Anda di halaman 1dari 17

STUDI PENGGUNAAN OBAT GASTROENTERITIS AKUT (GEA) PADA

PASIEN ANAK DI INSTALASI RAWAT INAP RS. TOTO KABILA TAHUN 2017

Sandra Saleh, Teti Sutriyati Tuloli, Nur Ain Thomas*)


*) Jurusan Farmasi, Fakultas Olahraga dan Kesehatan
Universitas Negeri Gorontalo

E-mail: Sandraaasaleh27@gmail.com

ABSTRAK

Sandra Saleh. 2017. Studi Penggunaan Obat Gastroenteritis Akut (GEA) Pada
Pasien Anak di Instalasi Rawat inap RS. Toto Kabila Tahun 2017. Skripsi. Program
Studi S1. Jurusan Farmasi, Fakultas Olahraga dan Kesehatan, Universitas Negeri
Gorontalo. Pembimbing I Dr. Teti Sutriyati Tuloli, M.Si., Apt. dan Pembimbing II
Nur’Ain Thomas, S.Si., M.Si., Apt

Gastroenteritis akut atau sering dikenal dengan diare akut adalah buang air besar lebih
dari 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair dan berlangsung kurang dari 1 minggu.
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui penggunaan obat Gastroenteritis akut pada
pasien anak Di Rumah Sakit Toto Kabila Kabupaten Gorontalo pada tahun 2017.
Penelitian ini mengikuti rancangan penelitian Cross sectional bersifat deskriptif
nonanalitik dengan pengumpulan data secara retrospektif. Hasil penelitian dari data
rekam medik menunjukan sebanyak 55 pasien terdiagnosa Gasttroenteritis akut yang
memenuhi kriteria inklusi. Diperoleh hasil bahwa pasien laki – laki lebih banyak
dibandingkan pasien perempuan yaitu sebesar 58,18%, kelompok umur terbesar adalah 0-
≤ 2 tahun yaitu sebesar 56,36%. Berdasarkan kesesuaian penggunaan obat Gastroenteritis
akut (GEA) Pada anak di instalasi rawat inap di Rumah Sakit Toto Kabila Tahun 2017
yang sudah sesuai menurut standar WHO (2004) sebanyak 92,67% dan persentase
kesesuaian penggunaan obat sebagai obat penyerta sebanyak 69,10.

Kata Kunci : Penggunaan Obat, Gastroenteritis akut, Pasien Anak

71
ABSTRACT

Sandra Saleh. 2017. Study of The Use of Acute Gastroenteritis Drugs upon The
Pediatric Patients at Inpatient Installations of Toto Kabila Hospital in 2017.
Undergraduate Thesis. Bachelor Program. Pharmaceutical Department. Faculty of
Sport and Health, Gorontalo State University. Advisor I Dr. Teti Sutriyati Tuloli,
M.Si., Apt. and Advisor II Nur’Ain Thomas, S.Si., M.Si., Apt

Acute gastroenteritis or commonly known as acute diarrhea is a bowel movement more


than 3 times in 24 hours with a consistency of liquid and occurs less than 1 week. The
purpose of this study is to determine the use of acute gastroenteritis drug upon the
pediatric patients at Toto Kabila Hospital of Gorontalo District in 2017. This study uses
cross sectional design that is nonanalytic descriptive where the data collection obtained
retrospectively. One of the results of the medical record data shows that as many as 55
patients are diagnosed acute gastroenteritis that meet the inclusion criteria; other result
shows the male patients are more than female patients, amounting to 58.18%; the largest
age group is in the range 0 - ≤ 2 years, amounting to 56.36%. Based on the compliance
with the Standards (WHO, 2004), the appropriate use of drugs in the treatment of acute
gastroenteritis upon the pediatric patients at Inpatient Installations of Toto Kabila
Hospital in 2017 is 92.67% and 69.10% is inappropriate.

Keywords : Drugs Use, Acute Gastroenteritis, Pediatric Patient

PENDAHULUAN
Kesehatan merupakan hal yang Gastroenteritis akut pada anak-
dicari oleh semua orang . menurut anak didefinisikan sebagai penyakit
World Health Organization (WHO) yang pada mulanya terjadi diare dengan
kesehatan adalah suatu keadaan sehat atau tanpa nyeri perut, demam, mual
yang utuh secara fisik, mental, dan atau muntah. Kasus ini paling sering
sosial serta bukan hanya merupakan terjadi dinegara-negara berkembang
bebas dari penyakit. Penyakit diare dangan standar hidup yang rendah.
sering disebut Gastroenteritis yaitu Salah satu penyebab utama
peradangan pada lambung, usus kecil kasus kematian anak-anak usia <5
dan usus besar dengan berbagai kondisi tahun adalah diare. Angka kematian
patologis dari saluran gastrointestinal akibat gastroenteritis akut adalah 12%
(Rachmawati,2014).Penyebabterjadinya diantara seluruh penyebab kematian.
infeksi adalah virus, bakteri dan parasit. Gastroenteritis akut merupakan
Beberapa bakteri penyebab penyakit ini penyebab 155 kematian anak balita.
antara lain bakteri Escherchia coli, Berdasarkan data dari Riset Kesehatan
Salmonella, Shigella Vibrio dan Staphy Dasar Tahun 2007, diare merupakan
lococus (Rachmawati, 2014). penyebab kematian tertinggi pada anak

