Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Tiap-tiap organisme makhluk hidup mempunyai sistem koordinasi yang
disebut koordinasi indra untuk melakukan aktivitas sehari-hari baik itu pada
hewan vertebrata maupun pada hewan invertebrata. Hewan-hewan ini memiliki
suatu alat indra. Misalnya untuk mendengar. Hewan vertebrata atau hewan
bertulang belakang memiliki indra penglihat atau mata, indra pencium (hidung),
indra peraba (kulit) dan indra pendengar (telinga).
Akan tetapi tidak semua makhluk hidup menggunakan semua alat indranya
untuk melakukan aktifitasnya. Contohnya pada hewan invertebratanya seperti
protozoa hewan ini tidak memiliki indra, akan tetapi peka terhadap rangsangan,
Coloenterata menggunakan Tentakel sebagai alat peraba, pada cacing tanah
memiliki indra yang berada dipermukaan tubuhnya dan peka terhadap rangsangan.
Hewan ini hanya mampu membedakan antara gelap dan terang saja.
Pada hewan vetebrata mereka memiliki sistem koodinasi atau alat indera yang
sempurna. Hewan-hewan ini menggunakan mata untuk melihat, hidung yang
berfungsi sebagai indra pencium, tangan atau kulit sebagai indra peraba dan
telinga yang berfungsi sebagai indra pendengar. Sehingga pada makalah ini akan
membahas tentang sistem inra terutama pada sistem indera pandengaran yakni
telinga.
Oleh karena itu, kiranya kami perlu untuk membahas tentang alat indra
pendengaran dan alat keseimbangan pada hewan. Kami akan coba untuk
membahas hal tersebut dalam makalah kami yang kami beri judul “Pendengaran
dan Alat Keseimbangan”.

1.2. Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang terdapat pada makalah ini adalah :
1. Apa pengertian sistem indera pendengaran ?
2. Bagaimana memahami struktur indera pendengaran ?
3. Bagaimana membedakan indera pendengaran pada hewan vertebrata dan
invertebrata ?
4. Bagaimana cara kerja telinga ?
5. Apa saja kelainan pada telinga ?

1
6. Apa pengertian Keseimbangan ?
7. Bagaimana fisiologi keseimbangan ?
8. Bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan ?

1.3. Tujuan
Adapun tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian sistem indera pendengaran.
2. Untuk mengetahui memahami struktur indera pendengaran.
3. Untuk mengetahui perbedaan indera pendengaran pada hewan vertebrata dan
invertebrata.
4. Untuk mengetahui cara kerja telinga.
5. Untuk mengetahui kelainan pada telinga.
6. Untuk mengetahui pengertian keseimbangan.
7. Untuk mengetahui fisiologi keseimbangan.
8. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sistem Indera Pendengaran


Sistem indera adalah bagian dari sistem saraf yang berfungsi untuk proses
informasi indera. Di dalam sistem indera, terdapat reseptor indera, jalur saraf, dan
bagian dari otak ikut serta dalam tanggapan indera. Umumnya, sistem indera yang
dikenal adalah penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan dan peraba.
Sistem indera pendengaran adalah sistem yang memiliki saraf sistem, yang
berfungsi untuk mengubah frekuensi suara menjadi sinyal-sinyal rangsangan yang
akan di teruskan ke saraf pusat (otak) untuk segera di transferkan ke efektor untuk
tindakan selanjutnya.

2.2 Struktur Indera Pendengaran


Telinga terdiri dari tiga bagian, yaitu telinga bagian luar, telinga bagian
tengah, dan telinga bagian dalam.

 Telinga Luar
Telinga bagian luar terdiri atas daun telinga, saluran telinga luar. Daun
telinga tersusun atas tulang rawan dan jaringan fibrosa, kecuali pada ujung
paling bawah yaitu cuping telinga tersusun dari lemak.
Daun telinga berfungsi untuk menerima dan mengumpulkan suara yang
masuk ke dalam telinga. Saluran telinga luar berfungsi menghasilkan minyak
serumen. Saluran telinga luar yang dekat dengan lubang telinga dilengkapi
dengan rambut-rambut halus untuk menjaga agar benda asing tidak masuk,
dan terdapat kelenjar lilin yang berperan menjaga agar permukaan saluran
telinga luar dan gendang telinga tidak kering.
Di bagian akhir saluran telinga luar terdapat membran tipis yang
memisahkan telinga luar dengan telinga tengah disebut membran timpani
(selaput gendang).

