Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Puskesmas adalah unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota yang
bertanggungjawab terhadap pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya.Puskesmas berperan
menyelenggarakan upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar memperoleh derajat kesehatan yang
optimal.Dengan demikian Puskesmas berfungsi sebagai pusat penggerak pembangunan
berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat serta pusat pelayanan
kesehatan strata pertama.Dalam melaksanakan tugasnya menyelenggarakan upaya kesehatan
wajib dan upaya kesehatan pengembangan, puskesmas harus menerapkan azas
penyelenggaraan puskesmas secara terpadu yaitu azas pertanggungjawaban wilayah,
pemberdayaan masyarakat, keterpaduan dan rujukan.
Agar upaya kesehatan terselenggara secara optimal dan Puskesmas dapat menghasilkan
luaran yang efektif dan efisien puskesmas harus melaksanakan manajemen dengan
baik.Manajemen puskesmas yang baik terdiri dari perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian
serta pengawasan dan pertanggungjawaban seluruh kegiatan secara keterkaitan dan
berkesinambungan.Perencanaan tingkat puskesmas disusun untuk mengatasi masalah
kesehatan yang ada di wilayah kerjanya, baik upaya kesehatan wajib, upaya kesehatan
pengembangan maupun upaya kesehatan penunjang. Daerah mempunyai wewenang yang
besar untuk menentukan masalah kesehatan yang harus diprioritaskan dan intervensi yang
perlu dilakukan serta menentukan berapa besar anggaran yang diperlukan. Disamping itu juga
mempunyai kewenangan untuk melakukan integrasi perencanaan dan anggaran. Melalui
pelaksanaan otonomi – desentralisasi diharapkan dapat terlaksana kegiatan-kegiatan yang
lebih dapat memenuhi kebutuhan masyarakat

2. TUJUAN

Dengan penyususan Rencana Usulan Kegiatan (RUK) ini diharapkan semua komponen
yang ada di Puskesmas Kedaung Wetan dapat:

a) Menganalisis Situasi Wilayah Kerja, Prilaku Kesehatan masyarakat, dan Lembaga


Bersumber Daya Masyarakat yang ada di wilayah UPT Puskesmas Kedaung Wetan.
b) Mengidentifikasi permasalahan – permasalahan yang ada di wilayah kerja UPT
Puskesmas Kedaung Wetan, kemudian membuat urutan prioritas masalah yang
akan diselesaikan secara bersama-sama bersama lintas program ataupun lintas
sektoral.
c) Menganalisis hambatan, yaitu menganalisis kemungkinan hambatan yang akan
mempengaruhi pencapaian tujuan kegiatan yang akan dilaksanakan meliputi
hambatan internal dan hambatan eksternal.
d) Menyusun Kegiatan Intervensi berupa program kesehatan bersama-sama lintas
program dan lintas sektor untuk mengatasi permasalahan yang ada.

1
e) Mengetahui program-program prioritas apa saja yang akan dilaksanakan oleh UPT
Puskesmas Kedaung Wetan dalam mengatasi permasalahan kesehatan di
masyarakat satu atau dua tahun kedepan.
f) Perhitungan Anggaran, yaitu melakukan perhitungan kebutuhan anggaran kegiatan
yang direncanakan

3. VISI, MISI, TUPOKSI PUSKESMAS, DAN TATA NILAI

A. VISI
Dengan adanya otonomi daerah, Pemerintah Kota Tangerang dalam memantau urusan
kesehatan pada pelaksanaanya melibatkan Dinas Kesehatan Kota Tangerang. Pembangunan
kesehatan juga harus selaras dengan apa yang menjadi target-target pembangunan kesehatan
nasional yang dalam pelaksanaanya dilakukan oleh Kementrian Kesehatan RI. Keselarasaan
tersebut sangat penting karena mekanisme penyelenggaraan pemerintahan adalah otonomi
dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu sebagai institusi
pemerintahan, perumusan Visi Puskesmas Kedaung Wetan Mengacu Pada Visi Dinas
Kesehatan Kota Tangerang “ Menjadi Penggerak Dalam Mewujudkan Kota Tangerang yang
Sehat Dan Mandiri “ Untuk mewujudkan Kota tangerang yang sehat, Puskesmas sebagai lini
terdepan mempunyai Visi
“Setia Melayani Masyarakat Menuju Kota Tangerang Sehat. “
Visi Puskesmas Kedaung Wetan tersebut diharapkan memberikan kontribusi aktif
dalam rangka mendukung pencapaian Visi Dinas Kesehatan Kota Tangerang.
Setia Melayani Masyarakat diartikan sebagai berpegang teguh (pada janji dan
pendirian) untuk mengabdi kepada masyarakat khususnya di bidang kesehatan dalam bentuk
upaya yang diberikan oleh Puskesmas kepada masyarakat, mencakup perencanaan,
pelaksanaan, evaluasi, pencatatan, pelaporan, dan dituangkan dalam suatu system dengan
lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.
Masyarakat Kota Tangerang yang Sehat diartikan sebagai masyarakat yang memiliki
keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap
orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Diharapkan masyarakat kota
tangerang memiliki derajat kesehatan yang baik, ditandai dengan usia harapan hidup yang
tinggi, kualitas gizi yang baik, angka kesakitan yang rendah, dan memiliki pola hidup bersih dan
sehat.

B. MISI
Misi adalah adalah sesuatu yang harus diemban atau dilaksanakan oleh instansi
pemerintah, sebagai penjabaran visi yang telah ditetapkan. Dengan pernyataan misi diharapkan
seluruh anggota organisasi dan pihak yang berkepentingan dapat mengetahui dan mengenal
keberadaan dan peran instansi pemerintah dalam pelaksanaan pemerintahan negara.
Adapun Misi Puskesmas Kedaung Wetan yaitu:

2
1. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang Bermutu
2. Menjalin kerjasama lintas sektoral
3. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan
4. Meningkatkan program berwawasan yang inovatif

C. TUGAS DAN FUNGSI


Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan
pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya
kecamatan sehat. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Puskesmas
menyelenggarakan fungsi:
1) penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya; dan
2) penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya.
3) Puskesmas dapat berfungsi sebagai wahana pendidikan Tenaga Kesehatan.

Dalam menyelenggarakan fungsinya, Puskesmas berwenang untuk:


a. melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan
masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan;
b. melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan;
c. melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat
dalam bidang kesehatan;
d. menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah
kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang bekerjasama
dengan sektor lain terkait;
e. melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya
kesehatan berbasis masyarakat;
f. melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia Puskesmas;
g. memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan;
h. melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses, mutu, dan
cakupan Pelayanan Kesehatan; dan
i. memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat, termasuk
dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon penanggulangan
penyakit.
j. menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dasar secara komprehensif,
berkesinambungan dan bermutu;
k. menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang mengutamakan upaya promotif
dan preventif;
l. menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang berorientasi pada individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat
m. menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang mengutamakan keamanan dan
keselamatan pasien, petugas dan pengunjung;
n. menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dengan prinsip koordinatif dan kerja
sama inter dan antar profesi;

3
o. melaksanakan rekam medis;
p. melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap mutu dan akses
Pelayanan Kesehatan;
q. melaksanakan peningkatan kompetensi Tenaga Kesehatan;
r. mengoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas pelayanan kesehatan
tingkat pertama di wilayah kerjanya;
s. melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan Sistem
Rujukan.

C. TATA NILAI
Tata Nilai yang menjadi etos kerja Puskesmas Kedaung Wetan adalah CERIA (Cerdas, Efektif,
Efisien,Ramah, Inovatif dan Amanah)
Rencana usulan kegiatan ini disusun berdasarkan visi, misi, tupoksi dan tata nilai yang
disepakati bersama, dan berdasarkan rencana strategi Dinas Kesehatan Kota Tangerang, serta
memperhatikan hasil analisis kebutuhan masyarakat.

4
BAB II
ANALISIS SITUASI

1. Data umum
A. Analisa Geografi

Puskesmas Kedaung Wetan terletak di Kelurahan Kedaung Wetan, Kecamatan


Neglasari, Kota Tangerang.
Batas wilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan adalah sebagai berikut :
UTARA : Kecamatan Teluk Naga
SELATAN : Kecamatan Neglasari
BARAT : Kecamatan Sepatan
TIMUR : Bandara Soekarno – Hatta

Wilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan meliputi 3 kelurahan, yaitu dengan luas
wilayah sebagai berikut :
- Kelurahan Kedaung Wetan : 200.150 Ha
- Selapajang Jaya : 224.299 Ha
- Kedaung Baru : 224.066 Ha

(Sumber : BPS Kecamatan Neglasari)


Secara Administratif Wilayah Kerja Puskesmas Kedaung Wetan terbagi menjadi 14 RW
(Rukun Warga) serta 77 RT (Rukun Tetangga). Keterjangkauan pelayanan kesehatan salah
satunya dapat dilihat dari keadaan dan kondisi geografis wilayah tersebut.

Peta wilayah
Gambar 1.

5
TABEL 1
SITUASI GEOGRAFI DI WILAYAH KERJA UPT PUSKESMAS KEDAUNG WETAN
TAHUN 2016
NO KELURAHAN KATEGO RW RT Jarak Keterjangkauan Rata-
RI Terjauh Ke rata
FasKes waktu
(Km) tepuh
ke PKM
Roda Roda Jalan
2 4 Kaki

1 Kedaung Pedesaan 4 21 0,1 V V V 5 menit


Wetan
2 Kedaung Pedesaan 3 16 0,5 V V V 10 menit
Baru
3 Selapajang Pedesaan 7 40 1 V V V 15 menit
Jaya
Jumlah 14 77
Sumber BPS Kecamatan Neglasari. Tahun 2016

B. Data sumber daya


Total Pegawai di Puskesmas Kedaung Wetan Tahun 2016 berjumlah 27 Orang. Data
kepegawaian Puskesmas Kedaung Wetan tahun 2016 adalah sebagai berikut

NO URAIAN PNS PTT TKK TKS HONOR JUMLAH

1 Dokter Umum 3 0 0 0 0 3

2 Dokter Gigi 2 0 0 0 0 2

3 Ka. T U 1 0 0 0 0 1

4 Bidan 3 0 1 1 1 6

5 Perawat 3 0 0 0 0 4

6 Perawat Gigi 1 0 0 0 0 1

7 Asist. Apoteker 1 0 0 0 0 1

8 Analis Kes. 1 0 0 0 0 1

9 Pek. Kesehatan 1 0 0 0 0 1

6
10 Kesling 1 0 0 0 0 1

11 Gizi 1 0 0 0 0 1

12 Kebersihan 0 0 0 0 2 2

13 Keamanan 0 0 0 0 2 2

14 Supir 0 0 0 0 1 1

Total 18 0 2 1 6 27

C. Data sarana dan prasarana


Berikut ini merupakan data sarana yang ada di puskesmas Kedaung Wetan Tahun 2016

7
Berikut ini adalah data prasarana yang ada di Puskesmas Kedaung Wetan Tahun 2016:

D. Data peran serta masyarakat


Peran serta masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan sudah cukup baik
di wilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan ada 3 jenis UKBM yang aktif dilaksanakan di
wilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan yaitu Posyandu, TOGA dan pembentukan pos UKK.

