Anda di halaman 1dari 16

DINAS PERUMAHAN KAWASAN PERMUKIMAN

DAN PERTANAHAN
KABUPATEN LUWU TIMUR

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS)

PEKERJAAN :

PEMBANGUNAN RUMAH DERET

KEGIATAN :
PEMBANGUNAN SARANA DAN PRASARANA
RUMAH SEDERHANA SEHAT

TAHUN ANGGARAN 2017


1
Lingkup Pekerjaan

1.1. Pekerjaan yang akan dilaksanakan adalah :

PEMBANGUNAN RUMAH DERET.

1.2. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah mendatangkan segala bahan


bangunan peralatan dan tenaga kerja , pembersihan dan perataan tanah,
serta pekerjaan –pekerjaan lain yang nyata – nyata ada kaitannya dengan
pekerjaan ini.

2
Pekerjaan Penunjang Proyek

2.1. Kantor Kerja Direksi dilokasi Proyek.


Kontraktor harus menyediakan kantor kerja untuk Direksi/ Pengawas
dilokasi proyek yang berukuran minimal 3 m x 3 m dan cukup
memenuhi syarat ruang kerja.

2.2. Perlengkapan Kantor Direksi/ Pengawas.


Sebagai kelengkapan kantor Direksi / Pengawas, Penyedia barang /
jasa harus menyediakan pula :

 1 Buah meja tulis dan kursi kerja


 2 Buah Topi Lapangan dan 2 Pasang sepatu lapangan
 1 Buah Papan Tulis (White board)
 1 Buah kelender yang masih berlaku

2.3. Izin – Izin


Pengurusan izin – izin yang diperlukan sehubungan dengan pelaksanaan
bangunan sampai selesai serta biaya yang timbul karenannya menjadi
beban Penyedia Barang / Jasa.

2.4. Penyediaan dan Mobilisasi Pekerjaan


Apabila untuk melaksanakan pekerjaan ini diperlukan kendaraan / alat –
alat atau peralatan –peralatan lain yang dipandang perlu untuk pelaksanaan
proyek maka hal ini menjadi beban dan kewajiban Penyedia Barang / Jasa.

2.5. Papan Nama Proyek


Penyedia Barang / Jasa harus memasang papan nama proyek ukuran 0.9 x 1,2
m sebelum pekerjaan dilaksanakan dan pada Papan Nama Proyek tersebut
mencantumkan antara lain :

a. Nama Instansi Pemberi Tugas


b. Nama Proyek dan Nama Pekerjaan
c. Sumber Dana dan Tahun Anggaran
d. Harga borongan dan waktu pelaksanaan
e. Nama Konsultan Perencana dan Pengawas
f. Nama Perusahaan Penyedia Barang / Jasa
3
Pekerjaan Pengukuran dan Dokumentasi

3.1. Untuk dapat menentukan patok – patok utama bagi pelaksanaan proyek
sebelum memulai pekerjaan penyedia barang / jasa harus mengadakan
pengukuran – pengukuran lapangan dan pematokan. Hasil pengukuran harus
dilaporkan kepada Direksi / pengawas untuk mendapatkan persetujuan.

3.2. Patok utama dibuat dari kayu dan diletakkan diluar bangunan serta tidak
boleh berubah selama masa pelaksanaan pekerjaan.

3.3. Foto dokumentasi lokasi kondisi existing , proses pekerjaan dan sampai berakhirnya
pekerjaan.

3.4. Segala biaya dikeluarkan baik untuk pengukuran maupun


Dokumentasi ditanggung sepenuhnya oleh Penyedia Barang / jasa

4
Sarana / Kelengkapan Proyek

4.1. Penyedia barang / jasa harus memperhitungkan adanya fasilitas yang cukup
pada saat pelaksanaan pekerjaan.

4.2. Kotak obat-obatan lengkap dengan isinya untuk pertolongan pertama


pada kecelakaan harus tersedia selama pasa pelaksanaan.

4.3. Apabila perlu penyedia barang / jasa harus menyediakan alat


pemadam kebakaran dengan kapasitas minimal 3 Kg.

5
A s u r a n s i

5.1. Penyedia barang / jasa harus mengasuransikan tenaga kerja yang


dipekerjakan selama pelaksanaan kepada PERUM ASTEK (JAMSOSTEK)
sesuai ketentuan yang berlaku.

5.2. Apabila perlu penyedia barang / jasa harus memperhitungkan pula


biaya asuransi yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan ini.

