Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

PERPINDAHAN PANAS
PERPINDAHAN PANAS KONDUKSI

DISUSUN OLEH:

1. DIYAH WULAN SARI 14644040


2. SITI DWI WAHYUNI 14644048

PROGAM STUDI TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
2016

1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha

Penyayang, segala puji hanya bagiNya. Semoga sholawat beserta salam senantias

tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga

dan para sahabatnya, dan juga kepada parapengikut-Nya yang setia hingga akhir

zaman.

Puji syukur Alhamdulilah kami panjatkan kehadiratTuhan Yang Maha Esa

yang telah melimpahkan segala rahmat,hidayah,inayah-Nya. Sehingga penulisan

makalah ini dapat diselesaikan dengan baikdan lancar.

Makalah dengan judul “Perpindahan Panas Konduksi” sebagai tugas

mata kuliah Perpindahan Panas.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari

sempurna, karena masih banyak kekurangan dan kesalahan. Maka penulis

menerima kritikdan saran yang bersifat membangun untuk meyempurnakan

makalah ini.

Dengan makalah ini, penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat

bermanfaat dan berguna bagi penulis serta pembaca pada umumnya.

Samarinda, Februari 2016

Penulis

2
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ........................................................................... 2

DAFTAR ISI ............................................................................................ 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .......................................................................... 4

1.2 Tujuan ....................................................................................... 5

1.3 Manfaat ...................................................................................... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Perpindahan Panas . ................................................ 6

2.2 Jenis-Jenis Perpindahan Panaas ................................................ 6


2.3 Aplikasi Dalam Kehidupan Sehari-hari .................................... 13
2.4 Contoh Soal .............................................................................. 14

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ............................................................................... 16

3.2 Saran ......................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 17

3
BAB I

PENDAHULUAN

3.1 LATAR BELAKANG


Perpindahan kalor dari suatu zat ke zat lain seringkali terjadi dalam
industri proses. Pada kebanyakan pengerjaan, diperlukan pemasukan atau
pengeluaran kalor, untuk mencapai dan mempertahankan keadaan yang
dibutuhkan sewaktu proses berlangsung. Kondisi pertama yaitu mencapai
keadaan yang dibutuhkan untuk pengerjaan, terjadi umpamanya bila
pengerjaan harus berlangsung pada suhu tertentu dan suhu ini harus dicapai
dengan jalan pemasukan atau pengeluaran kalor. Kondisi kedua yaitu
mempertahankan keadaan yang dibutuhkan untuk operasi proses, terdapat
pada pengerjaan eksoterm dan endoterm. Disamping perubahan secara kimia,
keadaan ini dapat juga merupakan pengerjaan secara alami. Dengan
demikian, Pada pengembunan dan penghabluran (kristalisasi) kalor harus
dikeluarkan. Pada penguapan dan pada umumnya juga pada pelarutan, kalor
harus dimasukkan. Hukum alam menyatakan bahwa kalor adalah suatu
bentuk energi.
Bila dalam suatu sistem terdapat gradien suhu, atau bila dua sistem
yang suhunya berbeda disinggungkan,maka akan terjadi perpindahan energi.
Proses ini disebut sebagai perpindahan panas (Heat Transfer). Dari titik
pandang teknik (engineering), Analisa perpindahan panas dapat digunakan
untuk menaksir biaya, kelayakan, dan besarnya peralatan yang diperlukan
untuk memindahkan sejumlah panas tertentu dalam waktu yang ditentukan.
Ukuran ketel, pemanas, mesin pendingin, dan penukar panas tergantung tidak
hanya pada jumlah panas yang harus dipindahkan, tetapi terlebih-lebih pada
laju perpindahan panas pada kondisi-kondisi yang ditentukan. Beroperasinya
dengan baik komponen-komponen peralatan, seperti misalnya sudu-sudu
turbin atau dinding ruang bakar, tergantung pada kemungkinan pendinginan
logam-logam tertentu dengan membuang panas secara terus menerus pada
laju yang tinggi dari suatu permukaan. Juga pada rancang-bangun (design)
mesin-mesin listrik, transformator dan bantalan, harus diadakan analisa
perpindahan panas untuk menghindari konduksi-konduksi yang akan
menyebabkan pemanasan yang berlebihan dan merusakan peralatan. Berbagai
contoh ini menunjukkan bahwa dalam hampir tiap cabang keteknikan
dijumpai masalah perpindahan panas yang tidak dapat dipecahkan dengan
penalaran termodinamika saja, tetapi memerlukan analisa yang didasarkan
pada ilmu perpindahan panas.
Dalam perpindahan panas, sebagaimana dalam cabang-cabang
keteknikan lainnya, penyelesaian yang baik terhadap suatu soal memerlukan
asumsi (pengandaian) dan idealisasi. Hampir tidak mungkin menguraikan
gejala fisik secara tepat, dan untuk merumuskan suatu soal dalam bentuk

