Anda di halaman 1dari 23

BAB I

STATUS PASIEN

1.1 Identitas Pasien

Nama : Tn. N

Umur : 70 tahun

Alamat : Jl. Pagar Alam Gg. Surya Lk.1 Langkapura,


Bandar Lampung

Agama : Islam

Pekerjaan : Wiraswasta

Status : Menikah

Tanggal Masuk : 5 Maret 2018

Tanggal Anamnesis : 8 Maret 2018

Pasien : Bangsal Saraf

1.2 Riwayat Perjalanan Penyakit

Anamnesis : Autoanamnesis dan alloanamnesis

Keluhan Utama : Kelemahan anggota gerak sebelah kiri sejak 3 jam


sebelum masuk rumah sakit.

Riwayat Penyakit Sekarang

3 jam sebelum masuk rumah sakit saat pasien sedang duduk tiba-tiba
pasien mengalami kelemahan pada anggota gerak sebelah kiri tidak bisa
diangkat dan digerakkan sehingga pasien sempat jatuh terduduk
setelahnya. Sebelumnya pasien merasakan nyeri kepala. Setelah kejadian
tersebut pasien masih dapat berkomunikasi namun sedikit pelo. Keluhan
lain berupa mual dan terasa sesak dan kemudian pasien dibawa berobat ke
klinik setempat dan kemudian pasien di rujuk ke RS Abdul Muluk Bandar

1
Lampung untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut. Pasien memiliki
riwayat darah tinggi namun tidak rutin minum obat.

Pasien mengatakan keluhan lemas pada anggota gerak sebelah kiri


merupakan keluhan pertama. Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami
keluhan serupa. Pasien juga mengatakan tidak mengalami penurunan
kesadaran maupun keluhan berupa muntah, kejang dan pandangan kabur
disangkal. Keluhan nyeri kepala, mual dan sesak sekarang sudah tidak
dirasakan pasien.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien menderita hipertensi sejak 10 tahun yang lalu dan pasien jarang
mengonsumsi obat anti hipertensi karena tidak pernah merasakan keluhan
terkait penyakit hipertensi. Riwayat stroke sebelumnya (-).

Riwayat Penyakit Keluarga


Orang tua pasien menderita hipertensi.
Tidak ada keluarga yang memiliki keluhan sama seperti pasien.
Riwayat diabetes mellitus disangkal

Riwayat Pengobatan
Pasien saat ini tidak sedang mengonsumsi obat apapun.

Riwayat Sosio Ekonomi


Pasien memiliki kebiasaan merokok sebanyak 1 bungkus per hari.

1.3 Pemeriksaan Fisik

(Pada tanggal 5 Maret 2018)


Status Present
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
GCS : E4V5 M6 = 15

2
Vital Sign
Tekanan darah : 170/90 mmHg
Nadi : 96 x/menit,
RR : 24 x/menit
Suhu : 36,6 oC

(Pada tanggal 8 Maret 2018)


Status Present
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
GCS : E4V5 M6 = 15

Vital Sign
Tekanan darah : 140/90 mmHg
Nadi : 84 x/menit,
RR : 20 x/menit
Suhu : 36,3 oC

Status Generalis
- Kepala
Rambut : Hitam keputihan, tidak mudah dicabut
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera anikterik,
edema palpebra tidak ada
Telinga : Liang telinga lapang, serumen minimal
Hidung : Sekret (-), pernafasan cuping hidung (-),
deviasi (-), epistaksis (-)
Mulut : Kering(-), lidah putih (-), sianosis (-),
stomatitis (-)

- Leher
Pembesaran KGB : tidak terlihat dan teraba pembesaran KGB

3
Pembesaran kelenjar tiroid : tidak terlihat dan teraba pembesaran
kelenjar tiroid
Trakhea : central, deviasi (-)

- Thoraks
(Cor)
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis teraba pada ICS IV linea
midclavicula sinistra
Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : Bunyi jantung I-II reguler, murmur(-), gallop(-)

(Pulmo)
Inspeksi : Pergerakan dinding dada kanan-kiri simetris
Palpasi : Fremitus taktil kanan dan kiri sama
Perkusi : Sonor pada seluruh lapangan paru
Auskultasi : Vesikuler (+/+), wheezing (-/-), ronkhi (-/-)

- Abdomen
Inspeksi : Datar
Palpasi : Nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba
membesar
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Bising usus (+) N