Pasal 6
Standar yang dipakai

6.1 Semua pekerjaan yang ditentukan dalam dokumen ini mengacu dan harus
mengikuti persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI), serta Peraturan –
peraturan Nasional dan Internasional lain yang ada hubungannya dengan
pekerjaan ini, kecuali nyata-nyata dipersyaratkan lain oleh RKS ini dan Direksi
teknik.
7
Penggunaan Persyaratan Teknis

7.1. Persyaratan Teknik ini merupakan pedoman dalam pelaksanaan -


pelaksanaan pekerjaan (yang disebut proyek) termasuk seluruh bangunan
- bangunan dan pekerjaan – pekerjaan lainnya sebagai suatu kesatuan yang
tidak terpisahkan.

7.2. Kecuali disebutkan lain, maka setiap bagian dalam persyaratan teknis
ini berlaku untuk seluruh bangunan yang termasuk dalam pekerjaan
ini, dan disesuaikan dengan gambar – gambar , keterangan – keterangan
tambahan tertulis dan perintah Direksi / Pengawas.

7.3. Standar – standar utama yang diapakai adalah standar – standar yang
dibuat dan berlaku resmi dinegara ini, apabila tidak terdapat standar
yang dapat diberlakukan terhadap pekerjaan tersebut, maka harus
digunakan standar Internasional yang berlaku atas pekerjaan –
pekerjaan tersebut atau setidak – tidaknya standar dari negara
produsen bahan yang menyangkut pekerjaan tersebut yang
diberlakukan.

8
Pekerjaan Pendahuluan

8.1. Pekerjaan Pendahuluan yang akan dilaksanakan meliputi :

 Membersihkan lapangan dari tanaman tanaman ataupun material yang


dapat menghambat pelaksanaan .

 Pengukuran dan Pemasangan Bowplank


Menentukan titik titik bowplank kemudian memasangnya sebagai bahan
acuan perletakan bangunan

 Item item pekerjaan lain yang erat kaitannya sebagai persiapan dan
tidak dapat dipisahkan sebagai bagian pekerjaan pendahuluan

 Seluruh pekerjaan pendahuluan dapat dilihat pada Bill Of


Quantity (BQ).
9
Galian dan Timbunan

9.1 Scope Pekerjaan :


Bagian ini meliputi semua penggalian dan penimbunan kembali bekas
galian. Urugan Pasir bawah lantai/pondasi ,Timbunan Tanah pilihan
,ketebalan sesuai dengan Gambar bestek, dihampar dengan cara manual,
pekerjaan akhir pipa – pipa (sub drainase ) serta pekerjaan –
pekerjaan lainnya , Penggalian dan penimbunan kembali untuk pekerjaan
mekanikal / electrikal dan pekerjaan – pekerjaan tanah lainnya yang
nyata – nyata tertera dalam gambar dan syarat – syarat teknik.
9.2. Pelaksanaan :

9.2.1. Penggalian

a. Penggalian harus dilakukan untuk mencapai garis elevasi


permukaan dan kedalaman - kedalaman yang diisyaratkan
atau ditentukan dan diindikasikan dalam gambar dengan cara
yang sedemikian rupa, sehingga persyaratan dari
pekerjaan selanjutnya terpenuhi.

b. Galian mencakup pemindahan tanah serta batu – batuan


dan bahan lain yang dijumpai dalam pelaksanaan
pekerjaan.

c. Galian untuk pondasi harus mempunyai lebar yang cukup


untuk membangun maupun memindahkan rangka / bekesting
yang diperlukan dan juga untuk mengadakan pembersihan.

d. Kalau ternyata dijumpai kondisi yang tak memuaskan pada


kedalaman yang diperlihatkan dalam gambar - gambar ,
penggalian harus dilanjutkan / diperbesar atau diubah
menjadi sampai disetujui oleh Direksi/ Pengawas. Jika terjadi
demikian maka pekerjaan ini dinilai sebagai pekerjaan
tambah, jika kedalaman yang disetujui > 1,5 dari
kedalaman rencana.

e. Apabila terjadi kesalahan dalam penggalian tanah untuk dasar


pondasi sehingga dicapai kedalaman yang melebihi yang
tertera dalam gambar maka kelebihan daripada galian diurug
kembali dengan pasir. Biaya akibat pekerjaan tersebut
menjadi beban penyedia barang / jasa.

f. Lapisan atau galian daerah Pembangunan yang dapat dipakai


kembali dan ditimbun ditempat yang ditunjuk untuk digunakan
hanya untuk pekerjaan Landscaping.

g. Jika dalam Pelaksanaan pekerjaan galian dijumpai akar – akar


/ bahan – bahan yang bisa lapuk pada kedalaman yang
diperlihatkan dalam gambar, maka akar – akar/ bahan –
bahan tersebut harus diangkat dan diurug dengan pasir
sampai padat.