 Telinga Tengah

3
Telinga pada bagian tengah merupakan suatu ruang di dalam tulang
pelipis, yang dilapisi jaringan mukosa. Pada telinga bagian tengah terdapat:
 tulang-tulang pendengaran, yaitu tulang martil (maleus), tulang
landasan (inkus), dan tulang sanggurdi (stapes). Ketiga tulang tersebut
saling berhubungan melalui sendi dan berfungsi untuk mengalirkan
getaran suara dari gendang telinga menuju ke rongga telinga dalam.
 Saluran eustachius yaitu Saluran yang menghubungkan telinga tengah
dengan faring, saluran ini berfungsi menjaga keseimbangkan tekanan
udara pada telinga luar dengan telinga tengah.

 Telinga Dalam

Telinga bagian dalam terdiri atas tiga bagian, yaitu jendela (tingkap),
labirin, dan organ korti. Tingkap atau jendela pada telinga ada dua macam
yaitu tingkap oval dan tingkap bulat (jorong). Telinga dalam terdiri dari
rongga yang menyerupai saluran-saluran. Rongga-rongga ini disebut labirin
tulang dan rongga yang dilapisi membran disebut labirin membran. Labirin
tulang terdiri dari tiga bagian yaitu vestibula, koklea (rumah siput), dan tiga
saluran setengah lingkaran.

4
Koklea merupakan suatu tabung berbentuk melingkar dan bergelung
seperti cangkang keong serta berisi cairan limfa. Koklea terdiri atas tiga
ruangan yaitu skala vestibuli, skala media, dan skala timpani. Skala vestibuli
dan skala timpani mengandung cairan yang disebut perilimfe. Sedangkan
skala media mengandung cairan endolimfe. Bagian dasar skala vestibuli
berhubungan dengan tulang sanggurdi melalui suatu jendela berselaput yang
disebut tingkap oval. Sedangkan skala timpani berhubungan dengan telinga
tengah melalui tingkap bundar. Skala media terdapat diantara skala vestibuli
dan skala timpani. Skala media bagian bawah dibatasi oleh membran
basilaris. Diatas membran basilaris terdapat organ korti yang berisi ribuan sel
rambut sebagai reseptor yang berfungsi mengubah getaran suara menjadi
impuls.. Reseptor tersebut berhubungan dengan serabut saraf yang bergabung
membentuk saraf pendengar (saraf auditori)dari saraf otak VIII.

2.3 Indera Pendengaran Pada Hewan


a) Sistem Indera Pada Hewan Vertebrata
Vertebrata memiliki sistem indera yang lebih berkembang dari hewan
invertebrata. Berikut ini penjelasan sistem indera pendengaran pada ikan,
katak, dan mamalia.
a. Indera Pendengaran pada Ikan
Ikan memiliki indera yang disebut gurat sisi, mata, alat pedengaran
dan alat pencium. Indera pendengar ikan hanya terdiri dari atas telinga
dalam saja. Indera pendengar ikan mirip dengan telinga dalam manusia
dan tidak terlihat dari luar karena terletak di dalam tengkorak. Telinga
ikan membantu mendeteksi bunyi, menjaga keseimbangan tubuh ikan,
serta membantu ikan merasakan perubahan kecepatan dan arah sewaktu
berenang.
b. Indera Pendengaran pada katak
Indera pendengar katak adalah teliñga yang terdiri atas telinga luar
dan telinga dalam. Telinga luar berupa sepasang selaput pendengar di
sebelah kanan dan kiri kepala. Selaput pendengar berbentuk segitiga
yang melebar di bagian luarnya.
Apabila terkena getaran atau bunyi, selaput pendengar akan
bergetar. Getaran dan selaput pendengar diteruskan oleh tulang
pendengar ketingkap jorong. Selanjutnya, getaran dari tingkap jorong