- Extremitas
Superior : oedem (-/-), edema (-/-), turgor kulit baik,
CRT ≤ 2 detik
Inferior : oedem (-/-), edema (-/-), turgor kulit baik,
CRT ≤ 2 detik

4
Status Neurologis
a. Saraf Kranialis
N.Olfactorius (N.I)
Daya penciuman hidung : normal (normosmia)

N.Opticus (N.II)
Tajam penglihatan : tidak dilakukan
Lapang penglihatan : sama dengan pemeriksa (dalam batas
normal)
Tes warna : tidak dilakukan
Fundus oculi : tidak dilakukan

N.Occulomotorius, N.Trochlearis, N.Abdusen (N.III, N.IV, N.VI)


Kelopak Mata
Ptosis : (-/-)
Endophtalmus : (-/-)
Exopthalmus : (-/-)
Pupil
Ukuran : Normal
Bentuk : Bulat/Bulat
Isokor/anisokor : Isokor
Posisi : Sentral/Sentral
Refleks cahaya langsung : (+/+)
Refleks cahaya tak langsung : (+/+)
Gerakan Bola Mata
Medial : normal
Lateral : normal
Superior : normal
Inferior : normal
Obliqus superior : normal
Obliqus inferior : normal
Refleks pupil akomodasi : normal / normal
Refleks pupil konvergensi : normal / normal

5
N.Trigeminus (N.V)
Sensibilitas
Ramus oftalmikus : normal
Ramus maksilaris : normal
Ramus mandibularis : normal
Motorik
M. masseter : normal
M. temporalis : normal
M. pterygoideus : normal
Refleks
Refleks kornea : (+/+)

N.Fascialis (N.VII)
Inspeksi Wajah Sewaktu
Diam : tidak simetris
Tertawa : tidak simetris
Meringis : tidak simetris tertarik ke arah kanan
Bersiul : tidak dapat dilakukan
Menutup mata : simetris
Pasien disuruh untuk
Mengerutkan dahi : simetris
Menutup mata kuat-kuat : simetris
Mengembungkan pipi : simetris
Sensoris
Pengecapan 2/3 depan lidah : tidak dilakukan

N.Acusticus (N.VIII)
N.cochlearis
Ketajaman pendengaran : normal
Tinitus : tidak ditemukan
N.vestibularis
Test vertigo : negatif
Nistagmus : tidak ditemukan

6
N.Glossopharingeus dan N.Vagus (N.IX dan N.X)
Suara bindeng/nasal : tidak ditemukan
Posisi uvula : normal
Palatum mole : normal
Arcus palatoglossus : normal
Arcus palatoparingeus : normal
Refleks batuk : normal
Refleks muntah : tidak dilakukan
Peristaltik usus : normal
Bradikardi : (-)
Takikardi : (-)

N.Accesorius (N.XI)
M.Sternocleidomastodeus : normal
M.Trapezius : normal

N.Hipoglossus (N.XII)
Atropi : tidak ditemukan
Fasikulasi : tidak ditemukan
Deviasi : ke arah kiri

b. Tanda Perangsangan Selaput Otak

Kaku kuduk : (-)


Kernig test : (-/-)
Laseque test : (-/-)
Brudzinsky I : (-/-)
Brudzinsky II : (-/-)

7
c. Sistem Motorik
Kanan Kiri Keterangan
Ekstremitas atas
Gerak Aktif Pasif
Kekuatan Kesan: Hemiparese
Distal 5 3 sinistra
Proksimal 5 3
Tonus Normal Normal
Trofi Eutrofi Eutrofi
Ger.involunter (-) (-)

Ekstremitas bawah
Gerak Aktif Pasif
Kekuatan Kesan: Hemiparese
Distal 5 3 sinistra
Proksimal 5 3
Tonus Normal Normal
Trofi Eutrofi Eutrofi
Ger.involunter (-) (-)

d. Sensibilitas
Kanan Kiri Keterangan
Eksteroseptif
- Rasa raba Normal Normal Kesan : dalam
- Rasa nyeri Normal Normal batas normal
- Rasa suhu panas Normal Normal
- Rasa suhu dingin Normal Normal
Proprioseptif
- Rasa sikap Normal Normal
- Rasa gerak Normal Normal
- Rasa getar Normal Normal
- Rasa nyeri dalam Normal Normal
Fungsi kortikal untuk
sensibilitas
- Steriognosis Normal Normal

