Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS HIPERTENSI

(F5. PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DAN TIDAK MENULAR)

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer


Program Internsip Dokter Indonesia

Disusun oleh:
dr. Linda KamilahSaadah

Pendamping
dr. H. Asep Firmansjah, M.H.Kes

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


UPT PUSKESMAS KLANGENAN
CIREBON
2017
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. T
Usia : 55 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Pekuncen, desa Pekantingan
kecamatan: klangenan, kabupaten: cirebon
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Agama : Islam
Statu perkawinan : Menikah
Tanggal Pemeriksaan : 2 Februari 2017
II. ANAMNESIS
a. Keluhan Utama
Sakit kepala
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan utama sakit kepala. Sakit kepala sudah terasa sejak 2 hari
yang lalu. Sakit kepala terasa di seluruh bagian kepala terutama di bagian belakang kepala
terasa berat. Nyeri terasa terus-menerus. Nyeri hilang apabila pasien istirahat. Nyeri makin
terasa saat pasien sedang banyak pikiran atau stres.
Keluhan nyeri kepala disertai rasa nyeri pada tengkuk leher dan kadang terasa kaku
pada lehernya. Karena keluhannya pasien mengaku sering merasa gelisah.
Pasien menyangkal adanya keluhan mual, muntah, menggigil, maupun panas badan.
Pasien juga menyangkal adanya jantung berdebar, mudah lelah, nyeri dada, gangguan
penglihatan, bengkak pada bagian mata, kaki atau perut. Riwayat trauma pada bagian kepala
disangkal pasien.
Pasien mengaku bahwa ia terkadang mengkonsumsi obat sakit kepala yang dijual di
warung untuk mengatasi sakit kepala yang dialaminya.
Pasien mengaku sering merasakan keluhan yang sama karena mempunyari riwayat
hipertensi. Pasien memiliki riwayat hipertensi sejak 2 tahun yang lalu dengan tekanan darah
paling tinggi mencapai 200/100 mmHg namun tidak mengkonsumsi obat secara teratur.
Pasien mengatakan akhir-akhir ini banyak mendapatkan tekanan emosional dari
keluarganya. Terdapat riwayat keluarga yang mengalami penyakit yang sama dengan pasien.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Sering merasakan keluhan yang sama karena mempunyai riwayat hipertensi. Riwayat
penyakit jantung (-), DM (-), riwayat operasi (-), asma (-), riwayat alergi obat (-).
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Ayah pasien memiliki riwayat penyakit hipertensi
e. Riwayat Psikososial
Pasien suka mengkonsumsi makanan yang asin. Pasien juga sering mengkonsumsi
makanan yang digoreng, jarang mengkonsumsi buah dan sayur serta jarang berolahraga.
Makan teratur sehari 3 kali, pasien menyangkal suka konsumsi rokok, kopi ataupun
alkohol.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan Umum
- Kesan sakit : sakit ringan
- Kesadaran : Komposmentis
- Tekanan darah : 180/100 mmHg
- Nadi : 80x/menit cukup, regular, adekuat
- Suhu : Afebris
- RR : 20x/menit
- BB : 75Kg
- TB : 165cm
- BMI : 27,55(Obesitas)

Status generalis

Kepala-leher
- Rambut : Hitam, tidak rontok
- Kulit wajah : Pigmentasi (-), Ikterik (-)
- Mata : Simetris, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil
bulat isokor, refleks cahaya +/+
- Hidung : Simetris, deviasi septum (-), massa (-), sekret (-)
- Telinga : Deformitas (-), luka(-), benjolan (-), otorrhea (-)
- Mulut : Perdarahan gusi (-), lidah bersih, Tonsil : T2/T2
- Gigi : Normal, karies (-)
Leher : JVP tidak meningkat, KGB tidak teraba membesar
Thoraks : bentuk dan gerak simetris
Pulmo depan
- Inspeksi : Bentuk dan gerak simetris, retraksi otot pernapasan -/-
- Palpasi : VF (+),kanan=kiri
- Perkusi : Batas paru hepar ICS 5 kanan dan peranjakan 2 cm, sonor ka=ki
- Auskultasi : VBS (+) kanan=kiri, ronchi -/-, wheezing -/-