72
umur 1-4 tahun yaitu sebesar 25,2% penyakit yang sebenarnya tidak
(Riskesdas RI, 2007). Berdasarkan data memerlukan antibiotik. Kualitas
Riskesdas pada tahun 2013 insiden dan penggunaan antibiotik diberbagai
prevalensi diare pada kelompok usia Rumah Sakit ditemukan 30-80% tidak
anak adalah 10,2% (Riskesdas RI, berdasarkan pada indikasi. Intensitas
2013). penggunaan antibiotik yang tinggi
Kelompok umur yang paling dapat menyebabkan resistensi bakteri
rawan terkena diare adalah kelompok terhadap antibiotik, yang berdampak
anak usia balita. Pada usia ini, anak pada morbiditas dan mortilitas
mulai mendapat makanan tambahan (Pemenkes, 2011).
seperti makanan pendamping dan susu Berdasarkan data awal yang
formula, sehingga kemungkinan diperoleh dari Rumah sakit Toto
termakan makanan yang sudah Kabila, Gastroenteritis akut termasuk
terkontaminasi oleh agen penyebab dalam 10 besar kategori penyakit
penyakit diare menjadi lebih besar. terbanyak rawat inap yaitu peringkat
Indonesia mencatat angka kejadian kedua pada tahun 2016 dan 2017. Dari
diare diperkirakan sekitar 120-130 hasil observasi awal yang dilakukan
kejadian per 1000 penduduk, dan terhadap rekam medik pasien
sekitar 60% kejadian tersebut terjadi gastroenteritis akut, ditemukan
pada balita, kejadian diare luar biasa penggunaan antibiotik pada pengobatan
setiap tahun terjadi sekitar 150 kejadian pasien antara lain adalah Cefixime,
dengan jumlah kasus sekitar 20.000 Cefotaxime, Cetirizine, Colergis,
orang dan angka kematian sekitar 2% Cotrimoxazole, Cefadroxil sirup,
(Irianto, 1994). Domperidone, Eritromisin, Ibuprofen,
Penatalaksaan diare akut Nystatin, Rhinos Neo, Paracetamol,
menurut World Gastroenterologi Probiotik, Salbutamol, Tiafens sirup,
Organisation (2012) terdiri dari terapi Vical sirup, dan Zink.
rehidrasi oral, terapi suplemen Zink, Berdasarkan uraian yang telah
diet, probiotik dan antibiotik. Antibiotik dijelaskan di atas, maka penulis tertarik
merupakan obat yang paling banyak untuk melakukan penelitian mengenai
digunakan pada infeksi yang “Studi Penggunaan Obat Gastroenteritis
disebabkan oleh bakteri. Sekitar 40- Akut (GEA) Pada Anak di Instalasi
62% studi menemukan bahwa Rawat Inap di Rumah Sakit Toto
penggunaan antibiotik tidak tepat untuk

73
Kabila Kabupaten Bone Bolango tahun b) Catatan rekam medik yang
2017”. lengkap dan terbaca dengan
METODE PENELITIAN jelas
Desain Penelitian c) Pasien balita anak penyakit
Jenis penelitian yang digunakan gastroenteritis akut (GEA) dan
pada penelitian ini merupakan juga penyakit penyerta yang
penelitian deskriptif pada pendekatan dirawat inap dari bulan Januari-
studi Cross sectional yaitu penelitian Juni 2017.
yang dilakukan pada satu waktu dan 2. Kriteria Eksklusi
satu waktu (Nasehudin, 2012). a) Catatan rekam medik yang
Lokasi dan Waktu Penelitian tidak lengkap
Penelitian dilaksanakan di b) Pasien balita anak penyakit
Rumah Sakit Toto kabila Bone bolango gastroenteritis akut (GEA)
pada bulan September- Oktober 2017. dengan penyakit penyerta yang
Populasi, Sampel dan Tekhnik dirawat jalan dari bulan
Sampling Januari- Juni 2017.
Populasi dalam penelitian ini Penentuan sampel menggunakan
yaitu seluruh pasien anak penderita rumus slovin, yaitu sebagai berikut
Gstroenteritis Akut (GEA) di RSUD (Sujarwan, 2014):
Toto Kabila tahun 2017. n = N
Teknik pengambilan sampel secara N.d2 + 1
purposive sampling yaitu pengambilan Dimana n = Jumlah Sampel
sampel berdasarkan ciri atau sifat-sifat N=Jumlah Populasi
populasi yang sudah diketahui d2=Presisi yang ditetapkan
sebelumnya .Sampel yang digunakan Presisi yang ditetapkan dalam
yaitu rekam medik pasien gastroenteris penelitian ini sebesar 10% (0,1)
akut di RSUD Toto kabila yang (Ridwan, 2010).
memenuhi kriteria inklusi dan tidak Sehingga :
memenuhi kriteria ekslusi. n = 122
1. Kriteria Inklusi 122. (0.12) + 1
a) Data rekam medik pasien = 122
gastroenteritis akut umur 0-14 (122). (0,01) + 1
tahun yang dirawat inap pada = 122
bulan Januari- juni 2017 2,22