e. Koordinasi
Tes telunjuk hidung : normal
Tes pronasi supinasi : normal

8
f. Refleks
Superior ka/ki Inferior ka/ki
Refleks fisiologis Biceps (+/+) Pattela (+/+)
Triceps (+/+) Achiles (+/+)
Refleks patologis Hoffman Trommer (-/-) Babinsky (-/-)
Chaddock (-/-)
Oppenheim (-/-)
Schaefer (-/-)
Gordon (-/-)
Gonda (-/-)
g. Susunan Saraf Otonom
Miksi : Normal
Defekasi : Normal

h. Fungsi Luhur
Fungsi bahasa : baik
Fungsi orientasi : baik
Fungsi memori : baik
Fungsi emosi : baik

1.4 Pemeriksaan Penunjang


a. Laboratorium
1. Darah Lengkap (6 Maret 2018)
Hb :15,1 g/dl (N: 11,5-16,5 g/dl)
Leukosit : 8.200/µL (N: 4.500-11.000 /uL)
Eritrosit : 4,9 juta/µL (N: 3,8-5,8 juta/uL)
Hematokrit : 44 % (N: 37-47%)
Trombosit : 194.000/µL (N: 154.000-386.000 /uL)
MCV : 88 fL (N: 76-96 fL)
MCH : 31 g/dL (N: 27-32 g/dl)
MCHC : 35 g/dL (N: 30-35 g/dl)

9
Hitung jenis
Basofil :0% (N: 0-1 %)
Eosinofil : 0 % (N: 2-4 %)
Batang :0% (N: 3-5 %)
Segmen : 71 % (N: 50-70 %)
Limfosit : 19 % (N: 25-40 %)
Monosit : 10 % (N: 2-8 %)
LED : 10 mm/jam (N: 0-10 mm/jam)

2. Kimia Darah (6 Maret 2018)


Gula Darah Sewaktu : 119 mg/dL (N: <140 mg/dL)
Ureum : 21 mg/dL (N: 13-43 mg/dL)
Creatinine : 0,94 mg/dL (N: 0,55-1,02 mg/dL)
Cholesterol Total : 259 mg/dL (N: 144-264 mg/dL)
HDL : 50 mg/dL (N: 31-75 mg/dL)
LDL : 163 mg/dL (N: 88-186 mg/dL)
Trigliserida : 187 mg/dL (N: 55-260 mg/dL)
Asam Urat : 5,9 mg/dL (N: 3,5-7,2 mg/dL)
Natrium : 140 mmol/L (N: 135-145 mmol/L)
Kalium : 3,3 mmol/L (N: 3,5-5 mmol/L)
Calsium : 8,8 mg/dL (N: 8,6-10 mg/dL)
Chlorida : 101 mmol/L (N: 96-106 mmol/L)

b. EKG

Kesan : AV Block grade 1


Infark Miokard

10
c. CT-Scan Kepala

Kesan :
- Lesi hipodens multipel kecil batas tidak tegas di ganglia basalis
bilateral
- Sulci dan gyri corticalis lainnya, fissura sylvii bilateral dan fissura
interhemisfer melebar
- Ukuran ventrikel lateralis kanan dan kiri, ventrikel 3 dan 4 melebar
- Ruang subaraknoid melebar
- Tampak kalsifikasi fisiologis di daerah glandula pinealis, pleksus
choroideus bilateral dan ganglia basalis bilateral

Kesimpulan :
- Multipel infark lakuner di ganglia basalis bilateral
- Atrofi cerebri senilis

1.5 Resume

Tn. N usia 70 tahun mengatakan bahwa 3 jam sebelum masuk rumah sakit
saat pasien sedang duduk tiba-tiba pasien mengalami kelemahan pada
anggota gerak sebelah kiri sehingga pasien sempat jatuh terduduk
setelahnya. Sebelumnya pasien merasakan nyeri kepala. Setelah kejadian
tersebut pasien masih sadar dan dapat berkomunikasi namun sedikit pelo.
Keluhan lain berupa mual serta terasa sesak, kemudian pasien dibawa
berobat ke klinik setempat dan kemudian pasien di rujuk ke RS Abdul
Muluk Bandar Lampung untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut.
Pasien memiliki riwayat darah tinggi namun tidak rutin minum obat.
Pasien mengatakan keluhan lemas pada anggota gerak sebelah kiri
merupakan keluhan pertama. Pasien juga mengatakan tidak mengalami
penurunan kesadaran maupun keluhan berupa muntah, kejang dan
pandangan kabur disangkal. Keluhan nyeri kepala, mual dan sesak
sekarang sudah tidak dirasakan pasien.

