Anda di halaman 1dari 11

PENUANGAN LOGAM

IV. PEMBAHASAN

A. Pembahasan Umum

1. Pengertian K3

Keselamatan Kerja adalah bagian dari sistem manjemen secara

keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, tanggung jawab,

pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi

pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan

kebijakan keselamatan dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan

dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien,

dan efektif.

2. Tujuan Dan Sasaran K3

Menciptakan suatu sistim keselamatan di tempat kerja dengan

melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja

yang terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan

penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan

efektif. Sebagai mana yang telah tercantum didalam Undang Undang No. 1

Tahun 1970 Tentang : Keselamatan Kerja

a. Setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas

keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan

hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas Nasional

b. Setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin pula

keselamatannya

LABORATORIUM PENGECORAN LOGAM


PENUANGAN LOGAM

c. Sahwa setiap sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara

aman dan effisien

d. Bahwa berhubung dengan itu perlu diadakan segala daya-upaya untuk

membina norma-norma perlindungan kerja

e. Bahwa pembinaan norma-norma itu perlu diwujudkan dalam Undang-

undang yang memuat ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan

kerja yang sesuai dengan perkembangan masyarakat, industrialisasi,

teknik dan teknologi.

3. Bahaya di Tempat Kerja: Pengecoran Logam

Tentunya kita sudah sangat familiar dengan benda-benda berbahan

logam di sekitar kita. Mulai dari spare-part otomotif sampai berbagai alat

dan mesin. Benda-benda ini dibentuk (atau lebih tepatnya dicetak) melalui

proses pengecoran logam.

Praktek pengecoran logam (atau dikenal juga dengan istilah

foundry) telah lama mendapat banyak perhatian praktisi di bidang K3

(Keselamatan Kerja), tidak lain karena banyaknya hazard atau sumber

bahaya yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja atau PAK (Penyakit

Akibat Kerja). Artikel berikut akan mengulas secara singkat bahaya yang

terdapat di lingkungan kerja ini.

4. Sumber Bahaya

LABORATORIUM PENGECORAN LOGAM


PENUANGAN LOGAM

Tingkat bahaya yang dijumpai di lingkungan pengecoran logam

ditentukan oleh berbagai faktor, diantaranya termasuk jumlah karyawan,

jenis logam dan bahan lain yang digunakan, ukuran benda yang akan

dicetak, mekanisme kontrol terhadap sumber bahaya, sistem ventilasi,

desain bangunan, dan lain-lain.

Sumber bahaya terhadap kesehatan di proses pengecoran logam dapat

dikelompokkan menjadi dua:

a. Bahaya dari penggunaan bahan zat kimia seperti debu silica, debu dan

asap metal, carbon monoksida, dan senyawa kimia lain yang

dilibatkan dalam proses.

b. Bahaya dari faktor fisika di lingkungan kerja, seperti kebisingan,

getaran, dan iklim panas.

5. Penyakit Akibat Kerja (PAK)

Melalui berbagai penelitian, baik epidemiologi atau eksperimental,

telah diketahui beberapa penyakit yang dicurigai berhubungan dengan

proses pengecoran logam yaitu :

a. Penyakit saluran pernafasan

Termasuk diantaranya yang paling umum adalah

pneumoconiosis, bronchitis, dan kanker paru. Penyakit-penyakit ini

dihubungkan dengan paparan terhadap debu silica, dan debu

metal/non metal lain yang terhirup selama bekerja. Debu-debu ini

apabila terhirup dalam waktu yang lama akan berakumulasi dalam

LABORATORIUM PENGECORAN LOGAM


PENUANGAN LOGAM

paru dan merangsang proses inflamasi. Akumulasi debu ini bersifat

fibrogenik – merangsang pembentukan jaringan ikat, dan pada tingkat

lanjut bisa bersifat karsinogenik – merangsang pembentukan sel

kanker.

b. Penyakit diluar saluran pernafasan

Termasuk diantaranya intoksikasi Timbal (Pb), karbon

monoksida, dan Beryllium (Berylliosis).

c. Thermal Stress

Stress tubuh akibat suhu tinggi yang dihasilkan proses

pengecoran logam.

d. Gangguan pendengaran

Merupakan akibat dari tingginya tingkat kebisingan terutama

yang berasal dari mesin-mesin. Tanpa kontrol yang baik, tingkat

kebisingan dapat mencapai 85 – 120 dBA; nilai ini diatas NAB (Nilai

Ambang Batas) 85 dB yang diperbolehkan.

e. Gangguan muskuloskeletal

Sebagai akibat dari posisi tubuh yang salah atau tuntutan

aktivitas fisik yang berat selama bekerja.

f. Sindrom akibat getaran

Dikenal dengan istilah Raynaud’s Phenomenon of Occupational

Origin. Penyakit ini timbul akibat penggunaan alat-alat yang bergetar

dalam jangka waktu yang lama.

