Anda di halaman 1dari 24

PEMBESARAN LOBSTER AIR TAWAR

24APR2011 7 Komentar
by risky handayani (kiki) in Uncategorized
I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Lobster air tawar ber-genus Cherax dari famili parastacidae baru mulai dikembangkan untuk
budidaya petani ikan diIndonesia pada tahun 2000. Hal ini disebabkan karena banyak
masyarakatIndonesia yang masih belum mengenal sosok fisik lobster air tawar, padahal selain
memiliki fisik yang menarik untuk dijadikan udang hias, lobster juga dapat digunakan untuk
udang konsumsi yang harganya mahal sebagai penyedia protein hewani (Sukmajaya, 2003).
Lobster memiliki karakteristik yang berbeda dengan udang jenis lain. Rasa daging lobster air
tawar lebih enak, kenyal dan gurihnya melebihi lobster air laut. Selain itu lobster air tawar
memiliki lemak, kolesterol dan garam yang rendah sehingga aman dikonsumsi untuk semua
kalangan. Kandungan seng cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan vitalitas pada manusia
(Hartono et al. , 2005).
Kelebihan lain lobster air tawar yaitu karakternya yang tidak mudah stress dan tidak mudah
terserang penyakit. Asalkan kebutuhan pakan, kualitas air dan kebutuhan oksigen terpenuhi
maka lobster dapat tumbuh dan berkembangbiak dengan cepat (Hartono et al., 2005).
Berkembangnya usaha budidaya lobster air tawar tidak terlepas dari tingginya permintaan
pasar, terutama ekspor luar negeri. Namun belum ada data pasti mengenai permintaan lobster
air tawar oleh beberapa Negara. Harga lobster dalam negeri pun cukup mahal dibandingkan
harga udang yang lain, yaitu Rp 200.000 – Rp 300.000 per kg (Hartono et al., 2005).
Kendala yang dihadapi dalam pengembangan usaha budidaya lobster air tawar merupakan
permasalahan yang belum dapat dipecahkan oleh petani lobster. Kendala – kendala tersebut
antara lain sebagai berikut:

1. Belum banyak ilmu pengetahuan alam, khususnya biologi yang membahas berbagai
spesies dalam lobster dihabitat aslinya
2. Belum berkembangnya pengetahuan tentang teknik adaptasi dalam usaha domestik
lobster air tawar yang berasal dari habitat alam
3. Belum banyak diketahui teknik pemijahan udang lobster air tawar secara semi buatan
4. Masyarakat petani ikan belum banyak yang memahami teknik persiapan wadah dan media,
penebaran benih, pemeliharaan benih, panen dan packing serta pengangakutan (Sukamajaya,
2003).
Berbagai permasalahan tersebut mau tidak mau harus dicarikan jalan keluar yang rasional dan
bijaksana. Diawali dari permasalahan – permasalahan tersebut, penyusun ingin lebih
mendalami mengenai kegiatan yang berhubungan dengan pembesaran lobster air tawar dari
mulai penyiapan wadah dan media pembesaran, pemeliharaan benih yang meliputi pakan,
pengelolaan kualitas air dan hama penyakit lobster sampai pemanenan dan pengangkuatan
benih termasuk pada transportasi benih.

Harapannya, lobster air tawar dapat menjadi komoditas unggulan yang dapat meningkatkan
pendapatan nasional umumnya dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani udang pada
khususnya.. Mengingat pentingnya informasi mengenai pembesaran lobster, maka diperlukan
tulisan yang mengulas hal akan tersebut. Tulisan tersebut tertuang dalam bentuk sebuah
laporan yang dilaporkan berdasarkan kegiatan yang diikuti selama mengikuti kegiatan magang
di Departemen Perikanan Budidaya PPPG Pertanian Cianjur. Dengan judul ”KEGIATAN
PEMBESARAN LOBSTER AIR TAWAR DI DEPARTEMEN PERIKANAN
BUDIDAYA”

B. Tujuan
Tujuan dari pelaksanaan magang industri pada bidang peminatan budidaya perairan adalah:

1. Membesarkan komoditas perikanan khusunya lobster air tawar.


2. Mengaplikasikan ilmu yang telah didapat pada saat kuliah ditahun pertama.
3. Pemenuhan persyaratan akademik.

C. Manfaat
Manfaat dari pelaksanaan magang industri pada bidang peminatan budidaya perairan adalah:

1. Memiliki pengalaman dalam kegiatan pembesaran lobster air tawar, dimulai dari
penyiapan wadah dan media pemeliharaan, pemilihan benih yang baik, penebaran benih,
pemberian pakan, pengelolaan kualitas air dan hama penyakit udang lobster serta
pemanenan dan packing.
2. Dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama
kuliah tahun pertama.

II TINJAUAN PUSTAKA

1. Biologi Udang Lobster


1. 1. Klasifikasi
Menurut Holthuis dalam Patasik klasifikasi lobster (2004) adalah sebagai berikut:

Filum : Arthopoda
Subfilum : Mandibula

Kelas : Crustacea

Subkelas : Malacostraca

Serie : Eumalostraca

Super-ordo : Eucarida

Ordo : Decapoda

Subordo : Reptantia

Seksi : Macrura
Famili : Parastacidae

Genus : Cherax

Spesies : C. comunis, C. monticola,


C. tenuimanus, C.destructor
C. waselli
1. 2. Morfologi
Menurut Patasik (2004) Seperti halnya jenis crayfish lainnya, Cherax sp. Memiliki susunan
morfologi yang terdiri dari 3 segmen utama yaitu, kepala dada (Chepalotorax), dan
badan (abdomen), dan bagian ekor (telson). Secara lengkap susunan morfologinya sbb;
1. a. Kepala-dada (Chepalotorax)
Pada bagian kepala-dada (Chepalotorax) terdapat rangka penutup kepala berupa kulit tebal
yang tersusun dari bahan yang berupa kapur (chitin) dengan bahana utama calcium
carbonate terdapat tonjolan memanjang kea rah depan yang disebut rostrum,
rostrum merupakan salah satu bagian tubuh yang dapat digunakan sebagai petunjuk dalam
melakukan identifikasi jenis udang-udangan. Rostrum sangat pendek dengan posisi mendatar
dan memiliki bentuk menyerupai kerucut pada sisinya terdapat duri halus, masing-masing
sebanyak 1 pasang.
Beberapa anggota tubuh pada chepalotorax berturut-turut kearah belakang adalah mata
bertangkai yang dapat digerakkan, first antene berbentuk cambuk pendek yang terdiri dari 4
cambuk, second antene berbentuk cambuk panjang yang terdiri dari 2 cambuk. Kedua pasang
antena ini berfungsi sebagai alat peraba dan keseimbangan pada saat bergerak dan berenang,
Anggota selanjutnya adalah mandibular, maxilla, dan exopodite mendibel.
Gambar 1. Lobster Air Tawar

Pada bagian bawah kepala-dada terdapat kaki jalan (periopoda). Kaki jalan terdiri dari 5
pasang, masing-masimg 1 pasang kaki jalan pertama, kaki jalan pertama ini berukuran besar
dan sangat kokoh menyerupai kaki kepiting atau lebih dikenal dengan nama
capit (chela). Selain berfungsi sebagai kaki jalan, capit juga berfungsi sebagai senjata untuk
membela diri serta sebagi alat untuk memotong atau merobek makanan yang berukuran besar
dan keras. Kaki jalan kedua dan ketika berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan kaki
jalan pertama, Selain untuk berjalan, kaki jalan kedua dan ketiga juga digunakan untuk
menjepit dan memasukkan makanan ke dalam mulut. Pada kedua ujung kaki jalan dan ketiga
terdapat capit kecil yang dikenal dengan nama dactilopodite.

Berbeda dengan kaki jalan keempat dan kelima, pada ujung kaki jalan keempat tidak terdapat
capit seperti pada kaki jalan pertama, kedua dan ketiga. Ujung kaki keempat dan kelima hanya
berupa sapit berfungsi untuk menyobek selaput spermatogonum pada saat pemijahan. Adapun
jumlah ruas pada kaki jalan, baik pada kaki jalan pertama, kedua dan ketiga, keempat, dan
kelima masing-masing 7 (tujuh) ruas.
1. b. Abdomen (badan)

Abdomen merupakan bagian tubuh antara chepalotoraax dan telson,


pada cherax sp. Abdomen tertutup oleh kulit keras dan terdiri dari 5 segmen. Keseluruhan
segmen dikenal dengan pleura yang susunannya kearah telson menyerupai susunan
genteng. Pleura 1 menindih pleura 2, pleura3 menindih pleura 3 demikian selanjutnya
hingga pangkal telson.
Pada bagian bawah abdomen terdapat kaki renang (pleopoda) yang strukturnya berupa-
selaput tipis dan masing–masing terdiri dari 3 ruas Pada cherax sp. Selain untuk
bereang pleopoda juga berfungsi sebagai tempat untuk melekatkan telur. Tepi dan
ujung pleopoda betina terdiri dari bulu-bulu halus yang berfungsi untuk melekatkan telur yang
telah dibuahi dan sekanjutnya akan dierami pada ruangan dibawah abdomen (brood
chamber).

