Anda di halaman 1dari 6

JUDUL

PENERAPAN PROJECT CITIZEN UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN


GEOGRAFI.
I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Pendidikan di Indonesia menerapkan kurikulum yang menekankan pada pendidikan
karakter, yang dituangkan dalam kurikulum 2013. Hal ini untuk meningkatkan kualitas sumber
daya manusia yang berkarakter dengan menjunjung tinggi nilai-nilai norma sehingga mampu
bersaing dengan dunia yang semakin maju , seperti yang diungkapkan oleh Menteri Pendidikan
Indonesia bahwa “ Bangsa besar adalah bangsa yang memiliki karakter kuat berdampingan
dengan kompetensi yang tinggi, yang tumbuh dan berkembang dari pendidikan yang
menyenangkan dan lingkungan yang menerapkan nilai-nilai baik dalam seluruh sendi
kehidupan berbangsa dan bernegara” (Kemendikbud: Modul Pelatihan Penguatan Pendidikan
Karakter,2017).

Di era global saat ini banyak tuntutan individu yang harus dicapai agar bisa hidup
mandiri, salah satunya dengan adanya penguatan pendidikan karakter karena aspek pendidikan
menjadi stimulus membina manusia ke arah tersebut. Sehingga “pembangunan karakter
melalui pendidikan dijadikan salah satu solusi terbaik agar tantangan masa depan dapat
terjawab, sehingga kebijakan implementasi pendidikan yang berbasis karakter dijadikan
sebagai kekuatan bangsa” (Trisiana, dkk, 2016, hlm.1). Dan manusia mempunyai hubungan
sebab akibat dalam kemajuan suatu bangsa. Oleh karena itu pembangunan sumber daya
manusia melalui pendidikan menjadi suatu keharusan. Manusia yang berkualitas selalu identik
dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, etos kerja (daya juang) yang tinggi,
kesigapan dan keterampilan serta berakhlak mulia (Maryani, 2017, hlm. 2).

Keterampilan menjadi salah satu aspek penting di setiap bidang, begitu pula pendidikan
yang menuntut manusia menjadi makhluk yang kreatif dan inovatif sehingga membentuk
sebuah keterampilan yang bisa mendukung kemajuan pendidikan. Hal ini membuat guru
sebagai sosok yang memiliki peran penting dalam pendidikan, menjadi tantangan untuk terus
berkarya menciptakan pembelajaran yang inovatif dan kreatif agar siswa bisa aktif mengikuti
pembelajaran dengan motivasi dan partisipasi tinggi. Sehingga guru harus mempersiapkan
strategi pembelajaran yang matang, seperti model dan media yang tepat sasaran disesuaikan
materi pelajaran dan kebutuhan siswanya.
Proses pembelajaran harus dirancang secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberi ruang yang cukup bagi
prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembagan fisik serta
psikologis siswa (Kemendikbud, 2017, hlm.1). Sejalan dengan uraian di atas Undang-Undang
No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menegaskan bahwa:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak


serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.

