Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tumbuhan dapat digunakan sebagai obat-obatan karena tumbuhan tersebut

menghasilkan suatu senyawa yang memperlihatkan aktifitas biologis tertentu.

Senyawa aktif biologis itu merupakan senyawa metabolit sekunder yang meliputi

alkaloid, flavonoid, terpenoid dan steroid (Harbone, 1987).

Tumbuh-tumbuhan mempunyai kedudukan dan peranan yang amat

penting dalam kehidupan manusia. Hampir lima dekade terakhir ini timbul

ketertarikan yang kuat dalam meneliti tumbuhan sebagai sumber obat-obatan. Ini

didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, adanya gerakan revolusi hijau yang

didasari keyakinan bahwa pengobatan dengan tumbuhan lebih aman dan dapat

mengurangi efek samping pada tubuh manusia dibandingkan dengan obat-obatan

sintetis. Kedua, adanya fakta bahwa banyak obat-obatan penting yang digunakan

sekarang berasal dari tumbuhan (Harbone, 1987).

Pada saat ini, baru sekitar 180 spesies yang telah digunakan untuk

berbagai keperluan industri obat dan jamu, tetapi baru beberapa spesies yang telah

dibudidayakan secara intensif. Diperkirakan masih banyak tumbuhan berkhasiat

obat yang belum diketahui kandungan senyawa aktifnya, sehingga diperlukan

penelitian khusus. Adanya fakta bahwa banyak obat-obatan penting yang

digunakan sekarang berasal dari tumbuhan Agar pengobatan secara tradisional

dapat dipertanggung-jawabkan maka diperlukan penelitian ilmiah seperti

penelitian di bidang farmakologi, toksikologi, identifikasi dan isolasi zat kimia

aktif yang terdapat dalam tumbuhan (Harbone, 1987).

1
1.2 Prinsip Percobaan

Berdasarkan percobaan yang dilakukan minyak menguap dari sampel

dilarutkan dengan pelarut organik yang mudah menguap. Proses ekstraksi

biasanya dilakukan dalam suatu wadah tertutup. Pelarut organik akan berpenetrasi

ke dalam jaringan dan akan melarutkan minyak serta bahan non volatil yang

berupa resin, lilin, dan pigmen

1.3 Tujuan Percobaan

- Untuk identifikasi minyak menguap dalam batang sereh (Cymbopogon

citratus)

- Untuk mengetahui nilai Rf yang didapat dari identifikasi minyak

menguap dalam batang sereh (Cymbopogon citratus)

1.4 Manfaat Percobaan

- Agar mahasiswa dapat meng identifikasi minyak menguap dalam batang

sereh (Cymbopogon citratus)

- Agar mahasiswa dapat mengetahui nilai Rf yang didapat dari identifikasi

minyak menguap dalam batang sereh (Cymbopogon citratus)

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tumbuhan

Sistematika Tumbuhan

Kerajaan : Plantae

Sub-Kerajaan : Tracheobionta

Super Divisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Sub-kelas : Commelinidae

Ordo : Cyperales

Famili : Poaceae

Genus : Cymbopogon

Jenis : Cymbopogon citratus (DC.) Stapf

C. citratus merupakan tanaman yang berasal dari Sri Lanka dan India

Selatan, dan saat ini banyak dibudidayakan di daerah-daerah tropis Amerika dan

Asia. C. citratus adalah tumbuhan herba menahun dan jenis rumput-rumputan

yang dapat tumbuh dengan tinggi mencapai 1,8 m dan lebar 1,2 m. Daunnya

tunggal berjumbai, panjang sekitar 1 m, lebar 1,5 cm, tepi kasar dan tajam, tulang

daun sejajar, permukaan atas dan bawah berambut, serta berwarna hijau muda. C.

citratus memiliki batang yang tidak berkayu, beruas-ruas pendek dan berwarna

putih, buahnya pipih dan berwarna putih kekuningan, bijinya bulat panjang

berwarna coklat dan akarnya berupa serabut. Perbanyakan dilakukan dengan

memisah tunas atau anakan

3
Sinonim : Cymbopogon citratus (DC.) Stapf memiliki nama sinonim

Andropogon citratus DC., A. ceriferus Hackel, A. nardus (L.) Rendle var.

ceriferus Hackel. Nama daerah untuk C. citratus adalah sere mangat bi (Aceh),

sere (Gayo), garama kusu (Manado), sarai, sarai arun, sarai batawi (Minangkabau),

sangge-sangge, sere (Batak), see (Bali), serai gulai (Ambon), sereh (Sunda), sere

