Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sekolah menengah kejuruan (SMK) merupakan salah satu pelaksana
pendidikan menengah kejuruan yang dikelola oleh Direktorat Pendidikan
Menengah Kejuruan (Dikmenjur). SMK memliki tujuan untuk memberikan bekal
kemampuan kepada siswa agar menjadi tenaga kerja yang produktif, adaptif, dan
kreatif serta mampu mengembangkan sikap yang profesional. Pendidikan
menengah kejuruan merupakan pendidikan pada jenjang pendidikan menengah
yang mengutamakan pengembangan kemampuan peserta didik untuk dapat
bekerja dalam bidang tertentu, kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja,
melihat peluang kerja dan mengembangkan diri di kemudian hari. Dengan kata
lain, pendidikan kejuruan merupakan bagian dari sistem kependidikan yang
mempersiapkan seseorang agar lebih mampu bekerja pada satu kelompok
pekerjaan. Pemerintah kita sangat gencar mempromosikan Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK). Selain menstimulasi minat generasi muda agar memilih sekolah
kejuruan juga menyadarkan masyarakat bahwa sekolah kejuruan bukanlah sekolah
dengan level yang lebih rendah dibanding sekolah umum.
Dalam peraturan pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 juga merumuskan
bahwa Pendidikan Menengah Kejuruan (SMK) mengutamakan kesiapan siswa
untuk memasuki lapangan kerja dan mengembangkan sikap professional. Artinya,
tujuan utama penyelenggaraan Pendidikan Kejuruan adalah mempersiapkan
peserta didik sebagai calon tenaga kerja dan mengembangkan eksistensi peserta
didik, untuk kepentingan peserta didik, bangsa dan Negara.
Apabila ditinjau dari tujuan dan konsep dasar pelaksanaannya maka
Pendidikan Kejuruan Tingkat Menengah (SMK) sangat berbeda dengan
Pendidikan Umum (SMA). Ada tujuh kriteria Pendidikan Kejuruan yaitu: 1)
Orientasi pada kinerja Individu dalam dunia kerja, 2) justifikasi khusus pada
kebutuhan nyata di lapangan, 3) fokus kurikulum pada aspek-aspek psikomotorik,
afektif dan kognitif, 4) tolok ukur keberhasilan tidak hanya di sekolah, 5) kepekaan
terhadap pekembangan dunia kerja, 6) memerlukan sarana dan 2 prasarana khusus
yang memadai, dan 7) adanya dukungan masyarakat. Selanjutnya dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 22 Tahun 2006 tentang pengelompokan mata pelajaran untuk
SMK terdiri atas: 1) Normatif: kelompok mata pelajaran yang dialokasikan secara
tetap yang meliputi Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan
Jasmani, Olahraga dan Kesehatan, dan Seni Budaya, 2) Adaptif: terdiri atas mata
pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS, KKPI dan Kewirausahaan, dan
3). Produktif: teridiri atas sejumlah mata pelajaran yang dikelompokkan dalam
Dasar Kompetensi Kejuruan dan Kompetensi Kejuruan.
Implementasi ketiga kelompok materi ini dalam bentuk aktivitas
pembelajaran mencakup kegiatan tatap muka, praktik sekolah dan praktik industri.
Keseluruhan aktivitas pembelajaran ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi
siswa dalam wilayah kognitif, afektif, dan psikomorik. Berdasarkan pada
pengorganisasian materi pelajaran dan implementasinya maka kriteria minimal
lulusan SMK adalah kompeten dalam pengetahuan dan keterampilan, standar
kompetensi ini akan menjadi modal dasar siswa ketika lepas dari SMK, artinya
mereka sudah memiliki keterampilan dan keahlian sesuai dengan bidangnya dan
siap untuk memasuki dunia usaha dan dunia industri.
Beranjak dari pemaparan tersebut diatas maka dalam makalah ini akan
diuraikan beberapa kompetensi kejuruan produktif antara lain tentang perbaikan
unit kopling berikut komponen-komponen sistem, perbaikan sistem transmisi
manual dan perbaikan sistem bahan bakar sepeda motor yang akan dibahas dalam
uraian pembahasan pada Bab II.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalah
dalam makalah ini sebagai berikut:
1. Bagaimana cara memperbaiki unit kopling berikut komponen-komponen sistem.
2. Bagaimana cara memperbaiki sistem transmisi manual.
3. Bagaimana cara memperbaiki sistem bahan bakar sepeda motor.
C. Tujuan Makalah
1. Mengetahui cara memperbaiki unit kopling berikut komponen-komponen sistem.
2. Mengetahui cara memperbaiki sistem transmisi manual.
3. Mengetahui cara memperbaiki sistem bahan bakar sepeda motor.

D. Manfaat Makalah
Dengan tersusunnya makalah ini penulis berharap dapat memberikan
manfaat baik teoritis maupun praktis, sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis, sebagai bahan pertimbangan, masukan, atau referensi dan
menumbuhkan motivasi untuk program keahlian dalam Sekolah Menengah
Kejuruan sehingga dapat membangkitkan minat dan motivasi kepada siswa
untuk terus mengembangkan bakat dibidang kejuran yang menjadi hobinya.
2. Manfaat praktis, dapat dimanfaatkan khususnya untuk memperluas dan
menambah wawasan bagi penulis sendiri serta masyarakat pada umumnya
sebagai gambaran awal pentingnya menentukan karteristik masing-masing.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Memperbaiki Unit Kopling Berikut Komponen-Komponen Sistem


1. Pengertian Kopling
Kopling (clutch) terletak di antara mesin dan transmisi. Kopling
berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan putaran mesin ke transmisi.