74
n = 54,95 55 Gambar 1 Presentase Berdasarkan
Sampel Berdasarkan rumus tersebut Jenis Kelamin Pada Pasien
diperoleh jumlah sampel (n) adalah Gastroenteritis Akut (GEA).
sebanyak 55 sampel. Gambar 1 diatas menunjukan gambaran
Variabel Penelitian tentang jumlah pasien penderita
Variabel penelitian yang gastroenteritis akut pada bulan Januari
digunakan adalah variable mandiri – Juni 2017 di instalasi rawat inap Rs
yakni pasien diare akut dan penggunaan Toto Kabila sebanyak 55 pasien yang
obat diare akut terdiri dari pasien anak laki-laki
Instrumen Penelitian sebanyak 32 (58,18%) sedangkan
Instrumen dalam penelitian ini pasien anak perempuam sebanyak 23
yaitu lembar pengumpulan data pasien (41,81%). Hal ini sejalan dengan
Rawat Inap yang menderita penelitian yang dilakukan oleh
Gastroenteritis akut (GEA). (Tanjung, 2011) bahwa anak laki-laki
HASIL DAN PEMBAHASAN lebih banyak menderita diare akut
4.1 Presentase Berdasarkan Jenis sebesar (53, 46%) dibandingkan dengan
Kelamin Pada Pasien anak perempuan sebesar (46,54%). hal
Gastroenteritis Akut (GEA). ini berarti bahwa penyakit diare akut
Dari 55 pasien yang dirawat di lebih banyak diderita oleh anak laki-
Rumah Sakit Toto kabila selama bulan laki dibandingkan dengan anak
Januari - Juni 2017 yang tersaji pada perempuan. Hal tersebut bukan
gambar 1 penderita pasien terbanyak menunjukkan laki-laki mempunyai
yaitu diketahui jenis kelamin laki-laki resiko terkena diare lebih besar
lebih banyak dengan jumlah 32 pasien dibandingkan perempuan, tetapi laki-
dengan persentase (58,18%). sedangkan laki dan perempuan memiliki faktor
pasien berjenis kelamin perempuan resiko yang sama terhadap diare akut
dengan jumlah 23 pasien dengan (Suraatmaja, 2007). Secara khusus
presentase sebanyak (41,81%). belum ada penelitian atau teori yang
menunjukan adanya hubungan antara
Grafik pasien berdasarkan jenis kelamin jenis kelamin dengan penyakit diare
akut.
Perempuan
41.81 %
58.18 % Laki-laki

75
4.2 Presentase Berdasarkan umur pasien), dan terkecil adalah anak yang
Pada Pasien Gastroenteritis Akut berumur 6 – 14 tahun yaitu sebesar
(GEA). 18,18 % (10 pasien). Hal ini sejalan
Berdasarkan penggunaan obat dengan penelitian yang dilakukan oleh
gastroenteritis akut pada anak dengan Erlina (2013) memperoleh hasil
kelompok umur 0 - ≤ 2 tahun adalah sebanyak 78,72% pasien berumur 0 -
kelompok umur yang paling banyak ≤ 2 tahun yang terdiagnosa
menderita penyakit gastroenteritis akut gastroenteritis akut . hasil ini juga
yaitu mencapai 31 pasien dengan didukung oleh penelitian yang
presentase 56,36%, sedangkan dilakukan William (2015) bahwa
kelompok umur 3 -5 tahun menduduki puncak insidens diare akut terjadi pada
peringkat kedua, yaitu sebanyak 14 usia 6-24 bulan yang sebagian besar
pasien dengan presentase 25,45%, dan penyebabnya adalah virus, terutama
yang paling sedikit adalah kelompok Rotavirus 4,5 Infeksi Rotavirus sering
umur 6-14 tahun, yaitu sebanyak 10 menjadi penyebab diare akut, berupa
pasien dengan presentase 18,18%. diare cair akut seperti yang kami
dapatkan sebagai jenis diare terbanyak
Grafik pasien diare berdasarkan umur
(97,2%).
0 - ≤ 2 tahun 4.3 Presentase Jenis obat yang
18.18 %
56.36 % 3 - 5 tahun
digunakan Pada Pasien Anak
25.45 %
Gastroenteritis akut (GEA) di
6 - 14 tahun
Rumah sakit Toto Kabila pada
bulan Januari – Juni 2017
Gambar 2 Presentase Berdasarkan Dari 55 pasien yang dirawat inap di Rs.
umur Pada Pasien Gastroenteritis Toto Kabila selama bulan Januari -Juni
Akut (GEA).
2017 yang tersaji pada tabel 4.3
Dari 55 pasien yang dirawat di
penderita diare akut pada anak bahwa
Rumah Sakit Toto kabila selama bulan
presentase penggunaan obat terbanyak
Januari - Juni 2017 pasien anak
pada diare akut adalah penggunaan
penderita diare akut yang dirawat inap,
Zink dengan frekuensi 43 kali ( 23,3
terbesar adalah anak yang berumur 0 -
%).
≤ 2 tahun, yaitu sebesar 53, 36% (31
pasien) , terbesar kedua adalah anak
yang berumur 3-5 tahun 25,45% (14

76
Grafik penggunaan obat Gastroenteris
sel dimana zink dapat mampu
akut (GEA)
Zink mengurangi duarasi episode diare
Ringer laktat hingga sebesar 25%.
1.63% 0.54% Oralit Obat terbanyak kedua untuk
2.17% Andonsetron
pengobatan diare akut adalah
6.52%
1.08% Paracetamo
penggunaan obat antipiretik dengan
1.08% 4.34% Asering infus
1.08% frekuensi penggunaan 30 kali (16,3%).
Cotrimoxazol
e Jenis antipiretik yang digunakan dalam
0.54% 23.3% Cefixime

