Anda di halaman 1dari 5

Eksistentensi Mahasiswa dan Intelektualitas.

Secara umum tidak asing lagi terdengar oleh kita yang namanya mahasiswa. Semua orang
dan masyarakat lapisan manapun tahu bahwa seseorang yang menyandang status mahasiswa
adalah orang yang berpendidikan yang bisa diambil contoh dalam kehidupan. Singkat
penjelasan dapat dikatakan bahwa mahasiswa dapat dikatakan penentu maju mundurnya
generasi muda suatu bangsa.

Intelektual adalah cara fikir, cara berbuat, cara pandang dan menyikapi sesuatu dilakukan
dengan kritis dan bijaksana. Intelek merupakan kecendekiawanan tertentu yang dimiliki oleh
seseorang dalam menilai dan memberikan alasan terhadap sesuatu hal secara objektif dan
rasional. Dengan cara fakir yang seperti itu dapat menimbulkan sebuah kesadaran besar untuk
setidaknya berfikir atau bermimpi menggapai semua cita-cita bangsa dan untuk melakukan
proses perubahan.

Seperti yang kita ketahui bahwa sejarah perjalanan bangsa serta negara ini dibentuk karena
ada peran vital mahasiswa. Mulai dari perjuangan kemerdekaan yang dirintis mahasiswa-
mahasiswa seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Kemudian, zaman peralihan dari Orde Lama
ke Orde Baru juga digerakkan mahasiswa seperti Soe Hok Gie serta Arif Rahman Hakim.
Pada masa reformasi, kekuatan mahasiswa di seluruh Indonesia mampu dihimpun dan
disatukan, sehingga pemerintahan Orde Baru dapat diruntuhkan. Ini merupakan sejarah yang
harus dicatat oleh seluruh bangsa Indonesia.

Mahasiswa adalah generasi muda bangsa yang diandalkan oleh suatu Negara. Seharusnya
generasi muda yang sangat diperlukan oleh bangsa hendaklah bersikap baik, terdidik dan
bijak dalam bentuk dan situasi apapun. Tidak diragukan lagi bahwa pemuda memiliki peran
yang sangat peka dalam kehidupan masyarakat yang dihadapinya. Masyarakat yang
kehilangan aktifitas pemudanya disebut masyarakat yang mati. Untuk itu Imam Khomeini qs
sangat menekankan peran pemuda, dan memfokuskan pada penggunaan usia muda yang
sangat berharga di masa mudanya dalam kehidupan manusia.

Kalau asumsinya bahwa generasi muda sekarang pastilah kelak berperilaku baik dan
berkeinginan mempertahankan kelangsungan hidup berbangsa, pernyataan itu bisa jadi benar.
Tapi, kenyataannya, yang disebut generasi muda itu tidaklah tunggal dan statis. Aspirasi dan
keinginan mereka bisa saja berkembang seiring perjalanannya. Sikapnya terhadap bangsa pun
bisa saja berubah. Misalnya, sebagai individu atau kelompok, ada bagian dari generasi muda
sekarang yang merasa bangsa yang sekarang tak perlu diteruskan. Bagaimanakah itu? Apakah
bisa dikatakan mahasiswa? Apakah dapat dikatakan intelek?

