Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia termasuk negara yang memasuki era penduduk berstruktur
lanjut usia (aging structured population) karena jumlah penduduk yang berusia 60
tahun ke atas sekitar 7,18%. Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional
(BAPPENAS) memperkirakan pada 2025, lebih dari seperlima penduduk
Indonesia adalah orang lanjut usia. Lansia merupakan kelompok penduduk yang
menjadi fokus perhatian para ilmuwan, masyarakat, dan pemerintah karena
membawa berbagai permasalahan yang harus diantisipasi dan dicarikan jalan
keluarnya, termasuk bidang kesehatan.
Hipertensi merupakan penyakit yang hampir diderita sekitar 25%
penduduk dunia dewasa. Prevalensi hipertensi diprediksi meningkat 60% pada
tahun 2025, yaitu sekitar 1,56 juta orang penderita. Hal ini merupakan faktor
risiko dari penyakit kardiovaskuler dan bertanggung jawab terhadap kebanyakan
kematian di dunia. Hipertensi primer atau yang dikenal dengan hipertensi
essensial atau idiopatik merupakan kasus hipertensi terbanyak, yaitu sekitar 95%
dari kejadian hipertensi secara keseluruhan.
Berdasarkan penelitian WHO-Comunity Study of the Elderly Central Java
menemukan bahwa hipertensi dan penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit
kedua terbanyak yang diderita lansia setelah artritis, yaitu sebesar 15,2% dari
1203 sampel. Insidensi hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia, dengan
50 % hingga 60 % dari orang berusia 60 tahun memiliki tekanan darah di atas 140
atau 90 mmHg. Sekitar 60 % dari semua kematian prematur diakibatkan oleh
hipertensi terjadi di antara pasien dengan hipertensi ringan (Fisher & Gordon,
2005).
Makin meningkatnya harapan hidup makin kompleks penyakit yang
diderita oleh orang lanjut usia, termasuk lebih sering terserang hipertensi.
Hipertensi pada lanjut usia sebagian besar merupakan hipertensi sistolik
Keperawatan Gerontik | 1
terisolasi (HST) dan pada umumnya merupakan hipertensi primer. Adanya
hipertensi, baik HST maupun kombinasi sistolik dan diastolik merupakan
faktor risiko morbiditas dan mortalitas untuk orang lanjut usia. Hipertensi
masih merupakan faktor risiko utama untuk stroke, gagal jantung dan
penyakit koroner, dimana peranannya diperkirakan lebih besar dibandingkan
pada orang yang lebih muda.
Hipertensi merupakan faktor risiko penyakit stroke, infark miokard, gagal
ginjal, gagal jantung, atherosklerosis progresif, dan demensia. Tekanan sistolik
adalah prediktor yang lebih kuat daripada tekanan diastole terhadap kejadian
penyakit kardiovaskular dan hipertensi sistolik, yang sering ditemukan pada orang
tua itu berbahaya.
Berbagai faktor yang berhubungan dengan hipertensi pada usia lanjut dari
faktor risiko yang dapat dimodifikasi seperti stres, obesitas, nutrisi serta gaya
hidup; serta faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi seperti genetik, usia, jenis
kelamin dan etnis. Penelitian yang sudah ada mengenai faktor-faktor risiko
hipertensi grade II pada masyarakat.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa definisi dari hipertensi?
2. Bagaimana epidemiologi dari hipertensi?
3. Apa etiologi dari hipertensi?
4. Bagaimana patofisiologi pada hipertensi?
5. Apa saja tanda dan gejala yang terjadi pada hipertensi?
6. Bagaimana diagnosis hipertensi?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang pada penderita hipertensi?
8. Bagaimana penatalaksanaan hipertensi pada penderita lanjut usia?
9. Apa saja peran perawat bagi lanjut usia dengan hipertensi?
10. Bagaimana asuhan keperawatan pada penderita hipertensi?

Keperawatan Gerontik | 2
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui definisi dari hipertensi
2. Mengetahui dan mengerti epidemiologi dari hipertensi
3. Mengetahui dan mengerti etiologi dari hipertensi
4. Memahami patofisiologi pada hipertensi
5. Mengetahui tanda dan gejala yang terjadi pada hipertensi
6. Memahami diagnosis hipertensi
7. Mengetahui apa saja pemeriksaan penunjang pada penderita hipertensi
8. Memahami penatalaksanaan hipertensi pada penderita lanjut usia
9. Mengetahui peran perawat bagi lanjut usia dengan hipertensi
10. Mengetahui dan memahami asuhan keperawatan pada penderita hipertensi