5
akan diteruskan oleh cairan limfa ke saraf pendengar. Akhirnya, getaran
oleh saraf pendengar diteruskan ke otak dalam bentuk impuls saraf.
c. Indera Pendengaran pada Reptil
Indera pendengaran pada reptil tidak berkembang dengan
sempurna, karena pada reptil itu sendiri sistem indra yang berkembang
adalah indera penciumannya.
d. Indera Pendengaran pada Mamalia
Indera mamalia umumnya berkembang dengan baik. Kepekaan
indera pada masing- masing mamalia berbeda- beda misalnnya kuncing,
anjing dan kelelawar mempunyai indera pendengaran yang istimewa.
 Kucing, Pendengaran kucing sangat tajam karena daun telinganya
mampu menangkap getaran bunyi sebanyak-banyaknya. Kucing
juga memiliki kumis yang panjang dan kaku sebagai indra peraba
yang sangat peka.
 Anjing, Telinga anjing dapat digerakkan dan ditegakkan sehiñgga
mampu menangkap getaran bunyi dengan sangat baik.
 Kelelawar, Indra pendengar kelelawar sangat baik. Ketika terbang di
malam hari, kelelawar mengeluarkan bunyi berfrekuensi lebih tinggi
daripada 20.000 getaran tiap detik (ultrasonik) yang tidak dapat
didengar oleh manusia. Gelombang bunyi yang dikeluarkan akan
mengenai mangsa atau rintangan di sekitamya dan dipantulkan
kembali kepadanya. Pantulan gelombang bunyi tersebut diterima
telinga kelelawar yang berukuran besar kemudian disampaikan ke
pusat pendengaran di otak. Melalui cara inilah kelelawar mengetahui
keberadaan mangsa atau rintangan di sekitamya.

b) Indera Pendengaran Pada Hewan Invertebrata


Sistem indera invetebrata masih sangat sederhana. Berikut ini
dijelaskan sistem indera pada Protozoa dan Coulenterata serta serangga.
1) Indera Pendengaran pada Hewan bersel Satu (Protozoa)
Pada umumnya tidak memiliki indera, termasuk indra
pendengarannya tetapi peka terhadap rangsangan cahaya.
2) Indra Pendengaran pada Hewan Berongga (Coelenterata)
Pada hewan berongga ini tidak memiliki sistem indra yang utuh
terutama pendengaran, karena hewan ini hanya mampu menerima
rangsangan dari sentuhan oleh tentakelnya.
3) Indra Pendengaran pada Serangga
Indra pendengar pada beberapa jenis serangga, misalnya jangkrik
dan belalang, terdapat di kedua kaki depannya, sedangkan indra

6
pendengar serangga jenis nyengat terletak di bagian antar ruas dada.
Indra pendengar tersebut berupa selaput mirip gendang telinga.
Kemampuan mendengar pada serangga sangat bervariasi.
Misalnya, kupu-kupu mampu mendengar suara yang berfrekuensi lebih
rendah daripada frekuensi suara yang dapat didengar manusia. Lebah
dapat mendengar suara dengan frekuensi 250 getaran per detik, belalang
bahkan dapat mendengar bunyi yang berfrekuensi antara 2.000-
1.000.000 getaran per detik.

2.4 Cara kerja Telinga


Suara yang berasal dari luar masuk ke telinga melalui udara. Suara
tersebut ditangkap oleh gendang telinga. Akibatnya, gendang telinga
bergetar. Getaran ini lalu diteruskan oleh tulang-tulang pendengar ke telinga
bagian dalam, tepatnya di ujung saraf. Oleh saraf, getaran tersebut disampaikan ke
otak agar diolah sehingga kita dapat mendengar. Selain sebagai indra pendengar,
telinga juga berfungsi sebagai alat keseimbangan tubuh. Bunyi atau suara yang
sangat keras dapat memecahkan gendang telinga. Hal ini terjadi karena
gendang telinga hanyalah selaput tipis yang mudah pecah atau robek.