Pulmo belakang

- Inspeksi : Bentuk dan gerak simetris, retraksi otot pernapasan -/-


- Palpasi : VF (+),kanan=kiri
- Perkusi : sonor ka=ki
- Auskultasi : VBS (+) kanan=kiri, Slem +/+ ronchi -/-, wheezing -/-

Cor

- Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak


- Palpasi : Iktus cordis tidak teraba
- Perkusi
Batas kanan : ICS V linea sternalis dextra
Batas kiri : ICS V mid clavicularis sinistra
Batas atas : ICS III linea mid clavicularis sinistra
- Auskultasi : Bunyi jantung murni regular, S1=S2 gallop (-), Murmur (-)
Abdomen
- Inspeksi : datar lembut, massa (-)
- Palpasi : NT(-) daerah epigastrik NL(-), hepar dan lien tidak teraba
- Perkusi : Ruang traube kosong
- Auskultasi : BU (+) Normal 14x/menit
Ekstremitas
Ekstremitas atas
- simetris
- Edema -/-
- Sianosis -/-
- Capillary refill < 2 detik
- Muscle strength 5/5
- Reflex fisiologis : +/+
- Reflex patologis : -/-

Ekstremitas bawah

- simetris
- Edema -/-
- Sianosis -/-
- Capillary refill < 2 detik
- Muscle strength 5/5
- Reflex fisiologis : +/+
- Reflex patologis : -/-

III. DIAGNOSIS KERJA

Hipertensi stagee II
IV TATALAKSANA

Non Farmakologi
1. Menjelaskan bahwa penyakit yang diderita adalah penyakit hipertensi yang tidak
menular dan tidak bisa sembuh hanya bisa di control.
2. Menjelaskan kepada pasien agar tekun konsumsi obat dan rutin memeriksakan
dirinya di fasilitas kesehatan meskipun pasien sudah merasa sehat
3. Menjelaskan bahwa pemberian obat anti hipertensi merupakan pengobatan jangka
panjang. Kontrol pengobatan dilakukan setiap 2 minggu atau 1 bulan untuk
mengoptimalkan hasil pengobatan.
4. Pentingnya menjaga kecukupan pasokan obat-obatan dan minum obat secara teratur
seperti yang disarankan meskipun tidak ada gejala.
5. Menjelaskan kepada pasien tentang gejala-gejala pada penyakit hipertensi dan
risiko penyulit yang mungkin terjadi
6. Menganjurkan pasien untuk mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan untuk
meningkatkan daya tahan tubuh.
7. Perubahan pola hidup (kurangi makan-makanan yang bergaram tinggi)
8. Menghindari stress.
9. Anjurkan kepada pasien untuk melakukan olahraga senam aerobik selama 30 menit
sebanyak 3-4 kali seminggu
10. Individu dan keluarga perlu diinformasikan juga agar melakukan pengukuran
tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol secara teratur.

Farmakologi

Kaptopril tablet 25 mg 3x1

Paracetamol tablet 500mg 3x1

V PROGNOSIS

Dubia ad bonam
UPAYA PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR

DI PUSKESMAS

Puskesmas sebagai penanggung jawab upaya kesehatan terdepan


mempunyai 3 fungsi yaitu 1) pusat penggerakan pembangunan berwawasan
kesehatan, 2) pusat pemberdayaan masyarakat dan keluarga dalam pembangunan
kesehatan, 3) Pusat pelayanan primer. Dalam rangka penyelenggaraan
pengendalian PTM, puskesmas melakukan upaya pencegahan penyakit melalui
kegiatan primer, sekunder, dan tersier.

Pengendalian PTM difokuskan terhadap faktor risiko PTM, jika sudah


menderita PTM, maka akan sulit disembuhkan dengan sempurna, bahkan dapat
menimbulkan kecacatan dan kematian. Disamping itu, PTM memerlukan
perawatan dan pengobatan yang memakan waktu cukup lama dengan biaya yang
tidak sedikit.

