Anda di halaman 1dari 3

BAB II

PROSES KONSELING

2.1 Proses yang Digunakan

Pada SMP 14 ini untuk sampai melakukan suatu proses konseling dengan seorang
konselor atau pada sekolah ini lebih dikenal dengan guru BK haruslah mengikuti
beberapa tahapan dimana apabila seorang siswa mengalami masalah ataupun
menyebabkan masalah di kelas maka permasalahan tersebut akan ditindak lanjuti oleh
guru kelas terlebih dahulu, namun apabila tidak dapat teratasi maka siswa akan diopor
kepada wali kelas, jika pada wali kelaspun permasalahan siswa belum dapat teratasi
maka barulah siswa yang bersangkutan diopor kepada guru BK sehingga guru BK
akan langsung memanggil siswa yang bermasalah ke ruangan BK. Dan guru BK
langsung menanyakan permasalahan siswa tersebut. Masalah yang dihadapinya apa,
yang kemudian diberikan saran yang dianggap tepat dalam menyelesaikan masalah
kepada siswa tersebut, namun tetap keputusan berada pada pilihan siswa tersebut
apakah ia akan terus berperilaku demikian ataupun ia akan mulai merubah
perilakunya.

Proses yang tampak digunakan oleh Ibu Ulfa selaku konselor sekaligus guru BK
di SMP 14 ini terlihat dari adanya proses exploration dimana siswa yang melakukan
konseling diminta untuk menceritakan semua yang ia rasakan dan menceritakan apa
yang terjadi terhadap dirinya, serta hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan yang
sedang siswa tersebut alami. Kemudian proses yang tampak selanjutnya yaitu adanya
understanding dimana ibu Ulfa menjelaskan terhadap siswa tersebut mengapa serta
bagaimana permasalahan tersebut dapat terjadi berdasarkan apa yang telas dicerikan
oleh siswa tersebut sebelumnya.

2.2 Faktor yang Mendukung Proses Konseling

Faktor yang mempengaruhi jalannya konseling di SMP 14 ini yaitu belum adanya
struktur yang jelas dalam penjadwalan konseling, berdasarkan keterangan yang
disampaikan oleh ibu Ulfa proses konseling baru akan berjalan apabila siswa
menimbulkan atau terlibat dalam suatu masalah atau siswa tersebut suka rela datang
langsung kepada konselor. Sehingga untuk jadwal konseling itu sendiri tidak dapat
dipastikan. Kemudian untuk setting fisik seperti ruangan untuk konseling individu
cukup memadai, namun apabila konselee sudah lebih dari satu orang maka ruangan
yang disediakan tidak lagi cukup kondusif untuk melakukan konseling.

2.3 Tipe Konselee/Klien yang sering Melakukan Konseling

Tipe konselee yang melakukan konseling terdiri dari dua tipe, yaitu yang pertama
siswa yang terpaksa, seperti yang sudah dijelaskan pada penjelasan sebelumnya
bahwa siswa yang menimbulkan atau mendapat masalah yang tidak dapat diatasi oleh
guru kelas serta wali kelasnya barulah mereka di opor kepada guru BK guna
mendapatkan penyelesaian dari masalah yang timbul. Biasanya berdasarkan data yang
di dapat siswa yang menjalani konseling secara terpaksa ini mengalami beberapa
masalah seperti keluarga yang broken hingga salah dalam memilih pergaulan
sehingga berakibat ke aktivitas yang dilakukan sang siswa di sekolah. Kemudian tipe
yang selanjutnya yaitu siswa yang suka rela, dimana apabila sang siswa merasa
mengalami suatu masalah yang ia sendiri tidak mampu dalam memecahkan masalah
tersebut dan merasa perlu berbagi dengan seseorang yang berpengalaman di
bidangnya maka barulah sang siswa datang menghampiri guru BK untuk melakukan
konseling.

2.4 Keterampilan yang dimiliki Konselor

Keterampilan yang dimiliki oleh ibu Ulfa selaku konselor dan guru BK di SMP
14 ini yaitu mampu menyesuaikan diri, dan banyak bersabar karena banyak anak-anak
disini bermasalah namun tiba di luar tetap juga melakukan perilaku yang menyimpang,
sehingga perlu meredam emosi agar mampu mengendalikan anak.

Mampu menyeimbangkan komunikasi verbal serta komunikasi non verbal seperti


halnya setiap kali siswa yang bercerita ibu Ulfa selalu menyimak serta berkemauan
untuk memahami permasalahan yang dialami oleh sang siswa. Sehingga tidak
munculnya kesalah pahaman nantinya baik pada siswa yang bersangkutan maupun
pada ibu Ulfa nantinya. Kemudian keterampilan yang dimiliki ibu Ulfa yaitu
memberikan umpan balik dimana setiap penyampaian siswa yang memungkinkan
akan diberikan respon serta saran yang membangun sehingga siswa tersebut merasa
dirinya tidak menyesal dengan telah menceritakan seluruh permasalahannya. Dan
keterampilan yang paling penting yang dimiliki oleh ibu Ulfa yaitu dengan menjaga
azas kerahasiaan dari apa yang telah terjadi serta apa yang telah diceritakan oleh sang
anak, sehingga munculnya rasa percaya yang dalam dari sang anak bahwa masih
adanya orang yang dapat ia percaya dalam menjaga rahasia yang ia miliki.

2.5 Pendekatan yang Digunakan

Pendekatan yang digunakan oleh ibu Ulfa dalam proses konseling di SMP 14 ini
yaitu bergantung pada masalah yang dialami oleh siswanya, jika masalah tersebut
masih dianggap ringan dimana tidak terlalu mengaitkan banyak pihak maka siswa
tersebut cukup diajak bercerita saja, dengan menjadikan suasana di ruangan santai,
bagaimana agar siswa yang bermasalah mau bercerita dan menganggap bahwa ibu
Ulfa ini seperti temannya sendiri sehingga siswa tersebut dapat merasa nyaman dalam
mencurahkan pikirannya. Jika perlu juga dengan menggunakan pendekatan fisik
dimana siswa diberikan motivasi serta dorongan agar siswa tersebut bisa
menyelesaikan masalahnya, membangkitkan semangat siswa bahwa ia mampu untuk
menyelesaikannya.

Untuk setiap permasalahan Ibu Ulfa akan terlebih dahulu mencari tahu
bagaimana inti permasalahan yang sebenarnya dari beberapa pihak kemudian barulah
menyesuaikan dengan apa yang disampaikan dari siswa tadi. Jika masalahnya berat
atau permasalahan tersebut terus berulang tanpa adanya perubahan dari siswa tersebut,
dimana permasalahan tersebut tidak lagi hanya bisa diselesaikan dengan guru BK,
maka guru BK akan memanggil kedua orangtua siswa ke sekolah, di ajak untuk
bekerja sama mengawasi anak dan memberikan perhatian yang intensif.