Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTIKUM

MANAJEMEN TERNAK POTONG DAN KERJA

DI DESA RANJOK

Disusun oleh :

Kelompok IV
1. Rayim Aditama (B1D016225)
2. Ringga Maulana (B1D016239)
3. Saiyil Hasimi (B1D016250)
4. Siti Alawiyah (B1D016262)
5. Sudiman Indrawan (B1D016275)
6. Syafri Anwar (B1D016286)
7. Wahyudin (B1D016299)
8. Yuli Astuti (B1D016)
9. Zuni Lischayanti (B1D016326)

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS MATARAM

MATARAM

2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahnya, sehingga penulisan laporan tetap praktikum mata kuliah Manajemen
Ternak Potong dan Kerja yang dilaksanakan mulai tanggal 5 April 2018 s/d 9
April 2017 di Kelompok Ternak Bina Insan Dusun Ranjok Baru, Desa Ranjok,
Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat dapat terselesaikan tepat
waktu.

Laporan praktikum ini berisi tentang kegiatan praktikum yang telah kami
laksanakan. Penyusunan laporan ini dilakukan untuk melengkapi tugas praktikum
sebagai syarat kelulusan dari Mata Kuliah Menejemen Ternak Potong dan Kerja.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Ir. Happy Purwoto, MP. sebagai koordinator praktikum yang


telah banyak memberikan bimbingan serta saran-saran dalam
pelaksanaan praktikum.
2. Semua dosen pengampu Mata Kuliah Menejemen Ternak Potong dan
Kerja yang telah membekali kami dengan ilmu pengetahuan mengenai
menejemen ternak potong dan kerja.
3. Semua peternak yang ada di Kelompok Ternak Bina Insan Dusun
Ranjok Baru, Desa Ranjok, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten
Lombok Barat yang telah memberikan kami kesempatan untuk
melaksanakan praktikum.
4. Semua rekan-rekan yang telah membantu pelaksanaan praktikum ini
sampai selesai.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini mungkin ada


kekeliruan atau kesalahan yang tidak sengaja kami lakukan. Oleh karena itu, kami
sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat kosntruktif demi
kesempurnaan dari laporan ini.

Mataram, 20 April 2018

Praktikan

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i

KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii

DAFTAR ISI ....................................................................................................

DAFTAR TABEL ............................................................................................

BAB I : PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ..............................................................................


1.2. Tujuan dan Kegunaan Praktikum ..................................................
BAB II: LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Sapi Potong ................................................................

2.2. Manajemen Pemeliharaan Sapi Potong.........................................

2.3. Usaha ternak potong......................................................................

BAB III: METODE PENGAMATAN

3.1. Waktu dan Tempat Praktikum ......................................................

3.2. Materi Praktikum ..........................................................................

3.2.1 Alat Praktikum ........................................................................

3.2.2 Bahan Praktikum .....................................................................

3.3. Metode Praktikum .........................................................................

3.3.1. Cara Kerja ..............................................................................

3.3.2. Variabel Yang Diamati ..........................................................

3.3.3. Definisi Operasional ..............................................................

3.3.4. Data Analisis..........................................................................

BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan .........................................................................

4.1.1. Identitas Peternak ..................................................................

4.1.2.Struktur Populasi Ternak ........................................................

4.1.3.Struktur Produksi Ternak.......................................................

4.1.4. Struktur Reproduksi Ternak ..................................................

4.1.5. Tata Laksana Pemeliharaan ...................................................

iii
4.2.6 Tata Laksana Pemberian Pakan .............................................

4.1.7.Pendapatan Peternak ...............................................................

4.2. Pembahasan ...................................................................................

4.2.1 Latar Belakang Peternak .........................................................


4.2.2 Tata Laksana Pemeliharaan ....................................................
4.2.3 Perkandangan Dan Kesehatan ................................................
4.2.4 Produktivitas Ternak...............................................................
4.2.5 Reproduksi Ternak .................................................................
4.2.6 Pendapatan ternak ...................................................................
4.2.7 Kendala Utama Yang dihadapi Peternak ................................
BAB V: Kesimpulan Dan Saran

5.1. Kesimpulan ...................................................................................

5.2. Saran ..............................................................................................

DAFTAR PUSTAKA .......................... ...........................................................

LAMPIRAN ......................................... ...........................................................

iv
DAFTAR TABEL

Tabel.4.1.1 Identitas peternak ........................................................................

Tabel.4.1.2. Populasi Ternak............................................................................

Tabel.4.1.3.Produksi Ternak ...........................................................................

Tabel.4.1.4 Reproduksi Ternak ........................................................................

Tabel.4.1.5. Tata Laksana Pemeliharaan .........................................................

Tabel.4.1.6.Tata Laksana Pemberian Pakan ....................................................

Tabel.4.1.7.Struktur Pendapatan Ternak ..........................................................

v
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu provinsi di indonesia


yang memiliki potensi usaha yang besar dalam bidang peternakan maupun
pertanian. NTB memiliki sumber daya yang memadai dan memiliki lahan
pertanian yang yang masih produktif sehingga dapat dimanfaatkan sebagai
bahan baku pakan ternak.

Ternak merupakan hewan yang dapat dipelihara dengan tujuan sebagai


sumber pangan terutama sumber protein hewani yang sangat dibutuhkan oleh
manusia untuk pertumbuhannya. Salah satu ternak ruminansia yang sedang
berkembang dan menjadi prospek usaha yang sangat baik kedepannya adalah
ternak sapi. Sapi merupakan ternak sebagai penghasil daging yang baik dan
memiliki konsumen yang banyak dan dibutuhkan setiap hari.

Kebutuhan daging sapi sebagai salah satu sumber protein hewani


semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat
terhadap pentingnya gizi yang seimbang, pertambahan penduduk dan
meningkatnya daya beli masyarakat. Salah satu upaya untuk memenuhi
kebutuhan daging tersebut yaitu dengan meningkatkan populasi, produksi dan
produktivitas sapi potong. Untuk itu bibit sapi potong merupakan salah satu
faktor produksi yang menentukan dan mempunyai nilai strategis dalam upaya
mendukung terpenuhinya kebutuhan daging, sehingga diperlukan upaya
pengembangan pembibitan dan penggemukan sapi potong secara
berkelanjutan.