1. Upaya Promotif
Upaya promosi kesehatan di puskesmas dilakukan agar masyarakat
mampu berperilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), upaya promosi
kesehatan dilakukan melalui sosialisasi, penyuluhan, komunikasi dan
edukasi.
Promosi kesehatan dilaksanakan masyarakat dengan berperilaku
“CERDIK”, yaitu menuuju masa muda sehat dan hari tua nikmat tanpa
PTM, yang secara harfiah adalah :
C : Cek kesehatan secara berkala
E : Enyahkan asap rokok
R : Rajin aktivitas fisik
D : Diet sehat dengan kalori seimbang
I : Istirahat yang cukup
K : Kendalikan stres
Pemberdayaan perorangan, keluarga dan masyarakat di komunitas
melalui posbindu PTM, UKBM, Posdaya, Poslansia dan pos lainnya
dimana masyarakat dapat berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan
melalui peningkatan pengetahuan dan kemampuan menuju kemandirian
untuk hidup sehat. Diharapkan partisipasi masyarakat secara total dalam
pencegahan dan penanganan kegawatdaruratan yang sederhana serta
merubah perilakunya untuk mencapai hidup sehat.
Pengembangan desa siaga merupakan revitalisasi pembangunan
kesehatan masyarakat desa sebagai pendekatan edukatif yang perlu
dihidupkan kembali, dipertahankan dan ditingkatkan.
Posbindu PTM adalah kegiatan pembinaan terpadu untuk
mengendalikanfaktor risiko PTM dan merupakan bentuk kemandirian
masyarakat dalam mendeteksi dan memonitor faktor risiko PTM secara
rutin. Petugas puskesmas melakukan pengawasan melalui kegiatan
monitoring program
Pembinaan kegiatan posbindu PTM, dapat dilakukan melalui
kemitraan organisasi profesi (PPNI, IAKMI, IDI, IBI, Forum Kota Sehat,
dan lain-lain). Selain sebagai pembina dan pengawas dalam
penyelenggaraan Posbindu PTM, puskesmas juga menjadi tempat rujukan
selain dokter keluarga dan klinik swasta.
Kasus yang sudah ditangani dan mendapat pengobatan, puskesmas
dapat menganjurkan agar kasus di monitor melalui kegiatan Posbindu
PTM, slanjutnya secara berkala tetap kontrol ke puskesmas untuk
mendapatkan pengobatan dan penanganan medis lainnya jika diperlukan.
Berikut alur pengendalian PTM (Alur 1)
2. Upaya Penapisan dan Deteksi Dini
Dalam perjalanan PTM selain faktor risiko perilaku, faktor risiko antara dapat
dikendalikan karena itu perlu dilakukan deteksi dini dan diintervensi secara dini
agar tidak berlanjut menjadi fase akhir terjadinya PTM, yang akan memberikan
beban biaya kesehatan yang sangat mahal.
Faktor risiko PTM ada yang dapat dimodofikasi dan tidak dapat
dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi yaitu riwayat penyakit
dalam keluarga, kelahiran prematur, usia, dan jenis kelamin. Faktor risiko yang
dapat dimodifikasi antara lain adalah kurang aktivitas fisik, pola makan yang
tidak sehat dan seimbang, gaya hidup tidak sehat (merokok, mengonsumsi
alkohol, kurang sayur dan buah, berat badan berlebih, obesitas, stres,
dislipidemia, hiperglikemia, dan perilaku yang berkaitan dengan kecelakaan dan
cedera, seperti perilaku berlalulintas yang tidak benar. Semakin dini PTM
ditemukan akan semakin baik dalam penatalaksanaannya dan mengurangi
terjadinya komplikasi yang bersifat fatal
Faktor risiko PTM tersebut diatas dapat dideteksi dengan upaya
penapisan dan deteksi dini. Upaya tersebut dapat dilaksanakan di masyarakat
secara massal, diluar gedung maupun dalam gedung puskesmas, yang dapat
dilaksanakan secara terintegrasi.