(Jawa, Madura), sorai (Lampung), pataha ‘mpori (Bima), dan dirangsa (Seram)

(Heyne, 1987). Nama asing untuk C. citratus menurut USDA (2006) adalah

lemongrass, west indian lemongrass (Inggris), citronelle, citronnelle, herbe citron,

lemongrass, verveine des Indes (Perancis), lemongras, westindisches zitronengras,

zitronengras (Jerman),

erva-cidreira (Portugis), cana-cidreira, cana-limão, capim-cidró, capim-santo,

patchuli-falso (Brazil), pasto limón, zacate dete, zacate limón (Spanyol).

C. citratus mengandung minyak atsiri, triterpenoid, flavonoid dan senyawa

fenolik. Kandungan kimianya bervariasi berdasarkan tempat tumbuhnya. Senyawa

seperti terpen hidrokarbon, alkohol, keton, ester dan aldehid dipastikan selalu ada

dalam minyak. Minyak atsiri C. citratus sebagian besar terdiri dari sitral. Jumlah

total minyak atsiri yang diperoleh dari daun bervariasi antara 0,28 hingga 1,4%.

Jumlah maksimal yang pernah dilaporkan adalah 3.0% yang didapat melalui

hidrolisasi daun kering. Komposisi persentase komponen adalah Citral α 40,8 %,

Citral β 32 %, Nerol 4,18 %, Geraniol 3,04 %, Cironellal 2,10 %, Terpinolene

1,23 %, Geranyl acetate 0,83 %, Myrecene 0,72 %, Terpinol 0,45 %,

Methylheptenone 0,2 %, Borneol 0,1-0,4 %, Linalyl Acetate 0,1 %, α Pinene

0,07 %, β Pinene 0,04 %.

Menurut Negrelle dan Gomes (2007), teh C. citratus digunakan untuk

mengatasi demam, flu dan memberikan efek antispasmodik. Di Indonesia,

4
tumbuhan ini diindikasikan untuk membantu masalah pencernaan, menginduksi

diuresis, dan pengeluaran keringat. Di Afrika dan Asia, C. citratus banyak

dipertimbangkan sebagai antitusif, antiseptik dan sudorifik. Di negara-negara

Karibean, C. Citratus terkenal memiliki sifat analgesik dan antiiflamasi. Sitral

yang terkandung dalam C. citratus memiliki beragam aktivitas biologi seperti efek

terhadap saraf pusat, aktivitas larvasida, efek hipoglikemik, hipolipidemia dan

hipokolesterolamik, penangkal radikal bebas dan antioksidan, aktivitas

ascaricidal¸ antiprotozoa, antinociceptive, antimikroba, antimalaria, antiinflamasi,

antijamur, antifilarial, antidiare, antibakteri dan antiamuba (Ravinder, 2010). Pada

konsentrasi lebih dari 200 μg/ml, sitral menghambat baik pertumbuhan misel

maupun pembentukan jamur C. albicans. Minyak C. citratus memiliki potensi

untuk mengobati kandidiasis oral dan vaginal.

2.2 Uraian Umum

Pada tahun-tahun terakhir ini fitokmia atau kiia tumbuhan telah

berkembang menjadi satu disiplin tersendiri, berada di antara kimia organik bahan

alam dan biokimia tumbuhan, serta berkaitan erat dengan keduanya. Bidang

perhatiannya ialah aneka ragam senyawa organik yang dibentuk dan ditimbun

oleh tumbuhan, yaitu mengenai struktur kimianya, biosintesisnya, perubahan serta

metabolismenya, penyebarannya secara alamiah, dan fungsi biologinya (Harborne,

1987).

Fitokimia mempelajari tentang senyawa-senyawa kimia yang terdapat

dalam tumbuhan, tujuannya untuk mengidentifikasi komponen kimia, umum

ataupun khusus dalam tanaman, mendeskripsikan efek utama senyawa yang

mungkin mempunyai efek farmakologi. Fitokimia juga menelaah/ menentukan

5
senyawa yang berperan dalam pengobatan, menentukan apakah dapat disintesis

dan digunakan sebagai senyawa murni (Harborne, 1987).