Pada pemeriksaan fisik tanggal 8 Maret 2018 didapatkan keadaan pasien


baik dan compos mentis dengan GCS E3V5M6. Tekanan darah 140/90

11
mmHg, nadi 84x/menit, pernafasan 20x/menit dan suhu 36,3oC. Status
generalis tidak didapatkan kelainan. Pada pemeriksaan status neurologis
didapatkan parese nervus fascialis (N.VII) dan nervus hipoglosus (N.XII).
Pemeriksaan motorik didapatkan hemiplegia sinistra dengan kekuatan otot
masing-masing 3, refleks patologis babinsky (-/-), pemeriksaan sensibilitas
dalam batas normal. Pada pemeriksaan penunjang, laboratorium darah
menunjukkan kesan hipokalemia dan EKG menunjukkan adanya AV
Block grade 1 dan infark miokard. Pemeriksaan CT scan kepala tanpa
kontras menunjukkan kesan multiple infark lakuner di ganglia basalis
bilateral dan atrofi cerebri senilis.

1.6 Diagnosis

Diagnosis klinis : Hemiparesis sinistra, Paresis N. VII sentral dan


Paresis N. XII

Diagnosis topik : Hemisfer cerebri dextra

Diagnosis etiologi : Stroke infark

1.7 Penatalaksanaan
1. Umum
- Kontrol vital sign dan neurologis
- Pemberian nutrisi peroral sesuai kebutuhan kalori pasien
- Tirah baring
2. Medikamentosa
- IVFD RL : Aminofluid (2:1) 15 tpm
- Ranitidine 2x1 Amp IV
- Aspilet 80 mg tablet 1x1
- Paracetamol 500 mg tablet 3x1
- Vitamin B. Complex tablet 2x1
- Amlodipin 10 mg tablet 1x1

12
1.8 Follow Up

6 Maret 2018

Subjective Objective Analytic Planning

Anggota gerak KU: tampak sakit sedang Hemiplegia IVFD RL : Aminofluid


tangan dan kaki KS: compos mentis Sinistra, (2:1) 15 tpm
kiri terasa lemah TD: 150/80 mmHg Paresis N. VII Ranitidine 2x1 Amp IV
Nyeri kepala (+) HR: 72 x/menit dan N.XII ec PCT 500 mg tab 3x1
Sesak nafas (+) RR: 24 x/menit Stroke Infark Vit. B Complex tab 2x1
T: 36,3°C Amlodipin 10 mg tab 1x1

Status generalis : dalam


batas normal

Status Neurologis:
N.Fascialis (N.VII)
Inspeksi Wajah Sewaktu
Diam: tidak simetris
Tertawa: tidak simetris
Meringis: tidak simetris,
tertarik ke arah kanan

N. Hipoglossus (N.XII):
deviasi lidah ke arah kiri

Motorik
- Superior ka/ki
Gerak aktif/pasif
Kekuatan otot 5/3
- Inferior ka/ki
Gerak aktif/pasif
Kekuatan otot 5/3

Sensibilitas
Rasa raba: +/ +
Rasa nyeri: +/+
Rasa suhu panas : +/+
Rasa suhu dingin : +/+

13
7 Maret 2018

Subjective Objective Analytic Planning

Anggota gerak KU: tampak sakit sedang Hemiplegia IVFD RL : Aminofluid


tangan dan kaki KS: compos mentis Sinistra, (2:1) 15 tpm
kiri terasa lemah TD: 160/90 mmHg Paresis N. VII Ranitidine 2x1 Amp IV
Nyeri kepala (+) HR: 76 x/menit dan N.XII ec PCT 500 mg tab 3x1
Sesak nafas (+) RR: 24 x/menit Stroke Infark Vit. B Complex tab 2x1
T: 36,8°C Amlodipin 10 mg tab 1x1

Status generalis : dalam


batas normal

Status Neurologis:
N.Fascialis (N.VII)
Inspeksi Wajah Sewaktu
Diam: tidak simetris
Tertawa: tidak simetris
Meringis: tidak simetris,
tertarik ke arah kanan

