Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan jiwa merupakan suatu sehat emosional, psikologik, dan
sosial yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, perilaku
dan koping yang efektif, konsep diri yang positif, dan kestabilan emosional.
Upaya kesehatan jiwa dapat dilakukan secara perorangan, lingkungan
keluarga, lingkungan sekolah,lingkungan pekerjaan, lingkungan masyarakat
yang didukung sarana pelayanan kesehatan jiwa dan sarana lain seperti
keluarga dan lingkungan sosial. Lingkungan tersebut selain menunjang
upaya kesehatan jiwa juga merupakan stressor yang dapat mempengaruhi
kondisi jiwa seseorang, pada tingkat tertentu dapat menyebabkan seseorang
jatuh dalam kondisi gangguan jiwa(Videbeck,2012)
Riset kesehatan dasar tahun 2012 menunjukan bahwa sebanyak
0,46% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar satu juta orang menderita
gangguan psikotik dan 11,6% menderita gangguan emosional perilaku
terhadap responden usia 15-64 tahun sehingga diperkirakan penderita
gangguan jiwa mencapai19.000.000 orang. Hal ini menunjukan 1000 orang
penduduk terdapat 4-5 orang menderita gangguan jiwa. Data tersebut
menunjukan bahwa data pertahun diindonesia yang mengalami gangguan
jiwa selalu meningkat(Depkes RI,2012)
Gangguan jiwa adalah respon maladaptive dari lingkungan internal
dan eksternal, dibuktikan melalui pikiran,perasaan, dan perilaku yang tidak
sesuai dengan norma local atau budaya dan mengganggu fungsi
sosial,pekerjaan(Townsend,2005)
Kesehatan jiwa adalah kondisi sejahtera ketika seseorang mampu
merealisasikan potensi yang dimiliki, memiliki koping yang baik terhadap
stressor,produktif dan mampu memberikan kontribusi terhadap
masyarakat(WHO,2007)

B. Rumusan Masalah
1
a) Apa itu koping tidak efektif?
b) Apa yang menyebabkan koping tidak efektif?
c) Apa saja tanda gejala dari koping tidak efektif?
d) Apa saja sumber dari koping yang tidak efektif?
e) Apa saja mekanisme koping yang tidak efektif?
f) Apa asuhan keperawatan dari koping yang tidak efektif?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu membantu pembaca
baik mahasiswa atau pun orang lain yang sedang menggali pengetahuan
seputar asuhan keperawatan jiwa dengan koping tidak efektif bisa menjadi
lebih faham dan mengetahui tentang koping yang tidak efektif tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN
2
A. Pengertian Koping Tidak Efektif
Koping individu tidakefektif adalah ketidakmampuan untuk membentuk
perilaku yang benar dari stressor, pemilihan respon yang tidak adekuat atau
ketidakmampuan dalam menggunakan sumber yang tersedia (Nanda,2005).
Koping individu tidak efektif juga didefinisikan sebagai kerusakan
perilaku adaptif dan kemampuan menyelesaikan masalah seseorang dalam
menghadapi tuntutan peran dalam kehidupan(Towsend,1998)
Menurut Kim (2006) koping individu tidak efektif merupakan kerusakan
perilaku dan kemampuan adaptif seseorang individu dalam memenuhi tuntutan
dan peran hidupnya. Koping individu tidak efektif merupakan keadaan ketika
seorang individu mengalami atau berisiko mengalami suatu ketidakmampuan
dalam menangani stressor internal atau lingkungan dengan adekuat karena
ketidakadekuatan sumber. (Carpenitot,2007)

B. Penyebab
Menurut NANDA (2011) koping individu tidak efektif dapat disebabkan
karena adanya:
1. Gangguan dalam pola penilaian ancaman
2. Gangguan dalam pola melepaskan tekanan/ketegangan
3. Perbedaan gender dalam strategi koping
4. Derajat ancaman yang tinggi
5. Ketidakmampuan untuk mengubah energi yang adaptif
6. Tingkat persepsi kontrol yang tidak adekuat
7. Kesempatan yang tidak adekuat untuk menyiagakan diri terhadap stressor
8. Sumber yang tersedia tidak adekuat
9. Dukungan sosial yang tidak adekuat yang diciptakan oleh karakteristik
hubungan
10. Tingkat percaya diri yang tidak adekuat dalam kemampuan mengatasi masal

