Anda di halaman 1dari 15

CURAH HUJAN

(Laporan Praktikum Teknologi Konservasi Tanah dan Air)

Oleh
Sinta Alvianti
1514121018
Kelompok 1

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2018
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Air dan tanah memiliki keterkaitan yang sangat erat, pada saat air hujan sampai ke
permukaan bumi, sebagian akan masuk ke dalam tanah (infiltrasi) untuk menjadi
bagian dari air tanah (groundwater), sedangkan air hujan yang tidak terserap tanah
akan menjadi aliran permukaan (run-off). Tidak semua air infiltrasi (air tanah)
mengalir ke sungai atau tampungan air lainnya, melainkan ada sebagian yang
tetap tinggal dalam lapisan bagian atas (top soil) untuk kemudian di uapkan
kembali ke atmosfer melalui permukaan tanah (evaporation) dan melalui
permukaan tajuk vegetasi (transpiration).

Hujan adalah hydrometeor yang jatuh berupa partikel-partikel air yang


mempunyai diameter 0.5 mm atau lebih. Hydrometeor yang jatuh ke tanah disebut
hujan sedangkan yang tidak sampai tanah disebut Virga. Hujan yang sampai ke
permukaan tanah dapat diukur dengan jalan mengukur tinggi air hujan tersebut
dengan berdasarkan volume air hujan per satuan luas. Hasil dari pengukuran
tersebut dinamakan dengan curah hujan. Curah hujan merupakan salah satu unsur
cuaca yang datanya diperoleh dengan cara mengukurnya dengan menggunakan
alat penakar hujan, sehingga dapat diketahui jumlahnya dalam satuan millimeter
(mm). Curah hujan dibatasi sebagai tinggi air hujan yang diterima di permukaan
sebelum mengalami aliran permukaan, evaporasi dan peresapan ke dalam tanah.

Intensitas curah hujan yang tinggi juga meningkatkan laju erosi. Erosi
menimbulkan dampak terhadap lingkungan, tidak terbatas pada wilayah on site
tetapi dapat juga meluas hingga wilayah off site. Seringkali erosi berdampak
meluas di dalam suatu kawasan daerah aliran sungai (DAS). Dampak langsung,
misalnya menurunnya tingkat kesuburan tanah, menyempitnya lahan pertanian
dan kehutanan produktif serta meluasnya lahan kritis. Dampak tidak langsung
dapat berupa polusi kimia dari pupuk dan pestisida, serta sedimentasi yang dapat
menurunkan kualitas perariran sebagai sumber air permukaan maupun sebagai
suatu ekosistem.

1.2 Tujuan

Tujuan dilakukan praktikum ini yaitu:


1. Mengetahui hubungan antara curah hujan dengan erosi.
2. Mengetahui perkiraan tingkat intensitas hujan berdasarkan hasil praktikum.
3. Mengetahui jenis-jenis erosi yang dapat disebabkan oleh curah hujan.
II. METODOLOGI PRAKTIKUM

2.1 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu gelas ukur, timbangan, corong,
jangka sorong, gelas plastik, shower air, alat tulis, dan kamera. Sedangkan bahan
yang dibutuhkan adalah air.

2.2 Prosedur Kerja

Prosedur kerja pada praktikum ini dilakukan dengan beberapa tahap yaitu:
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Ditimbang bobot gelas plastik.
3. Diukur diameter corong menggunakan jangka sorong.
4. Disusun miniatur alat percobaan yaitu corong ditaruh pada bagian atas gelas
plastik.
5. Disemprotkan air dari shower air selama 5 detik kedalam gelas plastik yang
sudah diberi corong dan kegiatan ini dilakukan sebanyak 3 ulangan.
6. Diukur air yang berada dalam gelas plastik menggunakan gelas ukur.
7. Ditimbang air yang sudah diukur volumenya sehingga diperoleh volume dan
bobot air.
8. Dicatat data yang diperoleh pada praktikum dan dihitung curah hujannya.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan yang didapat pada praktikum ini adalah:


Tabel 1. Hasil praktikum curah hujan
No. Foto Keterangan
1. Volume Air U1 : 98 ml
Bobot Air U1 : 96.52 gr
Rerata Curah Hujan U1 : 9.78 mm

2. Volume Air U2 : 86 ml
Bobot Air U2 : 84.53 gr
Rerata Curah Hujan U2 : 8.57 mm

3. Volume Air U3 : 106 ml


Bobot Air U3 : 103.39 gr
Rerata Curah Hujan U3 : 10.53 mm

3.2 Pembahasan

Tanah akan selalu mengalami perubahan yaitu perubahan dari segi fisik, kimia
ataupun biologi. Perubahan-perubahan ini terutama terjadi karena pengaruh
berbagai unsur iklim, tetapi tidak sedikit pula yang dipercepat oleh tindakan atau
perlakuan manusia. Keadaan iklim menentukan kecenderungan terjadinya erosi
yang mencerminkan keadaan pola hujan. Selain pola hujan, jenis, dan
pertumbuhan vegetasi serta jenis tanah juga mempengaruhi erosi di daerah tropis.
Hujan merupakan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap erosi,
dalam hal ini besarnya curah hujan, intensitas, dan distribusi hujan menentukan
kekuatan dispersi hujan terhadap tanah, jumlah dan kecepatan aliran permukaan
dan kerusakan erosi (Ramadhan, 2014).

Jenis-jenis hujan berdasarkan besarnya curah hujan menurut BMKG dibagi


manjadi tiga, yaitu :
1. Hujan sedang, 20 - 50 mm per hari.
2. Hujan lebat, 50-100 mm per hari.
3. Hujan sangat lebat, di atas 100 mm per hari.
Curah hujan adalah salah satu unsur iklim yang besar perannya terhadap kejadian
longsor dan erosi. Air hujan yang menjadi air limpasan permukaan adalah unsur
utama penyebab terjadinya erosi. Hujan dengan curahan dan intensitas yang
tinggi, misalnya 50 mm dalam waktu singkat (<1 jam), lebih berpotensi
menyebabkan erosi dibanding hujan dengan curahan yang sama namun dalam
waktu yang lebih lama (>1 jam). Intensitas hujan menentukan besar kecilnya
erosi. Curah hujan tahunan >2000 mm terjadi pada sebagian besar wilayah
Indonesia. Kondisi ini berpeluang besar menimbulkan erosi, apalagi di wilayah
pegunungan yang lahannya didominasi oleh berbagai jenis tanah. saat curah hujan
tinggi tingkat erosi yang terjadi juga tinggi (Ramadhan, 2014).

Erosi adalah suatu proses dimana tanah dihancurkan (detached) dan kemudian
dipindahkan ke tempat lain oleh kekuatan air, angin dan gravitasi. Beberapa tipe
erosi permukaan yang umum dijumpai di daerah tropis adalah :

 Erosi percikan (splash erosion) adalah proses terkelupasnya partikel-partikel


tanah bagian atas oleh tenaga kinetik air hujan bebas atau sebagai air lolos.
Tenaga kinetik tersebut ditentukan oleh dua hal, massa dan kecepatan jatuh air.
Tenaga kinetik bertambah besar dengan bertambahnya besarnya diameter air
hujan dan jarak antara ujung daun penetes (driptips) dan permukaan tanah
(pada proses erosi di bawah tegakan vegetasi).
 Erosi lembar (sheet erosion) adalah erosi yang terjadi ketika lapisan tipis
permukaan tanah di daerah berlereng terkikis oleh kombinasi air hujan dan air
larian (runoff). Tipe erosi ini disebebkan oleh kombinasi air hujan dan air
larian yang mengalir ke tempat yang lebih rendah.

 Erosi alur (rill erosion) adalah pengelupasan yang diikuti dengan


pengangkutan partikel-partikel tanah oleh aliran air larian yang terkonsentrasi
di dalam saluran-saluran air. Hal ini terjadi ketika air larian masuk ke dalam
cekungan permukaan tanah, kecepatan air larian meningkat, dan akhirnya
terjadilah transpor sedimen. Tipe erosi alur umumnya dijumpai pada lahan-
lahan garapan dan dibedakan dari erosi parit (gully erosion) dalam hal erosi
alur dapat diatasi dengan cara pengerjaan/pencangkulan tanah. Hal ini tidak
dapat dilakukan terhadap erosi parit.

