Anda di halaman 1dari 9

Cara Penggunaan Obat yang Benar

10 Juni 2005 | 09:00 WIB (Obat)

Secara Umum Cara Penggunaan Obat yang Benar adalah

 Minum sesuai dengan petunjuk / aturan yang terdapat dalam kemasan obat bebas
dan bebas terbatas tersebut.
 Jika penggunaan obat dirasa tidak memberi manfaat, segera ke dokter.
 Tidak untuk digunakan secara terus menerus dalam jangka waktu lama.
 Berbagai jenis obat jangan dicampur dalam satu wadah untuk mencegah kekeliruan.

Obat Oral

 Jika mendapat kesulitan dalam meminum obat dalam sediaan yang diberikan, hubungi
tenaga kesehatan untuk minta sediaan yang sesuai.
 Ikuti petunjuk tenaga kesehatan, seperti apakah obat diminum, sebelum atau sesudah
makan.
 Jika minum obat dalam bentuk cair,gunakan sendok takar bukan sendok makan.

Obat tetes mata dan salep mata

 Obat ini termasuk obat steril, maka untuk mencegah kontaminasi, ujung wadah obat
jangan terkena permukaan lain dan tutup rapat sesudah digunakan.
 Cara penggunaan obat ini dimulai dengan mencuci tangan, menengadahkan kepala,
menarik kelopak bagian bawah, lalu teteskan / oleskan,tutup mata dan biarkan selama
1-2 menit.
 Setelah digunakan,bilas kemudian cuci tangan kembali.
 Obat yang telah terbuka dan dipakai tidak boleh disimpan > 30 hari untuk digunakan
lagi, karena mungkin sudah terkontaminasi kuman.
 Jangan gunakan 1 obat tetes mata untuk lebih dari 1 orang.

Obat tetes Hidung

 Cara penggunaan obat ini dimulai dengan membersihkan hidung, menengadahkan


kepala, teteskan obat, tahan posisi kepala selama beberapa menit. Bersihkan ujung
tetes hidung dengan air panas dan lap dengan tisu.
 Jangan gunakan satu obat untuk lebih dari 1 orang.

Obat tetes Telinga

 Ujung wadah sediaan tidak boleh terkena benda lain, agar tidak terkontaminasi.
 Cara penggunaan obat ini dimulai dengan memiringkan kepala atau berbaring miring,
lalu telunjuk diletakkan didepan tragus, dan mendorong ke depan, sedangkan ibu jari
dan jari tengah menjepit daun telinga dan menariknya keatas (dewasa) atau kebawah
(anak-anak). Kemudian teteskan obat, dan biarkan beberapa menit.
 Setelah digunakan,ujung wadah cukup dikeringkan dengan tisu, jangan dibilas.
Supositoria

 Cara penggunaan dimulai dengan mencuci tangan, lalu buka bungkusnya dan
lunakkan supositoria dengan air. setelah berbaring, masukkan supositoria ke dalam
anus dengan jari. Jika supositoria terlalu lunak sebelum digunakan masukkan ke
lemari es atau rendam dahulu dalam air dingin. Cucilah tangan setelah
memasukkannya.

Beralih ke versi : Desktop

Aktifkan Javascript pada Browser Anda

Cara Membuang Obat yang Benar


Memiliki persediaan obat di rumah merupakan tindakan yang baik sebagai persiapan untuk
memudahkan kita mencari obat ketika sakit. Namun adakalanya obat yang kita miliki
tersimpan cukup lama di kotak obat atau tempat penyimpanan lainnya. Untuk itulah kita juga
harus memeriksa kondisi obat-obatan yang disimpan, dan membuang obat yang sudah
kadaluwarsa atau yang sudah tidak terpakai lagi

Banyak dijumpai masyarakat membuang obat dengan cara langsung memasukkannya ke


dalam tempat sampah. Bahkan dengan kondisi kemasan obat yang utuh dan masih sangat
rapi.
Apakah membuang obat dengan cara ini adalah benar? Bagaimanakah cara membuang obat
dengan benar?