4
persamaan yang dapat diselesaikan kita perlu mengadakan beberapa pengira-
iraan (approximation).
Dalam perhitungan rangkaian listrik, biasanya diasumsikan bahwa nilai
tahanan, kapasitansi, dan induktansi tidak tergantung pada arus yang mengalir
melaluinya. Asumsi ini menyederhanakan analisanya, tetapi dalam hal-hal
tertentu dapat sangat membatasi ketelitian hasilnya.
Pada waktu menafsirkan hasil ahir suatu analisa, kita perlu mengingat
asumsi, idealisasi dan pengira-iraan yang telah kita buat selama mengadakan
analisa tersebut. Kadang-kadang kita perlu mengadakan pengira-iraan
keteknikan dalam penyelesaian suatu soal, karena tidak memadainya
keterangan tentang sifat-sifat fisik. Sebagai contoh, dalam merancang bagian-
bagian mesin untuk pengoperasian pada suhu tinggi mungkin kita perlu
memakai batas proporsional (propoyional limit) atau kuat-lelah (fatigue
strength) bahannya dari data suhu rendah. Guna menjamin pengoperasian
yang memuaskan dari bagian mesin ini, perancang harus menerapkan faktor
keamanan (safety factor) pada hasil yang diperoleh dari analisanya. Pengira-
iraan semacam itu perlu pula dalam soal-soal perpindahan panas.
Sifat-sifat fisik seperti konduktivitas termal atau viskositas berubah
dengan suhu, tetapi jika dipilih suatu harga rata-rata yang tepat , maka
penyelesaian soal dapat sangat disederhanakan tanpa memasukan kesalahan
yang cukup besar dalam hasil ahirnya.
Bila panas berpindah dari suatu fluida ke dinding , seperti misalnya
didalam ketel, maka kerak terbentuk pada pengoperasian yang terus menerus
dan akan mengurangi laju aliran panas. Untuk menjamin pengoprasian yang
memuaskan dalam jangka waktu yang lama, maka harus ditrapkan faktor
keamanan untuk mengatasi kemungkinan ini. Dalam perpindahan panas ada
tiga jenis perpindahan panas yaitu perpindahan panas dengan cara konduksi,
konveksi, dan radiasi.

3.2 TUJUAN
Menentukan jenis-jenis perpindahan panas dan aplikasi perpindahan
panas dibidang teknik kimia.

3.3 MANFAAT
Mahasiswa dapat mengetahui jenis-jenis perpindaham panas dan
pengaplikasian perpindahan panas dibidang teknik kimia.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN PERPINDAHAN PANAS


Perpindahan panas dapat didefinisikan sebagai berpindahnya energi dari
suatu daerah ke daerah lainnya sebagai akibat dari beda suhu antara daerah-
daerah tersebut. Karena beda suhu terdapat di seluruh alam semesta, maka
aliran panas bersifat seuniversal yang berkaitan dengan tarikan gravitasi.
Tetapi tidak sebagaimana halnya gravitasi, aliran panas tidak di kendalikan
oleh sebuah hubungan yang unik, namun oleh kombinasi dari berbagai
hukum fisika yang tidak saling bergantungan.