Keperawatan Gerontik | 3
BAB II
ISI

A. Definisi
Definisi hipertensi tidak berubah sesuai dengan umur: tekanan darah
sistolik (TDS) > 140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik (TDD) > 90 mmHg.
The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and
treatment of High Bloodpressure (JNC VI) dan WHO/lnternational Society of
Hypertension Guidelines Subcommittees setuju bahwa TDS & keduanya
digunakan untuk klasifikasi hipertensi. Hipertensi sistol diastolik didiagnosis bila
TDS ≥ 140 mmhg dan TDD ≥ 90 mmHg. Hipertensi sistolik terisolasi (HST)
adalah bila TDS ≥ 140 mmHg dengan TDD < 90 mmHg.
Definisi hipertensi menurut WHO dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Definisi dan klasifikasi tingkat tekanan darah (mmHg).
Kategori Sistolik Diastolik
Optimal <120 <80
Normal < 130 < 85
Normal-tinggi 130-139 85-89
Hipertensi derajat 1 (ringan) 140-159 90-99
Subkelompok : boderline 140 - 149 90-94
Hipertensi derajat 2 (sedang) 160-179 100-109
Hipertensi derajat 3 (berat) ≥180 ≥110
Hipertensi sistolik terisolasi ≥140 < 90
Subkelompok : boderline 140 – 149 < 90
*Jika tekanan darah sistolik dan diastolik berbeda kategori, dipakai kategori yang
lebih tinggi.

Keperawatan Gerontik | 4
Tabel 2. Klasifikasi hipertensi menurut JNC VII dan JNC VI
JNC 7 JNC 6 Tekanan darah Dan/atau Tekanan darah
Kategori tekanan darah Kategori tekanan darah Sistolik (mmHg) diastolik
(mmHg)

Normal Optimal < 120 Dan <80


Prehipertensi 120-139 Atau 80-89
- Normal <130 Dan <85
- Normal-Tinggi 130-139 Atau 85-89
Hipertensi Hipertensi
Derajat 1 Derajat 1 140-159 Atau 90-99
Derajat 2 >/=160 Atau >/=100
Derajat 2 160-179 Atau 100-109
Derajat 3 >/=180 Atau >/=110

B. Epidemiologi
Walaupun peningkatan tekanan darah bukan merupakan bagian normal
dari ketuaan, insiden hipertensi pada lanjut usia adalah tinggi. Setelah umur 69
tahun, prevalensi hipertensi meningkat sampai 50%. Pada tahun 1988-1991
National Health and Nutrition Examination Survey menemukan prevalensi
hipertensi pada kelompok umur 65-74 tahun sebagai berikut: prevalensi
keseluruhan 49,6% untuk hipertensi derajat 1 (140-159/90-99 mmHg), 18,2%
untuk hipertensi derajat 2 (160-179/100-109 mmHg), dan 6.5% untuk hipertensi
derajat 3 (>180/110 mmHg).
Prevalensi HST adalah sekitar berturut-turut 7%, 11%, 18% dan 25%
pada kelompok umur 60-69, 70-79, 80-89, dan diatas 90 tahun. HST lebih sering
ditemukan pada perempuan dari pada laki-laki. Pada penelitian di Rotterdam,
Belanda ditemukan: dari 7983 penduduk berusia diatas 55 tahun, prevalensi
hipertensi (≥160/95 mmHg) meningkat sesuai dengan umur, lebih tinggi pada
perempuan (39%) daripada laki-laki (31%). Di Asia, penelitian di kota Tainan,
Taiwan menunjukkan hasil sebagai berikut: penelitian pada usia di atas 65 tahun
Keperawatan Gerontik | 5
dengan kriteria hipertensi berdasarkan JNVC, ditemukan prevalensi hipertensi
sebesar 60,4% (laki-laki 59,1% dan perempuan 61,9%), yang sebelumnya telah
terdiagnosis hipertensi adalah 31,1% (laki-laki 29,4% dan perempuan 33,1%),
hipertensi yang baru terdiagnosis adalah 29,3% (laki-laki 29,7% dan perempuan
28,8%). Pada kelompok ini, adanya riwayat keluarga dengan hipertensi dan
tingginya indeks massa tubuh merupakan faktor risiko hipertensi.
Diketahui bahwa hipertensi sebagai faktor risiko pada lanjut usia. Pada
studi individu dengan usia 50 tahun mempunyai tekanan darah sistolik terisolasi
sangat rentan terhadap kejadian penyakit kardiovaskuler.

C. Etiologi
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya
perubahan perubahan pada:
1. Elastisitas dinding aorta menurun
2. Katup jantung menebal dan menjadi kaku
3. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah
berumur 20 tahun. Kemampuan jantung memompa darah menurun
menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
4. Kehilangan elastisitas pembuluh darah
Hal ini terjadi karena kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk
oksigenasi, meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.
Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya,
data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan
terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut :
1. Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan
lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita
hipertensi
2. Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah:
a. Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat )
Keperawatan Gerontik | 6
b. Jenis kelamin (laki-laki lebih tinggi dari perempuan )
c. Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah :
 Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr )
 Kegemukan atau makan berlebihan
 Stress
 Merokok
 Minum alkohol
 Minum obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin )
Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah :
1. Ginjal: Glomerulonefritis, Pielonefritis, Nekrosis tubular akut dan Tumor.
2. Vaskuler: Aterosklerosis, Hiperplasia, Trombosis, Aneurisma, Emboli
kolestrol, dan Vaskulitis.
3. Kelainan endokrin: DM, Hipertiroidisme, Hipotiroidismed
4. Saraf: Stroke, Ensepaliti.
5. Obat - obatan: Kontrasepsi oral, Kortikosteroid