1). POSYANDU
Posyandu merupakan bentuk UKBM yang paling populer dan memberikan
konstribusi terhadap percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka
Kematian Bayi (AKB).
Diwilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan terdapat 27 Posyandu, dengan 132
kader aktif dengan demikian dengan jumlah rata-rata 5 kader per posyandu dengan
demikian, bila ditinjau dari segi geografis, semua kelurahan telah terjangkau posyandu.

8
Selain itu Puskesmas Kedaung Wetan memiliki 10 Posbindu , 24 Kelas Ibu
Hamil, 9 Kelas Balita.

2). TOGA

a. Tanaman obat keluarga adalah sebidang tanah di halaman atau ladang yang
dimanfaatkan untuk menanam tanaman yang berkhasiat sebagai obat.
b. Fungsi TOGA adalah:
- Menghasilkan tanaman yang dapat dipergunakan untuk menjaga dan
meningkatkan kesehatan
- Menghasilkan tanaman yang dapat dipergunakan untuk mengobati gejala dan
beberapa penyakit ringan
- Memperbaiki gizi masyarakat
- Upaya pelestarian dan memperindah pemandangan
- Menambah penghasilan keluarga

Di wilayah Kerja Puskesmas Kedaung Wetan terdapat TOGA di Setiap kelurahan

3). UKK

a. Pos upaya kesehatan kerja adalah wadah dari serangkaian upaya


pemeliharaan kesehatan pekerja yang terencana, teratur dan
berkesinambungan yang diselenggarakan oleh masyarakat pekerja atau
kelompok pekerja yang memiliki jenis kegiatan usaha yang sama dan
bertujuan untuk meningkatkan produktivitas kerja
b. Kegiatan spesifik yang menjadi ciri pokok Pos UKK adalah sebagai
berikut:
- Adanya komunikasi, informasi, edukasi dan motivasi tentang ergonomic,
pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja, gizi kerja, kebugaran,
penanggulangan stress, hipertensi, bahaya merokok, pencegahan penyakit
menular, keracunan makanan dan lainnya yang berhubungan dengan
keselamatan kerja
- Kegiatan yang bersifat lintas sektor, dengan peran masing-masing sesuai
dengan profesi dan fungsi sektor yang berkaitan.
- Pelayanan dasar kesehatan kerja antara lain meliputi P3K, P3P,
pemantauan, penggunaan alat pelindung dan upaya penyehatan
lingkungan kerja.

Pos UKK dibentuk di kelurahan Kedaung Wetan Di Pabrik Tahu

9
Berikut tabel UKBM yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan

E. Data penduduk dan sasaran


Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan Tahun 2016
berdasarkan BPS Kecamatan Neglasari Kota Tangerang Tahun 2016 Sebanyak 45513 Jiwa,
yang terdiri dari 20166 penduduk laki-laki dan 20290 penduduk perempuan, dengan jumlah
Kepala Keluarga 11942 KK. Jumlah penduduk per-Kelurahan di wilayah kerja Puskesmas
Kedaung Wetan yang terbanyak adalah Kelurahan Selapajang Jaya yaitu 15709 (40,43%) jiwa
dan yang paling sedikit adalah Kelurahan Kedaung Baru yaitu 8306 (20,59%) jiwa, dan
Kedaung Wetan 15709 (38,98%).
Secara rinci jumlah kepala keluarga, rumah dan penyebaran penduduk di wilayah kerja
Puskesmas Kedaung Wetan di tampilkan di Tabel 2.

Jumlah Penduduk berdasarkan Gender


20350

20300 20290

20250

20200 Laki-laki
20156 Perempuan
20150

20100

20050
Laki-laki Perempuan

10
DEMOGRAFI KEPENDUDUKAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDAUNG WETAN
TAHUN 2016
TABEL 2
Jumlah Penduduk dan Data Kependudukan
Wilayah Kerja Puskesmas Kedaung Wetan Tahun 2016

Data Penduduk
Jumlah
No Kelurahan Penduduk/
KK BPJS KIS RW RT WUS PUS
JIWA
19557
1 Kedaung Wetan 3019 1657 4530 4 21 3291 2174
8306
2 Kedaung Baru 1782 749 2700 3 16 1075 1265
16431
3 Selapajang Jaya 3455 3027 4308 7 40 1976 2375

Total 40446 8256 5433 11538 14 77 6342 5814

NO KELURAHAN LUAS JUMLAH JUMLAH RATA- KEPADATA


WILAYAH PENDUDUK RUMAH RATA N
(KM2) TANGGA JIWA/RT PENDUDUK /
KM2
1 Kedaung 2.0800 19557 4607 3 8135
Wetan
2 Kedaung Baru 2,8700 8404 2515 3 3116

3 Selapajang 2,5700 17552 4820 3 6833


Jaya
Jumlah 7.5200 45513 11942 3 18084
Sumber BPS Kecamatan Neglasari Tahun 2016

Dengan cara pembagi jumlah penduduk dengan luas daerah maka dapat diketahui
kepadatan penduduk di wilayah Kerja Puskesmas Kedaung Wetan rata-rata 6028 jiwa/Km2
dengan tingkat hunian rata-rata 3 Jiwa/rumah.Penyebaran dan kepadatan penduduk di masing-
masing RW di wilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan berkisar antara 3000 Jiwa/Km2 sampai
dengan 8000 Jiwa/km2.
Wilayah terpadat penduduknya untuk wilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan adalah
Kelurahan Kedaung Wetan Yaitu 8135 Jiwa/Km2.

11
F. Data sekolah
DATA PENDIDIKAN DIWILAYAH KERJA UPT PUSKESMAS KEDAUNG
WETAN TAHUN 2016
Tabel 3
No Kelurahan Jumlah

TK PAUD SD MI SMP MTs SMA MA SMK

1. Kedaung 6 6 4 1 1 0 0 0 1
Wetan
2. Kedaung 2 4 2 0 0 0 0 0 0
Baru
3. Selapajang 6 4 5 2 1 1 0 1 1
Jaya
Jumlah 14 14 11 3 2 1 0 1 2

G. Data kesehatan lingkungan di wilayah kerja


Puskesmas Kedaung Wetan terletak tidak jauh dari TPA Kota Tangerang. Pada saat
Hujan akan muncul bau tidak sedap akibat timbunan sampah di TPA. Warga di sekitar
Puskesmas Kedaung Wetan banyak yang berprofesi sebagai pengepul plastik sehingga
dibelakang bangunan Puskesmas banyak terdapat timbunan plastik sampah yang berserakan.

2. Data khusus:
A. Status kesehatan:
1). ANGKA HARAPAN HIDUP
Meningkatnya status kesehatan masyarakat dapat ditunjukkan oleh
meningkatnya Angka Harapan Hidup (AHH). Angka Harapan Hidup di Kota
Tangerang tahun 2010-2014 adalah 71,07 tahun – 71,09 tahun. Diestimasikan Angka
Harapan Hidup tahun 2016 adalah 71,09 tahun. Untuk lebih jelasnya seperti terlihat
pada grafik dibawah ini.

12
B. Data kematian
Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari
kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Di samping itu kejadian
kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan
pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya.

1). Angka Kematian Neonatal


Angka kematian bayi (Infant Mortality Rate) merupakan salah satu
indikator penting dalam menentukan tingkat kesehatan masyarakat karena
dapat menggambarkan kesehatan penduduk secara umum. Angka ini sangat
sensitif terhadap perubahan tingkat kesehatan dan kesejahteraan. Angka
kematian bayi tersebut dapat didefenisikan sebagai kematian yang terjadi
antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun.
Pada tahun 2016 di Wilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan,
dari jumlah kelahiran sebesar 967 terdapat 9 kematian neonatal dimana
jumlah kematian terdapat di Kelurahan Kedaung Wetan 1 Kelurahan
Kedaung Baru 1 dan Kelurahan Selapajang Jaya 7 neonatal dengan total
sebanyak 9 kematian, sedangkan jumlah bayi (< 1 th) tidak ada.

2016

KELURAHAN JUMLAH PENYEBAB

KEDAUNG WETAN 1 Kelainan Jantung

KEDAUNG BARU 1 IUFD

SELAPAJANG 7 IUFD, BBLR

JUMLAH 9

Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kematian bayi, tetapi tidak


mudah untuk menentukan faktor yang paling dominan dan faktor yang kurang
dominan. Tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan

13
kesehatan dari tenaga medis yang terampil, serta kesediaan masyarakat untuk
merubah kehidupan tradisional yang diantaranya lebih mempercayai dukun bayi
ketimbang bidan, ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan
merupakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat kematian
bayi.

2). Angka Kematian Balita


Angka kematian balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kedaung Wetan
sebanyak 0 balita, hal ini mungkin disebabkan oleh tingkat pengetahuan
terhadap kesehatan dari ibu telah sedikit meningkat sehingga dapat dicegah
terjadinya kematian balita

3). Angka Kematian Ibu


Tidak ada kematian ibu di Wilayah Puskesmas Kedaung Wetan di tahun 2016

C. Data kesakitan
Pada tahun 2016 jumlah kunjungan rawat jalan ke Puskesmas Kedaung
Wetan adalah sebanyak 44111 dengan rata-rata kunjungan per hari sebesar 123.
Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk pada tahun 2015 maka persentase
penduduk yang memanfaatkan Puskesmas sebagai sarana kesehatan sekitar
80% dan hal ini menunjukkan bahwa Puskesmas Kedaung Wetan benar-benar
sangat dibutuhkan di wilayah kerjanya.
Total Jumlah Kunjungan Setiap Bulan Tahun 2016

Tabel 4.