N. Hipoglossus (N.XII):
deviasi lidah ke arah kiri

Motorik
- Superior ka/ki
Gerak aktif/pasif
Kekuatan otot 5/3
- Inferior ka/ki
Gerak aktif/pasif
Kekuatan otot 5/3

Sensibilitas
Rasa raba: +/ +
Rasa nyeri: +/+
Rasa suhu panas : +/+
Rasa suhu dingin : +/+

14
8 Maret 2018

Subjective Objective Analytic Planning

Anggota gerak KU: tampak sakit sedang Hemiplegia IVFD RL : Aminofluid


tangan dan kaki KS: compos mentis Sinistra, (2:1) 15 tpm
kiri terasa lemah TD: 140/90 mmHg Paresis N. VII Ranitidine 2x1 Amp IV
Nyeri kepala (-) HR: 84 x/menit dan N.XII ec PCT 500 mg tab 3x1
Sesak nafas (-) RR: 20 x/menit Stroke Infark Vit. B Complex tab 2x1
T: 36,3°C Amlodipin 10 mg tab 1x1
Aspilet 80 mg tab 1x1
Status generalis : dalam
batas normal

Status Neurologis:
N.Fascialis (N.VII)
Inspeksi Wajah Sewaktu
Diam: tidak simetris
Tertawa: tidak simetris
Meringis: tidak simetris,
tertarik ke arah kanan

N. Hipoglossus (N.XII):
deviasi lidah ke arah kiri

Motorik
- Superior ka/ki
Gerak aktif/pasif
Kekuatan otot 5/3
- Inferior ka/ki
Gerak aktif/pasif
Kekuatan otot 5/3

Sensibilitas
Rasa raba: +/ +
Rasa nyeri: +/+
Rasa suhu panas : +/+
Rasa suhu dingin : +/+

15
9 Maret 2018

Subjective Objective Analytic Planning

Anggota gerak KU: tampak sakit sedang Hemiplegia BLPL


tangan dan kaki KS: compos mentis Sinistra,
kiri terasa lemah TD: 150/90 mmHg Paresis N. VII Mucogard syrup 3x II C
Nyeri kepala (-) HR: 76 x/menit dan N.XII ec Ranitidine tab 2x1
Sesak nafas (-) RR: 20 x/menit Stroke Infark PCT 500 mg tab 3x1
T: 36,6°C Vit. B Complex tab 2x1
Amlodipin 10 mg tab 1x1
Status generalis : dalam Aspilet 80 mg tab 1x1
batas normal

Status Neurologis:
N.Fascialis (N.VII)
Inspeksi Wajah Sewaktu
Diam: tidak simetris
Tertawa: tidak simetris
Meringis: tidak simetris,
tertarik ke arah kanan

N. Hipoglossus (N.XII):
deviasi lidah ke arah kiri

Motorik
- Superior ka/ki
Gerak aktif/pasif
Kekuatan otot 5/3
- Inferior ka/ki
Gerak aktif/pasif
Kekuatan otot 5/3

Sensibilitas
Rasa raba: +/ +
Rasa nyeri: +/+
Rasa suhu panas : +/+
Rasa suhu dingin : +/+

1.9 Prognosa

Quo ad vitam : Dubia ad bonam


Quo ad functionam : Dubia ad bonam
Quo ad sanationam : Dubia ad bonam

16
BAB II

ANALISA KASUS

2.1 Apakah diagnosis pada pasien sudah tepat?

Berdasarkan data-data yang didapatkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik,


dan pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan dapat disimpulkan
bahwa pasien menderita stroke infark. Dari hasil anamnesis didapatkan
lengan dan tungkai kiri pasien tiba-tiba lemah sejak 3 jam SMRS pasien
sadar dan bicara sedikit pelo. Sebelum lemah pada anggota gerak sebelah
kiri pasien mengeluhkan nyeri kepala. Keluhan lain berupa mual, sesak
napas. Pasien mengatakan memiliki riwayat darah tinggi sejak 10 tahun
dan tidak rutin mengonsumsi obat anti hipertensi.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan pasien baik dan compos


mentis dengan GCS E3V5M6. Tekanan darah 140/90 mmHg, nadi
84x/menit, pernafasan 20x/menit dan suhu 36,3oC. Status generalis tidak
didapatkan kelainan. Pada pemeriksaan status neurologis didapatkan
parese nervus fascialis (N.VII) dan nervus hipoglosus (N.XII).
Pemeriksaan motorik didapatkan hemiplegia sinistra dengan kekuatan otot
masing-masing 3, refleks patologis babinsky (-/-), pemeriksaan sensibilitas
dalam batas normal.

