Anda di halaman 1dari 13

Contoh pelanggaran etika bisnis, penyalahgunaan kandungan

obat albothyl produk PT. Pharos Indonesia.

BANDUNG, (PR).- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI


mengimbau agar masyarakat berhenti menggunakan albothyl. Mengenai
bahayanya, BPOM menyampaikan sejumlah penjelasan melalui rilis yang
diterima PR di Bandung, Kamis 15 Februari 2018.
Meski dikenal sebagai obat sariawan ampuh, Albothyl mengandung
polikresulen konsentrat dan digunakan untuk hemostatik dan antiseptik
pada saat pembedahan. Serta penggunaan pada kulit, telinga, hidung,
tenggorokan (THT), sariawan, gigi dan vaginal (ginekologi).
Dalam 2 tahun terakhir BPOM RI menerima 38 laporan dari profesional
kesehatan yang menerima pasien dengan keluhan efek samping obat
Albothyl untuk pengobatan sariawan. Di antaranya efek samping serius
yaitu sariawan yang membesar dan berlubang hingga menyebabkan infeksi
(noma like lession).
BPOM RI bersama ahli farmakologi dari universitas dan klinisi dari
asosiasi profesi terkait telah melakukan pengkajian aspek keamanan obat
yang mengandung polikresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar
konsentrat. “Dan diputuskan tidak boleh digunakan sebagai hemostatik
dan antiseptik pada saat pembedahan serta penggunaan pada kulit
(dermatologi); telinga, hidung dan tenggorokan (THT); sariawan
(stomatitis aftosa); dan gigi (odontologi),” demikian pernyataan resmi
BPOM RI.
BPOM RI membekukan izin edar Albothyl dalam bentuk cairan obat luar
konsentrat hingga perbaikan indikasi yang diajukan disetujui. Untuk
produk sejenis akan diberlakukan hal yang sama. PT Pharos Indonesia
(produsen Albothyl) dan industri farmasi lain yang memegang izin edar
obat mengandung polikresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar
konsentrat diperintahkan untuk menarik obat dari peredaran selambat-
lambatnya 1 (satu) bulan sejak dikeluarkannya Surat Keputusan
Pembekuan Izin Edar.
BPOM RI mengimbau profesional kesehatan dan masyarakat
menghentikan penggunaan obat tersebut. Untuk mengatasi sariawan,
BPOM merekomendasikan penggunaan kandungan benzydamine HCl,
povidone iodine 1%. Atau kombinasi dequalinium chloride, dan vitamin C.
Bila sakit berlanjut, masyarakat agar berkonsultasi dengan dokter atau
apoteker di sarana pelayanan kesehatan terdekat.
Program CSR yang di berlakukan PT.Unilever Indonesia Tbk.
PT.Unilever Indonesia Tbk menerapkan CSR sejak tahun 2001, dengan
berbagai program yang disebut program community engangement yaitu :