2.1 Skrining/Uji Tapis


Suatu strategi yang digunakan dalam suatu populasi untuk mendeteksi
faktor risiko atau penyakit pada individu dengan atau tanpa gejala dan yang
sudah menderita PTM.
Pelayanan skrininguji tapis PTM di puskesmas dilaksanakan dengan dua
cara, yaitu :
1) Pelayanan aktif
Dilaksanakan melalui penyaringan massal saat kegiatan yang melibatkan
masyarakat banyak seperti seminar/workshop, peringatan hari-hari besar
nasional, keagamaan, dan lain-lain
2) Pelayanan Pasif
Skrining dapat dilaksanakan secara terintegrasi, misalnya melakukan
pemeriksaan tinggi badan, IMT, lingkar perut, tekanan darah, disertai
pemeriksaan gula darah, sewaktu, kolesterol, IVA yang terintegrasi
dengan program lain (misalnya ANC pada ibu hamil), pemeriksaan IVA,
sadari dilakukan secara bersamaan pada ibu usia 30-50 tahun saat kontrol
KB.
2.2 Deteksi Dini
Melalui kegiatan deteksi dini faktor risiko PTM diharapkan dapat
dilakukan penganganan sesegera mungkin, sehingga prevalensi faktor risiko,
angka kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat PTM dapat diturunkan
serendah mungkin. Deteksi dini faktor risiko PTM dapat mencegah dampak
yang memiliki konsekuensi sosial dan ekonomi, karena untuk pengobatan
PTM perlu perlu waktu yang lama dan dengan biaya yang mahal, misalnya
miokard infark, stroke, gagal ginjal, amputasi dan gangguan penglihatan,
PPOK derajat berat.
Deteksi dini PTM dilakukan terhadap faktor risiko dan dengan
mengenali tanda dan gejala seperti pada:
1. Penyakit kanker, dapat dilaksanakan pada beberapa jenis kanker, dengan
cara lebih mudah dan dapat dilakukan oleh petugas kesehatan di tingkat
dasar sekalipun yaitu pada kanker leher rahim menggunakan metode
IVA test, kanker payudara mengajarkan SADARI, dan melaksanakan
metode CBE dan menggunakan senter atau pemeriksaan funduskopi
untuk mendeteksi retinoblastoma.
2. Penyakit jantung diperiksakan enzim-enzim jantung
3. Penyakit jantung-pembuluh darah dan diabetes melitus (melalui
pemeriksaan kadar kolesterol dan gula darah). Obesitas (IMT dan lingkar
perut).
4. PPOK dengan Arus puncak Ekspirasi menggunakan peakflow meter
dilanjutkan dengan pemeriksaan spirometer.
5. HipoSLRtiroid melalui pemeriksaan Thyroid Stimulating Hormone
(TSH) pada wanita usia subur, wanita hamil dan neonatus.
6. Osteoporosis, adanya faktor risko riwayat patah tulang secara tiba-tiba
karena trauma ringan atau tanpa trauma, tubuh makin pendek dan
bongkok, skrining dengan tes 1 menit
7. Gagal ginjal kronik
8. Thalasemia dengan riwayat thalasemia, sering anemia tanpa perdarahan,
pemeriksaan darah tepi ditemukan anemia mikro
9. SLE dengan perikSA Lupus SendiRI (SALURI)
10. Faktor risiko kecelakaan pada pengemudi
2.3 Upaya Penatalaksanaan Pengendalian PTM
1) Pengendalian faktor risiko PTM terintegrasi
Gambaran faktor risiko penyakit dan kemungkinan PTM yang
mungkin terjadi, berdasarkan faktor risiko penyakit dan kemungkinan
PTM yang mungkin terjadi berdasarkan faktor risiko
2) Tatalaksana
Tatalaksana dilakukan oleh dokter berdasarkan temuan-temuan
yang diperoleh selama anamnesis dan pemeriksaan
a. Tatalaksana Hipertensi dan DM terpadu
Alur tatalaksana terintegrasi dipergunakan adalah kondisi sebegai
berikut : usia >40 tahun, perokok, obesitas, hipertensi, diabetes
riwayat penyakit kardiovaskular prematur pada orang tua/saudara
kandung, riwayat diabetes, atau penyakit ginjal pada orang
tua/saudara kandung
Kunjungan Pertama
Langkah 1. Tanyakan tentang :
 Diketahui penyakit jantung, stroke, TIA, diabeter, penyakit
ginjal
 Nyeri dada dan atau sesak saat aktivitas, nyeri tungkai saat
jalan
 Obat-obatan yang diminum pasien
 Merokok saat ini (ya/tidak)
 Konsumsi alkohol (ya/tidak)
 Pekerjaan (duduk saja atau banyak gerak
 Berolahraga teratur minimal 30 menit sehari, 5 hari dalam
seminggu (ya/tidak)