Kepustakaan perpindahan panas pada umumnya mengenal tiga cara


perpindahan panas yaitu, konduksi (conduction, juga dikenal dengan istilah
hantaran), konveksi (convection, juga dikenal dengan istilah aliran), radiasi
(radiartion).

2.2 JENIS-JENIS PERPINDAHAN PANAS


1) PERPINDAHAN PANAS DENGAN CARA KONDUKSI

Yang dimaksud dengan konduksi ialah pengangkutan kalor


melalui satu jenis zat. Sehingga perpindahan kalor secara
hantaran/konduksi merupakan satu proses pendalaman karena proses
perpindahan kalor ini hanya terjadi di dalam bahan. Arah aliran energi
kalor, adalah dari titik bersuhu tinggi ke titik bersuhu rendah.
Perpindahan panas konduksi dan difusi energi akibat aktivitas molekul

6
Sudah diketahui bahwa tidak semua bahan dapat menghantar kalor
sama sempurnanya. Dengan demikian, umpamanya seorang tukang
hembus kaca dapat memegang suatu barang kaca, yang beberapa cm
lebih jauh dari tempat pegangan itu adalah demikian panasnya,
sehingga bentuknya dapat berubah. Akan tetapi seorang pandai tempa
harus memegang benda yang akan ditempa dengan sebuah tang. Bahan
yang dapat menghantar kalor dengan baik dinamakan konduktor.
Penghantar yang buruk disebut isolator. Sifat bahan yang digunakan
untuk menyatakan bahwa bahan tersebut merupakan suatu isolator atau
konduktor ialah koefisien konduksi terma. Apabila nilai koefisien ini
tinggi, maka bahan mempunyai kemampuan mengalirkan kalor dengan
cepat. Untuk bahan isolator, koefisien ini bernilai kecil.

Ujung besi yang dipanaskan menyebabkan ujung yang lain ikut panas

Persamaan umum yang biasa digunakan dalam perpindahan panas


dengan cara konduksi adalah

𝜕𝑇
𝐻 = −𝑘𝐴
𝜕𝑥

Keterangan:
H : Panas
k : Konduktivitas termal
𝜕T : Perbedaan suhu
𝜕x : Perbedaan panjang/ jarak
A : Luas permukaan

𝜕𝑇
H adalah perpindahan panas dan 𝜕𝑥 merupakan gradien suhu
kearah perpindahan panas. Konstanta positif k disebut konduktivitas
atau kehantaran termal (thermal konductivity) benda itu, A adalah luas

7
permukaan, sedangkan tanda minus diselipkan agar memenuhi hukum
kedua termodinamika, yaitu bahwa panas mengalir dari suhu tinggi ke
suhu yang lebih rendah.

NILAI KONDUKTIVITAS TERMAL (k) BERBAGAI BAHAN


PADA SUHU 0° C
Bahan W/m x °C Btu/h x ft x °F
Logam
Perak (murni) 410 237
Tembaga (murni) 385 223
Aluminium (murni) 202 117
Nikel (murni) 93 54
Besi (murni) 73 42
Baja karbon, 1% C 43 25
Timbal (murni) 35 20,3
Baja krom-nikel 16,3 9,4
(18% Cr, 8% Ni)
Bukan Logam
Kuarsa (sejajar sumbu) 41,6 24
Magnesit 4,15 2,4
Marmar 2,08-2,94 1,2-1,7
Batu pasir 1,83 1,06
Kaca, jendela 0,78 0,45
Kayu mapel atau ek 0,17 0,096
Serbuk gergaji 0,059 0,034
Wol kaca 0,038 0,022
Zat cair
Air-raksa 8,21 4,74
Air 0,556 0,327
Amonia 0,540 0,312
Minyak Lumas, SAE 50 0,147 0,085
Freon 12,CCl2 F2 0,073 0,042