Gambar konstuksi letak unit kopling (clutch) pada kendaraan

Kopling dalam pemakaian dikendaraan, harus memiliki syarat-


syarat minimal sebagai berikut : (a) Harus dapat memutus dan menghubungkan
putaran mesin ke transmisi dengan lembut. (b) Kenyamanan berkendara
menuntut terjadinya pemutusan an penghubungan tenaga mesin berlangsung
dengan lembut. Lembut berarti terjadinya proses pemutusan dan
penghubungan adalah secara bertahap. (c)Harus dapat memindahkan tenaga
mesin dengan tanpa slip Jika kopling sudah menghubung penuh maka
antara fly wheel dan plat koping tidak boleh terjadi slip sehingga daya dan
putaran mesin terpindahkan 100%. (d) Harus dapat memutuskan hubungan
dengan sempurna dan cepat. Padasaat kita operasinalkan, kopling harus dapat
memutuskan daya dan putaran dengan sempurna, yaitu daya dan putaran harus
betul-betul tidak diteruskan, sedangkan pada saat kopling tidak
dioperasionalkan, kopling harus menghubungkan daya dan putaran 100%.
Kerja kopling dalam memutus dan menghubungkan daya dan putaran tersebut
harus cepat atau tidak banyak membutuhkan waktu.
2. Jenis-Jenis Kopling
a. Kopling Gesek
Dinamakan kopling gesek karena untuk melakukan pemindahan
daya adalah dengan memanfaatkan gaya gesek yang terjadi pada bidang
gesek. Ditinjau dari bentuk bidang geseknya kopling dibedakan menjadi 2
yaitu : (1) Kopling piringan (disc clutch), kopling piringan adalah unit
kopling dengan bidang gesek berbentuk piringan atau disc. (2) Kopling
konis (cone clutch), kopling konis adalah unit kopling dengan bidang
gesek berbentuk konis. Ditinjau dari jumlah piringan/ plat yang
digunakan kopling dibedakan menjadi 2 yaitu : (1) Kopling plat tunggal,
kopling plat tunggal adalah unit kopling dengan jumlah piringan
koplingnya hanya satu. (2) Kopling plat ganda/ banyak, kopling plat
banyak adalah unit kopling dengan jumlah piringan lebih dari satu.
Ditinjau dari lingkungan/media kerja, kopling dibedakan menjadi
: (1) Kopling basah, kopling basah adalah unit kopling dengan bidang
gesek (piringan atau disc) terendam cairan/ minyak. (2) Kopling kering,
kopling kering adalah unit kopling dengan bidang gesek (piringan atau
disc) tidak terendam cairan/ minyak (dan bahkan tidak boleh ada cairan/
minyak). Ditinjau dari pegas penekannya, kopling dibedakan menjadi: (1)
Kopling pegas spiral, adalah unit kopling dengan pegas penekannya
berbentuk spiral. (2). Kopling pegas diaphragma, Adalah unit kopling
dengan pegas penekannya berbentuk diaphragma.
b. Kopling Magnet
Dinamakan kopling magnet karena untuk melakukan pemindahan
daya dengan memanfaatkan gaya magnet. Magnet yang digunakan adalah
magnet remanent yang dibangkitkan dengan mengalirkan arus listrik ke
dalam sebuah lilitan kawat pada sebuah inti besi. Listrik yang dibangkitkan
atau tersedia dikendaraan adalah listrik arus lemah sehingga magnet yang
dibangkitkan tidak cukup kuat untuk dijadikan sebagai kopling pemindah
daya utama. Kopling jenis ini kebanyakan hanya digunakan sebagai
kopling pada kompresor air conditioner (AC)
c. Kopling Satu Arah
(one way clutch/ free wheeling clutch/over runing clutch)
Kopling satu arah merupakan kopling otomatis yang memutus
dan menghubungkan poros penggerak (driving shaft) dan yang digerakkan
(driven shaft) tergantung pada perbandingan kecepatan putaran sudut dari
poros-poros tersebut. Jika kecepatan driving lebih tinggi dari driven,
kopling bekerja menghubungkan driving dan driven. Jika kecepatan
driving lebih rendah dari driven, kopling bekerja memutuskan driving
dan driven. Ada dua jenis one way clutch yakni sprag type dan roller
type.
d. Kopling Hidrolik
Dinamakan kopling hidrolik karena untuk melakukan pemindahan
daya adalah dengan memanfaatkan tenaga hidrolis. Tenaga hidrolis
didapat dengan menempatka cairan/minyak pada suatu wadah/ mekanisme
yang diputar, sehingga cairan akan terlempar/ bersirkulasi oleh adanya
gaya sentrifugal akibat putaran sehingga fluida mempunyai tenaga hidrolis.
Fluida yang bertenaga inilah yang digunakan sebagai penerus/ pemindah
tenaga.Komponen utama pada unit kopling hidrolik adalah : pump
impeller, turbin runner dan stator. Pump impeller merupakan mekanisme
pompa yang membangkitkan tenaga hidrolis pada fluida. Turbin runner
adalah mekanisme penangkap tenaga hidrolis fluida yang dibangkitkan
pump impeller. Stator adalah mekanisme pengatur arah aliran fluida agar
tidak terjadi aliran yang merugikan tetapi justru aliran yang menguntungkan
sehingga didapatkan peningkatan momen/ torsi.

3. Pembongkaran, Pemeriksaan, Penggantian dan Pemasangan Kopling


a. Pembongkaran
Pada kendaraan, sebelum dapat membongkar unit kopling haruslah
terlebih dahulu melepas komponen-komponen lain yang terkait/
menghalangi, antara lain: (1). Release cylinder unit (dengan pipa tetap
terpasang) (2). Propeller unit (kendaraan tipe RWD atau 4WD) (3). Unit
transmisi dan sistem pemindahnya
Pada umumnya jika unit transmisi sudah dilepas, maka unit release
bearing dan release fork akan terbawa pada rumah transmisi, sehingga
secara mudah dapat dilepaskan dengan melepas pengunci release fork
terhadap porosnya, kemudian tarik keluar porosnya dari rumah transmisi.
Release fork dan release bearing akan terlepas.
Unit kopling segera dapat dilepas/ dibongkar setelah unit transmisi
dilepas. Langkah-langkahnya adalah :
1) Buatlah tanda pada rumah kopling dan fly wheel.
2) Pasangkan center clutch atau alat bantu yang lain untuk menahan plat
kopling pada tempatnya.
3) Kendorkan baut-baut pengikat rumah kopling ke fly wheel dengan
urutan menyilang secara bertahap dan merata, sampai tekanan tidak ada
tekanan pegas.
4) Lepaskan baut pengikat satu persatu dan kemudian lepaskan clutch
cover dan clutch disc

Gambar pembongkaran unit kopling

Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain adalah :


1) Lepaskan clutch cover dengan hati-hati jangan sampai clutch disc
terjatuh.
2) Jagalah kebersihan permukaan clutch disc, pressure plate dan fly
wheel. Jangan sampai terkena minyak atau gemuk.
3) Bersihkanlah kotoran, debu dan beram-beram yang dapat
mengganggu kinerja kopling.
Pada kopling dengan pegas spiral unit rumah kopling dan plat
penekan dapat dengan mudah dibongkar, dengan langkah-langkah sebagai
berikut :
1) Gunakan alat penekan/press untuk menekan clutch cover menahan
tekanan pegas kopling.