Langkah 2. Lakukan penilaian :

 Lingkar perut
 Palpasi nadi perifer
 Auskultasi jantung dan paru
 Tekanan darah
 GDS
 Proteinuria
 Lipid darah
 Test sensasi (rasa) pada tungkai dan nadi dorsalis
pedis/tibialis pada DM
Langkah 3. Kriteria rujukan untuk semua kunjungan:
 Tekanan darah sistole >=140 atau diastole >=90 pada subyek
usia < 40 tahun
 Angina pektoris
 Perburukan gagal jantung
 Kenaikan tekanan darah >140/90 mmHg (pada DM >130/90
mmHg) meskipun sudah mendapat terapi dengan 2-3 obat
 Proteinuria
 Bila penderita, terapi 8-12 minggu, kada HbA1c > 7%
 DM dengan infeksi berat dan/atau luka di kaki
 DM yang baru saja mengalami perburukan penglihatan atau
tidak dilakukan pemeriksaan mata dalam 2 tahun terakhir
Langkah 4. Tetapkan risiko kardiovaskuler bagi yang tidak dirujuk
Langkah 5
- Semua subyek dengan tekanan darah >160/100 mmHg harus
diberikan obat antihipertensi. Semua pasien dengan diagnosis
diabetes, dan penyakit kardiovaskuler (penyakit jantung coroner,
infark miokard, TIA, penyakit cerebrovaskuler atau penyakit
vaskuler perifer), bila stabil hendaknya terus minum obat yang
diresepkan dan dianggap mempunya risiko > 30%. Semua subyek
dengan kadar kolesterol total > 320 mg/dl harus diberikan nasihat
pola hidup sehat dan terapi statin
- Risiko < 20 % :
Perlu konsultasi diet, aktifitas fisik, berhenti merokok. Bila risiko <
10% check kembali dalam waktu 12 bulan. Bila risiko 10-<10%
check kembali tiap 3 bulan hingga target tercapau, selanjutnya tiap
6-9 bulan
- Risiko 20-<30%:
Perlu konsultasi diet, aktifitas fisik, berhenti merokok. TD menetap
> 140/90 mmHg (pada DM >130/80 mmHg) pertimbangkan salah
satu dosis rendah obat HCT 25-50 mg/hari, Enalapril 5-20mg/hari,
Atenolol 50-100 mg/hari atau Amlodipin 5-10 mg/hari. Check
teratur tiap 3-6 bulan.
- Risiko >30%:
Perlu konsultasi diet, aktifitas fisik, berhenti merokok. TD menetap
130/90 mmHg harus diberikan salah satu dosis rendah obat : thiazid,
ACE inhibitor beta blocker atau CCB, perlu konsultasi diet, aktifitas
fisik, berhenti merokok. TD tetap >130/80 : pertimbangkan salah
satu dosis rendah obat HCT 25-50 mg/hari, Enalapril 5-20mg/hari,
Atenolol 50-100 mg/hari atau Amlodipin 5-10 mg/hari, Berikan
statin (check teratur tiap 3 bulan)

Kunjungan kedua
Ulangi langkah 2,3,4 ikuti kriteria rujukan untuk semua kunjungan
(sesuai langkah 3) Tatalaksana sebagai berikut:
- Bila Risiko <20%:
Check ulang tiap 12 bulan untuk dinilai kembali faktor risiko
kardiovaskuler, konsultasi diet, aktifitas fisik, berhenti merokok.
- Bila risiko 20-<30%:
Lanjutkan seperti langkah 4 dan check ulang tiap 3 bulan
- Bila risiko masih tetap >30%
Setelah 3-6bulan intervensi obat-obatan pada kunjungan pertama,
lanjutkan ketingkat berikutnya.