 Program lingkungan

Program lingkungan melalui program Jakarta Green and Clean


dilakukan di Jakarta dan Program pelestarian lingkungan melalui
program pemilahan sampah mandiri di Surabaya sejak tahun 2001,
Di Jakarta berawal dari dua orang yang menjadi relawan, saat ini
PT.Unilever Indonesia Tbk berhasil mengumpulkan 4300 relawan
untuk menularkan menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan
merupakan realisasi dari program Jakarta Green and Clean. Sejak
tahun 2005 kawasan Mampang, Jakarta Selatan dijadikan sebagai
wilayah percontohan oleh Unilever untuk menjalankan program
Jakarta Green and Clean. Hal itu dapat dilihat dari gang sempit,
rumah-rumah warga kawasan perumahan padat Mampang yan
terlihat bersih dan asri tidak ada sedikitpun sampah terlihat di
sepanjang lorong jalan kecil yang cuma bisa dilalui kendaraan roda
dua. Disetiap depan rumah berbagai jenis tanaman berjejer rapi dan
ada dua kotak sampah basah berwarana biru dan kuning berisi
tulisan sampah basah dan kering disetiap pojok rumah. Program
pelestarian lingkungan melalui program pemilahan sampah mandiri
di Kelurahan Jambangan, Surabaya. Pengelolaan sampah mandiri ini
adalah bagian dari kegiatan tanggung jawab sosial / CSR (Corporate
Social Responsibility) .Sejak tahun 2002, Unilever melalui Yayasan
Unilever Peduli telah memprakarsai program pengelolaan sampah
mandiri di tingkat rumah tangga, dengan pilot project di kelurahan
Jambangan, Surabaya. Kegiatan ini dilakukan secara partisipatoris
bersama-sama dengan masyarakat. Program pelestarian lingkungan
hidup di Kelurahan Jambangan diawali oleh keinginan Unilever
untuk menyelamatkan sumber air. Air bersih adalah sumber
kehidupan yang dibutuhkan baik oleh masyarakat maupun industri.
Salah satu penyebab utama menurunnya kualitas air adalah masalah
sampah yang tidak tertangani dengan baik. pada awal
pelaksanaannya di tahun 2002, Unilever memulai penerapan konsep
ini pada 4 desa binaan di bantaran sungai Brantas. Masyarakat
diperkenalkan dengan konsep pemilahan sampah organik dan non-
organik di tingkat rumah tangga, serta pengolahan sampah organik
menjadi kompos dengan mempergunakan teknologi sederhana.
Yayasan Unilever Peduli bekerjasama dengan pemerintah setempat
dan mendapatkan asistensi teknis dari UNESA (Universitas Negeri
Surabaya). Karena 70 persen sampah rumah tangga adalah sampah
organik, penerapan konsep ini dapat mengurangi volume sampah
yang ditimbun di TPA maupun dibuang ke Sungai Brantas.
Sementara itu, sampah non-organik pun memiliki nilai ekonomis
karena masyarakat dapat menjualnya kepada pemulung. Untuk
menjamin kesuksesan, keberlanjutan, dan replikasi dari program ini,
Yayasan Unilever Peduli menerapkan sistem kaderisasi. Para kader
yang juga disebut sebagai ‘Pejuang Lingkungan’ ini secara sukarela
melaksanakan pemilahan sampah dan juga mengajak warga sekitar
untuk melakukan hal yang serupa. Berkat kegigihan kader-kader
lingkungan tersebut, hingga saat ini terdapat 14 kelurahan lain di
Surabaya yang juga melakukan program serupa. aktivitas tanggung
jawab sosial perusahaannya di kelurahan Jambangan ini, baru-baru
ini Unilever dianugerahi penghargaan lingkungan hidup
internasional dari Energy Globe (www.energyglobe.com). Dalam
ajang tingkat international ini, Unilever merupakan satu-satunya
perusahaan dari Indonesia yang berhasil meraih penghargaan
pertama untuk kategori water sejak ajang ini mulai dilaksanakan
pada tahun 2000. Program Lingkungan Hidup di Surabaya
merupakan salah satu dari 700 proyek yang masuk ke panitia
International Energy Globe Awards 2005.

 Pendidikan Kesehatab Masyarakat

Pendidikan kesehatan masyarakat Program pendidikan kesehatan


dimulai di Yogyakarta dengan berhasil mengajak 1.600 warga. Setiap
warga dengan sukarela menularkan ilmunya untuk menjaga
kebersihan lingkungan dan kesehatan kepada 10 warga lainnya.

 Pembinaan Usaha Kecil Menengah

Pembinaan usaha kecil menengah. Program Pengembangan Petani


Kedelai Hitam sejak 2001. Program Pengembangan Petani Kedelai
Hitam adalah salah satu program CSR unggulan dari Unilever
Indonesia melalui Yayasan Unilever Peduli. Program ini bertujuan
untuk menjembatani kebutuhan perusahaan dan para petani.
Diilhami dari kurangnya pasokan kedelai hitam untuk Bango, salah
satu produk Unilever Indonesia, program ini mengikutsertakan dan
mengembangkan petani dalam mem-produksi kedelai hitam. Dengan
menerapkan pendekatan "sekolah lapang" (SL) petani kedelai hitam
untuk memberdayakan petani agar mandiri dalam mengelola lahan
pertanian. Melalui metode ini petani dapat berkumpul sekali semingu
selama musim tanam kedelai hitam untuk mengikuti dan
menganalisa perkembangan tanaman kedelai tahap demi tahap.
Pendekatan ini dimulai dengan melibatkan 34 petani yang terdiri
atasi 24 laki-laki dan 10 perempuan dari kelompok Ngudi Makmur
Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Daerah
Istimewa Yogyakarta (DIY). Mereka mendalami berbagai prinsip
yang terkait dengan perkembangan tanaman seperti dinamika
populasi serangga, fisiologi dan kompensasi tanaman, pemeliharaan
kesuburan tanah, pengaruh air dan cuaca, pemilihan bibit dan aspek
lain melalui eksperimen yang mereka lakukan sendiri. adanya
program CSR ini berperan dalam meningkatkan kualitas produksi,
sekaligus menjamin kelancaran distribusi. Sedangkan bagi Unilever
sendiri, hal ini akan menjamin pasokan bahan baku untuk setiap
produksi mereka yg berbasis kedelai, sperti kecap Bango, yang telah
menjadi salah satu andalan produknya. Melalui program ini,
permasalan petani, seperti rendahnya harga beli dan ketidakpastian
pembeli, dapat terhapuskan. Diharapkan juga program ini dapat
meningkatkan kesejahteraan para petani.
Latar Belakang