1. c. Ekor (telson )

Telson merupakan bagian yang paling belakang dari tubuh lobster secara keseluruhan, bagian
ekor terdiri 2 yaitu 1 helai telson dan 4 helai uropoda (ekor kipas). Keseluruhan
bagian telson berfungsi untuk berenang atau bergerak mundur secara cepat
kearah pereiopoda sehingga menimbulkan sentakan yang cukup kuat untuk mendorong
seluruh tubuh kearah belakang (mundur).
1. B. Sarana Pembesaran Lobster

Sarana pokok, penunjang, maupun sarana pelengkap yang digunakan dalam pengoperasian
pembesaran udang lobster harus dirancang sedemikian rupa untuk menjamin keberhasilan
produksi maupun keuntungan ekonomis.

1. Sarana Pokok

Sarana pokok meliputi bak pemeliharaan benih, bak kultur pakan, bak penetasan artemia serta
bangunan dan peralatan yang digunakan dalam kegiatan pokok pembesaran.
1. a. Bak Pemeliharaan Benih

Menurut Anindiastusti et al., (1996), bak pemeliharaan benih harus mampu menampung
sejumlah volume air yang dibutuhkan bagi benih udang dan sekaligus menghasilkan kondisi
lingkungan yang optimal.
Bentuk bak ini bervariasi dan didesain agar mudah dibersihkan selama pemeliharaan benih,
misalnya bak berbentuk persegi empat. Bak berbentuk segi empat disesuaikan dengan luas dan
bentuk lahan yang tersedia. Namun, yang perlu diperhatikan dalam pembuatan bak atau kolam
lobster adalah ukurannya. Ukuran bak yang ideal sekitar 200 cm x 100 cm x 50 cm. Bak yang
terlalu luas akan sulit mengontrol , terutama jika ada lobster yang moulting (Hartono et al. ,
2005).
Bak pemeliharaan benih dapat terbuat dari bahan-bahan beton, semen atau fiber
glass. Permukaan bak harus dicuci agar tidak ditempeli oleh spora, bakteri, jamur dan
sebagainya.
Untuk mencegah luapan air bak dan menciptakan kondisi air yang mengalir, sebaiknya dibuat
aliran saluran pembuangan. Saluran ini dapat dipasang di dinding bak dengan cara melubangi
dinding pada ketinggian 30 cm. Lubang pembuangan dapat pula dibuat di bagian tengah atau
pinggir bak dengan cara memasang pipa paralon berdiameter 1 inci (2,5 cm). Namun, lubang
tersebut harus ditutup dengan kawat kasa agar lobster tidak mudah kabur. Lubang pembuangan
sebaiknya dibuat sedemikian rupa sehingga mempermudah saat pengurasan air bak
(Hartono et al. , 2005).
1. b. Bak Penetasan Artemia

Bak penetasan Artemia sebaiknya transparan dengan bagian bawahnya berbentuk kerucut
untuk memudahkan pemisahan cangkang dan nauplii artemia.
Menurut Sumartono (1996), bak penetasan artemia dapat terbuat dari fiber glass atau plastik
dengan volume berkisar antara 20 – 30 liter serta dilengkapi dengan pipa aerasi yang dapat
dihubungkan dengan wadah penetasan. Di atas wadah penetasan diberi lampu yang
dihubungkan dengan jarak ± 50 – 80 cm dari wadah penetasan untuk memudahkan
pemanenan karena nauplii artemia bersifat fototaksis positif (mendatangi sinar).
1. c. Pipa Paralon
Pipa paralon berfungsi sebagai tempat persembunyian sekaligus tempat perlindungan dari
cahaya matahari yang berlebihan. Karena, lobster cukup peka terhadap sinar matahari yang
berlebihan (Hartono et al., 2003).
Pipa paralon yang digunakan mempunyai ukuran yang berbeda sesuai dengan umurnya untuk
umur 1-2 bulan diameter pipa 0,5.incii umur 3-4 bulan berdiameter 2 incii dan umur 5-6
dengan diameter 4 inchi (Hartono et al., 2005).
Pipa paralon yang digunakan sebaiknya saling direkatkan dengan lem atau diikat dengan kawat.
Jumlah pipa – pipa yang diikat tergantung dengan besar kecilnya pipa (Hartono et al., 2005).
2. Sarana Penunjang
Sarana penunjang terdiri dari bak penampungan air, instalasi aerasi atau blower dan peralatan
pendukung lainnya.

1. a. Bak Penampungan Air


Bak ini digunakan untuk menyalurkan air tawar bersih ke bak atau sarana yang memerlukan air
bersih.

1. b. Aerator
Aerator digunakan untuk meningkatkan jumlah oksigen terlarut di dalam air. Aerator juga
berfungsi sebagai media pemeliharaan sekaligus pelepas gas – gas beracun dalam air yang dapat
membahayakan kelangsungan hidup lobster. Kekurangan oksigen dapat menyebabkan lobster
menjadi stress bahkan dapat mengalami kematian (Patasik, 2004).

1. c. Peralatan Pendukung
Peralatan pendukung yang sebaiknya tersedia adalah pH tester, Heater dan selang penyedot
kotoran. Alat – alat tersebut hanya sewaktu – waktu digunakan (Hartono et al., 2005).
C. Sumber Air

Menurut Hartono (2005), Air menjadi kebutuhan uutama budidaya lobster. Selain sebagai
media internal, air juga sebagai media eksternal bagi lobster. Sebagai media internal, air
berfungsi sebagai pengangkut bahan pakan dan memperlancar metabilisme dalam tubuh
lobster. Sebagai media eksternal, air berfungsi sebagai habitat lobster sehingga tanpa air, tidak
mungkin lobster bias hidup.

Hartono (2005), juga mengatakan beberapa sumber air tawar yang dapat digunakan untuk
memelihara lobster adalah air sumur dan air PAM atau air ledeng. Namun, kedua sumber air
tersebut tidak dapat langsung digunakan, tetapi harus diolah terlebih dahulu dan disesuaikan
dengan kualitas air yang dinginkan lobster. Air yang berasal dari sumur (air tanah) dapat
langsung digunakan tanpa harus diolah terlebih dahulu. Namun, air PAM (air ledeng) harus
diuapkan selama 10-12 jam sebalum digunakan. Penguapan air ledeng dimaksudkan untuk
mengurangi kandungan klor di dalamnya. Air dengan kandungan klor yang tinggi dapat
dipastikan memiliki pH yang tinggi pula. Dengan penguapan, pH air ledeng dapat kembali
mendekati normal.

D. Teknik Budidaya
1. Penyiapan Wadah dan Media
1. a. Persiapan Bak dan Pengaturan Aerasi

Sebelum digunakan atau diisi air bersih, bak harus dibersihkan dari segala kotoran. Dinding bak
digosok dengan menggunakan lap yang telah dicelupkan dalam sabun atau deterjen. Setelah
dinding dan dasar bak bersih, maka dibilas dengan air tawar dan dikeringkan selama 1–2 hari.
Batu aerasi, pemberat dan selang aerasi juga harus dibersihkan sebelum dipasang di dalam
wadah pemeliharaan benih.

Penyiapan wadah dan media ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang optimal bagi
benih hidup, berkembang dan tumbuh, serta menghilangkan/mengurangi potensi serangan
mikroorganisme terhadap benih. Mengingat benih merupakan stadia yang paling kritis maka
penyiapan wadah pemeliharaan benih harus dilakukan secara seksama. Wadah pemeliharaan
benih sudah disiapkan 2–3 hari sebelum benih ditebarkan (Effendi, 2004).

1. b. Persiapan Air Media

Setelah bak selesai dibersihkan, maka selanjutnya bak dapat diisi dengan air bersih yang
sebelumnya telah disiapkan. Suplai air yang berasal dari tanah (sumur) atau sumber lainnya ke
bak penampungan dalam wadah pemeliharaan benih dapat dilakukan dengan menggunakan
pompa air. Pengisian air untuk lobster adalah 25–30 cm. Sebaiknya permukaan air bak di
berikan tanaman air barupa enceng gondok atau selada air sebanyak setengah bagian
permukaan air (Patasik, 2004).

2. Penebaran Benih

Persiapan dan seleksi terhadap benih yang akan dipijahkan penting dan mutlak dilakukan.
Seleksi benih bertujuan untuk memperoleh benih yang baik. Induk yang baik akan
menghasilkan benih yang baik pula. Seleksi benih dilakukan dengan cara mengenali sifat-sifat
dan morfologinya (Patasik, 2004).