LABORATORIUM PENGECORAN LOGAM


PENUANGAN LOGAM

6. Kecelakaan Kerja

Selain berpotensi menyebabkan PAK, proses pengecoran logam

juga menempatkan pekerja dalam posisi yang rentan terhadap kecelakaan

kerja. Kecelakaan kerja di tempat pengecoran logam dapat terjadi akibat:

a. Pekerjaan manual

b. Penggunaan mesin

c. Permukaan tempat kerja atau jalan

d. Benda asing yang mengenai mata

e. Paparan dengan benda panas.

7. Proses pengecoran logam

Sebelum menilai paparan sumber bahaya pada suatu tempat kerja,

ada baiknya kita memahami terlebih dahulu proses yang terkandung di

dalamnya. Praktek dalam proses pengecoran logam telah banyak berubah

dari tahun ke tahun, namun secara umum tahapan-tahapannya masih sama.

Secara sederhana, tahapan yang dimaksud meliputi alur sebagai berikut:

a. Moulding (pencetakan), yaitu proses pembuatan cetakan yang

nantinya akan membentuk logam menjadi bagian luar dari bentuk

yang diinginkan.

LABORATORIUM PENGECORAN LOGAM


PENUANGAN LOGAM

b. Coremaking (pembuatan inti), yaitu proses pembuatan cetakan yang

nantinya akan membentuk logam menjadi bagian inti dari bentuk yang

diinginkan.

c. Melting (pencairan, yaitu proses pencairan dan penuangan logam ke

dalam cetakan (atau mould) yang sudah disiapkan.

d. Cleaning (pembersihan), yaitu proses pembersihan dan pengeluaran

logam yang sudah dicetak.

8. K3 Dalam Proses Pengecoran

Dalam proses kerja pengecoran K3 sangat diperlukan bagi tenaga

kerja, karena resiko dalam setiap pekerjaan pasti ada. oleh karena itu untuk

mengurangi kecelakaan dalam bekerja diwajibkan untuk menggunakan

Alat Pelindung Diri atau K3.

Berikut ini adalah peralatan pelindung diri dalam bekerja :

a. Pelindung mata

Mata harus terlindung dari panas, sinar yang menyilaukan dan

debu. Berbagai jenis kacamata pengaman mempunyai kegunaan yang

berbeda. Kacamata debu berguna melindungi mata dari bahaya debu,

bram (tatal) pada saat menggerinda, memahat dan mengebor.

Kacamata las berguna melindungi mata dari bahaya sinar yang

menyilaukan (kerusakan retina mata) pada saat melaksanakan

pengelasan. Kacamata las dapat dibedakan terutama pada kacanya,

antara pekerjaan las asetilin dan las listrik. Kacamata las listrik lebih

LABORATORIUM PENGECORAN LOGAM


PENUANGAN LOGAM

gelap dibandingkan dengan kacamata las asetilin. Selain kacamata las

terdapat juga kedok yang lazim disebut helm las atau kacamata las

yang dipadukan dengan topi.

b. Alat pelindung kepala

Topi adalah alat pelindung kepala secara umum, bila kita bekerja

pada mesin-mesin yang berputar, topi melindungi terpuntirnya rambut

oleh putaran mesin bor atau rambut terkena percikan api pada saat

mengelas.

c. Pelindung hidung dan mulut

Ditempat- tempat tertentu dari bagian bengkel, udara sering

dikotori terutama akibat kimiawi, akibat gas yang terjadi, akibat

semprotan cairan, akibat debu dan partikel lainnya yang lebih kecil.

Misalnya pengotoran pada pernafasan akibat debu kasar dari gerinda,

kabut dari proses pengecatan, asap yang timbul ketika pahat sedang

digerinda dan asap ketika mengelas adalah salah satu contoh

pengotoran udara yang terjadi. Pemakaian alat pelindung pernafasan

ditentukan oleh jenis bahaya pengotoran udara.

 Penahan debu

Penahan debu memberi perlindungan pernafasan dari debu,

debu metalik yang kasar atau partikel lainnya yang bercampur

dengan udara. Yakinlah bahwa pemakaian pelindung ini sudah

rapat betul, sehingga udara yang dihirup melalui saringan (filter).