9.2.2. Penimbunan
a. Seluruh bagian Site yang direncanakan untuk perletakan batu
harus ditimbun sampai mencapai ketinggian yang
ditentukan. Dengan menggunakan bahan timbunan yang cukup
baik. Bebas dari sisa – sisa rumput, akar – akar dan lain –
lainnya . Dalam hal ini harus mengikuti petunjuk –
petunjuk pengawas teknik.

b. Pelaksanaan pekerjaan timbunan harus dipadatkan lapis demi


lapis dengan batas maksimum 30 cm untuk hamparan
setiap lapisan.

c. Untuk pekerjaan penimbunan kembali dibawah atau disekitar


bangunan dan perkerasan harus sesuai dengan petunjuk –
petunjuk Direksi dan material penimbunan dari Tanah
pilihandan Pasir yang berkwalitas baik.
. d. Urugan Kembali Bekas Galian.
 Pengurugan kembali bekas galian harus disertai dengan
pemadatan dengan menggunakan alat pemadat sehingga
minimal sama dengan keadaan tanah sebelum digali.

 Tidak dibenarkan mengurug galian tanah yang


mengandung Lumpur dan sisa – sisa tumbuhan.

e. Urugan Sirtu dan Pasir

 Urugan Sirtu dilaksanakan dibawah lantai seperti tertera


pada gambar bestek dan pelaksanaannya harus lapis
demi lapis dipadatkan.
 Ketebalan lapisan urugan sirtu yang diperkanankan
maksimum 10 – 30 Cm setiap lapis kemudian dipadatkan
sehingga ketebalan dan kepadatan memenuhi syarat.
 Urugan pasir dilaksanakan pada alas dibawah pasangan lantai
atau pada pekerjaan lain yang menurut Direksi /
Pengawas teknik membutuhkannya.
 Semua urugan pasir harus dipadatkan dengan penyiraman
air sehingga mendapatkan angka kepadatan maksimum.
 Pasir yang dipakai harus pasir kali dan bukan pasir laut
dengan persyaratan bahwa pasir harus dalam keadaan
bersih dari lumpur tanah dan tidak mengandung garam
atau mineral lainnya.

10
Pekerjaan Beton

10.1. Scope Pekerjaan


Bagian ini meliputi pengadaan dan pemasangan dari semua macam beton
biasa, beton bertulang dengan penulangannya termasuk bekesting.
Finishing dan pekerjaan - pekerjaan lain sesuai dengan gambar dan
persyaratan yang ditentukan.
Mutu beton yang akan digunakan adalah :Mutu K.200 untuk Sloef,Kolom,Ringbalk
dan Meja BetonMutu.K175 untu Rabat Beton.

10.2. Referensi
Kecuali ditentukan lain, maka semua pekerjaan beton harus mengikuti
ketentuan – ketentuan seperti yang tertera dalam :

 Peraturan Beton Indonesia


 Spesifikasi Bahan Bangunan

10.3. Material
Semua bahan yang dipergunakan dalam pekerjaan ini terdidi dari
:
10.3.1. Agregat
Agregat harus terdiri dari gradasi – gradasi yang terhalus dan
kasar dan harus .
Agregat harus disimpan sedemikian rupa sehingga bebas dari
kontaminasi dari bahan – bahan yang dapat merusak .
Agregat halus (pasir) dan agregat kasar harus disimpan
dalam tempat – tempat yang terpisah.

10.3.2. Semen
a. Semen yang dipakai harus dari mutuyang baik.

b. Kontraktor harus mengusahakan agar untuk


pelaksanaan pekerjaan beton ini hanya menggunakan
satu merek semen saja atau menurut petunjuk
Direksi.

c. Semen ini harus dibawah ketempat pekerjaan dalam


kemasan dari pabrik dan terlindung.

d. Penyimpanannya harus dilaksanakan pada tempat yang


tidak lembab dan tidak terkena air (diberi lapisan
pada bagian bawahnya dengan bahan yang kedap
air) dan penumpukannya harus sesuai dengan urut –
urut pengiriman.

10.3.3. Pembesian / Penulangannya


a. Besi penulangan beton harus disimpan dengan cara -
cara yang memenuhi persyaratan sehingga bebas
dari kontaminasi langsung dengan udara / tanah
lembab, aspal dan olie (minyak).

b. Besi untuk tulangan beton ini untuk penyimpanannya


harus dikelompokkan berdasarkan ukuran masing –
masing.

c. Untuk mengikat tulangan beton harus menggunakan


kawat beton yang berukuran garis tengah minimal 1
mm.

d. Jika besar diameter besi tulangan yang diminta dalam


gambar tidak terdapat dipasaran, maka pemborong
diwajibkan membicarakan terlebih dahulu dengan Direksi
dengan menggantikannya dengan ukuran yang lebih besar
yang mendekati ketentuan gambar, jadi ukuran yang
ditentukan oleh gambar adalah minimal.
10.3.4 Air.
a. Air yang dipakai untuk pengecoran harus bersih dan
harus menurut persetujuan Direksi.
b. Sebelum air untuk pengecoran beton dipergunakan
harus terlebih dahulu diperiksa atau jika menurut
pertimbangan Direksi / Pengawas air tersebut dapat
dipakai tanpa pemeriksaan laboratorium.