Jika ingin menyiapkan benih maka beberapa hal yang harus diperhatikan sebagai berikut :

1. Benih harus atau terbebas dari penyakit parasit


2. Pertumbuhan lebih cepat diantara yang lain
3. Aktif memangsa setiap makanan yang diberikan
4. Gerakan lincah
5. Anggota tubuhnya lengkap
Untuk memilih dan menyiapkan benih harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Anggota tubuh lengkap
2. Harus sehat bebas dari parasit
3. Memperhatikan pada penebaran ,jika di kolam maka padat penebaran sekitar 50
ekor/m2 namun untuk penebaran yang ideal sebanyak 10 ekor/m 2
4. Ukuran panjang sekitar 2 cm dengan umur 2 bulan
Kegiatan selanjutnya adalah melakukan penebaran benih. Penebaran benih dilakukan apabila
wadah pemeliharaan benih berbeda dan terpisah dengan wadah penetasan telur. Umumnya
terdapat perbedaan kualitas air antara media pemeliharaan benih dan penetasan telur. Oleh
karena itu, benih perlu diadaptasikan terlebih dahulu terhadap kondisi kualitas air, khususnya
suhu (Effendi, 2004).

Hal ini perlu dilakukan agar benih tidak stress akibat perbedaan lingkungan yang sangat
mencolok. Penebaran benih udang lobster dilakukan dengan menebar benih secara merata
keseluruh bagian wadah pemeliharaan. Dengan demikian, lobster tidak akan saling
mengganggu antara satu dengan lainya. Waktu penebaran sebaiknya pada pagi atau sore hari
(Patasik, 2004)

3. Pemeliharaan Benih

Pemeliharaan benih merupakan kegiatan yang sangat menentukan dalam keberhasilan suatu
pembenihan udang. Hal ini disebabkan sifat benih yang merupakan stadia paling kritis dalam
siklus hidup udang sehingga pemeliharaan benih merupakan kegiatan yang paling sulit
(Effendi, 2004).

Lebih lanjut Effendi (2004) menjelaskan bahwa, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan
pemeliharaan benih udang memiliki tingkat kesulitan yang paling tinggi dalam pembenihan dan
pembesaran, antara lain:

1. Tubuh benih kecil dan bukaan mulutnya juga kecil sehingga pemberian pakan benih dan
pengelolaan lingkungan relatif sulit
2. Benih membutuhkan pakan alami dan belum ada pakan buatan yang bisa menandingi
pakan alami, padahal kultur pakan alami juga memiliki tingkat kesulitan yang tinggi
a. Pemberian Pakan
Menurut Effendi (2004), pemberian pakan dalam pemeliharaan benih merupakan faktor yang
sangat menentukan. Berdasarkan kondisi benih yang membutuhkan pakan bergizi tinggi untuk
pertumbuhannya, maka benih harus diberikan pakan sesuai kriteria, yaitu:

1). Berukuran kecil, lebih kecil dari bukaan mulut benih

2). Bergerak sehingga mudah dideteksi dan dimangsa oleh benih

3). Mudah dicerna dan mengandung nutisi yang tinggi

Lobster termasuk jenis udang pemakan segalanya (omnivor ) seperti cacing-cacingan, plankton,
dan tanaman air (Hartono et al. , 2003).
Lebih lanjut Hartono et al., (2003) menyatakan bahwa, terdapat perbedaan tujuan pemberian
pakan pada saat kegiatan pembenihan dan pembesaran, sehingga mengakibatkan perbedaan
pola makan pada benih udang lobster. Pada budi daya lobster, pemberian pakan ditujukan
untuk mempercepat pertumbuhan lobster agar cepat menghasilkan telur dan anakan sehingga
pemberian pakannya beragam dan diberikan secara intensif. Sedangkan pada kegiatan
pembesaran, pemberian pakan diberikan untuk memberikan energi selama masa pertumbuhan
udang.
Pada dasarnya jenis pakan yang biasa diberikan pada lobster sangat baragam. Namun, untuk
mempermudah hobiis mendapatkannya, lebih praktis dalam memberinya, dan tetap memenuhi
zat gizi yang dibutuhkan lobster maka pakan yang biasa dipilih antara lain pellet udang galah.
Pellet udang galah cukup baik diberikan pada lobster karena kandungan gizinya cukup.
Biasanya yang cocok untuk lobster dewasa adalah jenis pelet D.2 atau D.3 Pellet tersebut dapat
dibeli di toko-toko pakan ikan dan udang. Selain pelet, lobster sebaiknya diberi pula pakan
tambahan berupa cacing merah atau cacing tanah, baik yang masih segar maupun dalam
keadaan beku ( Hartono et al. , 2003).
Jumlah pakan setiap kali pemberian disesuaikan dengan kemampuan lobster menghabiskannya
pada saat pemberian. Pakan diberikan sedikit demi sedikit dan dihentikan ketika lobster sudah
kenyang yang ditandai dengan tidak mau makan lagi ketika disodorkan pakan. Disarankan tidak
memberi pakan sekaligus dan tidak tak terbatas (ad-libitum ) karena pakan yang mengendap
dapat menyebabkan kualitas air turun. Pemberian pakan pada lobster sebaiknya dilakukan
secara teratur, yaitu setiap hari sekitar pukul 08.00-09.00 wib dan 17.00-18.00.wib. Namun,
jika pada siang hari lobster terlihat lapar, dapat diberi pakan secukupnya (Hartono et al. ,
2003).
Jenis pakan yang diberikan dapat berupa cacing namun disamping itu juga dilakukan
pemberikan pakan tambahan. Pakan pellet udang dan cacahan usus ayam rebus merupakan
pakan tambahan yang paling baik bagi pertumbuhan lobster karena kandungan proteinnya
tinggi. Selain itu, khususnya pellet udang, kandungan zat lain selain protein sudah lengkap
sehingga lobster tidak akan kekurangan zat gizi (Hartono et al., 2006).
Lobster dalam kolam diberi pakan satu kali sehari, yaitu sore hari menjelang malam sekitar
pukul 18.00 – 19.00. Pakan pellet udang dan rebusan usus ayam dapat diberikan berselang satu
hari atau berselang satu minggu. Artinya, jika minggu ini diberikan pakan pellet udang maka
minggu berikutnya diberi cacahan usus ayam rebus (Hartono et.al., 2006).
Agar pakan yang diberikan sesuai dengan kemampuan daya cerna lobster maka jumlahnya
harus disesuaikan dengan jumlah pakan yang diberikan pada 10 hari pertama sejak tebar
sebanyak 100 gr/hari/m2. Jumlah pakan tersebut harus ditambah setiap sepuluh hari
berikutnya sebanyak 50 gr (Hartono et.al. , 2006).
Anak loster dalam bak dapat diberikan pakan buatan berupa pellet udang galah (D1, D2 dan
D3). Masing–masing pellet tersebut memiliki ukuran butiran yang berbeda. Pellet D3 cocok
untuk anakan yang masih berumur 1-2 bulan, pellet D2 untuk anakan umur 2-4 bulan, dan
pellet D3 untuk lobster dewasa yang sudah berumur 5 bulan atau lebih. Selain pellet, anakan
lobster dapat pula diberi pakan alami segar seperti cacing sutera atau cacing merah.

Pakan diberikan setiap sekitar pukul 08.00-09.00 wib dan sore hari sekitar pukul 16.00-17.00
wib. jumlah pemberian pellet disesuaikan dengan jumlah anakan yang ada di dalam bak dan
kemampuan anakan mengonsumsi pakan. Sebagai bahan perbandingan, setiap lobster dewasa
hanya mampu menghabiskan pakan sekitar 2 – 3 gram per hari (Hartono et.al., 2006).
b. Pengelolaan Kualitas Air

Pengelolaan air bertujuan untuk menyediakan hidup yang optimal bagi benih untuk bisa hidup,
berkembang dan tumbuh. Kondisi air di dalam bak pemeliharaan harus dijaga kualitasnya. Ini
dimaksudkan agar lobster tetap kondisi sehat, tidak stress atau terserang penyakit. Untuk itu,
air bak sebaiknya dikontrol secara berkala, beberapa cara yang biasa dilakukan agar kondisi air
tetap jernih atau tidak keruh antara lain menyedot kotoran, menyaring dan menguras.

i. Menyedot Kotoran
Menurut Sugama (1993), kualitas air pemeliharaan akan menurun dengan adanya akumulasi
dan penguraian sisa-sisa pakan atau benih yang mati.