KUNJUNGAN 2016
Series1

4192 4363
3989 4012 3813 3762
3678 3671 3620
3198 3261
2552

14
A. Grafik Jumlah Kunjungan Pasien Setiap Bulan Tahun 2016

D.Pola sepuluh penyakit terbanyak


Pencatatan data kesakitan 10 besar penyakit di UPT Puskesmas Kedaung
Wetan dilakukan dengan menggunakan software Sistem Informasi Puskesmas (SIP),
dengan cara menginput semua register hasil pemeriksaan pasien di semua poli, namun
karena keterbatasan komputer dan pegawai ada kemungkinan beberapa data
pemeriksaan pasien tidak terinput, selain itu kekurangan dalam SIP tersebut data 10
dasar penyakit tidak dapat dikelompokkan dalam berbagai golongan umur begitu pula
halnya dengan laki-laki atau perempuan tidak dibedakan hanya global saja.Hasil
cakupan 10 besar penyakit terbanyak di UPT Puskesmas Kedaung Wetan dapat di lihat
pada table di bawah ini :
Pola Penyakit Terbanyak di Puskesmas Kedaung Wetan Tahun 2016

Tabel 5.

10 Penyakit Terbanyak
5000 4326
4500
4000
3500
3000 2537
2500 2138 1980 1960 1851 1725
2000
1500 941
1000 628 362
500
0
10 Penyakit Terbanyak

Dari tabel diatas bahwa pola penyakit di wilayah kerja Puskesmas Kedaung
Wetan masih didominasi oleh penyakit infeksi, kebersihan lingkungan, perilaku pola
hidup. Namun demikian penyakit-penyakit akibat perubahan pola makan dan gaya
hidup seperti hipertensi, diabetes mellitus, stroke, dan serangan jantung juga
membutuhkan perhatian yang lebih baik.

15
E. Data Kesakitan

1). Penyakit menular langsung

a. Kusta

Kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri


Mycobacterium leprae. Jumlah kasus baru penyakit kusta di Wilayah Kerja Puskesmas
Kedaung Wetan pada tahun 2016 adalah 19 orang. Pada penderita kusta ini tidak
semuanya menyelesaikan pengobatannya hal ini disebabkan karena factor perilaku dan
sebagian lagi droup out.

Menurut Data Dinas Kesehatan 5 tahun terakhir menggambarkan bahwa Kota


Tangerang masih termasuk dalam daerah endemis rendah penyakit Kusta di Provinsi
Banten. Dinas Kesehatan masih perlu melakukan penjaringan yang lebih ketat lagi untuk
penderita baru kusta, dikarenakan penyakit kusta adalah penyakit menular yang sangat
susah menular dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk terjadinya gejala sakit
kusta pada seorang penderita.

Upaya Dinas Kesehatan dalam rangka pencegahan dan penanggulangan


Penyakit Kusta pada tahun 2016 antara lain :

1. Penemuan penderita kusta (Case Finding).

2. Pelaksanaan survey kontak pada kasus kusta.

3. Penanganan penderita kusta (Case Holding) melalui pengobatan dan pemeriksaan


pencegahan kecacatan (POD) pada kasus Kusta.

4. Pemeriksaan masal kusta di 8 Lokasi di Kota Tangerang oleh dinas Kesehatan.

5. Rapat koordinasi dan Evaluasi kegiatan penanggulangan Penyakit Kusta.

6. Monitoring Program Pengendalian Penyakit Kusta oleh dinas Kesehatan.

7. Pengadaan Leaflet penyakit Kusta.

b. Diare

Kasus Diare pada tahun 2016 adalah sebanyak 1270 kasus dan seluruhnya dapat
ditangani. Pada kasus diare tidak ada kasus yang meninggal hal ini dikarenakan
penatalaksanaan yang lebih baik dan penyuluhan yang intensif. Adapun kasus diare
menunjukkan peningkatan seperti terlihat pada tabel berikut :

16
Tabel 3.
Jumlah Penderita, Jumlah Yang Ditangani Penyakit Diare Tahun 2015-2016

TAHUN JUMLAH PENDERITA JML PENDERITA YANG


DITANGANI

2015 889 889

2016 1270 1270


Sumber : Laporan kegiatan PKM KW 2016

Sementara itu angka CFR (Case Fatality Rate) Diare Puskesmas Kedaung
Wetan Kota Tangerang pada tahun 2016 sebesar 0%. Hal ini merupakan suatu indikator
keberhasilan program pengendalian penyakit diare yang sangat baik dari sisi kecepatan
dan ketepatan penanganan penderita diare pada balita pada khususnya.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan Dinas Kesehatan dalam rangka pengendalian


penyakit Diare pada tahun 2016 antara lain:
1. Penanggulangan Penderita Diare (100%).
2. Bimbingan Teknis program Pengendalian Penyakit Diare
3. Rapat koordinasi dan Evaluasi kegiatan pengendalian penyakit ISP (Thypoid, Diare,
dan Hepatitis).
4. Monitoring program pengendalian penyakit Diare oleh Dinas Kesehatan
5. Pengadaan leaflet Penyakit Diare.

c. Pneumonia

Pneumonia merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia terutama


pada balita. Jumlah balita wilayah kerja Puskesmas kedaung wetan yang menderita
pneumonia dan diberikan penanganan pada tahun 2016 sebanyak 334 balita. Jumlah
penderita Pneumonia pada balita mengalami peningkatan, hal ini disebabkan oleh
penemuan kasus sesuai standar, sound timer, dan adanya laporan dari kader puskesmas.
Adapun kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan dalam upaya pencegahan dan
penanggulangan penyakit ISPA pneumonia antara lain:
1. Penanggulangan penderita Pneumonia Balita di Puskesmas.
2. Workshop ISPA untuk 33 petugas puskesmas.
3. Rapat koordinasi dan Evaluasi kegiatan pengendalian penyakit Pneumonia (0-59 bln).
4. Monitoring program Pneumonia / ISPA ke 33 Puskesmas.
5. Pengadaan leaflet Penyakit ISPA.

d. Tuberculosis Paru (TB Paru)

Tuberculosis (TB) merupakan penyakit infeksi bakteri menahun yang disebabkan


oleh Mycobakterium tuberculosis, suatu basil tahan asam yang ditularkan melalui udara.

17
Penyakit ini ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi.
Komplikasi penyakit TB Paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan
komplikasi seperti: pleuritis, efusi pleura, empiema, laryngitis dan TB usus. jumlah kasus
Suspect TB Paru di Puskesmas Kedaung Wetan pada tahun 2016 sebanyak 127 kasus.
Sedangkan menurut jenis kelamin, ditemukan sebanyak 78 kasus pada laki-laki dan 49
kasus pada perempuan.
Dari jumlah tersebut maka prevalensi TB Paru tahun 2016 adalah sebesar 112
per 100.000 penduduk. Angka Penemuan kasus BTA+ (CDR) dari target 36 ditemukan 18
orang dengan BTA + dengan persentase 54%. Proporsi penderita TB diantara suspek TB =
12 %. Dan Proporsi BTA + diantara semua penderita TB 39 %.
Angka Kesembuhan (cure rate) TB Paru BTA (+) yaitu 86%. Angka Keberhasilan
Pengobatan (success rate) Tb Paru BTA (+) yaitu 86%.Dari 15 penderita TB Paru BTA (+)
tahun 2016 yang mendapatkan pengobatan, jumlah penderita yang dinyatakan sembuh
berdasarkan hasil pemeriksaan dahaknya (2 kali negatif) berjumlah 14 orang atau 94 %
dari seluruh penderita. Jumlah penderita yang menjalani pengobatan lengkap dengan
OAT selama 6 bulan sebanyak 19 orang atau 50 % dari seluruh penderita. Kegiatan-
kegiatan pencegahan dan penanggulangan penyakit TB Paru yang telah dilakukan antara
lain:
1. Penemuan tersangka kasus Tb Paru.
2. Pemeriksaan cross-check spesimen BTA positif TB paru dari Puskesmas untuk menguji
mutu (validitas spesimen).
3. Pengawasan Minum Obat (PMO) pada penderita TB Paru oleh kader kesehatan atau
keluarga penderita.
4. Rapat koordinasi dan evaluasi petugas P2TB-Paru dan laboratorium.
5. Monitoring program pengendalian penyakit TB Paru ke Puskesmas.
6. Bimbingan Teknis Kader PMO

e. HIV–AIDS (Human Immune Deficiency Virus – Aquired Immune Deficiency


Syndrom)

AIDS atau Sindrom Kehilangan Kekebalan tubuh adalah sekumpulan gejala


penyakit yang menyerang tubuh manusia sesudah system kekebalannya dirusak oleh
virus HIV. Akibat kehilangan kekebalan tubuh, penderita AIDS mudah terkena berbagai
jenis infeksi bakteri, jamur, parasit, dan virus tertentu yang bersifat oportunistik.
Deficiency Syndrome adalah gejala dan infeksi yang terkait dengan menurunnya
sistem kekebalan tubuh akibat infeksi HIV. Pada tahun 2016 jumlah kasus HIV–AIDS yang
ditemukan sebanyak 4 kasus

18
Laporan HIV AIDS 2016

1 1

0 0 0 0 0 0 0 0 0

Grafik Jumlah Penderita HIV 2016


Kasus HIV-AIDS di kota Tangerang seperti Fenomena “gunung es” dan menjadi
permasalahan yang perlu mendapat perhatian. Hal ini didorong dengan perkembangan
epidemik HIV yang mengalami percepatan, tak pelak upaya penanggulangan HIV-AIDS
menjadi pekerjaan rumah bagi semua sektor dan masyarakat. Pemerintah Kota
Tangerang telah mengeluarkan kebijakan untuk melakukan Gerakan Penanggulangan
HIV dan AIDS dengan menerapkan Program Harm Reduction secara optimal dan
diberikan secara gratis kepada seluruh masyarakat Kota Tangerang yang membutuhkan
pelayanan tersebut.
Adapun upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan IMS dan HIV-AIDS yang telah
dilakukan pada tahun 2016 antara lain berupa :
1. Penemuan tersangka IMS (Infeksi Menular Seksual) dan HIV AIDS.
2. Penyuluhan penyakit IMS, HIV-AIDS pada masyarakat yang beresiko tinggi.
3. Rapat koordinasi dan evaluasi Puskesmas dan Lintas Sektor.
4. Survey VCT oleh petugas puskesmas.
5. Monitoring program P2 IMS dan HIVAIDS di Puskesmas.
6. Pembinaan pelaksanaan Harm Reduction.
7. Pemeriksaan Laboratorium darah HIV-AIDS, analisis urin, darah, CD4, dan test HIV.
8. Pemeriksaan Laboratorium IMS.
9. Workshop SIHA dan IMS.
10. Mobile VCT dan Mobile IMS.
14. Penyuluhan pasien PTRM dan keluarga.
15. Penyuluhan bagi masyarakat yang beresiko tinggi.
16. Bimbingan teknis petugas lapangan.
17. Pertemuan koordinasi dan evaluasi LKB IMS dan HIV-AIDS.
18. Bimbingan teknis klinik PTRM oleh rumah sakit pengampu.
19. Bimbingan teknis layanan CST oleh rumah sakit pengampu.