Cefotaxime
penelitian ini adalah parasetamol.
10.3% 3.26%
Gentamisin Selain berfungsi sebagai antipiretik,
16.3% Domperidon parasetamol juga berfungsi sebagai
1.08%
Cefadroxil analgesik. Antipiretik merupakan obat
7.06%
Aspar.k yang digunakan untuk menurunkan
Thiamphenico
l demam yang ditandai oleh peningkatan
9.78% Ranitidin
suhu tubuh pasien.
Ambroxol
Obat terbanyak ketiga yaitu
asering infus. Asering infus digunakan
untuk pengobatan yang berhubungan
Gambar 3 Presentase penggunaan dengan dehidrasi dan kehilangan ion
obat pada penyakit Gastroenteritis (Hiswani, 2003). Obat terbanyak ke
Akut Pada Anak
empat yaitu penggunaan oralit dengan
Dari tabel 3 terlihat bahwa presentase
frekuensi penggunaan 18 kali (9,78%).
penggunaan obat terbanyak pada diare
Sejak tahun 2004, WHO/UNICEF
akut adalah penggunaan Zink dengan
merekomendasikan oralit dengan
jumlah penggunaan 43 kali dengan
osmolaritas rendah. Berdasarkan
presentase (23,3 %). Hal ini sesuai
penelitian dengan oralit osmolaritas
dengan penelitian sebelumnya oleh
rendah diberikan kepada penderita diare
WHO dan UNICEF (2004) tentang
dapat mengurangi volume tinja hingga
profil terapi obat pada pasien rawat
25%, mengurangi mual muntah hingga
inap dengan diare akut pada anak di
30%, mengurangi secara bermakna
rumah sakit umum negara melaporkan
pemberian cairan intravena sampai 33%
bahwa Zink merupakan antioksidan
(Kemenkes RI, 2011).
kuat yang mampu mencegah kerusakan
Selanjutnya obat terbanyak kelima
sel dan menstabilkan struktur dinding
berdasarkan data yang didapatkan yaitu

77
terdapat penggunaan andonsetron disertai oleh gejala maag, peningkatan
sebagai antiemetik dengan persentase asam lambung, mual dan muntah.
13 kali (7,06%). Penggunaan (Pratama, 2009).
ondansetron sebagai antiemetik pada Dalam penelitian ini terdapat
pasien diare akut anak merupakan suatu penggunaan obat Kalipar (Aspar k).
pilihan yang sudah tepat. Pada mulanya dengan frekuensi penggunaan sebanyak
ondansetron merupakan obat obat 4 (2,17%). Kalipar (Aspar.k)
antiemetik untuk mengurangi efek mual merupakan obat yang berisi kalium L-
dan muntah yang ditimbulkan akibat aspartate, berbahan dasar bubuk tanpa
radiasi dengan efek samping yang bau. Obat ini umumnya digunakan
paling ringan. untuk membantu meningkatkan kadar
Obat terbanyak keenam untuk ion kalium dalam darah yang
diare akut adalah ringer laktat. kurang/hipokalemia.(Adisasmito,2007).
Penggunaan ringer laktat diketahui Pada penelitian ini juga
persentase penggunaannya sebanyak 6 diperoleh data bahwa pada terapi diare
kali (3,26%). Ringer laktat merupakan akut pada anak juga diberi antibiotik,
cairan garam fisiologis steril yang hal ini bisa jadi disebabkan untuk
kandungan asam basanya menyerupai mengobati infeksi sekunder yang
cairan plasma darah. Ringer laktat menyertai diare pada anak. Penggunaan
mengandung gram NaCl (6g), KCL antibiotik yang digunakan di Rumah
(0,3g), CaCl2 (0,2g), dan Na Laktat sakit Toto kabila pada bulan Januari –
(3,1g) dalam setiap 1 liter larutan. Juni 2017 adalah cotrimoxazole,
Cairan ini berfungsi untuk cefixime, injeksi gentamisin,
mengembalikan osmolaritas dan cefotaxime dan cefadroxil. Antibiotik
elektrolit tubuh secara cepat melalui yang paling banyak digunakan adalah
rehidrasi intravena. cotrimoxazole yaitu 10,8% (20
Berdasarkan data yang penderita). Cotrimoxazole merupakan
didaptkan terdapat penggunaan H2 antibiotik yang mengandung kombinasi
Blocker dalam penelitian ini sebanyak sulfametoksazol dan trimetoprin.
12 kali (6,52%). Ranitin berfungsi Cotrimoxazole mempunyai spektrum
untuk menghambat sekresi asam aktifitas luas dan efektif terhadap garam
lambung. Pemberian obat ini positif dan garam negatif termasuk E.
merupakan pilihan yang tepat untuk coli yang merupakan bakteri garam
mengobati pasien diare akut anak yang negative serta salah satu penyebab

78
utama diare akut (Rosen dan Quinn, (1,08%). Gentamisin merupakan
2000). Penggunaan cefotaxime dengan aminoglikosida yang banyak dipilih dan
frekuensi 3 (1,08%) yaitu antibiotik digunakan secara luas untuk terapi
kedua yang paling banyak digunakan infeksi virus. Selain itu terdapat
adalah golongan sefalosporin ketiga, penggunaan Biothicol (Thiamphenicol)
dimana cefotaxime memiliki dengan frekuensi penggunaan 1
keuntungan nyata dan dinyatakan aman (0,54%). Biothichol adalah antibiotik
dengan tingkat keberhasilan yang tinggi yang mempunyai aktivitas
dan tingkat komplikasi dan superinfeksi bakteriostatik yang luas baik terhadap
yang rendah pada anak yang dirawat organisme gram positif maupun negatif
dengan infeksi serius. Selain itu (Pratama, 2010)
cefotaxime memiliki spektrum kerja 4.4 Distribusi Frekuensi
yang sangat luas, aktivitas Penggunaan Obat Gastroenteritis
antibakterinya lebih kuat dan efek Akut Berdasarkan Usia Pada
sampingnya relative rendah (Tan Hoan,
Pasien Anak Tahun 2017
2002). Setelah cefotaxime penggunaan
Dari 55 pasien terlihat bahwa
antibiotik terbanyak ketiga yaitu
persentase penggunaan obat
Cefadroxil sebanyak 2 (1,08%), dimana
Gastroenteritis Akut (GEA) Pada anak
cefadroxil digunakan karena zat ini
yang dirawat inap berdasarkan usia
terutama aktif terhadap bakteri gram
didapat bahwa yang terbanyak yaitu
positif seperti Staphylococcus, maka
pada umur 0-≤ 2 tahun dengan
antimikroba tersebut dapat
persentase 99,87%, Sedangkan
dikombinasikan (Jewetz, 1996).
kelompok umur 3- 5 tahun menduduki
Selanjutnya penggunaan antibiotik yang
peringkat kedua yaitu dengan
terbanyak keempat yaitu Cefixime 2
persentase 99,79% dan untuk umur 6 –
(1,08%). Cefixime adalah golongan
14 tahun menduduki peringkat ketiga
sefalosporin generasi ketiga yang dapat
yaitu dengan persentase sebanyak
diberikan oral. Obat ini lebih aktif
99,73.
melawan bakteri gram negatif
dibandingkan sefalosporin generasi
ketiga yang sebelumnya tersedia (Resse
dkk, 2000). Selanjutnya penggunaan
antibiotik keenam yaitu Gentamisin
dengan frekuensi penggunaan 1