Pada saat ini kebutuhan akan daging sapi sangatlah besar namun belum
bisa terpenuhi hingga 100% dan masih bernaung diangka sekitaran 18%. Di
indonesia sumber protein hewani yang terbesar yaitu melalui daging unggas
terutama ayam. Sebagai perbandingan usaha ayam sudah memiliki sistem
yang komplek dari hulu hingga hilir sedangkan usaha sapi belum bisa tercapai,

1
dikarenakan sistem pemeliharaan yang di lakukan masyarakat masih sebagai
pekerjaan sambilan. Sehingga produksi sapi tidak bisa terlalu berkembang.

Di NTB khususnya di Lombok, sebagian masyarakatnya adalah peternak,


terutama ternak yang banyak yaitu sapi bali. Kebutuhan ekonomi menjadi
daya dukung tersendiri untuk peternakan yang ada di NTB, dan ini sekaligus
menjadi motivasi bagi peternak lokal untuk menjalankan usahanya, sehingga
di NTB banyak menjadikan beternak sebagai sambilan bukan pekerjaan pokok
masyarakat.

1.2.Tujuan Dan Kegunaan Praktikum


1.2.1 Tujuan praktikum
Adapun tujuan dari Praktikum ini adalah sebagai berikut
a. Mengetahui kondisi peternakan sapi yang ada di pulau Lombok,
khususnya di wilayah Lombok Barat.
b. Mengetahui sistem peternakan yang diterapkan oleh sebagian
masyarakat saat ini.
c. Untuk mengetahui populasi ternak yang di pelihara oleh
masarakat khususnya kelompok peternak Bina Insan Desa
Ranjok, Kabupaten Lombok Barat
d. Untuk mengetahui berat badan ternak yang dipelihara
masyarakat.
e. Untuk mengetahui umur ternak melalui perhitungan gigi.
f. Untuk mengetahui konsumsi pakan yang di berikan peternak
kepada ternaknya.
g. Untuk mengetahui berapa penghasilan peternak dari jumlah
ternak yang di pelihara.
h. Untuk mengetahui tujuan masyarakat beternak sapi dalam
kehidupan sehari-hari.
i. Mampu menganalisa masalah-masalah peternakan yang dihadapi
peternak dan pemecahannya.
j. Mengetahui produktifitas ternak dan kesejahteraan peternak.

2
1.2.2. Kegunaan praktikum
Adapaun manfaat yang diperoleh dari praktikum ini adalah
sebagai berikut :
a. Agar mahasiswa dapat mengetahui langsung kondisi peternakan
sapi yang ada di kelompok peternak Bina Insan Desa Ranjok ,
Kabupaten Lombok Barat.
b. Mahasiswa dapat Mengetahui manajemen pemeliharaan,
manajemen pakan, dan manajemen kesehatan ternak.
c. Untuk mengetahui produktifitas peternak dari segi pendidikan,
pengalaman, dan sebagainya.
d. Mengetahui masalah atau hambatan-hambatan dialami peternak
dalam mengembangkan peternakannya.

3
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Sistem Pemeliharaan


Pemeliharaan secara ekstensif adalah pemeliharaan ternak di padang
penggembalaan.Sapi perlu dimandikan secara rutin untuk menjaga kebersihan
tubuh dan mencegah muculnya sarang penyakit pada tubuh sapi. Pembersihan
kandang dilakukan setiap hari agar kandang selalu bersih, mencegah
timbulnya penyakit, dan memberikan kenyamanan bagi sapi (Ngadiyono,
2007).
2.2. Pembagian Sistem Penggemukan Sapi
Penggemukan pasture fattening yaitu sapi yang digembalakan di padang
penggembalaan. Kombinasi pasture – dry lot fattening dilakukan di daerah
tropis dengan cara pada saat musim penghujan ternak dilepas di padang
penggembalaan dan pada saat musim kemarau ternak dikandangkan dan
diberi makanan biji-bijian dan hay (Murtidjo, 1990). Hasil akhir ternak sapi
potong adalah sapi yang gemuk dan dapat menghasilkan karkas sebesar 59%
dari bobot tubuh dan recahan sebanyak 46,5%. Waktu yang dibutuhkan untuk
pembesaran sapi tergantung target akhir dari bobot sapi yang ditentukan dan
bakalan sapi yang dibesarkan (Saparinto, 2010).
2.3. Kontruksi Kandang
Konstruksi kandang harus kuat serta terbuat dari bahan- yang ekonomis
dan mudah diperoleh. Di dalam kandang harus ada drainase dan saluran
pembuangan Iimbah yang mudah dibersihkan. Tiang kandang sebaiknya
dibuat dari kayu berbentuk bulat agar Iebih tahan lama dibandingkan dengan
kayu berbentuk kotak. Selain itu, kayu bulat tidak akan melukai tubuh sapi,
berbeda dengan kayu kotak yang memiliki sudut tajam,(Wello, 2011).
Dalam perkandangan yang perlu diperhatikan adalah :
a. Atap kandang
b. Tinggi kandang
c. Kerangka kandang
d. Dinding kandang

4
e. Lantai kandang
f. Tempat pakan dan air minum
g. Selokan
2.4. Model Kandang
Menurut Purnawan dan Saparinto (2009) ada 2 model kandang sapi,
yakni kandang bebas (loose housing) dan kandang konvensional
(conventional/stanchion barn).
a. Kandang Bebas
Kandang bebas merupakan barak atau areal yang cukup luas dengan atap
diatasnya. Kandang ini ditempati populasi sapi tanpa adanya batasan
sedikit pun.
b. Kandang konvensional
Posisi ternak yang dipelihara di dalam kandang dibuat sejajar, lazim
disebut sistem stall. Susunan stall ada tiga macam yaitu stall tunggal, stall
ganda tail to tail, danstall face to face.

2.6 Produktivitas ternak potong


Secara umum produktivitas seekor ternak ditentukan oleh tiga faktor
yaitu genetik, lingkungan, dan umur. Faktor keturunan akan mempengaruhi
performa seekor ternak dan faktor lingkungan merupakan pengaruh kumulatif
yang dialami oleh ternak sejak terjadinya pembuahan hingga dewasa.
Produktifitas juga di tentukan oleh pakan, jika pakan yang diberikan
nutrisinya rendah maka akan berpengaruh pada produktifitas ternak tersebut
(Wello, 2011).
2.7. Sanitasi dan Pencegahan Penyakit
Pencegahan merupakan tindakan untuk melawan berbagai penyakit.
Usaha pencegahan ini meliputi karantina atau isolasi ternak, vaksinasi,
deworming, serta pengupayaan peternakan yang higienis (Sudarmono dan
Sugeng, 2008). Sapi-sapi bakalan yang akan digemukkan atau yang baru
dibeli di pasar hewan, perlu dimasukkan ke dalam kandang karantina.
Pemberian vaksin cukup dilakukan sekali untuk setiap ekor karena sapi hanya
dipelihara dalam waktu yang singkat, yaitu sekitar 3-4 bulan (Abidin, 2008).