Praktik CSR belum menjadi suatu keharusan yang umum, namun seiring dengan
abad informasi dan teknologi serta adanya desakan globalisasi, maka tuntutan
terhadap perusahaan untuk menjalankan CSR akan semakin besar. Tidak
menutup kemungkinan bahwa CSR menjadi kewajiban baru standar bisnis yang
harus dipenuhi seperti layaknya standar ISO. Dan diperkirakan pada akhir tahun
2010 mendatang akan diluncurkan ISO 26000 on Social Responsibility, sehingga
tuntutan dunia usaha menjadi semakin jelas akan pentingnya program CSR
dijalankan oleh perusahaan apabila menginginkan keberlanjutan dari
perusahaan tersebut.CSR akan menjadi strategi bisnis yang inheren dalam
perusahaan untuk menjaga atau meningkatkan daya saing melalui reputasi dan
kesetiaan merek produk (loyalitas) atau citra perusahaan. Kedua hal tersebut
akan menjadi keunggulan kompetitif perusahaan yang sulit untuk ditiru oleh
para pesaing. Di lain pihak, adanya pertumbuhan keinginan dari konsumen
untuk membeli produk berdasarkan kriteria-kriteria berbasis nilai-nilai dan etika
akan merubah perilaku konsumen di masa mendatang. Implementasi kebijakan
CSR adalah suatu proses yang terus menerus dan berkelanjutan. Denga demikian
akan tercipta satu ekosistem yang menguntungkan semua pihak , konsumen
mendapatkan produk unggul yang ramah lingkungan, produsen pun
mendapatkan profit yang sesuai yang pada akhirnya akan dikembalikan ke
tangan masyarakat secara tidak langsung. Berikut beberapa permasalahan bisnis
yang menjadi alasan kuat terhadap penerapan CSR:

1. Pengelolaan reputasi

Pengelolaan Reputasi Perusahaan sekarang tidak hanya memberi perhatian


terhadap produk atau layanan mereka, tetapi juga terhadap reputasi, merek
dagang, goodwill, dan modal intelektualitas. Hal seperti itu tidak dapat diraba
dan memiliki nilai berharga terhadap neraca perdagangan perusahaan. CSR
merupakan strategi yang tepat untuk memastikan reputasi sebuah perusahaan.

2. Pengelolaan resiko

Pengelolaan Risiko Penanaman modal di suatu perusahaan adalah sebuah


pertaruhan, dan investor ingin melihat bahwa perusahaan tersebut aman untuk
dijadikan bahan pertaruhan. Dengan CSR berarti perusahaan harus lebih
berhati-hati terhadap isu yang mungkin bisa membuat para investor
terhasut.Hal ini tidak harus berarti menghilangkan isu isu tersebut. Namun, hal
ini haruslah berarti menempatkan ideologi di sekitar isu tersebut atau membuat
kesepakatan dengan sudut pandang mereka

3. Kepuasaan Pekerja

Kepuasan pekerja Terdapat 3 dari 5 orang melaporkan bahwa mereka mau


bekerja untuk perusahaan yang memiliki nilai dan konsisten terhadap
mereka, memperhatikan pekerja adalah tanggung jawab perusahaan,
sehingga para pekerja bisa bekerja dengan baik. Perlakuan seperti ini bisa
meningkatkan kualitas pekerja mereka.
4. Hubungan inves

Hubungan dengan Investor dan akses terhadap modal Banyak investor


menyadari bahwa perusahaan yang menerapkan lebih banyak CSR merupakan
tempat yang lebih aman untuk berinvestasi. 86% investor percaya bahwa CSR
akan memberikan efek positif terhadap dunia bisnis.

