Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Kebangkrutan merupakan masalah yang sangat esensial yang harus diwaspadai


oleh perusahaan. Jika perusahaan sudah terkena bangkrut, maka perusahaan tersebut benar-
benar mengalami kegagalan usaha. Untuk itu perusahaan harus sedini mungkin melakukan
berbagai analisis terutama analisis yang menyangkut kebangkrutan perusahaan. Dengan analisis
ini maka sangat bermanfaat bagi perusahaan untuk melakukan antisipasi yang diperlukan.

Analisis kebangkrutan dilakukan untuk memperoleh peringatan awal kebangkrutan.


Semakin awal tanda-tanda kebangkrutan tersebut, semakin baik bagi pihak manajemen karena
pihak manajemen bisa melakukan perbaikan-perbaikan, agar kebangkrutan tersebut benar-benar
tidak terjadi pada perusahaan dan perusahaan dapat mengantisipasi atau membuat strategi untuk
menghadapi jika kebangkrutan benar-benar menimpa perusahaan. Tanda-tanda awal kebangkrutan
ditandai dengan adanya financial distress.

Dalam menganalisis laporan keuangan menggunakan rasio keuangan dibagi menjadi dua
macam cara yaitu:

1. Model univariate yaitu menganalisis laporan keuangan dengan rasio-rasio keuangan yang
sudah ada. Penggunaan analisis rasio secara univariate dalam menentukan perusahaan-
perusahaan yang berpotensial bangkrut, secara teoritis maupun praktis mempunyai
kelemahan. Dalam setiap kasus, analisis rasio dengan metode univariate ini ditekankan
atau difokuskan pada sebuah rasio untuk masalah tersebut. Analisis dengan cara demikian
dapat mengakibatkan kesalahan interpretasi. Sebagai contoh perusahaan yang mempunyai
solvabilitas dan atau profitabilitas yang jelek dapat diindikasikan akan mengalami
kebangkrutan. Namun karena likuiditasnya berada di atas rata-rata industri maka situasi
tersebut mungkin tidak akan ditanggapi secara serius.
2. Keterbatasan atau kelemahan yang ada dalam model univariate analisis dapat diatasi
dengan cara mengkombinasikan beberapa variabel (rasio) keuangan ke dalam sebuah
model multivariate yaitu Multiple Discriminant Analysis (MDA). Kelebihan dari MDA
yaitu: MDA merupakan penggabungan dari kumpulan rasio-rasio yang simultan; MDA

1
merupakan ketentuan koefisien yang tepat untuk mengkombinasikan variabel-variabel
independen; dan MDA merupakan perbaikan suatu aplikasi model awal (univariate) yang
telah dikembangkan.

Suatu rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan antara suatu jumlah
tertentu dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisis berupa rasio ini akan
dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada analisis tentang baik buruknya keadaan atau
posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila angka rasio itu dibandingkan dengan
angka rasio pembanding yang digunakan sebagai standart, yang sedang digunakan dalam analisis
yaitu laporan neraca dan laporan rugi laba.

Berdasarkan pada latar belakang tersebut, maka kami akan membahas lebih dalam
mengenai “ prediksi kebangkrutan “.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa saja masalah dalam kebangkrutan ?


2. Bagaimana prediksi kebangkrutan menggunakan analisis univeriate ?
3. Bagaimana prediksi kebangkrutan menggunakan analisis multivariate ?
4. Apa saja bukti – bukti internal dalam prediksi kebangkrutan ?

1.3 TUJUAN MAKALAH

1. Untuk mengetahui apa saja masalah dalam kebangkrutan.


2. Untuk mengetahui bagaimana prediksi kebangkrutan menggunakan analisis univeriate.
3. Untuk mengetahui bagaimana prediksi kebangkrutan menggunakan analisis multivariate.
4. Untuk mengetahui apa saja bukti – bukti internal dalam prediksi kebangkrutan.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 MASALAH DALAM KEBANGKRUTAN

