Anda di halaman 1dari 9

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Isolasi sosial


2.1.1 Definisi Isolasi sosial
Isolasi sosial adalah suatu gangguan hubungan interpersonal atau perasaan
kesepian yang dialami oleh seseorang karena akibat penolakan dan sikap negatif
serta kepribadian yang tidak fleksibel sehingga muncul perilaku maladaptif seperti
menghindari/kehilangan hubungan dengan orang, tidak mempunyai kesempatan
untuk membagi perasaan, pikiran, prestasi, atau kegagalan, yang dimanifestasikan
dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian sehingga fungsi hubungan sosial
seseorang terganggu.Suatu keadaan dimana seorang individu berpartisipasi dalam
suatu kuantitas yang tidak cukup/kualitas interaksi sosial yang tidak efektif. (Mary.
C. Townsend, 1998).
Suatu pola gangguan kepribadian yang didominasi oleh ketidakpedulian dan
pelanggaran terhadap tata tertib, norma, etika dan hokum yang berlaku (Dadang
Hawari, 2005).
Gangguan hubungan sosial adalah keadaan dimana individu kurang
berpartisipasi dalam jumlahberlebihan atau hubungan sosial yang tidak efektif
(Rawlins, 1993). Sedangkan definisi dari isolasi sosial adalah keadaan dimana
individu/kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk
meningkatkan keterlibatannya dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat
kontak.(Carpenito, 1998). Dari dua definisi tersebut terlihat bahwa individu menarik
diri mengalami gangguan dan kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain.
Terjadinya pemutusan proses hubungan terkait erat dengan dengan
ketidakpuasan individu terhadap proses hubungan yang disebabkan kurangnya peran
serta respon lingkungan yang negatif. Kondisi dapat mengembangkan rasa tidak
percaya diri dan keinginan untuk menghindari dari orang lain (rasa tidak percaya
dengan orang lain). Pada pasien dengan perilaku menarik diri sering melakukan
kegiatan yang ditujukan untuk mencapai pemuasan diri, dimana pasien melakukan
usaha untuk melindungi diri sehingga pasien jadi pasif dan berkepribadian kaku,
pasien menarik diri juga melakukan pembatasan (isolasi diri), termasuk juga
kehidupan emosionalnya, semakin sering pasien menarik diri, semakin banyak
kesulitan yang dialami dalam mengembangkan hubungan sosial dan emosional
dengan orang lain (Stuart dan Sundeen, 1998).
2.1.2 Etiologi
1. Kelainan pada konsep diri
STIKes Eka Harap Palangka Raya, Program Profesi Ners 2017
Fitria Indah Permata
2013.C.05a.0487 Halaman 4
2. Perkembangan ego yang terlambat atau lemah
3. Kelainan fungsi dari system keluarga
4. Penganiayaan dan pengabaian anak
5. Lingkungan yang tidak terorganisir
6. Kurangnya rasa percaya pada orang lain
7. Perilaku egosentris
8. Takut akan penolakan atau kegagalan dalam berinteraksi
9. Harga diri rendah
10. Kurang pengetahuan tentang cara untuk meningkatkan kebersamaan
2.1.3 Ciri - Ciri Gangguan Hubungan Sosial
Ciri - ciri secara umum:
1. Menyendiri dalam ruangan
2. Menarik diri
3. Mengekpresikan perasaan penolakan atau kesepian kepada orang lain
4. Tidak komunikatif dengan rekan sebaya, keluarga, orang lain
5. Menampakkan keetidak nyamanan dalam situasi-situasi social
6. Mengeksploitasi orang lain untuk memenuhi hasrat pribadinya
Ciri - ciri usia ≤ 15 tahun
1. Sering membolos
2. Kenakalan kanak-kanak atau remaja (ditangkap atau diadili pengadilan anak,
karena tingkah lakunya).
3. Dikeluarkan atau diskors dari sekolah karena sering berkelakuan buruk
4. Selalu berbohong
5. Berulang-ulang melakukan hubungan seks walaupun hubungannya belum
akrab
6. Seringkali mabuk atau menyalahgunakan narkoba
7. Sering mencuri
8. Sering merusak barang milik orang lain