Gambar penekanan clutch cover unit kopling

2) Lepaskan baut-baut pengikat rumah kopling ke fly wheel maupun baut


penahan penyetel tinggi tuas pembebas
3) Buatlah tanda pada fly wheel dan clutch cover

Gambar pembuatan tanda pada clutch cover dan fly wheel

4) Lepaskan secara pelan-pelan penekanan alat penekan.


5) Lepaskan clutch cover

Gambar melepas clutch cover unit kopling


6) Lepaskan pegas-pegas penekan
7) Lepaskan pin dan release lever

Gambar melepas clutch cover unit kopling

b. Pemeriksaan, Perbaikan dan Penggantian Unit Kopling


1) Release bearing
Release bearing umumnya merupakan unit bearing tertutup dengan tipe
pelumasan permanen, sehingga tidak memerlukan pembersihan pada
pelumasannya. Pemeriksaan pertama yang dapat dilakukan adalah
secara fisual, adalah dengan melihat apakah ada kotoran, luka
bekas gesekan/ terbakar, tergores dan atau retak. Jika ada kotoran,
luka bekas gesekan terbakar, tergores dan itu hanya sedikit
dapat dibersihkan dengan kertas amplas yang halus. Jika kerusakannya
parah, ganti dengan unit yang baru.

Gambar pengujian release bearing

Pemeriksaan release bearing dengan cara pengujian kerja


sebagai berikut :
a) Putar bearing dengan tangan dan berilah tenaga pada arah axial.
Jika putaran kasar dan atau terasa ada tahanan sebaiknya ganti!
b) Tahan hub dan case dengan tangan kemudian gerakkan pada
semua arah untuk memastikan self- centering system agar tidak
tersangkut. Hub dab casae harus bergerak kira-kira 1 mm. Jika
kekocakan berlebihan atau macet sebaiknya diganti dengan yang
baru!

2) Pegas Penekan dan Tuas Pembebas


Pemeriksaan pegas penekan dan tuas pembebas dilakukan dengan
beberapa tahapan yaitu:
a) Pemeriksaan secara visual, adalah dengan melihat apakah ada
kotoran, luka bekas gesekan/terbakar, tergores dan atau retak. Jika
ada kotoran, luka bekas gesekan/ terbakar, tergores dan itu hanya
sedikit dapat dibersihkan dengan kertas amplas yang halus. Jika
kerusakannya parah, sebainya diganti.

Gambar pemeriksaan keausan pegas

b) Lakukan pengukuran kedalaman dan lebar keausan bekas gesekan


release bearing. Kedalaman maksimal adalah 0.6 mm dan lebar
maksimal 5.0 mm. Jika keausan melebihi spesifikasi ganti dengan
yang baru!

Gambar pengukuran keausan pegas


c) Pemeriksaan dengan SST dan filler gauge (thickness gauge).
Dengan bantuan SST dan Filler gauge, periksa kerataan
permukaan ujung pegas diphragm atau ujung tuas pembebas.
Selisih pengukuran atau ketidakrataan maximal 0.5 mm.

Gambar pemeriksaan kerataan tinggi pegas

d) Pemeriksaan dengan dial indikator


Dengan dial indikator dan alat pemutar juga dapat dilakukan
pengukuran ketidakrataan permukaan ujung pegas diphragm atau
ujung tuas pembebas. Untuk memudahkan pengukuran pasanglah
dial dengan magnetik base pada mesin. Penyimpangan maximal :
0.5 mm.

Gambar pemeriksaan kerataan tinggi pegas

e) Pemeriksaan panjang dan kesikuan pegas penekan Panjang bebas


pegas penekan mempunyai limit yang bervariasi tergantung
ukuran kopling unit. Demikian juga dengan ketidaksikuan pegas
penekan. Semakin besar unit kopling biasanya limit/ tolerensi
semakin besar.
Gambar pengukuran panjang dan kesikuan pegas penekan

f) Pemeriksaan tegangan pegas penekan


g) Tegangan pegas penekan sangat berpengaruh pada kekuatan kerja
kopling dalam meneruskan putaran dan daya mesin. Semakin berat
suatu kendaraan maka akan semakin kuat/ besar tegangan pegas
penekan yang digunakan. Spesifikasi tegangan pegas dapat dilihat
pada buku manual kendaraan. Perbedaan antar pegas juga tidak
boleh terlalu besar, karena akan membuat penekanan kopling
tidak merata.

Gambar pengukuran tegangan pegas penekan

h) Perbaikan/penyetelan
Bila penyimpangan tidak masuk dalamspesifikasi, lakukan
penyetelan kerataan :
(1) Pegas diaphragm
Pada pegas diaphragm lakukan penyetelan ketinggian dan
kerataan dengan SST seperti terlihat pada gambar berikut!
Gambar penyetelan kerataan tinggi pegas

(2) Tuas pembebas


Penyetelan tuas pembebas dilakukan dengan mengatur baut
penyetel pada pengikat tuas pembebas dan plat penekan dengan
bantuan SST pengukur kerataan. Setelah kerataan tepat, maka
kunci dan keraskan mur penahan pengunci.

Gambar penyetelan kerataan tinggi tuas pembebas

3) Plat Penekan
Pemeriksaan plat penekan dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu:
a ) Pemeriksaan secara visual, adalah dengan melihat apakah ada
kotoran, luka bekas gesekan/ terbakar, tergores dan atau retak. Jika
ada kotoran, luka bekas gesekan/ terbakar, tergores dan itu hanya
sedikit dapat dibersihkan dengan kertas amplas yang halus. Jika
kerusakannya parah, perbaiki dengan menggunakan mesin bubut
atau jika tidak memungkinkan, ganti dengan plat penekan baru.
b ) Lakukan pengukuran kerataan plat kopling dengan straigh edge
dan filler gauge. Ketidakrataan max. adalah 0.5 mm.
Gambar pengukuran kerataan plat penekan

c ) Jika ketidakrataannya melebihi spesifikasi, ratakan dengan


menggunakan mesin bubut atau ganti dengan plat penekan yang
baru.

4) Plat Kopling
Pemeriksaan plat kopling dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu:
a) Pemeriksaan secara visual, adalah dengan melihat apakah ada
kotoran, luka bekas gesekan/ terbakar, tergores dan atau retak. Jika
ada kotoran, luka bekas gesekan/ terbakar, tergores dan itu hanya
sedikit dapat dibersihkan dengan kertas amplas yang halus. Jika
kerusakannya parah, ganti kampas kopling atau ganti dengan plat
kopling baru.
b) Pemeriksaan dan pengukuran kedalaman paku keling dengan
jangka sorong. Batas kedalaman paku keling, minimal 0.3 mm. Jika
kedalaman sudah melebihi spesifikasi, ganti kampas kopling atau
ganti dengan plat kopling baru.