Idealnya, untuk analisis fitokimia, harus digunakan jaringan tumbuhan

segar. Beberapa menit setelah dikumpulkan, bahan tumbuhan itu harus

dicemplungkan kedalam alkohol menididh. Kadang kadang tumbuhan yang di

telaah tidak tersedia dan bahan mungkin harus disediakan oleh pengumpul yang

tinggal di benua lain. Dalam hal demikian, jaringan yang di ambil segar harus

disimpan kering di dalam kantung plastik, dan biasanya akan tetap dalam keadaan

baik untuk dianalisis setelah beberapa hari dalam perjalanan dengan pos udara

(Harborne, 1987).

Proses pengambilan minyak serai wangi (Citronella oil) dari daun dan

batang serai wangi dengan metode distilasi uap dan air dengan pemanasan

microwave dan membandingkan hasil yang didapatkan dengan penelitian

terdahulu yaitu hydro distillation dan steam distillation kemudian mempelajari

beberapa factor yang berpengaruh terhadap rendemen dan mutu minyak serai

wangi yang dihasilkan seperti pengaruh kondisi bahan (segar dan layu) dari daun

dan batang serai wangi, pengaruh perlakuan bahan (utuh dan dicacah ± 2 cm),

pengaruh bagian dari serai wangi (daun dan batang) serta pengaruh suhu operasi

(100 °C, 105 °C dan 110 °C). (Feriyanto,2013)

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode distilasi uap dan

air (steam and hydro distillation) dengan pemanasan microwave. Dalam

pemanfaatan microwave akan ditambahkan pelarut berupa air untuk mengambil

minyak di dalam daun dan batang serai wangi serta dilakukan pengambilan

distilat tiap 20 menit. (Feriyanto,2013)

6
Kondisi operasi untuk metode ini adalah pada massa 200 gram dan

tekanan atmosferik. Dari hasil penelitian didapatkan % rendemen minyak serai

wangi yang tinggi pada variabel daun adalah pada daun layu cacah pada suhu 110

􀔨 dengan % rendemen sebesar 1,52 % dan untuk batang adalah pada batang layu

cacah pada suhu operasi 110 􀔨 dengan % rendemen sebesar 1,03 %. Kandungan

Citronella yang tinggi pada daun adalah saat kondisi daun segar sebesar 67,36 %

dan pada batang saat kondisi batang layu sebesar 85,73 %.(Feriyanto,2013)

Densitas minyak serai wangi untuk daun pada range 0,872 – 0,882

gram/cm3 dan untuk batang pada range 0,862 – 0,877 gram/cm3. Nilai indeks

bias untuk daun pada range 1,415 – 1,472 dan pada batang pada range 1,415 –

1,438. Nilai bilangan asam untuk daun pada range 2,805 – 3,366 dan pada batang

pada range 3,086 – 3,647. (Feriyanto,2013)

Kebutuhan minyak atsiri dunia semakin tahun semakin meningkat seiring

dengan meningkatnya perkembangan industri modern seperti industri parfum,

kosmetik, makanan, aroma terapi dan obat-obatan. Minyak atsiri saat ini sudah

dikembangkan dan menjadi komoditas ekspor Indonesia yang meliputi minyak

atsiri dari nilam, akar wangi, pala, cengkeh, serai wangi, kenanga, kayu putih,

cendana, lada, dan kayu manis. Menurut Richards (1944), minyak atsiri bisa

didapatkan dari bahan-bahan diatas yang meliputi pada bagian daun, bunga,

batang dan akar. Dari sekian bahan atsiri diatas yang selama ini mulai tidak

dikembangkan adalah minyak atsiri dari serai wangi, karena untuk mendapatkan

minyak atsiri tersebut menggunakan hydro distillation dan steam distillation

membutuhkan waktu yang relatif lama yaitu sekitar 4 – 7 jam.

Tanaman serai dibagi menjadi tiga jenis yaitu serai wangi (Cymbopogon

winterianus), serai dapur (Cymbopogon flexuosus) dan rumput palmarosa

7
(Cymbopogon martini). Pada penelitian ini digunakan serai wangi karena sudah

umum digunakan oleh peneliti – peneliti terdahulu.Serai wangi selama ini masih

mendominasi dan lebih umum diambil minyaknya dibanding golongan serai

lainnya. (Feriyanto,2013)

Dalam penelitian ini dilakukan pengambilan minyak atsiri dari bahan

diatas dengan peningkatan teknologi yang sebelumnya umum digunakan,

sehingga waktu pengambilan menjadi lebih singkat dan rendemen yang dihasilkan

lebih bagus dan meningkat. Dalam hal ini perlu ditemukan metode baru untuk

mencapai target tersebut sehingga digunakan microwave, dimana microwave

efektif dalam distribusi panas dan efisien karena waktu yang diperlukan relatif

lebih singkat untuk mendapatkan rendemen yang sama untuk cara seperti metode

hydro distillation dan steam distillation. Berdasarkan hal itu maka diperlukan

penelitian mengenai distilasi dari daun dan batang serai wangi dengan metode

modifikasi dari penelitian terdahulu yaitu steam and hydro distillation dengan

bantuan microwave dan penelitian bertujuan mempelajari pengaruhnya terhadap

kualitas minyak serai wangi yang dihasilkan untuk setiap kondisi yang telah

ditentukan. (Feriyanto,2013).