Dari anamnesis dan pemeriksaan yang dilakukan pada pasien


menunjukkan gejala dan tanda stroke. Stroke merupakan suatu penyakit
defisit neurologis akut yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah
otak yang terjadi secara mendadak dan dapat menimbulksn cacat bahkan
kematian. Definisi stroke menurut World Health Organization (WHO)
adalah tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi
otak fokal/global dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam

17
atau lebih, dapat menyebabkan kematian, tanpa adanya penyebab lain
selain vaskuler.

Penyebab kelemahan pada anggota gerak tubuh sebelah kiri dapat


disebabkan akibat stroke non hemoragik dimana pada pasien ini tidak
didapatkan penurunan kesadaran sehingga stroke pada pasien ini dapat
disebabkan karena iskemik maupun infark.

Berdasarkan Siriraj Stroke Score, pasien ini dapat dilakukan perhitungan


sebagai berikut :
( 2,5 x derajat kesadaran ) + ( 2 x vomitus ) + ( 2 x nyeri kepala ) + ( 0,1 x
tekanan diastolik ) – ( 3 x petanda ateroma ) – 12
(2,5 x 0) + (2 x 0) + (2 x 1) + (0,1 x 90) – (3 x 0 ) – 12
= 0 + 0 + 2 + 9 – 0 – 12
= -1
Kesan : meragukan dan perlu dilakukan CT-Scan Kepala

Hasil : SS > 1 = Stroke Hemoragik


-1 > SS > 1 = perlu pemeriksaan penunjang ( Ct- Scan )
SS < -1 = Stroke Non Hemoragik
Keterangan :
- Derajat kesadaran : sadar penuh (0), somnolen (1), koma (2)
- Nyeri kepala : tidak ada (0), ada (1)
- Vomitus : tidak ada (0), ada(1)
- Ateroma : tidak ada penyakit jantung, DM (0),
ada (1)

CT scan kepala non kontras baik digunakan untuk membedakan stroke


hemoragik dan stroke non hemoragik secara tepat kerena pasien stroke non
hemoragik memerlukan pemberian trombolitik sesegera mungkin. Selain
itu, pemeriksaan ini juga berguna untuk menentukan distribusi anatomi
dari infark dan mengeliminasi kemungkinan adanya kelainan lain yang
gejalanya mirip dengan stroke (hematoma, neoplasma,abses).

18
Pada pasien ini sudah dilakukan pemeriksaan penunjang berupa CT-Scan
Kepala non kontras didapatkan kesan multiple infark lakuner di ganglia
basalis bilateral dan atrofi cerebri senilis. Sehingga pada pasien ini dapat
disimpulkan bahwa pasien didiagnosis dengan stroke non hemoragik yaitu
stroke infark.

Berdasarkan gejala klinis, infark serebri dapat dibagi menjadi 3, yaitu


infark aterotrombotik (aterotromboli), infark kardioemboli, dan infark
lakuner. Infark lakuner adalah jenis infark yang dihasilkan dari oklusi
salah satu arteri penetrasi yang menyediakan darah ke struktur-struktur
otak bagian dalam. Lacunes (bahasa latin untuk ruang kosong) disebabkan
oleh oklusi satu arteri penetrasi mendalam yang muncul langsung dari
konstituen Lingkaran Willis, arteri cerebellar, dan arteri basilar. Lesi yang
sesuai terjadi pada inti yang mendalam dari otak (37% putamen, 14%
thalamus, dan 10% caudatus) serta pons (16%) atau posterior limb dari
kapsul internal yang (10%), jarang terjadi pada substansia putih, anterior
limb kapsul internal dan cerebellum.