19
f. Infeksi Menular Seksual (IMS)

IMS (Infeksi Menular Seksual) disebut juga penyakit kelamin, merupakan salah
satu penyakit yang mudah ditularkan melalui hubungan seksual, dengan ciri khas adanya
penyebab dan kelainan yang terjadi terutama di daerah genital. IMS sampai saat ini masih
merupakan masalah kesehatan masyarakat, dan yang termasuk dalam kelompok penyakit
ini antara lain sifilis, gonorrhoe (kencing nanah), klamidia, dan herpes. Jumlah kasus IMS
yang ditemukan Puskesmas Kedaung Wetan Selama tahun 2016 ditemukan sebanyak 52
kasus.
LAPORAN IMS BERDASARKAN DIAGNOSIS
ETIOLOGIS

NO BULAN JUMLAH
1 JANUARI 10
2 FEBRUARI 0
3 MARET 0
4 APRIL 0
5 MEI 4
6 JUNI 6
7 JULI 8
8 AGUSTUS 11
9 SEPTEMBER 4
10 OKTOBER 8
11 NOPEMBER 1
12 DESEMBER
TOTAL 52

Laporan IMS Berdasarkan Diagnosis Etiologis

10 11
8 8
6
4 4
0 0 0 1
Series1

Grafik IMS Menurut Etiologi

2). Penyakit Menular Bersumber Binatang

a. Demam Berdarah Dengue (DBD).

20
Demam berdarah atau demam dengue (disingkat DBD) adalah infeksi
yang disebabkan oleh virus dengue. Nyamuk atau beberapa jenis nyamuk
menularkan (atau menyebarkan) virus dengue. Penyakit DBD ini merupakan
masalah kesehatan masyarakat yang jumlah penderitanya dari tahun ke tahun
terus meningkat dan penyebarannya pun semakin luas karena penyakit ini
mempunyai perjalanan yang sangat cepat dalam penularannya dan penyakit
ini sering menjadi fatal karena banyak penderitanya meninggal akibat
penanganannya terlambat. Jumlah penderita penyakit DBD yang dilaporkan
selama tahun 2016 sebanyak 8 Kasus di Wilayah Puskesmas Kedaung
Wetan.
Masih terdapat angka kesakitan DBD ini disebabkan karena keadaan
iklim yang tidak stabil dan curah hujan yang cukup tinggi pada musim
penghujan, sehingga banyak sarana perkembangbiakan nyamuk Aedes
Aegypti yang cukup potensial. namun upaya-upaya pemutusan rantai
penularan penyakit harus tetap ditingkatkan dan dioptimalkan dengan
mengedepankan upaya promotif dan preventif antara lain dengan
menumbuhkan rasa perduli masyarakat untuk penanganannya termasuk
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara mandiri yaitu dengan 3M Plus
dan turut menjadi jumantik di rumahnya masing-masing.
Rendahnya CFR DBD di Kota Tangerang menggambarkan kesadaran
masyarakat terhadap kewaspadaan bahaya DBD sudah mulai meningkat
sehingga tidak terjadi keterlambatan untuk penanganan medis dari tenaga
kesehatan setempat
Angka Bebas Jentik (ABJ) di Puskesmas Kedaung Wetan 2016 yaitu
98% lebih tinggi dari target ABJ Nasional yaitu ≥ 95%. Tinggi rendahnya
Angka Bebas Jentik (ABJ) tergantung pada peran serta masyarakat dalam
pelaksanaan PSN karena dengan ABJ diharapkan penularan DBD dapat
dicegah atau di kurangi.
Berbagai kegiatan telah diupayakan oleh Dinas Kesehatan Kota
Tangerang dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyakit Demam
Berdarah dan Chikungunya, antara lain :
1. Penanggulangan Fokus Penderita DBD / Chikungunya.
2. Abatisasi massal di 2 kelurahan.
3. Penyuluhan penyakit bersumber binatang
4. Bimbingan teknis petugas penyemprot / Fogging
5. Rapat Kordinasi dan Evaluasi DBD, Cikungunya, dan Zoonisis.
6. Monitoring Program P2 DBD dan Chikungunya di Puskesmas.
7. Pengadaan Spanduk dan Leaflet Waspada DBD dan Filariasis.
8. Pertemuan lintas sektor pengendalian penyakit bersumber binatang.
9. Pelatihan Ulang kader jumantik dan jumantik cilik

21
b. Chikungunya
Tahun 2016, di kota Tangerang dilaporkan penyakit chikungunya ditemukan di
area Puskesmas Kedaung Wetan yaitu sebanyak 0 kasus. Upaya pencegahan dan
penanggulangan yang dilakukan antara lain penyuluhan penyakit bersumber binatang,
pemeriksaan jentik, penyelidikan epidemiologi, abatisasi dan fogging fokus.

c. Filariasis
Filariasis atau elephantiasis atau penyakit kaki gajah, adalah penyakit yang
disebabkan infeksi cacing filaria yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Penyakit ini
tersebar luas dpedesaan dan perkotaan. Dapat menyerang semua golongan tanpa
mengenal usia dan jenis kelamin.
Penyakit kaki gajah merupakan salah satu penyakit yang sebelumnya
terabaikan. Dapat menyebabkan kecacatan, stigma buruk, psikososial dan penurunan
produktivitas penderitanya dan lingkungannya. tahun 2016 ditemukan sebanyak 0
kasus.

3). Penyakit-Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi


a. AFP ( Acute Flaccid Paralisis )
Jumlah penderita AFP (Acute Flaccid Paralisis) berusia < 15 Tahun adalah 0
b. Campak
Penyakit Campak (Rubeola, Campak 9 hari, Measles) adalah suatu infeksi vius
yang sangat menular, yang ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis (peradangan
selaput ikat mata/konjungtiva) dan ruam kulit. Penyakit ini disebabkan oleh virus campak
yang ditularkan melalui udara yang telah terkontaminasi oleh droplet (ludah) orang yang
terinfeksi. Pada tahun 2016, dilaporkan sebanyak 14 kasus campak yang tersebar di
seluruh Wilayah Kerja Puskesmas Kedaung Wetan.

c. Difteri
Penyakit Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteheriae yang
menyerang sistem pernafasan bagian atas. Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak
usia 1-10 tahun. Terdapat 0 kasus di wilayah Puskesmas kedaung wetan

d. Hepatitis B
Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B
(VHB), suatu anggota Hepadnaviridae yang dapat menyebabkan peradangan hati akut
atau menahun. yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosis hati atau
kanker hati. Tahun 2016 ditemukan 0 Kasus Di Wilayah Kerja Puskesmas Kedaung
Wetan, mengalami penurunan di tahun sebelumnya

22
e. Tetanus Neonatorum

Tetanus neonatorum merupakan suatu penyakit akut yang dapat dicegah namun
dapat berakibat fatal, yang disebabkan oleh produksi eksotoksin dari kuman Clostridium
tetani gram positif, dimana kuman ini mengeluarkan toksin yang dapat menyerang sistem
syaraf pusat. Penyakit ini menginfeksi bayi baru lahir yang salah satunya disebabkan oleh
pemotongan tali pusat dengan alat yang tidak steril. Pada tahun 2016 tidak ditemukan
kasus.

4). Penyakit Tidak Menular

Penyakit tidak menular yang akan adalah penyakit darah tinggi (hypertension) dan Kencing
manis (Diabetes Mellitus), dimana kedua penyakit tersebut merupakan penyakit yang selalu
masuk kedalam penyakit yang banyak ditemukan walaupun bukan termasuk dalm 10 penyakit
terbanyak

a. Hipertensi (tekanan darah tinggi)

Hipertensi terbagi menjadi hipertensi esensial atau hipertensi sekunder. Sekitar


90–95% kasus tergolong "hipertensi primer", yang berarti tekanan darah tinggi tanpa
penyebab medis yang jelas. Kondisi lain yang mempengaruhi ginjal, arteri, jantung,
atau sistem endokrin menyebabkan 5-10% kasus lainnya (hipertensi sekunder).
Hipertensi adalah faktor resiko infark miokard (serangan jantung), gagal jantung,
aneurisma aorta, penyakit arteri perifer, dan penyebab penyakit ginjal kronik. Bahkan
peningkatan sedang tekanan darah arteri terkait dengan harapan hidup yang lebih
pendek.
Perubahan pola makan dan gaya hidup dapat memperbaiki kontrol tekanan
darah dan mengurangi resiko terkait komplikasi kesehatan. Meskipun demikian, obat
seringkali diperlukan pada sebagian orang bila perubahan gaya hidup saja terbukti
tidak efektif atau tidak cukup.
Berdasarkan data 10 besar penyakit rawat jalan di Puskesmas Kedaung Wetan tahun
2016, penyakit hipertensi menduduki peringkat kedua dengan jumlah penderita
sebanyak 4611

b. Diabetes Mellitus (kencing manis)

Diabetes melitus (DM) yang juga dikenal di Indonesia dengan istilah penyakit
kencing manis adalah kelainan metabolik yang disebabkan oleh banyak faktor, dengan
simptom berupa hiperglikemi kronis dan gangguan metabolism karbohidrat, lemak, dan
protein sebagai akibat dari defisiensi sekresi hormon insulin, aktivitas insulin, atau
keduanya. Penyakit diabetes ini disebabkan oleh pola makan/nutrisi, perilaku tidak
sehat, kurang aktifitas fisik dan stress. Berdasarkan data Kunjungan rawat jalan

23
puskesmas Kedaung Wetan, jumlah kunjungan penderita kencing manis pada tahun
2016 sebanyak 240 orang.

c. Kesehatan Jiwa
Berdasarkan jumlah kunjungan jiwa pada tahun 2016 tercatat sebanyak 175
kunjungan,Kasus Gangguan Jiwa yang banyak ditemukan antara lain gangguan
nefrotik, schizophrenia, gangguan mental organik, dan gangguan pengguna Napza
Berbagai kegiatan telah diupayakan oleh Dinas Kesehatan Kota Tangerang dalam
rangka mengatasi penanggulangan Gangguan Mental Emosional tersebut, yaitu
dengan Pembinaan, evaluasi dan monitoring cakupan deteksi dini gangguan mental
emosional dan dilakukan pada tiap pasien yang datang di BP Umum Puskesmas serta
kegiatan konseling kesehatan jiwa di Puskesmas seperti home care
KODE JENIS PENYAKIT Total