A. Informasi kebangkrutan bisa bermanfaat bagi beberapa pihak seperti berikut ini :

1. Pemberi Pinjaman ( seperti pihak Bank).


Informasi kebangkrutan bisa bermanfaat untuk mengambil keputusan siapa yang akan
diberi pinjaman, dan kemudian bermanfaat untuk kebijakan monitor pinjaman yang ada.
2. Investor.
Investor saham atau obligasi yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan tentunya akan sangat
berkepentingan melihat adanya kemungkinan bangkrut atau tidaknya perusahaan yang
menjual surat berharga tersebut.
3. Pihak Pemerintah.
Pada beberapa sector usaha, lembaga pemerintah mempunyai tanggungjawab untuk
mengawasi jalannya usaha tersebut(misal sector perbankan).
4. Akuntan.
Akuntan mempunyai kepentingan terhadap informasi kelangsungan suatu usaha karena
akuntan akan menilai kemapuan going concern suatu perusahaan
5. Manajemen.
Kebangkrutan berarti munculnya biaya – biaya yang berkaitan dengan kebangkrutan dan
biaya ini cukup besar. Suatu penelitian menunjukkan biaya kebangkrutan bisa mencapai
11-17% dari nilai perusahaan.

B. Masalah dalam kebangkrutan

Kesulitan keuangan jangka pendek bersifat sementara dan belum begitu parah, tetapi
kesulitan semacam ini apabila tidak ditangani bisa berkembang menjadi kesulitan tidak solvable.
Kalau tidak solvable, perusahaan bisa dilikuidasi atau direorganisasi. Likuidasi dipilih apabila nilai
likuidasi lebih besar dibandingkan dengan nilai perusahaan kalu diteruskan. Reorganisasi dipilih
kalau perusahaan masih menunjukkan prospek dan dengan demikian nilai perusahaan kalau
diteruskan lebih besar dibandingkan nilai perusahaan kalau dilikuidasi.

3
C. Beberpa alternative perbaikan berdasarkan besar kecilnya permasalahan keuangan yang
dihadapi perusahaan :

Pemecahan secara informasi

1. dilakukan apabila masalah belum begitu parah


2. masalah perusahaan hanya bersifat sementara, prospek masa depan masih begitu bagus
cara :
a. perpanjangan ( extention) : dilakukan dengan memperpanjang jatuh tempo hutang
– hutang
b. komposisi ( Composition) : dilakukan dengan mengurangi besarnya tagihan

Pemecahan secara formal

Dilakukan apabila masalah sudah parah, kreditur ingin mempunyai jaminan keamanan cara :

a. apabila nilai perusahaan diterskan > nilai perusahaan dilikuidasi


Reorganisasi : dengan mengubah struktur modal menjadi struktur modal yang layak
b. apabila nilai perusahaan diterskan < nilai perusahaan dilikuidasi
Likuidasi : dengan menjual asset – asset perusahaan

Analisis kebangkrutan dilakukan untuk memperoleh peringatan awal kebangkrutan .


semakin awal tanda – tanda kebangkrutan tersebut, semakin baik bagi pihak manajemen karena
pihak manajemen bisa melakukan perbaikan – perbaikan. Tanda – tanda kebangkrutan tersebut
dalam hal ini dilihat denagn menggunakan data – data akuntansi.

Dalam praktik dan juga dalam penelitian empiris, kesulitan keuangan sulit untuk
diidentifikasikan. kesulitan semacam ini bisa berarti mulai dari kesulitan likuditas, yang
merupakan kesulitan keuangan yang paling ringan, sampai kepernyataan kebangkrutan yang
merupakan kesulitan yang paling berat. Dengan demikian kesulitan keuangan bisa dilihat sebagai
kontinum yang panjang, mulai dari yang ringan sampai yang paling berat.

4
Perhatikan empat kategori semacam ini :

1. Tidak dalam kesulitan


2. Keuangan Dalam kesulitan
3. Keuangan Tidak Bangkrut I II
4. Bangkrut III IV

Perusahaan yang berada dalam kategori II barangkali mengalami kesulitan, tetapi berhasil
mengatasi masalah tersebut dan karena itu tidak bangkrut. Perusahaan pada kategori III sebenarnya
tidak mengalami kesulitan keuangan, tetapi karena suatu hal, maka perusahaan tersebut
memutuskan untuk bangkrut. Pada situasi IV pengertian kebangkrutan begitu jelas, perusahaan
mengalami kesulitan keuangan dan karena itu akan bangkrut. Demikian juga pada situasi I, situasi
keuangan cukup jelas, dalam hal ini perusahaan tidak mempunyai kesulitan keuangan dan tidak
mengalami kebangkrutan.