Gambar pengukuran kedalaman paku keling

Penggantian kampas kopling dilakukan dengan cara melepas


kampas kopling lama dengan merusak paku kelingnya dengan bor,
memasang kampas kopling baru dengan paku keling baru dengan
urutan menyilang. Lakukan pengetesan kerataan dan keolengan plat
kopling dengan bantuan roller instrumen dan dial indikator.

Gambar penggantian kampas kopling

c) Pemeriksaan kekocakan atau kerusakan torsion dumper. Jika


ditemukan kekocakan dan kerusakan pada torsion dumper, ganti
dengan plat kopling unit baru.
d) Pemeriksaan keausan atau kerusakan alur-alur hub.
Kaitkan/ pasangkan plat kopling pada input shaft transmisi, plat
kopling harus bergerak dengan mudah tetapi tidak longgar. Jika
macet atau longgar ganti dengan plat kopling baru.
e) Pemeriksaan run-out plat kopling. Dengan roller- instrumen
(mesin/alat-pemutar) dan dial indikator periksalah run-out plat
kopling! Bila run-out melebihi 0.8 mm, gantilah plat kopling
dengan yang baru.

Gambar pengukuran run-out plat kopling

5) Fly Wheel
Pemeriksaan plat kopling dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu:
a) Pemeriksaan secara fisual, adalah dengan melihat apakah ada
kotoran, luka bekas gesekan, tergores dan atau retak pada bidang
geseknya. Jika ada kotoran, luka bekas gesekan/terbakar, tergores
dan itu hanya sedikit dapat dibersihkan dengan kertas amplas
yang halus. Jika kerusakannya parah, ganti dengan plat kopling
baru.
b) Pemeriksaaan keausan gigi-gigi ring gear dari keausan dan
kerusakan. Jika terdapat kerusakan, ganti dengan ring gear yang
baru. Penggantian ring gear adalah dengan cara dipanaskan pada

suhu 80 sampai dengan 100oC, kemudian lepaskan ring gear lama


dan pasangkan ring gear baru dengan menggunakan mesin press.

Pemanasan tidak boleh melebihi 120oC karena bisa mengubah sifat


logam.
c) Pemeriksaan run-out fly wheel. Dengan dial indikator periksalah
run-out fly wheel! Bila run-out melebihi 0.2 mm, gantilah fly
wheel.

Gambar pengukuran run-out fly wheel

d) Pemeriksaan Pilot Bearing. Putarkan bearing dan beri tenaga pada


arah axial. Jika putaran kasar dan terdapat kekocakan yang
berlebihan, ganti dengan pilot bearing yang baru.

Gambar pemeriksaan pilot bearing


e) Penggantian pilot bearing dilakukan dengan melepas pilot bearing
lama dengan SSt sliding hamer dan kemudian memasangkan pilot
bearing baru.

Gambar melepas dan memasang pilot bearing

c. Pemasangan
Pemasangan unit kopling dengan pegas spiral adalah diawali dengan
merakit unit plat penekan dan rumah kopling. Pemasangan adalah dengan
urutan sebagai berikut :
1) Letakkan pressure plate pada dudukan alat penekan.
2) Pasangkan pegas penekan pada dudukannya di plat penekan.
3) Pasangkan clutch cover dibelakang pegas penekan dengan posisi yang
tepat.
4) Pasangkan pressure lever pada dudukannya di clutch cover
5) Lakukan penekanan clutch cover dengan alat penekan sehingg pegas
penekan tertekan sehingga baut pemegang/penyetel pressure lever
dapat dipasangkan.

Gambar pemasangan unit kopling

6) Lepaskan tekanan mesin penekan, dan lakukan penyetelan tinggi


pressure lever.
7) Setelah unit clutch cover terpasang, pemasangan kampas kopling
dan unit kopling dapat dilakukan. Prosedur pemasangannya adalah
sebagai berikut:
a) Berilah sedikit gemuk khusus pada alur plat kopling (clutch hub).
b) Masukkan center clutch pada clutch hub dan atur posisi plat
kopling.
c) Pasangkan plat kopling pada fly wheel dengan panduan center
clutch dan atur posisinya supaya tepat di tengah.

Gambar pemasangan center clutch

d) Pasangkan clutch cover unit dengan memperhatikan tanda yang


telah kita buat pada saat pembongkaran dan ketepatan knock pin.
e) Pasangkan baut-baut pengikat clutch cover
f) Lakukan pengerasan baut-baut pengikat secara bertahap. Mulailah
pengerasan dari baut yang paling dekat dengan knock pin secara
menyilang. Sebelum baut dikeraskan, pastikan lagi posisi plat
kopling dengan mengatur posisi center clutch
g) Keraskan baut pengikat sesuai momen spesifikasi pengencangan
yaitu berkisar 195 kg cm atau 19 N-m.

Gambar pemasangan unit kopling


h) Setelah unit kopling terpasang dengan baik, pasangkan release
lever shaft, release lever dan release bearing pada dudukannya
dengan sebelumnya diberikan sedikit gemuk/ grease khusus pada
beberapa bagian yang bergesekan. Pastikan bahwa pengunci release
fork terhadap porosnya dan release bearing terhadap release fork
terpasang dengan baik.

Gambar pelumasan bagian-bagian unit kopling

i) Setelah semua komponen unit kopling terpasang, rakitlah/ pasang


unit transmisi, unit pemindah transmisi, propeller (kendaraan tipe
FR dan FWD) dan release cylinder.