D. Patofisiologi
Baik TDS maupun TDD meningkat sesuai dengan meningkatnya umur.
TDS meningkat secara progresif sampai umur 70-80 tahun, sedangkan TDD
meningkat sampai umur 50-60 tahun dan kemudian cenderung menetap atau
sedikit menurun. Kombinasi perubahan ini sangat mungkin mencerminkan
adanya pengakuan pembuluh darah`dan penurunan kelenturan (compliance) arteri
dan ini mengakibatkan peningkatan tekanan nadi sesuai dengan umur. Seperti
diketahui, tekanan nadi merupakan prediktor terbaik dari adanya perubahan
struktural di dalam arteri. Mekanisme pasti hipertensi pada lanjut usia belum
sepenuhnya jelas. Efek utama dari ketuaan normal terhadap sistem kardiovaskuler
meliputi perubahan aorta dan pembuluh darah sistemik. Penebalan dinding aorta
dan pembuluh darah besar meningkat dan elastisitas pembuluh darah menurun
sesuai umur. Perubahan ini menyebabkan penurunan compliance aorta dan
pembuluh darah besar dan mengakibatkan peningkatan TDS. Penurunan elastisitas
Keperawatan Gerontik | 7
pembuluh darah menyebabkan peningkatan resistensi vaskuler perifer.
Sensitivitas baroreseptor juga berubah dengan umur.
Perubahan mekanisme refleks baroreseptor mungkin dapat menerangkan
adanya variabilitas tekanan darah yang terlihat pada pemantauan terus menerus.
Penurunan sensitivitas baroreseptor juga menyebabkan kegagalan refleks
postural, yang mengakibatkan hipertensi pada lanjut usia sering terjadi hipotensi
ortostatik. Perubahan keseimbangan antara vasodilatasi adrenergik-β dan
vasokonstriksi adrenergik-α akan menyebabkan kecenderungan vasokontriksi dan
selanjutnya mengakibatkan peningkatan resistensi pembuluh darah perifer dan
tekanan darah. Resistensi Na akibat peningkatan asupan dan penurunan sekresi
juga berperan dalam terjadinya hipertensi. Walaupun ditemukan penurunan renin
plasma dan respons renin terhadap asupan garam, sistem renin-angiotensin tidak
mempunyai peranan utama pada hipertensi pada lanjut usia. Perubahan-
perubahan di atas bertanggung jawab terhadap penurunan curah jantung (cardiac
output), penurunan denyut jantung, penurunan kontraktilitas miokard, hipertrofi
ventrikel kiri, dan disfungsi diastolik. Ini menyebabkan penurunan fungsi ginjal
dengan penurunan perfusi ginjal dan laju filtrasi glomerulus.
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak dipusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor ini
bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar
dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen.
Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke
bawah melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron
preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca
ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin
mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan
ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang
vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin,
meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah

Keperawatan Gerontik | 8
sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan
tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang
menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid
lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah.
Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan
pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian
diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya
merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan
retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume
intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan struktural
dan fungsional pada sistem pembuluh perifer bertanggung jawab pada perubahan
tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi
aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi
otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan
distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar
berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa
oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan
peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001). Pada usia lanjut perlu diperhatikan
kemungkinan adanya “hipertensi palsu” disebabkan kekakuan arteri brachialis
sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer (Darmojo, 1999).

Keperawatan Gerontik | 9
E. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :
1. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan
peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang
memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika
tekanan arteri tidak terukur.

Keperawatan Gerontik | 10
2. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi
nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim
yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.
Menurut Rokhaeni (2001), manifestasi klinis beberapa pasien yang
menderita hipertensi yaitu: mengeluh sakit kepala, pusing, lemas, kelelahan, sesak
nafas, gelisah, mual muntah, epistaksis, kesadaran menurun.

F. Diagnosis Hipertensi
Pada semua umur, diagnosis hipertensi memerlukan pengukuran berulang
dalam keadaan istirahat, tanpa ansietas, kopi, alkohol, atau merokok. Namun
demikian, salah diagnosis lebih sering terjadi pada lanjut usia, terutama
perempuan, akibat beberapa faktor seperti berikut. Panjang cuff mungkin tidak
cukup untuk orang gemuk atau berlebihan atau orang terlalu kurus. Penurunan
sensitivitas refleks baroreseptor sering menyebabkan fluktuasi tekanan darah dan
hipotensi postural. Fluktuasi akibat ketegangan (hipertensi jas putih = white coat
hypertension) & latihan fisik juga lebih sering pada lanjut usia. Arteri yang kaku
akibat arterosklerosis menyebabkan tekanan darah terukur lebih tinggi. Kesulitan
pengukuran tekanan darah dapat diatasi dengan cara pengukuran ambulatory.
Bulpitt et al. menganjurkan bahwa sebelum menegakkan diagnosis hipertensi
pada lanjut usia, hendaknya paling sedikit dilakukan pemeriksaan di klinik
sebanyak tiga kali dalam waktu yang berbeda dalam beberapa minggu.
Gejala HTS yang sering ditemukan pada lanjut seperti ditemukan pada the
SYST-EUR trial adalah: 25% dari 437 perempuan dan 21% dari 204 laki-laki
menunjukkan keluhan. Gejala yang menonjol yang ditemukan pada penderita
perempuan dibandingkan penderita laki-laki adalah nyeri sendi tangan (35% pada
perempuan vs. 22% pada laki-laki), berdebar (33% vs. 17%), mata kering (16%
vs. 6%), penglihatan kabur (35% vs. 23%), kram pada tungkai (43% vs. 31 %),
nyeri tenggorok (15% vs. 7%), Nokturia merupakan gejala tersering pada kedua
jenis kelamin, 68%.