Berdasarkan Undang-undang tersebut mengandung harapan dan penegasan kepada


peserta didik sebagai individu harus mampu mewujudkan suatu kreatifitas, mandiri dan
berilmu melalui proses pendidikan. Sekolah harus memberi kesempatan yang seluas-luasnya
dalam menunjang perkembangan pribadi peserta didik yang kreatif dan berkarakter.
Berdasarkan permendikbud tahun 2013 proses pembelajaran pada kurikulum 2013 untuk
semua jenjang dilaksanakan menggunakan pendekatan saintifik yaitu pendekatan pembelajaran
yang berpusat pada peserta didik dengan dengan kriteria sebagai berikut (1) Materi
pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau
penalaran tertentu, bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. (2)
Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari
prasangka yang sertamerta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur
berpikir logis. (3) Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis, analistis,
dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan
materi pembelajaran. (4) Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik
dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran. (5)
Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami, menerapkan, dan
mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi
pembelajaran. (6) Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat
dipertanggungjawabkan. (7) Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas,
namun menarik sistem penyajiannya.
Pembelajaran scientific, dapat dikembangkan menjadi model pembelajaran yang tepat
untuk memenuhi setiap tujuan pembelajaran yang dipelajari di sekolah. Dan pendidikan
karakter yang diunggulkan kurikulum Indonesia saat ini merupakan ranah nilai dan moral
sehingga membelajarkannya diperlukannya pembeajaran yang berbasis afektif. Model
pembelajaran yang dapat diterapkan supaya siswa dapat berpartisipasi secara aktif dan kreatif
adalah dengan project citizen, sebagai salah satu model yang yang potensial untuk
menyelenggarakan pembelajaran berbasis karakter yang diyakini akan mampu
mentransformasikan nilai kepada peserta didik, dengan model ini siswa berusaha sebagian
besar pada masa remaja, siswa mulai bergeser pemikirannya dari berfikir konkret menuju
berpikir abstrack, para siswa berusaha menggali nilai-nilai yang menurut mereka baik atau
buruk, sah atau tidak sah (Budimansyah, 2008, hlm. 183; 2012, hlm.67). Dalam pembelajaran
menggunakan project citizen siswa diajak untuk memecahkan masalah real dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Disini siswa belajar menemukan alternatif
pemecahan masalah. Disamping itu siswa juga mengembangkan proses penalaran dan
klasifikasi nilai. Kemudian siswa mengembangkan usul kebijakan publik dan mengusulkan
rencana tindakan (Haryati dan Rochman, 2012, hlm.2). Model pembelajaran project citizen
dapat menjadi bagian dari pengembangan karakter di sekolah (Trisiana, dkk.2016, hlm.59).
Jadi, model pembelajaran ini menjadi salah satu model yang sangat kuat dalam
membantu siswa dalam penguatan pendidikan karakter, karena model ini membawa siswa
melihat langsung kehidupan aktual masyarakat dengan melihat faktor penyebab permasalahan
sampai berpikir memberikan solusi. Sehingga karakter siswa tidak hanya memiliki
pengetahuan secara teori saja tetapi bisa menganalisis teori dengan kehidupan nyata. Model
pembelajaran ini banyak dipraktekkan dibeberapa negara salah satunya Indonesia oleh mata
pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, sehingga disini geografi mencoba mengadaptif model
pembelajaran ini menjadi model yang efektif dalam memberikan peningkatan keterampilan
geografi. Karena keterampilan geografi dapat membantu siswa peka dan sadar akan lingkungan
sekitarnya, siswa akan ditanamkan nilai karakter seperti peduli lingkungan dan sebagainya.
Saat ini pembelajaran geografi kurang menarik, karena pembelajaran geografi seringkali
terjabak pada aspek kognitif tingkat rendah, proses pembelajaran ilmu geografi cenderung
bersifat verbal; kurang melibatkan fakta-fakta aktual dan kurang aplikabel dalam memecahkan
masalah-masalah yang berkembang saat ini. Hal ini disebabkan kurang bermaknanya
pembelajaran geografi yang tidak berorientasi pada pemecahan masalah actual yang terjadi di
lingkungan sekitar dan tidak mengefektifkan lingkungan sekitar sebagai laboraturium geografi
