tinggi dan melaksanakan peribadatan hanya kepada Allah.
 Menyempurnakan akhlak manusia.
Agama juga berperan untuk menciptakan suatu perdamaian bagi masyarakat dan sebagai alat
yang dapat dijadikan sebagai penumbuh rasa solidaritas.

Untuk menciptakan iklim damai tersebut, perlu dibentuk pranata-pranata sosial yang
menjadi infrastruktur bagi tegaknya suatu perdamaian dalam masyarakat.

Dalam hal ini peranan pemimpin keagamaan, seperti ulama, pendeta, kyai dan para jemaah
agama, adalah sangat penting bagi terwujudnya suasana damai dan kondusif dalam kehidupan
beragama manusia sehyari hari.

PENDAPAT WILLIAM JAMES TENTANG AGAMA

Agama sesungguhnya tidak mudah diberikan definisi atau dilukiskan, karena agama
mengambil beberapa bentuk yang bermacam-macam diantara suku-suku dan bangsa-bangsa di
dunia. Watak agama adalah suatu subyek yang luas dan kompleks yang hanya dapat ditinjau
dari pandangan yang bermacam-macam dan membingungkan. Akibatnya, terdapatlah
keanekaragaman teori tentang watak agama seperti teori antropologi, sosiologi, psikologi,
naturalis dan teori kealaman. Sebagai akibat dari keadaan tersebut, tak ada suatu definisi tentang
agama yang dapat diterima secara universal.

Kesulitan serupa dialami oleh William James saat berusaha menemukan pengertian agama
yang dapat mencakup keseluruhan aspek yang memang inherent dengan agama, baik sebagai
fakta sejarah, prinsip-prinsip dan kondisi psikologis yang menyertainya. Keberagaman teori
telah mengakibatkan agama dipahami sebagai berkaitan dengan rasa ketergantungan, berasal
dari rasa takut, tak dapat dipisahkan dari kehidupan seksual, diidentifikasi dengan rasa
ketakterbatasan, dan sebagainya. Oleh sebab itu, James kemudian mengakui bahwa dalam
mengetengahkan terminologi agama, ia tidak dapat berangkat dari teologi, sejarah agama atau
antropologi. Yang paling bisa ia kerjakan adalah merumuskan pengertian agama melalui
pendekatan psikologis.

Bagi seorang psikolog, demikian James selanjutnya, kecenderungan keberagamaan


seseorang setidak-tidaknya mesti merupakan bagian menarik dari sekumpulan fakta yang
berkaitan erat dengan konstitusi mentalnya. Masalahnya kemudian adalah, apa saja yang
menjadi kecenderungan keberagamaan itu? Apa signifikansi filosofisnya?
Menurut James, pemahaman yang logis akan mempersembahkan dua macam kerangka
jawaban. pertama, berhubungan dengan watak agama, asal usul dan sejarahnya. Kedua,
berhubungan dengan signifikansi agama. Kerangka jawaban yang pertama jelas merupakan
proposisi eksistensial (existencial judgement), sedangkan yang kedua adalah proposisi tentang
nilai (a proposition of value) atau proposisi spiritual (a spiritual proposition). Ini berarti bahwa
sebagai suatu fenomena yang berkategori existencial judgement, agama dapat diungkap
sosoknya melalui kajian-kajian tentang sejarah dan asal usulnya serta, kemudian, bagaimana
kondisi-kondisi geografis tertentu berpengaruh terhadap inti ajaran yang dikembangkan oleh
seorang tokoh agama. Sedangkan kedudukan agama sebagai proposisi spiritual,
mengetengahkan seperangkat nilai wahyu yang menjadi pedoman hidup bagi seseorang.

Menurut William James, penggabungan dua macam pendekatan itu cukup membantu
terutama sepanjang mengetengahkan deskripsi agama berdasarkan fakta dan logika. Akan tetapi
secara esensial, agama memiliki derajat kompleksitas yang lebih tinggi. Telaah psikologis
menampilkan sisi lain agama, karena menurut teori ini setiap fenomena agama melibatkan
emosi yang sangat mendalam; ada rasa takut keagamaan (religious fear), rasa kagum
keagamaan (religious awe), rasa senang keagamaan (religious joy), dan sebagainya.
Sebenarnya, perasan-perasaan itu bersifat alamiah yang ditujukan kepada obyek-obyek itu
sendiri. Rasa takut keagamaan hanyalah rasa takut biasa yang sering mencekam dan
menghinggapi hati manusia.