Mahasiswa tanpa intelektualitas adalah mahasiswa yang masih patut dipertanyakan status
kemahasiswaannya. Sebab ada beberapa orang yang memperoleh pendidikan akademik di
sebuah universitas-universitas, baik negri ataupun swasta, local atau pun luar negri tidak
mampu meaplikasikan dilingkungan masyarakatnya. Gelar-gelar akademik yang demikian
menjulang hanya mampu menjadi bagian dari proses pengakuan aktualisasi dirinya sendiri
(cenderung egosentris) dan memberikan pernyataan bahwa ilmu yang selama ini
dipelajarinya tidak mampu menjawab tantangan nyata yang sedang dihadapi di masyarakat
kita.
Sewajarnya orang yang dididik untuk menjadi intelektual, dalam menyikapi permasalahan,
seharusnya mahasiswa melihat dan berpikir intelek juga. Mereka harus bisa dan harus mau
berpikir panjang, melihat peluang dari permasalahan, berusaha untuk mencari dan
merumuskan solusi terbaik yang bisa mengakomodir kepentingan bersama. Bukannya
mencari solusi yang bodoh serta merugikan orang banyak. Kadang sebagian dari mahasiswa
memanfaatkan situasi dan kesempatan untuk meraih keuntungan pribadi dan karirnya
walaupun itu merugikan khalayak ramai. Mereka terlihat lebih bahaya dari elite politik busuk
yang bermain dikancah perpolitikan yang tidak bersih. Walaupun mereka berusaha
memperlihatkan akreditas terbaik dimata public.

Ada juga kita melihat bahwa ada sekeompok mahasiswa yang cenderung menggunakan
kekerasan dalam mengatasi suatu masalah yang kadang hanya masalah kecil. Mereka
menganggap bahwa dengan mengadu kekuatan semua problem akan terpecahkan dan dapat
diatasi. Namun seperti yang kita ketahui bahwa dengan melakukan tindak kekerasan itu dapat
memperkeruh suasana dan dpat berurusan dengan aparat yang akhirnya masalah tidak
terpecahkan juga. Seperti yang dikatakan oleh Imam B. Prasodjo, sosiolog Universitas
Indonesia, “Mahasiswa yang melakukan kekerasan adalah mahasiswa primitif, bukan
kalangan intelektual.”Alamater jelas berpengaruh buat kelangsungan hidup, intelektualitas
seseorang tidak diukur dari lulusan mana dia dulunya ataupun dimana tempat dia menuntut
ilmu. Intelektualitas adalah jati diri Mahasiswa yang sesungguhnya.

APA ITU INTELEKTUALITAS?


INTELEKTUALITAS.

Intelektualitas atau intelektual dalam kamus bahasa indonesia yang berarti kecerdasan dan
totalitas pengertian atau kesadaran, terutama yang menyangkut pemikiran dan pemahaman.

Adapun pengertian intelektual menurut beberapa para ahli, diantaranya :

1. Intelektual merupakan suatu kumpulan kemampuan seseorang untuk memperoleh ilmu


pengetahuan dan mengamalkannya dalam hubungannya dengan lingkungan dan masalah-
masalah yang timbul (Gunarsa, 1991).
2. Pengertian intelektual menurut Cattel (dalam Clark, 1983) adalah kombinasi sifat-sifat
manusia yang terlihat dalam kemampuan memahami hubungan yang lebih kompleks, semua
proses berfikir abstrak, menyesuaikan diri dalam pemecahan masalah dan kemampuan
memperoleh kemampuan baru.

3. David Wechsler (dalam Saifuddin Azwar, 1996) mendefinisikan intelektual sebagai


kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu,
berpikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan secara efektif.

Terlapas dari semua itu, masyarakat secara umum sering mengartikan kata intelektual
itu hanya dimiliki oleh seseorang yang mempunyai pendidkan yang tinggi, padahal tinggi
atau tidaknya pendidikan yang di tempuh seseorang, tidak akan menjamin diri seseorang
tersebut menjadi seorang yang ber intelek.

Pada dasarnya tuhan telah memberikan intelektualitas pada setiap diri seseorang.

Lalu apa yang menyebabkan seseorang bisa dikategorikan orang berintelektual dan
orang yang tidak be intelektual? Mungkin itu yang menjadi tandatanya buat kita.

Jawabannya adalah kemauan (niat) yang di iringi dengan keyakinan dan sikap yang
positif, yap.. kuncinya adalah niat atau kemauan dan keyakinan seseorang untuk
menentukan dirinya termasuk golonga intelek atau tidak.