5
BAB III

MATERI DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum Ilmu Produksi Ternak Potong dan Kerja dilaksanakan pada
hari kamis sampai hari senin, tanggal 5 april sampai dengan 9 April
bertempat dikelompok ternak Bina Insan Desa Ranjok, Kabupaten Lombok
Barat.
3.2 Materi Praktikum
3.2.1 Alat Praktikum
Adapun alat yang digunakan dalam Praktikum Manajemen Ternak
Potong dan Kerja ini adalah :
1. Pita Ukur
2. Tongkat Ukur
3. Timbangan
3.2.2 Bahan Praktikum
Adapun bahan yang digunakan dalam Praktikum Manajemen
Ternak Potong dan Kerja ini adalah :
1. Sapi Peternak
2. Rumput(pakan)
3. Peternak
3.3 Variabel yang di amati
a. Pendidikan peternak : pengetahuan tentang beternak, pengalaman
beternak.
b. Manajemen pemeliharaan : sistem yang digunakan, teknik pemberian
pakan dan konsumsi pakan per hari, tatalaksana perkembangbiakan,
penjualan, perkandangan dan kesehatannya.
c. Struktur populasi : jumlah ternak yang dimiliki peternak, ternak di jual,
ternak lahir, ternak mati dan di afkir.
d. Produktifitas ternak : mengamati produksi dan reproduksi ternak
e. Ukuran-ukuran tubuh ternak seperti lingkar dada, panjang badan, dan
tinggi gumba, berat badan berdasarkan pita ukur,dan rumus.

6
f. Analisa ekonomi peternak : menghitung pendapatan bersih dan pendapatan
peternak.
3.4 Metode praktikum
a. Tahap I : Pengunjungan lokasi tempat praktikum sekaligus perkenalan
kepada peternak.
b. Tahap II : Wawancara terhadap peternak (kuisioner) sekaligus
pengamatan terhadap ternak : panjang badan, lingkar dada, kondisi tubuh,
kehalusan bulu, kondisi mata, pengukuran luas kandang dan pengukuran
tempat makan dan minum.
c. Tahap III : Pengamatan ternak umur ternak melalu berapa jumlah gigi
seri yang tumbuh.
d. Tahap IV : Pengukuran panjang badan,tinggi gumba,dan lingkar dada
sapi. Melakukan pengukuran dan perhitungan ternak meliputi,lingkar dada
ternak,dan bobot badan berdasarkan pita ukur pada ternak sapi serta
perhitungan menurut rumus.
e. Tahap V : Pembersiahan tempat pakan kemudian penimbangan pakan
yang diberikan, dan sisa pakan selama 24 jam sebanyak 3 kali
penimbangan sehingga akan mendapatkan konsumsi sapi yang di amati.
f. Tahap VI : Pengamatan kesehatan ternak,dan analisa ekonomi usaha
ternak.
g. Tahap VII : Pemberian hadiah pada peternak dan ucapan terima kasih
kepada peternak.
3.5 Definisi oprasional
Adapun definisi operasional dalam praktikum ini yaitu sebagai berikut :
a. Struktur Populasi adalah: Proporsi anak, muda dan dewasa pada masing-
masing jenis kelamin ternak yang ada saat pengamatan. Yakni; dengan
mencatat jumlah sapi yang dikatagorikan sebagai anak, muda dan dewasa
yang dipelihara oleh responden kemudian diidentifikasi menurut jenis
kelamin.
b. Populasi Dasar adalah :Total populasi ternak yang ada pada tahun
pengamatan ,yakni; total dari ternak yang dimiliki saat pengamatan, ternak

7
mati, ternak keluar (dijual, dipotong pengembalian kadasan,
disumbangkan dll) dikurangi ternak yang dibeli pada tahun tersebut
c. Service per Conception (S/C) adalah : Jumlah perkawinan untuk satu
kebuntingan / berapa kali ternak dikawinkan alam/(IB) untuk
menghasilkan kebuntingan.
d. Angka Kelahiran ( Calf Crop/Calving Rate) adalah :Jumlah anak yang
lahir pertahun dibagi dengan jumlah betina dewasa atau populasi dikali
100%.
e. Panen Pedet adalah :Dihitung dari jumlah anak yang lahir hidup dalam
setahun dibagi dengan jumlah betina dewasa atau populasi dikali 100%.
f. Umur Produktif adalah :Umur mulai digunakan dalam pembiakan sampai
dijual atau afkir.
g. Lama digunakan dalam Pembiakan adalah :Lama waktu sejak pertama kali
kawin(anak I) sampai di afkir Jumlah anak yang dapat dilahirkan selama
hidup dikurangi satu dikalikan jangka beranak dikurangi umur kawin I
h. Angka Kemajiran adalah :Jumlah sapi jantan (kebiri) dan betina yang tidak
mampu menghasilkan keturunan.
i. Umur Afkir adalah :Dihitung berdasarkan jumlah anak yang dapat
dilahirkan induk selama hidup dikurangi satu dikalikan jangka beranak
dan ditambah dengan umur kawin I. Dapat juga diketahui berdasarkan
rata-rata umur ternak dijual/ dipotong
j. Angka Kematian adalah :Persentase ternak yang mati dalam satu tahun
dari populasi dan atau betina dewasa.
k. Pertumbuhan Alami / Natural Increase (NI) adalah :Selisih antara angka
kelahiran dengan angka kematian.
l. Net Replacement Rate (NRR) adalah :Jumlah anak betina yang lahir dan
dapat hidup sampai pada umur tertentu dibagi dengan jumlah kebutuhan
ternak betina pengganti setiap tahun dikalikan 100%.
m. Service Period( Days Open/ Heat Period) adalah :Waktu yang dibutuhkan
sejak melahirkan sampai pada perkawinan kembali.
n. Non Return Rate adalah :Sapi betina yang dikawinkan kembali setelah
perkawinan pertama dan tidak bunting (dinamakan juga kawin ulang)