Gas
Hidrogen 0,175 0,101
Helium 0,141 0,081
Udara 0,024 0,0139
Uap air (jenuh) 0,0206 0,0119
Karbon dioksida 0,0146 0,00844

8
Pada umumnya, bahan yang dapat menghantar arus listrik dengan
sempurna (logam) merupakan penghantar yang baik juga untuk kalor
dan sebaliknya. Selanjutnya bila diandaikan sebatang besi atau
sembarang jenis logam dan salah satu ujungnya diulurkan ke dalam
nyala api. Dapat diperhatikan bagaimana kalor dipindahkan dari ujung
yang panas ke ujung yang dingin. Apabila ujung batang logam tadi
menerima energi kalor dari api, energi ini akan memindahkan
sebahagian energi kepada molekul dan elektron yang membangun
bahan tersebut. Moleku1 dan elektron merupakan alat pengangkut kalor
di dalam bahan menurut proses perpindahan kalor konduksi. Dengan
demikian dalam proses pengangkutan kalor di dalam bahan, aliran
elektron akan memainkan peranan penting .
Persoalan yang patut diajukan pada pengamatan ini ialah
mengapa kadar alir energi kalor adalah berbeda. Hal ini disebabkan
karena susunan molekul dan juga atom di dalam setiap bahan adalah
berbeda.
Untuk satu bahan berfasa padat molekulnya tersusun rapat,
berbeda dengan satu bahan berfasa gas seperti udara. Molekul udara
adalalah renggang seka1i. Tetapi dibandingkan dengan bahan padat
seperti kayu, dan besi , maka molekul besi adalah lebih rapat
susunannya daripada molekul kayu. Bahan kayu terdiri dari gabungan
bahan kimia seperti karbon, uap air, dan udara yang terperangkat. Besi
adalah besi. Kalaupun ada bahan asing, bahan kimia unsur besi adalah
lebih banyak.

Konduksi Kalor
1. Konduksi kalor pada keadaan tetap (steady state)
· Konduksi Kalor melalui Dinding Datar
· Konduksi Kalor melalui sistim radial: silinder dan bola
· Koeffisien perpindahan panas menyeluruh.
2. Konduksi kalor pada keadaan tidak tetap (unsteady state)

 Konduksi kalor pada keadaan tetap


Dinding datar

Dari Hukum Fourier akan didapat :

9
jika persamaan ini diintegrasikan akan menjadi :

inilah persamaan untuk sebuah dinding datar


Dalam konduksi kalor dikenal juga apa yang dinamakan dengan konsep
tahanan termal, dimana pada konsep ini aliran kalor dianalogikan sama
dengan aliran listrik sehingga prinsip hukum Ohm dapat diterapkan
dalam aliran kalor. Laju perpindahan kalor dapat dianggap sebagai arus
aliran, beda suhu dianggap sebagai beda potensial sedangkan
konduktivitas panas dan tebal bahan dianggap sebagai tahanan terhadap
arus aliran. Dan persamaan Fourier dapat ditulis :

jika,

Sehingga tahanan termal adalah :

Dinding datar berlapis.


Jika dalam suatu sistim terdapat lebih dari satu lapisan dinding
yang terbuat dari bahan yang berbeda, maka analisa konduksi kalor
akan menjadi :

10
Laju perpindahan kalor pada lapisan A

Laju perpindahan kalor pada lapisan B

Laju perpindahan kalor pada lapisan C

Aliran kalor pada ketiga lapisan ini adalah sama dan pada kasus
ini dianggap luas permukaan penerima panas dari ketiga lapisan ini
adalah sama. Jika ketiga persamaan diatas dijumlahkan akan dihasilkan
:

Dan konsep tahanan termalnya menjadi :

Konduksi pada sistim radial.