B. Memperbaiki Sistem Transmisi Manual


1. Pengertian Transmisi Manual
Transmisi manual adalah tipe transmisi yang digunakan pada kendaraan
bermotor. Sistem ini menggunakan clutch yang dioperasikan oleh pengemudi
untuk mengatur perpindahan torsi dari mesin menuju transmisi, serta pemindah
gigi yang dioperasikan dengan tangan (pada mobil) atau kaki (pada motor).
Gigi percepatan dirangkai di dalam kotak gigi/gerbox untuk beberapa
kecepatan, biasanya berkisar antara 3 sampai 6 gigi percepatan maju ditambah
dengan 1 gigi mundur (R). Gigi percepatan yang digunakan tergantung
kepada kecepatan kendaraan pada kecepatan rendah atau menanjak digunakan
gigi percepatan 1 dan seterusnya kalau kecepatan semakin tinggi, demikian
pula sebaliknya kalau mengurangi kecepatan gigi percepatan diturunkan,
pengereman dapat dibantu dengan penurunan gigi percepatan.
2. Komponen-Komponen Transmisi Manual
Komponen-komponen utama sistem transmisi dan fungsi-fungsinya:
Transmission input saft Sebuah poros dioperasikan dengan kopling yang
Poros input transmisi memutar gigi di dalam gear box
Transmission gear Untuk mengubah output gaya torsi yang
Gigi transmisi meninggalkan transmisi
Synchroniser Komponen yang memungkinkan pemindahan
Gigi penyesuai gigi pada saat mesin bekerja/hidup
Shift fork Batang untuk memindah gigi atau syncroniser
pada porosnya sehingga memungkinkan gigi
Garpu pemindah untuk dipasang/dipindah
Shift lingkage Batang/tuas yang menghubungkan tuas
Tuas penghubung persneling dengan shift fork.
Gear shift lever Tuas yang memungkinkan sopir memindah gigi
Tuas pemindah presnelling transmisi.
Transmission case Sebagai dudukan bearing transmisi dan poros-
Bak transmisi poros serta sebagai wadah oli/minyak transmisi
Output saft Poros yang mentransfer torsi dari transmisi ke
Poros output gigi terakhir
Bearing Mengurangi gesekan antara permukaan benda
Bantalan/laker yang berputar di dalam sistem transmisi
Extension housing Melingkupi poros output transmisi dan menahan
seal oli belakang. Juga menyokong poros
Pemanjangan bak output.
Counter Gear Sebagai penghasil torsi dari gigi input ke gigi
(Gigi Konter) kecepatan
Speedometer Gear Sebagai penggerak kabel mengukur rpm
(gigi speedometer) kecepatan kendaraan.

3. Troubleshooting Pada Transmisi


Gejala-gejala berikut ini menandakan bahwa terjadi kesalahan pada unit
transmisi manual:
a. Gigi loncat dari hubungan
Pada gejala ini, perkaitan roda gigi menjadi terlepas tanpa
pemindahan roda gigi di lakukan oleh pengemudi. Biasanya itu terjadi bila
ada getaran atau perubahan beban yang diberikan ke transmisi atau
transaxle. Gangguan ini cenderung terjadi pada saat deselerasi spontan roda
gigi loncat dan dapat diakibatkan oleh:
1) Posisi perkaitan roda gigi tidak sempurna pada saat perpindahan dan
dapat loncat bila terjadi getaran atau perubahan beban pada transmisi.
2) Keausan pada Hub sleeve dan alur roda gigi (gear spline). Keausan
pada roda gigi, celah roda gigi yang berlebihan dan lain-lain
menyebabkan posisi hub sleeve dan roda gigi terlepas.
b. Gangguan perpindahan roda gigi (gigi sulit masuk)
Gangguan perpindahan roda gigi berarti tuas pemindah
membutuhkan tenaga yang lebih untuk mengoperasikan perkaitan dan
pembebasan roda gigi. Kesulitan ini disebabkan oleh dua hal:
1) Bila mekanisme syncronizer tidak sempurna dan tidak dirawat dalam
waktu lama, Hub Sleeve dan roda gigi akan tidak sinkron, didalam
transmission case roda gigi akan berbenturan.
2) Gangguan juga dapat terjadi bila Link pemindah (gear shifting
lingkage) macet.
3) Gangguan ini dapat terjadi akibat keausan atau kerusakan dari
mekanisme pencegahan pemindahan ganda (trouble-meshing
prevention mechanism).
4) Gangguan pembebasan kopling dapat juga menyebabkan roda gigi sulit
dipindahkan. Oleh karena itu harus diperiksa dulu apakah kopling
bekerja dengan baik.
c. Suara berisik yang tidak normal
Gangguan ini disebabkan celah yang diakibatkan keausan
komponen-komponen bagian dalam, seperti bunyi roda gigi, suara getaran
dari tuas pemindah roda gigi. Untuk melihat letak gangguan dapat
ditentukan dengan metode berikut:
1) Untuk menentukan suara abnormal yang timbul dari transmisi atau
bukan, hubungkan kopling sementara mesin idling dengan kendaraan
dalam posisi diam.
2) Bila timbul suara saat kopling dihubungkan tapi tidak terdengar bila
kopling dibebaskan, dapat disimpulkan bahwa penyebab bunyi
abnormal terletak pada bagian komponen luar daripada transaxle.
3) Suara abnormal akan terdengar bila kendaraan sedang berjalan, bila
transmisi dan transaxle mendapat beban.
Dari gejala-gejala di atas dapat dianalisis faktor penyebab, dan proses
perawatan atau perbaikannya. Hasil analisis seperti terlihat pada tabel berikut
ini:

Pemeriksaan dan
Keluhan Kemungkinan Penyebab
Perbaikan
Perpindahan Poros persneling atau penyambung Betulkan atau di Press
antar gigi sulit bengkok
Kabel kopling tidak disetel baik Periksa setelannya atau
ganti
Garpu persneling aus Ganti
Poros persneling aus Ganti
Roda gigi atau selongsong Ganti bagian yang
Sinkronizer macet pada poros dan aus atau beri
pemutarnya. pelumasan
Cincin atau pegas penyerempak Ganti bagian yang aus
aus.
Level pelumasan rendah. Isi dengan pelumas
yang sesuai.
Menggunakan pelumas yang tidak Kucurkan dan ganti
sesuai dengan pelumas yang
sesuai.
Poros input atau bantalan pilot Ganti bantalan pilot
bengkok atau poros input.
Gigi eksternal aus dan mengelupas. Ganti roda gigi
Persneling macet Poros persneling atau penyambung Betulkan
pada salah satu bengkok.
gigi Penekan persneling macet Betulkan
Penyerempak macet Ganti penyerempak
Kopling tidak bebas Perbaiki
Level pelumas rendah Isi pelumas dengan
yang sesuai spesifikasi
pabrikan.
Transmisi Pegas penekan lemah Ganti
melompat Bantalan poros input dan output Ganti
antar gigi aus
Bantalan pilot aus Ganti
Poros dan roda gigi kocak Ganti cincin
berlebihan pengdorong yang aus.
Selongsong penyerempak aus. Ganti penyerempak
dan roda gigi.
Pasak poros input longgar atau Ganti
patah
Rumah kopling atau transmisi Kencangkan baut
longgar pengikat
Transmisi tidak sejajar Periksa kesejajaran
Pemeriksaan dan
Keluhan Kemungkinan Penyebab
Perbaikan
Transmisi gaduh Bantalan poros input aus Ganti
saat netral Roda gigi aus atau patah Ganti
Transmisi gaduh Roda gigi idle mundur atau bos Ganti
pada saat poros auas atau rusak.
mundur Roda gigi mundur pada poros Ganti
utama aus atau rusak
Roda gigi mundur pada poros Ganti
utama aus atau rusak
Roda gigi konter aus tau rusak Ganti
Mekanisme pemindah rusak Perbaiki, ganti
bagian-bagian yang
rusak, setel kembali.
Tidak ada Kopling tidak menekan Perbaiki kopling
tenaga yang Kepala roda gigi mengelupas Ganti roda gigi
melewati Garpu poros patah atau longgar Ganti
transmisi Poros input atau output patah. Ganti
Oli transmisi Pelumas yang tidak tepat atau Kuras dan isi dengan
bocor level pelumas yang terlalu tinggi pelumas yang sesuai
sehingga membentuk busa.
Gasket bocor Ganti
Seal oli rusak Ganti
Sumbat pengisi oli longgar Ketatkan
Seal pinion spedometer bocor. Ganti
Transmission Case retak atau aus. Ganti