C. Tanda dan Gejala


1. Data Subyektif
 Mengungkapkan dengan kata-kata bahwa tidak mempunyai
kemampuan mengendalikan atau mempengaruhi situasi
 Mengungkapkan tidak dapat menghasilkan sesuatu
 Mengungkapkan ketidakpuasan dan frustasi terhadap
ketidakmampuan untuk melakukan tugas atau aktivitas
sebelumnya
 Mengungkapkan keragu-raguan terhadap penampilan peran

3
 Mengatakan ketidakmampuan perawatan diri
2. Data Obyektif
 Ketidakmampuan untuk mencari informasi tentang perawatan
 Tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan saat diberikan
kesempatan
 Enggan mengungkapkan perasaan sebenarnya
 Ketergantungan terhadap orang lain yang dapat mengakibatkan
iritabilitas, ketidaksukaan, marah, dan bersalah
 Gagal mempertahankan ide atau pendapat yang berkaitan dengan
orang lain ketika mendapat perlawanan
 Apatis dan pasif
 Ekspresi muka murung
 Bicara lambat

D. Sumber Koping
1. Personal ability
Kemampuan dalam berkomunikasi, Kemampuan dalam memecahkan
masalah, Hubungan interpersonal dengan orang lain di sekitarnya
2. Sosial support
Hubungan yang baik atau kurang baik antar individu dan kelompok,
keterlibatan dalam organisasi social/kelompok sebaya atau adanya komitmen
organisasi kemasyarakatan yang ada disekitarnya
3. Material asset
Penghasilan secara individu, Keberadaan asset harta benda pendukung
pengobatan yang dimiliki (tanah, rumah, tabungan) untuk melakukan
perawatan anggota keluarganya yang sakit,Mempunyai fasilitas Jamkesmas,
SKTM, ASKES yang dapat digunakan untuk mendukung pengobatan
anggota keluarganya.
4. Positive belief
Kenyakinan dan nilai positif tentang dirinya sendiri bahwa mampu
menghadapi stressor dengan cara yang lebih baik,Memiliki motivasi atau
tidak dalam menghadapi stressor menggunakan cara yang telah dimiliki,
Orientasi klien terhadap kesehatan terutama dalam hal pencegahan terjadinya
penyakit yang lebih parah pada keluarganya dari pada mengobati

E. Mekanisme Koping
4
1. Koping Jangka Pendek
Mekanisme koping jangka pendek yang sering dilakukan seperti pemakaian
obat-obatan,kerja keras,menonton secara terus menerus,mengganti kegiatan
seperti ikut organisasi,keagamaan. (Ade Herman,2011)
2. Koping Jangka panjang
Jika mekanisme koping jangka pendek tidak memberikan hasil yang baik
maka biasanya orang-orang akan melakukan seperti menutup diri dan
identitas pribadinya kepada masyarakat.

F. ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
Pengumpulan data
a. Identitas klien diantaranya adalah nama, umur, jenis kelamin,
agama, suku bangsa, pekerjaan, pendidikan, status pernikahan,
tanggal masuk RS, tanggal pengkajian, nomor rekam medik,
diagnosa medik alamat.
b. Identitas penanggung jawab diantaranya adalah nama, umur, jenis
kelamin, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat,
hubungan dengan klien.
c. Alasan masuk rumah sakit
 Apa yang menyebabkan klien dan keluarga datang ke RS?
 Apa yang sudah dilakukan oleh keluarga untuk mengatasi
masalah tersebut ketika di rumah?
 Bagaimana hasilnya dalam mengatasi masalah tersebut di
rumah? ( Renni Aryani, 2012 )
d. Faktor Predisposisi
Menurut Ade Herman ( 2011 ), faktor predisposisi antara lain:
Faktor biologis,Faktor psikologis,Faktor sosiaL,dan Faktor
kultural.
e. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi ini bisa ditimbulkan dari dalam maupun luar
individu meliputi:Trauma dan ketegangan peran (Renni Aryani,
2012)
f. Pengkajian fisik
Pengkajian fisik difokuskan pada sistem dan fungsi organ: seperti
tanda-tanda vital,ukuran dan tinggi badan,Tanyakan apakah berat
badan klien naik atau turun,Tanyakan apakah ada keluhan fisik
yang dirasakan,Kaji lebih lanjut tentang sitem dan fungsi organ
sesuai dengan keluhan yang ada. ( Renni Aryani, 2012 )
5
g. Pengkajian psikososial
Terdiri atas Genogram dan konsep diri klien.
h. Hubungan Sosial
Orang yang terdekat dengan kehidupan klien, tempat mengadu,
tempat berbicara, minta bantuan atau sokongan, apakah klien
pernah mengikuti kegiatan di masyarakat, sejauh mana klien
terlibat dalam kelompok itu. ( Renni Aryani, 2012 )
i. Spiritual
Terdiri atas Nilai dan Keyakinan dan juga kegiatan ibadah yang
dilakukan
j. Status Mental
k. Mekanisme Koping
Terdiri atas mekanisme koping jangka pendek dan jangka panjang
2. Diagnosa Keperawatan
Koping Individu Tidak Efektif
3. Intervensi Generalis
-Tujuan umum
 Pasien mampu menggunakan koping yng konstruktif untuk
mengatasi stresnya.
-Tujuan khusus
 Pasien mampu mengenali koping individu tidak efektif
 Pasien mampu mengatasi koping individu tidak efektif
 Pasien mampu memperagakan dan menggunakan koping yang
konstruktif untuk mengatasi masalahnya
4. Tindakan Keperawatan
-Bina hubungan saling percaya
 Mengucapkan salam terapeutik
 Berjabat tangan
 Membuat kontrak topic,sewaktu dan tempat setiap kali bertemu
pasien
-Kaji status koping yang digunakan klien
 Tentukan kapan mulai terjadi perasaan tidak
nyaman,gejala,hubungannya dengan peristiwa dan perubahannya
 Kaji kemampuan untuk menghubungkan fakta-fakta dengan
pengalaman perilaku yang tidak menyenangkan

6
 Dengarkan dengan cermat dan amati ekspresi wajah, gerakan
tubuh, kontak mata,posisi tubuhintonasi dan intensitas suara
pasien
 Tentukan resiko adanya tindakan membahayakan diri sendiri dan
berikan tindakan yang dibutuhkan
-Berikan dukungan jika klien mengungkapkan perasaannya
 Jelaskan bahwa perasaan-perasaan yang dimilikinya memang
sulit untuk dihadapi
 Jika individu menjadi pesimis, upayakan untuk lebih memberikan
harapan dan pandangan realistis
-Motivasi untuk melakukan evaluasi perilaku
 Apa yang positif pada dirinya
 Apa yang perlu ditingkatkan
 Apa yang dipelajari tentang dirinya dan self reinforcement
-Bantu klien untuk memecahkan masalah dengan cara konstruktif
 Identifikasi masalah yang dirasakan
 Identifikasi penyebab masalah
 Gali cara klien menyelesaikan masalah masa lalu
 Diskusikan bagaimana cara menyelesaikan masalah
 Diskusikan keuntungan dan kerugian dari setiap pilihan
-Ajarkan alternative koping yang konstruktif
 Bicara terbuka dengan orang lain untuk kekuatan social
 Kegiatan fisik untuk pemulihan kekuatan fisik
 Melakukan cara berfikir yang konstrukstif untuk kemampuan
kognitif
 Melakukan aktivitas konstruktif dan kekuatan psikomotor

7
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Koping individu tidakefektif adalah ketidakmampuan untuk
membentuk perilaku yang benar dari stressor, pemilihan respon yang tidak
adekuat atau ketidakmampuan dalam menggunakan sumber yang tersedia
(Nanda,2005).
Adapun koping individu tidak efektif dapat disebabkan karena
adanya Gangguan dalam pola penilaian ancaman,tekanan/ketegangan,
Perbedaan gender dalam strategi koping,Derajat ancaman yang tinggi, dan
Ketidakmampuan untuk mengubah energi yang adaptif.
Adapun Tanda dan Gejala dari koping tidak efektif yaitu
Mengungkapkan dengan kata-kata bahwa tidak mempunyai kemampuan
mengendalikan atau mempengaruhi situasi, Mengungkapkan tidak dapat
menghasilkan sesuatu,Mengungkapkan ketidakpuasan dan frustasi terhadap
ketidakmampuan untuk melakukan tugas atau aktivitas sebelumnya,
Mengungkapkan keragu-raguan terhadap penampilan peran