F00 DIMENSIA 0
F20 SKIZOPRENIA 58
F23 GANGGUAN PSIKOTIK 0
G40 EPILEPSI 29
F41.1 GANGGUAN ANSEIETAS MENYELURUH 0
F41.2 GANGGUAN CAMPURAN ANSIETAS DAN DEPRESI 0
F84 GANGGUAN PERKEMBANGAN PERVASIF 0
F48 GANGGUAN PSIKOSOMATIS 54
F45 GANGGUAN SOMATOFORM 0
F32 GANGGUAN DEPRESIF 13
F80-90# GANGGUAN KES JIWA ANAK DAN REMAJA 5
F40 GANGGUAN NEUROTIK 17
JUMLAH 176

JIWA 2016
58 54

29
13 17
5
0 0 0 0 0 0

Grafik Jumlah Pasien Jiwa Berdasarkan Diagnosa

5). STATUS GIZI


Status gizi adalah suatu keadaan tubuh yang diakibatkan oleh keseimbangan
antara asupan zat gizi dengan kebutuhan. Keseimbangan tersebut dapat dilihat dari
variabel yaitu umur, berat badan (BB), tinggi badan (TB)/panjang badan (PB), lingkar
kepala, lingkar lengan (LiLA), dan panjang tungkai. Variable umur, BB dan TB disajikan

24
dalam 3 indikator antropometri, yaitu berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan
menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).
Pada tahun 2016, hasil yang didapat dari pemantauan berdasarkan Berat Badan
menurut Umur (BB/U) balita Gizi Buruk sebanyak 48 anak (2,55%), Status Gizi Kurang
sebanyak 201 anak (10,66%), Status Gizi Baik sebanyak 1590 anak (84,31%), dan
Status Gizi lebih sebanyak 1590 anak (84,31%). Dari 9 anak gizi buruk BB/U, ditemukan
bahwa terdapat 7 anak berstatus gizi buruk berdasarkan berat badan menurut tinggi
badannya (BB/TB).

5. Data epidemiologi dan Kejadian luar biasa

Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah salah satu status yang diterapkan di Indonesia untuk
mengklasifikasikan peristiwa merebaknya suatu wabah penyakit. Untuk penyakit-penyakit
endemis (penyakit yang selalu ada pada keadaan biasa), maka KLB didefinisikan sebagai suatu
peningkatan jumlah kasus yang melebihi keadaan biasa, pada waktu dan daerah tertentu.
Tidak ada Kejadian luar biasa di UPT Puskesmas Kedaung Wetan

25
BAB III
Cakupan (kinerja) program pelayanan kesehatan (baik UKM maupun UKP)

Hasil cakupan kegiatan program yang dilaksanakan di Puskesmas merupakan indikator


yang dapat dipergunakan untuk memberi gambaran hasil kinerja Puskesmas yang
bersangkutan. Berikut ini akan ditampilkan hasil cakupan program UPT Puskesmas Kedaung
Wetan, yang terdiri dari dari Upaya Kesehatan Wajib dan Upaya Kesehatan Pengembangan.

1. Upaya Kesehatan Wajib


Hasil cakupan Upaya Kesehatan Wajib meliputi program :
A. Upaya Promosi Kesehatan
B. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak termasuk Keluarga Berencana
C. Upaya Kesehatan Lingkungan
D. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
E. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular
F. Upaya Pengobatan dan Penanganan Kegawatdaruratan

A. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)


1). Pemeriksaan Ibu Hamil (K1 dan K4)
Pemeriksaan kehamilan atau yang lebih sering disebut antenatal care adalah
kegiatan yang diberikan untuk ibu sebelum melahirkan atau dalam masa kehamilan.
Pemeliharaan kehamilan merupakan suatu upaya yang dilakukan dalam pemeliharaan
terhadap kesehatan ibu dan kandungannya. Upaya kesehatan ibu hamil ini diperlukan
karena walaupun pada umumnya kehamilan berkembang dengan normal dan
menghasilkan kelahiran bayi yang sehat cukup bulan melalui jalan lahir, namun tidak
jarang hal ini tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Pemeriksaan kehamilan sebaiknya dilakukan paling sedikit empat kali selama
kehamilan, dengan distribusi waktu minimal 1 kali pada trimester pertama (0-12
minggu), 1 kali pada trimester kedua (12- 24 minggu) dan 2 kali pada trimester ketiga
(24-36 minggu). Hal ini dianjurkan untuk menjamin perlindungan terhadap ibu hamil
dan atau janin, berupa deteksi dini faktor resiko, pencegahan dan penanganan dini
komplikasi kehamilan.
Pelayanan ibu hamil sesuai standar minimal mencakup timbang badan dan ukur
tinggi badan, ukur tekanan darah, skrining status imunisasi tetanus (dan pemberian
Tetanus Toksoid), ukur tinggi fundus uteri, pemberian tablet besi (90 tablet selama
kehamilan), temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling), test
laboratorium sederhana (Hb, protein urin) dan atau berdasarkan indikasi (HbsAg,
Sifilis, HIV, Malaria, TBC).
Jumlah kunjungan baru (K1) ibu hamil di Puskesmas Kedaung Wetan pada
tahun 2016 ada sebanyak 923 ibu hamil atau 91,12% dari sasaran ibu hamil yaitu
1013 ibu hamil. Sementara itu jumlah kunjungan K4 (ibu hamil yang mendapatkan
pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit empat kali, dengan distribusi

26
pemberian pelayanan yang dianjurkan adalah minimal satu kali pada triwulan pertama,
satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga umur kehamilan)
sebanyak 896 atau 88,45% dari jumlah sasaran.

TAHUN 2016 Target Pencapaian Keterangan


K1 85% 91.12%
K4 90% 88,45% Tidak Mencapai
Target

K1
92% 91.02%
91%
90%
89%
88%
87% Target
86% 85%
85% Pencapaian
84%
83%
82%
81%
Target Pencapaian

K4
91% 90%
90%
90%
89%
89%
88% Target
88% 87% Pencapaian
87%
87%
86%
86%
Target Pencapaian

2). Cakupan Imunisasi TT Ibu Hamil

Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara


aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpapar oleh antigen yang serupa,
tidak akan terjadi penyakit. Pada imunisasi terhadap ibu hamil diberikan tetanus toksoid
yang merupakan toksin (antigen) dari kuman yang telah dilemahkan.
Persentase cakupan imunisasi TT pada ibu hamil merupakan salah satu
kegiatan imunisasi tambahan yang bertujuan untuk eliminasi tetanus maternal dan

27
tetanus neonatorum. Berdasarkan data dari pencatatan Puskesmas Kedaung Wetan di
Kota Tangerang tahun 2016, cakupan wanita usia subur (WUS) yang mendapatkan
imunisasi tetanus minimal 2 kali saat kehamilan (yang dimulai saat dan atau sebelum
kehamilan) atau imunisasi TT2+ adalah sebanyak 42 orang dengan persentase 0,36%
dari jumlah WUS 11670.

3). Pemberian Tablet Fe pada Ibu Hamil


Cakupan ibu hamil yang mendapatkan 30 tablet Fe/zat besi selama periode
kehamilan (Fe1) di Kota Tangerang pada tahun 2016 adalah 969 orang dengan
persentase 95,28% dari jumlah sasaran ibu hamil yaitu sebanyak 1017 orang.
Sedangkan cakupan ibu hamil yang mendapatkan 90 tablet Fe/zat besi selama periode
kehamilan (Fe3) adalah sebesar 828 ibu hamil dengan persentase 81,42%.

4). Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan

Jumlah ibu bersalin yang ditolong oleh tenaga kesehatan yang memiliki
kompetensi kebidanan di di Wilayah Kerja Puskesmas Kedaung Wetan pada tahun
2016 yaitu sebanyak 830 orang atau 85,83 % dari total 967 ibu bersalin.
Target Pencapaian Keterangan
Pertolongan Persalinan 90% 85,83% Tidak mencapai
oleh Tenaga target
Kesehatan

92%

90%
90%

88%

86%
Target
84% Pencapaian
85%

82%

80%

78%
Persalinan nakes

28
5). Pelayanan Ibu Nifas

Cakupan pelayanan nifas adalah pelayanan kepada ibu dan neonatal pada masa
6 jam sampai dengan 42 hari pasca persalinan sesuai standar. Cakupan pelayanan ibu
nifas di Puskesmas Kedaung Wetan tahun 2016 sebanyak 782 atau 80,87% terjadi
peningkatan di bandingkan tahun 2015 70,9%
Target Pencapaian Keterangan
Pelayanan Ibu Nifas 90% 80,87% Tidak mencapai
target

95%

90%

85%
Target
Pencapaian
80%

75%

70%
Pelayanan Ibu Nifas

Grafik Pelayanan Ibu Nifas

6). Rujukan Kasus Risti dan Penanganan Komplikasi pada Ibu Hamil dan Bayi
Neonatal

Resiko tinggi/komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal, yang


secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian, baik pada ibu hamil maupun
bayi neonatal. Pada tahun 2016, jumlah ibu hamil dengan komplikasi kebidanan yang
ditangani ada sebanyak 201 ibu hamil atau 18,76 % dari sasaran ibu hamil dengan
komplikasi. Sementara itu, jumlah penanganan komplikasi neonatal (Asfiksia, Tetanus
Neonatorum, Sepsis, Trauma lahir, BBLR) Puskesmas puskesmas kedaung Wetan pada
tahun 2016 ada sebanyak 78 bayi (56,4%)

29
7). Bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif

Pengertian ASI Eksklusif adalah pemberian ASI dari seorang ibu kepada bayinya
sampai dengan 4-6 bulan pertama tanpa tambahan makanan apapun kecuali obat bila
bayi sakit. Jadi hanya diberikan ASI saja selama 4-6 bulan tanpa adanya tambahan; susu
formula, madu, air putih, sari buah, biskuit atau bubur bayi. Jumlah bayi yang
mendapatkan ASI di wilayah Kerja Puskesmas Kedaung Wetan pada tahun 2016 148
dari 278 bayi dengan persentase 53,24%

8). Pemberian Kapsul Vitamin A

Dalam rangka pencegahan kekurangan Vitamin A (Xeropthalmia) setiap


tahunnya Kota Tangerang melaksanakan pemberian kapsul Vitamin A secara cuma-
cuma (gratis) kepada seluruh bayi dan balita. Sasaran distribusi ini adalah bayi usia 6-
11 bulan diberikan kapsul Vitamin A dosis 100.000 IU (berwarna biru), dan balita usia
12-59 bulan diberikan kapsul Vitamin A dosis 200.000 IU (berwarna merah). Distribusi
Kapsul Vitamin A dosis tinggi di laksanakan dua tahap, yaitu bulan Februari dan
Agustus. Dari dua tahap pendistribusian diatas, maka didapat cakupan bayi 6-11 bulan
yang mendapatkan kapsul Vitamin A dosis 100µA 1 kali per tahun di Wilayah Kerja
Puskesmas Kedaung Wetan pada tahun 2016, 790 dari total 971 bayi dengan
persentase sebesar 81,36 %. Sementara itu cakupan anak balita 12-59 bulan yang
mendapat kapsul vitamin A dosis 200µA 2 kali per tahun di Wilayah Kerja Puskesmas
Kedaung Wetan pada tahun 2016 dari 2810 balita sebesar 100 %. Sementara itu
cakupan pemberian Vitamin A pada ibu nifas (2x pada ibu bersalin saat periode nifas
yaitu 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan) di wilayah kerja Puskesmas Kedaung
Wetan pada tahun 2016 adalah sebesar 82,6% (802 ibu nifas yang mendapat Vitamin
A).