79
Grafik penggunaan obat tinggi dalam penggunaan zink untuk
berdasarkan Usia
umur 0 -≤2 tahun . selain itu zink
menurut WHO (2004) digunakan untuk

0 -≤2 tahun
pengobatan diare terapi Rencana C
99.73 99.73
% % 3 - 5 tahun dalam hal ini ditujukan untuk diare
6 - 14 tahun dehidrasi berat sesuai dengan data yang
99.79
% diperoleh bahwa anak-anak yang
menggunakan pengobatan zink yaitu
Grafik 4.4 penggunaan obat anak dengan diagnosa dehidrasi berat.
Gastroenteritis Akut (GEA) pada Selanjutnya untuk penggunaan
anak berdasarkan usia Pada Bulan obat berdasarkan usia 6- 14 tahun yang
Januari – Juni 2017 terbanyak adalah penggunaan
Dari data yang didapatkan bahwa Andonsetron dengan jumlah
penggunaan obat berdasarkan usia 0 - penggunaan 5 kali dengan persentase
≤2 dan 3- 5 tahun yang terbanyak 21,7%. Dalam hal ini ondansetron
adalah penggunaan Zink dengan jumlah digunakan untuk mengurangi efek mual
penggunaan 27 kali dan 14 kali dengan muntah yang ditimbulkan akibat radiasi
persentase 26,7%, dan 23,3%. Dalam dengan efek samping yang paling
hal ini beberapa penelitian menunjukan ringan.
pemberian zink mampu menurunkan 4.5. Presentase Kesesuaian
volume dan frekuensi tinja rata-rata Penggunaan Obat Gastroenteritis
sebesar 30%. Zink juga menurunkan Akut Pada Anak Selama Bulan
duarasi dan keparahan pada diare Januari – Juni 2017 Berdarkan Obat
persisten. Bila diberikan secara rutin Penyerta Dan Standar WHO (2004)
pada anak-anak baik jangka panjang Dari hasil penelitian yang dilakukkan
maupun jangka pendek, zink mampu pada tabel 5 menunjukan dari 55
menunjukan efektivitas dalam pasien yang di rawat inap di Rs. Toto
mencegah diare akut maupun persisten kabila pada bulan Januari – Juni 2017
mampu memberikan manfaat ditemukan kesesuaian penggunaan obat
menurunkan prevalensi diare yang menurut Standar WHO (2004) sebesar
disebabkan disentri dan Shigellosis. 92,67% dan kesesuaian penggunaan
Dalam penggunaan jangka panjang obat untuk obat penyerta sebesar
tidak terlihat adanya efek samping. Hal 69,10%.
ini menunjukan tingkat keamanan yang

80
Selanjutnya terdapat penggunaan
Grafik kesesuaian obat
Gastroenteritis Akut (GEA) zink yang sudah sesuai dengan standar
penggunaan obat menurut WHO
69.10
obat (2004). Menurut WHO (World health
%
menurut
WHO
Organization) dan UNICEF pada tahun
obat 2004 merekomendasikan penggunaan
penyerta
zink sebagai bagian dari

92.67
penatalaksanaan pengobatan diare.
% Dalam penatalaksanaan pengobatan
Pemilihan obat pada pasien yang diare akut, zink mampu mengurangi
terdiagnosa Gastroenteritis akut dalam durasi episode diare hingga sebesar
menjalani rawat inap pada bulan 25%. Beberapa penelitian menunjukan
Januari – Juni 2017 yang dirawat di pemberian zink mampu menurunkan
Rumah Sakit Toto kabila yang volume dan frekuensi tinja rata-rata
didasarkan pada standar (WHO, 2004), sebesar 30%. Zink juga menurunkan
ada 9 jenis obat diare akut yang sudah duarasi dan keparahan pada diare
sesuai dengan standar penggunaan obat persisten. Bila diberikan secara rutin
(WHO, 2004) yaitu penggunaan Zink pada anak-anak baik jangka panjang
(23,3%) penggunaan Oralit (9,78%), maupun jangka pendek, zink mampu
penggunaan Ringer laktat (3,26%), menunjukan efektivitas dalam
Asering infus (10,3%). Hal ini juga mencegah diare akut maupun persisten
didukung oleh penelitian (Putri, 2010) mampu memberikan manfaat
bahwa pemberian terapi cairan menurunkan prevalensi diare yang
pengganti (rehidrasi), terdapat 97 kasus disebabkan disentri dan Shigellosis.
atau 32,99% pasien yang diberikan Pada penelitian ini juga diperoleh
terapi cairan. data bahwa pada terapi diare akut pada
Pemberian terapi cairan pengganti anak juga diberikan antibiotik.
merupakan pengobatan utama pada Penggunaan antibiotik yang digunakan
penyakit diare yaitu dengan seperti penggunaan Cotrimoxazole
menggunakan terapi cairan dan (10,8%), penggunaan cefotaxime
elektrolit, seperti yang tertera pada (1,63%), penggunaan cefadroxil
tatalaksana penderita diare menurut (1,08%), penggunaan cefixime (1,08).
Departemen kesehatan RI (Depkes RI, Hal ini juga didukung oleh penelitian
2010). (Arifani, 2014) yang menyebutkan