Kompleksitas fenomena keagamaan semacam itu kemudian membuat James menarik suatu
definisi luas (overal definition) tentang agama, yang diakuinya sendiri sebagai agak arbitrer.
Dalam hal ini James menyatakan:

"Agama dengan demikian mempunyai arti sebagai perasaan (feelings), tindakan (acts) dan
pengalaman individual manusia dalam kesendirian mereka, saat mencoba memahami hubungan
dan posisi mereka dihadapan apa yang mereka anggap suci."

Sungguhpun definisi itu cukup luas, tetapi menurut James, tetap akan melahirkan
kontroversi baru, terutama menyangkut kata suci (divine). Sebab, banyak sistem pemikiran
yang dianggap religius namun tidak secara positif mengasumsikan adanya zat yang mahasuci.
Budhisme termasuk dalam kategori ini. Meski misalnya, Budha dianggap berposisi sebagai
Tuhan, tetapi secara keseluruhan, sistem Budhis itu atheis.
Menurut James, pengalaman keagamaan bersifat unik dan membuat setiap individu mampu untuk
menyadari: Pertama, bahwa dunia merupakan bagian dari sistem spiritual yang dengan sendirinya
memberikan nilai bagi dunia inderawi; kedua, bahwa tujuan utama manusia adalah menyatukan
dirinya dengan alam yang lebih tinggi itu; ketiga, bahwa keyakinan agama membangkitkan
semangat baru dalam hidup; dan keempat, bahwa agama mengembangkan kepastian rasa aman
dan damai serta menyegarkan cinta dalam hubungan kemanusiaan, seperti halnya kepercayaan
keagamaan teistik, menimbulkan konsekwensi-konsekwensi praktis yang memuaskan, apakah
atheisme berarti konsep yang benar?

A. Masalah mayoritas dan minoritas kelompok agama

Dalam suatu masyarakat yang plural, masalah mayoritas dan minoritas seringkali menjadi
faktor penyebab munculnya konflik sosial. Setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan
dalam melihat fenomena konflik mayoritas-minoritas, yaitu: (1) agama diubah menjadi suatu
ideologi; (2) prasangka mayoritas terhadap minoritas atau sebaliknya; (3) mitos dari mayoritas.

Sebagaimana yang biasa terjadi bahwa suatu kelompok agama yang mayoritas seringkali
mengembangkan suatu bentuk ideologi yang bercampur dengan mitos yang penuh emosi
sehingga sulit untuk dibedakan mana kepentingan politik dan mana kepentingan agama, telah
menimbulkan suatu keyakinan bahwa kelompok mayoritas inilah yang memiliki wewenang
untuk menjalankan segala aspek kehidupan di masyarakat. Kondisi seperti inilah yang pada
akhirnya seringkali memunculkan prasangka dan tindakan sewenang-wenang terhadap
kelompok minoritas yang akan bermuara pada timbulnya konflik sosial.