Jangan tambahkan garam di meja makan dan hindari makanan asin


makanan cepat saji, makanan kaleng dan bumbu penyedap makanan.
Ukur kadar gula darah, tekanan darah dan periksa urin aanda secara
teratur.

POS PEMBINAAN TERPADU


PENYAKIT TIDAK MENULAR
(POSBINDU PTM)
A. Pengertian
Posbindu PTM merupakan peran serta masyarakat dalam melakukan kegiatan
deteksi dini dan pemantauan faktor risiko PTM utama yang dilaksanakan secara
terpadu, rutin, dan periodik. Faktor risiko PTM meliputi merokok, konsumsi
minuman beralkohol, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, obesitas,
stres, hipertensi, hiperglikemi, hiperkolesterol, serta menindak lanjuti secara dini
faktor risiko yang ditemukan melalui konseling kesehatan dan segera merujuk ke
fasilitas kesehatan dasar.
Kelompok PTM utama adalah diabetes melitus (DM), kanker, penyakit jantung
dan pembuluh darah (PJPD), penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan
gangguan akibat kecelakaan dan tindak kekerasan.
B. Tujuan
Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pencegahan dan penemuan faktori
risiko PTM
C. Sasaran Kegiatan
Sasaran utama adalah kelompok masyarakat sehat, beresiko, dan penyandang
PTM usia 15 tahun keatas.
D. Wadah Kegiatan
Posbindu PTM dapat dilaksanakan terintegrasi dengan upaya kesehatan
bersumber masyarakat yang sudah ada, ditempat kerja atau di klinik perusahaan,
di lembaga pendidikan, tempat lain di mana masyarakat dalam jumlah tertentu
berkumpul/beraktivitas secara rutin misalnya di mesjid, gereja, klub olahraga,
pertemuan organisasi politik maupun kemasyarakatan.
Pengintegrasian yang dimaksud adalah memadukan pelaksanaan posbindu PTM
dengan kegiatan yang sudah dilakukan meliputi kesesuaian waktu dan tempat,
serta memanfaatkan sarana dan tenaga yang ada.
E. Pelaku kegiatan
Pelaksanaan Posbindu PTM dilakukan oleh kader kesehatan yang telah ada atau
beberapa orang dari masing-masing kelompok/organisasi/lembaga/tempat kerja
yang bersedia menyelenggarakan posbindu PTM, yang dilatih secara khusus,
dibina atau difasilitasi untuk melakukan pemantauan faktor risiko PTM di masing-
masing kelompok atau organisasinya. Kriteria kader posbindu PTM antara lain
berpendidikan minimal SLTA, mau dan mampu melakukan kegiatan berkaitan
dengan posbindu PTM.
F. Bentuk Kegiatan
Posbindu PTM meliputi 10 (sepuluh) kegiatan yaitu :
1. Kegiatan penggalian informasi faktor risiko dengan wawancara sederhana tentang
riwayat PTM pada keluarga dan diri peserta, aktifitas fisik, merokok, kurang
makan sayur dan buah, potensi terjadinya cedera dan kekerasan dalam rumah
tangga, serta informasi lainnya yang dibutuhkan untuk identifikasi masalah
kesehatan berkaitan dengan terjadinya PTM. Aktifitas ini dilakukan saat pertama