10.4. Pelaksanaan
10.4.1. Proporsi
10.4.2. Pengecoran Beton
a. Sebelum pengecoran dilaksanakan, bekesting harus bersih
dari kotoran – kotoran dan bahan – bahan lain. Alat –
alat pengaduk (beton molen) dan alat pembawa juga
harus bersih dan penulangan harus dimatikan pada
posisinya serta diperiksa terlebih dahulu oleh Direksi.
b. Pengecoran dilaksanakan bila semua penulangan telah
terpasang dengan baik, bekesting sudah cukup kokoh
serta telah diperiksa secara seksama oleh Direksi
teknik / konsultan pengawas

c. Agar pemeriksaan dan persetujuan dari Direksi atas


pelaksanaan pengecoran beton dapat diberikan pada
waktunya , kontraktor harus menyampaikan
pemberitahuan tentang rencana pengecoran 2 x 24 jam
sebelumnya.

d. Adukan beton tidak boleh jatuh dari ketinggian lebih dari


1.50 meter dan segera sesudah pengecoran dimulai
lapisan – lapisan beton dipadatkan dengan penggetar
(Internal Concrete Vibrator).

e. Pelaksanaan pengecoran harus sesuai dengan persyaratan


dalam PBI – 1971 dan untuk pemadatan menggunakan alat
penggetar harus .

f. Pekerjaan beton bertulang Spesi 1 Pc : Ps : 3 Krk


dilaksanakan padaPondasi Poor, sloef , kolom, ring balk
dan plat atap teras, serta bagian – bagian lain yang
nyata – nyata tertera dalam gambar rencana.

g. Ukuran semua bagian beton tertera pada gambar


bestek dan detail. Jika terdapat ketidak cocokan pada
ukuran pemborong diwajibkan mempertimbangkan
terlebih dahulu dengan Direksi / Pengawas.

10.4.2. Penyambungan Beton


Sebelum melanjutkan pengecoran pada beton yang telah
mengeras, permukaan yang akan disambung harus dikasarkan dan
dibersihkan . Bekesting harus dikencangkan kembali dan
penyambungan dengan menggunakan air semen atau bonding
agent yang disetujui oleh Direksi / Pengawas.

10.4.3. Lantai Kerja


Semua beton yang berhubungan dengan tanah sebagai
dasarnya harus diberi urugan pasir dan lantai kerja
masing – masing setebal sesuai gambar dan komposisi
adukan 1 Ps : 3 Ps : 5 Krk dan dipasang dibawah
konstruksi beton tersebut.

10.4.4. Pekerjaan Beton tak Bertulang.


Campuran yang dipergunakan adalah 1 Pc : 3 Ps : 5 Krk
dilaksanakan pada Rabat beton dan lantai saluran air lain – lain
ditentukan dalam gambar.

10.5. Bekesting
11.0.1. Umum
a. Bekesting harus direncanakan serta dilaksanakan dan
diusahakan sedemikian rupa agar waktu pengecoran dan
pembongkaran tidak mengakibatkan cacat – cacat ,
gelombang – gelombang maupun perubahan bentuk ukuran
–ukuran , ketinggian – ketinggian serta posisi daripada
beton yang dicor.

b. Perencanaan pelaksanaan serta pembongkaran bekesting


harus sesuai dengan cara - cara yang disarankan .
permukaan bekesting yang berhubungan dengan beton
harus benar – benar bersih sebelum digunakan.

c. Penyangga - penyangga harus diberi jarak antara yang


dapat mencegah defleksi , bekesting serta sambungan –
sambungan harus rapat . Sehingga dapat mencegah
kebocoran – kebocoran adukan selama pengecoran.
Lubang – lubang permukaan sementara harus disediakan
didalam bekesting untuk memudahkan pembersihan
bekesting.