Kotoran yang mengendap akibat sisa pakan dan sekresi lobster dapat menyebabkan air keruh,
kandungan amoniak menjadi tinggi, dan oksigen terlarut berkurang. Jika kotoran dibiarkan
mengendap di dasar bak, lobster akan stress bahkan bisa mengalami kematian. Untuk
mencegah hal itu sebaiknya dilakukan penyedotan kotoran setiap 3 kali sehari. Penyedotan
dilakukan dengan selang penyedot (Hartono et.al. , 2003).
ii. Menguras dan Mengganti Air Bak

Kotoran yang mengendap di dasar bak akibat sisa pakan dan sisa sekresi yang tidak dibuang
dapat menyebabkan lobster stress dan nafsu makannya berkurang. Kotoran tersebut
mengandung kadar amoniak yang tinggi sehingga air akan terlihat keruh. Untuk
membersihkannya, secara berkala kotoran disedot menggunakan selang. Setelah disedot
ketinggan air berkurang sehingga bak harus ditambah air kembali (Hartono et.al., 2005).
Selain penyedotan kotoran, air bak juga perlu dikuras dan diganti dengan air baru. Caranya, air
kolam disedot hingga ketinggian air 5 cm. Setelah itu, semua lobster diambil dengan cara
diserok, lalu dipindahkan ke wadah atau akuarium. Selanjutnya, bak dikuras hingga bersih.
Setelah kegiatan pengurasan dan pergantian air selesai, lobster dimasukan kedalam bak yang
telah dibersihkan dan diberikan pipa paralon. Pengurasan dan pergantian air secara totol cukup
dilakukan setiap dua minggu sekali (Hartono et.al., 2005).
iii. Pengukuran Kualitas Air

Untuk mengetahui kualitas air pemeliharaan, maka setiap hari dilakukan pengecekan faktor
penentu kualitas air seperti kadar keasaman (pH), suhu, kesadahan (dH), kandungan oksigen
terlarut (DO), serta kandungan karbon dioksida (CO2) dan gas lainya.
Kadar keasaman sangat menentukan kehidupan lobster di dalam air. Kadar keasaman air dapat
diketahui dengan cara mengukurnya menggunakan alat khusus pengukur pH seperti kertas
lakmus dan pH tester . Penggunaan kertas lakmus cukup dengan dicelupkan kedalam air yang
akan diperiksa. Setelah itu, kertas dikeluarkan dari air. Dalam hitungan detik, kertas akan
berubah warna kehijauan atau kebiruan. Warna kehijauan atau kebiruan berarti basah. Untuk
mencocokan nilai pH air pada kemasan kertas lakmus terdapat indikator warna.
Penggunaan pH tester lebih mudah digunakan karena cukup dicelupkan sebagian kedalam air
yang akan diukur kadar keasamannya. Pada saat dicelupkan, akan muncul nilai secara digital.
Kadar kesamannya yang diinginkan lobster berkisar 7 – 8 (Hartono et.al., 2003).
Suhu dikur dengan menggunakan Thermometer . Umumnya lobster air tawar menyukai air
dengan suhu 19-25 0C (Hartono et.al. , 2003).
Kadar kesadahan (dH) diukur menggunakan hardness tester . Alat ini cukup sederhana dan
praktis pengguannya, yaitu cukup dicelupkan kedalam air sehingga akan tertera nilainya secara
digital (Hartono et.al., 2003).
Kesadahan dan keasaman air merupakan 2 penentu kualitas air yang saling mempengaruhi.
Umumnya air yang memiliki pH rendah memiliki tingkat kesadahan rendah. Biasanya, kondisi
tersebut disebabkan oleh adanya dekomposisi bahan organik. Lobster air tawar sangat
menyukai air dengan kesadahan sekitar 10 – 200 dH (Hartono et.al. , 2003).
Adanya karbon dioksida di dalam air akibat hasil buangan (sekresi) lobster air tawar. Dalam
jumlah tertentu kadar CO2 dapat menjadi racun sehingga jika dibiarkan akan membunuh
lobster. Lobster air tawar masih bisa hidup normal pada kadar CO 2 10 mg per liter.
Salah satu penyebab paling utama berkurangnya kandungan oksigen di dalam air adalah
kandungan amoniak. Agar kandungan oksigen dalam air cukup dan stabil sebaiknya di dalam
bak dipasang aerator. Alat ini berfungsi untuk menyuplai oksigen dari udara ke air. Mahluk
hidup di dalam air termasuk lobster air tawar sangat membutuhkan kreativitas agar kebutuhan
oksigen terpenuhi. Oksigen dibutuhkan lobster air tawar untuk bernapas. Kebutuhan oksigen
terlarut dalam air yang diinginkan lobster mencapai 7 ppm (Hartono et.al ., 2003).
c. Pengelolaan Hama dan Penyakit
Lobster termasuk udang yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Sehingga hama dan
penyakit yang cukup menggaggu dalam proses pembesaran lobster air tawar masih jarang
ditemukan. Untuk lobster yang dipelihara dengan sistem in door , maka keberadaan hama
masih dapt ditanggulangi dan tidak terlalu membahayakan karena jarang ditemukan. Hama
yang sering ada pada pemeliharaan lobster sistem indoor adalah lumut. Lumut dapat masuk
dalam wadah pemeliharaan karena air yang tidak disaring sebelum dimasukkan dalam wadah
pemeliharaan benih.
Keberadaan lumut di dalam wadah pemeliharaan meskipun sebenarnya tidak membahayakan
lobster, tetapi jika jumlahnya terlalu banyak akan mengganggu pertumbuhan dan pergerakan
lobster. Agar lumut dapat dikendalikan pertumbuhannya sebaiknya secara berkala lumut
dibersihkan dengan cara diserok (Hartono et.al., 2006).
Sedangkan untuk lobster yang dipelihara dalam wadah outdoor , maka hama lebih banyak
datang dan menyerang, baik hama penyaing, pemangsa maupun perusak. Kodok merupakan
salah satu hama yang mengganggu, terutama saat masih kecil (kecebong). Hal ini dikarenakan
kecebong merupakan saingan lobster dalam mendapatkan makanan yang diberikan. Untuk itu,
sebaiknya secara berkala kolam dibersihkan dari kecebong (Hartono et.al. , 2006).
Lebih lanjut Hartono et.al. , (2005) mengatakan bahwa saat ini yang patut diwaspadai oleh
pembudi daya adalah serangan hama berupa tikus air, burung laut dan kucing. Hewan tersebut
dapat memangsa lobster jika pembudi daya tidak melakukan pengawasan dengan baik.
Sampai saat ini belum ditemukan satu pun jenis penyakit yang menyerang lobster. Namun
demikian pembudidaya harus tetap waspada karena kemungkinan suatu saat akan muncul
penyakit baru.

Untuk mencegah lobster dari berbagai penyakit, sebaiknya kebersihan air dan pakan harus
dijaga. Air bak harus diganti secara teratur dan berkala. Begitu pula dengan pakan, sebelum
diberikan harus dicuci bersih agar bibit penyakit ikut terbuang (Hartono et.al., 2003).
d. Sampling

Menurut Widodo et.al. (2005), sampling (pengambilan contoh) bertujuan untuk menduga
populasi udang di dalam wadah pemeliharaan. Pengambilan sampling udang dilakukan
dengan cara mengambil udang kemudian dikumpulkan dalam ember dan dihitung jumlahnya.
Dengan demikian, dapat diperoleh jumlah total udang dan perkiraan nilai kelangsungan hidup
(SR) serta bobot rata-rata udang untuk menentukan biomassa udang (Widodo et.al., 2005).

4. Pemanenan Hasil
a. Panen untuk Benih

Dalam pemanenan benih berukuran 1-2 cm, alat yang digunakan adalah ember plastik 20
liter, scoopnet berukuran (20×10) cm, daun pisang atau cabikan plastik ikan, terutama jika
jarak antara wadah pemanenan dan wadah penampungan relatif jauh. Sementara itu, saat yang
baik untuk pemanenan adalah sebelum jam 9 pagi, berada di lingkungan terbuka, dan hasil
panen ditempatkan dalam wadah dengan jumlah maksimum 20 ekor per wadah (Sukmajaya,
2003).
Cara panen dimulai dengan menurunkan air di dalam wadah hingga kedalaman air tinggal 15 –
20 cm. Jika wadah yang digunakan berupa akuarium, cara mengeluarkan air
dengan syfoning dan jika berupa bak atau kolam tanah, tinggal membuka lubang pengeluaran.
Setelah itu, benih lobster di tangkap menggunakan scoopnet secara perlahan dan hasil
tangkapan dimasukkan ke dalam ember yang telah dilengkapi air jernih dan alat lain
(Sukmajaya, 2003).
b. Panen untuk Konsumsi
Lobster siap konsumsi mulai bisa dipanen pada umur 7 bulan. Lobster dengan umur tersebut
sudah mencapai 90 – 100 gram per ekor atau 10 – 20 ekor per kilo gram. Biasanya lobster yang
dipanen pada umur sekitar 7 bulan ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar dalam negeri.
Namun, untuk konsumsi ekspor, lobster baru bisa dipanen pada umur 10 – 12 bulan dengan
berat tubuh 150 – 200 gram atau hanya 5 – 7 ekor per kilogram. Pasar ekspor, terutama jepang
sangat menyukai lobster berukuran besar (Hartono et.al., 2005).
Cara panen untuk konsumsi cukup sederhana, yaitu dengan cara menguras air kolam. Setelah
air kolam habis, tempat persembunyian diambil dan dipisahkan ke tempat lain. Selanjutnya,
lobster diserok satu per satu dengan mengunakan serok jala. Lobster yang terjaring di masukan
kedalam ember atau baskom yang berisisi air secukupnya (Hartono et.al., 2006).
c. Pengemasaan

Pengemasan udang memegang peranan yang sangat penting, terutama dalam upaya untuk
menjaga keselamatan benih selama pengangkutan. Ada beberapa teknik pengemasan yang
dapat dilakukan, yaitu dengan menggunakan kantong plastik dan dengan
menggunakan styrofoam.
i. Pengemasan dengan Plastik

Pada dasarnya, proses pengemasan benih lobster dengan menggunakan plastik sama dengan
proses pengemasan ikan hias. Perbedaaannya hanya pada jumlah plastik yang dipakai. Pada
pengemasan benih lobster, jumlah plastik yang digunakan sebanyak dua lapis atau lebih. Ini
dimaksudkan agar pada saat pengangkutan tidak terjadi kebocoran yang disebabkan oleh capit
lobster.