The Oxford Community Stroke Project classification (OCSP)


mengelompokkan infark cerebri ke dalam 4 kelompok yaitu:
1. Infark Sirkulasi Anterior Total (TACI)
Mengacu pada gejala pasien yang secara klinis tampak menderita
infark sirkulasi anterior total, tetapi belum mendapatkan pencitraan
diagnostik apapun (misalnya CT Scan) untuk mengkonfirmasi
diagnosis.
2. Infark Sirkulasi Anterior Parsial (PACI)
Mengacu pada gejala pasien yang secara klinis tampak menderita
infark sirkulasi anterior parsial, tetapi belum mendapatkan pencitraan
diagnostik apapun (misalnya CT Scan) untuk mengkonfirmasi
diagnosis.
3. Infark Lacunar (LACI)
Infark lacunar adalah jenis infark yang dihasilkan dari oklusi salah
satu arteri penetrasi yang menyediakan darah ke struktur-struktur otak

19
bagian dalam. Lacunes (bahasa latin untung ruang kosong) disebabkan
oleh oklusi satu arteri penetrasimendalam yang muncul langsung dari
konstituen Lingkaran Willis, arteri cerebellar, dan arteri basilar. Lesi
yang sesuai terjadi pada inti yang mendalam dari otak (37% putamen,
14% thalamus, dan 10% caudatus) serta pons (16%) atau posterior
limb dari kapsul internal yang (10%), jarang terjadi pada substansia
putih, anterior limb kapsul internal dan cerebellum.
4. Infark Sirkulasi Posterior (POCI).
Mengacu pada gejala pasien yang secara klinis tampak menderita
infark sirkulasi posterior, tetapi belum mendapatkan pencitraan
diagnostik apapun (misalnya CT Scan) untuk mengkonfirmasi
diagnosis.

Manifestasi klinis pada stroke infark lakuner dapat berupa sebagai berikut:
 Pure motor stroke/hemiparesis
Lokasi : posterior limb kapsula interna, basis pontis, corona radiata
Gejala : Hemiparesis/hemiplegia yang mempengaruhi wajah,
lengan, tungkai
 Ataxic hemiparesis
Lokasi : posterior limb kapsula interna, basis pontis, corona
radiata, red nucleus, lenti form nucleus
Gejala : merupakan kombinasi gejala cerebelar dan gejala motoris
 Dysarthria/clumsy hand
Lokasi : basis pontis, anterior limb kapsula interna, corona radiata,
basal ganglia, thalamus, cerebral peduncle
Gejala : gejala utama adalah disartria dan kelemahan tangan, yang
terlihat jelas saat pasien menulis
 Pure sensory stroke
Lokasi : contralateral thalamus, capsula interna, corona radiata,
midbrain
Gejala : mati rasa, kesemutan dan sensasi tidak nyaman pada salah
satu sisi tubuh

20
 Mixed sensori motor stroke
Lokasi : thalamus and adjacent posterior internal capsule, lateral
pons
Gejala : kombinasi hemiparesis/hemiplegia dengan gangguan
sensoris ipsilateral

Diagnosis banding PIS, PSA, dan SNH


SH
Gejala Klinis SNH
PIS PSA
1. Gejala defisit fokal Berat Ringan Berat/ringan
2. Permulaan (onset) Menit/jam 1-2 menit Pelan (jam/hari)
3. Nyeri Kepala Hebat Sangat hebat Ringan/tidak ada
4. Muntah pada awalnya Sering Sering Tidak, kecuali lesi
di batang otak
5. Hipertensi Hampir selalu Biasanya tidak Selalu
6. Kesadaran Bisa hilang Bisa hilang sebentar Bisa hilang/ tidak
7. Hemiparesis Sering sejak Permulaan tidak ada Sering dari awal
awal

2.2 Apakah penatalaksanaan pada pasien sudah tepat?

Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien ini terdiri dari penatalaksanan


umum dan medikamentosa. Penatalaksanaan umum berupa tirah baring,
latihan berbicara, fungsi motorik tangan dan kaki kanan dan memantau
tanda-tanda vital serta rehabilitasi medik. Prinsip penatalaksanaan umum
meliputi 5B yaitu :
- Breath : Oksigenasi, pemberian oksigen dari luar
- Blood : Usahakan agar aliran darah ke otak semaksimal mungkin
dan pengontrolan tekanan darah pasien.
- Brain : Menurunkan tekanan intra kranial dan menurunkan edema
serebri
- Bladder : Dengan pemasangan DC
- Bowel : Saluran pencernaan dan pembuangan

21
Penatalaksanaan medikamentosa pada pasien ini berupa pemberian
aspilet 80 mg tab 1x1 dan amlodipine 10 mg 1x1 dan ranitidine 3x1
ampul. Pemberian Aspilet ditujukan untuk melisiskan trombus maupun
emboli yang menyumbat pembuluh darah, akan tetapi lebih tepat jika
diberikan dalam waktu 48 jam setelah awitan. Obat ini menghambat
siklooksigenase, dengan cara menurunkan sintesis atau mengurangi
lepasnya senyawa yang mendorong adhesi seperti thromboxane A2.
Asam asetil salisilat merupakan antitrombosit yang dapat menghambat
agregasi trombosit sehingga menyebabkan terhambatnya pembentukan
trombus yang terutama sering ditemukan pada stroke infark embolus.