9. Sering memulai perkelahian
Ciri - ciri pada usia ≥ 12 tahun
1. Seringkali berganti pekerjaan yang tidak disebabkan oleh sifat pekerjaan,
keadaan ekonomi atau kerja musiman
2. Seringkali menganggur, padahal mampu dan mempunyai kesempatan untuk
bekerja
3. Sering absen bekerja
4. Sering berhenti bekerja tanpa alasan
Karakteristik Perilaku Menarik Diri
STIKes Eka Harap Palangka Raya, Program Profesi Ners 2017
Fitria Indah Permata
2013.C.05a.0487 Halaman 5
1. Gangguan pola makan yaitu tidak ada nafsu makan / minum berlebihan
2. Berat badan menurun / meningkat dratis
3. Kemunduran kesehatan fisik
4. Tidur berlebihan
5. Tinggal di tempat tidur dalam waktu yang lama
6. Banyak tidur siang
7. Kurang bergairah
8. Tidak memperdulikan lingkungan
9. Aktivitas menurun
10. Mondar-mandir / sikap mematung, melakukan gerakan secra berulang ( jalan
mondar-mandir)
11. Menurunnya kegiatan seksual
2.1.4 Faktor Predisposisi dan Presipitasi Gangguan Hubungan Sosial
2.1.4.1 Predisposisi
1. Faktor perkembangan
1) Gangguan dalam pencapaian tingkat perkembangan
Pada masa tumbuh kembang individu mempunyai tugas perkembangan yang
harus dipenuhi, setiap tahap perkembangan mempunyai spesifikasi tersendiri.
Bila tugas dalam perkembangan tidak terpenuhi akan menghambat tahap
perkembangan selanjutnya dan dapat terjadi gangguan hubungan sosial.
2) Sistem keluarga yang terganggu
Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung
terjadinya gangguan hubungan sosial, termasuk komunikasi yang tidak jelas
(double blind komunikation), ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga dan
pola asuh keluarga yang tidak menganjurkan anggota keluarga untuk
berhubungan di luar lingkungan keluarga.
3) Norma keluarga kurang mendukung hubungan keluarga dengan pihak lain
diluar keluarga
Merupakan faktor pendukung untuk terjadinaya ada gangguan hubungan
sosial. Hal ini disebabkan oleh norma-norma yang dianut keluarga yang
salah, dimana tiap anggota keluarga yang tidak produktif diasingkan dari
hubungan sosialnya misalnya : usia lanjut, penyakit kronis, penyandang cacat
dan lain-lain.
4) Faktor biologi
Genetik, neurotransmiter
5) Faktor sosio kultural
(1) Isolasi akibat dari norma yang tidak mendukung
STIKes Eka Harap Palangka Raya, Program Profesi Ners 2017
Fitria Indah Permata
2013.C.05a.0487 Halaman 6
(2) Harapan yang tidak realistis terhadap hubungan
2.1.4.2 Presipitasi Gangguan Hubungan Sosial
1. Stressor sosio cultural
1) Menurunya satabilitas unit keluarga
2) Berpisah dari orang yang berarti dalam kehidupannya atau perceraian dan
lain – lain
2. Stresor psikologik
1) Ansietas berat yang berkepenjangan dengan keterbatasan untuk mengatasi
Sumber Koping
1) Keterlibatan dalam hubungan yang luas dalam keluarga dan teman
2) Hubungan dengan hewan peliharaan
3) Gunakan kreatifitas utuk mengekspresikan stress interpersonalseperti
kesenian,musik,tulisan
Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang digunakan :
1) Regresi
Kemunduran akibat stress terhadap perilaku dan merupakan ciri khas dari
suatu taraf perkembangan yang lebih dini.
2) Represi
Pengesampingan secara tidak sadar tentang pikiran, impuls atau ingatan yang
menyakitkan atau bertentangan dari kesadaran seseorang.
3) Isolasi
Pemisahan unsur emosional dari suatu pikiran yang mengganggu dapat
bersifat sementara atau jangka panjang.
2.1.5 Rentangan Responden Sosial
R. Adapati R. Maladapatif
Sosial Kesepian Manipulasi
Otonomi Menarik diri Impulsif
Kebersamaan Ketergantungan Narkisisme
Saling ketergantungan
(Stuart and Sundeen,hal 441)
Perilaku Yang Berhubungan Dengan Responden Sosial Maladaptif