2.5 Kelainan Pada Telinga


Telinga merupakan salah satu organ yang penting. Sebagai organ tubuh yang
lemah, telinga bisa mengalami kelainan maupun terserang penyakit. Misalnya, tuli
dan congek.
 Tuli adalah ketidakmampuan telinga untuk mendengarkan bunyi atau suara.
Tuli dapat disebabkan oleh adanya kerusakan pada gendang telinga,
tersumbatnya ruang telinga, atau rusaknya saraf pendengaran. Pada orang
yang telah berusia lanjut, ketulian biasanya disebabkan oleh kakunya
gendang telinga dan kurang baiknya hubungan antartulang pendengaran.
 Congek adalah penyakit telinga yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada
bagian telinga yang tersembunyi di tengah-tengah. Infeksi ini disebabkan
oleh bakteri.

2.6 Pengertian Keseimbangan


Keseimbangan merupakan salah satu faktor yang dibutuhkan individu
dalam melakukan gerak yang efektif dan efisiensi selain fleksibilitas (fleksibility),
keoordinasi (coordination), kekuatan (power) dan daya tahan (endurance).
7
Keseimbangan yang baik akan memungkinkan seseorang melakukan aktivitas
atau gerak yang efektif dan efisien dengan risiko jatuh yang minimal. Dimana
tubuh mampu mempertahankan posisinya dalam melawan gravitasi dan faktor
eksternal lain, untuk mempertahankan pusat massa tubuh agar seimbang dengan
bidang tumpu serta menstabilisasi bagian tubuh ketika bagian tubuh lain bergerak
(Bowolaksono, 2013).
Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan equilibrium
baik statis maupun dinamis ketika tubuh ditempatkan pada berbagai posisi
(Delitto, 2003). Equilibrium adalah sebuah bagian penting dari pergerakan tubuh
dalam menjaga tubuh tetap stabil sehingga manusia tidak jatuh walaupun tubuh
berubah posisi. Statis equlibrium yaitu kemampuan tubuh untuk menjaga
keseimbangan pada posisi diam seperti pada waktu berdiri dengan satu kaki atau
berdiri di atas balance board. Dinamik equilibrium adalah kemampuan tubuh
untuk mempertahankan posisi pada waktu bergerak. Keseimbangan bukanlah
kualitas yang terbatas, namun mendasari kapasitas kita untuk melakukan berbagai
kegiatan yang merupakan bagian kehidupan sehari-hari (Huxham dkk, 2001).
Keseimbangan merupakan integrasi yang kompleks dari sistem
somatosensorik (visual, vestibular, proprioceptive) dan motorik (musculoskeletal,
otot, sendi jaringan lunak) yang keseluruhan kerjanya diatur oleh otak terhadap
respon atau pengaruh internal dan eksternal tubuh. Bagian otak yang mengatur
meliputi basal ganglia, cerebellum, dan area assosiasi (Batson, 2009).
Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan pusat gravitasi atas
dasar dukungan, biasanya ketika dalam posisi tegak (Abrahamova dan Hlavacka,
2008).

2.7 Fisiologi Keseimbangan


Kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dan kestabilan
postur oleh aktivitas motorik tidak dapat dipisahkan dari faktor lingkungan dan
sistem regulasi yang berperan dalam pembentukan keseimbangan. Banyak
komponen fisiologis dari tubuh manusia memungkinkan kita untuk melakukan
reaksi keseimbangan. Beberapa jenis reseptor sensorik di seluruh kulit, otot,
kapsul sendi dan ligamen memberikan tubuh kemampuan untuk mengenali
perubahan lingkungan baik internal maupun eksternal pada setiap sendi dan
akhirnya berpengaruh pada peningkatan keseimbangan. Bagian paling penting
adalah proprioception yang bertugas menjaga keseimbangan (Brown dkk, 2006).
Proprioception dihasilkan melalui respon secara simultan dari sistem
visual, vestibular dan sensorimotor yang masing-masing memainkan peran
penting dalam menjaga stabilitas postural. Informasi yang berguna untuk alat
keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh respetor vestibuler, visual dan
propioseptik. Pusat integrasi alat keseimbangan tubuh pertama ada di inti
vertibularis yang menerima impuls aferen dari propioseptik, visual dan vestibuler.
Cerebellum selain merupakan pusat integrasi kedua juga merupakan pusat
komparasi informasi yang sedang berlangsung dengan informasi gerakan yang
sudah lewat, oleh karena memori gerakan yang pernah dialami masa lalu diduga