8
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil praktikum


Tabel 4.1.1 Latar Belakang Peternak

No Variabel Nilai
X – SD

1 Umur peternak (tahun) 46,6 ± 13,44


2 Pendidikan
 TSD 1 (11,1%)
 SD 8 (88,9%)
 SLTP 0 (0%)
 SLTA 0 (0%)
 PT 0 (0%)
3 Tanggungan keluarga 3 ± 1,32
4 Pekerjaan pokok
a. Petani/peternak 7 (77,8%)
b. Pegawai negeti/TNI 0 (0%)
c. Pegawai swasta 0 (0%)
d. Pedagang/pengusaha 0 (0%)
e. Buruh/pertukangan 2 (22,2%)
f. Lainnya 0 (0%)
5 Sampingan
a. Petani/peternak 2 (22,2%)
b. Pegawai negeti/TNI 0 (0%)
c. Pegawai swasta 0 (0%)
d. Pedagang/pengusaha 0 (0%)
e. Buruh/pertukangan 0 (0%)
f. Lainnya 0 (0%)
6 Pemilikan lahan

9
a. Lahan pekarangan (are) 1,7 ± 1,10
b. Lahan sawah (Ha) -
c. Kebun (Ha) -
7 Kursus berternak yang pernah diikuti
a. Pernah 3 (33,3%)
b. Tidak pernah 6 (66,7%)
8 Pengalaman beternak 24 ± 17,57
9 Jumlah ternak sapi yang dimiliki
 Anak menyusui 0
 Pedet 8
 Muda (sapihan-kawin) 2
 Dewasa 10
 Jumlah 20
10 Bangsa sapi yang dimilki
a. Sapi bali 9 (100%)
11 Asal usul ternak
a. Keturunan sendiri 12 (38,7%)
b. Membeli
- Dipasar hewan 6 (19,3%)
- Dari per orangan 2 (6,4%)
- Bagi hasil atau pemberian 6 (19,3%)
- Warisan orang tua 1 (11.1%)

- Kadasan dari pemerintah 3 (9,6%)


- Kadasan tetangga atau swasta 2 (6,4%)
18 Pemanfaatan pupuk kandang

a. dibuang 0 (0%)

b. diberikan orang lain 0 (0%)


c. untuk memupuk tanaman 9 (100%)
d. dijual 0 (0%)
e. lain-lain 0 (0%)

10
Tabel 4.1.2 Tatalaksana Pemeliharaan dan Pakan
NO Variabel X – SD
1 Cara pemeliharaan ternak
a. Dikandangkan
- Ya 9 (100%)
- Tidak -
b. Diikat terus menerus
c. Diikat dan dikandangkan
d. Dilepas begitu saja
e. Dilepas dan pada saat tertntu di
kandangkan
f. Dipelihara pada padang
penggembalaan
2 Kandang yang digunakan :
9 (100%)
a. Kelompok
b. Sendiri
3 Kondisi kandang tersebut adalah :
Ukuran kandang keseluruhan
 Panjang (meter) 30
10
 Lebar (meter)
a. Model Kandang (Gable) 9 (100%)
Bahan Bangunan Kandang :
 Dinding (permanen) 100%
 Atap (Spandeks) 100%
 Lantai (Bata disemen ) 100%

4 Tempat makan dari :


Bahan Bangunan (PC)
Ukuran tempat pakan ()

6 perkiraan biaya kandang 150.000.000 –


200.000.000
7 umur teknis kandang 20 ± 0,8
8 Cara pemberian pakan
a. Anak
 Rumput lapangan 8 (88.9 %)
 Unggul
 Dedaunan/legume 2 (11.1 %)
 Jerami kacang
 Jerami padi
 Jerami jagung
b. Muda

11
 Rumput lapangan 8 ( 88.9 % )
 Unggul
 Dedaunan/legume 2 (11.1 %)
 Jerami kacang
 Jerami padi
 Jerami jagung
 Pakan penguat
c. Dewasa
 Rumput lapangan 8 (88.9 %)
 Unggul
 Dedaunan/legume 2 (11.1 %)
 Jerami/limbah
 Jerami kacang
 Jerami padi
 Jerami jagung
9 Pemberian pakan dikandang
Frekuensi pemberian pakan dikandang setiap
hari 2,4 ± 0,52
 1 kali 0 (0%)
 2 kali 4 (44,4%)
 3 kali 5 (55,6%)
 4kali
 Tidak tentu
10 Apakah bapak biasanya menyediakan air
minum pada ternaknya ?
a. Ya, tiap hari 1 (17%)
b. Ya, sewaktu-waktu 9 (100%)
c. Tidak pernah 0 (0%)
11 Apakah bapak biasanya menyediakan garam
pada ternaknya ?
a. Ya, tiap hari 1 (17%)
b. Ya, sewaktu-waktu 5 (83%)
c. Tidak pernah
12 Apakah bapak biasa
memandikan/mengubangkan ternaknya ?
a. Ya, tiap hari
b. Ya, sewaktu-waktu 1 (11,1%)
c. Tidak pernah 8 (88,9%)
13 Jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam
beternak
a. Anggota keluarga sendiri
b. Tenaga dari luar 2 (22,2%)
c. Anggota keluarga + orang lain 0 (0%)
1 (11,1%)
14 Hmabatan dalam pemeliharaan:
a. Tidak ada hambatan 2 (22,2)
b. Ada hambatan 9 (77,3%)

12
15
Hambatan utama dirasakan dalam segi :
a. Mencari pakan 6 (66,7 %)
b. Kurangnya padang penggembalaan 1 (11,1%)
c. Kesulitan tenaga kerja 0
d. Penyakit 2 (22,2%)
e. Keamanan / nonteknis 0
f. Lainnya