9). Kunjungan Neonatus

Cakupan Kunjungan Neonatus (KN) adalah pelayanan kesehatan kepada bayi


umur 0-28 hari. Cakupan Kunjungan ke- 1 Neonatus (KN1) di Puskesmas Kedaung
Wetan pada tahun 2016 sebanyak 870 bayi dari total 922 bayi, dengan persentase
sebesar 85,85 %,
Kunjungan Neonatus murni (KN murni) adalah kunjungan neonatus yang
dilakukan pada 6-48 jam setelah lahir, sedangkan Kunjungan Noenatus lengkap (KN
lengkap) adalah kunjungan yang dilakukan sebanyak 3 kali selama periode 0-28 hari
yaitu pada 6-48 jam,3-7 hari dan 8-28 hari setelah lahir. Kunjungan neonatus bertujuan
untuk meningkatkan akses neonatus terhadap pelayanan kesehatan dasar, mengetahui
sedini mungkin komplikasi yang terjadi pada bayi sehingga dapat segera ditangani dan

30
bila tidak dapat ditangani maka dirujuk ke fasilitas yang lebih lengkap untuk
mendapatkan perawatan yang optimal.
Kunjungan neonatus 3 kali (KN Lengkap) meliputi ASI Eksklusif, pencegahan
infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, pemberian vitamin K1 injeksi bila tidak
diberikan saat lahir, pemberian imunisasi hepatitis B1 dan manajemen terpadu bayi
muda, dilakukan sesuai standar sedikitnya 3 kali, pada 6-24 jam setelah lahir, pada 3-7
hari dan pada 28 hari setelah lahir yang dilakukan di fasilitas kesehatan maupun
kunjungan rumah. Cakupan KN3 di Wilayah Kerja Puskesmas Kedaung Wetan pada
tahun 2016 sebesar 777 bayi dengan persentase 84,27 % dari seluruh bayi lahir hidup.

10). Pelayanan Anak Balita

Cakupan pelayanan kesehatan anak balita dan prasekolah umur 1-6 tahun yang
mendapatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas Kedaung Wetan pada tahun 2016
sebanyak 1291 balita (47,57% dari balita yang ada). Cakupan pelayanan kesehatan
anak balita (12-59 Bulan) ini diukur berdasarkan balita yang memantau pertumbuhannya
minimal 8x setahun, dipantau pula perkembangannya minimal 2x setahun, dan diberikan
kapsul Vitamin A 2x setahun.

11) Balita Gizi Buruk yang Mendapatkan Perawatan

Berdasarkan data Puskesmas tahun 2016, jumlah balita gizi buruk (BB/TB) yang
ditemukan dan mendapatkan perawatan sesuai tata laksana gizi buruk ada sebanyak 7
balita.
Tabel 13.

Sebaran Status Gizi di wilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan Tahun 2016

Sumber data : PSG 2016

No Kelurahan BALITA

Gizi Buruk Gizi Kurang Gizi Baik Gizi Lebih

1 Kedaung Wetan 22 73 653 24

2 Kedaung Baru 12 45 332 10

3 Selapajang Jaya 14 83 605 13

Jumlah 48 201 1590 47

Jumlah Gizi Buruk tahun 2016 : 24 Orang, Membaik 18 orang

31
B. Pelayanan Kesehatan Anak, Remaja dan Lansia

a. Kegiatan Pelatihan Peer Konselor Tingkat SLTP dan SLTA Jumlah Peserta Pelatihan
Peer Konselor Tingkat SLTP yang akan dikembangkan menjadi Puskesmas mampu
PKPR (Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja).

b. Kegiatan Pembinaan Dokter Kecil


Kegiatan pelatihan dokter kecil dilakukan bagi siswa di sekolah SD binaan di
wilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan yang dilaksanakan pada bulan Maret - April
2016.
c. Pelayanan Kesehatan Lansia
Pelayanan Kesehatan Lansia bertujuan untuk meningkatkan Kualitas hidup
lansia agar sehat, mandiri, produktif, berguna dan sejahtera. Pembinaan Kesehatan
bagi Lanjut Usia dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan
keluarga dan masyarakat, serta kemitraan dengan LSM dan swasta, pembinaan
dengan pendekatan holistic, melalui pelayanan dasar dengan sistem rujukan yang
berkualitas secara komprehensif (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif). Di
Puskesmas Kedaung Wetan cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut (Usila 60+) yang
telah mendapatkan pelayanan kesehatan yaitu 1858 orang dengan persentase 79,47%
.

3. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)

Dari jumlah 7630 sasaran pasangan usia subur (PUS) di Puskesmas Kedaung Wetan
pada tahun 2016, yang mengikuti peserta KB Baru ada sebanyak 1377 atau 18,05 % dari PUS,
sementara itu jumlah peserta KB aktif sebanyak 6816 atau 92,7% dari PUS.
Tren penggunaan alat kontrasepsi tahun 2016 yang paling banyak digunakan oleh
peserta KB Aktif adalah jenis KB suntik (4239), pil (1838) dan Implan(240). Sementara itu jenis
KB yang sering digunakan oleh peserta KB Baru adalah Suntik, Pil dan kondom.

4. Pelayanan Imunisasi

a. Cakupan Kelurahan UCI Pencapaian Universal Child Immunization (UCI)


Pada dasarnya merupakan proksi terhadap cakupan atas imunisasi secara lengkap pada
sekelompok bayi. Bila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan suatu wilayah tertentu, berarti
dalam wilayah tersebut tergambarkan besarnya tingkat kekebalan masyarakat atau bayi (herd
immunity) terhadap penularan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).
Dalam hal ini Pemerintah menargetkan pencapaian UCI pada wilayah administrasi
desa/kelurahan. Suatu desa/kelurahan telah mencapai target UCI apabila > 80% bayi di
desa/kelurahan tersebut mendapat imunisasi lengkap. Pada tahun 2016, seluruh kelurahan
yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan telah menjadi kelurahan UCI yaitu
sebanyak 3 kelurahan (100%).

32
Masalah-masalah yang ditemui dalam pencapaian kelurahan UCI antara lain masih adanya
orang tua yang menolak anaknya dilakukan imunisasi walaupun sudah dilakukan sweeping ke
rumah-rumah, under report dari laporan Bidan Praktek Swasta/Rumah Bersalin Swasta, adanya
drop out cakupan karena mobilitas penduduk yang pindah dari satu daerah ke daerah lain
(pengontrak rumah), adanya dugaan kasus Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) terdahulu
yang menyebabkan masyarakat menjadi tidak mau membawa anaknya untuk imunisasi.
Namun, untuk meningkatkan cakupan kelurahan UCI (Universal Child Immunization), Dinas
Kesehatan Kota Tangerang selalu memacu peningkatan cakupan imunisasi di wilayah kerja
Puskesmas melalui evaluasi yang selalu dilaksanakan rutin atau pada saat pelaksanaan
lokakarya mini maupun lokakarya bulanan yang dilaksanakan di kelurahan, kecamatan ataupun
puskesmas.

b. Cakupan Imunisasi Bayi

Target jangkauan imunisasi bayi ditunjukkan dengan cakupan imunisasi DPT-HB3, Polio
4, Campak, dan Imunisasi Dasar Lengkap. Beberapa imunisasi ini merupakan salah satu
antigen kontak pertama dari semua imunisasi yang diberikan kepada bayi.

Cakupan Imunisasi Bayi di Puskesmas Kedaung Wetan


Tahun 2016
KEGIATAN 2016
Target
IMUNISASI KB KW SLP
HBO(0<7 Hari) 90 95.2 93.5 94.2
BCG 98 98.9 98.6 99.5
POLIO1 98 99.5 99.4 99.2
DPT/HB(1)
DPT/HB-Hib(1) 98 106.9 97 89.9
DPT/HB Total(1) 98 106.9 97 89.9
POLIO2 95 95.4 87.2 84.5
DPT/HB(2)
DPT/HB-Hib(2) 95 88.9 87.1 89
DPT/HB Total(2) 95 88.9 87.1 89
POLIO3 93 86.7 86.8 88.7
DPT/HB(3)
DPT/HB-Hib(3) 93 86.1 85 88.7
DPT/HB Total(3) 93 86.1 85 88.7
POLIO4 90 87.8 85.3 87.9
CAMPAK 90 87.2 85.3 87.9
ImunisasiDasar
Lengkap 90 87.2 85.3 87.9

33
5. Kesehatan Gigi dan Mulut

Upaya kesehatan gigi dan mulut yang telah dilaksanakan pada tahun 2016 antara lain:
a. Pembinaan, evaluasi dan monitoring kinerja kegiatan di BPG (Balai Pengobatan Gigi
Puskesmas)
b. Pembinaan, evaluasi dan monitoring cakupan kegiatan program kesehatan gigi dan
mulut luar sekolah (SD/MI). Tindakan yang diberikan pada BPG diantaranya adalah
tumpatan (tambal) dan cabut. Pada tahun 2016 jumlah tumpatan gigi tetap di Puskesmas
ada sebanyak 88 kasus. Sedangkan jumlah pencabutan gigi tetap sebanyak 270 kasus.
Rasio tambal dibandingkan cabut pada tahun 2016 adalah 0,425, masyarakat belum
paham akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Upaya Kesehatan gigi dan mulut luar gedung yang dilakukan pada tahun 2016 adalah
UKGS ke Sekolah Dasar (SD) ataupun Madrasah Ibtidaiyah (MI). UKGS berupa
kunjungan minimal 2 kali dalam 1 tahun.