Perilaku Karakteristik
Manipulasi Orang lain diperlakukan seperti obyek hubungan terpusat pada
masalah pengendalian individu, berorientasi pada diri sediri atau
pada tujuan, bukan berorintasi pada orang lain.

STIKes Eka Harap Palangka Raya, Program Profesi Ners 2017


Fitria Indah Permata
2013.C.05a.0487 Halaman 7
Narkisisme Harga diri yang rapuh, secara terus menerus berusaha
Inplusif Mendapatkan penghargaan, pujian, sikap egosentris,
pencemburu, marah jika orang lain tidak mendukung. Tak
mampu merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar dari
pengalaman , penilaian yang buruk tidak dapat diandalkan
Perilaku menarik diri :
Adalah usaha menghidari interaksi dengan orang lain dimana individu merasa
bahwa kehilangan hubungan akrab, tidak mempunyai kesempatan membagi rasa,
fikiran, prestasi / kegagalan, ia mempunai kesulitan berhubungan secara spontan
dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada
perhatian dan tak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain.
2.1.6 Diagnosa Keperawatan
Masalah keperawatan yang berubungan dengan hubungan sosial (double diagnosa).
Diagnosa menurut NANDA :
1. Resiko terjadi perubahan persepsi sensori berhubungan dengan menarik diri
2. Isolasi sosial berhubungan dengan kemampuan hubungan sosial inadekuat
3. Gangguan persepsi (harga diri rendah) berhubungan dengan persepsi keluarga
nonrealistik dalam berhubungan
4. Menarik diri berhubungan dengan waham curiga
5. Gangguan hubungan sosial berhubungan dengan kurangnya perhatian terhadap
lingkungan
6. Menurunnya aktivitas motorik berhubungan kurangnya perhatian terhadap
lingkungan
7. Potensial defisit cairan berhubungan dengan tidak mau merawat diri
8. Gangguan komonikasi verbal
9. Gangguan interaksi sosial berhubungan dengan menarik diri
2.1.7 Intervensi Keperawatan
Diagnosa 1:
Isolasi diri : Menarik diri dari orang dan lingkungan sekitar
Tujuan Keperawatan :
Klien dapat membina hubungan saling percaya, menyadari penyebab isolasi sosial
dan dapat berinteraksi dengan orang lain.
Tindakan Keperawatan :
1. Tetapkan hubungan saling percaya dan lakukan dengan kontak sering dan
singkat
2. Bantu klien untuk mengenal penyebab isolasi sosial
3. Bantu klien untuk mengenal manfaat berhubungan dengan orang lain
STIKes Eka Harap Palangka Raya, Program Profesi Ners 2017
Fitria Indah Permata
2013.C.05a.0487 Halaman 8
4. Diskusikan manfaat jika klien mempunyai banyak teman
5. Bantu klien mengenal kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
6. Diskusikan kerugian jika klien hanya mengurung diri dan tidak bergaul dengan
orang lain
7. Jelaskan pengaruh isolasi sosial terhadap kesehatan fisik klien
8. Bantu klien untuk berinteraksi dengan orang lain secara bertahap
9. Beri kesempatan klien untuk mempraktikkan cara berinteraksi dengan orang lain
dihadapan anda
10. Bantu klien berinteraksi dengan satu orang
11. Berilah pujian kepada klien untuk setiap kemajuan interaksi yang telah
dilakukan
12. Dengarkan ekspresi perasaan klien setelah berinteraksi dengan orang lain
13. Berilah dorongan terus-menerus agar klien tetap semangat meningkatkan
interaksinya
Implementasi :
Pada pertemuan pertama , perawat membina hubungan saling percaya dengan
klien dengan cara mengucapkan salam dan menyapa klien dengan ramah,
memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan pertemuan, menunjukkan sikap tenang
dan penuh perhatian dengan menemani klien dan membuat kontrak yang jelas.
Melakukan interaksi sering dan singkat.Membicarakan dengan klien penyebab
menarik diri. Mendiskusikan akibat menarik diri,mendiskusikan keuntungan dalam
berinteraksi dengan orang lain. Memotivasi klien untuk bersosialisasi dengan
perawatlain, klien lain secara bertahap. Memberikan pujian saat klien mau
berinteraksi dengan perawat lain dan klien lain. Mendampingi klien saat memulai
interaksidengan perawat lain atau klienlain, menyusun aktivitas sehari-hari klien
sesuai kemampuannya, kesanggupannya serta dengan perencanaandi ruangan.
Evaluasi :
Pada pertemuan ke 3 hubungan saling percaya sudah dapat terbina dengan
lebih baik. Tetapi klien masih belum bisa menyebutkan penyebab menarik dirinya.
Klien juga belum mampu menyebutkan keuntungan berinteraksi denganorang lain.
Pada pertemuan ke 4 sudah bisa bersosialisasi dengan perawat lain dan klien lain,
tapi masih belum bisa menyebutkan penyebab tidak maubergaul dengan orang lain.
Pada pertemuan ke 5 klien dapat menjelaskan keuntungan berhubungan dengan
orang lain dan klien sudah mau berinteraksi dengan klien lain,bahkan bergandengan
tangan dengan klien lain.
Tindak lanjut