10.5.2. Material
Bekesting untuk beton terbuat dari jenis papan tebal 2cm
dan diperkuat balok 5 x 7 cm yang mengikuti bentuk kolom
dan balok pekerjaan beton lainnya.
Sebelum pemasangan bekesting penyedia barang / jasa harus
memberikan gambar perencanaan bekesting secara lengkap
untuk mendapatkan persetujuan Direksi / Pengawas.
Syarat – syarat yang harus dipenuhi untuk pemakain
bekesting beton adalah sebagai berikut :

a. Tidak akan mengalami deformasi sehingga bekesting


harus cukup tebal dan terikat kuat.

b. Harus kedap air dan menutup semua celah – celah


secara mekanis atau dengan bahan – bahan kimia.

c. Tahan terhadap getaran vibrator dari luar maupun dari


dalam bekesting.

d. Permukaan bekesting harus rata dan licin serta diberi


realizing agent yang disetujui oleh Direksi / pengawas
(bila ada).

e. Ukuran jarak disesuaikan dengan rencana dalam gambar.

10.5.3. Pembongkaran Bekesting.


Bekisting harus dibongkar dengan cara sedemikian rupa sehingga
dapat menjamin keselamatan penuh atas struktur – struktur
yang dicetak dengan memperhatikan syarat-syarat minimum
sebagai berikut :
a. Bagian struktur beton yang disanggah dengan perancah tidak
boleh dibongkar sebelum betonnya mencapai kekuatan yang
cukup untuk menyanggah beratnya sendiri dan beban –
beban pelaksanaan atau beban – beban yang akan
menimpa bagian struktur beton tersebut.
b. Dalam hal apapun bekesting pada jenis struktur ini tidak
boleh dibongkar sebelum mengalami periode pengerasan
kurang lebih 28 hari demikian pula bekesting -
bekesting yang dipakai untuk mematangkan (curing)
beton tidak boleh dibongkar sebelum beton ditentukan
matang.
11
Pekerjaan Pasangan Batu Bata

11.1. Scope Pekerjaan.


Bagian ini meliputi penyediaan bahan – bahan , pemasangan dan semua
pekerjaan pasangan batu yang tertera pada gambar – gambar. Pemasangan
pelaksanaan harus benar – benar mengikuti garis – garis ketinggian,
bentuk – bentuk seperti yang terlihat pada gambar - gambar dan seperti
yang dipersyaratkan dalam spesifikasi ini.

11.2. Material
11.2.1. Angkur dan pengikat – pengikat harus dibuat berdasarkan
perencanaan yang disetujui Direksi/ Pengawas dan apabila
tidak disebutkan maka terbuat dari baja.

11.2.2. Batu bata yang digunakan harus baru, terbakar keras dan
dipasang kedap air digunakan adukan 1 Pc : 5 Ps ukuran
bata yang dianjurkan adalah 5.5. Cm x 11 Cm x 22 cm
dengan toleransi ukuran 0,5 cm.

11.3. Pengerjaan dan penyimpanan.


11.3.1. Bahan – bahan yang akan digunakan pada pekerjaan ini harus
disimpan dengan cara – cara yang disetujui Direksi/ Pengawas
untuk menghindarkan dari segala hal yang dapat mengakibatkan
kerusakan pada bahan – bahan tersebut. Pemasangan batu bata
harus rata dan tegak, lajur penaikannya diukur tepat pada tiang
lot, kecuali bilamana tidak diperlihatkan dalam gambar –
gambar maka setiap lajur harus putus sambungan dengan
lajur bawahannya . Pola ikatan pasangan harus terjaga baik
diseluruh pekerjaan.

11.3.2. Pasangan batu bata umumnya adalah setengah batu kecuali


menurut petunjuk Direksi / Pengawas teknik mengatakan lain.

11.3.3. Semua dinding setengah batu perlu diperkuat dengan kolom


praktis, sesuai ukuran, tulangan, dan penempatan sesuai gambar.

11.3.4. Spesi yang digunakan untuk pemasangan batu bata adalah 1 Pc


: 4Ps terkecuali pada pasangan trasram dan tempat -
tempat lain yang ditentukan dalam gambar.

11.3.5. Pasangan Batu Bata dengan spesi 1 Pc : 4 Ps dilaksanakan pada :

a. Saluran air hujan keliling bangunan.

12
Pekerjaan Plasteran dan Adukan.

12.1. Scope Pekerjaan :


Bagian ini meliputi seluruh pekerjaan plesteran dan kebutuhan
persyaratan yang tercantum dibawah ini :
12.1.1. Pasir
Pasir yang dipakai harus kasar, tajam, bersih, bebas dari tanah
liat, lumpur atau campuran – campuran lainnya.

12.1.2. Semen
a. Semen yang dipakai harus baru, tidak ada bagian – bagian
yang membatu dan dalam zak yang tertutup.

b. Hanya satu merek dan jenis semen yang boleh digunakan


dalam pekerjaan, kecuali ditentukan oleh Direksi Pengawas.