6. Pengambilan dan Pemeriksaan Sampel Pangan jajajananAnak sekolah (PJAS) secara


cepat.
Pengambilan dan pemeriksaan sampel pangan jajanan anak sekolah pada tahun 2016
dilakukan di 4 sekolah di wilayah puskesmas kedaung wetan dengan menggunakan rapid
test kit sebagai screening awal keamanan pangan di sekolah adapun pengujian dilakukan
terhadap pangan yang terindikasi mengandung formalin dan borak. Dari hasil screening
102 sample PJAS yang diperiksa 76 sample memenuhi syarat dan 4 sample tidak
memenuhi syarat

7. Penyuluhan Hygiene Sanitasi dan Keamanan Pangan


merupakan kegiatan tindak lanjut dari pengambilan dan pemeriksan sampel pangan jajanan
anak sekolah. Adapun maksud dilakukannya kegiatan ini antara lain :
1. Mensosialisasikan Keamanan Pangan serta Hygiene Sanitasi pada Pedagang
Pangan Jajanan Anak Sekolah.
2. Memberikan kesadaran bahwasanya pangan jajanan anak sekolah yang diolah atau
dibuat oleh para pedagang tersebut memiliki dampak panjang terhadap kecerdasan,
kesehatan anak-anak sekolah, khususnya siswa/i Sekolah Dasar yang ada di wilayah
Kerja Puskesmas Kedaung Wetan, sehingga diharapkan pedagang dapat berperan
serta dalam menciptakan pangan yang aman, sehat dan bermutu.
3. Memberikan pengetahuan tambahan mengenai efek-efek samping bahan-bahan
kimia berbahaya yang disalahgunakan pada makanan atau pangan jajanan anak
sekolah sehingga nantinya akan terbentuk kesadaran akan penggunaan bahan-bahan
kimia berbahaya tersebut.
4. Memberikan pandangan bahwasanya Keamanan Pangan di sekolah dapat tercipta
apabila ada kerjasama dari pihak-pihak yang terkait, antara lain; beberapa komunitas di

34
sekolah, Pihak Sekolah (Kepala Sekolah, Guru UKS, guru Kelas, Guru Bidang Studi ),
Pedagang Jajanan Anak Sekolah, serta siswa-siswi/pelajar.

B. AKSES DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN


Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat Kota Tangerang
Pelayanan kesehatan secara gratis untuk seluruh penduduk Kota Tangerang ini dilaksanakan di
Puskesmas

1. Kunjungan Rawat Jalan


Jumlah kunjungan pasien rawat jalan di di Puskesmas Kedaung Wetan pada tahun 2016
sebanyak 40111 kunjungan (pasien baru + lama). Jumlah kunjungan pasien rawat jalan di
Puskesmas mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan tahun 2015.
Rata-rata setiap harinya ada 180 pasien yang berkunjung ke Puskesmas Kedaung Wetan pada
tahun 2016 dengan asumsi 296 hari kerja Puskesmas pada tahun 2016

C. PERILAKU HIDUP MASYARAKAT

1. Penyuluhan PHBS ke Masyarakat Dalam rangka mewujudkan visi Dinas Kesehatan Kota
Tangerang yaitu “Masyarakat Kota Tangerang yang Sehat Secara Mandiri”, maka pada tahun
2016 Dinas Kesehatan melaksanakan Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
kepada masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kemandirian masyarakat untuk
hidup sehat. Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat diharapkan akan menciptakan suatu
kondisi dimana masyarakat menyadari, mau dan mampu untuk mengenali, mencegah, dan
mengatasi permasalahan kesehatan.
Tahun 2016 penyuluhan PHBS Rumah Tangga dilaksanakan di Kecamatan, Kelurahan dan di
Institusi pendidikan (tingkat SD, SMP, SMA). Rincian kegiatannya adalah sebagai berikut.
a. Penyuluhan PHBS Rumah Tangga Tingkat Kelurahan Kegiatan Penyuluhan PHBS RT
tingkat kelurahan dilakukan di 3 Kelurahan yaitu di Kelurahan Kedaung Wetan, Kedaung Baru,
dan Selapajang Jaya. Kegiatan ini dihadiri oleh TP PKK Kelurahan, Tokoh Masyarakat, Tokoh
Agama dan Kader Kesehatan. Materi yang disampaikan adalah 10 Indikator PHBS ,Rumah
Tangga Sehat dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta Sosialisasi Penyakit
Menular berbasis Lingkungan.

2. Rumah Tangga ber-PHBS

Keluarga mempunyai peran penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat,


karena dalam keluarga terjadi komunikasi dan interaksi antar anggota keluarga yang menjadi
awal penting dari suatu proses pendidikan perilaku. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di
rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan
mampu mempraktikan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan

35
kesehatan di masyarakat. Tingkat perilaku hidup masyarakat di sekitar wilayah kerja
Puskesmas Kedaung Wetan masih terasa kurang hal ini dikarenakan kebanyakan masyarakat
di wilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan menggantungkan hidupnya pada pengolahan
limbah plastik yang diambil dari TPA (Tempat Pembuangan Akhir) hal ini dapat dilihat dari data
persentase Rumah Tangga berperilaku Hidup Sehat hanya sebesar 30,35 % dan rumah tangga
tidak sehat sebesar 60,65%. Tentu saja walaupun hal tersebut dapat dimaklumi tapi tentulah
haruslah diperlukan usaha lanjutan untuk menata kembali perilaku sehat pada masyarakat serta
mesti bekerja keras untuk meningkatkan penyuluhan mengenai PHBS di tatanan rumah tangga.

D. KESEHATAN LINGKUNGAN.

1. Rumah Sehat
Pada tahun 2016 dilakukan pemeriksaan terhadap 1440 rumah wilayah kerja Puskesmas
Kedaung Wetan. Dari hasil pemeriksaan didapatkan rumah yang memenuhi persyaratan rumah
sehat sebanyak 613 rumah atau 42,56% dari rumah yang diperiksa.

2. Rumah/Bangunan Bebas Jentik Nyamuk


Berbagai intervensi dilakukan untuk menekan kasus DBD seperti fogging, serta himbauan
3M plus, tetapi ABJ (angka bebas jentik) di wilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan dari
tahun ke tahun mengalami fluktuasi dan intervensi yang paling baik adalah melalui PSN
(pemberantasan sarang nyamuk) 3M plus. ABJ tidak boleh kurang dari 98. Berikut ini data ABJ
di 3 kelurahan di wilayah Puskesmas Kedaung Wetan yang diambil pada triwulan ke IV. Dapat
diliat di tabel di bawah ini ABJ di wilayah kedaung Baru 96, terjadinya peningkatan penyakit
yang disebabkan oleh perantara nyamuk
ABJ Kedaung Wetan Kedaung Baru Selapajang Jaya
Triwulan IV 98 96 97
Triwulan III 99 95 98

36
ABJ
98.5
98
98

97.5
97
97

ABJ
96.5
96
96

95.5

95
K.Wetan K. Baru Selapajang

3. Sumber Air Bersih dan Sumber Air Minum Terlindung

Sumber air bersih adalah sumber air yang dipergunakan untuk keperluan minum/masak
serta mandi/cuci. Jenis sarana air bersih yang paling banyak digunakan oleh penduduk di
wilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan 2016 adalah air minum bersumber dari air isi ulang
(16 sarana) dan sumur bor (5066 sarana). Selebihnya adalah; 405 dari perpipaan PDAM , 880
sumur gali pompa tangan,436 sumur gali terlindungi, dan beberapa sarana lainnya. Sarana air
bersih dan dapat diminum tersebut diakses oleh 8539 keluarga.

4. Keluarga memiliki Jamban Sehat

Jamban merupakan sanitasi dasar penting yang harus dimiliki setiap masyarakat
sebenarnya,masyarakat sadar dan mengerti arti pentingnya mempunyai jamban sendiri di
rumah. Alasan utama yang selalu diungkapkan masyarakat mengapa sampai saat ini belum
memiliki jamban keluarga adalah tidak atau belum mempunyai uang melihat faktor kenyataan
tersebut, sebenarnya tidak adanya jamban di setiap rumah tangga bukan semata faktor
ekonomi, tetapi lebih kepada adanya kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup
sehat (PHBS), jamban pun tidak harus mewah dengan biaya yang mahal. Menurut kriteria
Depkes RI (1985), syarat sebuah jamban keluarga dikatagorikan jamban sehat, jika memenuhi
persyaratan sebagai berikut :
 Tidak mencemari sumber air minum, untuk itu letak lubang penampungan kotoran paling
sedikit berjarak 10 meter dari sumur (SPT SGL maupun jenis sumur lainnya).
Perkecualian jarak ini menjadi lebih jauh pada kondisi tanah liat atau berkapur yang
terkait dengan porositas tanah. Juga akan berbeda pada kondisi topografi yang
menjadikan posisi jamban diatas muka dan arah aliran air tanah.

37
 Tidak berbau serta tidak memungkinkan serangga dapat masuk ke penampungan tinja.
Hal ini misalnya dapat dilakukan dengan menutup lubang jamban atau dengan sistem
leher angsa.
 Air seni, air pembersih dan air penggelontor tidak mencemari tanah di sekitarnya. Hal ini
dapat dilakukan dengan membuat lantai jamban dengan luas minimal 1x1 meter,
dengan sudut kemiringan yang cukup kearah lubang jamban.
 Mudah dibersihkan, aman digunakan, untuk itu harus dibuat dari bahan-bahan yang kuat
dan tahan lama dan agar tidak mahal hendaknya dipergunakan bahan-bahan yang ada
setempat;
 Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna terang, cukup
penerangan, lantai kedap air, luas ruangan cukup, atau tidak terlalu rendah, ventilasi
cukup baik, tersedia air dan alat pembersih.
Di Wilayah Kerja Puskesmas Kedaung Wetan, pada tahun 2016 terdapat sebanyak 6879
sarana jamban berbentuk leher angsa yang tersedia. Sarana ini diakses oleh 8669 penduduk di
Kota Tangerang.

5. Tempat-Tempat Umum Sehat


Pada tahun 2016, Puskesmas Kedaung Wetan melaksanakan pemeriksaan terhadap
Tempat-tempat Umum di seluruh wilayah Kota Tangerang. Dari hasil pemeriksaan, sebanyak
61.66% % tempat-tempat umum tersebut memenuhi syarat kesehatan.

A. SARANA KESEHATAN

1. Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) \


Dalam rangka menggerakan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat dilakukan
penggerakan dan pengembangan Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM),
dengan melakukan kegiatan-kegiatan seperti Kelurahan Siaga dan Posyandu.