kali kunjungan dan berkala sebulan sekali.
2. Kegiatan pengukuran berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT),
lingkar perut, analisis lemak tubuh, dan tekanan darah sebaiknya diselenggarakan
1 bulan sekali. Analisa lemak tubuh hanya dapat dilakukan pada usia 10 tahun
keatas. Untuk anak, pengukuran tekanan darah disesuaikan ukuran mansetnya
dengan lengan atas.
3. Kegiatan pemeriksaan fungsi paru sederhana diselenggarakan 1 tahun sekali bagi
yang sehat, sementara bagi yang beresiko 3 bulan sekali dan penderita gangguan
paru-paru dianjurkan 1 bulan sekali. Pemeriksaan arus puncak ekspirasi dengan
peakflowmeter pada anak usia 13 tahun. pemeriksaan fungsi paru sederhana
sebaiknya dilakukan oleh tenaga kesehatan yang telah terlatih.
4. Kegiatan pemeriksaan gula darah bagi individu sehat paling sedikit
diselenggarakan 3 tahun sekali dan bagi yang telah mempunyai faktor risiko PTM
atau penyandang DM paling sedikit 1 tahun sekali. Untuk pemeriksaan glukosa
darah dilakukan oleh tenaga kesehatan (dokter, perawat/bidan/analis laboratorium
dan lainnya).
5. Kegiatan pemeriksaan kolesterol total dan trigliserida, bagi individu sehat
disarankan 5 tahun sekali dan bagi yang telah mempunyai faktor risiko PTM 6
bulan sekali dan penderita dislipedia/gangguan lemak dalam darah minimal 3
bulan sekali. Untuk pemeriksaan gula darah dan kolesterol darah dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang ada dilingkungan kelompok masyarakat tersebut.
6. Kegiatan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) dilakukan sebaiknya
minimal 5 tahun sekali bagi individu sehat, setalah hasil IVA positif, dilakukan
tindakan pengobatan krioterapi, diulangi setelah 6 bulan, jika hasil IVA negatif
dilakukan pemeriksaan ulang 5 tahun, namun apabila hasil IVA positif dilakukan
krioterapi kembali. Pemeriksaan IVA dilakukan oleh bidan/dokter terlatih dan
tatalaksana lanjutan dilakukan oleh dokter terlatih di puskesmas.
7. Kegiatan pemeriksaan kadar alkohol pernafasan dan tes amfetamin urin bagi
pengemudi umum yang dilakukan oleh tenaga kesehatan (dokter, perawat/ bidan/
analis laboratorium dan lainnya)
8. Kegiatan konseling dan penyuluhan, harus dilakukan setiap pelaksanaan
posbindu PTM. Hal ini penting dilakukan karena pemantauan faktor risiko kurang
bermanfaat bila masyarakat tidak tahu cara mengendalikannya
9. Kegiatan aktivitas fisik dan atau olahraga bersama, sebaiknya tidak hanya
dilakukan jika ada penyelenggaraan posbindu PTM. Namun perlu dilakukan rutin
setiap minggu.
10. Kegiatan rujukan ke fasilitas layanan kesehatan dasar di wilayahnya dengan
pemanfaatan sumber daya tersedia termasuk upaya respon cepat sederhana dalam
penanganan pra-rujukan.