Tabel 4.1.3. Tatalaksana Perkembangbiakkan

No Variabel X – SD
1 Perkawinan ternak biasanya terjadi :
a. Sepanjang tahun 6 (66,7%)
b. Hanya pada saat/musim tertentu saja 2 (22,2%)
c. Tidak pernah tahu 1 (11,1%)
2 Cara mengawinkan ternak :
a. Kawin alam 9 (100%)
b. Kawin suntik
3 Tempat terjadinya perkawinan ternak biasanya terjadi
di :
a. Padang penggembalaan -
b. Kandang 9 (100%)
c. Dibawa ketempat pejantan -
d. Tidak pernah tahu -
4 Apakah bapak/ ibu menyewa pejantan untuk
mengawini ternak ?
a. Ya 8 (88,9%)
b. Tidak 1 (11,1%)
5 Apakah peternak mengetahui gejala birahi ternaknya :
a. Ya
- Siang 9 (100%)
- Malam -
b. Tidak
6 Bila ya, apakah bapak segera berusaha mengawinkan
ternaknya ?
a. Ya 9 (100%)
b. Tidak
7 Kapan biasanya timbul birahi pertama setelah beranak
a. 1- 2 bulan 4 (44,4%)
b. 2,5 - 4 bulan 5 (55,6%)
c. 4,5 - 6 bulan -
d. > 6 bulan -

8 Sapi sehabis beranak dikawinkan kembali pada waktu


a. 1-3 bulan 3 (33,3%)

13
b. 3-5 bulan 6 (66,7%)
c. 5-7 bulan
d. 7-9 bulan
e. > 9 bulan
9 Umur ternak sapi sebaiknya mulai dikawinkan
pertama kali
a. Sapi betina
- Umur (tahun) 2 ± 0,5
- Berat (kg) 175 ± 26,3
b. Sapi jantan
- Umur (tahun) 3,5 ± 0,8
- Berat (kg) 250 ± 27,9
10 Jumlah kali dikawinkan induk tersebut menjadi
bunting
a. Satu kali 6 (66,7%)
b. Dua kali 3 (33,3%)
c. Tiga kali 0 (0%)
d. Lebih dari tiga kali
11 Sapi betina yang tidak pernah beranak sampai
berumur diatas 8 tahun
a. Ada 1 (11,1%)
b. Tidak 8 (88,9%)
13 Apakah dirasakan kekurangan pejantan didesa bapak
a. Ya 6 (66,7%)
b. Tidak 3 (33,3%)
14 Induk ternak biasanya melahirkan untuk pertama kali
pada umur
a. 1,5 - 3,5 th 9 (100%)
b. 3,5 – 4,0 th
c. 4,0 - 4,5th
d. 4,5 – 5,0 th
e. 5,0 - 5,5 th
f. > 5,5 th
15 Kelahiran ternak biasanya terjadi
a. Sepanjang tahun 8 (88,9%)
b. Hanya saat tertentu 1 (11,1%)
c. Tidak pernah tahu
16 Umur pertama kali beranak
a. Yang paling cepat (tahun) 2,5 ± 0,5
b. Yang paling lambat (tahun) 4 ± 0,4
17 Umur pubertas
a. Jantan (bulan) 36 ± 5,0
b. Betina (bulan) 30± 12
18 Lama kebuntingan 9,3 ± 0,2

14
19 Jumlah induk ternak yang telah beranak dalam tahun
ini
a. Anak yang dilahirkan
Jantan 1,3 ± 0,5
Betina 1±0

20 Jangka beranak (induk dapat beranak kembali


sesudah)
a. 11-13 bln 9(100%)
b. 14-16 bln
c. 17-19 bln
d. 20-24 bln
e. > 25 bulan
21 Apakah bapak melakukan penyapihan terhadap anak
sapinya
a. Ya -
b. Tidak 9 (100%)
22 Jumlah anak yang dapat disapih selama 2 tahun -
terakhir ini
23 Pemberian pakan khusus untuk reproduksi
a. Tidak ada 8 (88,9%)
b. Ada pemberian pada sapi :
- Dara
- Flushing
- Betina bunting (Pemberian Legume) 1 (11,1%)
- Betina menyusui
- Calon pejantan
- Pejantan
- Lainnya

Tabel 4.1.4. Produktivitas Ternak

Umur Panjang Lingkar Tinggi Berat badan


No Sex ternak badan dada badan (kg)
(Bulan) (cm) (cm) (cm) Rumus*
Jantan 117 149 121 270.77
1
Betina 110 155 127 295.63
Betina 125 185 109 419.92
Betina 122 173 107 370.20
2 Betina 120 148 102 266.63
Betina 95 130 99 192.05
Jantan 85 118 88 142.34
Jantan 4-8tahun 137 162 120 324.63
3
Jantan 83 118 88 142.34

15
Betina 126 177 108 386.77
Betina 122 173 107 370.20
Betina 2.5-3 97 130 110 192.05
4
Betina 3 112 152 110 283.20
Betina 3 120 157 108 303.91
5 Betina 2.5 129 186 123 424.06
Betina 1bulan 54 100 72 67.76
Jantan 2bulan 65 110 75 109.19
6
Betina 3 125 160 110 316.34
Jantan 1,5bulan 60 94 67 42.90
7 Jantan 3 121 193 117 453.06
Betina 2 120 172 111 366.06
Betina 101 171 115 361.92
8 Betina 111 140 106 233.48
Jantan 96 119 94 146.48
Betina 99 130 98 192.05
9 Betina 147 126 100 175.48
Betina 129 147 113 262.48
(*) Rumus yang digunakan dlam perhitungan bobot badan ialah
Y= 4,143 X – 346,538

Dengan keterangan : Y = Bobot Badan (Kg)

X= Lingkar Dada (Cm)

Tabel 4.1.5. Kesehatan Ternak

No Variabel X – SD
1 Kondisi Kesehatan ternak
 Kondisi Mata 100 %
 Warna Hidung
 Pernapasan
 Kehalusan Bulu
 Detak jantung
 Konsistensi Feses
 Kondisi Tuubuh
- Gemuk 100 %
- Sedang
- Kurus
2. Riwayat Kesehatan Ternak
 Anak 100 %
 Muda 100 %
 Dewasa 100 %
3. Vaksinasi

16
 Pernah 3 (33,3 % )
 Tidak Pernah 6 (66,7 % )
4. Jumlah Kematian Ternak
 Anak menyusui -
 Anak Sapih -
 Muda -
 Dewasa -