B. SARAN
Kami sebagai penulis makalah menyadari bahwa dalam penulisan
makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan dari isi
makalah. Untuk itu sebagai penulis kami berharap kritik dan saran dari
pembaca agar dalam pembuatan makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi.

8
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J dan Moyet. (2007). Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Edisi 10. Jakarta :
Penebit Buku Kedokteran EGC
NANDA International. (2011). Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-2011.
Cetakan I. Jakarta: Penebit Buku Kedokteran EGC
Townsend, M.C (2010). Buku Saku Diagnosis Keperawatan Psikiatri rencana Asuhan &
Medikasi Psikotropik. Edisi 5. Jakarta: Penebit Buku Kedokteran EGC

9
STRATEGI PELAKSANAAN (SP) TINDAKAN KEPERAWATAN
SP-1 Pasien : Diagnosa KOPING INDIVIDU TIDAK EFEKTIF
Pertemuan ke I

A. Proses keperawatan
1. Kondisi Klien
Ibu...., perempuan usia .... tahun, akhir-akhir ini tampak sering marah dan cemberut.
Ibu mempunyai masalah dengan tetangganya yang memusuhi dan dianggap sebagai
sainganya sebagai pedagang di pasar . Ibu ... merasakan perasaan cemas kalau tetangganya
tersebut lebih sukses darinya. Sehingga Ibu ... selalu kesal, tapi tidak mau menceritakan hal
itu kepada siapapun.
Ibu selalu menyimapn masalahnya sendiri, tidak mau menceritakan dengan siapapun. Dia
hanya memendam rasa kesalnya kepada semua orang. Ibu cemas kalau usaha sebagai
pedagang gagal lagi,

2.Diagnosa keperawatan
koping individu tidak efektif
3. Tujuan
1. pasien mampu mengenal koping individu tidak efektif
2. pasien mampu mengatasi koping individu tidak efektif
3. pasien mampu memperagakan dan menggunakan koping yang konstruktif untuk
mengatasi ansietas
4. Tindakan Keperawatan
1. kaji status koping yang digunakan oleh klien: tentukan kapan mulai terjadi
perasaan tidak nyaman, gejala, hubungannya dengan peristiwa dan perubahannya.
2. berikan dukungan jika pasien mengungkapkan perasaannya
3. motivasi untuk melakukan eveluasi perilaku sendiri: apa yang positif pada
dirinya, apa yang perlu ditingkatkan, apa yang dipelajari tentang dirinya
4. bantu klien untuk memecahkan masalah dengan cara yang konstruktif
5. ajarkan alternatif koping yang konstruktif.

B, PELAKSANAAN TINDAKAN
SP 1-
Orientasi:

10
Salam : assalamualaikum, selamat pagi bu. Perkenalkan nama saya ...... Saya biasanya
dipanggil mbak .....saya mahasiswa ilmu keperawatan dari ….. yang sedang berpraktek di
RS ini. Saya praktek di sini selama 1 minggu mulai hari senin samapi hari sabtu, mulai jam
8 sampai jam tiga sore. Nama Ibu siapa? Suka di panggil siapa?

Evaluasi/ Validasi: “ Bagaimana perasaan Ibu hari ini?.. Oh jadi Ibu merasa kesal dengan
tetangga Ya? Dan Ibu jadi memusuhi orang lain.
Kontrak: Baiklah Bu kita nanti akan berbincang-bincang tentang perasaan Ibu.. Saya akan
membantu memecahkan masalah IbuBerapa lama kita berbincang-bincang ? Bagaimana
kalau 20 menit? Dimana tempatnya bu? Bagaimana kalau di ruang tamu saja.