81
bahwa pemilihan antibiotik dari penggunaan Ambroxol 8 kali. Dalam
golongan sefalosporin sebanyak hal ini Rumah sakit Toto Kabila
(97,62%). Sefalosporin adalah menggunakan ke 7 obat ini sebagai
antibiotik yang paling banyak diberikan penunjang untuk menghilangkan gejala
pada penelitian ini. Sefalosporin penyakit yang menyertai diare akut dan
merupakan antibiotik betalaktam yang merupakan terapi untuk memperbaiki
memiliki mekanisme menghambat keadaan pasien.
sintesis dinding sel mikroba (Istiantoro Diantaranya Terdapat penggunaan
dan Gan, 2004). Sefalosporin memiliki obat antiemetik pada pasien diare yang
spektrum aktivitas yang luas dimana disertai mual dan muntah. Jenis
antibiotika ini dapat digunakan untuk antiemetik yang digunakan dalam
infeksi yang disebabkan penelitian ini adalah Ondansetron dan
Sthaphylococcus, streptococcus Domperidone. Antiemetik tidak
(Fairbanks, 2007). Gentamisin termasuk dalam rejimen pengobatan
merupakan aminoglikosida yang gastroenteritis akut pada anak-anak
banyak dipilih dan digunakan untuk menurut pedoman standar WHO, akan
terapi infeksi virus. Gentamisin adalah tetapi oleh sebab tertentu seperti
antibiotik aminoglikosida, digunakan kekhawatiran keluarga pasien, klinis
untuk mengobati berbagai jenis infeksi biasanya memberikan antiemetik jika
bakteri khususnya organisme gram pasien mengalami muntah.
negatif dengan menghambat sintesis Selanjutnya terdapat penggunaan
protein bakteri (Khuder, 2010). obat antipiretik . Jenis antipiretik yang
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari digunakan dalam penelitian ini adalah
ke 9 jenis obat ini merupakan obat diare parasetamol. Selain berfungsi sebagai
akut yang disarankan untuk pengobatan antipiretik, parasetamol juga berfungsi
diare akut sesuai yang tertera pada sebagai analgesik. Antipiretik
standar (WHO, 2004). merupakan obat yang digunakan untuk
Dalam penelitian terdapat 7 jenis menurunkan demam yang ditandai oleh
obat diare akut yang digunakan sebagai peningkatan suhu tubuh pasien.
obat penyerta yaitu penggunaan Berdasarkan data yang didapatkan
Andonsetron 13 kali, Paracetamol 30 terdapat penggunaan H2 Blocker.
kali, Domperidone 2 kali, aspar.k 4 Ranitin berfungsi untuk menghambat
kali, penggunaan Thiamphenicol 1 kali, sekresi asam lambung. Pemberian obat
penggunaan Ranitidin 12 kali, ini merupakan pilihan yang tepat untuk

82
mengobati pasien diare akut anak yang rawat inap di Rumah Sakit Toto
disertai oleh gejala maag, peningkatan Kabila Tahun 2017 yang sudah
asam lambung, mual dan muntah. sesuai menurut standar WHO
(Pratama, 2009). (2004) sebanyak 92,67% dan
Dalam penelitian ini terdapat persentase kesesuaian penggunaan
penggunaan obat Kalipar (Aspar k). obat sebagai obat penyerta
Kalipar (Aspar.k) merupakan obat yang sebanyak 69,10%.
berisi kalium L- aspartate, berbahan 2. Penggunaan obat yang sudah
dasar bubuk tanpa bau. Obat ini sesuai berdasarkan standar (WHO,
umumnya digunakan untuk membantu 2004) sebanyak 92,67% yaitu
meningkatkan kadar ion kalium dalam penggunaan obat Zink, Oralit,
darah yang kurang/hipokalemia. Ringer laktat, Asering Infus,
(Adisasmito, 2007). Cotrimoxazole,Cefixime,Gentamis
Selain itu terdapat penggunaan in,Cefadroxil,Cefotaxime.Sedangk
Biothicol (thiamphenicol) adalah an penggunaan obat Gastroenteritis
antibiotik yang mempunyai aktivitas Akut sebagai obat penyerta yaitu
bakteriostatik yang luas baik terhadap sebanyak 69,10% yaitu
organisme gram positif maupun negatif. penggunaan obat Andonsetron,
Aktifitas antibakteri thiamphenocol Paracetamol, Domperiodne,
dengan jalan menghambat sintesa Aspar.k, Kalipar, Ranitidin, dan
dinding sel bakteri (Pratama, 2009) Ambroxol.
Sehingga diperoleh presentase DAFTAR PUSTAKA
kesesuaian penggunaan obat
Adisasmito, W. 2007. Faktor Resiko
Gastroenteritis Akut (GEA) menurut Diare Pada Bayi dan Balita di
standar WHO (2004) sebanyak 92,67% Indonesia. Systemic Review
Penelitian Akademik Bidang
dan persentase kesesuaian penggunaan
Kesehatan Masyarakat,
obat sebagai obat penyerta sebanyak UniversitasIndonesia
69,10%
Anonim, 2008, Manajemen Terpadu
KESIMPULAN Balita Sakit Modul 1, Jakarta
Berdasarkan hasil dari penelitian
Arifani, S., Ketut, W., Sagung, C.
yang dilakukan dapat disimpulkan
2014. Profil Terapi Obat Pada
bahwa Pasien Rawat Inap Dengan
1. Penggunaan obat Gastroenteritis Diare Akut Pada Anak Di
rumah Sakit Umum Negara.
akut (GEA) pada anak di Intalasi