8
tersimpan di vestibuloserebeli. Selain cerebellum, informasi tentang gerakan juga
tersimpan di pusat memori prefrontal korteks cerebri (Batson, 2009).
Integrasi sensorik, motorik dan komponen pengolahan yang terlibat dalam
mempertahankan homeostasis bersama selama tubuh bergerak. Sistem
sensorimotor mencakup informasi yang diterima melalui reseptor saraf yang
terletak di ligamen, kapsul sendi, tulang rawan dan geometri tulang yang terlibat
dalam struktur setiap sendi. Bagian yang bertanggung jawab untuk proprioception
umumnya terletak di sendi, tendon, ligamen dan kapsul sendi sementara tekanan
reseptor sensitif terletak di fasia dan kulit (Rieman dkk, 2002). Menurut
Sherwood (2002) mekanisme fisiologi terjadinya keseimbangan dimulai ketika
reseptor di mata menerima masukan penglihatan, reseptor di kulit menerima
masukan kulit, reseptor di sendi dan otot menerima masukan proprioseptif dan
reseptor di kanalis semikularis dan organ otolith (yaitu organ yang mengandung
sel rambut dan sel penyangga yang ditutupi oleh suatu membran yang pada
permukaannya tertanam kristal-kristal kalsium karbonat atau otolith) menerima
masukan vestibular (Brown dkk, 2006).
Seluruh masukan atau input sensoris yang diterima disalurkan ke nukleus
vestibularis yang ada di batang otak, kemudian terjadi proses di cerebellum dan
dari cerebellum informasi disalurkan kembali ke nukleus vestibularis. Terjadilah
output atau keluaran ke neuron motorik otot ekstremitas dan badan berupa
pemeliharaan keseimbangan dan postur yang diinginkan. Keluaran ke neuron
motorik otot mata eksternal berupa kontrol gerakan mata dan keluaran ke sistem
saraf pusat (SSP) berupa persepsi gerakan dan orientasi. Mekanisme tersebut jika
berlangsung dengan optimal akan menghasilkan keseimbangan yang optimal
(Hanes DA dkk, 2006).

Sistem indera yang bekerja secara bersamaan juga berperan menjaga


keseimbangan tubuh, jika salah satu sistem mengalami gangguan maka akan
terjadi gangguan keseimbangan pada tubuh (inbalance). Sistem indera yang
berperan mengatur/mengontrol keseimbangan seperti visual, vestibular dan
somatosensoris (tactile dan proprioceptive) (Hanes DA dkk, 2006).

9
1. Sistem Vestibular

Secara sederhana, sistem vestibular merupakan sebuah sistem yang


bertanggungjawab terhadap orientasi tubuh dalam ruang, baik saat kita
sedang duduk, berdiri, tidur dan lain sebagainya. Sistem vestibular berperan
penting dalam keseimbangan, gerakan kepala dan gerak bola mata. Sistem
vestibular meliputi organ-organ di telinga bagian dalam dan berhubungan
dengan sistem visual dan pendengaran untuk merasakan arah dan kecepatan
gerakan kepala. Gangguan fungsi vestibular dapat menyebabkan vertigo atau
gangguan keseimbangan. Alergi makanan, dehidrasi dan trauma kepala atau
leher dapat menyebabkan disfungsi vestibular. Melalui refleks vestibulo-
occular, mereka mengontrol gerak mata terutama ketika melihat obyek yang
bergerak. Kemudian pesan diteruskan melalui saraf kranialis VIII ke nukleus
vestibular yang berlokasi di batang otak (brain stem). Beberapa stimulus
tidak menuju langsung ke nukleus vestibular tetapi ke cerebellum, formatio
retikularis,
thalamus dan korteks serebri.

Nukleus vestibular menerima masukan (input) dari reseptor


labyrinth, formasi (gabungan reticular) dan cerebellum. Hasil dari nukleus
vestibular menuju ke motor neuron melalui medula spinalis, terutama ke
motor neuron yang menginervasi otot-otot proksimal, kumparan otot pada
leher dan otot-otot punggung (otot-otot postural). Sistem vestibular bereaksi
sangat cepat sehingga membantu mempertahankan keseimbangan tubuh
dengan mengontrol otot-otot postural (Watson dkk, 2008).