D. Ada beberapa indicator yang bisa memprediksi kebangkrutan.

Indicator yang bisa memprediksi kebangkrutan. Salah satu Sumbernya adalah analisis
aliran kas untuk masa mendatang, sedangkan sumber lainnya adalah analisi strategi perusahaan.
Sumber lain adalah laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan ini dipakai untuk
memprediksi kesulitan keuangan . sumber lainnya adalah informasi eksternal. Pada pasar
keuangan yang sudah maju, lembaga penilai sudah berkembang dan informasi mereka bisa dipaki
untuk memprediksi kemugkinan adanya kesulitan keuangan.

2.2 PREDIKSI KEBANGKRUTAN : ANALISIS UNIVARIATE


Pendekatan tunggal (univariate ) bisa dipakai untuk memprediksi kesulitan keuangan
dengan asumsi bahwa distribusi variable keuangan untuk perusahaan yang menglami kesulitan
keuangan berbeda dengan distribusi variable keuangan untuk perusahaan yang tidak mengalami
kebangkrutan.

Penggunaan metode tersebut akan dijelaskan dengan menggunakan contoh berikut pada
tahun 1970, beberapa perusahaan kereta api AS yang cukup besar mengalami kebangkrutan.
Apakah rasio – rasio keuangan pada tahun – tahun sebelumnya bisa memperkirakan kebangkrutan

5
tersebut? Berikut ini dua rasio keuangan yang dipilih untuk melihat apakah kebangkrutan
perusahaan kereta api tersebut bisa dilihat melalui rasio – rasio keuangan pada tahun – tahun
sebelumnya.

1. Rasio biaya transportasi terhadap pendapatan operasional (BT/ PO).


Biaya transportasi merupakan komponen biaya yang terbesar yang terjadi pada
perusahaan kereta api , yang meliputi biaya operasional angkutan kerta, biaya gaji
pegawai kereta dan biaya bahan baker. Pendapatan operasional terutama berasal dari
karcis kereta yang terjual dan juga pendapatan dari beberapa sumber yang lain seperti
pendapatan angkutan barang dan surat pos
2. Rasio timed interst earned (TIE) yang merupakan rasio EBIT ( Earning Before
Taxes)/Interst. Bunga atau interest disini adalah bunga dari kewajiban obligasi. Apabila
diperoleh angka negatif, berarti perusahaan mempunyai earning( atau pendapatan)
yang negative

Teknik penelitian titik cut off mengandung bahaya bahwa karakteristik spesifik perusahaan –
perusahaan dalam sample akan sangat mempengaruhi nilai cut off, dan dengan demikian titik cut
off tersebut tidak representaif untuk perusahaan – perusaan lainnya. Untuk menghindari
kemungkinan semacam tersebut, akuirisititik cut off bisa menggunakan perusahaan – perusahaan
diluar sampel .

Empat variable yang menunjukkan perbedaaan antara perusahaan yang bangkrut dengan yang
tidak bangkrut secara konsisten adalah

1. tingkat retun ( rate of return ). Perusahaan yang bangkrut mempunyai tingkat return yang
lebih rendah.
2. penggunaan hutang. Perusahaan yang bangkrut menggunakan hutang yang lebih tinggi
3. perlindungan terhadap biaya tetap ( fixed payment coverage) . perusahaan yang bangkrut
mempunyai perlindungan terhadap biaya tetap yang lebih kecil
4. fluktuasi retun saham. Perusahaan yang bangkrut mempunyai rata – rata return yang lebih
rendah dan mempinayi fluktuasi return saham yang lebih tinggi.