Proses pengemasan benih lobster dengan menggunakan plastik dilakukan dengan cara sebagai
berikut:

a. Wadah plastik diisi air sebanyak sepertiga bagian wadah. Setelah itu benih lobster
dimasukkan dalam wadah dengan jumlah 100-200 ekor untuk ukuran 2 inchi

1. Selain itu, dimasukkan pula satu persatu lembaran daun papaya. Daun papaya tersebut
berfungsi agar lobster tidak mabuk di perjalanan
2. Wadah yang sudah berisi lobster dan daun papaya diisi oksigen Ikat wadah plastik
dengan karet gelang selanjutnya kemasan siap diangkut. Perbandingan oksigen dengan air
3-1
ii. Pengemasan dengan Kotak Styrofoam
Wadah untuk mengemasan loster sebenarnya banyak pilihan. Yang penting lobster diangkut
dengan menggunakan wadah pengemasan tersebut. Oleh karena lobster memiliki capit yang
setiap saat bisa merobek dan mancapit maka wadah harus kuat dan tahan dengan capitannya.
Kantong plastik yang biasa digunakan untuk mengemas ikan hias tidak cocok untuk mengemas
lobster ukuran konsumsi karena plastik mudah sobek jika terkena capit. Untuk itu, wadah
seperti kotak styrofoammerupakan pilihan tepat. Sebenarnya wadah lain seperti ember yang
memiliki penutup bisa dijadikan wadah pengemasan jika tempat tujuan pengiriman lobster
tidak terlalu jauh. Namun, sebaiknya disarankan menggunakan styrofoam karena lebih praktis
dan umum digunakan (Hartono et.al. , 2006).
Lebih lanjut Hartono et.al., (2005) mengungkapkan bahwa pengemasan dengan mengunakan
kotak styrofoam lebih banyak diinginkan untuk calon induk atau lobster dewasa. Namun,
seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pengemasan dengan menggunakan wadah kemasan
ini juga bisa digunakan untuk benih lobster dalam jumlah yang banyak. Berikut proses
pengemsannya:
1. Kotak styrofoam diisi air dengan ketinggian 7 cm
2. Lobster dimasukkan dalam wadah dengan kepadatan 10 kg lobster dengan
ukuran styrofoam 75 cm x 42 cm
1. Satu per satu lembar daun papaya dimasukkan agar lobster tidak mabuk perjalanan
1. Kotak Styrofoam ditutup dan diberi lakban agar tidak mudah lepas
2. Kotak styrofoam berisi lobster siap dingkut.
d. Pengangkutan

Standar benih lobster air tawar untuk ekspor berukuran 10 gram. Pertimbanganya, benih
dengan ukuran tersebut memiliki kemampuan adaptasi terhadap lingkungan lebih cepat
dibandingkan dengan benih berukuran kecil. Dengan demikian, penyediaan pakan bisa
dilakukan dengan memanfaatkan pakan alami. Disamping itu, pengangkutan akan efisien
karena kotak pengangkutan standar internasional dapat diisi benih lobster air tawar sebanyak
1000 ekor dengan tingkat mortalitas maksimum 5 % (Sukmajaya, 2003).

Menurut Sukmajaya (2003), dalam hal ini pengangkutan benih lobster air tawar dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut :

1. Menyiapkan wadah yang terdiri dari kotak syirofoam standar internasional, serpihan
atau potongan busa kecil, plastik transparan berukuruan (20×40) cm, plastik kecil (10×5)
cm, es batu, lakban atau malam, oksigen, dan label.
2. Masukan potongan busa kecil ke dalam plastik yang sebelumnya telah diseterilisasi
mengunakan ultraviolet dan rendam di dalam air jernih.
3. Memasukan benih yang sehat atau tidak mengandung penyakit sesuai dengan hasil
pemeriksaan dan pemberian perlakukan sesuai dengan standar karantina.
4. Mengisi oksigen murni, menutup, serta mengikat plastik secara ketat, sehingga tidak
terjadi bocor.
5. Memasukan plastik ke dalam wadah pengangkutan dan menutupnya. untuk
menghindari kebocoran, tutup wadah pengangkutan diberi perekat berupa malam atau
lakban.
6. Memberi label dengan keterangan hewan hidup, asal perusahan, ukuran, serta
keterangan nomor sesuai dengan lisensi atau sertifikat
7. Menyusun di dalam mobil dan mengangkut.
III. HASIL MAGANG

A Pelaksanaan Magang
1. Waktu dan Tempat

Kegiatan magang pembesaran lobster air tawar dilaksanakan selama 2 bulan mulai tanggal 2
Juli 2006 sampai dengan 2 September 2006 yang dilaksanakan di Departemen Perikanan
Budidaya PPPG Pertanian Cianjur, Jl. Jangari KM 14. Karang Tengah Kotak Pos 138 Cianjur
43202.

2. Keadaan Umum Tempat Magang


Departemen Perikanan Budidaya mengelola mengembangkan dan mengkaji budidaya ikan.
Produk-produk unggulan pada Departemen Perikanan Budidaya dapat diadopsi oleh
masyarakat baik untuk usaha skala kecil, menengah dan besar.

Serangkaian program pendidikan dan pelatihan, yaitu:

a. Pemijahan ikan lele

b. Pembesaran ikan konsumsi

c. Sistem resirkulasi air secara intensif

d. Pembuatan aquarium

1. Budidaya dan pembenihan ikan koki, nila dan jambal


2. Budidaya Lobster air tawar
1. a. Visi

DepartemenPerikananBudidayasebagaiCenter of Excellence and Agent of Exchange, yang


mandiri.
b. Misi

1. Mengembangkan lembaga produksi bernasis mutu

2. Mengembangkan lembaga training berbasis ISO

3. Mengembangkan lembaga konsultasi berbasis potensi daerah

3. Alat dan Bahan

1. Bak
2. Aerator/blower
3. Aquarium
4. Pompa
5. Peralatan lapangan
6. Alat ukur kualitas air
7. Sikat
8. Ember
9. Selang sypon.
10. Pipa paralon 2-5 incii
11. Seser
12. Timbangan
13. Bibit Lobster
14. Pakan
15. Air Bersih
16. Obat – obatan
17. Metyline Blue .
4. Strategi Pelaksanaan

Kegiatan yang dilaksanakan selama magang pembesaran lobster air tawar adalah:

1. 1. Persiapan wadah dan media


Prosedur persiapan wadah dan media sebagai berikut :

1. Sediakan alat dan bahan yang diperlukan


2. Pencucian bak pemeliharaan dengan cara menyikat dari lumut yang menempel dan
kotoran yang berada pada dasar maupun dinding bak
3. Pengeringan bak selama beberapa hari atau langsung diisi dengan air kemudian
dibiarkan 1 hari
4. Pengisian air media dengan ketinggian antara air 15-20 cm pada bak setinggi 40 cm. Air
yang digunakan harus bersih dari kotoran atau air yang talah diinapkan minimal selama 12
jam
5. Pemberian plastik bergelombang atau dengan menggunakan pipa paralon ukran 1-2
inchi
6. Pengaturan aerasi yang berupa pengaturan tekanan aerasi dipasang sebanyak 1 buah
pada bak pemeliharaan dan pastikan posisi selang dan batu aerasi sudah tepat
1. 2. Penebaran Benih
Prosedur Penebaran Benih sebagai berikut :

1. Sediakan alat dan bahan yang diperlukan


1. Tentukan padat tebar benih. Untuk padat tebar bervariasi antara 50-100 ekor/M 2
2. Benih yang akan ditebar diseleksi berdasarkan ukurannya
3. Hitung jumlah benih yang akan di tebar
4. Aklimatisasi benih dilakukan dengan merendamkan benih dalam media
pemeliharaan kemudian benih ditebar secara perlahan agar terhindar dari stress.
5. 3. Pemeliharaaan Benih
Prosedur pemeliharaan benih sebagai berikut :

1. a. Pemberian pakan
Pakan yang diberikan untuk benih dapat berupa : pellet, cacing, keong dan tepung. Pemberian
pakan diberikan dengan prosedur :

1. Sediakan alat dan bahan yang diperlukan


2. Pemberian pakan pellet dapat langsung ditebarkan pada bak
1. Dalam pemberian tubifek dilakukan pencucian terlebih dahulu sebelum
diberikan pada benih dan keong mas diberikan dalam bentuk cacahan.
2. Sedangkan pemberian pakan berupa tepung untuk benih diberikan dengan
pemberian air sedikit agar tepung tidak mengapung pada permukaan air.
1. b. Pengelolaan kualitas air
Prosedur pengelolaan kualitas air sebagai berikut :