Minyak atsiri merupakan minyak terbang (volatile), hasil metabolit

sekunder dalam tumbuhan. Dapat ditemukan di akar, kulit batang, daun, bunga

dan bji. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak atsiri yang

terbesar di dunia terdapat 40 jenis minyak atsiri yang sudah dikenal, 20

diantaranya adalah minyak potensial yang telah berkembang di pasar serta bernilai

ekonomi tinggi. Sementara, masih terdapat sumber-sumber minyak atsiri baru

yang terus digali agar beprospek bagi pengguna. Hai ini didukung juga oleh

8
adanya ketersediaan lahan di Indonesia. Salah satu contoh minyak atsiri sangat

menjajikan yaitu sereh wangi.

Serai wangi (Cymbopogon nardus. L) merupakan salah satu jenis tanaman

minyak atsiri, yang tergolong sudah berkembang. Dari hasil penyulingan daunnya

diperoleh minyak serai wangi yang dalam dunia perdagangan dikenal dengan

nama Citronella Oil. Minyak serai wangi Indonesia dipasaran dunia terkenal

dengan nama “Citronella Oil of Java”. Volume ekspor minyak serai wangi

beberapa tahun terakhir mengalami penurunan, Pada tahun 2002 mencapai 142

ton dengan nilai 1.066.000 US $ dan pada tahun 2004 sebesar 114 ton dengan

nilai ekspor sebesar 700.000 US $.(Sipahutar,2013)

Sebelum Perang dunia kedua, Indonesia merupakan negara pengekspor

utama minyak serai wangi. Namun saat ini negara produsen utama adalah RRC.

Hal ini disebabkan karena produksi minyak serai wangi Indonesia selalu menurun

dan mutunya kalah dibanding China dan Taiwan. Pada hal permintaan cukup

besar, karena kebutuhan pasar selalu meningkat 3 - 5% per tahun. Negara

pengimpor minyak serai wangi Indonesia yaitu Singapura, Jepang, Australia,

Meksiko, India, Taiwan, Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Jerman dan Spanyol.

Konsumsi minyak serai wangi dunia mencapai 2.000 – 2.500 ton dan baru

terpenuhi 50 - 60% saja. China sebagai negara produsen utama hanya mampu

memasok 600 - 800 ton per tahun. Sedangkan Indonesia baru dapat memenuhi

200 - 250 ton dari pemintaan minyak serai wangi per tahun (Sipahutar,2013).

Formulasi minyak atsiri sereh dapur yang telah masuk dan bereaksi di

dalam tubuh serangga uji dapat mempengaruhi, mengganggu kesehatan, bahkan

mengakibatkan kematian. Efek dari minyak atsiri sereh dapur dalam tubuh

serangga uji menimbulkan gejala diantaranya; (1) Perubahan warna, yaitu tubuh

9
larva menjadi berwarna kuning keputih-putihan, selanjutnya warnanya berubah

lagi menjadi coklat dan pada akhirnya seluruh tubuhnya menjadi hitam (mati); (2)

Gagal pupa, ulat yang telah menjadi pupa memperlihatkan warna hitam, bahkan

sebagian serangga uji mati sebelum selesai membentuk pupa; (3) Diduga minyak

sereh dapur dapat memperlambat pertumbuhan serangga uji. Bahkan pada

konsentrasi formulasi minyak atsiri yang tergolong tinggi, akan menimbulkan

gejala yang ditandai seperti mulai ada perubahan warna kulit yang memudar

hingga terjadi kematian serangga uji pada skala waktu antara ± 2 – 3 jam setelah

perlakuan. (Sipahutar,2013).