6
2.3 PREDIKSI KEBANGKRUTAN : ANALISIS MULTIVARIATE

Salah satu kelemahan model univariate adalah kemungkinan terjadinya konflik antara
variable – variable yang dijadikan prediksi. Untuk mengatasi masalah tersebut model multivariate
dikembangkan. Variable bebas dalam model ini adalah rasio – rasio keuangan yang diperkirakan
memprediksi kebangkrutan, sedangkan variable tidak bebas adalah prediksi kebangkrutan (
bangkrut dengan nilai 0 dan tidak bangkrut dengan nilai 1 ) atau profitabilitas kebangktutan ( 0
sampai 1, inklusif)

Teknik statisistik yang sering digunakan adalah analisis diskriminan untuk


mengklasifikasikan observasi ke dalam dua kelompok : bangkrut dan tidak bangkrut. Teknis
analisi logis atau probit juga sering digunakan untuk melihat profitabilitas suatu kejadian
berdasrkan variabel – variabel tertentu. Analisis non parametik juga bisa digunakan.

Dengan menggunakan kasus kebangkrutan perusahaan kereta api, kita akan menggunakan
dua variable untuk persamaan deskriminasi, yaitu variable rasio BT/PO(variable bebas X1) dan
variable TIE (sebagai variable X2) . diasumsikan bahwa rasio – rasio yang dipakai berasal dari
populasi denagn distribusi normal dan matriks varians kovarians kedua kelompok tersebut sama.

Persamaan diskriminan linear bisa ditulis sebagai berikut ini :

Zi = a X1 + B X2

Skor Z yang rendah berarti semakin besar kemungkinan untuk bangkrut. Koefisien negative
variable X1 menandakan hubungan negative antara variable tersebut dengan skor Zi. Semakin
tinggi nilai X1, semakin rendah nilai Zi dan semakin tinnggi kemungkina kebangkrutan. Nilai
koefisien yang positif pada variable X2 menandakan bahwa semakin tinngi rasio TIE, semakin
tinggi nilai skor Zi dan semakin kecil kemubgkinan bangkrut.

Banyak bukti yang cukup kuat mengatakan bahwa kebangkrutan tidak hanya dipengaruhi oleh
variable – variable intern saja ( dari perusahaan ), tetapi juga oleh variable – variable eksternal
seperti perubahan tingkat bunga, turunnya kondisi perekonomian, atau perubahan tingkat
pengganguran. Dengan bukti semacam ini multivariate bisa memasukkan variable – variable
ekonomi makro untuk memprediksi kemubkinan kebangkrutan.

7
2.4 BUKTI – BUKTI INTERNAL
Salah satu masalah yang bisa dibahas adalah apakah ada kesamaan rasio keuangan yang
bisa dipaki untuk memprediksi kebangkrutan untuk semua Negara, ataukah mempunyai
kekhususan. Nilai Zi dicari dengan persamaaan diskriminan sebagai berikut ini :

Zi = 1,2 X1 +1,4X2 + 3,3X3 + 0,6X4 + 1,0X5

Dimana ,

X1 = (Aktiva lancar – hutang lancar)/total aktiva

X2 = laba yang ditahan / total asset

X3 = laba sebelum bungan dan pajak / total asset

X4 = nilai pasar saham biasa dan prefern / nilai buku total hutang

X5 = penjualan / total asset

Masalah lain yang mungkin perlu dipertimbangkan adalah banyak perusahaan yang tidak
go public, dan dengan demikian tidak mempunayai nilai pasar. Untuk beberapa Negara seperti
Indonesia, perusahaan semacam ini merupakan bagian terbesar yang ada. Altman kemudian
mengembangkan model alternative dengan mengganti variable X4 ( nilai pasar saham prefern dan
biasa/ nilai buku total hutang). Dengan cara demikian model tersebut bisa dipakai bisa untuk
perusahaan yang go public maupun perusahaan yang tidak go public.

Berdasarkan komentar bisa diajukan dalam kaitannya dengan model kebangkrutan


semacam ini. Pertama, sampai sejauh ini sangat sedikit pembicaraan teori yang bisa mengarah
penelitian kebangkrutan. Dengan semakin sedikitnya teori tersebut, prediksi kebangkrutan lebih
diarahkan ke pencarain – pencarian variabel - variabel relevan dengan coba – coba.