83
Universitas Undayana: Bukit Intalasi Rawat Inap Blu Rsup
Jimbaran. Prof. Dr. R. D. Kandou
Manado. Universitas
Arlinda., Alwiyah Mukaddas., Inggrid Samratulangi: Manado.
Faustine., 2016, Identifikasi
Drug Related Problems pada Erlina, U. (2013). Identifikasi Drug
pasien anak Gastroenteritis Related Problems (DRPs) pada
akut di intalasi rawat inap RSU pasien anak diare di Instalasi
Anutapura Palu. Universitas Rawat Inap RSUP H. Adam
Tadulako. 43-48 malik Medan tahun 2011,
Skripsi Fakultas Farmasi USU,
Cheng, A., 2011, Emergency Medan.
department use of oral
ondansetron for acute Fairbanks, and David, N. F., 2007,
gastroenteritis- related vomiting Antimicrobial Therapy in
in infants and children, Pediatri Ortolaryngology-Head and
Child Health, 16 (3) : 177-179 Neck Surgery 13th Editon,
George Washington University,
Cook, G.C. 1996. Manson’s USA
Tropical Diseases twentieth
eition. Saunders Fatimah dkk.,2014 A Cross
Sectional Study to Assess
Daldiyono,1990.Gastroenteritism. Prevalence and Mangement of
Hepatologi (Diare), hal. 21-32, Acute Gastroenteritis in
CV. Sagung Seto, Jakarta pediatric inpatients of Alarge
Dewi, S.T., 2011. Evaluasi Teaching Hospital, Telangana
Penggunaan Obat Antidiare India, Vol.04 ,12-25
Pada Paien Anak di Instalasi Fontaine, O., 2008, Bukti Keamanan
Rawat Inap RSUD Banyumas dan Kemajuran Suplementasi
tahun 2009. Fakultas Farmasi Zink Pada Penanganan Diare,
Universitas Muhammadiyah Surabaya, Departemen
Purworkerto, Vol.06 No. 01 : Kesehatan dan Perkembangan
57-64, Purwekerto Anak dan Remaja.
Dipiro, J.t., Towsend, R. J., and Hiswani, 2003 Diare Merupakan
McGhan, W. F., 1996, Salah Satu Masalah Kesehatan
Principle of pharmacotherapy a Masyarakat yang Kejadiannya
pathophysiologic Aproach 6th Sangat Erat dengan Keadaan
Edition , Appleton and Lange, Sanitasi Lingkungan,
New York, 221-250. http://library.usu.ac.
Diastryrini, F. 2009. Pola Penyakit id/download/fkm/fkm-
Diare. Dalam: Jurnak Studi hiswani7.pdf., diak- ses 15-11-
Penggunaan Oba Pada 2012
Penderita Diare Akut Di

84
Irianto, J.,S.S. Soesanto. Supraptini, Gastroenterrologi Anak Praktis.
Inswiasri, S. Irianti dan A. Jakarta : Balai Penerbit
Anwar, 1994, Faktor-Faktor Fakulats Kedokteran
yang Mempengaruhi Kejadian Universitas Indonesia.
Diare pada Anak Balita, 24
:77-96 Permenkes, 2011. Pedoman
umum penggunaan antibiotik,
Jawetz E, Melnick Joseph L, Jakarta
Adelberg. 1996. Mikrobiologi
Kedokteran. Nugroho Edi, Partawihardja, S. 1991.
Maulany Rf, alih bahasa, Penatalaksanaan dietetic
Setiawan lirawati, editor. penderita diare anak. Badan
Jakarta : penerbit buku penerbit Universitas
kedokteran EGC. Hal :164 Diponegoro: Semarang.

Kemenkes R I, 2011, Panduan Pratama, H. A., 2009, Prevalensi


Sosialisasi Tatalaksana Diare Diare Akut Pada Balita di
Balita, Direktorat Jendral Wilayah Kecamatan Ciputat,
Pengendalian Penyakit dan Skripsi, Syarif Hidayatullah,
Penyehatan Lingkungan, Jakarta
Jakarta Pudjiadi S. 2010. Ilmu Gizi Klinis
Korompis F, Heedy T, Lily RG. 2012. Pada Anak. Jakarta: Balai
Studi Penggunaan Obat Pada Penerbit FK UI.
Penderita Diare Akut di Pudjiadi, A.H., Handryastuti, S.,
Instalasi Rawat Inap BLU Idris, N.S., Gandaputra, E.P.,
RSUP Prof. Dr R. D. Kandou Harmoniati, E.D. (2011).
Manado Periode Januari- Juni Pedoman Pelayanan Medis
2012. (Jurnal Ilmiah Farmasi Ikatan Dokter Anak Indonesia
Vol.2 No.01) edisi II, Badan Penerbit IDAI
Muscari, M.E.,2005, Keperawatan Pusponegoro D. Hardiono.,
Pediatrik, 492-498, EGC,
2004. Standar pelayanan medis
Jakarta kesehatan anak. Edisi I.
Nasehudin, TS dan Nanang, G. 2012. Penerbit: badan penerbit IDAI.
Metode Kesehatan Masyarakat: Putri, K.N.D., 2010,. Perbandingan
Teori Dan Aplikasi. Jakarta: Efektivitas Ondansentron dan
Salemba medika Metoklopramid Dalam
Nelson, 2003. Ilmu kesehatan anak. Menekan Mual dan Muntah
Jakarta: EGC Paska Laparatomi, Skripsi,
Universitas Sebelas Maret,
Noerasid, H., Suratmaja, S., Asmil, Surakarta
P.O (1998). Gastroenteritis
(Diare) akut anak. Dalam :