Perhatikan gambar suatu silinder dengan panjang L dan radius bagian


dalam r0 , radius luar r1 . Temperatur bagian dalam silinder t0 dan
bagian luar t1, sehingga beda temperatur adalah t1 - t0 . Barapakah aliran
kalor yang terjadi ?

11
Diasumsikan kalor mengalir pada arah radial, luas bidang aliran
kalor dalam sistim silinder ini adalah :

dari hukum Fourier diketahui :

Luas bidang aliran kalor Ar disubtitusikan ke dalam persamaan


diatas, sehingga menjadi :

Jika persamaan terahir diintegrasikan dengan kondisi batas t =


t0 pada r = r0 ,
dan t = t1 pada r = r1 , akan menghasilkan :

sedangkan tahanan termal dari persamaan ini adalah :

Sehingga konsep tahanan termal dapat ditulis :

Untuk analisa silinder yang mempunyai lebih dari satu dinding, dapat
digunakan konsep tahanan termal. Sekarang diandaikan suatu dinding
silinder dilapisi oleh dua lapisan isolasi untuk mencegah kalor keluar
ataupun masuk seperti pada gambar di bawah ini.

Persamaan Fourier untuk kasus ini dapat ditulis :

12
Dari persamaan diatas dapat kita lihat bahwa tahanan
termal ( R ) untuk ketiga lapisan dinding masing masing adalah :

Sehingga Konsep tahanan termal untuk kasus ini adalah sbb :

2.3 APLIKASI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

13
 Ujung logam akan terasa panas jika ujung yang lain dipanaskan, misalnya
saat kita mengaduk adonan gula, air panas, dan kopi dengan menggunakan
sendok logam; saat kita memegang kawat logam kembang api yang sedang
menyala

 Knalpot akan panas ketika mesin motor dihidupkan


 Mentega akan meleleh ketika diletakkan di wajan yang tengah dipanaskan
 Tutup panci terasa panas saat panci digunakan untuk memasak
 Air akan mendidih ketika dipanaskan menggunakan panci logam dan
sejenisnya

2.4 CONTOH SOAL


1. Jelaskan menggunakan contoh, pengertian perpindahan kalor secara
konduksi ?
Pembahasan:
Perpindahan kalor secara konduksi adalah perpindahan kalor yang terjadi
melalui tumbukan antara atom/molekul penyusun benda. Misalnya tinjau
sebatang besi yang dipanaskan. Salah satu ujung besi disentuhkan ke api
dan ujung lainnya dipegang. Walaupun ujung besi yang dipegang tidak
bersentuhan dengan api tetapi karena kalor/panas berpindah melalui
batang besi maka ujung besi yang dipegang terasa panas. Bagaimana cara
kalor berpindah dari satu satu ujung besi ke ujung besi lainnya ?
Ujung besi yang dipanaskan mendapat tambahan kalor. Kalor adalah
energi yang secara alamiah berpindah dari benda bersuhu tinggi ke benda
bersuhu rendah. Adanya tambahan energi menyebabkan atom/molekul
penyusun besi bergetar semakin jauh dari posisi setimbangnya. Ketika
bergetar semakin jauh, atom/molekul tersebut menumbuk atom/molekul di
sebelahnya sehingga atom/molekul yang ditumbuk bergetar semakin jauh
dan mempunyai energi semakin besar. Proses ini berlangsung seterusnya
hingga kalor tiba pada ujung besi yang dipegang.
2. Mungkinkah perpindahan kalor secara konduksi terjadi antara
atom/molekul zat cair ?
Pembahasan:
Cermati contoh berikut ini. Ketika sebatang besi dipanaskan, kalor
berpindah dari suatu atom/molekul besi ke atom/molekul besi lainnya
sehingga bisa dikatakan perpindahan kalor secara konduksi terjadi antara
atom/molekul zat padat. Perpindahan kalor secara konduksi tidak terjadi
antara atom/molekul zat cair karena antara atom/molekul zat cair terjadi

14
perpindahan kalor secara konveksi dan demikian juga antara atom/molekul
zat gas terjadi perpindahan kalor secara konveksi.