(Maryani, 2007, hlm.26-27). Guna mencegah peserta didik agar tidak terjebak pada aspek
kognitif tingkat rendah solusinya adalah keterampilan geografi yang merupakan upaya untuk
dapat melatih cara berpikir peserta didik malalui pendekatan permaslahan geografi dalam
kehidupan sehari-hari yang dimasukan dalam pembelajaran di kelas. Permasalahan ini perlu
diangkat dalam mencapai solusi pemecahan permasalahannya, geografi kurang
mengembangkan keterampilan siswa dalam berpikir ilmiah dengan memberikan konfirmasi
data melalui penelitian atau project, sehingga siswa dapat memberikan kontribusi pemecahan
masalah secara actual tidak sekedar teori.
Pendidikan geografi sangat trategis untuk mengangkat permasalahan yang ada disekitar
peserta didik berupa lokal, nasional dan global (Maryani, 2016 hlm. 18). Sehingga siswa Commented [a1]: Pendidikan Geografi Sebagai Sebagai
Perekat Kebinekaan ....
dibawa untuk ikut terjun melihat langsung permaslaahan geografi yang ada dengan cara
menerapkan model pembelajaran project citizen. Dari model ini akan membantu siswa dalam
meningkatkan keterampilan geografi.
Penguatan keterampilan geografi dapat menjadi satu upaya yang dapat dilakukan guna
meningkatkan motivasi, minat dan perhatian siswa dalam belajar geografi. Keterampilan
geografi dapat membiasakan peserta didik untuk dapat berpikir secara ilmiah mengenai
permasalahan dan isu lingkungan baik secara lokal maupun internasional.
Keterampilan geografi adalah kenampuan membuat keputusan yang melibatkan
kemampuan untuk memperoleh, mengatur, dan menggunakan informasi geografis.
Keterampilan geografi selalu dilakukan oleh orang dalam kehidupan sehari-hari dan kegiatan
masyarakat terkait dengan berpikir sistematis dan spasial tentang isu-isu lingkungan dan sosial.
Keterampilan geografi terdiri dari unsur literasi, meliti, dan praktik (Muatan Kurikulum 2013,
Mapel Geografi SMA/MA, hlm.4-5). Hal ini yang perlu dikembangkan dalam mata pelajaran
geografi dengan cara penerapan model pembelajaran “Project Citizen”. Sehingga perlu
dilakukan penelitian mengenai “PENERAPAN PROJECT CITIZEN UNTUK
MENINGKATKAN KETERAMPILAN GEOGRAFI”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan tiga rumusan masalah yaitu:
1) Bagaimana project citizen diterapkan pada pembelajaran geografi di sekolah?
2) Bagaimana Penerapan project citizen pada pembelajaran geografi?
3) Bagaimana peningkatan keterampilan geografi menggunakan project citizen?
Daftar Pustaka
Budimansyah, D. (2008). Revitalisasi Pembelajaran PKn melalui praktik belajar
kewarganegaraan (project citizen). Acta civicus. 1(2). 179-198
Budimansyah, D. (2012). Perancangan pembelajaran berbasis karakter. Widya Aksara Press:
Bandung
Trisiana, A., dkk. (2016). Buku Panduan Model Pembelajaran Project Citizen Untuk
Pendidikan Karakter. CV. Budi Utama: Yogyakarta
Maryani, E. (2007). Geografi dalam perspektif keilmuan dan pendidikan di persekolahan.
Universitas Pendidikan Indonesia. 1-33
Maryani, E. (2017). Penguatan pendidikan karakter, kecakapan abad 21, dan literasi dalam
pembelajaran IPS di SMP. Universitas Pendidikan Indonesia. 1-22
Haryati, T. Dan Rochman, N.(2012). Peningkatan kualitas pembelajaran pendidikan
kewarganegaraan melalui praktik belajar kewarganegaraan (project citizen). Jurnal
ilmiah CIVIS. 2(2). 1-11

Dokumen
Kemendikbud. (2017). Modul Pelatihan Penguatan Pendidikan Karakter Bagi Guru.
Kemendikbud. (2017). Panduan pengembangan pembelajaran aktif. Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Atas, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Muatan Kurikulum 2013, Mata Pelajaran Geografi SMA/MA
pelajaran geografi yang disajikan melalui permasalahan real yang ada dilingkungan sekitar, dapat
memotivasi siswa membentuk hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dengan ke-
hidupan mereka, baik sebagai anggota keluarga, warga negara atau pekerja Commented [a2]:

Melalui pengenalan metode baru dalam pembelajaran oleh Departemen


Pendidikan Nasional, seperti metode pembelajaran kontekstual atau contextual
teaching learning diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas
yang muara akhirnya dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa, yang
pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Commented [a3]: Pengaruh Metode Pembelajaran
Kontekstual Terhadap Hasil
Belajar Ips Geografi Kelas Viii Smpn 18 Balikpapan Ditinjau
Dari Motivasi Belajar Siswa Tahun Pelajaran 2009/2010