G. Kemitraan
Dalam penyelenggaraan posbindu PTM pada tatanan desa/kelurahan perlu
dilakukan kemitraan dengan forum desa/kelurahan siaga, industri, dan klinik
swasta untuk mendukung implementasi dan pengembangan kegiatan.
PELAKSANAAN POSBINDU PTM

A. Waktu penyelenggaraan
Posbindu diselenggarakan dalam sebulan sekali, bila diperlukan dapat lebih dari
satu kali dalam sebulan.
B. Tempat
Tempat pelaksanaan sebaiknya berada pada lokasi yang mudah dijangkau dan
nyaman bagi peserta. Posbindu PTM dapat dilaksanakan di salah satu rumah
warga, balai desa/kelurahan, salah satu kios di pasar, salah satu ruang
perkantoran/klinik perusahaan, ruangan khusus di sekolah, salah satu ruangan di
dalam lingkungan tempat ibadah, atau tempat tertentu yang disediakan oleh
masyarakat secara swadaya.
C. Pelaksanaan kegiatan
Posbindu PTM dilaksanakan dengan 5 tahapan layanan yang disebut sistem 5
meja, namun dalam situasi kondisi tertentu dapat disesuaikan dengan kebutuhan
dan kesepakatan bersama. Kegiatan tersebut berupa pelayanan deteksi dini dan
tindak lanjut sederhana serta monitoring terhadap faktor risiko penyakit tidak
menular termasuk rujukan ke puskesmas. Dalam pelaksanaannya pada setiap
langkah secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut:
D. Pencatatan dan Pelaporan
Dilakukan oleh kader. Petugas puskesmas mengambil data hasil kegiatan posbindi PTM
yang digunakan untuk pembinaan, dan melaporkan ke instansi terkait secara berjenjang.
Untuk pencatatan digunakan :
1) Kartu Menuju Sehat (KMS)-FR-PTM
Pada pelaksanaan pemantauan, kondisi faktor risiko PTM harus diketahui oleh yang
diperiksa maupun yang memeriksa.
Format KMS FR-PTM mencakup nomor identitas, data demografi, waktu kunjungan,
jenis faktor risiko PTM dan tindak lanjut. Pada KMS FR-PTM ditambahkan
keterangan golongan darah dan status penyandang PTM yang berguna sebagai
informasi medis jika pemegang kartu mengalami kondisi darurat di perjalanan. Hasil
dari setiap kunjungan peserta ke posbindu dicatat pada KMS FR-PTM oleh masing-
masing kader faktor risiko. Demikian pula tindak lanjut yang dilakukan oleh kader.
2) Buku pencatatan hasil kegiatan posbindu PTM
Buku pencatatan diperlukan untuk mencatat identitas dan keterangan lain mencakup
nomor,, No KTP/kartu identitas lainnya nama, umur, dan jenis kelamin. Buku ini
merupakan dokumen/file data pribadi peserta yang berguna untuk konfirmasi lebih
lanjut jika suatu saat diperlukan.
Hasil pemeriksaan faktor risiko yang masuk dalam kategori buruk diberi tanda warna
yang menyolok. Melalui buku ini kondisi kesehatan seluruh peserta dapat terpantau
secara langsung, sehingga koordinator maupun petugas dapat mengetahui dan
mengingatnya serta memberikan motivasi lebih lanjut.
E. Tindak lanjut hasil posbindu PTM
Tujuan dari penyelenggaraan Posbindu PTM, yaitu agar faktor risiko PTM dapat
dicegah dan dikendalikan lebih dini. Faktor risiko PTM yang telah terpantau secara
rutin dapat selalu terjaga pada kondisi normal atau tidak termasuk dalam kategori buruk.
Pada tahap dini, kondisi faktor risiko PTM dapat dicegah dan dikendalikan melalui diet
yang sehat, aktifitas fisik yang cukup dan gaya hidup yang sehat seperti berhenti
merokok, pengelolaan stres dan lain-lain. Melalui konseling atau edukasi.
F. Rujukan Posbindu PTM

PEMBINAAN
Kegiatan pembinaan dilakukan terhadap posbindu PTM secara periodik oleh puskesmas
atau dinas kesehatan kabupaten/kota. Kegiatan pembinaan antara lain adalah
1. Penyelenggaraan forum komunikasi bagi kader pelaksana posbindu minimal 2
kali setahun yang di fasilitasi oleh puskesmas dan dinas kesehatan. Melalui
forum komunikasi setiap posbindu PTM diminta untuk menyampaikan tingkat
perkembangan yang telah dicapai, kendala yang dihadapi dan upaya yang telah
dilakukan untuk mengatasinya, dukungan yang diperoleh dan upaya yang telah
dilakukan untuk memperoleh dukungan tersebut. Melalui komunikasi ini setiap
posbindu PTM akan mendapatkanpengetahuan dan keterampilan tambahan
tentang penyelenggaraan posbindu.
2. Pemilihan kader teladan
3. Pemilihan posbindu PTM teladan
4. Pelaksanaan studi banding
5. Pendampingan oleh puskesmas dengan memberikan bantuan teknis dan
fasilitas secara berkala dan berkesinambungan.