Keperawatan Gerontik | 11
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Hemoglobin / hematocrit
Untuk mengkaji hubungan dari sel - sel terhadap volume cairan (viskositas)
dan dapat mengindikasikan faktor - faktor risiko seperti hiperkoagulabilitas,
anemia.
2. BUN: memberikan informasi tentang perfusi ginjal
3. Glukosa
Hiperglikemi (diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan
oleh peningkatan katekolamin (meningkatkan hipertensi)
4. Kalsium serum
Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi
5. Kolesterol dan trigliserid serum
Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk/adanya
pembentukan plak ateromatosa (efek kardiovaskuler)
6. Pemeriksaan tiroid
Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi
7. Urinalisa
Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya
diabetes.
8. Asam urat
Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi
Steroid urin
9. Foto dada
Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran jantung
10. CT scan
Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati
11. EKG
Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan konduksi,
peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung
hipertensi.

Keperawatan Gerontik | 12
H. Penatalaksanaan Hipertensi pada Penderita Lanjut Usia
Banyak penelitian menunjukkan bahwa pentingnya terapi hipertensi pada
lanjut usia; dimana terjadi penurunan morbiditas dan mortalitas akibat penyakit
kardiovaskuler dan serebrovaskuler. Sebelum diberikan pengobatan, pemeriksaan
tekanan darah pada lanjut usia hendaknya dengan perhatian khusus, mengingat
beberapa orang lanjut usia menunjukkan pseudohipertensi (pembacaan
spigmomanometer tinggi palsu) akibat kekakuan pembuluh darah yang berat.
Khususnya pada perempuan sering ditemukan hipertensi jas putih dan sangat
bervariasinya TDS.
1. Sasaran tekanan darah
Pada hipertensi lanjut usia, penurunan TDD hendaknya
mempertimbangkan aliran darah ke otak, jantung dan ginjal. Sasaran yang
diajukan pada JNCVI dimana pengendalian tekanan darah (TDS < 140 mmHg dan
TDD < 90mmHg) tampaknya terlalu ketat untuk penderita lanjut usia. Sys-Eur
trial merekomendasikan penurunan TDS < 160 mmHg sebagai sasaran
intermediet tekanan darah, atau penurunan sebanyak 20 mmHg dari tekanan darah
awal.
2. Modifikasi pola hidup
Mengubah pola hidup/intervensi nonfarmakologis pada penderita
hipertensi lanjut usia, seperti halnya pada semua penderita, sangat menguntungkan
untuk menurunkan tekanan darah. Beberapa pola hidup yang harus diperbaiki
adalah: menurunkan berat badan jika ada kegemukan, mengurangi minum
alkohol, meningkatkan aktivitas fisik aerobik, mengurangi asupan garam,
mempertahankan asupan kalium yang adekuat, mempertahankan asupan kalsium
dan magnesium yang adekuat, menghentikan merokok, mengurangi asupan lemak
jenuh dan kolesterol. Seperti halnya pada orang yang lebih muda, intervensi
nonfarmakologis ini harus dimulai sebelum menggunakan obat-obatan.
3. Terapi farmakologis
Umur dan adanya penyakit merupakan faktor yang akan mempengaruhi
metabolisme dan distribusi obat, karenanya harus dipertimbangkan dalam