2. Sistem Visual

Mata adalah organ penglihatan yang mendeteksi cahaya. Mata


melakukan hal sederhana yaitu mengetahui apakah lingkungan sekitarnya
terang atau gelap. Mata yang lebih kompleks dipergunakan untuk
memberikan pengertian visual. Visual memegang peran penting dalam
sistem sensoris. Keseimbangan akan terus berkembang sesuai umur dan
mata akan membantu agar tetap fokus pada titik utama untuk
mempertahankan keseimbangan serta sebagai monitor tubuh selama

10
melakukan gerak statik atau dinamik. Penglihatan merupakan sumber
utama informasi tentang lingkungan dan tempat kita berada, penglihatan
memegang peran penting untuk mengidentifikasi dan mengatur jarak gerak
sesuai lingkungan tempat kita berada. Penglihatan muncul ketika mata
menerima sinar yang berasal dari obyek sesuai jarak pandang (Irfan, 2010).
Dengan input visual, maka tubuh manusia dapat beradaptasi terhadap
perubahan yang terjadi di lingkungan sehingga sistem visual langsung
memberikan informasi ke otak, kemudian otak memberikan informasi agar
sistem musculoskeletal (otot dan tulang) dapat bekerja secara sinergis untuk
mempertahankan keseimbangan tubuh (Prasad dkk, 2011).

Dengan informasi visual, maka tubuh dapat menyesuaikan atau bereaksi terhadap
perubahan bidang pada lingkungan aktivitas sehingga memberikan kerja otot yang
sinergis untuk mempertahankan keseimbangan tubuh (Irfan, 2010).

3. Sistem Somatosensoris

Sistem Somatosensoris mempunyai beberapa neuron yang panjang


dan saling berhubungan antara satu sama lain yang mana sistem
somatosensori memiliki tiga neuron yang panjang yaitu : primer, sekunder
dan tersier (pertama, kedua dan ketiga).

 Primer Neuron (pertama) memiliki badan sel pada dorsal root ganglion di
dalam saraf spinal (area sensasi berada pada daerah kepala dan leher),
dimana bagian ini akan menjadi suatu terminal dari ganglia saraf
trigeminus atau ganglia dari saraf sensorik kranial lainnya.

 Second Neuron (kedua) dimana neuron ini berada di medulla spinalis dan
brain stem dan memiliki sel tubuh yang baik. Akson neuron ini naik ke sisi
berlawanan di medulla spinalis dan brain stem. Akson dari banyak neuron
berhenti pada bagian thalamus (Ventral Posterior Nucleus atau VPN) dan
yang lainnya pada sistem retikuler dan cerebellum.

 Third neuron (ketiga) dalam hal sentuhan dan rangsangan nyeri, neuron
ketiga memiliki tubuh sel dalam VPN dari thalamus dan berakhir di gyrus
postcentralis dari lobus parietal. Sistem somatosensori adalah sistem

11
sensorik yang beragam yang terdiri dari reseptor dan pusat pengolahan
untuk menghasilkan modalitas sensorik seperti sentuhan, temperatur,
proprioception dan nociception (nyeri). Reseptor sensorik menutupi kulit
dan epitel, otot rangka, tulang dan sendi, organ serta sistem kardiovaskular.
Informasi propriosepsi disalurkan ke otak melalui kolumna dorsalis
medula spinalis. Sebagian besar masukan (input) proprioseptif menuju
cerebellum, tetapi ada pula yang menuju ke korteks serebri melalui
lemniskus medialis dan thalamus (Irfan, 2010). Kesadaran akan posisi
berbagai bagian tubuh dalam ruang sebagian bergantung pada impuls yang
datang dari alat indra dalam dan sekitar sendi. Alat indra tersebut adalah
ujung-ujung saraf yang beradaptasi lambat di sinovial dan ligamentum.
Impuls alat indra dari reseptor raba di kulit dan jaringan lain serta otot
diproses di korteks menjadi kesadaran akan posisi tubuh dalam ruang
(Irfan, 2010).