Tabel 4.1.6. Pemasaran Ternak

No Variabel X - SD
1 Induk ternak dijual/dipotong setelah
a. Beranak (kali) 2 ± 2,4
b. Umur (tahun) 4 ± 3,3
2 Ternak jantan umumnya dijual/dipotong pada 4.5 ± 3,0
umur (tahun)
3 Umur produktif sapi jantan 4,5 ± 1,8
Umur produktif sapi betina 3,8 ± 1,0
4 Jumlah ternak yang dijual 26
5 Tujuan/alasan menjual ternak
a. Dijual sebagai ternak pootong
b. Dijual sebagai ternak bibit
c. Dijual karena sakit/mandul 1 (11,1%)
d. Membutuhkan biaya/uang 8 (88,9%)
e. Dijual karena terlalu banyak memelihara
f. Dijual karena kesulitan pakan
g. Lain-lain
6 Pada musim apa harga sapi paling tinggi
a. Musim panen padi
b. Musim panen palawija
c. Musim haji 9 (100%)
d. Musim panas
e. Musim hujan
f. Lainnya
7 Pada musim apa harga sapi paling murah
a. Musim panen padi 2 (22,2%)
b. Musim panen palawija
c. Musim haji
d. Musim panas 6 (66,7%)
e. Musim hujan
f. Lainnya 1 (11,1%)
9 Dimana biasanya bapak menjual sapinya
a. Dipasar hewan 1 (11,1%)
b. Antar peternak
c. Pedagang perantara 1 (11,1%)
d. Tidak tentu
e. kandang 3 (33,3%)

17
f. Lainnya 4 (44,4%)
10 Harga sapi saat ini
a. Dewasa jantan 13.000.000
b. Dewasa betina 11.500.000
c. Pedet 3.500.000
11 Bagaimana biasanya bapak membawa sapi
ke pembeli
a. Dengan jalan kaki 8 (88,9%)
b. Dengan kendaraan darat 1 (11,1%)
c. Menguunakan angkutan air
12 Tujuan membeli ternak untuk
a. Bibit 2 (67%)
b. Digemukkan 1 (33%)

Tabel 4.1.8. Biaya Produksi dan Pendapatan bersih peternak

Unit /vol
Komponen Haga Satuan Jumlah
(Satuan)

a. Penerimaan - -
- Penjualan sapi 26 Rp 8,269,230.77 Rp 215,000,000.00
-
-
-
- Penjualan kotoran -
- Sapi akhir -
perhitungan
- Sapi dipotong -
- Pengembalian sapi
Jumlah Rp 215,000,000.00
penerimaan
b. Biaya variable
- 18 Rp 3,500,000.00 Rp 63,000,000.00
Bakalan/bibit(Ekor)
- Pakan (Kg) 389090 Rp 150.00 Rp 58,363,500.00
- Obat-obatan 1 Rp 50,000.00 Rp 50,000.00
- Tenaga kerja 9 Rp 5,475,000.00 Rp 49,275,000.00
- Bunga biaya -
variabel
- Perkawinan ternak 52 Rp 50,000.00 Rp 2,600,000.00
- Pertolongan -
beranak
- Lain-lainnya Rp 200,000.00
Jumlah biaya - Rp 173,488,500.00

18
variable
c.Gross margin (a-b) - Rp 41,511,500.00
d. Biaya tetap -
- penyusutan 2 Rp 2,800,000.00 Rp 5,600,000.00
kandang
- penyusutan 9 Rp 485,000.00
alat
- Lain-lain -
Jumlah biaya tetap - Rp 6,085,000.00
e. Total biaya (b+d) - Rp 179,573,500.00
Pendapatan bersih - Rp 35,426,500.00
(a-e)
B/C Ratio 1.20

Tabel 4.1.9. Kendala utama yang dihadapi dan cara mengatasi

No Kendala Persentase Solusi


1 Kekurangan pakan 9 (100%) Memanfaatkan tanaman
pagar seperti gamal,
lamtoro dll.
2. Kekurangan pejantan 4 (44,4%) Menerapkan inseminasi
Buatan (IB)

4.2. Pembahasan Praktikum


4.2.1. Latar Belakang Peternak
Dalam pelaksanaan praktikum yang dilakukan pada hari rabu
sampai dengan hari minggu yang bertempat di Desa Ranjok,
Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat. Dilakukan
wawancara peternak dari umur peternak, pendidikan terakhir,
tanggungan keluarga, pekerjaan pokok, pekerjaan sampingan,
pemilikan lahan, luas lahan yang dimiliki, kursus beternak yang
pernah diikuti, pengalaman beternak, serta kepemilikan ternak.
Kepemilikan ternak sebagian besar berasal dari bantuan pemerintah
dan masih dalam sekala kecil dari 1-5 ekor. Kepemilikan dari peternak
masih terbilang kurang dalam hal ternak dan materi. Data identitas
peternak dan kepemilikan ternak dapat dilihat pada tabel 4.1.1.

19
Berdasarkan pada data tersebut sebagian peternak memiliki
umur rat-rata (46,6 tahun) dengan pekerjaan pokok sebagian peternak
adalah beternak dan bertani, namun ada sebagian peternak yang
menjadikan beternak sebagi pekerjaan sampingan untuk memenuhi
kebutuhan keluarga yang menjadi tanggungannya. Dalam hal materi
yang pernah diterima ataupun kursus yang pernah diadakan di daerah
tersebut hanya diikuti oleh beberapa peternak. Kursus peternak yang
pernah diikuti yaitu pemeliharaan ternak dan bimtek tematik yang
bertujuan untuk menambah pengetahuan peternak dalam beternak.

4.2.2. Tatalaksana Pemeliharaan


Sistem pemeliharaan ternak sapi dibagi menjadi tiga, yaitu
intensif, ekstensif dan semi intensif. Pada pemeliharaan ternak secara
intensif adalah sistem pemeliharaan ternak sapi dengan acara
dikandangkan secara terus-menerus dengan sistem pemberian pakan
secara cut and carry. Pemeliharaan secara ekstensif adalah
pemeliharaan ternak di padang penggembalaan.Sapi perlu dimandikan
secara rutin untuk menjaga kebersihan tubuh dan mencegah muculnya
sarang penyakit pada tubuh sapi.Sedangkan pemeliharaan secara semi
intensif yaitu pemeliharaan ternak didalam dan diluar kandang.

Dari hasil pengamatan/praktikum yang kami lakukan bahwa


petetrnak melakukan pemeliharaan didalam kandang (intensif), serta
pemberian pakan pun dilakukan didalam kandang.