4. Membongkar dan Memperbaiki Transmisi Manual


Catatan : Transmisi manual yang ditinjau dalam servis ini adalah transmisi
manual yang dipakai pada Toyota Kijang dan Corolla.
a. Melepas transmisi dari kendaraan
1) Lepaskan kabel batere dari terminal negatif.

2) Lepas empat sekrup dan karet pada tuas


pemindah.
3) Angkat kendaraan dan kuras oli transmisi.
4) Lepas tuas pemindah.
a) Lepaskan kabel dan karet.
b) Lepas dua baut dan lepaskan tuas
pemindah gigi.
5) Lepas poros propeler.
6) Lepas pipa knalpot.

7) Lepas kabel speedometer dan kilometer


switch lampu mundur.
8) Lepas kabel kopling.

9) Lepaskan baut penahan transmisi.


10) Turunkan transmisi.
Catatan: Sebelum menurunkan transmisi,
taruh dongkrak dibawah mesin, lindungi bak
oli dengan balok kayu.

b. Membongkar unit transmisi


Komponen komponen transmisi manual.

Gambar komponen-komponen transmisi manual Toyota Kijang


Langkah-Langkah Membongkar.
1) Lepaskan garpu pembebas dan hub
dengan bantalan pembebas.
2) Lepas roda gigi gerak speedometer dan
switch lampu mundur.
3) Lepas dua cincin dorong dari bak
transmisi.
4) Ukur celah dorong setiap roda gigi
menggunakan feeler gauge

5) Lepas rakitan tutup bak transmisi.


6) Lepas rumah kopling dan penahan-
bantalan depan.
7) Lepas extension housing.

8) Lepas roda gigi counter.


9) Lepas dua bantalan rol jarum dan spacer
dari roda counter.

c. Membongkar rakitan tutup bak transmisi


1) Menggunakan drip pen dan palu,
lepaskan pegas alur, garpu pemindah 3
dan 4, lepaskan bola dan pegas
pengunci.
2) Lepaskan pen interlock nomor 1,
menggunakan tuas magnetik
3) Lepaskan garpu pemindah 1 dan 2
serta porosnya dengan menggunakan
drip dan palu, lepaskan pen interlock
no. 2, gunakan tuas magnetik
4) Lepaskan mur pivot, ring O, cincin
poros, garpu pemindah mundur, dan
kepala pemindah mundur, gunakan
drip pen dan palu
5) Lepaskan pemegang bola pembatas
mundur pegas dan bola pengunci,
tutup bak transmisi
6) Lepaskan tuas pemindah, poros tuas,
plat lengan pemindah mundur.
d. Pemeriksaan komponen-komponen transmisi
1) Ukurlah bantalan flens luncur dalam dan poros output. Gunakan vernier
caliper (limit 3,9 mm dan 4,9 mm).

a) Ukur diameter tuas permukaan journal poros output, gunakan


micrometer (limit roda gigi no. 2 dan no.3 = 38,42).
b) Ukurlah diameter luas luncuran dalam (limit 36,98 mm).

2) Ukur keolengan poros output, gunakan dial indikator (limit. 0,06 mm).
3) Ukur celah oli roda gigi 1 standar 0,009 mm – 0,064, roda gigi 2 dan 3
(limit. 0,06 – 0,01).

4) Periksa ring syncromesh apakah baik kemampuan pengeremannya.


Ukur celah antara ring syncromesh dengan ujung alur roda gigi.
5) Ukur celah antara garpu pembebas dan hub sleeve.
5. Pemasangan Transmisi
a. Merakit tutup bak transmisi
1) Pasangkan lengan pemindah mundur dan pivot.
2) Pasangkan tuas pemindah dan porosnya.
a) Kencangkan baut pengunci.
b) Pasang kawat pengunci.

3) Pasangkan pegas, bola pengunci, gasket, dan pemegang bola


pembatas mundur.

4) Pasangkan poros garpu pemindah mundur dan kepala pemindah.


Catatan : kedudukan lubang pen tepat dengan lubang poros dan
pasangkan pegas alur.
5) Pasangkan garpu pemindah 3 dan 4 serta poros garpu pemindah.

b. Merakit transmisi
1) Pasangkan clutch hub, pengunci pemindah
a) Pasangkan rakitan gigi 3, ring syncromesh dan hub sleeve no. 2
pada poros output.
b) Pasangkan snap ring.
c) Ukur celah dorong roda gigi 3, gunakan feeler (limit 0,10 – 0,25)
2) Pasangkan rakitan roda gigi 1, ring syncromesh, hub sleeve 1 pada
poros output.
a) Pasang bola pengunci
b) Pasangkan rakitan bantalan

3) Ukurlah celah roda gigi 1 dan 2 ( limit 0,10 – 0,25 mm).


a) Pasang Snap ring dan rakitlah gigi Counter, bantalan rol jarum, dan
cincin.
b) Pasangkan rakitan tadi pada transmisi
4) Pasangkan poros input, penahan bantalan depan (gunakan gasket baru).
5) Pasangkan ring syncromesh dan rakitan poros output.

6) Pasangkan poros roda gigi counter.

7) Pasangkan roda gigi idler mundur dan porosnya.


8) Pasangkan extension housing (pakai gasket baru), pasangkan rumah
kopling dan rakitan penutup bak transmisi.
9) Pasangkan accesories yang berhubungan dengan transmisi.
10) Lengan pemindah mundur di stel.