STIKes Eka Harap Palangka Raya, Program Profesi Ners 2017


Fitria Indah Permata
2013.C.05a.0487 Halaman 9
Mempertahankan implementasi yang telah diberikan. Melakukan kerja sama
dengan perawat ruangan untuk melatih aktifitas yang teratur dan mendiskusikan
mengenai partisipasi keluarga dalam merawat klien .
Diagnosa 2:
Gangguan konsep diri : Harga diri rendah
TujuanKeperawatan :
Klien dapat meningkatkan harga dirinya, sehingga klien dapat berhubungan dengan
orang lain.
Tindakan Keperawatan:
1. Bina hubungan saling percaya
2. Identifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih dimiliki klien
3. Beri pujian yang realistik dan hindarkan penilaian yang negatif
4. Bantu klien menilai kemampuannya
5. Diskusikan dengan klien mengenai kemampuan yang dimilikinya
6. Bantu klien menyebutkan dan beri penguatan terhadap kemampuan diri yang
diungkapkan klien.
7. Perlihatkan respon yang kondusif dan upayakan menjadi pendengar yang aktif.
8. Bantu klien untuk memilih dan menetapkan kemampuan yang akan dilatih.
9. Bantu klien untuk menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang dilatih
10. Beri kesempatan kepada klien untuk mencoba kegiatan yang telah dilatihkan.
11. Berikan pujian kepada klien atas setiap kegiatan yang dapat dilakukan klien
setiap harinya.
12. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan tingkat toleransi dan perubahan setiap
kegiatan.
13. Berikan klien kesempatan mengungkapkan perasaannya setelah pelaksanaan
kegiatan
Implementasi :
Mempertahankan hubungan saling percaya antara perawat klien melalui
caramenyapa klien dengan ramah dan mengucapkan salam, menjelaskan tujuan
pertemuan, menunjukkan sikap empati, membuat kontrak yang jelas untuk
pertemuan selanjutnya. Menunjukkan sikap penuh perhatian dan penghargaan
dengan menemani klien walaupun klien menolak untuk berinteraksi
.Mendorongklien untuk menyebutkan aspek/ kemampuan positif yang dimiliki klien
dan memberikan pujian terhadap kemampuan positif klien yang menonjol.
Mendiskusikan dan memotivasi klien untuk mengungkapkan perasaan, pikiran dan
mendengarkan klien dengan perhatian
Evaluasi :
STIKes Eka Harap Palangka Raya, Program Profesi Ners 2017
Fitria Indah Permata
2013.C.05a.0487 Halaman 10
Pada pertemuan ke 5 klien mulai mau menyebutkan kemampuan yang
dimilikinya dan klien mau menunjukkan kemampuannya di depan perawat yaitu
seperti klien bisa bernyanyi atau memainkan gitar. Namun klien masih sulit untuk
memulai pembicaraan. Pertemuan ke 6 klien lebih dapat berinteraksi dengan klien
lain dan dapat tersenyum membalas sapaan perawat.
Tindak lanjut :
Mempertahankan interaksi yang sudah dicapai klien dan merencanakan untuk
diikutkan dalam terapi aktivitas kelompok.
Diagnosa 3 :
Defisit Perawatan diri (berpakaian, berhias, kebersihan diri, makan, eliminasi