Metode kromatografi, karena pemamfaatannya yang leluasa, dipakai

secara luas untuk pemisahan analitik dan preparatif. Hampir setiap campuran

kimia, mulai dari bobot molekul rendah sampai tinggi, dapat dipisahkan menjadi

komponen-komponennya dengan beberapa metode kromatografi. Jenis pemisahan,

apakah analitik atau preparatif hanya dilakukan jika keperluan fraksi murni dari

campuran (Gritter, 1991).

Kromatografi lapis tipis (KLT) dan kromatografi kertas (KK) adalah

metode kromatografi cair yang paling sederhana karena disebagian besar

laboratorium KKT telah diganti dengan KLT. Dengan memakai Kromatografi

lapis tipis, pemisahan senyawa yang amat berbeda seperti senyawa organik alam

dan senyawa organik sintetik, kompleks anorganik-organik, dan bahkan ion

anorganik, dapat dilakukan dalam beberapa menit dengan alat yang harganya

tidak terlalu mahal. Kelebihan Kromatografi lapis tipis yang lain ialah pemakaian

pelarut dan cuplikan yang jumlahnya sedikit, kemungkinan penotolan cuplikan

berganda (saling membandingkan langsung cuplikan praktis) dan tersedianya

berbagai metode (Gritter, 1991).

10
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1. Alat

Alat yang digunakan adalah Alu, beaker glass ukuran 250 dan 1000 ml

(Iwaki Pyrex), cawan penguap 75 ml, chamber, corong, corong pisah 250 ml,

erlenmeyer 100 dan 250 ml, gelas ukur 10 dan 25 ml, gelas cangkir, gunting,

indikator ph, jam, kaca tutup, kapas, karet gelang, kertas saring, label, lumpang,

masker corong, penangas air ,penjepit tabung, pensil warna, perkamen potong,

pipet tetes panjang dan pendek, pisau (Joyko), plastik, kertas karkil, serbet,

spatula, tissue (Paseo).

3.2 Bahan

Bahan yang digunakan adalah etanol 96%, etilasetat, H2SO4 pekat, larutan

pereaksi vanillin, , n-heksana, silika GF25.

3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 Pemisahan Konstituen Minyak Menguap ( Minyak Atsiri )

Prosedur yang dilakukan adalah ditimbang 1 g batang serai, lalu

dihaluskan, ditambahkan 10 ml etanol, dimaserasi selama 15 menit sambil

dikocok lalu disaring. Filtratnya diidentifikasi dengan metode KLT ( fase diam:

plat pra lapis silika GF25. Fase gerak: campuran n-heksana-etilasetat (8/2) dalam

5 ml penampak nosa, larutan pereaksi vanillin- H2SO4 anisaldehid.

11
3.4. Flowsheet

3.4.1 Pemisahan Konstituen Minyak Menguap


Bunga Kembang sepatu

ditambahkan 10 ml etanol
diekstraksi dengan metode maserasi selama 30
menit
disaring

Filtrat Residu

3.4.2 Identifikasi Alkaloid Kasar Dengan KLT


- Sebelum Visualisasi
Chamber

dijenuhkan dengan pelarut pengembang yang

dimasukkan ke chamber yang dilapisi 2/3 bagian

kertas saring ( jenuh = seluruh kertas saring telah

basah oleh pelarut pengembang )

dicatat waktu jenuh chamber

ditotolkan 1,5 cm dari atas ke bawah larutan

ekstrak beralkaloida kasar pada plat KLT

( bentuk noda / pita ) sampai plat jenuh oleh

ekstrak

didiamkan +_ 15 menit

dimasukkan ke chamber penuh dicatat/ diukur

batas pengembangan ( setelah totol merambat )

batas pengembangan = 0,5 cm dari batas atas

dikeluarkan plat KKT lalu dikeringkan

diamati noda yang terjadi

12
dihitung harga RF nya
Sebelum visualisasi :
warna pink

- Setelah Visualisasi

Plat KLT yang telah


dikeringkan
disemprot plat KLT dengan penampak bercak

diamati noda yang terjadi

dihitung harga RF nya

Sebelum visualisasi :
warna ungu

3.4.1 Pemisahan Konstituen Minyak Menguap

Daun Sereh
ditambahkan 10 ml etanol
ditambahkan pelarut HCL 1% dalam metanol
sampai terendam dan dibiarkan selama 10-15
menit
disaring

Filtrat Residu

3.4.2 Identifikasi Minyak Atsiri dari Daun Sereh menggunakan KLT


- Sebelum Visualisasi

Chamber

dijenuhkan dengan pelarut pengembang yang

dimasukkan ke chamber yang dilapisi 2/3 bagian

kertas saring ( jenuh = seluruh kertas saring telah

basah oleh pelarut pengembang )