C. Memperbaiki Sistem Bahan Bakar Sepeda Motor


1. Pengertian
Sistem bahan bakar berfungsi untuk mencampur udara dan bahan bakar
dan mengirim campuran tersebut dalam bentuk kabut ke ruang bakar. Dilihat
dari cara pemasukan campuran udara dan bahan bakar tersebut ada dua macam.
Cara pertama, masuknya campuran udara dan bahan bakar dengan cara dihisap,
sedang cara kedua masuknya campuran udara dan bahan bakar dengan cara
diinjeksikan. Cara pertama biasa disebut sistem bahan bakar konvensional,
sedang cara kedua disebut sistem injeksi bahan bakar. Sistem injeksi bahan
bakar dapat dibagi menjadi sistem bahan bakar mekanik dan sistem injeksi
bahan bakar secara elektronik dan biasa disebut EFI (Electronic Fuel
Injection). Komponen sistem bahan bakar konvensional terdiri atas : tanki
bahan bakar, saluran bahan bakar, chacoal canister (hanya beberapa model
saja), saringan bahan bakar, pompa bahan bakar, dan karburator.

2. Karburator
Karburator berfungsi untuk merubah bahan bakar dalam bentuk cair
menjadi kabut bahan bakar dan mengalirkan ke dalam silinder sesuai dengan
kebutuhan mesin. Karburator mengirim sejumlah campuran udara dan bahan
bakar melalui intake manifold menuju ruang bakar sesuai dengan beban dan
putaran mesin.
a. Dilihat dari tipe venturi, karburator dapat dibedakan menjadi :
1) Karburator dengan venturi tetap (fixed venturi)
2) Karburator variable venturi
3) Karburator air valve venturi
b. Dilihat dari arah masuk campuran udara dan bahan bakar :
1) Karburator arus turun
2) Karburator arus datar
c. Dilihat dari jumlah barel, karburator dapat dibedakan menjadi:
1) Karburator single barel
2) Karburator double barel

3. Prinsip Kerja Karburator


Prinsip dasar karburator sama dengan prinsip pengecatan dengan
penyemprotan.

Gambar prinsip kerja karburator

Pada saat udara ditiup melalui bagian ujung pipa penyemprot, tekanan
di dalam pipa akan turun (rendah). Akibatnya cairan yang ada di dalam
tabung akan terhisap keluar dan membentuk partikel-partikel kecil saat
terdorong oleh udara. Semakin cepat aliran udara, maka semakin rendah
tekanan udara pada ujung pipa sehingga semakin banyak cairan bahan bakar
yang keluar dari pipa.
Prinsip kerja karburator berdasarkan hukum- hukum fisika seperti:
Qontinuitas dan Bernauli. Apabila suatu fluida mengalir melalui suatu tabung,
maka banyaknya fluida atau debit aliran (Q) adalah :
Q = A.V = konstan
Q = debit aliran m3/detik
A = luas penampang tabung (m2)
V = kecepatan aliran (m/detik)

Gambar Konstruksi dasar karburator

Konstruksi dasar karburator dapat dilihat pada gambar diatas. Bagian


karburator yang diameternya menyempit (bagian A) disebut venturi. Pada
bagian ini kecepatan aliran udara yang masuk semakin tinggi sehingga
kevakumannya semakin rendah. Dengan demikian pada bagian venturi bahan
bakar yang dapat terhisap semakin banyak.

4. Cara Kerja Karburator


Untuk memenuhi kebutuhan kerjanya, pada karburator terdapat
beberapa sistem yaitu :
a. Sistem pelampung
b. Sistem Stasioner dan Kecepatan Lambat
c. Sistem Kecepatan Tinggi Primer
d. Sistem Kecepatan Tinggi Sekunder
e. Sistem Tenaga (Power System)
f. Sistem Percepatan
g. Sistem Cuk
h. Mekanisme idel cepat
i. Hot Idle Compensator
j. Anti Dieseling
k. Daspot
l. Deceleration Fuel Cut Off System
5. Perbaikan dan Pemeriksaan Karburator
a. Pemeriksaan katup sistem cuk manual
1) Katup cuk harus tertutup penuh pada saat tombol cuk ditarik penuh.
2) Katup cuk harus terbuka penuh waktu tombol cuk dikembalikan
penuh.
b. Pemeriksaan sistem pemutus cuk
1) Hidupkan mesin
2) Lepaskan selang vakum dari membran dan periksa bahwa linkage
cuk kembali
3) Pasang kembali selang vakum pada membran

Gambar pemeriksaan sistem pemutus cuk

c. Pemeriksaan sistem cuk otomatis


1) Lepasakan konektor karburator
2) Ukurlah tahanan antara rumah koil dengan dari konektor karburator
dan masa. Spesifikasi tahanan :17 – 19 O pada 20° C.
3) Hidupkan mesin
4) Beberapa saat kemudian, periksa bahwa katup cuk mulai membuka
dan rumah cuk panas.
5) Matikan mesin.

Gambar pemeriksaan sistem cuk otomatis


d. Pemeriksaan pompa percepatan
Buka katup gas dan periksa bahwa bensin keluar dari nosel akselerasi

Gambar pemeriksaan pompa percepatan

e. Pemeriksaan dashpot
1) Setelah mesin dipanaskan, lepas selang vakum dari membran dan
sumbatlah ujung slang vakum
2) Stel putaran mesin pada 3000 rpm
3) Lepas pedal gas.
4) Periksa putaran penyetelan dashpot (2.000 ± 200 rpm)
5) Stel dashpot dengan cara memutar sekrup penyetel dashpot.
Penyetelan dilakukan dalam keadaan kipas pendingin dimatikan.

Gambar pemeriksaan Dashpot


f. Pemeriksaan putaran idel cepat
1) Panaskan mesin hingga mencapai temperatur kerja
2) Pasanglah tachometer pada mesin
3) Hentikan kerja cam breaker dengan cara melepas selang vakum dari
cam breaker dan sumbat ujung selang.
4) Stel cam idel cepat dengan cara : menahan katup gas sedikit terbuka,
tarik fast idel cam ke atas dan kembalikan katup gas pada posisi
semula sambil menempatkan tuas throttle di atas step ketiga dari cam.

Gambar penyetelan cam idel cepat

5) Apabila kecepatan idel cepat tidak sesuai spesifikasi stel kecepatan


idel tinggi dengan memutar sekrup penyetel idel cepat.
6) Periksa kembali bahwa putaran mesin kembali ke kecepatan idle
setelah pedal gas ditekan sedikit.
7) Hubungkan kembali selang vakum.

g. Pemeriksaan pemanas positif temperatur coefficient (PTC)


1) Lepaskan konektor pemanas PTC
2) Ukurlah tahanan antara terminal PTC dan masa menggunakan
ohmmeter. Spesifikasi tahanan : 2-6 O pada 20° C.