1. Sediakan alat pengukuran kualitas air


2. Lakukan pengukuran suhu, pH, DO dan ketinggian air
1. Pergantian air cukup membuka saluran pengeluaran dan mengganti dengan air
yang baru
2. Sypon dilakukan dengan menyedot kotoran dengan menggunakan selang
3. Catat data nilai pengukuran kualitas air per hari
1. c. Sampling
Prosedur sampling sebagai berikut :
1. Sediakan alat dan bahan yang diperlukan
1. Ambil sample sebanyak 10 ekor lobster dan ditimbang
2. Sample dirata-ratakan dengan menjumlahkan seluruh berat hasil timbangan
kemudian dibagi dengan jumlah sample yang diambil.
3. Ukur panjang total lobster sebayak 10 ekor kemudian rata- ratakan
4. Catat data hasil sampling perminggunya
1. 4. Pemanenan
Prosedur pemanenan sebagai berikut :

1. Sediakan alat dan bahan yang dipelukan


2. Angkat pipa paralon atau plastik bergelombang
3. Buka saluran pengeluaran air kemudian biarkan lobster keluar dan terampung pada
wadah penampungan
1. 5. Pengemasan
Prosedur pengemasan sebagai berikut :
1. Sediakan alat dan bahan yang diperlukan
2. Sediakan kantong plastik yang di isi air bersih
3. Masukan lobster kedalam kantong yang berisi air
4. Injeksi dengan oksigen
5. Kemudian ikat dengan karet gelang.
1. 6. Pengangkutan
1. Sediakan alat dan bahan yang diperlukan
2. Menyiapkan wadah styrofoam
1. Masukkan kantong yang sudah berisi lobster kemudia lakukan pemberian
es pada sisi styrofoam
2. Pemberian label pada bagian atas styrofoam
1. Pemberian lakban dengan erat kemudian disusun pada mobil
pengangkut dan usahakan tumpukan padat sehingga rapat dan menghindari
tumpukan jatuh.

C. Pembahasaan
1. Sarana Pembesaran Lobster

Sarana pokok, penunjang, maupun sarana pelengkap yang digunakan dalam pengoperasian
pembesaran udang lobster harus dirancang sedemikian rupa untuk menjamin keberhasilan
produksi maupun keuntungan ekonomis.

a. Sarana Pokok

Sarana pokok meliputi bak pemeliharaan benih, bak kultur pakan, bak penetasan artemia serta
bangunan dan peralatan yang digunakan dalam kegiatan pokok pembesaran.

i). Bak Pemeliharaan Benih

Bentuk pemeliharaan lobster sangat bervariasi. Namun bak yang digunakan pada pemeliharaan
lobster air tawar di Departemen Perikanan Budidaya menggunakan bak persegi yang didesain
dengan baik agar mudah dalam pemanenan dan pengontrolan lobster. Ukuran bak dengan luas
2 m2 dengan tinggi bak 40 cm. Ukuran tersebut sangat ideal karena mudah dalam pengontrolan
benih dan induk lobster. Bak pemeliharaan benih terbuat dari semen. Untuk mencegah luapan
air bak dan menciptakan kondisi air yang mengalir dibuat lubang saluran pembuangan dibagian
dasar bak dengan diameter 2,5 cm. Karena lubang ini berfungsi sebagai pengeluaran air, maka
dasarnya dibuat agak rendah untuk memudahkan air dan kotoran keluar saat pembuangan air.
ii). Bak Penetasan Artemia
Bak penetasan artemia terbuat dari wadah pastik dan berbentuk kerucut agar memudahkan
dalam pemisahan cangkang dan proses pemanenan. Volume wadah yang digunakan adalah 19
liter yang dilengkapi dengan pipa aerasi dan dihubungkan dengan saluran aerasi yang berasal
dari blower.
Gambar 2. Tempat Penetasan Artemia

iii). Pipa Paralon

Fungsi pipa paralon dalam pembesaran lobster air tawar adalah sebagai tempat persembunyian
dan sekaligus tempat berlindung dari sengatan cahaya matahari secara langsung. Pipa paralon
yang dipakai beragam ukurannya, mulai dari ukuran 2, 3, 5, 9 dan 11 cm tergantung pada
ukuran lobster yang dipelihara. Pipa paralon kemudian diletakan pada dasar bak pemeliharan
secara horizontal. Jumlah pipa paralon yang dimasukan dalam bak sebagai tempat berlindung
adalah 1:1, dimana satu pipa paralon hanya ditempati oleh satu lobster. Hal ini dilakukan
dengan tujuan agar lobster mendapatkan tempat berlindung secara merata untuk menghindari
lobster berebut tempat berlindung. Hal ini sesuai dengan sifat lobster yang nocturnal, sehingga
cenderung akan mencari tempat yang gelap dan tempat perlindungan. Dalam hal ini, Hatchery
Departemen Perikanan Budidaya menggunakan pipa parelon dan plastic bergelombang untuk
memenuhi sifat lobster. Paralon yang digunakan memiliki diameter 5 cm untuk lobster dengan
ukuran 5-8 cm, sedangkan lobster dengan ukuran 10–15 cm menggunakan paralon berukuran
10 cm dan lobster berukuran lebih dari 15 cm menggunakan paralon berukuran diameter 12,5
cm.

Gambar 3. Ukuran Paralon yang digunakan

Selain penggunaaan pipa paralon, digunakan pula plastik bergelombang yang sudah dipotong –
potong dengan ukuran 20 cm x 10 cm. Plastik bergelombang ini digunakan pada benih lobster
ukuran 2 inchi.

b. Sarana Penunjang

Sarana penunjang terdiri dari bak penampungan air, instalasi aerasi atau blower dan peralatan
pendukung lainnya.

i). Bak Penampungan Air


Bak ini digunakan untuk menyalurkan air tawar bersih ke bak atau sarana yang memerlukan air
bersih. Bak yang ada di Departemen Perikanan Budidaya dinamakan bak tandon yang berfungsi
sebagai tempat menampung air bersih untuk disalurkan ke bak pemeliharaan lobster.

Gambar 4. Bak Tandon

ii). Aerator
Aerator sangat diperlukan oleh kehidupan lobster air tawar karena sebagai suplai oksigen.
Jumlah aerator yang dipasang pada bak pemeliharaan lobster sebanyak 1 buah yang dihidupkan
secara kontinyu dan pemasangannya adalah pada setiap saluran pipa yang disambungkan pada
blower.

Gambar 5. Blower

c. Sarana Pendukung

Sarana ini dapat berupa alat ukur kualitas air yang digunakan untuk mengukur kualitas air pada
saat pemeliharaan, seperti DO meter, pH meter/paper, dan Thermometer . Alat tersebut sangat
penting untuk mengetahui nilai kualitas air pemeliharaan lobster secara harian. Selain itu
peralatan pendukung untuk pemeliharaan lobster air tawar yang disiapkan antara lain selang
untuk mengganti air pemeliharaan, ember, seser, dan water heater.
Gambar 6. Sarana Pendukung

2. Sumber Air

Sumber air yang digunakan dalam pemeliharan lobster adalah air tawar bersih yang berasal dari
PAM. Air yang digunakan tersebut tidak langsung digunakan namun terlebih dahulu
diendapkan agar suhu tidak terlalu tinggi karena air yang ada di bak tandon biasanya berasal
dari penampung pertama yang terbuat dari plastik sehingga sangat tinggi untuk menyerap
panas.

Air yang berasal dari PAM di tampung pada tower penampungan air dan kemudian dialirkan
kedalam bak tandon yang ada didalam hatchery.
Gambar 7. Proses Pengelolaan Air

3. Teknik Budidaya

a. Persiapan Wadah dan Media


i. Persiapan Bak dan Pengaturan Aerasi
Persiapan bak dimulai dengan membersihkan bak dari lumut dan kotoran yang menempel pada
bak dengan menyikat seluruh permukaan bagian dalam bak hingga bersih, kemudian dibilas
menggunakan air bersih. Apabila air media sudah siap, maka bak dapat langsung diisi dengan
air, namun apabila air media belum siap untuk digunakan, maka bak harus dibiarkan terlebih
dahulu sambil menunggu air siap.

Sebelum air dimasukkan, maka dilakukan pemasangan pipa paralon 2,5 inci pada lubang
pengeluaran air yang terletak dibagian pinggir bak dengan tujuan agar air di dalam bak
pemeliharaan tidak keluar dan berkurang. Pemasangan pipa paralon dilakukan secara vertical.