5. Pesaing dan penempatan pasar

Persaingan dan penempatan pasar Berinvestasi dalam CSR berarti perusahaan


tersebut bisa menempatkan dirinya sebagai penguasa pasar dalam bidangnya,
dan kedepannya akan menjadi sebuah tantangan ketika ada peraturan yang
mengikatnya atau ketika perusahaan yang lain menjadikan juga CSR sebagai
strategi bisnis mereka.

6. Mempertahankanizin operasi

Mempertahankan izin untuk beroperasi Ketidakpercayaan terhadap perusahaan


telah menyebarluas, ketika hanya sedikit orang yang mendapatkan keuntungan
dari perusahaan terhadap lingkungan sosialnya. Terlebih lagi banyak keluhan
pekerja mengenai peningkatan stres, bekerja melampaui batas, dan
ketidaknyamanan dalam bekerja. Pada kondisi tersebut, perusahaan melihat izin
operasional mereka secara sosial didalam ancaman. Perusahan merespon hal
tersebut dengan cara berusaha menyakinkan masyarakat bahwa mereka
memiliki pengaruh positif. Hal terpenting dari pelaksanaan CSR adalah
memperkuat keberlanjutan perusahaan itu sendiri dengan jalan membangun
kerjasama antar stakeholder yang difasilitasi perusahaan tersebut dengan
menyusun program-program pengembangan masyarakat sekitarnya. Dari
wacana di atas kami ingin mengetahui bagaimana implementasi CSR pada PT.
Unilever Indonesia. PT. Unilever Indonesia merupakan perusahaan yang
berkembang besar, hampir semua produk-produknya sudah familiar di kalangan
masyarakat Indonesia, tentunya karena beroperasi besar, menggunakan
berbagai Sumber Daya maka tuntutan untuk menerapkan CSR

penghargaan dan Bukti Keberhasilan Implementasi CSR PT.Unilever Indonesia


CSR PT.Unilever Indonesia Tbk telah berhasil mengimplementasikan CSRdengan baik,
terbukti dengan beberapa penghargaan yang telah diraih baik tingkatnasional
maupun Internasional yaitu :1)

Unilever Indonesia meraih prestasi di tingkat internasional yaitu “The Best


Corporate Social Responsibility Program in Asia-Australia-
New Zealand”
pada acara The 2008 International Business Award.2)

Unilever Indonesia sekali lagi meraih prestasi di tingkat internasional. Kali


ini, pencapaian Unilever Indonesia bisa dibilang sangat spesial karena berhasilmen
yingkirkan 1.700 peserta dari seluruh dunia sebagai satu dari lima finalis
“The Best Corporate Social Responsibility Program in Asia
-Australia-New Zealand” melalui Program Pengembangan Petani Kedelai Hitam pada acara
The 2008 International Business Award. 3)

The International Business Award adalah satu-satunya penghargaan bisnis internasional yang
mencakup segala bidang. Organisasi maupun individu dari seluruh dunia dapat berkompetisi di
40 ketegori untuk pengharaan ini. 4)

Dari pembahasan dan pemaparan diatas ,dapat disimpulkan beberapa hal mengenai CSR yang
dilakukan PT. Unilever Indonesia Tbk., antara lain :

1. PT Unilever Indonesia mengedepankan program-program mengenai CSR untuk melestarikan


usaha dan memperkenalkan Brand-Brand dagang yang dimilikinya sehingga di terima serta
di kenal baik oleh Masyarakat.
2. PT Unilever Indonesia Fokus terhadap Sosial,lingkungan dan ekonomi(UKM) masyarakat
Kecil dalam mengimplementasikan Kewajiban Program-program CSR yang di rencanakan.
3. PT Unilever Indonesia telah melakukan Program CSR dengan baik,terbukti dengan
banyaknya penghargaan yang didapatkan
Untuk diketahui, segala jenis obat yang beredar di masyarakat telah diatur
dalam UU No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. (Baca Juga: Ini Dia Inpres
Efektivitas Pengawasan Obat dan Makanan)