Keperawatan Gerontik | 13
memberikan obat antihipertensi. Hendaknya pemberian obat dimulai dengan dosis
kecil dan kemudian ditingkatkan secara perlahan. Menurut JNC V pilihan
pertama untuk pengobatan pada penderita hipertensi lanjut usia adalah diuretic
atau penyekat beta. Pada HST, direkomendasikan penggunaan diuretic dan
antagonis kalsium. Antagonis kalsium nikardipin dan diuretic tiazid sama dalam
menurunkan angka kejadian kardiovaskuler. Adanya penyakit penyerta lainnya
akan menjadi pertimbangan dalam pemilihan obat antihipertensi. Pada penderita
dengan penyakit jantung koroner, penyekat beta mungkin sangat bermanfaat;
namun demikian terbatas penggunaannya pada keadaan-keadaan seperti penyakit
arteri tepi, gagal jantung/ kelainan bronkus obstruktif. Pada penderita hipertensi
dengan gangguan fungsi jantung dan gagal jantung kongestif, diuretik,
penghambat ACE (angiotensin convening enzyme) atau kombinasi keduanya
merupakan ptlihan terbaik.
Obat-obatan yang menyebabkan perubahan tekanan darah postural
(penyekat adrenergik perifer, penyekat alfa dan diuretik dosis tinggi) atau obat-
obatan yang dapat menyebabkan disfungsi kognitif (agonis α 2 sentral) harus
diberikan dengan hati-hati. Karena pada lanjut usia sering ditemukan penyakit lain
dan pemberian lebih dari satu jenis obat, maka perlu diperhatikan adanya interaksi
obat antara antihipertensi dengan obat lainnya. Obat yang potensial memberikan
efek antihipertensi misalnya: obat anti psikotik terutama fenotiazin, antidepresan
khususnya trisiklik, L-dopa, benzodiapezin, baklofen dan alkohol. Obat yang
memberikan efek antagonis antihipertensi adalah: kortikosteroid dan obat
antiinflamasi nonsteroid. Interaksi yang menyebabkan toksisitas adalah:
1. Tiazid: teofilin meningkatkan risiko hipokalemia, lithium risiko toksisitas
meningkat, karbamazepin risiko hiponatremia menurun.
2. Penyekat beta: verapamil menyebabkan bradikardia, asistole, hipotensi, gagal
jantung; digoksin memperberat bradikardia, obat hipoglikemik oral
meningkatkan efek hipoglikemia, menutupi tanda peringatan hipoglikemia.

Keperawatan Gerontik | 14
Dosis beberapa obat diuretik penyekat beta, penghambat ACE, penyekat
kanal kalsium, dan penyakat alfa yang dianjurkan pada penderita hipertensi pada
lanjut usia adalah sebagai berikut:
1. Dosis obat-obat diuretic (mg/hari) msialnya, bendrofluazid 1,25-2,5,
klortiazid 500-100, klortalidon 25-50, hidroklortiazid 12,5-25, dan indapamid
SR 1,5.
2. Dosis obat-oabat penyekat beta yang direkomendasikan adalah asebutolol 400
mg sekali atau dua kali sehari, atenolol 50 mg sekali sehari, bisoprolol 10-20
mg sekali sehari, celiprolol 200-400 mg sekali sehari, metoprolol 100-2000
mg sekali sehari, oksprenolol 180-120 mg dua kali sehari, dan pindolol 15-45
mg sekali sehari.
3. Dosis obat-obat penghambat ACE yang direkomendasikan adalah kaptopril
6,25-50 mg tiga kali sehari, lisinopril 2,5-40 mg sekali sehari, perindropil 2-8
mg sekali sehari, quinapril 2,5-40 mg sekali sehari, ramipril 1,25-10 mg
sekali sehari.
4. Dosis obat-obat penyakat kanal kalsium yang dianjurkan adalah amlodipin 5-
10 mg sekali sehari, diltiazem 200 mg sekali sehari, felodipin 5-20 mg sekali
sehari, nikardipin 30 mg dua kali sehari, nifedipin 30-60 mg sekali sehari,
verapamil 120-240 mg dua kali sehari.
5. Dosis obat-obat penyakat alfa yang dianjurkan adalah doksazosin 1-16 mg
sekali sehari, dan prazosin 0,5 mg sehari sampai 10 mg dua kali sehari.

I. Peran Perawat
Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain
terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam, suatu system. Peran dipengaruhi
oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran
adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasi sosial
tertentu. (Kozier Barbara, 1995:21).
Peran perawat yang dimaksud adalah cara untuk menyatakan aktifitas
perawat dalam praktik, dimana telah menyelesaikan pendidikan formalnya yang

Keperawatan Gerontik | 15
diakui dan diberi kewenangan oleh pemerintah untuk menjalankan tugas dan
tanggung keperawatan secara professional sesuai dengan kode etik professional.
Dalam praktiknya keperawatan gerontik meliputi peran dan fungsinya
sebagai berikut:
1. Sebagai Care Giver /Pemberi Asuhan Langsung
Memberikan asuhan keperawatan kepada lansia yang meliputi intervensi/
tindakan keperawatan, observasi, pendidikan kesehatan, dan menjalankan
tindakan medis sesuai dengan pendelegasian yang diberikan.
2. Sebagai Pendidik Klien Lansia
Sebagai pendidik, perawat membantu lansia meningkatkan kesehatannya
malalui pemberian pengetahuan yang terkait dengan keperawatan dan tindakan
medic yang diterima sehingga klien/ keluarga dapat menerima tanggung jawab
terhadap hal-hal yang diketahuinya. Sebagai pendidik, perawat juga dapat
memberikan pendidikan kesehatan kepada kelompok keluarga yang beresiko
tinggi, kadar kesehatan, dan lain sebagainya.
3. Sebagai Motivator
Sebagai motivator, perawat memberikan motivasi kepada lansia.
4. Sebagai Advokasi
Sebagai advokat klien, perawat berfungsi sebagai penghubung antar klien
dengan tim kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan klien, membela
kepentingan klien dan membantu klien memahami semua informasi dan upeya
kesehatan yang diberikan oleh tim kesehatan dengan pendekatan tradisional
maupun professional. Peran advokasi sekaligus mengharuskan perawat bertindak
sebagai narasumber dan fasilitator dalam tahap pengambilan keputusan terhadap
upaya kesehatan yang harus dijalani oleh klien. Dalam menjalankan peran
sebagai advokat, perawat harus dapat melindungi dan memfasilitasi keluarga dan
masyarakat dalam pelayanan keperawatan.
5. Sebagai Konselor
Memberikan konseling/ bimbingan kepada lansia, keluarga dan masyarakat
tentang masalah kesehatan sesuai prioritas. Konseling diberikan kepada individu/

Keperawatan Gerontik | 16
keluarga dalam mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan penglaman yang
lalu, pemecahan masalah difokuskan pada masalah keperawatan, mengubah
perilaku hidup ke arah perilaku hidup sehat.