 Erosi parit (gully erosion) membentuk jajaran parit yang lebih dalam dan lebar
dan merupakan tingkat lanjutan dari erosi alur. Erosi parit dapat
diklasifikasikan sebagai parit bersambungan dan parit terputus-putus. Erosi
parit terputus dapat dijumpai didaerah bergunung. Erosi parit bersambungan
berawal dari terbentuknya gerusan-gerusan permukaan tanah oleh air larian ke
arah tempat yang lebih tinggi dan cenderung berbentuk jari-jari tangan
(Arsyad, 2000).

Penakar hujan adalah instrumen yang digunakan untuk mendapatkan dan


mengukur jumlah curah hujan pada satuan waktu tertentu. Penakar hujan
mengukur tinggi hujan seolah-olah air hujan yang jatuh ke tanah menumpuk ke
atas merupakan kolom air. Air yang tertampung volumenya dibagi dengan luas
corong penampung, hasilnya adalah tinggi atau tebal, satuan yang dipakai adalah
milimeter (mm) (Kartasapoetra, 1985).

Salah satu tipe pengukur hujan manual yang paling banyak dipakai adalah tipe
observatorium (obs) atau sering disebut ombrometer. Curah hujan dari
pengukuran alat ini dihitung dari volume air hujan dibagi dengan luas mulut
penakar. Alat tipe observatorium ini merupakan alat baku dengan mulut penakar
seluas 100 cm2 dan dipasang dengan ketinggian mulut penakar 1,2 meter dari
permukaan tanah (Mawardi, 2012).

Syarat – syarat pemasangan ombrometer :


1. Penakar hujan harus dipasang pada lapangan terbuka, tanpa ada gangguan
disekitar penakar,seperti pohon dan bangunan, kabel atau antene yang
melintang diatasnya. Jarak yang terdekat antara pohon / bangunan dengan
penakar hujan adalah 1 kalitinggi pohon / bangunan tersebut.
2. Penakar hujan tidak boleh dipasang pada tanah miring (lereng bukit), puncak
bukit, diatas dinding atau atap.
3. Penakar dipasang dengan cara disekrup / dipaku pada balok bulat yang dicat
putih dan ditanam pada pondasi beton (lihat gambar), sehingga tinggi penakar
hujan dari permukaan corong sampai permukaan tanah 120 Cm.(lihat gbr),
letak penampang corong harus datar (horizontal) bukaan kran diberi
kuncigembok sebagai pengaman.
4. Penakar harus dipagar keliling dengan kawat, ukuran 1.5 m x 1.5 m dengan
tinggi 1m, agar tidak dapat diganggu binatang dan orang yang tidak
berkepentingan (Mawardi, 2012).

Tingkatan hujan berdasarkan intensitasnya yaitu sangat lemah (<0.02 mm/menit),


lemah (0.02-0.05 mm/menit), sedang (0.05-0.25 mm/menit), deras (0.25-1
mm/menit), dan sangat deras (>1 mm/menit). Dalam praktikum ini diperoleh data
curah hujan selama 5 detik secara berturut-turut yaitu 9.78 mm, 8.57 mm, dan
10.53 mm. Data tersebut menunjukkan intensitas hujan yang tinggi sehingga
masuk kedalam tingkat hujan sangat deras karena nilainya lebih dari 1 mm/menit.
Curah hujan yang tinggi sangat memicu terjadinya erosi tanah. Apalagi jika sifat-
sifat tanah seperti kekuatan agregat tanah yang buruk, maka tanah akan semakin
peka terhadap erosi.