Kerja :
 tadi Ibu menceritakan kepada saya kalau Ibu sekarang merasa kesal dengan
tetangga Ibu? Apa yang Ibu pikirkan sekarang? oh Ibu merasa cemas dan tidak
nyaman ya ? Apa yang menjadi kecemasan Ibu? Oh Ibu cemas kalau tetangga Ibu
lebih kaya Ya?mulai kapan Ibu merasakan hal itu? Sebelumya Ibu apa punya
masalah kok Ibu cemas menjadi tidak berhasil??
 “Ibu usianya berapa ya? bekerja sebagai apa? Cita-cita Ibu memang ingin menjadi
Pedagang? apakah Ibu puas dengan sebagai pedagang? Penghasilan Ibu sebagai
pedagang berapa? Cukup tidak Bu untuk keperluan rumah tangga? puas ya, jadi ga
masalah kalau tidak sesuai cita-cita Ibu karena ibu hanya membantu keuangan
keluarga saja ya?
 Selain ibu cemas tetangga lebih sukses. Apa ada lagi yang Ibu pikirkan?apakah Ibu
mempunyai masalah lain?oh tidak ada ya Bu. Usia ibu yang ... tahun ini apa pernah
di rawat di RS karena penyakit Ibu? tidak ada ya Bu, selama ini Ibu Sehat-sehat saja
ya?tidak ada keluhan penyakit fisik. Biasanya di mana kalau Ibu periksa kesehatan?

 Baiklah Ibu, tadi Ibu mengatakan kalau cemas dan kesal, apa yang sudah Ibu
lakukan? Oh, belum melakukan apa-apa ya, Ibu hanya bisa Kesal dan bermusuhan
karena kecemasan iBu. Apakah keluarga Ibu seperti orang tua juga sering
marah/kesal kalau ada masalah?bagaimana hubungan ibu dengan keluarga? Oh
keluarga Ibu sangat mendukung sekali ya dengan apa yang Ibu lakukan, Ibu paling
dekat dengan siapa? Kalau di masyarakat kegiatan apa yang Ibus ikuti?

 Ibu, sebenarnya perasaan kesal, marah dan bermusuhan tersebut, karena Ibu tidak
mendapatkan cara yang sehat dan baik untuk mengatasi masalah dan kecemasan .
11
Menurut Ibu, apakah dengan marah dan bermusuhan bisa menyelesaikan masalah?
Bagus sekali Ibu sudah tahu akibat dari perilaku Ibu
 Oh ya Bu, sebelumnya apa pernah mempunyai masalah tapi ibu berhasil
menyelesaikanya?boleh saya tahu pak?bagaimana Ibu menyelesaikanya? Oh jadi
kalau dulu Ibu punya masalah, Ibu pergi olahraga dan pasrah kepada Allah.
Bagaimana perasaan Ibu setelah itu? Bagus sekali Ibu menjadi lebih tenang.
Menurut Ibu apa keuntungan yang Ibu lakukan degan olahraga dan berdoa kepada
Tuhan?
 Bu kalau sekarang masalah berkaitan dengan orang lain, apakah cara yang Ibu pilih
tadi bisa digunakan? Bagaimana agar orang yang sedang bermasalah tersebut tahu?
Bu ada banyak cara untuk menyelesaikan masalah dengan sehat, salah satunya
dengan mengajak komunikasi atau bercerita dengan orang lain yang Ibu percaya
dan Ibu nyaman dengannya. Tadi Ibu kan dekat dengan Suami , Ibu kan bisa
bercerita dengannya. Bagaimana kalau nanti kita berlatih mengungkapkan perasaan
kepada suami.

Terminasi
“bagaimana perasaan Ibu setelah kita berdiskusi tadi? Jika ibu merasa kesal atau marah,
bisa kembali menggunakan cara yang bapak miliki selama ini, coba sebutkan lagi tadi apa ?
Bagus sekali. Selain itu juga bisa apa tadi? Dua hari lagi saya akan datang lagi ke rumah ,
untuk mendiskusikan tentang kegiatan yang bermanfaat yang dapat lakukan dan nanti kita
bisa membuat jadwal ya, kegiatan yang bisa lakukan untuk menyelesaikan masalah dengan
cara yang lebih baik.

12