3. Konduktivitas termal bata adalah 0,84 J/m.s.Co dan konduktivitas termal


wol adalah 0,040 J/m.s.Co. Manakah yang merupakan konduktor kalor
yang lebih baik, bata atau wol ?
Pembahasan:
Benda yang memiliki konduktivitas termal besar merupakan penghantar
kalor yang baik (konduktor termal yang baik) sedangkan benda yang
memiliki konduktivitas termal kecil merupakan penghantar kalor yang
buruk (konduktor termal yang buruk).
Berdasarkan soal, konduktivitas termal bata lebih besar daripada
konduktivitas termal wol sehingga bata merupakan penghantar kalor yang
lebih baik dibandingkan wol.
4. Sebatang baja berbentuk silinder pejal mempunyai panjang 1 meter dan
luas penampang 0,2 meter kuadrat. Konduktivitas termal baja adalah 40
J/m.s.Co. Jika selisih suhu antara kedua ujung baja adalah 10oC, tentukan
laju perpindahan kalor secara konduksi pada batang baja tersebut !
Pembahasan:
Diketahui:
Panjang baja (l) = 1 m
Luas penampang baja (A) = 0,2 m2
Konduktivitas termal baja (k) = 40 J/m.s.Co
Perbedaan suhu kedua ujung baja (ΔT) = 10oC
Ditanya : Laju perpindahan kalor secara konduksi (Q/t)
Jawab :
Rumus laju perpindahan kalor secara konduksi :
Q/t = k A ΔT / l
Q/t = (40)(0,2)(10) / 1
Q/t = 80 / 1
Q/t = 80 Joule/sekon

15
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Perpindahan panas dapat didefinisikan sebagai berpindahnya energi
dari suatu daerah ke daerah lainnya sebagai akibat dari beda suhu antara
daerah-daerah tersebut. Yang dimaksud dengan konduksi ialah
pengangkutan kalor melalui satu jenis zat. Sehingga perpindahan kalor
secara hantaran/konduksi merupakan satu proses pendalaman karena
proses perpindahan kalor ini hanya terjadi di dalam bahan

3.2 SARAN
Saran dari kelompok kami adalah teruslah mempelajari peristiwa
tentang perpindahan kalor dan harapannya semoga dengan kelompok kami
mempersentasikan tentang perpindahan kalor ini mudah – mudahan kita
lebih dapat bisa mengerti lagi tentang apa itu perpindahan kalor, dengan
cara apa perpindahan kalor itu bisa terjadi. Kami harap teman – teman
dapat memahaminya dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari –
harinya.

16
DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2012.https://gurumuda.net/contoh-soal-perpindahan-kalor-secara-
konduksi.html Diakses pada tanggal 29 februari 2016 pukul 11:00

Anonim.2015.http://dokumen.tips/documents/isi-makalah-perpindahan-
panas.html Diakses pada tanggal 29 februari 2016 pukul 12:00.

Kreith,Frank dan Arko prijono.prinsip-prinsip perpindahan panas.Edisi ketiga.


Erlangga:Jakarta.1997.
Holman, J.P., dan jasjfi.Perpindahan Kalor.Edisi keenam.Erlangga:Jakarta.1997
Incropera, F.P., dan Dewitt, D.P., Fundamental of Heat and Mass Transfer, John
Wiley & Sons, 2002.
Kern, D.Q., Process Heat Transfer, Mc Graw Hill, New York, 1950.
McCabe, Smith dan Harriots, Unit Operations in Chemical Engineering, Mc
Graw Hill,1985.
Holman, J.P., Heat Transfer, Mc Graw Hill, New York, 1987.

17