2.8 Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Keseimbangan

Keseimbangan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang


berperan mempengaruhi keseimbangan tubuh hewan adalah :

I. Pusat gravitasi (Center of Gravity-COG)

Center of gravity merupakan titik gravitasi yang terdapat pada semua


benda baik benda hidup maupun mati, titik pusat gravitasi terdapat pada titik
tengah benda tersebut. Fungsi dari Center of gravity adalah untuk
mendistribusikan massa benda secara merata, pada manusia beban tubuh
selalu ditopang oleh titik ini sehingga tubuh dalam keadaan seimbang. Tetapi
jika terjadi perubahan postur tubuh maka titik pusat gravitasi pun berubah dan
akan menyebabkan gangguan keseimbangan (unstable).

Titik pusat gravitasi selalu berpindah secara otomatis sesuai dengan arah
atau perubahan berat. Jika center of gravity terletak di dalam dan tepat di
tengah maka tubuh akan seimbang, jika berada diluar tubuh maka tubuh akan
menjadi unstable. Pusat gravitasi adalah titik utama pada tubuh yang akan
mendistribusikan massa tubuh secara merata. Bila tubuh selalu ditopang oleh
titik ini, maka tubuh dalam keadaan seimbang. Titik berat tubuh manusia
terletak kira-kira setinggi sepertiga bagian atas tulang sacrum, kalau tubuh

12
dalam posisi berdiri tegak. Semakin rendah atau dekat letak titik berat ini
terhadap bidang tumpu akan semakin mantap atau stabil posisi tubuh. Pada
posisi berbaring titik berat tubuh akan rendah, yakni letaknya dekat bidang
tumpuan, dibandingkan dalam posisi duduk, berdiri atau melompat ke atas,
sehingga posisi tubuh berbaring akan lebih mantap dibandingkan dengan
posisi duduk atau berdiri. Derajat stabilitas tubuh dipengaruhi oleh empat
faktor yaitu : ketinggian dari titik pusat gravitasi dengan bidang tumpu,
ukuran bidang tumpu, lokasi garis gravitasi dengan bidang tumpu, serta berat
badan (Bishop dan Hay, 2009).

II. Garis gravitasi (Line of Gravity-LOG)

Garis gravitasi (Line Of Gravity) adalah garis imajiner yang berada


vertikal melalui pusat gravitasi. Garis ini adalah garis vertikal yang melalui
titik pusat bidang tumpuan. Garis ini sering disebut garis gaya gravitasi.
Derajat stabilitas tubuh ditentukan oleh hubungan antara garis gravitasi, pusat
gravitasi dengan base of support (bidang tumpu). Semakin dekat letak garis
berat ini dengan titik pusat bidang tumpuan, apalagi melaluinya, akan
semakin stabil posisi tubuh.

III. Bidang tumpu (Base of Support-BOS)

Base of Support (BOS) merupakan bagian dari tubuh yang berhubungan


dengan permukaan tumpu. Permukaan tumpu adalah dasar tempat bertumpu
atau berpijak tubuh baik di lantai, tanah, balok, kursi, meja, tali atau tempat
lainnya. Ketika garis gravitasi tepat berada di bidang tumpu, tubuh dalam
keadaan seimbang. Stabilitas yang baik terbentuk dari luasnya area bidang
tumpu. Semakin besar bidang tumpu, semakin tinggi stabilitas. Misalnya
berdiri dengan kedua kaki tubuh akan lebih stabil dibanding berdiri dengan
satu kaki atau saat posisi berbaring tubuh dalam posisi stabil atau mantap
dibandingkan dengan posisi duduk atau berdiri. Sebab bidang tumpu hanya
selebar pinggul/pantat dan tungkai (bersila) atau sebesar kedua telapak kaki
saja. Jika berdiri, jalan atau lari maka bidang tumpunya kecil, hanya seluas
telapak kaki. Apalagi bila sedang melompat, dalam posisi melayang jelas
tidak ada bidang tumpuan sehingga keseimbangan tubuh akan goyang atau
labil. Semakin luas dan dekat bidang tumpu dengan pusat gravitasi, maka
stabilitas tubuh makin tinggi (Wen Chang Yi dkk, 2009).