4.2.3. Perkandangan dan Kesehatan


a. Perkandangan
Kandang berfungsi sebagai tempat berlindung sapi dari
gangguan cuaca, tempat sapi beristirahat, dan mempermudah
dalam pelaksanaan pemeliharaan pada sapi.Tipe kandang
berdasarkan bentuknya ada dua, yaitu kandang tunggal dan
kandang ganda. Kandang tunggal terdiri atas satu baris kandang
yang dilengkapi dengan lorong jalan dan selokan atau parit.
Kandang ganda digunakan sapi saling berhadapan (head to

20
head) yang dilengkapi dengan lorong untuk memudahkan
pemberian pakan dan pengontrolan ternak. Pada hasil
pengamatan/praktikum yang dilakukan kandang yang digunakan
yaitu milik kelompok. Sedangkan kondisi kandang ternak kering
dan bersih,karena peternak disana rajin membersihkan kandang,
sehingga setiap hari kandang di bersihkan. Bahan bagunan
kandang dari semen (kandang permanen) kandang
menggunakan besi sebagai tiang untuk menopong atap. Atap
menggunakan (spandek),lantai (tanah dipadatkan dan PC).
b. Kesehatan
Kesehatan ternak dapat dijadikan sebagai faktor produksi
di dalam peternakan, kesehatan ternak harus diperhatikan
dengan baik. Kesehatan pada ternak merupakan salah satu kunci
keberhasilan dalam pemeliharaan ternak . Secara aman memang
lebih baik ternak yang sakit tersebut ditangani oleh petugas
kesehatan hewan hal ini untuk mencegah terjadinya salah
penanganan pada hewan ternak. Kegiatan yang dilakukan untuk
mencegah penyakit dan pengendalian penyakit pada ternak
diantaranya yaitu dengan sanitasi yang teratur seperti
pembersihan kandang, tempat pakan, tempat minum, dan
ternaknya itu sendiri. Kesehatan ternak yang ada di kelompok
Bina Insan cukup baik,karena kandang yang bersih.
4.2.4. Tatalaksana Pakan
Pakan merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan
pembangkit tenaga bagi ternak. Makin baik mutu dan jumlah pakan
yang diberikan, makin besar tenaga yang ditimbulkan dan makin besar
pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging. sehingga diperlukan
manajemen yang tepat dan efisien agar tidak rugi. Pakan dibagi
menjadi dua yaitu pakan hijauan dan pakan konsentrat. Bahan pakan
yang diberikan pada ternak sapi di kandang ternak potong diantaranya
harus tercukupi nutrisinya.

21
Pakan sapi potong merupakan salah satu unsur yang
sangat penting untuk menunjang produktivitas ternak. Bahan pakan
ternak dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu hijauan dan
konsentrat. Peternak responden memberikan pakan biasanya 3 kali
dalam sehari. Karena tidak memiliki lahan tempat menanam pakan,
sehingga biasanya peternak membeli rumput,sehingga pakan yang
biasa diberikan adalah rumput liar, rumput lapangan. Ternak tidak
pernah digembalakan karena tidak ada lahan.

Air minum disediakan oleh peternak dalam jumlah yang


terbatas, disediakan 2-3 kali dalam sehari. Pemberian air minum di
dalam kandang menggunakan ember, karena di dalam kandang tidak
memiliki tempat khusus sebagai tempat penampungan air minum.

4.2.5. Tatalaksana Perkembang Biakan


Perkembang biakan ternak biasanya dilakukan oleh peternak
yang dilihat dari tanda-tanda/tingkah laku ternak pada saat birahi
yaitu seperti sering mengembik-ngembik tanpa sebab, menggosok-
gosokkan badan pada dinding atau kayu, gelisah, nafsu makan
berkurang, ekor dikibas-kibaskan, sering berkemih, bibir kemaluan
agak membengkak, selaput bagian dalam agak kemerah-merahan, dan
keluar lendir yang jernih.kemudian peternak seseger mungkin
megawinkan ternaknya, karena masa birahi pada sapi berlangsung
sekitar 16 sampai 20 jam setiap kalinya dan terus berulang setiap 3
minggu (21 hari),jika ternak telat untuk dikawinkan ternak tersebut
akan tidak bunting selama setahun dan akan menunggu lagi setahun
lagi pada saat ternak birahi. Akan tetapi kelompok peternak Bina
Insan paham/tahu tanda-tanda ternak bunting dan segera ternak untuk
dikawinkan.

4.2.6. Produktivitas Ternak


Produktivitas adalah faktor salah satu faktor penentu dalam
keberhasilan peternakan,baik pada penggemukan ataupun pembibitan.
Penggemukan sapi adalah usaha memacu pertumbuhan sapi untuk

22
mencapai peningkatan bobot badan pada fase pertumbuhan yang tepat.
Sistem penggemukan terdiri dari tiga macam, yaitu dry lot
fattening, pasture fattening, dan kombinasi antara
keduanya.Sedangkan arti pembibitan adalah suatu tindakan peternak
untuk menghasilkan ternak bibit, dimana yang dimaksud dengan
temak bibit adalah ternak yang memenuhi persyaratan dan karakter
tertentu untuk dikembangbiakan dengan tujuan standar produksi /
kinerja yang ditentukan. Pada peternakan yang berbasis peternakan
rakyat terutama yang diterapkan oleh peternak responden biasanya
secara sederhana. Peternakan sebagian besar di masyarakat khususnya
di lombok masih terbilang sederhana dan tradisional yaitu sebagai
pekerjaan sampingan dan pada pengamatan kami sebagian besar
peternak di pulau lombok melakukan usaha
pembibitan/memperbanyak,jika sewaktu-waktu dibutuhkan akan di
jual dan bisa juga sebagai tabungan.

4.2.7. Pemasaran Ternak


Pada peternakan kelompok yang sudah kita amati, berbagai
alasan dalam menjual ternaknya adalah karena membutuhkan
biaya/uang yang mendesak. Menurut pengalaman peternak responden,
harga ternak naik biasanya pada saat musim haji, dan menjelang
bulan syawal. Kenaikan biasa terjadi saat bulan juli sampai dengan
bulan oktober dan harganya murah disaat musim panas karena ternak
kekuranggan pakan sehingga ternak menjadi agak kurus dan harganya
menjadi turun. Peternak menjual ternaknya pada tetangga atau warga
1 kampung, dibeli di kandang,mendatangi rumah peternak untuk
membeli ternak, sehingga peternak tidak mengeluarkan biaya untuk
transportasi. Ternak dijual pada saat harga ternak memadai dan anak
sudah disapih.