Dengan metode pencarian semacam ini, peneliti perlu memperhatikann kemungkinan


adanya bias, yaitu model tersebut hanya mempunyai karakteristik yang mempunyai sample
tersebut. Untuk menghindari kemungkinan semacam ini, sample bisa dibagi ke dalam dua
kelompok. Dengan kelompok pertama, analis mencari model prediksi kebangkrutan, kemudian
model tersebut diuji validitasnya dengan menggunakan kelompok kedua. Varians yang lain adalah
dengan menggunakan beberapa metode.

8
Penelitian menunjukan bahwa interpretasi prediksi tidak begitu sensitive terhadap
perbedaan model – model statistic yang dipilih. Sebagai contoh suatu penelitian berkesimpulan
bahwa untuk suatu set variable tertentu, penggunaan model diskriminasi linear, model diskrimasi
kuadrat dan model logit, menghasilkan tingkat akurasi yang hampir sama.

Sedangkan peneliti masalah prediksi menggunakan data beberapa periode sebelum kebangkrutan,
misal satu, dua, tiga, empat tahun sebelum kebangkrutan. Tetapi dalam kenyataannya analisis tidak
pernah tau kapan bangkrut. Pilihan waktu untuk menyatakan bangkrut sangat tergantung dari
beberapa factor seperti kemampuan bank untuk membantu restrukturisasi keuangan, kebangkrutan
perusahaan lain, dan negosiasi dan pekerja.

Sampel yang dipilih semacam ini juga membuat sulit untuk menarik kesimpulan terhadap populasi
secara keseluruan. Sampel yang baik tentunaya sampel yang mewakili populasi secara keseluruan.

Kalau penelitian kebangkrutan dinilai dari sumbanganya terhadap pengambilan keputusan akan
terasa bahwa penelitian kebangkrutan memberi sumbangan yang cukup substansial. Karena
keputusan akan lebih baik dengan adanya informasi kebangkrutan ini

2.5 STUDI KASUS PT INDOFOOD SUKSER MAKMUR TBK.


Kami menganalisis perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang consumer goods.
Sebagian besar masyarakat Indonesia berpendapat bahwa perusahaan besar PT. Indofood
Sukses Makmur Tbk tidak akan mengalami kebangkrutan atau kecil kemungkinan bahwa
perusahaan besar tersebut akan mengalami kebangkrutan. Namun setiap perusahaan mempunyai
resiko kebangkrutan hanya saja tingkat resikonya yang berbeda-beda.

PT. Indofood Sukses Makmur Tbk merupakan perusahaan Total Food Solutions yang terkemuka
dengan kegiatan yang mencakup seluruh tahapan proses produksi makanan, mulai dari
memproduksi dan pengolahan bahan baku hingga menjadi produk akhir. Analisis untuk mengukur
kinerja keuangan dan analisis kebangkrutan perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana kinerja
PT. Indofood Sukses Makmur Tbk dari tahun 2012 sampai dengan 2015. Dengan tujuan sebagai
referensi untuk pengambilan keputusan pihak manajemen selain itu juga sebagai referensi
pengambilan keputusan pihak investor

9
Perusahaan Indofood telah melahirkan banyak produk makanan seperti indomie, supermie, sarimi,
sakura, pop mie, indomilk, milkuat, chitato, Lays, Qtela, chetoz, trenz. Adapun kondisi keuangan
PT. Indofood Sukses Makmur Tbk.

Kondisi Keuangan PT. Indofood


Sukses Makmur

Hutang Lancar

Berdasarkan hasil gambar diatas menunjukan bahwa dari tahun 2012-2015 aktiva lancar,
hutang lancar, modal kerja mengalami peningkatan terus berarti menandakan bahwa modal kerja
bersih yang bernilai positif jarang sekali menghadapi kesulitan dalam melunasi kewajibannya.
Dengan melihat kondisi keuangan seperti gambar kami meneliti tentang prediksi kebangkrutan
dengan analisis Model Altman Z-Score. Hasil perhitungan dapat ditunjukan pada tabel 1 sebagai
berikut.
Tabel 1.
Hasil Prediksi Kebangkrutan Model Almant Z-score PT.
Indofood Sukses Makmur Tbk
Tahun Z-score Prediksi
2015 1,625 Bangkrut
2014 1,749 Bangkrut
2013 1,79 Bangkrut
2012 2,273 Grey Area