Pasal 106:
(1) Sediaan farmasi dan alat kesehatan hanya dapat diedarkan setelah
mendapat izin edar.
(2) Penandaan dan informasi sediaan farmasi dan alat kesehatan harus
memenuhi persyaratan objektivitas dan kelengkapan serta tidak menyesatkan.
(3) Pemerintah berwenang mencabut izin edar dan memerintahkan penarikan
dari peredaran sediaan farmasi dan alat kesehatan yang telah memperoleh izin
edar, yang kemudian terbukti tidak memenuhi persyaratan mutu dan/atau
keamanan dan/atau kemanfaatan, dapat disita dan dimusnahkan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam UU tentang Kesehatan, pemerintah juga mewanti-wanti dan


mencantumkan sanksi bagi yang memproduksi, menjual atau pengedar obat
yang memasarkan obat tanpa izin edar.

Pasal 196
Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan
farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standar dan/atau
persyaratan keamanan, khasiat atau kemanfaatan, dan mutu sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 98 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara
paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00
(satu miliar rupiah).
Pasal 197
Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan
farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama
15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000,00 (satu miliar
lima ratus juta rupiah).

Pendahuluan
Berita-berita mengenai pelanggaran etika bisnis mendorong ketertarikan untuk
menelusuri lebih lanjut faktor-faktor yang mendorong dan dampak yang diakibatkan.
Etika bisnis merupakan aspek moral dalam menjalankan bisnis. Masih banyak
fenomena-fenomena dimana beberapa bisnis masih mengabaikan aspek moral. Banyak
perusahaan yang hanya memikirkan keuntungan, menghindari kerugian, dan kekuatan
bersaing sebagai satu-satunya tujuan dalam menjalankan bisnis sehingga faktor moral
atau etika tidak lagi menjadi pertimbangan.
Dalam satu bulan terakhir ini sudah ada 3 produk yang izin edarnya ditarik oleh BPOM
karena tidak sesuai ketentuan. Dimulai dari Viostin dan Enzyplex tanggal 5 Februari lalu
karena terbukti mengandung DNA babi, kini Albothyl pun dibatalkan izin edarnya per
tanggal 15 Februari setelah ada 38 laporan kasus terkait efek samping serius yang
timbul akibat penggunaan Albothyl, oleh profesional kesehatan dalam dua tahun
terakhir ini.
Perlu diketahui bahwa kualitas dan keamanan setiap produk obat maupun makanan
yang beredar di Indonesia dikontrol oleh BPOM atau disebut juga post-market
surveillance. Post-market surveillance ini biasanya dilakukan dengan
cara sampling (mengambil contoh produk langsung dari pasaran untuk diuji di
laboratorium). Dan cara samplingini bisa dilakukan secara rutin (misalnya menjelang
akhir tahun atau Idul Fitri) maupun secara mendadak jika diduga ada yang tidak sesuai
ketentuan.
Etika bisnis adalah aturan-aturan yang menegaskan suatu bisnis boleh bertindak dan
tidak boleh bertindak, aturan-aturan tersebut bersumber dari aturan tertulis maupun
tidak tertulis (Fahmi, 2013:3). Jadi etika bisnis menyangkut baik atau buruknya
perilakuperilaku manusia dalam menjalankan bisnisnya. Bisnis yang beretika harus
dilihat dari tiga sudut pandang yaitu ekonomi, hukum, dan moral (Bertens, 2013: 25).

1. Dari sudut pandang ekonomi, bisnis yang baik adalah bisnis yang menghasilkan keuntungan
tanpa merugikan orang lain.
2. Dari sudut pandang hukum, bisnis yang baik adalah bisnis yang tidak melanggar aturan-aturan
hukum.
3. Dari sudut pandang moral, bisnis yang baik adalah bisnis yang sesuai dengan ukuran-ukuran
moralitas.
Keraf dalam Haurisa&Praptiningsih (2014: 1) mengemukakan lima prinsip dalam etika
bisnis yaitu:

1. Prinsip otonomi: kemampuan seseorang bertindak berdasarkan kesadaran dirinya sendiri tanpa
pengaruh dari pihak lain.
2. Prinsip kejujuran: sifat terbuka dan memenuhi syarat-syarat bisnis.
3. Prinsip keadilan: bersikap sama secara objektif, rasional, dan dapat dipertanggungjawabkan.
4. Prinsip saling menguntungkan: tidak ada pihak yang dirugikan dalam bisnis.
5. Prinsip integritas moral: memenuhi standar moralitas.
Prinsip-prinsip tersebut dapat menjadi indikator untuk perusahaan yang melakukan
usahanya sesuai etika bisnis. Salah satu prinsip yang tidak terpenuhi mengindikasikan
adanya pelanggaran etika bisnis. Bertens (2013: 25) mengemukakan tiga ukuran
moralitas dalam bisnis yang dapat digunakan untuk mengukur sudut pandang moral
dan prinsip integritas moral, yaitu:

1. Hati nurani; Setiap keputusan yang diambil menurut hati nurani adalah baik. Orang yang
mengambil keputusan dengan mengingkari hati nuraninya, secara tidak langsung dia juga
menghancurkan integritas pribadinya
2. Kaidah emas; Kaidah emas berbunyi “hendaklah memperlakukan orang lain sebagaimana anda
sendiri ingin diperlakukan” hal ini berarti, jika seseorang tidak ingin mendapat perlakuan buruk,
maka jangan sampai memperlakukan orang lain dengan buruk.
3. Penilaian umum; Perilaku bisnis yang oleh masyarakat umum dinilai baik, berarti bisnis tersebut
etis. Namun, jika masyarakat umum menilai bisnis tersebut tidak baik, berarti bisnis tersebut
tidak etis. Hal ini disebut juga audit sosial. Teori etika membantu dalam menentukan penilaian
etis atau tidaknya suatu perilaku. Alasan benar atau tidaknya perilaku yang dilakukan seseorang
dapat didukung dengan teori etika.
Ada 4 (empat) teori etika yang paling penting menurut Bertens (2013, 63) yaitu:

1. Utilitarianisme; Menurut teori ini, perbuatan yang etis adalah perbuatan yang memberi manfaat
untuk banyak orang. Kriteria untuk teori ini adalah thegreatest happiness of the greatest
number atau kebahagiaan terbesar yang dirasakan jumlah orang terbesar.
2. Deontologi; Menurut teori ini, perbuatan yang baik bukan dinilai dari akibat atau tujuannya,
namun karena perbuatan itu adalah kewajiban yang harus dilaksanakan. Dengan kata lain,
perbuatan yang baik adalah perbuatan yang dilakukan karena kewajiban dan perbuatan yang
buruk adalah perbuatan yang dilarang untuk dilakukan
3. Teori hak; Menurut teori ini, perbuatan yang etis adalah perbuatan yang tidak menyalahi atau
melanggar hak-hak orang lain. Setiap orang memiliki hak untuk diperlakukan dengan baik,
sehingga perbuatan yang etis harus memperlakukan orang lain dengan baik, tidak boleh ada hak-
hak yang dilanggar.
4. Teori keutamaan; Teori ini mengesampingkan tindakan mana yang etis dan tidak etis. Jika
seseorang menganut paham egoisme, maka tindakan yang etis adalah tindakan yang bisa
memenuhi keinginannya, jika tidak bisa memenuhi keinginannya maka tindakan yang dilakukan
belum etis. Jadi menurut teori ini, etis atau tidaknya suatu perilaku adalah jawaban dari hati
nuraninya sendiri.
Menurut Fahmi, (2013:9) permasalahan permasalahan umum yang terjadi dalam etika
bisnis antara lain:

1. Pelanggaran etika bisnis dilakukan oleh pihak-pihak yang mengerti etika bisnis. Dilakukan
dengan sengaja karena faktor ingin mengejar keuntungan dan menghindari kewajiban-kewajiban
yang selayaknya harus dipatuhi.
2. Keputusan bisnis sering diambil dengan mengesampingkan norma norma atau aturan-aturan
yang berlaku, misalnya Undang-Undang perlindungan Konsumen. Keputusan bisnis sering
mengedepankan materi atau mengejar target perolehan keuntungan jangka pendek semata.
3. Keputusan bisnis sering dibuat secara sepihak tanpa memperhatikan atau bahkan tanpa mengerti
ketentuan etik yang disahkan oleh lembaga yang berkompeten seperti Kode Etik Perhimpunan
Auditor Internal Indonesia (PAAI), Peraturan Menteri Keuangan Nomor 17/PMK.01/2008/
tentang Jasa Akuntan Publik, Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 2 Tahun 2007
tentang Kode Etik BPK-RI, Kode Etik PsikologiIndonesia, Kode Etik Advokat Indonesia, dan
lain sebagainya.
4. Kontrol dari pihak berwenang dalam menegakkan etika bisnis masih dianggap lemah. Sehingga
kondisi ini dimanfaatkan untuk mencapai keuntungan pribadi atau kelompok.
KASUS
Dalam satu bulan terakhir ini sudah ada 3 produk yang izin edarnya ditarik oleh BPOM karena
tidak sesuai ketentuan. Dimulai dari Viostin dan Enzyplex tanggal 5 Februari lalu karena
terbukti mengandung DNA babi, kini Albothyl pun dibatalkan izin edarnya per tanggal 15
Februari setelah ada 38 laporan kasus terkait efek samping serius yang timbul akibat penggunaan
Albothyl, oleh profesional kesehatan dalam dua tahun terakhir ini.
Pada kasus Viostin dan Enzyplex, boleh dikatakan levelnya tidak sampai membahayakan pasien.
Hanya tidak sesuai dengan ketentuan pelabelan produk, mengingat Indonesia adalah negara
mayoritas Muslim sehingga produk yang mengandung babi harus mengikuti ketentuan khusus,
seperti yang pernah saya jelaskan dalam artikel saya sebelumnya.
Tapi untuk kasus Albothyl kali ini, tentunya dianggap sangat serius karena berkaitan dengan
keselamatan pasien. Dalam 38 laporan kasus tersebut menunjukkan bahwa adanya efek samping
Albothyl yang malah memperparah sariawan yang diderita pasien dan menyebabkan infeksi
(noma like lession).
Kejadian ini sedikit banyak menimbulkan pertanyaan dari masyarakat dan kalangan profesi
kesehatan. Siapa yang salah? Produsen yang dianggap tidak serius dengan keamanan produknya
atau regulator yang dianggap tidak cermat dalam mengevaluasi produk sebelum memberikan
Nomor Izin Edar.

Perlu diketahui bahwa kualitas dan keamanan setiap produk obat maupun makanan yang beredar
di Indonesia dikontrol oleh BPOM atau disebut juga post-market surveillance. Post-market
surveillance ini biasanya dilakukan dengan cara sampling (mengambil contoh produk langsung
dari pasaran untuk diuji di laboratorium). Dan cara samplingini bisa dilakukan secara rutin
(misalnya menjelang akhir tahun atau Idul Fitri) maupun secara mendadak jika diduga ada yang
tidak sesuai ketentuan.
Namun tentunya, kontrol tidak hanya dilakukan oleh pihak regulator (dalam hal ini BPOM dan
BBPOM) karena bisa dibayangkan bagaimana repotnya mereka mengontrol seluruh produk yang
beredar di Indonesia beserta seluruh fasilitas produksinya. Oleh sebab itu, peran industri farmasi,
profesional kesehatan di lapangan dan masyarakat awam juga diperlukan. Caranya? Ya dengan
melaporkan kejadian tidak diinginkan (baik yang serius maupun tidak serius) yang timbul akibat
penggunaan suatu obat atau yang dikenal dengan istilah Farmakovigilans. Apa lagi tuh?

Farmakovigilans adalah seluruh kegiatan tentang pendeteksian, penilaian, pemahaman dan


pencegahan efek samping atau masalah lainnya terkait dengan penggunaan obat. Pelaporan ini
sifatnya bisa berupa Pelaporan spontan, Pelaporan Berkala Pasca Pemasaran (Periodic Safety
Update Report), Pelaporan studi keamanan pasca pemasaran, Pelaporan publikasi/literatur
ilmiah, Pelaporan tindak lanjut regulatori Badan Otoritas negara lain, pelaporan tindak lanjut
pemegang izin edar di negara lain, dan/atau Pelaporan dari perencanaan Manajemen Resiko.
Analisis
Dari kasus Albothyl ini, kita tentunya sangat prihatin atas banyaknya pasien yang telah
dirugikan. Tapi kita tidak perlu juga saling menyalahkan dan mempertanyakan kompetensi
pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Berkaca dari kasus Thalidomide, penarikan produk obat
karena efek samping yang muncul meskipun produk tersebut sudah lama beredar di pasaran
sangat mungkin terjadi.

Hal ini tentunya dipengaruhi faktor sensitivitas dan reaksi setiap orang yang berbeda terhadap
suatu obat. Farmakovigilans boleh dibilang tidak hanya dilakukan selama beberapa tahun
terhadap suatu obat setelah disetujui izin edarnya, melainkan selama produk tersebut beredar di
pasaran.