4.2.8. Pendapatan Bersih Peternak


Berdasarkan pada hasil analisa pendapatan bersih yang
diperoleh oleh beberapa peternak Bina Insan yang telah didata dan

23
dilakukan perkiraan biaya yang terjadi selama 2 tahun terakhir.
Pemaparan biaya terdapat pada Tabel 4.1.6 Biaya Produksi dan
pendapatan bersih peternak menunjukan bahwa pendapatan bersih
yang diperoleh oleh kelompok tersebut adalah Rp 35,426,500.00.

4.2.9. Kendala utama ynag dihadapi dan cara mengatasi


Salah satu hambatan yang dirasakan oleh peternak responden
selama beternak yaitu kekurangan pakan,dan kekurangan pejantan.
Berdasarkan hasil wawancara, peternak mengalami kekurangan pakan
kaena lahan sekitar ataupun lahan persawahan telah beralih fungsi
menjadi lahan perumahan bersubsidi yang mulai banyak didirikan
oleh pemerintah disekitar tempat usaha peternakan. Sehingga ini
merupakan kendala atau masalah yang bisa dikatakan cukup serius
karena pakan dan kesehatan ternak merupakan menejemen penentu
yang paling penting didalam keberlangsungan usaha peternakan.

Kurang pakan pada daerah sekitaran perkandangan ternak juga


menyebabkan peternak harus menempuh jarak lebih jauh dalam
mencari pakan yang membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak.
Apabila musim hujan biasanya ketersediaan rumput sebagai pakan
ternak sangat melimpah, namun pada musim kemarau ketersediaannya
sangat terbatas. Hal ini membuat ternak mendapat pakan dengan
jumlah banyak ketika musim hujan dan kekurangan pada musim
kemarau. Salah satu permasalahan lain yaitu ketika musim panen
tanaman pangan di sawah seperti padi, jagung, dan kacang tanah.
Limbah dari tanaman tersebut tidak bisa dimanfaatkan secara
maksimal oleh peternak, sebagian besar dibuang/dibakar (terutama
jerami padi) karena tidak tidak habis digunakan sebagai pakan ternak.
Peternak perlu diberikan pelatihan khusus agar mempu memanfaatkan
pakan dan limbah secara optimal, mengolah menjadi silase, hay, dan
sebagainya.

Optimalisasi peran akademisi seperti mahasiswa dan dosen


dalam hal ini sangat dibutuhkan dalam rangka memberi penyuluhan

24
kepada masyarakat terkait dengan pemecahan masalah-masalah
tersebut. Disamping itu, peran pemerintah juga sangat dibutuhkan
terutama Dinas Peternakan terkait yang senantiasa melakukan
pelatihan-pelatihan kepada peternak, mengingat hambatan terbesar
dalam usaha peternakan rakyat selama ini adalah pendidikan peternak
yang masih minim.

Selain kekurangan pakan, hambatan yang dirasakan oleh


beberapa peternak yaitu kekurangan pejantan. Berdasarkan pada
populasi ternak yang dipelihara lebih dominan pada ternak betina
karena dapat dikatakan kandang tersebut sebagai kandang reproduksi
ataupun pembiakkan. Seharusnya pejantan yang ada dikandang
tersebut telah cukup, namun penyebab beberapa peternak merasa
kekurangn karena ketidaksesuaian criteria dari pejantan yang akan
disewakan untuk kawin. Solusi yang dapat diterapkan pada hambatan
seperti ini, yaitu menerapkan teknologi reproduksi seperti Inseminasi
Buatan (IB) dan juga dapat menyewa pejantan dari kelompok ternak
yang lain. Solusi yang diberikan mempunyai kekurangan dan
kelebihan yaitu dari segi ekonomis tentunya IB membutuhkan biaya
yang lebih besar daripada kawin alam, namun pada teknologi IB dapat
melakukan pemilihan pejantan yang diinginkan sesuai dengan
keinginan peternak. Pada solusi yang kedua juga dapat dikatakan
membutuhkan biaya yang lebih besar dalam proses transportasi ternak
pejantan tersebut dan juga biaya penyewaan.

25
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Kesimpulan dari Hasil Praktikum Menejemen Ternak Potong Dan Kerja,
antara lain:
1. Pemeliharaan ternak dilakukan secara intensif didalam kandang,
sehingga semua kebutuhan ternak akan disediakan oleh peternak.
Sistem perkandangan yang banyak diterapkan dikelompok ternak ini
adalah sistem kandang ganda -koloni-head to head dengan luas rata-rata
kandang keseluruhan 300 m2.
2. Kondisi ternak yang diamati rata-rata dalam keadaan sehat, dilihat dari
matanya yang cerah, bulu halus, frekuensi detak jantung dan penapasan
yang normal.
3. Tatalaksana pemberian pakan dilakukan dengan cara adibitium, yaitu:
pakan selalu tersedia ditempat pakan ternak. Rata-rata frekuensi
pemberian pakan dikelompok ternak ini adalah 2,4 ± 0,52kali.
4. Perkawinan yang dilakukan ialah kawin alam yang menggunan pejantan
sewaan ataupun pejantan milik sendiri.
5. Kapasitas produksi daging dapat diestimasikan dengan mengukur:
lingkar dada, panjang badan dan tinggi badan. Usaha peternakan sapi
dapat dikatakan menjanjikan jika diusahakan dengan cara menejemen
yang bagus.
6. Permasalahan utama dalam usaha peternakan adalah kesulitannya para
peternak untuk mencari pakan, sehingga diperlukan sekali cara agar
peternak dapat memperoleh pakan alternative.
5.2. Saran
Adapun saran yang perlu disampaikan, antara lain:
1. Pada saat pengambilan data hendaknya mahasiswa melakukannya dengan
teliti dan objektif.

26
2. Pelaksanaan praktikum diharapkan agar dosen diwakili oleh coordinator
assisten, agar ada yang melaporkan kondisi praktikum (pencacah) ketika
di lapangan.

27
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. 2008. Penggemukan Sapi Potong. AgroMedia Pustaka, Jakarta.

Murtidjo, B. A. 1990. Sapi Potong. Kanisius, Jakarta.

Ngadiyono, N. 2007. Beternak Sapi. PT Citra Aji Pratama, Yogyakarta.

Saparinto. 2009. Sistem Perkandangan dan Tipe Kandang. Agro Media. Bogor.

Sugeng, Y. B. 1998. Beternak Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.

Wello. 2011. Teknik pemeliharaan Sapi potong. Gajah Mada University Press.
Yogyakarta.

28
LAMPIRAN

29

Anda mungkin juga menyukai