85
Rachmawati Yeni (2014). Evaluasi Biomedis, Program Pendidikan
Penggunaan Antibiotik Pada Dokter Spesialis Anestesiologi
Pasien Gastroenteritis di Universitas Diponegoro,
Instalasi Rawat Inap Rumah Semarang
Sakit X Periode Januari-Juni
2013.Fakultas Farmasi Sudarmo SM. Peranan
Universitas Muhammadiyah probiotik dan probiotik dalam
Surakarta. upaya pencegahan dan
pengobatan diare pada anak.
Risha, F,F, 2013. Rasionalitas Indonesian Journal of Tropical
Terapi Antibiotik Pada Pasien Medicine; vol 14. No2. 2003.
Diare Akut Anak Usia 1-4 Diunduh dari
Tahun di Rumah Sakit (http://ojs.lib.unair.ac.id/index.
Banyumanik Semarang Tahun php/ijtm/article/view/1042).
2013. Fakultas Farmasi Diakses 1 februari 2016.
Universitas Wahid Hayim, Vol.
12 No. 02 : 201, Semarang Sudibgya, I. 1992. Smectite untuk
pengobatan Diare Akut Pada
Riskesdas. (2007). Riset Kesehatan Anak. Balai Penerbit
Dasar. Jakarta: Badan Universitas Diponegoro:
Penelitian dan Pengetahuan Semarang.
Kesehatan Kementrian
Kesehatan RI. Setiawan, B. 2006.Diare Akut Karena
Infeksi, Dalam: Buku Ajar Ilmu
Riskesdas. (2013). Riset Kesehatan Penyakit Dalam Jilid 3 Edisi
Dasar. Jakarta: Badan IV. Departemen IPD FKUI:
Penelitian dan Pengetahuan Jakarta
Kesehatan Kementrian
Kesehatan RI Suharyono , B.A., dan Halimyn,
E.M. 1994. Gastroenterologi
Rosen, EJ and Quinn FB. 2000. Anak Praktis, cetakan ke-2 hal
Microbiology, Infections, and 64-69, Fakultas Kedokteran
Antibiotic Therapy. Universitas Indonesia , Jakarta
http://utmb.edu/otoref/grnds/Inf
ect-0003/Infect-003.pdf. Suharyono, 1991, Diare Akut,
(Diakses Tanggal 11 January Klinik, dan Laboratorik, 1- 33,
2013) 64-76, Rineka Cipta, Jakarta

Rudi, M.M., 2006, Pengaruh Suharyono, 2008. Diare akut


Pemberian Cairan Ringer klinik dan laboratorium. Rineka
Laktat di Bandingkan NaCl Cipta: Jakarta
0,9% Terhadap Keseimbangan Sugiyono. 2014. Metode
Asam-Basa pada Pasien Sectio Penelitian Pendidikan.
Caesaria dengan Anestesi Bandung: Alfabeta
Regional, Tesis, Magister

86
Sulistijani. D.A, dan Herliyanti . M.P, Zinc dan Cairan Rehidrasi Oral
2001, Menjaga Kesehtan Bayi pada Anak Usia 6-36 Bulan
Dan Balita, Jakarta : PT. Puspa dengan Diare Akut, Tesis,
Swara Universitas Indonesia, Jakarta

Sunoto, 1990, Buku Ajar Diare, Waspada, I.M., 2009, Suplementasi


Departemen Kesehatan RI Probiotik pada Terapi Standar
Ditjen PPM dan PLP Jakarta Zink dan Cairan Rehidrasi Oral

Suratun, Lusianah. 2010. Asuhan World Health Organization. 2002.


Approach to the adult patient Promoting Rational Use of
with acute diarrhoea In: Medicines: Core Components.
Gasroenterology Clinics Of Dalam W.H. Organization,
North America. WB Saunders: WHO Policy Perspectives on
North America Medicines. Geneva: World
Health Organization.
Suraatmatja, S.,2005, Kapita Selekta
Gastroenterologi Anak. Sagung World Health Organization. 1987.
Seto: Jakarta The Rational Use Of Drugs.
Report of the conference of
Suraatmatja, (2007). Gastroenterologi experts, Nairobi, 25-29 1985.
anak. Jakarta: Sagung seto Geneva.
Siregar, C.J.P., dan Amalia, L.,2003,
Farmasi Rumah Sakit : Teori
danPenerapan, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta

Triadmodjo. 1993. Pola Kuman


Penyebab Diare Akut Pada
Neonatus dan Anak Dalam
Cermin Dunia Kedokteran:
Jakarta.

Trisnantoro, L., 2005,


Manajemen Rumah Sakit,
Gajah Mada University press,
Yogyakarta

Uripi, V. 2001. Menu untuk


Penderita Hepatitis dan
Gangguan Saluraan
Pencernaan. Puspa Swara.
Jakarta.

Waspada, I.M.I., 2012, Suplementasi


Probiotik pada Terapi Standar

87