IV. Kekuatan otot (Muscle Strength)

Kekuatan otot adalah kemampuan otot atau kelompok otot menghasilkan


tegangan dan tenaga selama usaha maksimal baik secara dinamis maupun
secara statis. Kekuatan otot dari kaki, lutut serta pinggul harus cukup kuat
untuk mempertahankan keseimbangan tubuh saat adanya gaya dari luar.
Kekuatan otot tersebut berhubungan langsung dengan kemampuan otot untuk
melawan gaya gravitasi serta beban eksternal lainnya yang secara terus
menerus mempengaruhi posisi tubuh. Kekuatan otot dihasilkan oleh kontraksi

13
otot yang maksimal. Otot yang kuat merupakan otot yang dapat berkontraksi
dan rileksasi dengan baik, jika otot kuat maka keseimbangan dan aktivitas
sehari-hari dapat berjalan dengan baik seperti berjalan, lari, bekerja ke kantor
dan lain sebagainya (Kuntarti, 2006).

V. Indeks Massa Tubuh (IMT)

Tinggi badan dan berat badan hewan mencerminkan proporsi tubuh


hewan yang bersangkutan. Keadaan ini berkaitan dengan keseimbangan
dimana menurut Pate (1993), benda dengan masa yang lebih besar
mempunyai keseimbangan yang lebih besar dari pada benda berukuran sama
yang lebih ringan. Benda-benda yang berat lebih kuat menolak pengaruh gaya
dari luar dari pada lawan yang lebih ringan. Terkait dengan tinggi dan pendek
atau berat dan ringannya seseorang, letak titik berat yang mempengaruhi
keseimbangan akan berbeda.

14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini yaitu:
1. Sistem indera pendengaran adalah sistem yang memiliki saraf sistem, yang
berfungsi untuk mengubah frekuensi suara menjadi sinyal-sinyal
rangsangan yang akan di teruskan ke saraf pusat (otak) untuk segera di
transferkan ke efektor untuk tindakan selanjutnya.
2. Struktur Indera pendengaran yaitu telinga bagian bagian luar, telinga
bagian tengah, dan telinga bagian dalam.

3. Sistem indera pendengaran vertebrata memiliki sistem indera yang lebih


berkembang dari hewan invertebrate.

4. Indera pendengar, telinga juga berfungsi sebagai alat keseimbangan tubuh.


Bunyi atau suara yang sangat keras dapat memecahkan gendang telinga.

5. Kelainan pada telinga yaitu tuli dan congek.

6. Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan equilibrium


baik statis maupun dinamis ketika tubuh ditempatkan pada berbagai posisi.

7. Beberapa jenis reseptor sensorik di seluruh kulit, otot, kapsul sendi dan
ligamen memberikan tubuh kemampuan untuk mengenali perubahan
lingkungan baik internal maupun eksternal pada setiap sendi dan akhirnya
berpengaruh pada peningkatan keseimbangan.

8. Faktor-faktor yang berperan mempengaruhi keseimbangan tubuh hewan


adalah pusat gravitasi (Center of Gravity-COG), garis gravitasi (Line of
Gravity-LOG), bidang tumpu (Base of Support-BOS), kekuatan otot
(Muscle Strength), dan indeks massa tubuh (IMT).

3.2 Saran
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi si penyusun dan bagi yang
membaca. Namun tak dapat di pungkiri bahwa dalam pembuatan tugas makalah
ini banyak kekurangn, untuk itu masukan dan kritik yang membangun sangat di
harapkan. Diharapkan bagi para pembaca untuk membaca referensi lain guna
menambah pengetahuan tentang Pendengaran dan alat keseimbangan.

15
DAFTAR PUSTAKA

Djamhur W. 1986. Fisiologi Hewan dan Tumbuhan Modul 1-9, UT.

Müller, W.A. 1998. Tier und Humanspysiologie, Springer-Verlag, Berlin


Heidelberg.

Rastogi, S.C. 1984. Essential of Animal Physiology, Willey Estern Limited, New
Delhi.

Rinda,Gede.2014. Sistem Indera pada Manusia. di akses melalui


http://idkf.bogor.net/yuesbi/edu.ku/edukasi.net/SMA/Biologi/Sistem.Indera.
Manusia/materi4.html. pada tanggal 19 Februari 2018

Sunarto,dkk. 2004. Konsep Penerapan Sains Biologi. Solo: Tiga Serangkai. Hal:
139-148.

16