dan aktivitas sehari-hari)
Tujuan Keperawatan :
Klien dapat meningkatkan motivasi tentang kebersihan diri, sehingga kebutuhan
klien terjaga dan terpelihara
Tindakan Keperawatan :
1. Bina hubungan saling percaya
2. Melatih klien cara perawatan kebersihan diri
3. Menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan diri
4. Menjelaskan alat-alat untuk menjaga kebersihan diri
5. Menjelaskan cara-cara menjaga kebersihan diri
6. Melatih klien cara mempraktikkan kebersihan diri
7. Membantu klien latihan berhias
8. Melatih klien makan secara mandiri
9. Menjelaskan cara mempersiapakan makanan
10. Menjelaskan cara makan yang tertib
11. Menjelaskan cara merapikan peralatan makan setelah makan
12. Bantu klien mempraktikkan cara makan yang baik
13. Mengajarkan klien melakukan BAB/BAK secara mandiri
14. Menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai
15. Menjelaskan cara membersihkan diri setelah BAB/BAK
16. Menjelaskan cara membersihkan tempat BAB/BAK
Implementasi :
Mempertahankan hubungan saling percaya yang telah terbina, dengan cara
mengucapkan salam dan menunjukkan sikap ramah saat berinteraksi dengan klien.
Menciptakan lingkungan yang tenang saat berinteraksi.Memberikan kesempatan
pada klien untuk mengungkapkan perasaannya dan mendengarkan dengan penuh
perhatian. Memotivasi klien untuk mandi memakai sabun, menggosok gigi,
STIKes Eka Harap Palangka Raya, Program Profesi Ners 2017
Fitria Indah Permata
2013.C.05a.0487 Halaman 11
mengganti pakaian setiap hari, memotivasi klien untuk memotong kuku seminggu
sekali bila terlihat kotor dan panjang, mendorong klien untuk mengungkapkan
perasaannya setelah melakukan perawatan diri, memberikan pujian atas perilaku
klien yang mendukung pada perawatan diri.
Evaluasi :
Pada pertemuan 1 dan 2 klien belum bersedia untuk melakukan perawatan diri, klien
selalu menunggu ayahnya untuk perawatan diri, klien terlihat kusam ,rambut acak-
acakan, baju lusuh karena klien menolak untuk perawatan diri.Pertemuan ke 3 klien
sudah bersedia ke kamar mandi di antar ayahnya, sudah bersedia mandi tetapi belum
bersedia memakai baju yang rapi dan menyisir rambut.
Pertemuan ke 3, 4 ,5 klien sudah mandi sendiri tapi tidak bersedia memakai handuk
sehingga baju terlihat basah. Sampai pertemuan terakhir klien bersedia mandi bila
disuruh , bukan atas kemauan sendiri, tapi klien sudah bisa melakukan sendiri
dengan pengawasan.
Tindak lanjut :
Mempertahankan pemberian motivasi kepada klien dalam melakukan
perawatan diri, membuat jadual kegiatan klien sehari-hari.Meningkatkan kualitas
ADL klien dengsn mendorong klien untuk melaksanakan semua ADL yang telah
dibuat dan mengikut sertakan keluarga dalam memonitor ADL klien.
2.1.8 Pohon Masalah

STIKes Eka Harap Palangka Raya, Program Profesi Ners 2017


Fitria Indah Permata
2013.C.05a.0487 Halaman 12