Butiran hujan yang jatuh dan mengenai permukaan tanah secara langsung
menyebabkan adanya hantaman sehingga memecah partikel partikel tanah.
Partikel tanah yang terpecah akan hanyut terbawa aliran air hujan. Sehingga
terjadi pemindahan tanah dari satu tempat ketempat lain. Maka hal ini dikatakan
sebagai erosi. Semakin tinggi curah hujan maupun intensitas hujan, maka semakin
tinggi pula terjadinya erosi. Untuk mengurangi besarnya erosi akibat curah hujan
dapat diatasi dengan cara penanaman vegetasi pada permukaan tanah dan
memperbaiki sifat fisik tanah.
IV. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat diambil pada praktikum ini yaitu:


1. Semakin tinggi curah, maka semakin tinggi pula tingkat terjadinya erosi.
2. Nilai intensitas hujan yang >1 mm/menit dikategorikan kedalam hujan yang
sangat deras.
3. Jenis-jenis erosi yang dapat disebabkan oleh curah hujan yaitu erosi percikan,
lembar, alur, dan parit.
DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, S. 2000. Konservasi Tanah dan Air. Institut Pertanian Bogor Press.
Bogor.

Kartasapoetra, A.G, dan M.M. Sutedjo. 1985. Teknologi Konservasi Tanah dan
Air. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.

Ramadhan, F., Hidayah, E., Yunarni, W. 2014. Hubungan antara Intensitas Curah
Hujan terhadap Terjadinya Percikan Erosi. Universitas Jember. Jember.

Mawardi, M. 2012. Rekayasa Konservasi Tanah dan Air. Bursa Ilmu. Yogyakarta.
LAMPIRAN
FOTO KEGIATAN PRAKTIKUM

Ditimbang bobot Disemprotkan air dari shower


gelas plastik air selama 5 detik sebanyak 3
ulangan

Diukur volume Ditimbang bobot


air menggunakan air menggunakan
gelas ukur pada timbangan pada
setiap ulangan setiap ulangan
PERHITUNGAN CURAH HUJAN

Diketahui :
Diameter Penampang Corong = 11, 2 cm (1 x 0,5) = 11,25 cm
11,25 𝑐𝑚
Maka jari-jari (r) corong = = 5,625 cm
2
Berat Gelas = 3,12 gram
Volume U1 = 98 ml
U2= 86 ml
U3=106 ml
Bobot air U1 = 99,64 gr – 3,12 gr = 96,52 gr
U2= 87,65 gr – 3,12 gr = 84,53 gr
U3= 106,51 gr – 3,12 gr = 103,39 gr
Massa jenis air = 1 ml/gr

Ditanya : Curah Hujan?


Jawab :
Luas penampang corong = π r2
= 3,14 x (5,625) 2
= 99,35 cm2

𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑎𝑖𝑟 (𝑚𝑙)


Curah hujan = 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑝𝑒𝑛𝑎𝑚𝑝𝑎𝑛𝑔 cm2

A. Berdasarkan Volume
98 𝑚𝑙 98 𝑐𝑚3
a. Curah hujan U1 = 99,35cm2 = 99,35cm2 = 0,98 cm =9,86 mm

86 𝑚𝑙 86 𝑐𝑚3
b. Curah hujan U2 = 99,35cm2 = 99,35cm2 = 0,865 cm = 8,65 mm

106 𝑚𝑙 106 𝑐𝑚3


c. Curah hujan U3 = 99,35cm2 = 99,35cm2 = 1,066 cm = 10,66 mm

B. Berdasarkan Berat

96,52 𝑚𝑙 96,52 𝑐𝑚3


a. Curah hujan U1 = 99,35cm2 = 99,35cm2 = 0,971 cm =9,71 mm

84,53 𝑚𝑙 84,53 𝑐𝑚3


b. Curah hujan U2 = 99,35cm2 = 99,35cm2 = 0,850 cm = 8,50 mm
103,39 𝑚𝑙 103,39 𝑐𝑚3
c. Curah hujan U3 = 99,35cm2 = = 1,040 cm = 10,40 mm
99,35cm2

C. Rerata Curah Hujan


9,86 𝑚𝑚+9,71 𝑚𝑚
a. Curah hujan U1 = = 9,78 mm
2

8,65 𝑚𝑚+8,50 𝑚𝑚
b. Curah hujan U2 = = 8,57 mm
2

10,66 𝑚𝑚+10,40 𝑚𝑚
c. Curah hujan U3 = = 10,53 mm
2