Anda di halaman 1dari 3

Pernapasan yang normal berlangsung berdasarkan integrasi aktivitas

dari 5 komponen, yaitu :


a. sistem saraf, sebagai kontrol
b. otot-otot pernapasan (diafragma, otot pernapasan tambahan lain),
sebagai pompa
c. saluran napas, fungsi ventilasi
d. jaringan alveolar, tempat pertukaran gas
e. vaskuler paru dan di luar paru, untuk transportasi gas
Kegagalan dari satu komponen ini akan menimbulkan kegagalan seluruh
sistem atau gagal napas. Pengetahuan komponen mana yang terganggu
akan memberikan pandangan penting mengenai proses penyakit yang
mendasari gagal napas dan terapi yang akan diberikan nantinya.
Dengan demikian gagal napas merupakan keadaan klinik yang
diakibatkan oleh adanya ketidakmampuan sistem pernapasan untuk
melaksanakan pertukaran gas sehingga terjadi hipoksia (PO 2 < 60 mmHg)
dan/atau hiperkapnia (PCO2 > 50 mmHg). Dalam keadaan ini, kita akan
menjumpai gangguan sistem tubuh dalam mempertahankan nilai keasaman
(pH), O2 dan CO2 darah arteri dalam batas normal.
Sesuai dengan komponen yang berfungsi pada sistem pernapasan,
maka pernapasan manusia terjadi dalam 5 langkah :
- ventilasi, pertukaran gas antara udara luar dan paru
- perfusi paru, aliran darah campuran dari vena melalui sirkulasi paru ke
alveoli dan aliran balik darah arteri dari kapiler ke atrium kiri
- pertukaran gas di paru, antara O 2 dan CO2 melalui membrane kapiler
alveolar
- transpor dan pengambilan gas dari ventrikel kiri ke jaringan perifer
yang mengambil O2 dan melepaskan CO2 yang kemudian diangkut ke
atrium kanan
- regulasi ventilasi, mengontrol tinggi rendahnya ventilasi sehingga
terjadi kontrol asam-basa dan tekanan gas darah
Gagal napas akan terjadi bila 5 komponen langkah proses tersebut tidak
berfungsi.
Gagal napas akan menimbulkan hipoksemia dan hiperkapnia.
Hipoksemia akan menimbulkan respon fisiologis sebagai usaha
mempertahankan hantaran O2 yang adekuat ke jaringan tubuh :
- peningkatan frekuensi pernapasan sehingga PO 2 meningkat dan PCO2
menurun
- dilatasi vaskuler dari jaringan yang hipoksia, diikuti takikardi
kompensata, peningkatan curah jantung dan hantaran O 2
- akibat hipoksia alveolar terjadi konstriksi sistem vaskuler paru
sehingag terjadi perbaikan rasio ventilasi perfusi pada paru
- terjadi sekresi eritropoietin oleh ginjal yang merangsang eritrositosis
sehingga kapasitas transportasi O2 oleh darah meningkat

Tabel 1 Efek hipoksemia pada berbagai organ


Sistem Efek Keuntungan Kerugian
Organ
Respirasi Ventilasi PaO2 meningkat Kerja pernapasan
meningkat meningkat
Kardiovaskula Denyut jantung Rasio ventilasi Tekanan arteri
r meningkat, perfusi membaik, pulmonal
vasokonstriksi PO2 dan hantaran meningkat
paru O2 meningkat
Hematologi Eritropoietin dan Kapasitas Kerja miokard
kadar Hb angkutan O2 meningkat
meningkat meningkat

Tabel 2 Perubahan akibat hiperkapnia


Sistem Efek yang terjadi
Respirasi PaO2 menurun
Pergeseran ke kanan kurva Oxy
Hemoglobin
Gangguan fungsi diafragma
Vasokonstriksi vaskuler paru
Ginjal Peningkatan reabsorpsi HCO3
Sistem saraf Vasodilatasi serebral
pusat Peningkatan tekanan intraserebral
Penurunan kesadaran
Perubahan biokimia
Kardiovaskuler Penurunan kontraktilitas jantung
Stimulasi aksis simpatorenal
Penurunan resistensi vaskuler sistemik

Pengelolaan gagal napas yang efektif tergantung pada identifikasi


etiologi, diagnosis, dan terapi yang optimal. Pendekatan diagnosis gagal
napas dari aspek patofisiologis akan dapat memberikan petunjuk yang
penting mengenai etiologi dari gagal napas sehingga akan memberikan arah
dalam menentukan diagnosis dan terapi definitif. Evaluasi klinik pada gagal
napas dilakukan untuk menilai komponen respirasi yang fungsinya
terganggu.
Gambaran klinik tergantung pada penyebabnya, dapat dijumpai
penurunan kesadaran, sesak napas, sianosis, aritmia, penggunaan otot
pernapasan tambahan, atau stridor, dengan disertai gejala dari penyakit
primernya.
Diagnosis penunjang Analisis Gas Darah (AGD) dapat digunakan
sebagai dasar penilaian gangguan fungsi respirasi dengan gambaran :
- kegagalan oksigenisasi : PO2 menurun, PCO2 normal atau meningkat,
PA aO meningkat
- kegagalan ventilasi : PO2 menurun, PCO2 meningkat, PA aO normal
- kegagalan oksigenisasi dan ventilasi : PO 2 menurun, PCO2 meningkat,
PaO meningkat

Tabel 3 Evaluasi gangguan fungsi komponen respirasi


Tipe Pemeriksaan Hasil
disfungsi
Kontrol Frekuensi < 12x/m dengan hipoksia/hiperkapnia
napas dan asidosis
Pompa Kapasitas vital Kapasitas vital < 10 ml/kgBB
Saluran napas Auskultasi Mengi
Alveolar AGD PaO2 menurun/PaCO2 meningkat
Foto thoraks Konsolidasi paru
Vaskuler paru JVP-CVP Meningkat
EKG Hipertrofi jantung kanan

Gagal napas dapat diklasifikasikan atas :


- gagal napas akut, terjadi dalam beberapa menit sampai beberapa
jam, disertai pH < 7,3
- gagal napas kronik, terjadi beberapa hari atau lebih, dijumpai
kompensasi renal dan peningkatan HCO3, pH hanya sedikit menurun

Berdasarkan perubahan kadar gas darah :


- gagal napas tipe I (hipoksia) : PO2 < 60 mmHg dengan/tanpa
kenaikan PCO2, dapat berkaitan dengan semua penyakit paru akut
yang mennyebabkan gangguan alveolar, seperti pneumonia, edema
paru, perdarahan paru
- gagal napas tipe II (hiperkapnia) : PCO2 > 50 mmHg disertai adanya
PO2 < 60 mmHg, pH dapat menurun tergantung kadar HCO 3 (yang
sebaliknya juga tergantung lamanya hiperkapnia), sering dijumpai
pada penyakit neuromuskular, kelainan dinding thoraks, dan gangguan
saluran napas kronik yang berat