Gambar 8. Persiapan Wadah dan Media

i. Persiapan Air Media

Untuk mempersiapkan media pemeliharaan sangat diperlukan air yang bersih dan berasal dari
sumber yang telah dikelola sedemikian rupa sehingga layak untuk pemeliharaan lobster air
tawar. Untuk memudahkan penyediaan air di Departemen Perikanan Budidaya, maka
diperlukan pompa untuk mengisi air di dalam bak pemeliharan dengan ketinggian air di bak
pemeliharaan 15-20 cm. Enceng gondok diketahui efektif digunakan sebagai tempat
persembunyian udang, akan tetapi untuk pemberian tanaman air (enceng gondok) tidak
dilakukan karena dalam waktu yang tidak lama enceng gondok tersebut dapat membusuk
sehingga akan mengeluarkan kotoran/amoniak yang dapat mengganggu kualitas air
pembesaran lobster. Sebagai pengganti enceng gondok, Departemen Perikanan Budidaya
memakai plastik bergelombang dan pipa paralon sebagai persembunyian dan tempat
berteduhnya lobster tersebut.

b. Penebaran Benih

Sebelum dilakukan penebaran sebaiknya dilakukan pengukuran kualitas air. Kualitas air yang
berbeda dapat menyebabkan lobster stress dan bahkan berlanjut pada kematian. Penebaran
benih dilakukan pada pagi atau sore hari. Benih yang ditebar. harus memenuhi karakteristik
benih yang akan ditebar, seperti:

 tidak cacat fisik,


 benih harus sehat, dan
 memiliki ukuran yang seragam untuk menghindari kanibalisme.
Oleh karena itu sebelum benih lobster ditebar, terlebih dahulu dilakukan seleksi benih untuk
mengetahui panjang dan berat benih. Selain itu cara seleksi yang lain adalah dengan
memisahkan benih yang sehat dan yang sakit. Lobster dalam kondisi sehat dapat terlihat dari
gerakannya yang aktif dan tidak berdiam diri. Tingkat pertumbuhan yang normal dan memiliki
nafsu makan yang tinggi juga merupakan salah satu tanda bahwa lobster dalam keadaan sehat.
Nafsu makan lobster yang tinggi dapat mendukung kecepatan pertumbuhan lobster sehingga
diharapkan pula lobster memiliki kondisi fisik yang kuat dan lobster tidak mudah sakit atau
stress. Untuk mengetahui nafsu makan lobster air tawar dapat dites dengan memberikan cacing
merah. Bila cacing langsung dimakan maka nafsu makan lobster tersebut tinggi, atau dapat pula
dengan mengamati kondisi tubuhnya yang padat dan kuat. Bentuk tubuh yang sama dan
seimbang, dilihat dari kondisi kedua capit sama besar dan tidak cacat merupakan ciri lain
lobster sehat. Kemudian dipisahkan juga berdasarkan umur dan ukuran lobster yang akan di
tebar.

Agar benih yang akan ditebar tidak mengalami stress maka diperlukan aklimatisasi. Tujuan
aklimatisasi tersebut adalah untuk menyamakan suhu antara air media pemeliharaan dengan
media asal benih lobster.

Menurut Patasik, (2004) dalam penebaran benih perlu dilakukan aklimatisasi agar benih tidak
stress akibat perbedaan lingkungan yang sangat mencolok.

Di Departemen Perikanan Budidaya tidak dilakukan aklimatisasi kerana niali kaulitas air media
pemeliharaan dengan media asal benih sama setelah dilakukan pengukuran kualiats air.
Sehingga tidak perlu dilakukan aklimatisasi pada benih lobster.

Gambar 9. Proses Tebar Benih


Penebaran benih dilakukan dengan memasukkan benih yang telah terseleksi ke dalam wadah
pemeliharaan yang baru. Menurut Patasik, (2004) penebaran benih udang lobster dilakukan
dengan menebar benih secara merata keseluruh bagian wadah pemeliharaan.

Sementara itu di DPB tidak melakukan penebaran secara merata. Hal ini dapat menyebabkan
udang berkumpul di satu titik, sehingga lobster akan saling mengganggu antara satu dengan
lainya.

Setelah penebaran benih maka perlu dilakukan pengamatan terhadap benih yang ditebar untuk
mengetahui tingkat penyesuaian benih lobster akan lingkungan yang baru. Dari hasil
pengamatan, benih yang sudah mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya ditandai
dengan lobster berenang menyebar. Padat penebaran lobster perbak pada lampiran 3.

3. Pemeliharaan Benih

a. Pemberian Pakan

Pemberian pakan untuk lobster berbeda-beda berdasarkan umur lobster yang dipelihara. Benih
ditebar dapat diberikan pakan berupa pakan alami (Daphnia sp dan Tubifex sp) atau apabila
tidak tersedia pakan alami, maka diberikan tepung yang dicampur dengan vitamin dengan
perbandingan (1:1). Sebelum diberikan campuran tepung dan vitamin diberikan sedikit air
dengan tujuan agar tepung yang akan diberikan tidak terapung diatas permukaan air. Dosis
pemberian diberikan secukupnya dengan frekuensi 2 x sehari pada pukul 09.00 WIB dan 16.00
WIB. Namun, untuk benih yang berumur ± 2 bulan diberikan pellet D2 dengan pemberian
secara ad–labitum dengan frekuensi dan waktu yang sama dengan pemberian pakan pada
benih yang baru menetas.
Menurut Hartono et.al. , (2006) jumlah pakan yang diberikan pada 10 hari pertama sejak tebar
sebanyak 100 gr/hari/m2. Jumlah pakan tersebut harus ditambah setiap sepuluh hari
berikutnya sebanyak 50 gr.
Di Departemen Perikan Budidaya pemberian pakan dilakukan dengan ad-libhitum tidak dapat
menghitung kebutuhan pakan yang diperlukan selama pembesaran.
Ukuran pakan buatan juga bermacam-macam, seperti DO umumnya untuk lobster ukuran
benih, D1 (1-2 bulan), D2 (3-4 bulan), D3 dan D4 (lebih dari 5 bulan ).

Gambar 10. Jenis Pakan

Diketahui dalam budidaya biaya operasional yang paling besar adalah biaya pembelian pakan.
Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut maka diberikan pakan tambahan yang
diberikan pada lobster berupa cacahan halus keong mas. Pemberian keong mas pada lobster
bertujuan untuk mempercepat kematangan gonad. Cara pemberian tubifek dilakukan
pencucian terlebih dahulu sebelum diberikan pada benih dan keong mas diberikan dalam
bentuk cacahan.
Lobster mempunyai sifat nocturnal. Oleh karena itu kebutuhan pakan pada malam hari lebih
banyak dibandingkan dengan kebutuhan pakan pada pagi hari. Untuk mengetahui jumlah
pakan yang dimakan oleh lobster maka pada pagi hari dilakukan pengecekan habis tidaknya
pakan yang diberikan pada sore hari. Jika terlihat pakan habis pada pagi hari maka dilakukan
penambahan jumlah pakan untuk mencukupi nafsu makan lobster yang meningkat.
Gambar 11. Pemberian Pakan

b. Pengelolaan Kualitas Air

Pengelolaan kualitas air sangat penting dalam pembesaran untuk menjaga kualitas lobster yang
dipelihara. Kegiatan berupa pengukuran kualitas air (pengukuran suhu, pH, ketinggian air, DO)
dan pergantian air bertujuan agar kualitas air pemeliharaan tetap terpelihara.

Pengukuran kualitas air berupa pengukuran suhu dengan menggunakan thermometer batang
yang dicelupkan kedalam air pemeliharaan. Nilai ditunjukan pada skala yang terdapat
di thermometer berupa nilai suhu pada media pemeliharaan. Suhu lobster pada pagi 26 oC
-27oC sedangkan pada sore hari suhu air mengalami peningkatan dengan kisaran antara 28 oC-
29oC. Peningkatan suhu pada sore hari diakibatkan adanya perbedaan terik pada siang dan sore
hari yang mempengaruhi suhu pada media pemeliharaan. Suhu akan berubah apabila terjadi
pergantian air secara total. Air yang berada pada penampungan mempunyai suhu yang tinggi
berkisar antara 29. o C–30 o C.
Fluktuasi suhu dapat menyebabkan lobster menjadi stress. Pada saat pemeliharaan, tidak
terjadi fluktuasi suhu sehingga lobster tidak ada yang mengalami stress.

Kadar keasaman (pH) lobster di ukur dengan menggunakan alat pengukur digital sehingga hasil
pengukuran pH sangat akurat dibandingkan pengukuran dengan menggunakan kertas lakmus.
Sebelum digunakan pH meter dikalibrasikan terlebih dahulu dengan pH 7 setelah itu
elektrodanya dicelupkan kedalam media pemeliharaan. Alat tersebut akan menunjukan nilai pH
air pemeliharaan pada layer monitor.

Nilai dibawah 7 menunjukan perairan tersebut bersifat asam dan apabila nilai yang ditunjukan
di atas 7 maka air bersifat basa. Nilai pH yang diukur pada saat pemeliharaan berkisar antara 6-
7 nilai tersebut menunjukan pH perairan masih tergolong normal.

Jumlah oksigen yang ada dalam suatu perairan dikenal dengan DO. DO dapat diukur dengan
menggunakan digital DO meter sehingga nilai yang ditunjukan cukup akurat. Cara kerjanya
cukup memasukan bagian elektroda ke dalam perairan kemudian dalam hitungan detik nilai
oksigen yang terlarut dalam perairan dapat ditunjukan.