Berikut adalah tips cara membuang obat yang benar :

1. Hilangkan semua informasi yang ada pada obat yang akan dibuang dan keluarkan
obat dari bungkusnya. Hal ini berfungsi untuk melindungi identitas dan privasi
mengenai keadaan kesehatan kita. Selain itu, juga berguna untuk menghindari obat
dijual kembali oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab setelah obat
dikumpulkan oleh pemulung.
2. Untuk obat berbentuk tablet dan kapsul, hancurkan obat, dan campur dengan air,
tanah, atau bahan lain yang tidak diinginkan, kemudian taruh ke dalam wadah atau
plastik tertutup. Hal ini untuk mencegah obat diambil kembali oleh pemulung.
Untuk obat berbentuk sirup, dapat dibuang dengan cara dituang langsung ke dalam saluran
pembuangan air. Akan tetapi, untuk sirup antibiotik, anti jamur, dan antivirus, sebaiknya
dibiarkan tetap berada dalam kemasan aslinya, dengan dicampur bersama air, tMemiliki
persediaan obat di rumah merupakan tindakan yang baik sebagai persiapan untuk
memudahkan Anda mencari obat ketika sakit. Namun adakalanya obat yang tersimpan cukup
lama di kotak obat atau tempat penyimpanan lainnya harus selalu dicek mengenai tanggal
kadaluarsanya. Untuk itulah kita juga harus memeriksa kondisi obat-obatan yang disimpan
secara rutin, dan membuang obat yang sudah kadaluwarsa atau yang sudah tidak terpakai lagi
dengan benar. Seperti yang kita ketahui, obat mengandung zat-zat kimia tertentu.
Pembuangan obat yang tidak tepat justru dapat membahayakan, tidak hanya bagi manusia
tetapi juga bagi lingkungan sekitar kita. Banyak zat seperti estrogen sintetis yang digunakan
dalam terapi hormon dapat mengganggu sistem endokrin sehingga dapat mengganggu atau
memodifikasi proses-proses hormonal di dalam tubuh. Obat penenang dapat mempengaruhi
atau mengubah aktivitas sistem saraf pusat. Sementara pembuangan antibiotik yang
sembarangan dapat menyebabkan berkembangnya bakteri yang resisten antibiotik.
Pembuangan obat ke saluran air dapat membahayakan ikan, katak, dan mengganggu
ekosistem perairan karena obat masih dapat ditemukan di perairan meskipun dalam
konsentrasi rendah.

Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk membuang obat dengan tepat dan aman:

1. Pertama-tama, lihat instruksi pembuangan yang dianjurkan untuk obat tersebut. Obat-
obatan tertentu ada yang disarankan untuk dibuang ke toilet. Hal tersebut merupakan
hasil pertimbangan antara Badan pengawas Obat dengan pabrik pembuat obat.
Metode ini dipilih dengan pertimbangan bahwa metode tersebut dianggap metode
yang paling tepat dengan tingkat keamanan yang paling optimal. Contohnya pada obat
golongan narkotik tempel (patch/koyo) disarankan pembuangan di toilet. Baik koyo
bekas pakai ataupun tidak terpakai, karena obat ini bila terlalu banyak dapat
mengakibatkan gangguan pernapasan berat dan dapat mengakibatkan kematian pada
bayi, anak, hewan atau orang dewasa terutama pada orang yang belum pernah
menggunakan obat tersebut. Koyo tersebut walaupun setelah dipakai masih
mengandung kandungan aktif obat, sehingga berbahaya bila dibuang di tempat
sampah karena masih mengandung golongan narkotik yang berpotensi
membahayakan orang lain.
2. Jika instruksi tidak diberikan, obat dapat dibuang ke tempat sampah. Namun, sebelum
membuang ke tempat sampah, ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu antara
lain:

 Hilangkan informasi seputar obat dan keluarkan obat dari kemasan aslinya. Hal ini
akan melindungi identitas dan privasi mengenai keadaan kesehatan kita. Selain itu,
hal tersebut juga berguna untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan oleh pihak-
pihak yang tidak bertanggung jawab (misalnya penjualan kembali obat-obatan
tersebut setelah dikumpulkan oleh pemulung). Hal yang bisa dilakukan misalnya
dengan mengeluarkan tablet atau kapsul dari strip atau blisternya (lebih baik bila obat
juga dihancurkan), dan jika obat berupa sirup atau cairan, keluarkan dari botolnya.
 Campur obat-obat tersebut dengan air, garam, kotoran, pasir, ampas kopi, atau bahan-
bahan lain yang tidak diinginkan. Hal ini untuk menghindari terjadinya pengambilan
obat oleh orang lain (misalnya pemulung), anak kecil, hewan, dan sebagainya.
 Taruh semua obat tersebut dalam wadah tertutup, misalnya dalam kantung plastik atau
wadah lainnya yang ditutup rapat dan disegel dengan kuat. Hal ini dilakukan untuk
mencegah obat tersebut bocor atau keluar dari kantong sampah. Selain itu juga untuh
mencegah terjadinya penyalahgunaan.
 Masukkan kemasan obat seperti botol yang sudah tidak terpakai dan sudah
dihilangkan semua informasinya ke dalam wadah yang tertutup (tidak tembus
pandang), seperti trash bag, lalu tutup dengan rapat dan disegel dengan kuat. Untuk
kemasan seperti strip dan blister, sebaiknya kemasan dirusak terlebih dahulu dengan
cara merobek atau menggunting-guntingnya sebelum dimasukkan ke kantong sampah.
Lagi-lagi hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan oleh pihak-
pihak yang tidak bertanggung jawab.
 Buang ke tempat sampah.

Banyak masyarakat membuang obat dengan cara langsung memasukkannya ke dalam tempat
sampah. Bahkan dengan kondisi kemasan obat yang utuh dan masih dikemas dengan rapi.
Apakah membuang obat dengan cara ini adalah benar? Bagaimanakah cara membuang obat
dengan benar?

Berikut adalah tips cara membuang obat yang benar :

1. Hilangkan semua informasi yang ada pada obat yang akan dibuang dan keluarkan obat dari
kemasannya. Hal ini berfungsi untuk melindungi identitas dan privasi mengenai keadaan
kesehatan Anda. Selain itu, berguna untuk menghindari obat dijual kembali oleh orang-orang
yang tidak bertanggung jawab yang dikumpulkan oleh pemulung.

2. Untuk obat berbentuk tablet dan kapsul, hancurkan obat, dan campur dengan air, tanah,
atau bahan lain yang tidak diinginkan, kemudian taruh ke dalam wadah atau plastik tertutup.
Hal ini untuk mencegah obat diambil kembali oleh pemulung.

3. Untuk obat berbentuk sirup, dapat dibuang dengan cara dituang langsung ke dalam saluran
pembuangan air. Akan tetapi, untuk sirup antibiotik, anti jamur, dan antivirus, sebaiknya
dibiarkan tetap berada dalam kemasan aslinya, dengan dicampur bersama air, tanah, atau
bahan lain yang tidak diinginkan, kemudian ditutup rapat. Ini untuk mencegah terjadinya
resistensi penyakit yang ada di alam.

4. Tahap terakhir buang limbah obat tersebut ke tempat sampah.

Waktu kadaluarsa setiap obat berbeda-beda. Pada umumnya, tanggal kadaluarsa obat adalah
dua tahun sejak tanggal produksinya. Namun ada beberapa obat yang harus diperhatikan
penggunaannya. Seperti antibiotik sirup rekonstitusi, yaitu serbuk kering dan dilarutkan
dengan air ketika hendak digunakan, biasanya hanya digunakan sampai tujuh hari. Lalu obat
tetes mata biasanya hanya boleh digunakan satu bulan setelah kemasan dibuka.

3. anah, atau bahan lain yang tidak diinginkan, kemudian ditutup rapat. Ini untuk
mencegah terjadinya resistensi penyakit yang ada di alam.
4. Buang ke tempat sampah.