12.2. Perencanaan
12.2.1. Campuran (Mixer) adukan dan plasteran.
a. Plasteran adukan (1 Pc : 4 Ps)
Penggunaannya :
Semua dinding beton maupun batu bata dan dinding -
dinding lain yang diharuskan memakai plasteran kedap air.

b. Acian
Penggunannya :
Acian dibuat dalam campuran dan air . Acian hanya
digunakan pada dinding – dinding terplaster yang akan dicat.

12.3. Pelaksanaan :
12.3.1. Umum
a. Sedapat mungkin mempergunakan mesin – mesin pengaduk
(Concrete mixer) dan peralatan yang memadai. Persiapan
dan membersihkan permukaan – permukaan yang akan diplaster
dari kotoran – kotoran dan bahan – bahan lain yang dapat
merusak plasteran. Tukang – tukang plester yang dinilai
tidak cakap karena pekerjaan yang buruk harus diganti
dengan yang lebih terampil.

b. Plasteran / adukan yang tidak sesuai dengan persyaratan


teknis ini harus disingkirkan dari pekerjaan.

c. Pekerjaan plasteran harus rata pada bidang pasangannya


dan pekerjaan yang tidak rata harus diperbaiki sesuai
perintah pengawas.
d. Tebal plasteran yang dimaksud , kecuali bila dinyatakan
lain adalah 10 mm dengan toleransi maksimum 15 mm .
Bilamana ketebalan toleransi ini ternyata dilampaui
karena kondisi permukaan dinding harus diperbaiki.
Pelaksanaan pekerjaan plasteran dapat dilaksanakan
setelah pipa – pipa air, listrik sudah terpasang.

12.3.2. Pemasangan adukan / Plesteran.


a. Adukan Pasangan : Lihat pekerjaan pemasangan bata.
b. Plasteran ke dinding bata biasa :

 Bersihkan permukaan dinding bata dari noda – noda


debu, minyak cat dan bahan - bahan lain yang dapat
mengurani daya ikat plaster.
 Pasang lapisan plester yang diisyaratkan (10 mm – 15
mm) dengan rata.
c. Plesteran dipermukaan beton.
 Bersihkan permukaan beton dari sisa – sisa bekesting,
debu, minyak dan cat serta bahan – bahan lainnya
yang dapat mengurangi daya ikat plasteran. Basahi
beton dengan air sehingga jenuh. Tunggu sampai
aliran air berhenti.
 Pasangan lapisan plasteran yang diisyaratkan kemudian
pasangan acian sebelum plasteran mengering.

13
Pekerjaan Kayu

13.1.Scope Pekerjaan
Bagian yang meliputi pengadaan dan pemasangan kayu – kayu dengan
pembagian sebagai berikut :

13.1.1. - Semua pekerjaan kayu ,Kusen Pintu dan Jendela ,Bingkai


Jendela,Rangka Atap dan Rangka Plafond.ukuran dan Konstruksi
(sesuai yang ditunjukkan dalam gambar rencanadan Bill Of
Quantity (BQ)) harus diserut halus dan pengerjaannya
harus disetujui oleh Direksi / pengawas teknik sebelum
pemasangannya.

13.1 Material
13.2.1. Kayu yang dipakai untuk pekerjaan ini seluruhnya minimal
harus setaraf dengan kayu yang mempunyai kelas keawetan
III dan kelas II atau yang setaraf.

13.2.2. Kayu - kayu yang akan digunakan harus tanpa cacat dan
harus bebas dari mata kayu.

13.2.3. Contoh dari kayu – kayu ini harus diberikan kepada Direksi /
pengawas untuk disetujui penggunaannya.

13.2.4. Ukuran dan pola kayu


a. Kayu harus mempunyai 4 (empat) sisi permukaan dan
ukuran diambil dari kayu yang sudah terserut .
b. Kayu – kayu yang dikerjakan harus mengikuti pola – pola
sesuai yang tertera pada gambar perencanaan, dan
diutamakan untuk kayu halus harus terserut rapi tanpa
ada cacat atau lubang – lubang.

13.2.5. Pengikat - pengikat


Bahan minimum digunakan dari paku galvanis, baut atau
plat besi apabila menggunakan perekat , maka bahan
perekat yang digunakan harus terbuat dari lem tahan .

13.3. Pengerjaan :
Semua Pengerjaan harus setaraf kelas satu dengan hasil yang
baik dan rapi, untuk profil panjang harus menggunakan mesin –
mesin pemotongan. Semua lubang – lubang bekas baut dan
sebagainya harus ditutup dengan dempul hingga rapi kembali.
14
Pekerjaan Atap

14.1. Scope Pekerjaan


Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan, tenaga kerja dan
pemasangan atap Metal.