Dari kasus diatas terlihat bahwa perusahaan melakukan pelanggaran etika bisnis dilihat
dari sudut pandang ekonomi yaitu perusahaan di untungkan tetapi banyak orang yang di rugikan
dan perusahaan tidak memenuhi dari prinsip dari etika bisnis yaiu prinsip kejujuran. Perusahaan
tidak terbuka dan memenuhi syarat-syarat bisnis dan Mengenyampingkan aspek kesehatan
konsumen dan membiarkan penggunaan zat berbahaya dalam produknya. Albothyl yang beredar
di pasaran saat ini mengandung zat bernama Policresulen dengan konsentrasi 36%. Policresulen
adalah senyawa asam organik (polymolecular organic acid) yang diperoleh dari proses
kondensasi formalin (formaldehyde) dan senyawa meta-cresolsulfonic acid. Policresulen yang
diaplikasikan pada sariawan akan menyebabkan jaringan pada sariawan menjadi mati. Itulah
alasan kenapa saat albothyl digunakan pada sariawan akan terasa sangat perih, namun kemudian
rasa perih hilang dan sakit pada sariawan pun tidak lagi terasa. Bagi Anda yang pengalaman
memakai obat ini mungkin akan menyaksikan sendiri sesaat setelah albothyl digunakan sariawan
akan menjadi berwarna putih dan kering. Jadi sebenarnya policresulen ini tidak mengobati
sariawan melainkan mematikan jaringan yang sakit atau rusak tersebut. Ketika jaringan sariawan
sudah mati, maka tubuh akan melakukan regenerasi sel-sel baru sehingga sariawan menjadi
sembuh.
Kesimpulan
Banyaknya kasus pelanggaran di dalam etika berbisnis membuat kita sadar bahwa masih banyak
nya produsen produsen nakal yang hanya memikirkan materi tanpa memikirkan dampak apa
yang telah diperbuat, pemerintah seharusnya lebih teliti terhadap pengawasan peredaran barang
barang yang beredar dan harus lolos uji seleksi. Dan untuk masyarakat kita mengajak untuk
selalu peduli terhadap apa yang di nilai kurang baik. Farmakovigilans tidak hanya dilaksanakan
oleh industri farmasi tetapi juga didukung oleh masyarakat awam dan profesional kesehatan di
lapangan. Bagi masyarakat awam, jika menemukan atau mengalami kejadian yang tidak
diinginkan setelah mengkonsumsi suatu obat, bisa menghubungi produsen dan melaporkan
kejadian yang dialami (kecuali kejadian serius yang memerlukan penanganan segera ke klinik
atau rumah sakit). Biasanya produsen memiliki nomor kontak layanan keluhan konsumen.
Keluhan-keluhan ini akan ditindaklanjuti oleh bagian Farmakovigilans di setiap perusahaan atau
produsen.

Bagi profesional kesehatan lain, pelaporan ini bisa dilakukan dengan mengisi Form Kuning
(Formulir Pelaporan Efek Samping Obat) pada website e-meso.pom.go.id. Untuk kemudian
dikirimkan ke Pusat Farmakovigilans / MESO (Monitoring Efek Samping Obat) Nasional,
Direktorat Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan PKRT Badan POM RI.
MESO yang dilakukan di Indonesia, bekerja sama dengan WHO-Uppsala Monitoring
Center (Collaborating Center for International Drug Monitoring) yang bertujuan untuk
memantau semua efek samping obat yang dijumpai pada penggunaan obat. Hasil semua evaluasi
yang terkumpul akan digunakan sebagai materi untuk melakukan re-evaluasi atau penilaian
kembali pada obat yang telah beredar untuk selanjutnya menerapkan tindakan pengamanan yang
diperlukan.
Saran
Sebaiknya badan pengawas obat dan makanan lebih memperhatikan kembali dan tidak
kecolongan kembali atas kasus yang dinilai merugikan banyak pihak ini, dan selalu tegas dan
menindak oknum nakal nakal tersebut, untuk masyarakat harus lebih selektif dalam pemilihan
barang, untuk yang faham akan bidang nya lebih terbuka dalam membagi informasi berkaitan
dengan apa yang di ketahui nya, saling berbagi manfaat dan ilmu.