Pada pasien diberikan infus RL : aminofluid 2:1 15 tpm, hal ini


ditujukan untuk menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit pada tubuh.
Pemberian Ranitidine sebagai antagonis H2 bertujuan untuk mencegah
terjadinya stress ulcer akibat pemberian obat-obatan antitrombus seperti
aspirin. Pemberian B1, B6 dan B12 (B19) adalah sebagai neuroprotektor
untuk mencegah terjadinya perluasan lesi. Amlodipin merupakan
calcium channel antagonist yang digunakan sebagai antihipertensi.
Selain itu pemberian paracetamol bermanfaat untuk meredakan nyeri
kepala yang dialami oleh pasien.

Pada keadaan dimana aliran darah kurang seperti pada stroke atau
peningkatan TIK, pembuluh darah otak tidak memiliki kemampuan
vasoregulator sehingga hanya bergantung pada mean arterial pressure
(MAP) dan cardiac output (CO) untuk mempertahankan aliran darah
otak. Oleh karena itu, usaha agresif untuk menurunkan tekanan darah
dapat berakibat turunnya tekanan perfusi yang nantinya akan semakin
memperberat iskemik. Di sisi lain didapatkan bahwa pemberian terapi
anti hipertensi diperlukan jika pasien memiliki tekanan darah yang
ekstrim (sistole lebih dari 220 mmHg dan diastole lebih dari 120 mmHg)
atau pasien direncanakan untuk mendapatkan terapi trombolitik. Adapun
langkah-langkah pengontrolan tekanan darah pada pasien stroke non
hemoragik adalah sebagai berikut. Jika pasien tidak direncanakan untuk

22
mendapatkan terapi trombolitik, tekanan darah sistolik kurang dari 220
mmHg, dan tekanan darah diastolik kurang dari 120 mmHg tanpa
adanya gangguan organ end-diastolic maka tekanan darah harus diawasi
(tanpa adanya intervensi) dan gejala stroke serta komplikasinya harus
ditangani.

Untuk pasien dengan TD sistolik di atas 220 mmHg atau diastolik antara
120-140 mmHg maka pasien dapat diberikan labetolol (10-20 mmHg IV
selama 1-2 menit jika tidak ada kontraindikasi. Dosis dapat ditingkatkan
atau diulang setiap10 menit hingga mencapai dosis maksiamal 300 mg.
Sebagai alternatif dapat diberikan nicardipine (5 mg/jam IV infus awal)
yang dititrasi hingga mencapai efek yang diinginkan dengan
menambahkan 2,5 mg/jam setiap 5 menit hingga mencapai dosis
maksimal 15 mg/jam. Pilihan terakhir dapat diberikan nitroprusside 0,5
mcg/kgBB/menit/IV via syringe pump . Target pencapaian terapi ini
adalah nilai tekanan darah berkurang 10-15 persen.

Pengawasan terhadap tekanan darah adalah penting. Tekanan darah


harus diperiksa setiap 15 menit selama 2 jam pertama, setiap 30 menit
selama 6 jam berikutnya, dan setiap jam selama 16 jam terakhir. Target
terapi adalah tekanan darah berkurang 10-15 persen dari nilai awal.
Untuk mengontrol tekanan darah selama opname maka agen berikut
dapat diberikan :

1. TD sistolik 180-230 mmHg dan diastolik 105-120 mmHg maka


dapat diberikan labetolol 10 mg IV selama 1-2 menit yang dapat
diulang selama10-20 menit hingga maksimal 300 mg atau jika
diberikan lewat infus sehingga 2-8 mg/menit.
2. TD sistolik lebih dari 230 mmHg atau diastolik 121-140 mmHg
dapat diberikan labetolol dengan dosis diatas atau nicardipine infus 5
mg/jamhingga dosis maksimal 15mg/jam.
3. Penggunaan nifedipin sublingual untuk mengurangi TD dihindari
karena dapat menyebabkan hipotensi ekstrim.

23