14.2. Material
14.2.1. Bahan Atap Metal, Semua contoh Bahan Atap ditunjukkan kepada
Direksi untuk disetujui.
14.3. Pemasangan
Semua pengerjaandisesuaikan dengan gambar kerja,

15
Pekerjaan Langit – langit (Plafond)

15.1. Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan ini meliputi pengadaan maupun pemasangan dari semua
pekerjaan langit – langit (plafond) yang dipasang pada tempat - tempat
yang ditunjuk dalam gambar rencana.

15.2. Material
Penutup plafond seperti yang ditunjukkan dalam gambar , menggunakan
Tripleks 122 x 244 x 3 mm dan Rangka Kayu 5 x 5 cm perpanel dengan
ukuran sesuai pola yang digunakan dalam gambar.

15.3 Pelaksanaan

15.3.1. Rangka untuk plafond adalah Kayu Ukuran 5 x 5 cm, ukuran sesuai
gambar dan menggunakan penggantung plafond sesuai petunjuk
Direksi / pengawas teknik.

15.3.2. Seluruh meterial yang dipasang pada pekerjaan ini, sesuai dengan
contoh – contoh bahan yang telah ditetapkan pada persyaratan bahan
dan telah mendapat persetujuan Direksi / Pengawas teknik.

15.3.3. Pelaksanaan dikerjakan oleh tenaga ahli terampil dan dapat selalu
menjaga kebersihan dan kerapihan terhadap mutu hasil pekerjaan.

15.3.4. Bila diperlukan material tambahan untuk pelaksanaan pekerjaan


ini dengan baik, maka penyedia jasa wajib mengadakan
peralatan / material tambahan itu dan melaksanakannya sesuai
dengan kebutuhan dilapangan.

15. 3.5. Finishing plafond dilaksanakan dengan pengecatan , cat acrylic


emulsion,setaraf Metrolite. Pengecatan dilaksanakan dengan
mempergunakan roll dari bahan wool maupun kuas (sesuai bidang
permukaan yang akan dicat).

15.3.6. Penyedia jasa wajib mengadakan perlindungan / pengamanan


terhadap hasil pekerjaan plafond yang sudah terpasang. Untuk
itu penyedia jasa harus mengadakan koordinasi dengan pihak
pekerjaan lainnya yang telah dilaksanakan dan tidak saling
mengganggu atau resah.
16
Pekerjaan Keramik

16.1. Lingkup Pekerjaan


Meliputi pengadaan dan pemasangan lantai keramik pada bagian – bagian
yang ditunjukkan dalam gambar atau yang dipersyaratkan.

16.2. Material
14.2.1. Untuk lantai ruangan menggunakan lantai keramik 40 x 40 cm
,Keramik 20x20 cm lantai KM/WC , 20 x 25 cm Untuk Dinding
KM/WC. Warna yang digunakan ditentukan saat proses
pekerjaan akan dilakukan.
14.2.2. Semua contoh keramik ditunjukkan kepada Direksi untuk disetujui.

16.3. Pelaksanaan
16.3.1. Sebelum lantai keramik dipasang , terlebih dahulu diberi lapisan
cor beton dengan adukan 1 Pc : 3 Ps : 5 Krk dengan ketebalan
3 - 5 Cm.

16.3.2. Lantai cor harus rata dan datar kecuali pada daerah Km/ Wc ,
lantai harus dibuat miring kearah saluran pembuang (floor
Drain).

16.3.3. Sebelum pekerjaan lantai dikerjakan, pasir timbunan harus benar –


benar padat sehingga tidak terjadi penurunan/keretakan pada
lantai.

16.3.4. Kontraktor harus mengajukan gambar rencana/pola pelatakan


keramik yang memenuhi persyaratan estetika yang diperlihatkan
kepada Direksi teknik / konsultan pengawas untuk disetujui.

16.3.5.Pengisiaan Naad.
a. Setelah keramik dipasang, maka celah / naad antara
keramik tersebut diisi dengan pasta pengisi
b. Lebar naad yang diperkenankan adalah 2 – 3 mm dan
setiap naad tersebut harus lurus, rapi dan memenuhi
unsur – unsur estetika bangunan.
c. Bahan naad harus disetujui oleh Direksi / pengawas
sebelum digunakan

16.3.6. Semua permukaan lantai keramik, harus bersih dari sisa – sisa
kotoran maupun sisa adukan semen.

17
Pekerjaan Pengecatan

17.1 Lingkup Pekerjaan

Bagian ini meliputi pengadaan cat dengan pengecatan pada semua


permukaan sesuai dengan gambar, daftar – daftar dan persyaratan yang
telah ditentukan.
17.2. Material
Cat dasar maupun cat akhir yang akan digunakan adalah dari kualitas
baik dan tidak mengandung zat logam berat.