Mengapa bisa demikian? Mari kita lihat kisah dari kisah adam khoo, dalam buku

Financial Revolution oleh Bapak Tung Desem Waringin. Dimana kisah dari anak yang
dikatakan bodoh menjadi orang yang sangat cerdas dan pintar sehingga dia mendapatkan
kesuksesan yang luar biasa dalam hal finansial.

kalau Adam khoo saja bisa kenapa kita tidak bisa, semua kembali pada kemauan dan
keyakinan diri kita untuk menjadi orang berintelektual.

kissah di atas bukan berarti kita harus menjadi seorang adam khoo. kisah adam
khoo diatsa hanyalah sebuah suntikan bagi kita supaya bisa mengambil hikmah dari cerita
tersebut.
kesimpulannya : Pada dasarnya tuhan telah membekali setiap manusia intelektual atau
kecerdasan, tetapi untuk menjadi manusaia yang dikategorikan berintelektual itu semua
kembali kepada diri kita sendiri, apa mau menjadi manusia berintelektual atau tidak.

Maka dari itu selagi masi ada waktu mari kita rubah cara pandang kita terhadap apa
yang namanya potensi yang ada dalam diri kita.

Mahasiswa dan Intelektualitas


Mahasiswa merupakan suatu gelar khusus bagi seorang pelajar yang tengah menempuh
jenjang perguruan tinggi, maha artinya tinggi dan siswa yang berarti pelajar atau orang yang
sedang menuntut ilmu. Mahasiswa merupakan suatu bentuk frase yang menggabungkan dua
kata dengan makna yang berlainan. Dimana kedua kata tersebut bersatu menjadi satu
kesatuan yang berarti seseorang yang menuntut ilmu di jenjang perguruan tinggi. Berikutnya
intelektualitas yakni suatu hal yang berhubungan dengan tingkat cendekiawan, intelegensia
atau kecerdasan. Sebagian besar masyarakat berasumsi bahwa mahasiswa memiliki tingkat
intelektual yang lebih dibanding siswa pada pendidikan dasar dan menengah pada umumnya.
Asumsi seperti itu tidaklah salah, hal itu sah sah saja. Akan tetapi, sesuai realitas yang ada,
tidak selamanya mahasiswa memiliki intelektualitas lebih . Intelektualitas tiap manusia
tidaklah sama, seseorang yang lahir dengan IQ (Intelligence Quotient) tinggi, tentunya akan
memiliki kecerdasan yang luar biasa. Berbeda dengan seseorang yang lahir dengan IQ yang
rendah mungkin kecerdasan yang dimilikinya biasa-biasa saja. Secara spesifik faktor-faktor
yang mempengaruhi kecerdasan manusia bisa dibagi menjadi dua. Pertama faktor internal
yang bersumber dari dalam diri manusia, misalnya: IQ yang luar biasa, skill kecepatan dalam
menganalisa, motivasi dari dalam dirinya sendiri. Kedua faktor eksternal yang bersumber dari
luar diri manusia, misalnya: lingkungan yang mendukung, metode belajar yang tepat ataupun
teman belajar yang kompatibel. Kedua faktor diataslah yang memiliki pengaruh besar bagi
intelektualitas seorang mahasiswa. Deskripsi Filosofis Ada sebuah deskripsi tentang dua
orang manusia, dimana manusia yang pertama adalah seorang mahasiswa di suatu perguruan
tinggi. Kemudian manusia yang kedua adalah seorang siswa pada sekolah menengah. Dari
kedua subjek yang telah disebutkan, ada beberapa karakteristik yang mengikutinya masing-
masing. Disini dianggap tingkat intelektual (termasuk faktor internal), antara seorang
mahasiswa dengan siswa adalah sama. Perbedaannya terletak pada faktor eksternal,
karakteristik mahasiswa yaitu jarang belajar, biasanya dipengaruhi oleh teman-temannya,
kalaupun dia mau belajar itu karena suatu paksaan. Lalu karakteristik siswa itu rajin belajar
karena tak mudah dipengaruhi oleh temannya untuk bermain-main. Dari deskripsi diatas bisa