Hasil prediksi menunjukkan bahwa dari tahun 2013-2015 mengalami kebangkrutan yang
artinya kesulitan keuangan yang sangat besar dan beresiko tinggi sehingga perusahaan bisa
mengalami kebangkrutan, sedangkan tahun 2012 mengalami grey area yang artinya perusahaan
yang memiliki kesulitan keuangan, namun kemungkinan terselamatkan dan kemungkinan
mengalami kebangkrutan sama besarnya tergantung dari keputusan dari manajemen perusahaan
sebagai pengambil keputusan.

10
Adanya peningkatan beban keuangan dan prediksi keuangan yang menunjukan
kebangkrutan menandakan bahwa perusahaan harus segera melakukan pembenahan karena dari
tahun ke tahun Z-score menunjukkan penurunan sehingga kinerja perusahaan juga menurun.
Selanjutnya prediksi tingkat kebangkrutan PT. PT. Indofood Sukses Makmur Tbk tahun 2016,
2017 dan 2018 adalah sebagai berikut:

Tabel 2
Hasil Prediksi Kebangkrutan Model Altman Z-Score PT. Indofood Sukses Makmur
Tbk tahun 2016, 2017 dan 2018
Tahun Z-score Prediksi
2016 1,644 Bangkrut
2017 1,430 Bangkrut
2018 1,216 Bangkrut

Hasil prediksi perhitungan nilai Altman Z-Score pada PT. Indofood Sukses Makmur Tbk
tahun 2016, 2017 dan 2018 diperoleh nilai Altman Z-score yang terus mengalami penurunan.
Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa apabila tidak ada upaya perbaikan pada kinerja
keuangan diprediksikan bahwa pada tahun 2016, 2017 dan 2018 PT Indofood Sukses Makmur
Tbk digolongkan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan keuangan yang sangat besar dan
beresiko tinggi sehingga perusahaan bisa mengalami kebangkrutan.

ANALISA
Berdasarkan hasil dari analisis model Altman Z-score perusahaan PT. Indofood Sukses
Makmur Tbk. Pada tahun 2013-2015 menunjukan bahwa berada pada prediksi mengalami
kebangkrutan. Ini ditandai dengan hasil nilai Z-score dibawah 1,8 artinya kesulitan keuangan
yang sangat besar dan beresiko tinggi.

Hanya pada tahun 2012 prediksi grey area yang menunjukan perusahaan yang memiliki
kesulitan keuangan, namun kemungkinan terselamatkan dan kemungkinan mengalami
kebangkrutan sama besarnya tergantung dari keputusan dari manajemen perusahaan sebagai
pengambil keputusan, ditandai nilai Z-score berada 1,81 < Z-score <2,99.
Hasil prediksi perhitungan nilai Altman Z-Score pada PT. Indofood Sukses Makmur Tbk
tahun 2016, 2017 dan 2018 diperoleh dari nilai Altman Z-score yang terus mengalami penurunan.
Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa apabila tidak ada upaya perbaikan pada kinerja
keuangan diprediksikan bahwa pada tahun 2016, 2017 dan 2018 PT. Indofood Sukses Makmur

11
Tbk digolongkan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan keuangan yang sangat besar dan
beresiko tinggi sehingga perusahaan bisa mengalami kebangkrutan

12
BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam menganalisis laporan keuangan menggunakan rasio keuangan dibagi menjadi dua
macam cara yaitu Model univariate dan model multivariate / Multiple Discriminant Analysis.
Hubungan antara Analisis Diskriminan dengan Penentuan Kebangkrutan pada Perusahaan
dapat diketahui melalui nilai Z
Dengan analisis Z score management dapat memprediksikan bagaimana prospek
perusahaan di masa mendatang dalam menjaga kelangsungan hidup perusahaan dan resiko
kegagalan semakin berkurang

3.2 Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan kita
semua tentang materi dalam mata kuliah Analisa laporan keuangan khususnya mengenai prediksi
kebangkrutan.

13
DAFTAR PUSTAKA

14