Semoga bermanfaat.
3 Langkah Menyimpan Obat dengan Benar
Setiap kali pulang ke rumah orang tua saya, jiwa Apoteker dalam diri saya selalu gatal ingin
membereskan persediaan obat-obatan yang ada di rumah. Obat diabetes, kolesterol, dan artritis
yang rutin dikonsumsi ayah saya, obat penambah zat besi punya si mama, obat pilek adik saya,
semuanya numpuk di lemari. Tahukah Anda, bahwa cara Anda bahwa menyimpan obat dengan
benar tersebut dapat memengaruhi efek obat tersebut dalam mengobati penyakit atau gejala yang
Anda alami? Let me explain why! Obat adalah suatu senyawa kimia yang memiliki karakteristik unik
yang namanya stabilitas. Jika obat berada dalam kondisi stabil, maka tidak akan ada perubahan baik
secara struktur kimiawi maupun fisik. Obat pada kondisi stabil dapat memberikan efek terapi yang
paling maksimal. Sebaliknya, saat obat berada dalam kondisi tidak stabil maka secara kimiawi
maupun fisik obat tersebut akan berubah. Ketidakstabilan dapat disebabkan oleh suhu, kelembapan,
maupun kondisi cahaya yang tidak sesuai saat penyimpanan. Apa yang akan terjadi jika obat berada
dalam kondisi tidak stabil? Banyak! Efek terapinya bisa menurun, efek sampingnya bisa jadi
bertambah, dan waktu kedaluwarsanya pun bisa berkurang dari yang disebutkan di kemasannya.
Hmm, merugikan sekali, bukan? Saya yakin, masalah penyimpanan obat di rumah tidak hanya
dihadapi oleh keluarga saya, tapi juga Anda. Tentunya Anda nggak mau dong, obat yang Anda
konsumsi tidak maksimal kerjanya hanya gara-gara Anda salah dalam melakukan penyimpanan?
Kalau begitu, yuk mari kita simak langkah penyimpanan obat yang baik di bawah ini!

Perhatikan Kondisi Penyimpanan yang Dipersyaratkan


Suhu dan penyimpanan yang diperlukan masing-masing obat berbeda-beda, dan pasti tercantum
dalam kemasan obat tersebut. Jika dilihat dari segi suhu penyimpanan, secara garis besar ada dua
kondisi penyimpanan obat: suhu dingin dan suhu ruang.

Suhu Dingin
Suhu dingin yang dimaksud biasanya adalah pada suhu 2 hingga 8 °Celcius, kurang lebih sama seperti
suhu kulkas (bukan freezer ya!) Anda di rumah.

Suhu Ruang
Suhu ruang biasanya berkisar antara 15 hingga 30 °C.

Simpan dalam Tempat yang Sejuk dan Terlindung dari Cahaya


Jika obat disimpan dalam suhu ruang, biasanya terdapat juga keterangan ‘simpan dalam tempat
yang sejuk dan terlindung dari cahaya’. Ini artinya, pilihlah tempat di rumah Anda yang
kelembapannya tidak terlalu tinggi, serta tidak terkena cahaya matahari langsung. Jadi please,
jangan taruh obat di kusen jendela (ini biasanya saya temukan di kamar-kamar anak kos-kosan), di
lemari di atas wastafel kamar mandi, atau di sudut lemari nan tak terjamah. Jika Anda memilih untuk
menyimpannya dalam suatu lemari atau cabinet atau rak, pastikan tempat tersebut memiliki
sirkulasi udara yang baik.
Simpan Obat Dalam Kemasan Aslinya
Saya banyak menemui pasien yang mengeluarkan obat dari kemasan primernya, kemudian
menaruhnya dalam pill box atau wadah lain. Saran saya sih, hal ini sebaiknya dihindari. Packaging
alias kemasan dari suatu obat itu dibuat bukan hanya mempertimbangkan nilai estetika, tapi juga
unsur mempertahankan stabilitas yang saya jabarkan tadi, lho! Bahkan di pabrik-pabrik obat tuh
pasti ada suatu departemen tersendiri yang namanya Packaging Development, yang kerjanya
mencari cara pengemasan obat yang paling baik. Botol coklat atau botol bening, berbahan kaca atau
plastic PVC, dalam blister aluminium atau strip polycellonium, semua itu memiliki maksud dan tujuan
tertentu. Oleh karena itu, senantiasalah menyimpan obat dengan benar dalam kemasan aslinya. Jika
obat sudah keluar dari kemasan aslinya, maka stabilitasnya kemungkinan besar juga akan ikut
berubah. Balik lagi ke penjelasan saya di atas, kalau obat berada dalam kondisi tidak stabil maka efek
terapinya bisa menurun dan efek sampingnya bisa jadi meningkat. Kalau mau menyimpan dalam pill
box misalnya, tinggal potong-potong saja kemasan obat hingga ke dosis individual, tanpa harus
mengeluarkannya.