Dari keempat bentuk konflik sosial yang bermuara pada permasalahan keagamaan diatas,
kita bisa melihat bahwa betapa besar potensi konflik yang terkandung pada masalah-masalah
keagamaan. Oleh karena itu, sudah selayaknya perhatian terhadap potensi konflik dari agama
memperoleh perhatian serius, termasuk dari kalangan peneliti sosial keagamaan dalam
memberikan gambaran yang lebih detail dan komprehensif tentang fenomena keagamaan
dengan memilih perspektif sosiologis yang paling sesuai dengan permasalahan keagamaan yang
dihadapi. Ketepatan memilih perspektif tentu saja akan mampu menghadirkan gambaran riil
dari permasalahan yang ada sehingga harapan untuk memunculkan berbagai soslusi alternative
bagi pemecahan masalah tersebut bisa lebih optimal.
Fungsi ganda agama sebagaimana yang tergambar diatas setidaknya telah menunjukkan
kepada kita bahwa fenomena keagamaan yang terjadi di masyarakat merupakan sebuah
fenomena yang begitu dinamis, tidak hanya mencakup wilayah teologis, akan tetapi selalu
melibatkan faktor-faktor lain seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Oleh karena itu,
disiplin ilmu sosiologi memiliki peluang yang cukup besar untuk menjadi perspektif utama
dalam melihat fenomena keberagamaan secara ilmiah. Mengingat begitu pentingnya posisi
disiplin ilmu sosiologi untuk mengungkapkan berbagai fenomena keagamaan secara akademik,
maka pemahaman yang komprehensif tentang berbagai perspektif sosiologis yang ada menjadi
suatu kebutuhan agar kita tidak terjebak hanya pada perspektif-perspektif umum yang ada.

B. Perbedaan suku dan ras pemeluk agama

Meskipun tidak sedikit bukti yang menunjukkan bahwa agama memiliki peran dalam
mempersatukan orang-orang yang memiliki perbedaan suku dan ras, namun kita juga tidak bisa
membantah bahwa seringkali perbedaan suku dan ras menimbulkan konflik sosial. Apabila
perbedaan suku dan ras saja telah cukup untuk memunculkan konflik sosial, maka masuknya
unsur perbedaan agama tentunya akan semakin mempertegas konflik tersebut. Hal ini bisa kita
lihat dari fakta sejarah bahwa bangsa kulit putih yang notabene beragama Kristen merasa
menjadi bangsa pilihan yang ditugaskan untuk mempersatukan kerajaan Allah di dunia dengan
menaklukkan bangsa lain yang non-Kristen.

C. Perbedaan tingkat kebudayaan

Sebagai bagian dari kebudayaan, agama merupakan faktor penting bagi pembudayaan
manusia khususnya, dan alam semesta pada umumnya. Peter Berger menjelaskan fenomena ini
dengan menegaskan bahwa agama merupakan usaha manusiawi dengan mana suatu jagad raya
ditegakkan. Dengan kata lain, agama adalah upaya menciptakan alam semesta dengan cara yang
suci. Dengan kerangka pemikiran bahwa agama memainkan peran dominan dalam menciptakan
masyarakat budaya dan melestarikan alam semesta maka munculnya ketegangan yang
disebabkan karena perbedaan tingkat kebudayaan tidak bisa dilepaskan dari peran agama dalam
menyediakan nilai-nilai yang disatu sisi mendorong pertumbuhan pemikiran bagi
perkembangan budaya dan disisi lain justru menghambat dan mengekang pemikiran tersebut.

Dengan demikian, bagaimana pemeluk suatu agama dalam memahami serta menafsirkan
ajaran-ajaran agamanya akan sangat menentukan kemajuan atau kemunduran masyarakat
pemeluknya dalam menghadapi fenomena kehidupan sosial yang berubah dengan sangat cepat.
Salah satu kajian fenomenal terhadap fenomena ini adalah apa yang diungkapkan secara
panjang lebar oleh Max Weber tentang pengaruh protestantisme dalam mendorong munculnya
kapitalisme.
BAB IV

KESIMPULAN

IV.1 PENUTUP

Agama merupakan suatu kebutuhan dasar setiap manusia, munculnya berbagai perasaan
dalam diri manusia yang bersifat khayali dan imajiner, menjadi modal dasar bagi pertumbuhan
dan perkembangan suatu agama atau kepercayaaan. Agama muncul dari adanya kepercayaan-
kepercayaan terhadap sesuatu yang dianggap suci dan menempati berbagai aspek dalam
kehidupan manusia yang akhirnya suatu agama atau kepercayaan dapat melekat dan mengambil
peranan penting pada seorang individu atau masyarakat.