 Saringan Cartridge

LABORATORIUM PENGECORAN LOGAM


PENUANGAN LOGAM

Pemakaian saringan cartridge bila jalannya pernafasan

mendapat pengotoran dari embun cairan berracun yang berukuran

0,5 mikron. Saringan cartridge diberi tanda oleh pabrik guna

menerangkan kegunaannya. Bila terasa pernafasan sangat sesak

segera saringan diganti. Yakinlah bahwa melekatnya alat ini pada

bagian kulit muka benar-benar melekat dengan baik. Agar tidak

meragukan cobalah dengan melekatkan lembaran kertas atau

ditutup telapak tangan pada lubang udara, kemudian dihirup. Jika

penghirupan terasa sesak, berarti tidak ada kebocoran, ini

menunjukkan perlekatan pada bagian kulit muka baik.

d. Alat pelindung tangan

Alat pelindung tangan (sarung tangan) terbuat dari bermacam-

macam bahan disesuaikan kebutuhan. Yang sering dijumpai adalah :

 Sarung tangan kain

Digunakan untuk memperkuat pegangan. Hendaknya

dibiasakan bila memegang benda yang berminyak, bagian-bagian

mesin atau bahan logam lainnya

 Sarung tangan asbes

Sarung tangan asbes digunakan terutama untuk melindungi

tangan terhadap bahaya pembakaran api. Sarung tangan ini

digunakan bila setiap memegang benda yang panas, seperti pada

pekerjaan mengelas dan pekerjaan menempa (pande besi).

 Sarung tangan kulit

LABORATORIUM PENGECORAN LOGAM


PENUANGAN LOGAM

Sarung tangan kulit digunakan untuk memberi perlindungan

dari ketajaman sudut pada pekerjaan pengecoran. Perlengkapan ini

dipakai pada saat harus mengangkat atau memegang bahan tsb.

 Sarung tangan karet

Terutama pada pekerjaan pelapisan logam seperti pernikel,

perkhrom dsb. Sarung tangan menjaga tangan dari bahaya

pembakaran asam atau melindungi dari kepedasan cairan pada bak

atau panic dimana pekerjaan tersebut berlangsung. Sarung tangan

karet digunakan pula untuk melindungi kerusakan kulit tangan

karena hembusan udara pada saat membersihkan bagian-bagian

mesin dengan menggunakan kompresor.

e. Alat pelindung kaki

Untuk menghindarkan kerusakan kaki dari tusukan benda tajam,

tertimpa benda yang berat, terbakar oleh zat kimia, maka sebagai

pelindung digunakan sepatu. Sepatu ini harus terbuat dari bahan yang

disesuaikan dengan jenis pekerjaan.

f. Pakaian pelindung

Dengan menggunakan pakaian pelindung yang dibuat dari kulit,

maka pakaian biasa akan terhindar dari percikan api terutama pada

waktu mengelas dan menempa. Lengan baju jangan digulung, sebab

lengan baju akan melindungi tangan dari sinar api.

LABORATORIUM PENGECORAN LOGAM


PENUANGAN LOGAM

Tingkat bahaya yang dijumpai di lingkungan pengecoran logam

ditentukan oleh berbagai faktor, diantaranya termasuk jumlah karyawan,

jenis logam dan bahan lain yang digunakan, ukuran benda yang akan

dicetak, mekanisme kontrol terhadap sumber bahaya, sistem ventilasi,

desain bangunan, dan lain-lain.

Sumber bahaya terhadap kesehatan di proses pengecoran logam dapat

dikelompokkan menjadi dua:

a. Bahaya dari penggunaan bahan zat kimia seperti debu silica, debu dan

asap metal, carbon monoksida, dan senyawa kimia lain yang

dilibatkan dalam proses.

b. Bahaya dari faktor fisika di lingkungan kerja, seperti kebisingan,

getaran, dan iklim panas.

Sumber : http://fadlyhthokichi.blogspot.co.id/2016/03/keselamatan-kerja-

dibidang.html

B. Pembahasan Khusus

Pengaruh Kecepatan Penuangan Logam terhadap Pengecoran

Proses penuangan dilakukan setelah proses peleburan. Peleburan

dilakukan menggunakan dapur induksi. Panas yang dihasilkan digunakan

untuk meningkatkan suhu logam hingga mencapai titik lebur, sehingga

mampu mengubah logam padat ke logam cair. Selain itu panas juga

digunakan untuk meningkatkan temperatur cairan logam hingga

LABORATORIUM PENGECORAN LOGAM


PENUANGAN LOGAM

mencapaisuhu penuangan yang diharapkan. Cairan logam kemudian dituang

melalui pouring cup lalu mengalir melewati gating system dan memenuhi

seluruh rongga cetakan. Proses penuangan berhasil dengan catatan bahwa

cairan logam harus mengalir kedalam seluruh bagian rongga cetakan sebelum

membeku. Salah satu faktor yang memengaruhi penuangan ialah kecepatan

penuangan logam.

 Kecepatan penuangan

Kecepatan penuangan berarti kecepatan volume cairan logam ketika proses

penuangan. Apabila kecepatan terlalu rendah, cairan logam dapat

membeku sebelum mencapai seluruh rongga cetakan. Sebaliknya, jika

kecepatan terlalu tinggi dapat terjadi masalah pada sifat aliran logam cair.

Sumber : https://www.scribd.com/doc/187137861/Penuangan-Logam

LABORATORIUM PENGECORAN LOGAM