1.1 Kelurahan Siaga Jumlah Kelurahan Siaga di Wilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan
pada tahun 2016 sebanyak 3 Kelurahan siaga pratama atau 100%.

1.2 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)

Posyandu adalah suatu forum komunikasi, alih teknologi dan pelayanan kesehatan
masyarakat oleh dan untuk masyarakat yang mempunyai nilai srategis dalam mengembangkan
sumber daya manusia sejak dini. Selain itu posyandu juga sebagai pusat kegiatan masyarakat
dalam upaya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana (KB) yang dikelola dan
diselenggarakan dengan dukungan teknis dari petugas kesehatan dalam rangka pencapaian
status kesehatan yang baik. Kinerja dari Posyandu juga dapat dijadikan sebagai salah satu
indikator untuk menilai besarnya peran serta masyarakat dalam meningkatkan kesehatan.
Jumlah Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Kedaung Wetan pada tahun 2016 sebanyak 27

38
Posyandu, yang terdiri dari 12 Posyandu Madya (44%), 14 Posyandu Purnama (51%) dan 1
Posyandu Mandiri (5 %). hal ini dapat menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat di wilayah
kerja puskesmas kedaung wetan dalam upaya kesehatan masyarakat semakin meningkat.

Cakupan Posyandu aktif di wilayah kerja puskesmas Kedaung Wetan pada tahun 2016
adalah 100% dari jumlah seluruh Posyandu yang ada. Posyandu aktif adalah Posyandu yang
melaksanakan kegiatan hari buka dengan frekuensi lebih dari 8 kali per tahun, rata-rata jumlah
kader yang bertugas sebanyak 5 orang atau lebih, dan cakupan utama (KIA, KB, Gizi, imunisasi
dan penggulangan Diare) berjalan setiap bulan. Rasio Posyandu terhadap kelurahan di wilayah
kerja Puskesmas Kedaung Wetantahun 2016 adalah 1:10, atau rata-rata setiap kelurahan
mempunyai 10 sampai 11 Posyandu. Sementara itu jika dibandingkan dengan jumlah balita
yang ada tahun 2016 yaitu sebanyak 2714 anak, maka rasio Posyandu terhadap balita di
wilayah kerja Puskesmas Kedaung Wetan adalah sebesar 1 : 100 atau rata-rata 1 Posyandu
melayani 100 anak balita

2. Sarana Kesehatan Dasar

Menurut data dinas kesehatan Kota Tangeranf Puskesmas yang ada pada tahun 2016
sebanyak 33 Puskesmas yang terdiri dari 31 Puskesmas tanpa perawatan dan 2 Puskesmas
dengan Perawatan PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Esensial Dasar) yaitu Puskesmas
Gembor dan Cipondoh. Perbandingan Puskesmas dengan jumlah kecamatan yang ada di Kota
Tangerang adalah 2,5. Hal ini berarti setiap kecamatan mempunyai 2-3 Puskesmas. Rasio
jumlah Puskesmas terhadap jumlah penduduk kota Tangerang tahun 2016 adalah 1 : 55.500
penduduk. Idealnya setiap 30.000 penduduk dilayani oleh satu buah Puskesmas, maka bila
dilihat dari tabel diatas jumlah Puskesmas di Kota Tangerang dirasa masih kurang. Namun
demikian, jumlah sarana pelayanan kesehatan baik balai pengobatan, rumah bersalin, praktek
dokter perorangan, maupun praktek bidan swasta sebagai penyedia pelayanan kesehatan
dasar sudah cukup banyak keberadaannya di Kota Tangerang.

3. Sarana Kesehatan Rujukan

Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan


kesehatan perseorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat jalan, rawat
inap dan gawat darurat. Jumlah Rumah Sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan rujukan di
Kota Tangerang pada tahun 2016 ada sebanyak 28 Rumah Sakit

39
1. KESIMPULAN

Berdasarkan paparan pada bab-bab sebelumnya, maka disimpulkan bahwa hasil capaian
2016 dibandingkan dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan
Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut.

a. Pelayanan Kesehatan Dasar Pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat adalah fungsi
pemerintah dalam memberikan dan mengurus keperluan kebutuhan dasar masyarakat dalam
rangka meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat. Indikator-indikator kinerja dalam pelayanan
kesehatan dasar antara lain:

1. Persentase kunjungan (K4) ibu hamil di Kota Tangerang pada tahun 2016 adalah sebesar
88,45%. menjadi tidak mencapai target SPM yang ditetapkan yaitu sebesar 95% di tahun 2016.

2. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani pada tahun 2016 yaitu sebesar 18.8 %,.
Belum mencapai target yaitu 80% di tahun 2016.

3. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi


kebidanan pada tahun 2016 adalah sebesar 85,8% Cakupannya sudah di atas target SPM 2016
yang ditetapkan yaitu sebesar 90%

4. Cakupan pelayanan ibu nifas pada tahun 2016 sebesar 80,9 %, Persentase tahun 2016
belum mencapai target SPM 2016 yaitu 90%. Diharapkan dapat ditingkatkan untuk tahun-tahun
ke depan.

5. Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani pada tahun 2016 sebesar 56,4%,
Namun angka ini belum mencapai target SPM yang ditetapkan yaitu sebesar 80% tahun 2010.

6. Cakupan kunjungan neonatal (KN1) pada tahun 2016 sebesar 59,9 % dari seluruh bayi yang
ada. target yang ditetapkan dalam SPM yang ditetapkan Kementrian Kesehatan RI yaitu 90%
tahun 2010.

7. Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) di Kota Tangerang pada tahun
2014 adalah sebesar 100% dari 3 kelurahan yang ada. Angka ini sama seperti tahun 2014
sebesar 100%. Angka ini telah mencapai target SPM yang ditetapkan

8. Cakupan pelayanan kesehatan anak balita pada tahun 2016 sebesar 47,57%. Cakupan
pelayanan anak balita di Kota Tangerang pada tahun 2016 belum mencapai target SPM yang
ditetapkan Kementrian Kesehatan RI yaitu 90,6% pada tahun 2010.

40
10.Cakupan balita gizi buruk yang mendapatkan perawatan di Kota Tangerang pada tahun
2016 adalah100 %, angka ini sudah mencapai target SPM yang ditetapkan Kementrian
Kesehatan RI yaitu 100% di tahun 2010.

11. Cakupan peserta aktif KB pada tahun 2016 telah mencapai 89,38%, jika dibandingkan
dengan target yang ditetapkan oleh Menkes yaitu 75%, maka target yang telah ditetapkan pada
tahun 2016 sudah tercapai.Angka ini belum mencapai target SPM yang ditetapkan Kementerian
Kesehatan RI yaitu sebesar 100% di tahun 2010, diharapkan beberapa tahun kedepan
angkanya dapat ditingkatkan.

12.Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit pada tahun 2016 sudah 100% atau
seluruh penderita penyakit yang ditemukan telah diberikan penanganan.

b. Pelayanan Kesehatan Rujukan


Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin pada tahun 2016 di Kota
Tangerang adalah sebesar 2346 yaitu 100%, sudah mencapai SPM yang ditetapkan

c. Penyelidikan Epidemiologi dan Penggulangan Kejadian Luar Biasa/KLB Cakupan kelurahan


mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan Epidemiologi. <24 jam pada tahun 2016 adalah
sebesar 100%. Angka ini sudah mencapai target SPM yang ditetapkan Kementrian Kesehatan
RI sebesar 100% pada tahun 2016

d. Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat


Cakupan Kelurahan Siaga aktif pada tahun 2016 di Wilayah Kerja Puskemas Kedaung Wetan
adalah sebesar 100% dari 3 kelurahan siaga yang ada. Angka ini sudah mencapai target SPM
yang ditetapkan Kementrian Kesehatan R I sebesar 100% pada tahun 2016. Secara umum
upaya-upaya yang telah dilakukan dalam pembangunan kesehatan telah menunjukkan hasil
yang cukup baik, namun masih ada beberapa program kesehatan yang belum mencapai hasil
yang optimal

41
ANALISIS MASALAH

A. IDENTIFIKASI MASALAH DAN PRIORITAS MASALAH


1. Identifikasi masalah
Berdasarkan hasil analisis situasi maka dapat diidentifikasi permasalahan-permasalahan yang
ada di puskesmas Kedaung Wetan yaitu
a. Program perbaikan gizi masyarakat
- D/S rata-rata tahun 2016 sebesar 60.15% masih di bawah target
- Tingginya kasus gizi buruk 24 orang
b. Masih rendahnya cakupan rumah tangga ber PHBS 35%
c. Program Upaya kesehatan lingkungan
cakupan rumah sehat masih rendah
masih terdapat makanan jajan yang mengandung formalin dan borak
Cakupan desa STBM rendah
d. program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
Penemuan penderita tb paru masih rendah
Kurangnya pengetahuan ibu untuk imunisasi anaknya ke posyandu
Masih terdapat Kasus DBD
e. Program kesehatan ibu dan anak serta KB
Persentase kunjungan K4 yang masih di bawah target
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi rendah

2. Prioritas masalah
Masalah adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan, antara hasil dan target. Prioritas
masalah adalah masalah yang dinilai paling utama di organisasi tersebut. Setelah itu dilakukan
identifikasi masalah berdasarkan analisis situasi cakupan masing-masing program dan kondisi
managemen. Disepakati bahwa yang menjadi prioritas masalah dari masing-masing program
adalah sebagai berikut
-masih rendahnya d/s
-masih adanya kasus gizi buruk
-Cakupan K4 masih rendah
-penemuan kasus 8 DBD
-STBM masih rendah
-Penemuan penderita BTA positif masih rendah
-Cakupan pertolongan persalinan masih rendah

42
1. Masih rendahnya kasus Gizi Buruk

2. Penemuan BTA Positif masih rendah

43
3. K4 masih rendah

4. Persalinan Linakes rendah

44
5. Cakupan D/S rendah

EVALUASI
Evaluasi dilaksanakan dengan menggunakan indicator-indikator keberhasilan untuk tiap
kegiatan baik pada program-program UKM maupun Pelayanan Klinis (UKP).Evaluasi dilakukan
baik bulanan, tribulan, semester dan tahunan. Pada periode tertentu (misalnya tiga bulan
sekali) dilakukan kajibanding dengan capaian kinerja puskesmas yang lain

45
PENUTUP

Rencana Usulan Kegiatan ini disusun sebagai bahan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
untuk menyusun rencana kerja (renja)
Rencana Usulan Kegiatan ini menjadi dasar untuk penyusunan Rencana Pelaksanaan Kegiatan
(RPK), pada tahun mendatang. setelah ada penetapan DPA dari Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota

46