J. Asuhan Keperawatan
Pengkajian
a. Aktivitas
1) Gejala: kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.
2) Tanda: frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea.
b. Sirkulasi
1) Gejala: Riwayat Hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup
dan penyakit cebrovaskuler, episode palpitasi.
2) Tanda: Kenaikan TD, nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis, radialis,
takikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis, kulit pucat,
sianosis, suhu dingin (vasokontriksi perifer) pengisian kapiler mungkin
lambat/ tertunda.
c. Integritas Ego
1) Gejala: Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, factor stress multiple
(hubungan,keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan.
2) Tanda: Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan perhatian, tangisan
meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan pola bicara.
d. Eliminasi
Gejala: Gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau riwayat penyakit
ginjal pada masa yang lalu).
e. Makanan/cairan
1) Gejala: Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam,
lemak serta kolesterol, mual, muntah dan perubahan BB akhir akhir ini
(meningkat/turun), riwayat penggunaan diuretik.
2) Tanda: Berat badan normal atau obesitas, adanya edema, glikosuria.
f. Neurosensori

Keperawatan Gerontik | 17
1) Gejala: Keluhan pening pening/pusing, berdenyut, sakit kepala,
suboksipital (terjadi saat bangun dan menghilangkan secara spontan
setelah beberapa jam), gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan
kabur,epistakis).
2) Tanda: Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara,
efek, proses pikir, penurunan kekuatan genggaman tangan.
g. Nyeri/ ketidaknyaman
Gejala: Angina (penyakit arteri koroner/ keterlibatan jantung), sakit kepala.
h. Pernafasan
1) Gejala: Dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja takipnea, ortopnea,
dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok.
2) Tanda: Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori pernafasan bunyi
nafas tambahan(krakties/mengi), sianosis.
i. Keamanan
Gejala: Gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural.

Diagnosis Keperawatan
a. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pemaparan informasi,
misinterpretasi informasi.
b. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan frekuensi dan irama
denyut jantung, perubahan preload, perubahan afterload, perubahan
kontraktilitas.
c. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum,
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
d. Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake berlebih.
e. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan, krisis
situasional.
f. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan kurang
pengetahuan tentang faktor risiko, diabetes mellitus, hipertensi, merokok.

Keperawatan Gerontik | 18
g. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri
h. Kurang perawatan diri (mandi, berpakaian, makan, toileting) berhubungan
dengan kelemahan, kelelahan.
i. Risiko penurunan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan hipertensi.
j. Risiko penurunan perfusi jaringan ginjal berhubungan dengan diabetes
mellitus, hiperlipidemia, hipertensi, merokok.
k. Risiko penurunan perfusi jaringan jantung berhubungan dengan diabetes
mellitus, penyalahgunaan obat, hipertensi, kurang pengetahuan tentang faktor
risiko.

NANDA NOC NIC


Kurang pengetahuan Kowledge: Health Teaching: Prescribed
berhubungan dengan Behavior Activity/Exercise
kurangnya  Informasikan pasien tujuan
dan keuntungan
pemaparan
aktivitas/latihan
informasi,  Instruksikan pasien untuk
melakukan
misinterpretasi
aktivitas/latihan
informasi  Instruksikan pasien untuk
memonitor toleransi
aktivitas/latihan
 Instruksikan pasien
memelihara aktivitas
latihan
 Informasikan pasien
tentang aktivitas sesuai
kondisi fisik
 Instruksikan pasien metode
konservasi energi
 Instruksikan pasien pada
postur dan mekanika tubuh
yang tepat
 Observasi pasien saat
melakukan
aktivitas/latihan
 Bantu pasien untuk
menentukan periode
aktivitas dan istirahat
 Kolaborasi dengan terapis
Keperawatan Gerontik | 19
fisik
 Ikut sertakan keluarga
dalam pelaksanaan

Teaching: Prescribed Diet


 Kaji pengetahuan klien
tentang diet yang
dianjurkan
 Jelaskan tujuan diet yang
diprogramkan
 Instruksikan pasien tentang
cara untuk menjaga makan
harian yang dianjurkan
 Bantu pasien untuk
mengakomodasi makanan
yang dianjurkan
 Informasikan pasien
tentang interaksi obat
dengan makanan
 Instruksikan pasien tentang
cara merencanakan menu
yang ditetapkan
 Kolaborasi dengan ahli
gizi
 Ikut sertakan keluarga
dalam pelaksanaan