Sebuah masyarakat yang mempunyai konsep-konsep kepercayaan, akan membentuk sebuah


sistem baru, dimana ada norma-norma dan aturan-aturan agama yang melekat dan menjadi ciri
khas dalam masyarakat tersebut. Begitu pentingnya peranan agama dalam masyarakat sehingga
ada yang disebut dengan masyarakat agamis dan ada juga yang dikatakan sebagai masyarakat
sekuler. Masyarakat sekuler memisahkan urusan-urusan dunia dengan nilai-nilai keagamaan,
sedangkan masyarakat agamis adalah masyarakat yang meletakkan nilai-nilai yang
disepakati oleh masyarakat tersebut berdasarkan tuntunan dan aturan agama yang dianut dalam
masyarakat itu.

VI.2 SARAN-SARAN

· Ada baiknya segala kehidupan manusia dalam melakukan aktiitas hidupnya, manusia selalu
berdasar dan berpatokan pada agama, agar tidak terjadi kesimpang siuran antara oendapat
manusia dan kebenaran ajaran agama.
· Perlu dikembangkan perilaku hidup beragama dalam kehidupan sehari-hari, agar tercipta suatu
keselarasan dan tenggang rasa antara umat beragama yang satu dengan yang lainnya
· Sebaiknya setiap Agama bisa saling menghormati dan menghargai agar tidak terjadi suatu
konflik, demi terciptanya masyarakat yang religius.

Dari pembahasan di atas pemakalah menyarankan kita untuk tahu tentang pengertian
agama. seperti apa yang di jabarkan tentang pengertian agama secara etimologi, terminology
dan fungsional, ini dapat di terapkan dalam kehidupan kita sehari hari sehingga tidak ada
kesalahan pahaman tentang mengartikan kata .agama.
VII. DAFTAR PUSTAKA

Zainal, 1969, Pengertian Agama Dalam Garis Besar Bagi Kehidupan, Grasindo, Jakarta

Ibnu, Nazih N., 1992, Penjabaran Tentang Agama, Pustaka, Jakarta

Jalaluddin, 1996, Pendefinisian Agama Dan Makna Dalam Kehidupan Umat Beragama,
Gramedia, Jakarta

Sukardji, 1993, Webster New 20th Century Dictionary of the book, Gramedia, Jakarta

Nararudin, Ahmad., 1991, Definisi Agama Dalam Pengembangan Diri Manusia, Pustaka, jakarta
Kata Pengantar

Dengan mengucapkan puji syukur tehadap tuhan YME, atas segala rahmat dan karunia
serta pentunjuk-Nya, sehingga penulis menyelesaikan makalah dengan judul “PENGERTIAN
AGAMA “

Dalam pembuataan makalah ini penulis menyadari banyak keterbatasaan dan kekurangaan
yang dirasakan mengingat pengetahuaan dan pengalamaan penulis yang masih terbatas. Berkat
bantuaan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga
keterbatasaan dan kekurangaan tersebut dapat diatasi sehingga penulis dapat menyelesaikan
dengan baik.

Harapan dalam pembuatan makalah ini semoga dapat bermanfaat bagi orang lain yang
membaca dan memahaminya

Oleh karena itu, kritik dan saraan dari semua pihak sangat kami harapkan untuk
kesepurnaan makalah yang penulis buat, semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk menambah
wawasam bagi kita semua, Amin.
DAFTAR ISI
Halaman judul…………………………………………………………………………………i
Kata pengantar……………...…………………………………………………………………ii
Daftar isi………………………………………………………………………………………iii
Bab 1 pendahuluan
1.1 latar belakang…………………………………………………………………………
1.2 rumusan masalah……………………………………………………………………...
1.3 tujuan………………………………………………………………………………….
Bab 2 pembahasaan

2.1 Pengertian agama secara etimologi……………………………...................................


2.1.a Jenis makna etimmologi………………………………………………………..
2.2 Pengertian agama secara terminology…………………………………………………
2.2.a Jenis makna terminology………………………………………………………..
2.3 Pengertian agama secara fungsional………………………………………………….
2.3.a Fungsi integratif agama…………………………………………………………
2.3.b Fungsi disintegratif agama………………………………………………………
2.4 Pendapat william james tentang agama……………………………………………….
Bab 3 penutup
1.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………
1.2 Saran…………………………………………………………………………………..
Daftar pustaka…………………………………………………………………………….…iiii

Anda mungkin juga menyukai