Gambar pemeriksaan pemanas PTC


h. Pemeriksaan pelampung dan katup jarum
1) Periksa pen pivot (1) kemungkinan tergores atau aus.
2) Periksa pelampung (2) kemungkinan bibirnya pecah dan aus pada
lubang-lubang pen pivot
3) Periksa pegas (3) kemungkinan patah atau memburuk
4) Periksa katup jarum (4) dan plunger (5) kemungkinan aus.
5) Periksa saringan (6) kemungkinan berkarat atau rusak

Gambar pemeriksaan pelampung dan katup jarum

i. Pemeriksaan power piston


Untuk memeriksa kerja power piston dapat dilakukan dengan cara
menekan power piston damengamati apakah power piston dapat bergerak
dengan halus dan dapat kembali ke posisi semula setelah dilepas.

Gambar pemeriksaan power piston


j. Pemeriksaan katup power
Pemeriksaan katup power dilakukan dengan cara memeriksa
saluran yang terdapat pada katup power. Saluran tersebut harus terbuka
pada saat katup ditekan dan tertutup kembali pada saat dilepas.

Gambar pemeriksaan katup power

k. Pemeriksaan solenoid pemutus bahan bakar


1) Lepas solenoid dari karburator
2) Hubungkan bodi katup solenoid dan terminal solenoid ke
terminal baterai.
3) Pada saat katup solenoid dihubungkan atau dilepas dengan baterai
harus terdengan suara “klik“.

Gambar pemeriksaan solenoid

l. Penyetelan pelampung
1) Pasang katup, pegas dan plunger pada dudukan
2) Pasang pelampung dan pen pivot
3) Biarkan pelampung menggantung dengan sendirinya
4) Dengan SST, periksa celah antara pelampung dan air horn. Apabila
tinggi pelampung (posisi tertinggi) tidak sesuai dengan spesifikasi,
stel dengan cara membengkokkan bibir pelampung.

Gambar pemeriksaan celah antara pelampung dengan air horn

5) Angkat pelampung dan dengan SST periksa celah antara plunger


katup jarum dan bibir pelampung. Apabila tinggi pelampung (pada
posisi terendah) tidak sesuai dengan spesifikasi, stel dengan cara
membengkokkan bibir samping pelampung.

Gambar pemeriksaan celah antara plunger katup jarum


dengan bibir pelampung

m. Penyetelan campuran idel


1) Hidupkan mesin sampai temperatur kerja
2) Pasang tachometer
3) Stel putaran idel (stasioner) sesuai spesifikasi
4) Putar baut penyetel putaran idel (idle mixture adjusting screw) ke
kanan atau ke kiri sampai diperoleh putaran maksimum.
5) Stel kembali putaran idel.

Gambar penyetelan putaran idel


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat penulis simpulkan bahwa makalah remedial
produktif ini mungkin bisa bermanfaat baik bagi siswa-siswi Sekolah Menengah
Kejuruan maupun bagi pihak Dunia Industri. Selain itu makalah ini juga menjadi
referensi dimana siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan bisa mengasah
ketrampilan mereka khususnya dalam hal praktik dimana mereka dapat belajar
lebih luas mengenai dalam hal dunia kerja serta melatih siswa-siswi menjadi
generasi muda yang bertanggung jawab dan profesional.

B. Saran
Penulis mengharapkan untuk pembaca supaya dapat mendalami hal-hal
yang berkenaan mengenai makalah remedial produktif ini sehingga dapat
mendapat ilmu yang bermanfaat. Karena sangat banyak ilmu yang harus digali agar
pengetahuan tentang keotomotifan kita menjadi lebih luas dan tidak hanya
berpatok pada satu sumber saja, maka pembaca diharapkan melihat dan membaca
referensi lain sehingga dapat memenuhi apa-apa yang belum diketahui oleh
pembaca.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.slideshare.net/DimazSadewa/makalah-kopling

http://mapelotomotif.blogspot.co.id/2015/10/contoh-makalah-perawatan-dan-
perbaikan-kopling-sepeda-motor.html

https://andrinuriawan371.wordpress.com/2015/02/02/makalah-praktek-industri-ii-
tentang-sistem-kopling-pada-kendaraan/

http://junda08.blogspot.co.id/

https://id.scribd.com/doc/244487948/Makalah-bahan-bakar-minyak-bensin-dan-
solar-docx

https://id.scribd.com/document/337447800/makalah-tune-up-Motor-Bensin-
konvensional-docx

https://automotive-comunity.page.tl/Perawatan-dan-Perbaikan-Sistem-Bahan-Bakar-
Bensin.htm

https://id.scribd.com/document/363605540/Makalah-Transmisi-Manual

http://yukitamari.blogspot.co.id/2011/12/v-behaviorurldefaultvmlo.html
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................. 2
C. Tujuan Makalah ................................................................................. 3
D. Manfaat Makalah ............................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN
A. Memperbaiki Unit Kopling Berikut Komponen-Komponen
Sistem ................................................................................................ 4
B. Memperbaiki Sistem Transmisi Manual ............................................ 19
C. Memperbaiki Sistem Bahan Bakar Sepeda Motor ............................. 29

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ........................................................................................ 39
B. Saran .................................................................................................. 39

DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR

Pertama-tama penulis ingin memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT,


atas segala rahmat dan petunjuk-Nya, dalam proses pembuatan makalah ini dari awal
hingga akhir pembuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah
ini. Penyusunan makalah ini dimaksudkan untuk referensi dalam belajar maupun para
siswa SMK. Untuk memenuhi maksud tersebut pemakalah mengumpulkan data dari
beberapa sumber untuk dijadikan pembahasan pada materi makalah ini dengan materi
perbaikan kopling, sistem tranmisi manual dan sistem bahan bakar.
Dalam penyusunan makalah, penulis tak jarang mengalami beberapa kendala
seperti keterbatasan materi maupun proses pengembangan materi itu sendiri. Oleh
karena itu makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, kritik dan saran dari Bapak/Ibu
Guru dan teman teman sangat kami harapkan. Akhirnya pemakalah mengharapkan
semoga makalah ini bermanfaat bagi pembacanya khususnya bagi rekan-rekan siswa
dan siswi SMK Negeri 4 Kota Bengkulu.

Penulis
REMEDIAL PRODUKTIF

Oleh :

REPALDO
KELAS : XI TSM I

PEMERINTAH KOTA BENGKULU


DINAS PENDIDIKAN
SMK NEGERI 04 KOTA BENGKULU
Tahun Akademik 2017/2018