13
dicatat waktu jenuh chamber

ditotolkan 3 cm dari atas dan 1 cm ke bawah

larutan ekstrak beralkaloida kasar pada plat KLT

( bentuk noda / pita ) sampai plat jenuh oleh

ekstrak

didiamkan +_ 15 menit

dimasukkan ke chamber penuh

dicatat/ diukur batas pengembangan ( setelah

totol merambat ) batas pengembangan = 0,5 cm

dari batas atas

dikeluarkan plat KLT lalu dikeringkan

diamati noda yang terjadi

dihitung harga RF nya

Sebelum visualisasi :
1,8 cm
warna hijau, Rf= = 0,225
8 cm

- Setelah Visualisasi

Plat KLT yang telah


dikeringkan
disemprot plat KLT dengan penampak bercak

diamati noda yang terjadi

dihitung harga RF nya

Sebelum visualisasi : warna


kuning dan coklat
1,8 cm
Rf= = 0,225 (coklat)
8 cm

0,2 cm
Rf= = 0,025 (kuning)
8 cm

14
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Hasil kromatogram terlampirkan

Hasil Keterangan

Warna dan harga Rf sebelum Hijau

visualisasi 1,8 cm
Rf= = 0,225
8 cm

Kesimpulan minimal senyawa 1 noda

yang teridentifikasi

Warna dan harga Rf sesudah Coklat dan kuning

visualisasi 1,8 cm
Rf= = 0,225 (coklat)
8 cm

0,2 cm
Rf= = 0,025 (kuning)
8 cm

Kesimpulan minimal senyawa 2 noda

yang teridentifikasi

Kesimpulan akhir minimal Terdapat 2 senyawa

senyawa yang teridentifikasi

4.2 Pembahasan

Dari percobaan yang telah dilakukan, pemisahan minyak atsiri dari batang

sereh dilakukan dengan kromatografi lapis tipis memakai pengembang toluen –

etil asetat perbandingan 8:2. Sebelum penyemprotan terdapat 1 noda berwarna

hijau dengan harga Rf 0,225, sesudah dilakukan visualisasi dengan LP vanillin-

H2SO4 terdapat 1 noda berwarna coklat, 1 noda berwarna kuning dengan harga Rf

berturut-turut yaitu Rf= 0,225 dan Rf= 0,025.

15
Jarak pengembangan senyawa pada kromatogram biasanya dinyatakan

dengan harga Rf atau h Rf. Harga Rf didefinisikan sebagai pembandingan antara

jarak titik pusat bercak dari titik awal dan jari titik depan dari titik awal

(Dirjen POM, 1995).

16
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
- Identifikasi minyak menguap dalam batang sereh (Cymbopogon citratus)

dengan mengekstraksi dengan menggunakan pelarut organik yang

menguap yaitu etanol lalu diidentifikasi dengan menggunakan KLT

dengan fase gerak Toluen : Etil Asetat (8:2) dan penampak warna Vanilin

H2SO4. Hasil yang didapat sebelum visualisasi noda berwarna kuning dan

setelah visualisasi noda berwarna coklat

- Nilai Rf yang didapat sebelum visualisasi adalah 0,225 dan setelah

visualisasi adalah 0,025

5.2 Saran

- Sebaiknya pada percobaan selanjutnya digunakan KLT dua arah untuk

mendapatkan hasil yang lebih baik

- Sebaiknya pada percobaan selanjutnya digunakan sampel lain seperti

cengkeh (Syzygium aromaticum)

17
DAFTAR PUSTAKA

Gritter, dkk . 1991. Pengantar Kromatografi. Bandung. ITB

Harborne, J.B.1987. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis


Tumbuhan. Penerbit ITB. Bandung.

Paranagama, et.al. 2003. Fungicidal and anti-aflatoxigenic effects of the essential


oil of Cymbopogon citratus (DC.) Stapf. (lemongrass) against Aspergillus
flavus Link. isolated from stored rice. Letters in Applied Microbiology. 37,
86–90

Pramitasari, M. 2011. Formulasi Dan Uji Aktivitas Antijamur Krim Minyak


Sereh (Cymbopogon citratus (Dc) Stapf.) Dengan Basis Vanishing
Cream Terhadap Candida Albicans Dengan Metode Sumuran. Skripsi.
Fakultas Farmasi Universitas Jember.

18
LAMPIRAN

Sebelum Visualisasi

Setealah visualisasi

19