dipastikan bahwa tingkat intelektual terbaik adalah siswa. Contoh diatas memberikan
deskripsi mengenai tingkat intelektual antara mahasiswa dengan siswa dengan titik perbedaan
faktor eksternal saja. Jika kita gambarkan lagi dengan titik perbedaan faktor internal dengan
persamaan dalam faktor eksternal. Dimana tingkat IQ mahasiswa lebih tinggi daripada siswa,
tentunya bisa ditebak bahwa mahasiswa akan lebih unggul. Semua hal yang telah terdeskripsi
menjelaskan bahwa kedua faktor tersebut adalah satu kesatuan yang membentuk sebuah
sistem intelektualitas. Suatu segiempat, dimana terjadi perbedaan ukuran masing-masing sisi
dengan segiempat lainnya akan selalu mengalami bentuk yang sama yaitu kotak. Jadi ,
korelasinya antara faktor internal dan eksternal memiliki nilai vitalitas yang kongruen.
Keduanya tidak ada yang saling mengalahkan dan dikalahkan atau dengan kata lain
seimbang. Kekuatan Motivasi Seseorang mahasiswa dituntut memiliki intelektualitas yang
lebih dibanding siswa. Hal ini terjadi karena hierarkhi mahasiswa lebih tinggi, ditambah lagi
dengan pengalaman yang dimiliki lebih luas. Ketika seorang mahasiswa merasa memiliki
tanggung jawab untuk mengemban amanah pendidikan, tentunya mereka akan belajar lebih
giat lagi, agar mampu memberikan teladan bagi para siswa pendidikan dasar dan menengah.
Thomas Alfa Edison seorang penemu bola lampu pernah tidak lulus sekolah. Akan tetapi
berkat kemauan yang keras, ia mampu memberikan inovasi bagi kemajuan sains. Ia
mengalami 999 kegagalan dan hanya berbuah 1 keberhasilan. Thomas menganggap bahwa
kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Maka dari itu teruslah try and try (coba dan
coba) Berbeda dengan Albert Einstein yang sejak lahir telah dikaruniai otak yang cerdas.
Akan tetapi secerdas apapun seseorang jika tidak pernah mencoba pastilah akan mengalami
kegagalan. Ini ditunjukkan dengan kerja keras Einstein untuk bekerja siang dan malam guna
menemukan teori relativitas khusus yang mampu menghapuskan teori-teori pendahulunya.
Sungguh besar ternyata kekuatan motivasi daripada hanya sekedar kecerdasan manusia.
Intelektualitas membutuhkan proses yang panjang, tidak muncul begitu saja. Kerja keras dan
motivasi dirilah yang akan mampu membongkar ketidaktahuan. Semua manusia lahir dalam
keadaan tak bisa apa-apa, proses mengitari waktulah yang telah menjadikan manusia mampu
menyelesaikan problematika dalam kehidupan. Mahasiswa Seharusnya Sebagai mahasiswa
janganlah kita memandang sebelah mata efek dari kerja keras yang panjang. Karena hidup
kita di masa ini adalah cermin kerja keras kita di masa lalu. Optimis meraih masa depan,
tekun dan pantang menyerah, dan disertai doa akan membawa kesuksesan bagi mahasiswa
untuk melintasi setiap rintangan di masa global. Persaingan yang semakin ketat dalam kancah
dunia kerja haruslah menjadi salah satu faktor pendorong untuk giat dalam belajar untuk
meraih prestasi. Dunia kerja adalah salah satu titik terkecil pelabuhan tujuan mahasiswa,
masih ada yang jauh lebih besar daripada sebuah pekerjaan, yaitu memperoleh kebahagiaan
dunia dan akhirat. Bukankah Allah berjanji akan menaikkan derajat seseorang yang berilmu
dalam salah satu firman-Nya. Tentunya kita sebagai umat islam wajib mempercayai adanya
hal tersebut

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/arc_iw4n/mahasiswa-dan-
intelektualitas_555615c073977305300501a3