Teaching: Prescribed
Medication
 Kaji ulang pengetahuan
pasien tentang pengobatan
 Ajarkan pasien mengenai
dosis, rute, dan durasi
pengobatan
 Ajarkan pasien mengenai
tujuan pengobatan

Penurunan curah  Cardiac Pump Cardiac Care


jantung berhubungan Effectiveness  Evaluasi adanya nyeri
 Vital Sign dada (intensitas,lokasi,
dengan perubahan durasi)
frekuensi dan irama  Catat adanya disritmia
jantung
denyut jantung,  Catat adanya tanda dan
perubahan preload, gejala penurunan cardiac
output
perubahan afterload,  Monitor status
kardiovaskuler
Keperawatan Gerontik | 20
perubahan  Monitor status pernapasan
yang menandakan gagal
kontraktilitas
jantung
 Monitor abdomen sebagai
indikator penurunan
perfusi
 Monitor keseimbangan
cairan
 Monitor adanya
perubahan tekanan darah
 Monitor respon pasien
terhadap efek pengobatan
antiaritmia
 Atur periode latihan dan
istirahat untuk
menghindari kelelahan
 Monitor toleransi aktivitas
pasien
 Monitor adanya dyspneu,
fatigue, takipneu dan
ortopneu
 Anjurkan untuk
menurunkan stress

Vital Sign Monitoring


 Monitor TD, nadi, suhu,
dan RR
 Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
 Monitor VS saat pasien
berbaring, duduk, atau
berdiri
 Auskultasi TD pada kedua
lengan dan bandingkan
 Monitor TD, nadi, RR,
sebelum, selama, dan
setelah aktivitas
 Monitor kualitas dari nadi
 Monitor adanya pulsus
paradoksus
 Monitor adanya pulsus
alterans
 Monitor jumlah dan irama
jantung
 Monitor bunyi jantung
 Monitor frekuensi dan
irama pernapasan
 Monitor suara paru
 Monitor pola pernapasan

Keperawatan Gerontik | 21
abnormal
 Monitor suhu, warna, dan
kelembaban kulit
 Monitor sianosis perifer
 Monitor adanya cushing
triad (tekanan nadi yang
melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
 Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign
Intoleransi aktifitas  Energy Conservation Energy Management
 Self Care: ADLs  Observasi adanya
berhubungan dengan
pembatasan klien dalam
kelemahan umum, melakukan aktivitas
ketidakseimbangan  Dorong anak untuk
mengungkapkan perasaan
antara suplai dan terhadap keterbatasan
kebutuhan oksigen  Kaji adanya faktor yang
menyebabkan kelelahan
 Monitor nutrisi dan
sumber energi yang
adekuat
 Monitor pasien akan
adanya kelelahan fisik dan
emosi secara berlebihan
 Monitor respon
kardivaskuler terhadap
aktivitas
 Monitor pola tidur dan
lamanya tidur/istirahat
pasien

Activity Therapy
 Kolaborasikan dengan
Tenaga Rehabilitasi
Medik dalam
merencanakan progran
terapi yang tepat.
 Bantu klien untuk
mengidentifikasi aktivitas
yang mampu dilakukan
 Bantu untuk memilih
aktivitas konsisten
yangsesuai dengan
kemampuan fisik,
psikologi dan sosial
 Bantu untuk
mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber
Keperawatan Gerontik | 22
yang diperlukan untuk
aktivitas yang diinginkan
 Bantu untuk mendpatkan
alat bantuan aktivitas
seperti kursi roda, krek
 Bantu untuk
mengidentifikasi aktivitas
yang disukai
 Bantu klien untuk
membuat jadwal latihan di
waktu luang
 Bantu pasien/keluarga
untuk mengidentifikasi
kekurangan dalam
beraktivitas
 Sediakan penguatan
positif bagi yang aktif
beraktivitas
 Bantu pasien untuk
mengembangkan
motivasi diri dan
penguatan
 Monitor respon fisik,
emoi, sosial dan
spiritual
Nyeri akut  Pain Level Pain Management
 Pain Control  Lakukan pengkajian nyeri
berhubungan  Comfort Level secara komprehensif
dengan agen injuri termasuk lokasi,
karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas dan
faktor presipitasi
 Observasi reaksi
nonverbal dari
ketidaknyamanan
 Gunakan teknik
komunikasi terapeutik
untuk mengetahui
pengalaman nyeri pasien
 Kaji kultur yang
mempengaruhi respon
nyeri
 Evaluasi pengalaman
nyeri masa lampau
 Evaluasi bersama pasien
dan tim kesehatan lain
tentang ketidakefektifan
kontrol nyeri masa