Perhatikan Tanggal Kedaluwarsa (Expired Date) dan Waktu Boleh


Digunakan (Beyond Use Date).
Menyoal batas waktu hingga kapan obat bisa digunakan, ada dua term yang perlu kita kenal, yaitu
tanggal kedaluwarsa dan waktu boleh digunakan.

Kedaluwarsa
Definisi tanggal kedaluwarsa menurut Farmakope Indonesia, yakni ‘kitab suci’ acuan semua
apoteker di Indonesia Raya, adalah jangka waktu bahan obat diharapkan memenuhi persyaratan
monografi pada kondisi penyimpanan yang ditetapkan. Jadi di luar waktu kedaluwarsanya, suatu
obat mungkin sudah tidak memenuhi syarat. Misalnya, kandungan zat aktifnya sudah berkurang.
Kalau zat aktif sudah berkurang, maka kemungkinan besar si obat tidak akan memberikan efek yang
maksimal dalam mengobati penyakit.

Waktu Boleh Digunakan


Sedangkan waktu boleh digunakan (masih menurut Farmakope Indonesia) adalah batas waktu
dimana setelah tanggal tersebut sediaan racikan tidak boleh digunakan lagi. Sesuai definisinya, term
‘waktu boleh digunakan’ biasanya dipakai pada produk obat racikan baik yang diminum maupun
yang tidak diminum. Misalnya, kapsul racikan yang terdiri dari campuran dua atau lebih obat.

Menemukan Tanggal Kedaluwarsa


Setiap sediaan obat pasti mencantumkan tanggal kedaluwarsa di kemasannya, biasanya ditandai
dengan kalimat ‘Exp. Date’. Yang harus diperhatikan, kadang-kadang expired date hanya tertulis di
salah satu sisi kemasan saja. Misalnya, satu strip obat berisi 4 tablet, tanggal kedaluwarsa hanya
tertulis di kemasan tablet nomor 4. Sehingga kalau tablet itu sudah diminum, bisa jadi tanggal
expired date-nya nggak terlihat lagi. Tips dari saya, Anda bisa tulis tanggal kedaluwarsa
menggunakan spidol permanen di bagian lain dari kemasan. Sehingga Anda tetap bisa mengetahui
tanggal kedaluwarsa obat tersebut. Jika suatu obat sudah melewati tanggal kedaluwarsa ataupun
waktu boleh digunakannya, tentunya Anda tidak dapat lagi menggunakannya. Selain khasiatnya yang
sudah menurun, efek sampingnya bisa jadi meningkat. Nggak mau dong, susah-susah minum obat
malah berujung pada masalah kesehatan yang lain? Nah, itu dia 3 langkah dalam menyimpan obat
secara baik dan benar. Gampang sekali kan untuk dipraktekkan? Tinggal simpan di suhu dan kondisi
penyimpanan yang tepat, jangan dikeluarkan dari kemasan primernya, dan perhatikanlah tanggal
kedaluwarsanya. Kualitas obat Anda akan

Copyright 2014 - Badan POM