Gambar 12. Pengukuran Kualitas Air

DO pada saat pemeliharaan lobster menunjukan nilai yang stabil, berkisar antara 3,00 – 5,00
ppm. Nilai yang ditunjukan tersebut diperoleh dari suplaian oksigen oleh aerator yang dipasang
di bak pemeliharaan. Selain pengukuran kadar oksigen, juga dilakukan pengukuran ketinggian
air pada saat pemeliharaan lobster. Ketinggian air tetap dipertahankan berkisar antara 15 -20
cm dengan cara melakukan pengisian air pada ketinggian tersebut diharapkan lobster dapat
bertahan hidup dengan tekan aerator yang kuat. Berdasarkan pengalaman, pada saat aerator
mati ketinggian air mencapai 20 cm, dapat menyebabkan lobster mati karena selain tidak ada
suplai oksigen ketinggian air juga sangat tinggi oleh sehingga lobster tidak mampu mengambil
oksigen dari udara untuk bernapas.

Selain pengukuran kualitas air, kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan kualitas air
adalah penyedotan dan pengurasan atau pergantian air pemeliharaan. Menyedot kotoran
berupa sisa pakan dan faces sangat perlu karena apabila terjadi penumpukan pada dasar bak
pemeliharaan dapat menyebabkan timbulnya amoniak yang berbahaya bagi lobster. Penyedotan
kotoran yang berada di dasar bak dilakukan dengan mengunakan selang kemudian kotoran
akan tertarik oleh sedotan selang yang dikenal dengan istilah sypon. Sypon dilakukan jika
keadaan kotoran dan faces di dasar telah terlihat menumpuk karena akan berbahaya bagi
lobster. Sebaiknya penyiponan dilakukan 2 kali sehari. Data harian pembesaran lobster pada
lampiran 4
Gambar 13. Penyedotan Kotoran

Apabila warna air sudah menunjukan tidak layak untuk kehidupan lobster (keruh) akibat
penumpukan sisa pakan dan faces, sebaiknya dilakukan pengurasan air secara total untuk
membersihkan sisa pakan. Cara pengurasan adalah dengan membuka pipa pengeluaran dan
cukup mengangkat pipa/plastik bergelombang kemudian lobster yang berada dalam bak di
ambil dan ditampung pada bak yang lain. Setelah itu bak dapat di semprot dengan aliran air dan
menyikat dasar bak, plastik bergelombang dan pipa tempat persembunyian benih juga
dibersihkan dengan cara menyikat atau membersihkan dengan air bersih. Setelah yakin sudah
bersih, maka bak diisi kembali dengan air sampai ketinggian 20 cm dan masukan pipa/plastik
bergelombang dan lobster dapat di masukan kembali pada bak.
c. Pengelolaan Hama dan Penyakit
Selama praktikum penyusun tidak menemukan adanya penyakit yang menyerang benih lobster
air tawar. Akan tetapi perlu diwaspadai adanya serangan penyakit. Salah satu pencegahan yang
dilakukan adalah dengan membersihkan lingkungan bak 2 kali, sehari dilakukan pergantian air
secara total dan menyipon sisa-sisa pakan serta feces yang ada di dalam bak. Adanya sisa pakan
berupa Tubifek sp,menjadi salah satu factor timbulnya penyakit karena banyak mengandung
lumpur yang membawa bibit penyakit
Pencegahan hama berupa burung, ular dan kucing tidak dilakukan pada saat pemeliharaan
kerenan usaha pemebesaran lobster dilakukan dengan sistem indoor sehingga hama tersebut
tidak dapat memangsa lobster secara langsung.
d. Sampling
Sampling dilakukan setiap 1 minggu sekali dengan tujuan untuk mengetahui tingkat
pertumbuhan lobster yang dipelihara.

Dalam pengambilan sample sebaiknya dilakukan secara acak agar hasil tersebut
akurat. Sampling ini digunakan untuk mengetahui pertumbuhan panjang tubuh lobster secara
berkala baik pada benih berumur 1 minggu hingga pada lobster ukuran benih. Selain itu,
sampling juga dilakukan untuk mengetahui petambahan berat tubuh udang lobster dengan
menimbang dan merata-ratakan hasil penimbangan pertambahan panjang dan berat lobster
dapat dilihat pada (tabel 1).
Tabel 1 Data Sampling No Bak C 10

WAKTU SAMPLING PER 2


DATA MINGGU
I II II
Berat 1,3 gr 1,8 gr 2,7 gr
Panjang 3,5 cm 4 cm 4,25 cm
Dari table tersebut kita dapat melihat bahwa panjang dan berat lobster mengalami
pertambahan sebanyak 1,4 gr 0,75 cm dalam jangka waktu 14 hari. Hal ini dapat diketahui dari
sampling awal lobster

Gambar 14. Sampling


4. Pemanenan

Pemanenan lobster air tawar dilakukan pada benih ukuran 1-2 inci yang dibeli oleh konsumen.
Waktu pemanenan tergantung pada permintaan konsumen yanfg datang ke hatchery . Cara
pemanenan cukup sederhana yaitu dengan membuka pipa saluran pengeluaran air dan lobster
yang keluar ditampung pada baskom .
Gambar 15. Penen Lobster

5. Pengemasan

Pengemasan benih lobster air tawar dilakukan dengan dua cara, yaitu cara basah dan kering.
Pengemasan basah dilakukan dengan memasukkan lobster yang telah terpilih ke dalam plastik
atau kotak styrofoam dengan kepadatan menyesuaikan ukuran dan jarak perjalanan. Plastik
digunakan untuk pengemasan dalam jumlah sedikit sedangkan kotak styrofoam digunakan
untuk mengemas lobster dengan jumlah banyak. Pada dasarnya pengemasan basah sama
dengan pengemasan ikan hias, namun pada lobster air tawar plastik yang digunakan harus lebih
tebal atau digunakan 2 lapis untuk menghindari kebocoran akibat capitan lobster. Dengan
ukuran plastik (60×40) cm
Gambar 16 Proses Pengemasan

Pengemasan basah lobster dilakukan dengan dimasukan kedalam kantong plastik yang sudah
berisi air sebanyak 100 ekor tergantung ukuran plastik packing. Kemudian tambahkan pada
kantong oksigen dengan cara diinjeksi kemudian kantong diikat dengan mengunakan karet
gelang. Sedangkan pengemasan kering umumnya digunakan pada transportasi jarak
jauh/eksport yang menggunakan jasa cargo untuk mengurangi biaya pengiriman yang
berpengaruh juga kepada efisiensi tempat dan berat paket. Pada pengemasan kering lobster air
tawar dimasukkan ke dalam kotak plastik/mika yang sudah dibolongi tepiannya terlebih
dahulu. Lobster diletakkan berjajar dengan kepadatan disesuaikan ukuran wadah dan benih
lobster, dasar wadah pengemasan diberi busa filter atau kertas koran yang telah dibasahi untuk
melembabkan wadah pengemasan sehingga lobster dapat bertahan hidup.
Jarak dapat menetukan cara penanganan pada saat packing. Di Departemen Perikanan
Budidaya umumnya pembeli datang langsung ke hatchery karena jarak antara tempat pembeli
dengan lokasi hatchery tidak terlalu jauh, sehingga packing jarak jauh belum pernah
dilakukan. Jumlah lobster dalam plastik packing tidak ada patokan karena tergantung ukuran
plastik packing.
Gambar 17. Jenis Packing

6. Pengangkutan
Pengangkuatan sangat jarang dilakukan, karena pembeli yang membeli lobster langsung datang
ke Departemen Perikanan Budidaya. Namun, pengangkutan sangat penting dalam
mempertahankan lobster yang telah dipenen agar kondisi baik sampai pada tujuan.

IV. PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil magang diperoleh kesimpulan sebagai berikut ;
1. Tingginya permintaan pasar terhadap lobster sebagai udang hias, konsumsi dan induk
belum bisa terpenuhi secara maksimal
2. Pada saat penebaran benih tidak dilakukan aklimatisasi karena nilai kualitas air media
awal dengan media penebaran sama.
3. Penebaran benih tidak dilakukan secara merata pada bak pemeliharaan
4. Dalam bak pemeliharaan tidak diberikan enceng gondok sebagai pelindung lobster
5. Pemberian pakan menggunakan sistem ad-libhitum

B. Saran
1. Sebaiknya pada saat penebaran dilakukan aklimatisasi akar benih yang di tebar tidak
stress dengan lingkungan baru.
2. Sebaiknay penebaran dilakukan secara merata agar antara satu dengan yang lain tidak
saling mengganggu.
3. Dalam pemberian pakan sebaiknya tidak menggunakan sistem pemberian pakan
dengan ad-libitum (sekenyang-kenyangnya) karena dengan menggunakan system tersebut
menggunakan biaya operasional yang besar.
4. Sebaiknya penebaran benih harus digunakan seleksi benih untuk mendapatkan benih
yang berkualitas
5. Dalam bak pemeliharaan sebaiknya di berikan enceng gondok sebagai pelindung lobster
dari pencahayaan