Keperawatan Gerontik | 23
lampau
 Bantu pasien dan keluarga
untuk mencari dan
menemukan dukungan
 Kontrol lingkungan yang
dapat mempengaruhi
nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan
kebisingan
 Kurangi faktor presipitasi
nyeri
 Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi dan inter
personal)
 Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan
intervensi
 Ajarkan tentang teknik
non farmakologi
 Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
 Evaluasi keefektifan
kontrol nyeri
 Tingkatkan istirahat
 Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan
dan tindakan nyeri tidak
berhasil
 Monitor penerimaan
pasien tentang manajemen
nyeri
Ketidakseimbangan  Nutritional Status : Nutrition Management
food and Fluid Intake  Kaji adanya alergi
nutrisi lebih dari  Nutritional Status : makanan
kebutuhan tubuh Nutrient Intake  Kolaborasi dengan ahli
 Weight Control gizi untuk menentukan
berhubungan jumlah kalori dan nutrisi
yang dibutuhkan pasien.
dengan intake  Anjurkan pasien untuk
berlebih meningkatkan intake Fe
 Anjurkan pasien untuk
meningkatkan protein dan
vitamin C
 Berikan substansi gula
 Yakinkan diet yang
dimakan mengandung
tinggi serat untuk

Keperawatan Gerontik | 24
mencegah konstipasi
 Berikan makanan yang
terpilih ( sudah
dikonsultasikan dengan
ahli gizi)
 Ajarkan pasien bagaimana
membuat catatan makanan
harian.
 Monitor jumlah nutrisi
dan kandungan kalori
 Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi
 Kaji kemampuan pasien
untuk mendapatkan nutrisi
yang dibutuhkan

Weight Management
 Diskusikan bersama
pasien mengenai
hubungan antara intake
makanan, latihan,
peningkatan BB dan
penurunan BB
 Diskusikan bersama
pasien mengani kondisi
medis yang dapat
mempengaruhi BB
 Diskusikan bersama
pasien mengenai
kebiasaan, gaya hidup dan
factor herediter yang
dapat mempengaruhi BB
 Diskusikan bersama
pasien mengenai risiko
yang berhubungan dengan
BB berlebih dan
penurunan BB
 Dorong pasien untuk
merubah kebiasaan makan
 Perkirakan BB badan
ideal pasien

Weight Reduction
Assistance
 Fasilitasi keinginan
pasien untuk
menurunkan BB
 Perkirakan bersama

Keperawatan Gerontik | 25
pasien mengenai
penurunan BB
 Tentukan tujuan
penurunan BB
 Beri pujian/reward saat
pasien berhasil
mencapai tujuan
 Ajarkan pemilihan
makanan

Keperawatan Gerontik | 26
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hipertensi adalah dimana tekanan darah sistolik (TDS) > 140 mmHg
dan/atau tekanan darah diastolik (TDD) > 90 mmHg. Diketahui bahwa hipertensi
sebagai faktor risiko pada lanjut usia. Pada studi individu dengan usia 50 tahun
mempunyai tekanan darah sistolik terisolasi sangat rentan terhadap kejadian
penyakit kardiovaskuler. Hipertensi pada lansia disebabkan oleh beberapa
perubahan dan dipengaruhi oleh beberapa faktor tertentu. Penatalaksanaan
hipertensi meliputi sasaran tekanan darah, modifikasi pola hidup, terapi
farmakologis.
B. Saran
Perawat perlu memberikan perhatian lebih terhadap kasus hipertensi pada
lansia karena hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penyakit kronis yang
lain. Sering kali hipertensi dianggap sebagai hal yang biasa terjadi pada lansia.
Hal ini menuntut perawat untuk menyampaikan informasi yang tepat kepada
lansia, keluarga, dan masyarakat tentang hipertensi beserta segala aspek yang
perlu dijelaskan untuk mencegah terjadinya hipertensi pada lansia.

Keperawatan Gerontik | 27
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. Buku ajar: keperawatan medikal bedah Vol. 2, Jakarta:
EGC, 2002.

http://www.scribd.com/doc/45725767/hipertensi-pada-lansia diakses tanggal 13


Oktober 2012

http://www.scribd.com/doc/50762215/BAB-I diakses tanggal 13 Oktober 2012

Kuswardhani RAT. Penatalaksanaan hipertensi pada usia lanjut. J Peny Dalam


2006;7(2):135-140.

Marilynn E Doenges dkk. Rencana asuhan keperawatan. Jakarta: EGC, 2000.

Maryam RS, Mia FE, Rosidawati, Ahmad J, Irwan B. Mengenal usia lanjut dan
perawatannya. Jakarta: Salemba Medika, 2008.

Rachman F. Berbagai faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada


lansia (studi kasus di rumah sakit dr. Kariadi Semarang). Semarang:
Laporan Hasil Akhir Penelitian Karya Tulis Ilmiah FK Undip, 2011.

Stanley M, PG Beare. Buku ajar keperawatan gerontik edisi 2. Jakarta: EGC,


2007.

Widyasari DF, Anika C. Pengaruh pendidikan tentang hipertensi terhadap


perubahan dan sikap lansia di desa Makamhaji Kartasura Sukoharjo.
Biomedika 2007; 2 (2): 1-9.

NANDA Interbational. Nursing Diagnosis: Definition and Classification 2009-


2011. USA: Willey Blackwell Publication, 2009.

Moorhead, Sue, et al. Nursing Outcomes Classification (NOC) Fourth Edition.


USA: Mosbie Elsevier, 2008.

Bulecheck, Gloria M, et al. Nursing Intervention Classification (NIC) Fifth


Edition. USA: Mosbie Elsevier, 2008.

Keperawatan Gerontik | 28