Jenis – jenis cat yang akan digunakan adalah sebagai berikut :

17.2.1. Cat untuk tembok


Cat dasar , plamur, cat akhir minimal 2 kali (dicat sampai rata)

17.2.2. Cat untuk kayu dan atap :


plamur, cat dasar, cat akhir 2 kali (cat sampai rata)

Politur : untuk bidang – bidang teakwood.

17.3. Pelaksanaan

17.3.1. Cat yang akan digunakan berada dalam kaleng – keleng yang masih
disegel , tidak pecah atau tidak bocor dan mendapat persetujuan
Direksi / Pengawas.

17.3.2. Penyedia barang / jasa harus memperlihatkan contoh dari bahan cat
yang akan digunakan untuk disetujui Direksi/ Pengawas.

17.3.3. Penyedia barang / jasa harus sudah mengerti betul tentang cara –
cara penggunaan cat sesuai rekomendasi pabrik yang
bersangkutan.

17.3.4. Pekerjaan Pengecatan tidak boleh dimulai :


 Sebelum dinding atau bagian yang akan dicat selesai diperiksa
atau disetujui oleh Direksi /Pengawas.
 Sebelum bagian – bagian atau retak – retak, pecah atau
kotoran – kotoran dibersihkan.
 Apabila dinding atau bagian yang akan dicat ternyata masih
basah lembab atau berdebu.
17.3.5. Penyedia barang / jasa bertanggung jawab atas hasil pengecatan
yang baik dan harus mengatur waktu sedemikian rupa sehingga
terdapat urutan –urutan pekerjaan yang tepat dimulai dari
pekerjaan dasar sampai dengan pengecatan akhir.

17.3.6. Pekerjaan pengecatan harus dikerjakan oleh tenaga ahli dalam


pengecatan.

17.3.7. Semua pekerjaan pengecatan harus mengikuti petunjuk – petunjuk


dari Direksi dan Pabrik pembuat cat tersebut serta mendapatkan
persetujuan Direksi / Pengawas.

17.3.8 Cat Tembok :


 Tembok baru yang akan dicat harus mempunyai cukup
waktu mengering. Setelah permukaan tembok kering, maka
persiapan dilakukan dengan membersihkan permukaan
tersebut terhadap pengkristalan / pengapuran yang biasanya
terdapat pada tembok baru dengan amplas kemudian
dengan lap sampai benar – benar bersih.
 Untuk lapisan plamur pakai bahan sesuai dengan petunjuk
dari pabrik pembuat dan harus mendapat persetujuan
Direksi / Pengawas.
 Setelah kering permukaan tersebut diamplas lagi dengan rata
 Bagian – bagian yang masih kurang baik, diberi plamur lagi
dan diamplas setelah kering.
 Pengecatan akhir dilakukan 2 sampai 3 kali sampai mencapai
warna yang dikehendaki.
 Pekerjaan pengecatan dilakukan dengan “Roiller”
 Warna akan ditentukan kemudian.

17.3.9 Cat Kayu


 Cat Kayu digunakan untuk daun – daun pintu, daun jendela
serta kosen dan lisplank (selain kosen, pintu dan jendela
aluminium).
 Cat yang dipergunakan adalah setaraf glotex atau platone
dengan warna yang akan ditentukan kemudian.
 Cara pelaksanaan disesuaikan dengan criteria – criteria dari
Pabrik Pembuat.

17.3.10. Politur
 Persiapan dilakukan dengan membersihkan dan mengamplas
bagian depan / permukaan yang akan dipolitur.
 Pekerjaan tersebut diulangi sampai menghasilkan permukaan
yang mengkilat.

18
Gambar Pelaksanaan

18.1. Setelah selesainya seluruh pekerjaan, penyedia jasa dan konsultan pengawas
harus membuat gambar pelaksanaan (As Build Drawing) dari seluruh
sistem, termasuk apabila terjadi perubahan letak, denah dan konstruksi.

18.2. Pada As Build Drawing harus tercantum ukuran – ukuran jarak, kedalaman
tinggi – tinggi dari bagian sistem terhadap bagian – bagian dari gedung
atau struktur lainnya.

18.3. Instalasi listrik, harus dibuat oleh penyedia jasa sesuai dengan keadaan
yang terpasang dan diserahkan kepada pemberi tugas pada saat terima
pekerjaan.

19
Pengawasan (Supervisi)

19.1 Pengawasan setiap hari terhadap pelaksanaan pekerjaan akan dilakukan


oleh Direksi dalam hal ini Pengelola Proyek, Pengelolah Teknis Proyek dan
Konsultan Pengawas.

20
Penutup

20.1 Penjelasan – penjelasan yang belum / tidak tercantum / dijelaskan dalam RKS
ini dapat dilihat pada gambar .